A. Landasan Teori
1. Teori Stakeholder (Stakeholder Theory)
Penelitian ini menggunakan teori stakeholder untuk menjelaskan serta untuk mengembangkan hipotesis – hipotesis yang ada dan yang akan diuji. Pertimbangan menggunakan teori stakeholder karena teori ini mampu menjelaskan kekuatan hubungan yang dijalin perusahaan dengan stakeholders-nya. Yang mana kekuatan hubungan antara perusahaan dengan investor institusional sebagai salah satu stakeholder perusahaan merupakan tujuan dari adanya penelitian ini.
Selain itu, teori ini juga digunakan karena telah digunakan secara luas dalam penelitian – penelitian pengungkapan tanggung jawab sosial sebelumnya (Saleh et al, 2010 dalam Yosua, 2011). (stakeholder), selanjutnya disebut tanggungjawab social (social responbility).
Fenomena seperti itu terjadi, karena adanya tuntutan dari masyarakat akibat negative externalities yang timbul serta ketimpangan social yang terjadi Harahap, (2002) dalam Nor Hadi, (2011).
Untuk itu,tanggung jawab perusahaan yang semula hanya
diukur sebatas pada indikator ekonomi dalam laporan keuangan,
terhadap stakeholder, baik internal maupun eksternal. Stakeholder adalah semua pihak baik internal maupun eksternal yang memiliki hubungan baik bersifat mempengaruhi maupun dipengaruhi, bersifat langsung maupun tidak langsung oleh perusahaan.
Menurut Leo dan Raymond, (2005) dalam Nor Hadi, (2011) stakeholder merupakan pihak internal maupun eksternal, seperti:
pemerintah, perusahaan pesaing,masyarakat sekitar, lingkungan internasional, lembaga di luar perusahaan (LSM dan sejenisnya), lembaga pemerhati lingkungan, para pekerja perusahaan, kaum minoritas dan lain sebagainya yang keberadaannya sangat mempengaruhi dan dipengaruhi perusahaan. Jones, Thomas dan Andrew (1999) dalam Nor Hadi (2011) Untuk itu, tanggungjawab perusahaan yang semula hanya diukur sebatas pada indikator ekonomi dalam laporan keuangan, kini harus bergeser dengan memperhitungkan faktor-faktor social terhadap stakeholder, baik internal maupun eksternal.
Stakeholder adalah semua pihak baik internal maupun
eksternal yang memiliki hubungan baik bersifat mempengaruhi
maupun dipengaruhi, bersifat langsung maupun tidak langsung oleh
perusahaan. Stakeholder is a group or on individual who can affect, or
be affected by, the success or failure of an organization Luk, Yau, Tse,
Alan, Sin, Leo dan Raymond, (2005) dalam Nor Hadi, (2011). Dengan
demikian, stakeholder merupakan pihak internal maupun eksternal, seperti: pemerintah, perusahaan pesaing, masyarakat sekitar, lingkungan internasional, lembaga di luar perusahaan (LSM dan sejenisnya), lembaga pemerhati lingkungan, para pekerja perusahaan, kaum minoritas dan lain sebagainya yang keberadaannya sangat mempengaruhi dan dipengaruhi perusahaan.
Berdasarkan pada asumsi dasar stakeholder theory tersebut, perusahaan tidak dapat melepaskan diri dengan lingkungan sosial (social setting) sekitarnya. Perusahaan perlu menjaga legitimasi stakeholder serta mendudukannya dalam kerangka kebijakan dan pengambilan keputusan, sehingga dapat mendukung dalam pencapaian tujuan perusahaan, yaitu stabilitas usaha dan jaminan going concern Adam.C.H, (2002) dalam Nor Hadi, (2011).
Esensi teori stakeholder tersebut di atas jika ditarik interkoneksi
dengan teori legitimasi yang mengisyaratkan bahwa perusahaan
hendaknya mengurangi expectation gap dengan masyarakat (public)
sekitar guna meningkatkan legitimasi (pengakuan) masyarakat,
ternyata terdapat benang merah. Untuk itu, perusahaan hendaknya
menajaga reputasinya yaitu dengan menggeser pola orientasi (tujuan)
yang semula semata-mata diukur dengan economic measurement yang
cenderung shareholder orientation, ke arah memperhitungkan faktor
terhadap masalah sosial kemasyarakatan (stakeholder orientation) Nor Hadi, (2011)
2. Teori Legimitasi (Legimitasi Theory)
Legitimasi dapat dianggap sebagai menyamakan persepsi atau asumsi bahwa tindakan yang dilakukan oleh suatu entitas adalah merupakan tindakan yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan sistem norma, nilai, kepercayaan dan definisi yang dikembangkan secara sosial (Suchman, 1995 dalam Rosita Candra 2009). Legitimasi dianggap penting bagi perusahaan dikarenakan legitimasi masyarakat kepada perusahaan menjadi faktor yang strategis bagi perkembangan perusahaan ke depan.
Legitimasi merupakan keadaan psikologis keberpihakkan orang dan kelompok orang yang sangat peka terhadap gejala lingkungan sekitarnya baik fisik maupun nonfisik. O’Donovan (2002) dalam Nor Hadi (2011) berpendapat legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat.
Dengan demikian, legitimasi merupakan manfaat atau sumberdaya potensial bagi perusahaan untuk bertahan hidup (going concern).
Legitimasi mengalami pergeseran sejalan dengan pergeseran
masyarakat dan lingkungan, perusahaan harus dapat menyesuaikan
perubahan tersebut baik produk, metode, dan tujuan. Deegan, Robin dan Tobin (2002) dalam Nor Hadi (2011) menyatakan legitimasi dapat diperoleh manakala terdapat kesesuaian (congrued) dengan eksistensi sistem nilai yang ada dalam masyarakat dan lingkungan. Ketika terjadi pergeseran yang menuju ketidaksesuaian, maka pada saat itu legitimasi perusahaan dapat terancam.
Pattric Medley (1996) dalam Nor Hadi (2011) memberikan ilustrasi essensi teori legitimasi lewat penggambaran keterhubungan para pihak yang berkepentingan (stakeholder baik internal maupun eksternal) yang memiliki hubungan baik langsung maupun tidak langsung dan saling mempengaruhi terhadap perusahaan.
Keterhubungan tersebut dapat memunculkan potensi mendukung (legimate) maupun penekanan (illegitimate) terhadap perusahaan.
Dowling dan Pfeffer (1975) dalam Nor Hadi (2011)
menyatakan bahwa aktivitas organisasi perusahaan hendaknya sesuai
dengan niali sosial lingkungannya. Lebih lanjut dinyatakan, bahwa
terdapat dua dimensi agar perusahaan memperoleh dukungan
legitimasi, yaitu: (1) aktivitas organisasi perusahaan harus sesuai
(congruence) dengan sistem nilai dimasyarakat, (2) pelaporan aktivitas
perusahaan juga hendaknya mencerminkan nilai sosial.
3. Corporate Social Responsibility (CSR)
Pada umumnya, CSR adalah suatu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan masyarakat yang dapat dilakukan dengan cara melaksanakan berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat yang berada di sekitar perusahaan. CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan.
The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan sebagai:
“kelanjutan komitmen oleh suatu entitas bisnis untuk bertindak secara etis dan berperan untuk pembangunan ekonomi dengan meningkatkan kualitas hidup di tempat kerja dan terhadap keluarga mereka seperti halnya masyarakat local dan masyarakat yang lebih luas.”
Sedangkan Bank Dunia mendefinisikan CSR adalah:
“CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives, the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development.”
Social Responsibility merupakan tanggung jawab ketiga yang harus
dijalankan perusahaan. Kotler dan Lee (2005: 3) memberikan rumusan;
“corporate social responsibility is a commitment to improve community well being through discretionary business practices and contributions of corporate resources.”
Solihin (2008; 5) menyimpulkan bahwa dalam definisi tersebut, Kotler dan Lee memberikan penekanan pada kata discretionary yang berarti kegiatan CSR semata-mata merupakan komitmen perusahaan secara sukarela untuk turut meningkatkan kesejahteraan komunitas dan bukan merupaka aktivitas bisnis yang diwajibkan oleh hukum dan perundang- undangan seperti kewajiban untuk membayar pajak atau kepatuhan perusahaan terhadap undnag-undang ketenagakerjaan. Kata discretionary juga memberikan nuansa bahwa perusahaan yang melakukan aktivitas CSR haruslah perusahaan yang telah menaati hukum dalam pelaksanaan bisnisnya.
ISO 26000 mengenai Guidance on Social Responsibility juga memberikan definisi CSR, yaitu:
Tanggung jawab sebuah organsasi terhadap dampak-dampak dari
keputusan-keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan
lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis
yang sejalan dengan pembangunan bekelanjutan dan kesejahteraan
masyarakat, mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan,
sejalan dengan hokum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku
internasional, serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh (draft 3, 2007).
Lesmana (2007) mengatakan bahwa Corporate Social Responsibility dimaksudkan untuk mendorong dunia usaha lebih etis dalam menjalankan aktivitasnya agar tidak berpengaruh atau berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan hidupnya, sehingga pada akhirnya dunia usaha akan dapat bertahan secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat ekonomi yang menjadi tujuan dibentuknya dunia usaha. Pandangan lain tentang CSR yang lebih komprehensif, dinyatakan oleh Prince of Wales International Business Forum, yang di Indonesia dipromosikan oleh Indonesia Business Links. CSR menyangkut lima pilar, antara lain:
1. Building human; menyangkut kemampuan perusahaan untuk memiliki dukungan sumber daya manusia yang andal (internal) dan masyarakat (eksternal). Perusahaan dituntut melakukan pemberdayaan, biasanya melalui community development,
2. Strengthening economies; memberdayakan ekonomi komunitas, 3. Assessing social cohesion; perusahaan menjaga keharmonisan
dengan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik, 4. Encouraging good governance; perusahaan dijalankan dalam tata
kelola yang baik,
4. Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Pengungkapan adalah pengeluaran informasi yang ditujukan
bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Tujuan dari pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility
Disclosure) adalah agar perusahaan dapat menyampaikan tanggung
jawab sosial yang telah dilaksanakan perusahaan dalam periode
tertentu. Penerapan CSR dapat diungkapkan perusahaan dalam media
laporan tahunan (annual report) perusahaan yang berisi laporan
tanggung jawab sosial perusahaan selama kurun waktu satu tahun
berjalan. Pengungkapan CSR dapat dilihat melalui laporan
keberlanjutan suatu perusahaan (sustainability report) yang diterbitkan
melalui laporan keuangan tahunan atau secara terpisah diterbitkan
tersendiri dalam laporan keberlanjutan suatu perusahaan. Laporan
keberlanjutan adalah suatu laporan praktek hasil pengukuran,
pengungkapan dan upaya akuntabilitas dari kinerja organisasi yang
ditujukan kepada para pemangku kepentingan baik internal maupun
eksternal dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Sebuah
laporan keberlanjutan harus menyediakan gambaran kinerja
keberlanjutan sebuah organisasi yang berimbang dan masuk akal,
termasuk kontribusi yang telah dilakukan oleh perusahaan (Purnasiwi,
2011).
Penelitian ini menggunakan standar GRI (Global Reporting Initiative). GRI adalah sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak menggunakan kerangka laporan berkelanjutan dan berkomitmen untuk terus menerus melakukan perbaikan dan penerapan diseluruh dunia.
Standar corporate social responsibility disclosure (CSRD) yang berkembang di Indonesia mengacu pada standar yang dikembangkan oleh GRI (Global Reporting Initiative). Dalam penelitian ini standar yang digunakan adalah GRI 4 yang memiliki indikator yaitu:
a. Indikator Kinerja Ekonomi (Economic Performance Indicator) b. Indikator Kinerja Lingkungan (Environment Performance Indicator) c. Indikator Kinerja Tenaga Kerja (Labor Practices Performance Indicator) d. Indikator Hak Asasi Manusia (Human Right Performance Indicator) e. Indikator Kinerja Sosial (Social Performance Indicator)
f. Indikator Kinerja Produk (Product Responsibility Performance Indicator)
5. Nilai Perusahaan
Menurut Nurlela dan Islahuddin, (2008) nilai perusahaan dapat
dicerminkan dalam nilai pasar. Hal ini nilai perusahaan dapat
memberikan kemakmuran kepada pemegang saham secara maksimum
apabila harga saham perusahaan meningkat. Oleh karena itu, nilai perusahaan menjadi sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya tingkat kemakmuran pemegang saham. Harga saham menurut Undang-Undang No.8 tahun 1995 tentang pasar modal adalah penerimanaan besarnya pengorbanan yang dilakukan setiap investor untuk pernyataan didalam perusahaan Widyastuti, (2006).
Samuel dalam Nurlela dan Islahuddin, (2008) menjelaskan bahwa enterprise value atau dikenal dengan firm value (nilai perusahaan) merupakan konsep penting bagi investor karena indikator bagi pasar untuk menilai pasar secara keseluruhan Zuhroh dan Sukmawati, (2003) pasar yang efisien akan tercermin dari cepatnya investor bereaksi terhadap masuknya informasi baru, dimana para pelaku pasar (investor) menganggap bahwa informasi tersebut merupakan informasi yang baik (goodnews).
Menurut Bringhem dan Houston, (2001) jika pasar efisien, maka harga saham akan cepat menyampaikan informasi yang tersedia.
Bentuk efisiensi pasar menurut Jogianto dalam Zuhroh dan
Sukmawati, (2003) dapat ditinjau dari dua segi yaitu: 1) ketersediaan
informasi (informationally efficient market), dan 2) dilihat dari
kecanggihan pelaku pasar dalam pengambilan keputusan berdasarkan analisis dan informasi yang tersedia (decisionally efficient market).
Sebagaimana yang digunakan Nurlela dan Islahuddin, (2008);
Brigham dan Houston, (2001) nilai perusahaan pada penelitian ini didefinisikan sebagai nilai pasar. Penggunaan nilai pasar sebagai pengukuran nilai pasar didasari dengan alasan bahwa kemakmuran pemegang saham terjadi jika harga pasar saham mengalami peningkatan. Hal ini menggambarkan bahwa nilai perusahaan dapat dicerminkan dengan harga pasar saham di bursa.
Peneltian ini mengacu pada penelitian Nurlela dan Islahuddin, (2008) dalam menentukan nilai perusahaan harga pasar sebagai cerminan nilai perusahaan dapat dinyatakan dalam Tobin’s Q. Tobin’s Q dapat di proaksikan, hanya saja pada Tobin’s Q ini bukan hanya pandangan dari investor saja melainkan untuk menilai perusahaan terhadap pandangan dari kreditor. Rasio q telah teruji sebagai sebuah indikator efektivitas perusahaan dan dapat dilihat dari prespektif investor Wolfe dan Sauaia, (2003).
6. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)
CSR yaitu suatu bentuk aktivitas yang dilakukan perusahaan
untuk meningkatkan ekonomi perusahaan sekaligus peningkatan
kualitas hidup karyawan beserta keluarganya dan juga kualitas hidup masyarakat sekitar. Menurut Cheng dan Yulius (2011), aktivitas CSR dapat memberikan banyak manfaat, seperti: dapat meningkatkan citra dan daya tarik perusahaan dimata investor serta analis keuangan penjualan, dapat menunjukan brand positioning, dan dapat meningkatkan penjualan dan market share. Pengungkapan CSR merupakan proses pemberian informasi kepada kelompok yang berkepentingan tentang aktivitas perusahaan serta dampaknya terhadap sosial dan lingkungan (Mathews, 1995)
7. Size
Fidyati, (2003) menunjukkan berapa aset atau kekayaan yang dimiliki perusahaan. Ukuran perusahaan ini diukur dengan menghitung total asset yang ada pada masing-masing perusahaan.
Menurut Riyanto, (1995) suatu perusahaan yang besar sahamnya tersebar sangat luas, setiap perluasan modal saham hanya akan memberikan pengaruh kecil terhadap hilangnya atau tergesernya pengendalian dari pihak dominan terhadap perusahaan bersangkutan.
Sebaliknya, perusahaan yang kecil, dimana sahamnya tersebar hanya
dilingkungan kecil, penambahan jumlah saham akan memberikan
pengaruh yang besar terhadap kemungkinan hilangnya control pihak
dominan terhadap perusahaan bersangkutan.
Menurut Christianti, (2006) perusahaan dengan ukuran yang lebih besar dan kompleks tidak mempunyai kendala untuk mendapatkan dana eksternal (hutang). Dengan begitu, perusahaan besar memiliki resistansi yang lebih tinggi terhadap kemungkinan kebangkrutan dibandingkan perusahaan kecil. Berarti semakin besar sebuah perusahaan maka semakin besar manfaat yang diperoleh dari penghematan pajak karena penerbitan hutang jangka panjang. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Titman dan Wessels, (1988) serta Rajan dan Zingales (1995) mengatakan bahwa kemungkinan perusahaan yang besar mengalami kebangkrutan itu kecil, sehingga size return berhubungan positif dengan tingkat leverage yang diambil perusahaan.
Pada kenyataannya bahwa semakin besar suatu perusahaan maka kecenderungan penggunaan dana eksternal juga semakin besar.
Pada kenyataannya bahwa semakin besar suatu perusahaan maka kecenderungan penggunaan dana eksternal juga semakin besar.
menggunakan pendanaan eksternal. Size return mempunyai hubungan yang signifikan positif terhadap kebijakan leverage Riyanto, (1995)
8. leverage
Menurut Harley, (1992) sumber-sumber pembiayaan
perusahaan, baik yang berupa sumber pembiayaan jangka pendek
maupun pembiyaan jangka panjang akan menimbulkan suatu efek yang biasa disebut dengan leverage. Gibson, (1990) menyatakan bahwa “ the use of debt, called leverage, can greatly affect the level and degree of change is the common earnings”. Artinya penggunaan hutang, disebut pengungkit, sangat mempengaruhi tingkat perubahan pendapatan saham. Selain itu Schall dan Harley, (1992) mendefinisikan leverage sebasgai “ the degree of frim borrowing “ artinya leverage sebagai tingkat pinjaman perusahaan. Gibson (1990) dalam Harley, (1992) suatu tingkat tingkat kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva atau dana yang mempunyai beban tetap (hutang dan saham istemewa) dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan untuk memiliki kekayaan perushaan, beban tetap operasi merupakan beban atau biaya tetap yang harus diperhitungkan sebagai akibat dari fungsi pelaksanaan investasi
9. Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang corporate social responsibility dan nilai perusahaan sudah dilakukan oleh beberapa peneliti. Berikut peneliti beserta sedikit uraian penelitiannya:
Dalam penelitiannya, Eipstein dan Freedman, (1994) menemukan
investor dalam menanamkan modalnya lebih tertarik terhadap perusahaan
yang melaporkan informasi sosial dalam laporan keuangannya daripada
perusahaan yang tidak mencantumkan informasi sosial. Informasi tersebut berupa keamanan dan kualitas produk serta aktivitas lingkungan. Selain itu, mereka menginginkan informasi mengenai etika, hubungan karyawan dengan masyarakat.
Becchetti Rocco dan Ifthekar, (2007) mengungkapkan bahwa arti penting CSR sebagai suatu kompenen inti dari strategi perusahaan semakin terasa, terutama setelah banyak kerugiaan yang dirasakan dari masyarakat dari pengembangan bisnis sekarang ini. Becchetti et al., (2007) melakukan penelitian mengenai dampak dan keterkaitan dengan CSR yang diungkapkan perusahaan terhadap pasar modal. Hasil menunjukan bahwa pengungkapan terhadap tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Perbedaan lain adalah penelitian Yuniasih dan Wirakusuma,
(2009) dinyatakan bahwa pasar akan memberikan apresiasi positif
terhadap pengungkapan CSR yang ditunjukan dengan pengingkatan
harga saham perusahaan, sehingga nilai perusahaan meningkat yang
ditunjukkan dengan semakin tinggi Tobin’s Q. Hasil menunjukan bahwa
CSR terbukti berpengaruh positif secara statistik pada nilai perusahaan
manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2010-
2011. Sedangkan penelitian ini menggunakan data laporan perusahaan
manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014.
Menurut hasil penelitian pengaruh pengungkapan CSR terhadap nilai perusahaan juga dilakukan oleh Schadewits dan Niskala, (2010) di Finlandia. Penelitian tersebut menggunakan 276 sampel perusahaan go publik di Finlandia dari tahun 2002 sampai 2005. Hasil menunjukan bahwa pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan
Tabel 1.1
Ringkasan Penelitian terdahulu
No
Tahun Peneliti Variabel yang Digunakan Hasil Penelitian1
1994 Eipsten danFreedman
perusahaan yang melaporkan informasi sosial dalam laporan keuangannya daripada perusahaan yang tidak mencantumkan informasi sosial
Infromasi tersebut berupa keamanan dan kualitas produk serta aktivitas lingkungan.
Selain itu menginginkan informasi mengenai etika, hubungan karyawan dengan masyrakat.
2
2007 Becchetti Rocco dan Ifthekararti penting CSR sebagai suatu kompenen inti dari strategi perusahaan
melakukan penelitian mengenai dampak dan keterkaitan dengan CSR yang diungkapkan perusahaan terhadap pasar modal. Hasil menunjukan bahwa pengungkapan terhadap tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan akan meningkatkan ketertarikan investor dalam menanamkan modalnya diperusahaan tersebut sehingga harga saham meningkat
3
2009 Yuniasih danWirakusuma
pengungkapan CSR yang ditunjukan dengan pengingkatan harga saham perusahaan, sehingga nilai perusahaan meningkat yang ditunjukkan dengan semakin tinggi Tobin’s Q.
Hasil menunjukan bahwa CSR terbukti berpengaruh positif secara statistik pada nilai perusahaan manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia
4
2010 Niskala Penlitian pengaruhperusahaan terhada Nilai perusahaan.
Perusahaan tersebut menggunkan 267 perusahaan go public.Finlandia dari tahun 2002 sampai 2005,hasil
pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan
5
2012 Marzully Nur pengungkapan corporate social responsibility di Indonesiapenelitian ini adalah perusahaan berkategori high profile yang terdaftar di BEI periode 2008-2010 dengan 177 perusahaan. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sehingga diperoleh 66 sampel penelitian.Metode analisis yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode regresi berganda
6
2014 Anatasia Indah meneliti tentang pengaruh size, profitabilitas, leverage dan nilai perusahaanPengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan dalam laporan tahunan perusahaan manufaktur. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode judgement sampling, yaitu salah satu bentuk purposive
Sampling
7
2014 Lusyana Ale Ukuran perusahaan, leverage, kepemilikan institusional, ukuran dewan komisaris dan pengungkapan CSRUkuran perusahaan, kepemilikan institusional dan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR dan leverage berpengaruh negatif
terhadap terhadap
pengungkapan CSR