• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebisingan

Bising merupakan suara yang tidak diinginkan yang berasal dari alat produksi atau peralatan kerja dan dapat menyebabkan gangguan pendengaran [5]. Kebisingan juga merupakan bunyi yang tidak dikehendaki yang timbul diluar kemauan orang yang bersangkutan, yang diterima oleh sel saraf pendengaran manusia dari rangsangan-rangsangan dengan gelombang longitudinal melalui media udara atau penghantar lainnya yang menimbulkan getaran yang berasal dari sumber bunyi [6]. Kebisingan pada kawasan atau lingkungan kegiatan juga telah di atur oleh pemerintah melalui baku mutu kebisingan. Lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Baku Mutu Kebisingan

Peruntukan Kawasan/Lingkungan kegiatan Tingkat Kebisingan dB(A)

A Peruntukan Kawasan

1. Perumahan dan pemukiman 55

2. Perdagangan dan Jasa 70

3. Perkantoran dan Perdagangan 65

4. Ruang Terbuka Hijau 50

5. Industri 70

6. Pemerintahan dan fasilitas Umum 60

7. Rekreasi 70

8. Khusus:

- Bandar Udara *) - Stasiun Kereta *)

- Pelabuhan Laut 70

- Cagar Budaya 60

B Lingkungan Kegiatan

1. Rumah Sakit atau sejenisnya 55

2. Sekolah atau sejenisnya 55

3. Tempat ibadah atau sejenisnya 55

Keterangan :

*) disesuaikan dengan ketentuan Menteri Perhubungan

Pada Tabel 2.1, tingkat kebisingan adalah ukuran energi suara yang dinyatakan [1]

(2)

5

dalam desibel dan disingkat dB. Tingkat standar baku mutu kebisingan adalah batas kebisingan maksimum yang dapat dikeluarkan oleh perusahaan atau kegiatan ke lingkungan. Kebisingan merupakan bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan pada tingkat dan waktu tertentu serta dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan [1]. Pajanan kebisingan pada manusia memiliki Nilai Ambang Batas (NAB) yang telah diatur dalam peraturan yaitu 85 dBA selama 8 jam per hari. Jenis paparan kebisingan ini merupakan jenis paparan yang berulang tanpa menyebabkan gangguan pendengaran atau pemahaman percakapan normal, tetapi tidak berlaku untuk kebisingan yang bersifat impulsive (dentuman selama < 3 detik). Pada durasi tertentu untuk pajanan kebisingan lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.2 [7].

Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Kebisingan

Satuan Durasi Pajanan Kebisingan Per Hari

Level Kebisingan (dBA)

Jam

24 80

16 82

8 85

4 88

2 91

1 94

Menit

30 97

15 100

7,5 103

3,75 106

1,88 109

0,94 112

Detik

28,12 115

14,06 118

7,03 121

3,52 124

1,76 127

0,88 130

0,44 133

0,22 136

0,11 139

Catatan:

Pajanan bising tidak boleh memiliki level 140 db walaupun hanya sesaat.

(3)

6

Setiap penanggung jawab usaha atau kegiatan wajib menaati standar tingkat kebisingan yang dipersyaratkan. Artinya, alat pencegahan kebisingan harus dipasang dan laporan hasil pemantauan tingkat kebisingan secara berkala harus disampaikan kepada gubernur dan menteri paling sedikit 3 (tiga) bulan sekali, otoritas yang bertanggung jawab di bidang analisis dampak lingkungan [1] . 2.1.1 Skala Desibel Intensitas Suara

Menurut Buletin The America Academy of Pediatrics edisi, Oktober 1997 kebisingan memang membuat hidup tidak nyaman, tetapi tidak akan membunuh manusia. Dampak dari kebisingan selain mengganggu pendengaran, juga dapat meningkatkan stress, tekanan darah tinggi, membuat tidur tidak nyenyak, menyebabkan gangguan perkembangan janin hingga kelahiran prematur, serta mengurangi tingkat intelektualitas. Saat memperhitungkan efek dari kebisingan pada kualitas hidup dan kesehatan, perlu memperhitungkan suara yang ditimbulkan dengan skala desibel (dB). Sumber suara akan terdengar dua kali lebih keras pada setiap kenaikan 10 dB [8]. Untuk skala desibel intensitas suara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Skala Desibel Intensitas Suara

No Intensitas Suara Skala Desibel (dB)

1 Batas pendengaran manusia 0

2 Suara daun bergerak tertiup angina 20

3 Bisikan lembut sejauh 3 feet 30

4 Percakapan normal 55-60

5 Suara mobil sejauh 15 feet 70

6 Suara vakum cleaner 80

7 Mesin pemotong rumput 90

8 Suara mesin mobil pembersih salju 100

9 Gergaji mesin 110

10 Konser musik rock 120

11 Pesawat terbang take off 130-150

12 Petasan 150

13 Shotgun ditembakan 170

[8]

(4)

7 2.1.2 Jenis-Jenis Kebisingan

Jenis-jenis kebisingan berdasarkan tingkat tekanan suara yang sering ditemukan yaitu:

a. Bising Kontinu (Steady Noise)

Bising yang terjadi dengan tingkat tekanan suara relatif sama. Misalnya, mesin industri, mesin pembangkit tenaga listrik.

b. Bising Tidak Kontinu (Intermittent Noise)

Bising yang terjadi dengan tingkat tekanan suara terputus-putus. Misalnya, suara pesawat terbang, tembakan senjata, lalu lintas dan lain sebagainya.

c. Bising Tiba-Tiba (Impulsive Noise)

Bising yang terjadi oleh kejadian singkat dengan akibat gangguan yang besar seperti ledakan. Misalnya berasal dari tembakan, meriam, mesin perancang dan lain sebagainya.

d. Bising Berpola (Tones in Noise)

Bising yang dapat diidentiifikasikan dengan cara mendengarkan atau dengan menganalisa terjadinya kebisingan karena ketidak seimbangan atau pengulangan yang diakibatkan oleh putaran bagian mesin, kipas, dan pompa.

e. Bising Impulsif berulang

Bising yang terjadi secara tiba-tiba dan berulang. Misalnya, suara dari mesin tempa pada perusahaan [9].

2.2 Kebisingan Bandar Udara

Kebandarudaraan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan bandar udara dan kegiatan lainnya, termasuk keamanan, kelancaran dan ketertiban lalu lintas udara, penumpang, dan pos, lokasi transfer antarmoda, dan peningkatan jumlah ekonomi nasional dan regional. Unit Penyelenggara Bandar Udara harus menjaga ambang batas kebisingan dan pencemaran lingkungan di dalam dan di sekitar bandar udara sesuai dengan batasan dan baku mutu yang ditetapkan Pemerintah. Ambang batas kebisingan sebagaimana dimaksud ditetapkan dalam tingkat kebisingan di Bandar Udara dan

(5)

8

sekitarnya, tingkat kebisingan di Bandar Udara atau nilai ekuivalen tingkat kebisingan di suatu area yang dapat diterima untuk jangka waktu tertentu selama dengan pembobotan tertentu yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2012. Lebih lengkap dapat dilihat dalam Tabel 2.4 [2].

Tabel 2.4 Tingkat Kebisingan

NO Kawasan Kebisingan Rentang Indeks Kebisingan

(WECPNL) 1 Kawasan Kebisingan Tingkat 1 >70 sampai <75 2 Kawasan Kebisingan Tingkat 2 ≥75 sampai < 80

3 Kawasan Kebisingan Tingkat 3 ≥ 80

Dari Tabel 2.4 Terdapat tingkat kebisingan sebagaimana dimaksud yaitu:

a. Kawasan kebisingan tingkat I: Merupakan tingkat kebisingan yang berada dalam indeks kebisingan pesawat udara lebih besar atau sama dengan 70 (tujuh puluh) dan lebih kecil dari 75 (tujuh puluh lima), kawasan yang dimaksud berupa tanah dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis kegiatan atau bangunan kecuali untuk jenis bangunan sekolah dan rumah sakit.

b. Kawasan kebisingan tingkat II: Merupakan tingkat kebisingan yang berada dalam indeks kebisingan pesawat udara lebih besar atau sama dengan 75 (tujuh puluh lima) dan lebih kecil dari 80 (delapan puluh), kawasan yang dimaksud berupa tanah dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis kegiatan dan bangunan kecuali untuk jenis bangunan sekolah, rumah sakit, dan rumah tinggal.

c. Kawasan kebisingan tingkat III: Merupakan tingkat kebisingan yang berada dalam indeks kebisingan pesawat udara lebih besar atau sama dengan 80 (delapan puluh), kawasan yang dimaksud merupakan tanah dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk membangun fasilitas Bandar Udara yang dilengkapi insulasi suara dan dapat dimanfaatkan sebagai jalur hijau atau sarana pengendalian lingkungan dan pertanian yang tidak mengundang burung [2].

(6)

9

Kawasan kebisingan pada Bandar Udara dan sekitarnya digunakan sebagai dasar Pemerintah Daerah untuk menetapkan perencanaan, pembangunan, penetapan, dan juga penataan penggunaan tanah di sekitar Bandar Udara [2].

2.3 Sound Level Meter (SLM)

Sound level meter merupakan alat ukur tingkat intensitas kebisingan di tempat kerja dengan memiliki kelengkapan mengukur tingkat tekanan SLM bunyi sinabung setara pada pembobotan A secara langsung atau tidak langsung yang berasal dari bunyi tetap pada rentang waktu pengukuran tertentu [10].

Kelengkapan alat ukur kebisingan atau SLM minimal harus memiliki:

a. Skala pembobotan A.

b. Kecepatan respon pembobotan waktu slow (S)

Gambar 2.1 Skala Pembobotan Bunyi

Pada Gambar 2.1 merupakan kurva skala pembobotan bunyi yang memiliki karakteristik dengan keterangan A mencangkup rentang (-20 Hz sampai 20 kHz) menyerupai respon pada telinga manusia pada tingkat yang lebih rendah yang dapat di gunakan untuk mengukur kebisingan lingkungan dan kebisingan industri dengan satuan dB(A), B lebih kritis pada pengukuran frekuensi yang lebih rendah dari A dengan satuan dB(B) yang biasanya digunakan pada industri motor selama bertahun-tahun namun sekarang tidak lagi digunakan, C digunakan pada pengukuran tingkat yang lebih tinggi (100 Phon kurva) dengan satuan dB(C), dengan rentang frekuensi (Hz) dan Relative Response (dB) yang berbeda [10].

[10]

(7)

10

Gambar 2.2 Sound Level Meter

Pada Gambar 2.2 merupakan alat ukur tingkat intensitas kebisingan yaitu sound level meter. Sebelum menggunakan alat ukur ini untuk mengukur kebisingan di diperlukan kalibrasi sesuai dengan konfigurasi yang dimuat di dalam buku petunjuk alat,serta harus memiliki sertifikat kalibrasi yang masih berlaku [10].

2.4 Cara Mengukur Tingkat Kebisingan 2.4.1 Pengukuran Leq

Ada dua vcara umum untuk mengukur tingkat kebisingan [1]:

1) Cara Sederhana menggunakan sound level meter dengan mengukur tingkat tekanan suara dalam dB(A) setiap 5 (lima) detik, selama 10 (sepuluh) menit per pengukuran.

2) Cara Langsung menggunakan integrating sound level meter yang terintegrasi dengan alat ukur LTM5, yaitu Leq dengan waktu pengukuran setiap 5 (lima) detik, dan pengukuran dilakukan selama 10 (sepuluh) menit.

Waktu pengukuran dilakukan selama aktifitas 24 jam (LSM) dengan cara pada siang hari tingkat aktivitas yang paling tinggi selama 16 jam (LS) pada interval 06.00 – 22.00 dan aktivitas malam hari selama 8 jam (LM) pada interval 22.00 – 06.00. Setiap pengukuran harus dapat mewakili interval waktu tertentu dengan menetapkan waktu pengukuran paling sedikit 4 waktu pada siang hari dan waktu pengukuran pada malam hari paling sedikit 3 waktu, sebagai contohnya yaitu:

- L1 diambil pukul 07.00 mewakili jam 06.00 – 09.00 - L2 diambil pukul 10.00 mewakili jam 09.00 – 11.00

[24]

(8)

11

- L3 diambil pukul 15.00 mewakili jam 14.00 – 17.00 - L4 diambil pukul 20.00 mewakili jam 17.00 – 22.00 - L5 diambil pukul 23.00 mewakili jam 22.00 – 24.00 - L6 diambil pukul 01.00 mewakili jam 24.00 – 03.00 - L7 diambil pukul 04.00 mewakili jam 03.00 – 06.00 Leq dapat dihitung dengan rumus:

Leq = 10 Log (1/120)(Tn1.100,1In1+Tn2.10 0,1ln2+ ...+ Tn(n).10 0,1ln) (2.1) Keterangan:

- Leq = Tingkat Kebisingan Sinambung dB (Equivalent Continuous Noise Level) dB(A).

- Li = Level kebisingan hasil perhitungan (L1,L2,dst) - Tn = Frekuensi

- In = Nilai Tengah

2.4.2 Pengukuran WECPNL

Pada tahun 1971 ICAO (International Civil Aviation Organization) menerbitkan lampiran tentang rekomendasi WECPNL sebagai indeks kebisingan sebagai evolusi efek kebisingan yang disebabkan oleh pesawat di sekitar bandara.

WECPNL mulai digunakan pertama kali oleh Jepang sebagai indeks dasar untuk menentukan kebisingan pesawat. Perhitungan WECPNL menggunakan bentuk sederhana penggabungan metode EPNL (Effective Perceived Noise level) yang memerlukan prosedur perhitungan yang cenderung lebih kompleks sehingga tidak praktis untuk digunakan dapat dilihat pada Tabel 2.5 [11].

Tabel 2.5 Kelebihan dan Kekurangan Metode EPNL dan WECPNL

No

Metode Kebisingan

Bandar Udara Kelebihan Kekurangan

1 EPNL (Effective Perceived Noise level)

Dapat digunakan untuk menentukan nilai indeks kebisingan pesawat.

Perhitungan terlalu kompleks dan tidak praktis

(Membutuhkan korelasi antar EPNL, Lmax, dan nilai LSM)

(9)

12 No

Metode Kebisingan

Bandar Udara Kelebihan Kekurangan

2 WECPNL (Weighted Equivalent Continuous Perceived Noise Level)

Dapat digunakan untuk menentukan nilai indeks dasar dengan bentuk sederhana pada perhitungan kebisingan pesawat.

Tidak memiliki batas waktu pengukuran.

(Disesuaikan dengan waktu operasi Bandar Udara)

WCPNL (Weighted Equivalent Continuous Perceived Noise Level direkomendasikan sebagai indeks dasar untuk menentukan kebisingan pesawat oleh ICAO (International Civil Aviation Organization). Adapun rumus yang digunakan dapat dilihat pada Persamaan 2.3, 2.4, dan 2.5:

( )

= 10 log

] (2.3)

N = N2 + 3 N3 + 10 (N1+ N4) (2.4) WECPNL = ( ) + 10 log N – 27 (2.5) Dengan:

WECPNL = Weighted Equivalent Continuous Perceived Noise Level adalah satu diantara beberapa Index tingkat kebisingan pesawat udara yang ditetapkan dan direkomendasikan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).

dB(A) = Nilai desibel rata-rata dari setiap puncak kesibukan pesawat udara dalam 1 (satu) hari.

N = Jumlah kedatangan dan keberangkatan pesawat udara yang dihitung berdasarkan pemberian bobot yang berbeda untuk pagi, petang dan malam.

N1 = Jumlah aktivitas pesawat (kedatangan dan keberangkatan dari jam 00.00 – 07.00).

N2 = Jumlah aktivitas pesawat (kedatangan dan keberangkatan dari jam 07.00 – 19.00).

(10)

13

N3 = Jumlah aktivitas pesawat (kedatangan dan keberangkatan dari jam 19.00 – 22.00).

N4 = Jumlah aktivitas pesawat (kedatangan dan keberangkatan dari jam 22.00 – 07.00).

2.5 Peta Kontur Persebaran Kebisingan

Peran ICAO adalah menyediakan forum global untuk mengembangkan solusi yang disepakati bersama di antara negara-negara anggota yang terdiri dari berbagai langkah untuk menangani semua aspek penerbangan dan perlindungan lingkungan secara harmonis dan seimbang. Dalam hal ini perlu dilakukan perencanaan di bandar udara yang merupakan bagian integral dari program perencanaan komprehensif di seluruh wilayah. Program ini meliputi pengembangan dan pengoperasian bandar udara yang dikoordinasikan dengan perencanaan, kebijakan dan program di wilayah bandar udara tersebut. Salah satu instrument perencanaannya yaitu zonasi kebisingan guna menentukan wilayah bising disekitar bandar udara. Zona kebisingan ini akan menghasilkan peta kontur persebaran kebisingan seperti pada Gambar 2.3 [11].

Gambar 2.3 Contoh Peta Persebaran Kebisingan

Dalam Gambar 2.3 terdapat kontur yang merupakan garis khayal yang memiliki ketinggian yang sama, berupa titik-titik yang terhubung dan dapat memberikan informasi relif secara relative atau absolute. Garis kontur merupakan garis khayal pada lapangan dengan tinggi sama yang menghubungkan titik. Pada garis kontur apabila terdapat + 25 m, memiliki maksud ketinggian yang sama dan

[12]

(11)

14

menghubungkan titik + 25 m pada ketinggian tertentu yang digunakan sebagai keterangan naik turunnya keadaan permukaan tanah pada peta [12].

2.6 Metode pengolahan data Golden Surfer

Surfer sebagai perangkat lunak dapat digunakan dalam pembuatan peta kontur juga berdasarkan pada grid. Pada plotting data tabular yang tidak beraturan yaitu XYZ diubah menjadi lembar grid yang beraturan. X dan Y merupakan koordinat pada titik sampling. Grid di dalam Surfer sebagai dasar pembentuk kontur dan surface tiga dimensi merupakan serangkaian garis vertikal juga horizontal berbentuk segi empat yang memiliki titik-titik perpotongan. Didalam titik perpotongan terdapat nilai Z yang menunjukkan besar kebisingan. Proses perangkaian nilai Z yang teratur dari data XYZ kemudian disebut gridding yang menghasilkan file grid tersimpan pada file.grd [12].

Pada lembar kerja surfer terdiri dari empat bagian,yaitu:

a. Surface plot: Merupakan lembar kerja yang digunakan dalam pembuatan peta atau file grid.

b. Worksheet: Digunakan untuk menginput data XYZ yang disimpan pada file .dat.

c. Editor: Digunakan sebagai tempat mengolah dan membuat file teks ASCII dengan ekstensi .txt.

d. Overlay peta kontur: Merupakan visualisasi dari peta kontur dengan model tiga dimensi. Mempermudah analisis pada wilayah pada lahan tertentu terkait dengan kontur [12].

 Penggunaan Aplikasi Surfer

Berikut merupakan langkah untuk membuat kontur secara sederhana [12]:

 Buka program surfer dengan cara klik dua kali, maka akan terlihat tampilan seperti pada Gambar 2.4.

(12)

15

Gambar 2.4 Langkah Pertama Ploting Kontur

 Kemudian klik File-New-Worksheet atau langsung ketik ctrl+W pada keyboard. Tampilan pada layar akan berubah seperti pada Gambar 2.5 untuk kemudian memasukkan data sesuai koordinat x, y, dan z pada tabel.

Gambar 2.5 Langkah kedua ploting kontur

 Setelah memasukkan data dan save worksheet, kembali ke menu plot, klik menu Grid-data-pilih file yang di simpan pada worksheet dengan format .bln.

 Lalu untu manampilkan gambar kontur klik menu Map-New-Contour Map-pilih file yang telah di simpan sebelumnya.

 Akan muncul hasil kontur pada layar seperti Gambar 2.6.

[12]

[12]

(13)

16

Gambar 2.6 Langkah ketiga plotting kontur

 Untuk mewarnai kontur dengan klik gambar kontur, klik kanan-properties- general-centang di fill contour, akan terlihat pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7 Langkah keempat ploting kontur

 Supaya lebih mudah melihat perbedaannya ubah levelnya sesuai warna yan berbeda untuk mendapatkan hasil yang menarik, dapat dilihat pada Gambar 2.8.

[12]

[12]

(14)

17

Gambar 2.8 Langkah kelima ploting kontur [12]

(15)

18 2.7 Penelitian terkait

Adapun penelitian terkait dengan tema yang diambil dapat dilihat pada Tabel 2.6.

Tabel 2.6 Penelitian Terkait

No

Nama dan Tahun Jenis penelitian dan

Judul Metode Titik Sampling Alat yang

digunakan Hasil

1 I.M Klobor, M.F Fachrul dan H.

Yulinawati, 2019. [13]

Jurnal Nasional, Kajian Intensitas Kebisingan di Bandar Udara Internasional EL Tari Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Metode WECPNL (Weighted Equivalent Continuous Perceived Noise Level)

13 Titik sampling dengan jarak 300 m, 1000 m, 2000 m, 3000 m, dan 4000 m.

Sound level meter (kalibrasi tidak diketahui), GPS.

Memberikan hasil akhir berupa intensitas kebisingan tertinggi berada di titik 4 dan terendah di titik 13. Berdasar indeks WECPNL tingkat 3 sudah sesuai peruntukan jalur hijau.

2 M.E Ana, 2011. [14] Skripsi, Analisis kebisingan Pesawat Terbang di Kawasan Sekitar Bandara (Bandara Pekanbaru dan Bandara Surabaya)

Metode EPNL (Effective Perceived Noise level)

Studi kasus Bandara Pekanbaru dan Surabaya.

Sound level meter (kalibrasi tidak diketahui).

Mendapatkan hasil akhir nilai EPNL dari tiap pesawat, korelasi antara Lmax, EPNL dan nilai LSM. Pada bandara Pekanbaru nilai EPNL tertinggi pada (737- 200) yaitu 109,32 EPNdB, dan terendah pada (72-212A) yaitu 91,10 EPNdB.

(16)

19

No

Nama dan Tahun Jenis penelitian dan

Judul Metode Titik Sampling Alat yang

digunakan Hasil

3 L.C Rachmi, 2017. [15] Skripsi, Analisis Tingkat Kebisingan Yang

Ditimbulkan oleh Aktifitas Bandar Udara dan Upaya Pengelolaannya

Metode perhitungan tingkat bising ekivalen pagi, siang, malam (Leq).

Dengan sampling data langsung.

23 titik sampling Sound level meter NA 20 (kalibrasi tidak diketahui), GPS.

Mendapatkan hasil akhir nilai kebisingan tertinggi pada saat hari libur, weekdays 70,39 dB(A), weekend 72,04 dB(A), peta kontur kebisingan, dan upaya pencegahan dengan menggunakan APD, dan barrier alami (glodongan dan bougenvil).

4 M. Lili, M.Y. Yonik, dan F Pebby, 2021.

[16]

Jurnal Internasional, Public opinion on noise

disturbance due to the activities of

Husein Sastranegara Airport, Bandung, Indonesia.

Menggunakan metode perhitungan WECPNL, kuisioner.

12 Titik sampling dengan jarak 100 m, 500 m, 1500 m.

Sound level meter (kalibrasi tidak diketahui), Tripod, GPS.

Hasil pengukuran menunjukkan inteks WECPNL tertinggi pada jarak 100 m yaitu 75,51; jarak 500 m yaitu 62,71, dan 1500 yaitu 52,74. Menentukan tingkat zona kebisingan

5 H. Nofriandi, A Wijayanti, M.F.Fachrul, 2018. [17]

Jurnal Internasional, Study of noise level at Raja Haji Fisabilillah airport in Tanjung Pinang, Riau Islands

Menggunakan metode perhitungan WECPNL, membuat kontur kebisingan.

12 Titik sampling dengan jarak 300 m, 1000 m, 2000 m, 3000 m, 4000 m.

Sound level meter (kalibrasi tidak diketahui), Tripod, GPS.

Hasil pengukuran menunjukkan nilai kebisingan tertinggi di titik 3 yaitu 90,6 dB(A). Indeks WECPNL tertinggi pada titik 3, untuk daerah permukiman di luar bandara intensitas kebisingan tidak sesuai.

(17)

20

No

Nama dan Tahun Jenis penelitian dan

Judul Metode Titik Sampling Alat yang

digunakan Hasil

6 J.H Nur, S. Endro, dan DS. S. Mawar, 2018. [18]

Jurnal Nasional, Kajian Tingkat Kebisingan di Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, DKI Jakarta.

Menggunakan metode perhitungan WECPNL, kuisioner.

12 Titik sampling dengan jarak 300 m, 1000 m, 2000 m, 3000 m, dan 4000 m.

Sound level meter (kalibrasi tidak diketahui), GPS.

Hasil pengukuran menunjukkan nilai indeks kebisingan WECPNL tertinggu pada jarak 300 m yaitu 84,56 terdapat pada kawasan kebisingan tingkat 3 dan terendah pada jarak 4000 m yaitu 61,22 terdapat di kawasan kebisingan tinngkat 1.

7 A. Fadhlan, F.F Melati, dan S Endro, 2018. [19]

Jurnal Nasional, Tingkat Kebisingan Pesawat udara di Sekitar Bandara udara Sultan Thaha, Jambi, Provinsi Jambi.

Menggunakan metode perhitungan WECPNL.

12 Titik sampling dengan jarak 300 m, 1000 m, 2000 m, 3000 m, dan 4000 m.

Sound level meter (kalibrasi tidak diketahui), GPS.

Hasil pengukuran menunjukkan nilai indeks WECPNL tertinggi pada jarak 300 (landasan pacu 31) yaitu 71,45 dB(A), terandah pada titik 4 yitu 45,8 dB(A) .

8 P.R Nissa, F.F Melati, dan Widyatmoko, 2019. [20]

Jurnal Nasional, Kawasan Kebisingan Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung Provinsi Jawa barat.

Menggunakan metode perhitungan WECPNL.

12 Titik sampling dengan jarak 300 m, 1000 m, 2000 m, 3000 m, dan 4000 m.

Sound level meter CEM DT- 8820 (kalibrasi tidak diketahui), GPS.

Hasil pengukuran menunjukkan nilai indeks WECPNL terbesar pada jarak 650 m yaitu 72,6, dan terkecil pada jarak 3000 yaitu 66,5 . Berada di kawasan kebisinga tingkat 3 dan 1, terdapat bangunan sekolah dan permukiman yang seharusnya tidak diperbolehkan.

(18)

21

No

Nama dan Tahun Jenis penelitian dan

Judul Metode Titik Sampling Alat yang

digunakan Hasil

9 H. Peppy, 2016. [21] Jurnal Nasional, Dampak Kebisingan Dari Aktifitas Bandara Sultan Thaha Jambi Terhadap Permukiman Sekitar Bandara.

Menggunakan metode perhitungan tingkat kebisingan equivalen (Leq) pagi, siang sore, dan kuisioner presepsi masyarakat sekitar bandara dengan.

3 titik sampling. Sound level meter 4010 (kalibrasi tidak diketahui), GPS.

Hasil pengukuran pada 3 titik sampling melebihi ambang batas kebisingan yaitu 55 dB(A), sehingga tidak layak dijadikan kawasan pemukiman.

10 M. Ataline, 2011. [22] Jurnal Nasional, Penentuan Kawasan Kebisingan Bandara Polonia Medan

Menggunakan metode perhitungan WECPNL,dengan melakukan penelitian data skunder.

Tidak diketahui Tidak diketahui Hasil pengukuran menunjukkan nilai indeks WECPL yaitu 136,1175 yang berarti berada pada zona kawasan kebisingan tingkat 3.

Gambar

Tabel 2.1 Baku Mutu Kebisingan
Tabel 2.2 Nilai Ambang Batas Kebisingan
Tabel 2.3 Skala Desibel Intensitas Suara
Tabel 2.4 Tingkat Kebisingan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Di dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan masyarakat Batak perantauan di Kabupaten Brebes masih memegang teguh falsafah Dalihan Na Tolu, baik dalam perkawinan,

71 Berdasarkan hasil proses agregasi pakar terhadap alternatif strategi peningkatan mutu karet diperoleh hasil yaitu strategi melalui perbaikan budidaya dan

Demikian sejarah ekonomi rakyat berawal jauh sebelum Indonesia merdeka, namun tidak banyak pakar mengenalnya karena para pakar, khususnya pakar-pakar ekonomi, memang hanya

Reliability (x2) , Responsiveness (X3), Assurance (X4) dan Emphaty (X5) dapat dinyatakan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan. Namun hipotesa ketujuh

Hasil penelitian menunjukan pelaksanaan pembelajaran melalui penerapan metode Cooperative Integrated Reading and Compsition yang diawali dengan membentuk siswa menjadi 4-6

Penulisan skripsi ini hanya untuk memberikan gambaran atau penjelasan maka sifat dari penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis, artinya penelitian ini

Lahan yang dijadikan sebagai lokasi penelitian di pilih areal yang memiliki topografi yang relatif datar, pengukuran lahan, pembersihan lahan dari gulma dan tumpukan

Untuk mengetahui apakah Rasio Profitabilitas pada Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP) Desa Kembung Luar sudah sesuai dengan perspektif syari‟ah..