▸ Baca selengkapnya: di bawah ini yang bukan termasuk persyaratan minimal personalia dalam cpob adalah
(2)(3) Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Marifat Kilwakit NIM. : 11150340000165. Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul TAFSIR ATSAR AL-SUJÛD (STUDI PEMAHAMAN SURAT AL-FATH [48]: 29 DALAM KEHIDUPAN GURU DI PESANTREN SUNANUL. HUSNA. KELURAHAN. PONDOK. RANJI. TANGERANG SELATAN) adalah benar merupakan karya saya sendiri. dan. tidak. melakukan. tindakan. plagiat. dalam. penyusunannya. Adapun kutipan yang ada dalam penyusunan karya ini telah saya cantumkan sumber kutipannya dalam skripsi. Saya bersedia melakukan proses yang semestinya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku jika ternyata skripsi ini sebagian atau keseluruhan merupakan plagiat dari karya orang lain. Demikian pernyataan ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya.. Jakarta, 22 Mei 2019. Marifat Kilwakit NIM 11150340000165. ii.
(4)
(5) ABSTRAK Marifat Kilwakit, “Tafsir Atsar al-Sujûd (Studi Pemahaman Surat al-Fath [48]: 29 dalam Kehidupan Guru di Pesantren Sunanul Husna Kelurahan Pondok Ranji Tanggerang Selatan)”. Skripsi strata 1 (S1) Jurusan Ilmu Qur‟an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 2019 Pemahaman atas munculnya atsar al-sujûd masih menjadi pro kontra di antara masyarakat dengan para mufassir. Atsar alsujûd dipahami masyarakat secara literal sebagai tanda yang melekat di jidat karena seringnya sujud. Semantara itu atsar alsujûd dalam QS. al-Fath [48]: 29 dipahami para ulama sebagai tanda yang lebih cenderung kepada wajah yang bercahaya, berkharisma, dan penuh kekhusyukan. Dalam penelitian ini, penulis merasa perlu untuk mengkomparasikan antara pemahaman mufassir dan masyarakat awam yang tujuannya untuk mencegah tendensi pemahaman keagamaan yang dengan mudah memandang sesuatu dengan kacamata ortodoksi yang ujung-ujungnya berupa vonis hitam-putih, sunnah-bid‟ah, syar‟iyah-ghairu syar‟iyah. Penelitian yang dilakukan mengacu pada kajian living Qur‟an dengan memotret fenomena sosial yang ada masyarakat sebagai respon terhadap keberadaan al-Qur‟an. Bagaimana masyarakat memperlakukan al-Qur‟an dalam kehidupannya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengkaji dan manganalisis lebih jauh tentang pemahaman dan pengamalan masyarakat terhadap al-Qur‟an, dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat menghidupkan alQur‟an dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian ini terdapat perbedaan dalam memahami atsar al-sujûd. Sebagian di antara masyarakat memahami atsar al-sujûd sesuai dengan yang dipahami oleh para mufassir. Di sisi lain tendensi pemahaman mereka lebih kepada tanda yang bersifat lahiriyah. Di samping itu mereka pun memahami atsar al-sujûd sebagai tanda yang menonjol pada akhlak dan prilaku. Dalam artian perubahan yang terjadi pada prilaku merupakan perwujudan atas nilai-nilai shalat. Maka dengan begitu implementasi terhadap nilai-nilai shalat benar-benar diterapkan secara riil dalam kehidupan sehari-hari.. iv.
(6) KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah atas limpahan rahmat dan karuniahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir yang juga merupakan syarat kelulusan dengan tepat waktu. Penulis menyadari bahwa dalam perjalanan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari berbagai macam rintangan dan hambatan baik dari luar maupun dari dalam diri penulis. Segala bentuk desakan khususnya dari keluarga membuat penulis semakin termotivasi untuk lulus tepat waktu. Penulis sendiri beranggapan bahwa jika bisa lulus tepat waktu, untuk apa harus menunggu waktu yang tepat. Shalawat beriring salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi kita dalam melaksanakan segala aktivitas dalam kehidupan ini. Skripsi ini merupakan tugas akhir penulis selama menempuh pendidikan kurang-lebih empat tahun sebagai syarat mendapatkan. gelar. Serjana. Agama. Islam. di. Fakultas. Ushuluddin., jurusan Ilmu Qur‟an dan Tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Skripsi yang diselesaikan dengan judul “Tafsir Atsar AlSujûd (Studi Pemahaman Surat Al-Fath [48]: 29 dalam Kehidupan Guru di Pesantren Sunanul Husna Kelurahan Pondok Ranji Tanggerang Selatan)” merupakan karya penulis yang tidak terlepas dari berbagai macam kekurangan. Hal ini. disebabkan. karena dangkalnya pengetahuan penulis dalam menyelami. v.
(7) samudra pengetahuan maka kritik dan saran yang konsutruktif sangat diperlukan demi perbaikan skripsi ini ke depannya. Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan bisa rampung tanpa dukungan dan dorongan dari berbagai macam pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada: 1.. Prof. Dr. Amany Lubis MA, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2.. Dr.Yusuf Rahman MA, selaku Dekan Fakultas Ushuluddin beserta seluruh jajarannya. 3.. Dr. Lilik Ummu Kaltsum MA, dan Dra. Banun Binaningrum M.Pd, selaku ketua dan sekretaris jurusan Ilmu Qur‟an dan Tafsir. 4.. Moh. Anwar Syarifuddin MA, selaku dosen pembimbing penulis yang telah membimbing dan mengarahkan penulis. 5.. Maulana M.Ag selaku dosen penasehat akademik sekaligus tempat penulis berkonsultasi mengenai segala permasalahan akademik. 6.. Kepada kedua orang tua penulis, yang dengan sabar mendidik, memotivasi dan mendoakan penulis, tak lupa pula kepada kakaku, adikku yang selalu menjadi penghibur dalam suka maupun duka. 7.. Kepada seluruh dosen fakultas Ushuluddin yang telah memberikan. dedikasinya. dalam. mendidik. penulis,. memberikan banyak ilmu, pengalaman, yang menjadi bekal di kehidupan nanti.. vi.
(8) 8.. Kepada saudaraku Rahmatullah Tiflen yang senantiasa berbagi ilmu, nasehat yang mewarnai perjalanan pendidikan penulis.. 9.. Kepada seluruh. keluarga. besar Kahfi BBC Motivator. School, Om Bagus, Mba Wie dan seluruh dewan wali yang telah menjadi orang tua kedua dan juga guru spritual bagi penulis. 10. Kepada seluruh keluarga besar Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat yang selalu menyokong dan membantu penulis dalam penulisan skripsi 11. Kepada seluruh dosen dan keluarga besar Pendidikan Dasar Ulama (PDU) yang diselenggarakan MUI Jakarta Selatan, tempat penulis menimba ilmu agama yang mendukung jurusan yang penulis tekuni 12. Kepada seluruh keluarga besar pesantren Sunanul Husna tempat penulis melakukan penelitian. 13. Teman-temanku seperjuangan mahasiswa ilmu Qur‟an dan Tafsir angkatan 2015: Nia Ariyani, Widya Octavia, Lia Elfiya, Ningsih, Cep Wildan Rabbany, Rosita, Ela, Sabbhisma, Nisfi, yulisneini, helputri, Mutiara, Noviyanti, Hima, Mahil, Fitri, Fifit, Jaronah, Vera, Isneini, Ambar, Ali, Zainal dan lain-lain yang senantiasa mensuport penulis dan memberi semangat dalam penyusunan skripsi. Mereka juga yang selalu membersamai penulis dalam mengarungi dinamika kehidupan kampus baik di kala suka maupun duka.. vii.
(9) 14. Seluruh pihak yang tidak saya sebutkan namanya satu persatu, terima kasih atas kontribusinya, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan balasan yang lebih baik. Demikian semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan digunakan sebagai acuan bagi para akademisi setelahnya. Kritik dan saran sangat membantu demi perbaikan dan kemajuan penelitian di masa mendatang. Terima kasih.. Jakarta, 22 Mei 2019. Penulis. viii.
(10) PEDOMAN TRANSLITERASI. Transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam skripsi ini berpedoman pada buku pedoman penulisan skripsi yang terdapat dalam buku Pedoman Akademik Program Strata 1 Tahun 2017 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. a. Padanan Aksara Huruf Arab. Huruf Latin. Keterangan. ا. Tidak dilambangkan. ب. B. Be. ت. T. Te. ث. Ts. te dan es. ج. J. Je. ح. ẖ. h dengan garis bawah. خ. Kh. ka dan ha. د. D. De. ذ. Dz. de dan zet. ر. R. Er. ز. Z. Zet. س. S. Es. ش. Sy. es da ye. ص. S. es dengan garis di bawah. ض. ḏ. de dengan garis di bawah. ط. ṯ. te dengan garis di bawah. ظ. ẕ. zet dengan garis di bawah. ix.
(11) ع. „. koma terbali di atas hadap kanan. غ. Gh. ge da ha. ف. F. Ef. ق. Q. Ki. ك. K. Ka. ل. L. El. م. M. Em. ن. N. En. و. W. We. ه. H. Ha. ء ՚. ي. Apostrof Y. Ye. b. Vokal Vokal dalam bahasa Arab, seperti dalam bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal, ketentuan alih aksaranya adalah sebagai berikut: Vokal tunggal Fathah :a. Vokal panjang Vokal rangkap :â. ْى...´ : ai. Kasrah. :i. ى:î. ْو....´ : au. Dhammah. :u. و. أ. :û. Adapun untuk vokal rangkap, ketentuan alih aksaranya adalah sebagai berikut:. x.
(12) Tanda Vokal Arab. Tanda Vokal Latin. Keterangan. َي. Ai. a dan i. َو. Au. a dan i. c. Vokal Panjang Ketentuan alih aksara vokal panjang (mad), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu: Tanda Vokal Arab. Tanda Vokal Latin. Keterangan. ىآ. Â. a dengan topi di atas. ىِي. Î. i dengan topi di atas. ىُى. Û. u dengan topi di atas. huruf syamsiyyah maupun huruf qamariyyah. Contoh: alrijal, bukan ar-rijal, al-diwân bukan ad-diwân. d. Syaddah (Tasydîd) Syaddah atau tasydîd yang dalam sistem tulisan Arab ّ dalam alih aksara ini dilambangkan dengan sebuah tanda (َ), dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi syaddah itu. Akan tetapi hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruh-huruf syamsiyyah. Misalnya, ّ الtidak ditulis aḏ-darûrah melainkan al-ḏarûrah, kata ضرورة demikian seterusnya. e. Ta Marbûṯah Berkaitan dengan alih aksara ini, jika huruf ta marbûṯah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /h/ (lihat contoh 1 di bawah ini). xi.
(13) Hal yang sama juga berlaku jika ta marbûṯah tersebut diikuti oleh datkata sifat (na’t) (lihat contoh 2). Namun, jika huruf ta marbûṯah. diikuti. kata. benda),. maka. huruf. tersebut. dialihaksarakan menjadi huruf /t/ (lihat contoh 3).. No. Tanda Vokal Latin. Keterangan. 1. طريقت. ṯarîqah. 2. الجامعت اإلسالميّت. al-Jâmi’ah al-Islâmiyyah. 3. وحدة الىجىد. waẖdat al-wujûd. f. Huruf Kapital Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam alih aksara ini huruf kapital tersebut juga digunakan, dengan mengikuti ketentuan yang berlaku Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), antara lain untuk menuliskan permulaan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh: Abû Hâmid AlGhazâlî bukan Abû Hâmid al-Ghazâlî, al-Kindi bukan Al-Kindi. Beberapa ketentuan lain dari EBI sebetulnya juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold). Jika menurut EBI, judul buku itu ditulis dengan cetak miring, maka demikian halnya dalam alih aksaranya, demikian seterusnya. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama tokoh yang berasal dari dunia nusantara sendiri, disarankan tidak xii.
(14) dialihaksarakan meskipun akar katanya berasal dari bahasa Arab. Misalnya ditulis Abdussamad al-Palimbani, tidak „Abd al-Samad al-Palimbânî; Nuruddin al-Raniri, tidak Nûr al-Dîn al-Rânîrî. g. Cara Penulisan Kata Setiap kata, baik kata kerja (fi’l) , kata benda (ism), maupun huruf (harf) ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara atas kalimat-kalimat dalam Bahasa Arab, dengan berpedoman pada ketentuan di atas. Kata Arab. Alih Aksara. ذهب األستاذ. dzahaba al-ustâdzu. ثبت األجر. tsabata al-ajru. الحركت العصريّت. al-ẖarakah al-„asriyyah. أشهد ان ال إله إالّ هللا. asyhadu an lâ ilâha illâ Allâh. مىالنا ملك الصالح. maulâna Malik al-sâliẖ. يؤثركم هللا. yu‟atstsirukum Allâh. المظاهر العقليت. Al-maẕâhir al-„aqliyyah. Penulisan nama orang harus sesuai dengan tulisan nama diri mereka. Nama orang berbahasa Arab tetapi bukan asli orang Arab tidak perlu dialihaksarakan. Contoh: Nurcholish Madjid, bukan Nûr Khâlis Majîd; Mohamad Roem, bukan Muhammad Rûm; Fazlur Rahman, bukan Fadl al-Rahmân.. xiii.
(15) DAFTAR ISI. LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................. i PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ....................................... ii LEMBAR PENGESAHAN ........................................................... iii ABSTRAK ...................................................................................... iv KATA PENGANTAR .................................................................... viii PEDOMAN TRANSLITERASI ................................................... xiii DAFTAR ISI ................................................................................... xvi DAFTAR TABEL .......................................................................... xvii BAB I. PENDAHULUAN .......................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................ 6 B. Identifikasi Masalah .................................................. ..7 C. Perumusan Masalah .................................................... 7 D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................... 8 E. Metodologi Penelitian ................................................. 9 F. Metode Pengumpulan Data ......................................... 10 G. Teknik Pengolahan Data ............................................. 13 H. Tinjauan Pustaka ......................................................... 16 I. Sistematika Penulisan ................................................. 18. BAB II. GAMBARAN UMUM TENTANG TAFSIR ATSAR AL-SUJÛD ...................................................................... 19 A. Makna Atsar ................................................................ 19 1. Pengertian Atsar ..................................................... 20 2. Kata Atsar dalam Al-Qur‟an .................................. 22 3. Ragam Makna Kata Atsar ...................................... 23. xiv.
(16) B. Makna Sujud ............................................................... 23 1. Pengertian Sujud .................................................... 24 2. Kata dan Makna Sujud dalam al-Qur‟an ................ 27 C. Pemaknaan Atsar al-Sujûd .......................................... 27 1. Pengertian Atsar al-Sujûd ...................................... 30 2. Ayat dan Penafsiran Para Mufassir ........................ 38 BAB III PROFIL PESANTREN SUNANUL HUSNA ............. .39 A. Profil Pesantren Sunanul Husna ............................... .47 B. Akulturasi Jamâ‟ah Tablȋgh dalam tradisi kehidupan Pesantren ..................................................................... .48 C. Sosial Kemasyarakatan Pesantren Sunanul Husna ..... .49 D. Visi dan Misi Pesantren Sunanul Husna .................... .50 E. Deskripsi Responden .................................................. .52 BAB IV PEMAHAMAN TAFSIR ATSAR AL-SUJÛD DI PESANTERN SUNANUL HUSNA.............................. .55 A. Pemahaman. Guru. pesantren. Sunanul. Husna. terhadap Atsar al-Sujûd ............................................. .56 1. Kemampuan Kognitif ........................................ ......58 2. Bentuk-Bentuk Pemahaman terhadap Atsar al-Sujûd ................................................... .....65 3. Perbedaan Pemahaman terhadap Atsar al-Sujûd....67 B. Prose Pembentukan atsar al-sujûd ............................. .67 1. Durasi, Frekuensi, Tempat dan cara Sujud ............ .72 2. Landasan tentang Atsar al-Sujûd ........................... .77 C. Atsar Al-Sujûd sebagai Bukti Ketaatan Beribadah ... .79 D. Atsar al-Sujûd dalam Wacana Kesalehan Muslim .... .84. xv.
(17) BAB V. PENUTUP ...................................................................... .85 A. Kesimpulan ................................................................. .86 B. Saran ........................................................................... .86. DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... ..91 LAMPIRAN-LAMPIRAN. xvi.
(18) DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Kemampuan Kognitif ....................................................... 57 Tabel 2.2 Bentuk-bentuk Pemahaman ............................................. 59 Tabel 3.1 perbedaan pendapat tentang atsar al-sujûd ...................... 66 Tabel 3.2 Durasi, Frekuensi, Tempat dan Cara Sujud ..................... 72. xvii.
(19) BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Ibadah shalat adalah bagaimana cara berkomunikasi dengan Allah. Dengan sholat tersebut, manusia mendapat ketakwaan dan ketenangan, bahkan dengan ibadah sholat manusia dapat terhindar dari perbuatan dan prilaku yang tidak baik (buruk).1 Dalam pelaksanaan shalat terdiri dari beberapa gerakan, salah satunya adalah sujud. Adapun sujud di sini adalah simbol tunduk atau patuh. Hal ini tercermin dalam gerakan sujud yaitu meletakan kening di lantai (tanah). Dalam sujud posisi kepala orang bersujud direndahkan serendah kaki menapak. Hal ini menujukan bahwa sujud adalah ketundukan tertinggi seorang hamba terhadap Tuhannya.2 Di. samping itu. dengan. seringnya. sujud. mampu. menghadirkan suatu tanda yang telah dipahami sebagai ciri khas umat Islam. Namun ciri khas berupa jidat hitam dikarenakan sujud yang dilakukan paling tidak lima waktu sehari-semalam tersebut,. tidak. bisa. serta-merta. dipahami. sebagai. tanda. kekhusyuan atau keistiqamahan seseorang dalam melakukan. 1. Abdullah Gymnastiar, Shalat Best of the Best, (Bandung: Senibudaya Sejahtera OFFset, 2005), h.8 2 Muhammad Jihad Akbar, Mukjizat Ibadah Fajar (Jakarta : AlifBata, 2007), h 24.. 1.
(20) 2. shalat karena tidak semua orang yang suka sujud itu mempunyai warna hitam di jidat.3 Perihal jidat hitam ini menuai banyak kontraversi dalam masalah pemahaman. Ada sebagian kalangan yang salah kaprah dalam memahami bekas sujud yang dimaksud dalam QS. al-fath [48]:29. Pemahaman tersebut disandarkan kepada sesuatu yang bersifat lahiriyah atau tanda ẕahir seperti yang kita lihat, sehingga mayoritas daripada mereka berlomba-lomba untuk menghitamkan jidat. Padahal di kalangan para mufassir seperti Quraish Shihab,4 Hamka5, Sayyid Quthb,6 al-Qurthubi7 Syaikh Abdurrahaman bin 3. Ali Abdullah, Pintu-pintu Hikmah (jakarta: Quanta, 2014) h. 19 Quraish Shihab mengemukakan bahwa atsar al-sujûd hendaknya tidak dipahami dalam arti bekas yang terlihat di dahi seseorang yang boleh jadi merupakan akibat seringnya dahi tersebut bersentuhan dengan benda keras. Dikutip oleh Biqa’i yang menjelaskan bahwa atsar al-sujûd itu menjadikan penyandangnnya memiliki wibawa, kharisma dan kekhusyuan sehingga bila ia dilihat, maka yang melihatnya tergugah untuk berzikir, apabila ia membaca, maka bacaannya melahirkan kekhusyuan keterharuan dan ketundukan kepada Allah walaupun penampilan luarnya sangat sederhana. Jadi, pada dasarnya menurut Quraish Shihab atsar al-sujûd dipahami secara bathiniyah karena orang yang mempunyai atsar al-sujûd memiliki wibawa kharisma dan kekhusyukan. 5 Hamka mengungkapkan dalam Tafsir al-Azhâr atsar al-sujûd ialah ada sinar pada wajah-wajah mereka dari sebab bekas sujud. wajah mereka bersinar, tidak cemberut, tidak beringis, melainkan memancarkan kejernihan selalu, sehingga tidak ada kusut yang tidak selesai, tidak ada kusut yang tidak jernih apabila telah berhadapan dengan orang yang sembahyang. Sebab dengan sujud orangnya tidak menjadi sombong. Dia selalu menundukan kepala bersujud kepada Tuhan. Di waktu sujud insaflah ia akan kerendahan dirinya di hadapan ketinggian dan kemulian Allah. Jadi menurut Hamka atsar al-sujûd dipahami secara lahiriyah dan bathiniyah karena orang yang mempunyai atsar al-sujûd dari wajah mereka bersinar, tidak cemberut, tidak beringas dan tidak sombong. 6 Sayyid Quthb mengatakan bahwa “tanda-tanda mereka tampak pada muka dari bekas sujud” itulah tanda di wajah mereka cerah: cerah, bersinar, jernih, dan bening. Tanda ini bukan titik hitam di wajah yang dikenal sebagaimana yang segera terlintas dalam pikiran saat mendengar firman Allah “dari bekas sujud” karena maksud dari bekas sujud adalah pengaruh ibadah. Lihat dalam tafsir Fi –Zhilâlil Qur’ân, h. 246 4.
(21) 3. Nashir as-Sa’di,8 maupun ulama-ulama lain mereka memahami atsar al-sujûd tidak seperti dipahami sekarang. Hasil pemahaman para mufassir hampir semua memiliki kemiripan, di mana makna atsar al-sujûd dimaksud merupakan sinar yang terpancar dari wajah orang yang taat beribadah sehingga wajahnya terlihat berseri-seri dan sejuk jika dipandang. Ia pun memiliki wibawa, berkharisma dan penuh dengan sifat tawaddu. Semantara itu atsar al-sujûd juga dipahami sebagai tanda yang terlihat di hari kiamat kelak. Sesuai dengan konsep wajah yang bercahaya, maka kebalikannya adalah wajah yang hitam kelam (aswad al-Wujûh). Sebagaimana disebutkan dalam ayat, “pada hari yang di waktu itu, ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram” Inilah penafsiran yang dikemukakan oleh para mufassir. Seiring dengan perihal atsar al-sujûd ini dijelaskan dalam QS. al-Fath [48]: 29 sebagai berikut:. 7. Yang dimaksud dengan “tanda-tanda mereka tampak pada muka dari bekas sujud” maksudnya adalah,tanda-tanda mereka ada di wajah mereka dari bekas sujud dalam sholat mereka. Ahli takwîl berbeda pendapat tentang takwîl tersebut. Sebagian ahli takwîl berkata “ia merupakan tanda-tanda yang dijadikan Allah Ta’ala di wajah orang-orang beriman pada hari kiamat. Dengan tanda-tanda itu mereka dapat dikenal, sebagai sujud mereka pada-Nya. lihat dalam Tafsîr Ath-Ṭabâri, Penerjamah Abdul Somad( (Jakarta: Pustaka Azam, 2009), h. 672 8 Di kitab yang lain “tanda-tanda mereka tampak pada muka dari bekas sujud” artinya banyak serta baiknya ibadah yang mereka lakukan itu membekas di wajah hingga wajah mereka bersinar. Karena batin mereka bersinar disebabkan shalat, maka lahir mereka juga bersinar. Lihat dalam Tafsîr Al-Qur’în, Penerjemah Muhammad Iqbal (Jakarta : Darul Haq, 2015), h. 633.
(22) 4. ِ َّ ِ َّ ُ ُُم َّم ٌد رس ين َم َعوُ أ َِشدَّاءُ َعلَى الْ ُكفَّا ِر ُر ََحَاءُ بَْي نَ ُه ْم تَ َر ُاى ْم ُرَّك ًعا ُس َّج ًدا َُ َ َ ول اللو َوالذ ِ ِ ُّ وى ِهم ِمن أَثَِر ِ ِ ْ ضال ِمن اللَّ ِو وِر ك َ الس ُجود ذَل ُ يم ْ ْ اى ْم ِِف ُو ُج َ ض َوانًا س َ َ ْ َيَْبتَ غُو َن ف ِْ مثَلُهم ِِف التَّوراةِ ومثَلُهم ِِف استَ َوى َ َاستَ ْغل َ ََخَر َج َشطْأَهُ ف ْ اإلْن ِيل َكَزْرٍع أ ْ َظ ف ْ َآزَرهُ ف ْ ُ َ َ َْ ُْ َ ِ َّ َّ ِ ِِ ِِ َ الزَّراع لِيغِي ين َآمنُوا َو َع ِملُوا َ َ ُّ ب َ ظ ِب ُم الْ ُكف َ َّار َو َع َد اللوُ الذ ُ َعلَى ُسوقو يُ ْعج ِ ِ ِ ِ ِ َّ ) ۹۴ :يما (الفتح ْ الصاِلَات مْن ُه ْم َم ْغفَرًة َوأ ً َجًرا َعظ. “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tandatanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. al-Fath [48]: 29). Ayat di atas selain dapat dipahami secara sosiologis juga dapat dipahami secara hakikat dan spiritual. Secara sosiologis bekas sujud (atsar al-sujûd) harus dapat melahirkan kesalehan paralel antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Kesalehan individu dapat diukur seberapa besar kemampuan seseorang untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar: sebagaimana ditegaskan dalam ayat: “ dan dirikanlah shalat sesungguhnya shalat itu mencegah. perbuatan keji dan munkar”. (QS. al-. Ankabut [29]: 45. Nasaruddin Umar mengatakan bahwa Kalangan mufassir, apalagi para sufi tidak seorang pun mengatakan bekas sujud.
(23) 5. (atsar al-sujûd) itu harus dalam bentuk fisik di wajah akan tetapi umumnya mereka berpendapat bekas sujud dalam ayat di atas ialah pengaruh ahli sujud di dalam komunitas masyarakatnya. Seberapa banyak ia memberi manfaat di dalam masyarakat sekitarnya.9 Mungkin tadinya ada orang berprilaku angkuh dan sombong tetapi begitu ia mengerjakan shalat maka berubah menjadi orang yang tawadduh, santun dan rendah diri, serta menghormati dan menghargai orang lain. Jadi tidak perlu berupaya menghitamkan dahi dengan berbagai cara karena bukan itu yang menjadi hakekat makna bekas sujud yang dimaksud dalam ayat tersebut. Semantara itu berbanding terbalik dengan para mufassir, guru di pesantren Sunanul Husna memahami atsar al-sujûd sebagai tanda yang melekat secara ẕahir di jidat sesorang ketika sujud. Di samping itu mereka pun memahami Atsar al-sujûd lebih cenderung kepada akhlak dalam hal ini bagaimana atsar al-sujûd membentuk kesalehan pribadi seseorang. Namun demikian atsar al-sujûd yang dimaksud di sini hanya terjadi pada orang-orang yang istiqamah dan benar-benar ikhlas dalam beribadah. Shalat yang dikerjakan pun tidak hanya shalat wajib, tetapi juga meliputi shalat-shalat sunnah sehingga dengan mudah melahirkan atsar alsujûd.. 9. Nasaruddin Umar, Makna Spritual Shalat, (29): Hakikat Atsar alsujûd”diakses pada 4 april 2017 dari http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat //16/04/01/o4y94614makna spiritual-sholat-29-hakikat-atsar-sujud.
(24) 6. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk meneliti pemahaman dan pengamalan atsar al-sujûd dalam kehidupan guru-guru di pesantren Sunanul Husna. Hal ini mengantarkan penulis untuk meneliti lebih lanjut masalah ini dengan mengangkat judul: “TAFSIR ATSAR AL-SUJÛD (STUDI PEMAHAMAN SURAT AL-FATH [48]: 29 DALAM KEHIDUPAN GURU-GURU DI PESANTREN SUNANUL HUSNA KELURAHAN PONDOK RANJI TANGERANG SELATAN)”. B. Identifikasi Masalah Fenomena yang merebak di tengah sebagian masyarakat yang konon katanya ahli ibadah karena memiliki atsar al-sujûd. Hal demikian berangkat dari pemahaman yang berbeda dalam memahami atsar al-sujûd, sehingga yang terjadi ialah saling berlomba-lomba untuk menghitamkan jidat karena dinilai sebagai salah satu kriteria ahli ibadah. Kendatipun pemahaman demikian hanya didasarkan pada taklid buta tanpa dibarengi dasar agama yang kuat, namun hal tersebut sudah mendaradaging bahkan sudah dijadikan sebagai simbol atau identitas yang membedakan seseorang dengan orang lain. Maka dari itu penulis merasa perlu untuk meneliti pemahaman dan pengamalan atsar al-sujûd di pesantren. Sunanul. Husna. dan. dikomparasikan. dengan. pemahaman para mufassir, baik klasik maupun kontemporer. Hal demikan guna mendapatkan solusi yang tepat dan sesuai dengan makna yang tertera dalam al-Qur’an. Karena setelah penelusuran awal yang penulis lakukan ternyata pemahaman yang terjadi di.
(25) 7. pesantern sunanul Husna berbanding terbalik dengan pemahaman para mufassir terhadap al-Qur’an. Sehingga hal ini mendorong penulis untuk menggali lebih jauh pemahaman mereka terhadap tafsir atsar al-sujûd.. C. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dan guna menjelaskan pokok permasalahan tersebut, maka penulis hanya fokus pada bagaimana guru Pesantren Sunanul Husna memahami term atsar al-sujûd di QS. al-Fath [48]: 29 dalam kehidupan sehari-hari?. D. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini secara formal untuk melengkapi salah satu persayaratan pada akhir program serjana jurusan ilmu Qur’an dan Tafsir. Di samping itu, sesuai dengan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah untuk menguak pemahaman guru Pesantren Sunanul Husna terhadap kehidupan. term atsar al-sujûd di QS. al-Fath [48]: 29 dalam sehari-hari?. dan diharapkan penelitian ini dapat. memberikan kontribusi dalam memperkaya studi living qur’an Adapun manfaat dari penelitian ini secara teoritis dapat memberikan informasi baru tentang pemahaman atsar al-sujûd dalam kehidupan guru-guru di Pesantren Sunanul Husna guna menambah wawasan di bidang ilmu keislaman khususnya kajian ilmu Qur’an dan Tafsir. Selain itu menambah khazanah studi alQur’an terutama dalam kajian living Qur’an. Penelitian ini juga dapat. memberikan. pengetahuan. baru. mengenai. tendensi.
(26) 8. pemahaman. masyarakat. yang. belum. diketahui. darimana. sumbernya. Serta memberikan motivasi kepada para akademisi untuk mengakaji lebih jauh pemahaman masyarakat khusunya dalam masalah peribadatan.. E. Metodologi Penelitian 1. Sebuah penelitian tentu menggunakan metode untuk memudahkan peneliti dalam mengerjakan penelitiannya. Salah satunya adalah penelitian lapangan (field research). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif, yaitu sebuah metode yang merupakan prosedur penelitian dengan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati.10 Penulis juga menggunakan pendekatan ontropologi11dalam menggali data yang ada di lapangan untuk mengamati suatu objek sehingga menghasilkan data yang lebih relevan dengan permasalahan.. 10. Lexi J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990), h.3 11 yaitu sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu yang menjadi perhatian atau masalah yang dikaji. Bersamaan dengan itu, makna metodologi juga mencakup berbagai teknik yang digunakan untuk melakukan penelitian atau pengumpulan data sesuai dengan cara melihat dan memperlakukan masalah yang dikaji. Dengan demikian, pengertian pendekatan atau metodologi bukan hanya diartikan sebagai sudut pandang atau cara melihat sesuatu permasalahan yang menjadi perhatian tetapi juga mencakup pengertian metode-metode atau teknik-teknik penelitian yang sesuai dengan pendekatan tersebut lihat Parsudi Suparlan,“Agama Islam: Tinjauan Disiplin Antropologi”, Tradisi Baru Penelitian Agama Islam; Tinjauan antar Disiplin Ilmu, (Bandung: Nuansa bekerja sama dengan Pusjarlit, Cet. I, 1998), h. 110..
(27) 9. 2. Lokasi dan waktu penelitian Lokasi penelitian dalam skripsi ini di pesantren Sunan alHusna Kelurahan Pondok Ranji Tangerang Selatan. Penulis memilih lokasi ini karena sesuai dengan permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini di mana mayoritas daripada guru-guru di Pesantren Sunanul Husna memiliki bekas hitam di jidat sehingga menarik perhatian penulis untuk mengkaji sejauh mana pemahaman mereka terhadap atsar al-sujûd. Penelitian dimulai pada tanggal 04 Desember 2018 sampai 18 Maret 2019. 3. Subjek dan objek penelitian Subjek penelitian merupakan orang yang dimintai keterangan. Dalam penelitian ini yang menjadi subjeknya adalah guru-guru pesantren Sunanul Husna. Mereka akan dimintai informasinya tentang objek yang diteliti. Adapun yang menjadi objek material dalam penelitian ini adalah pemahaman dan pengamalan guru-guru pesantren Sunanul Husna terhadap bekas sujud (atsar al-sujûd).. F. Metode Pengumpulan Data Penelitian lapangan (Field Reasearch) yaitu penelitian dengan cara mengamati. langsung dengan objek yang diteliti. guna memperoleh data yang relevan. Penelitian lapangan pada hakekatnya merupakan metode untuk menemukan secara spesifik dan realitas tentang apa yang sedang terjadi di suatu saat di tengah-tengah kehidupan masyarakat..
(28) 10. Dalam penelitian lapangan, penulis mengambil. teknik-teknik. pengumpulan data sebagai berikut: 1. Observasi (pengamatan) Observasi sebagai sebuah metode pengumpulan data secara umum dapat dibagi ke dalam dua jenis pengamatan: pengamatan murni merupakan pengamatan yang dilakukan dengan tidak melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan sosial, artinya murni sebuah pengamatan. Sedangkan yang kedua pengamatan terlibat, yakni sebuah pengamatan sekaligus melibatkan dua hal yaitu pengamatan dan wawancara. Pengamatan terlibat dilakukan untuk melihat bagaimana informan atau subjek penelitian memahami dan mempraktekan apa yang menjadi pemahamannya dalam kehidupan sehari-hari.12 2. Interview (wawancara) Interview (wawancara) dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi (data) dari informan dengan cara bertanya langsung secara bertatap muka (face to face) .13 Wawancara. dalam. penelitian ini menggunakan metode perekaman, baik lewat alat recorder, handphone,maupun perekam melalui tulisan.. 12. Muhammad, Soehada’, Buku Daras; Pengenqtar Metode Penelitian Sosial Kualitatif (Yogyakarta: Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Suka, 2004), h. 26-32 13 Bagong Suyanti (ed.), Metodologi Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, cet III 2007), h.69.
(29) 11. G. Teknik Pengolahan Data Setelah semua informasi atau data diperoleh dari data hasil observasi dan wawancara. Informasi tersebut bisa dikatakan sebagai hasil penelitian. Untuk mendapatkan hasil informasi secara komprehensif. Maka data tersebut melalui proses analisis, adapun untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari data hasil penelitian ini maka penulis melakukan tahap-tahap pengolahan data antara lain: Tahap pertama, reduksi data,14 tahap reduksi data, pada tahap. ini. peneliti. melakukan. proses. penyelesaian,. penyederhanaan, pemfokusan dan abstraksi data yang terbangun dengan pemahaman masyarakat dari hasil catatan lapangan. Semua data yang penulis peroleh selama dalam proses pengumpulan data secara keseluruhan dikumpulkan, kemudian diklasifikasikan sesuai dengan konsep penelitian yang telah dirancang sebelumnya supaya data yang diperoleh menjadi data yang sudah terbagi pada kelompok-kelompok tertentu sesuai dengan konsep yang telah dibentuk oleh peneliti. Proses reduksi data ini dimaksudkan untuk lebih menajamkan,mengarahkan, membuang. bagian. data. yang. tidak. mengorganisasi data sehingga memudahkan. diperlukan,. serta. untuk dilakukan. penarikan kesimpulan.15. 14. Andi Firman, Pemahaman Umat Islam Terhadap Surat Yasin Di Desa Nyiur Permai. Kab. Tembelihan Riau,Jakarta: studi Living Qur’ān, (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin Ilmu Qur’an Jakarta 2016). h.20 15 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, (Jakarta: Erlangga, 2009), h.151.
(30) 12. Tahap kedua, penyajian data, langkah setelah proses reduksi data berlangsung adalah penyajian data atas sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.16 Pada tahap ini peneliti melakukan organisasi data, mengaitkan hubungan-hubungan tertentu antara data yang satu dengan data lainnya. Sehingga pada proses. ini. akan. menghasilan. data. yang. lebih. konkrit,. tervisiualisasi, memperjelas informasi agar nantinya dapat lebih dipahami oleh pembaca.17 Tahap ketiga, tahap verifikasi data, tahap akhir, yaitu proses verifikasi yang dimaknai sebagai penarikan arti data yang ditampilkan. Proses verifikasi ini dilakukan dengan mengingat hasil-hasil temuan terdahulu dan melakukan cek silang (cross chek) dengan temuan lainnya, proses ini juga menghasilkan penafsiran (interpretasi) terhadap data. Sehingga data tersebut memiliki makna. dalam tahap ini pula kesimpulan yang diperoleh telah sesuai dan sama ketika penulis kembali untuk mengecek ulang terhadap hasil observasi dan wawancara dengan informan, selain itu juga, dalam proses ini menghasilkan jawaban dan rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian.18 Dengan melakukan verifikasi ini dapat mempertahankan dan menjamin validitas dan reabilitas hasil temuan. 16. Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, h. 151 17 Moh. Soehadha, Metode Penelitian Sosial Kualitatif untuk Studi Agama, (Yogyakarta: SUKA Press, 2012) h. 131 18 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, h. 151 l lihat juga buku yang ditulis : Moh. Soehadha, Metode Penelitian Sosial Kualitatif untuk Studi Agama, h.115.
(31) 13. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penafsiran analisis (interpretatif analityc). Metode ini merupakan sebuah metode analisis data sebagai upaya untuk menjelaskan tentang apa yang dikatakan oleh informan dan menafsirkan kembali penjelasan. dan tingka laku tersebut. berdasarkan penafsiran peneliti.19. H. Kajan Pustaka Supaya tidak terjadi kesamaan pembahasan dengan skripsi lain maka penulis menelusuri kajian-kajian yang pernah dilakukan yang memiliki unsur kesamaan, selanjutnya hasil penelitian ini dilakukan untuk tidak mengambil metode yang sama, sehingga diharapkan kajian ini tidak berpesan plagiat dari kajian yang telah ada. Dari beberapa karya yang penulis telusuri tentang pemahaman guru agama tentang atsar al-sujûd secara khusus penulis belum menemukan. Akan tetapi penulis menemukan beberapa karya yang membahas tentang pemahaman Terhadap ayat dan ada salah satu skripsi yang membahas tentang pemaknaan atsar al-sujud namun menggunakan kajian pustaka, diantaranya: Ahmad Riadi,. “Pemaknaan Atsar al-Sujûd dalam Al-. Qur’an” membahas tentang pemaknaan “atsar al-sujûd”. Namun fokus permasalahan pada skripsi ini hanya sebatas pemaknaan dari para Mufassir tentang atsar al-sujûd.20 Selanjutnya skripsi 19. Moh. Soehadha, Metode Penelitian Sosial Kualitatif untuk Studi Agama, h. 138 20 Ahmad Riadi, “Pemaknaan atsar al-sujûd dalam Al-Qur’an”, (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin Ilmu Qur’an Jakarta 2017)..
(32) 14. dengan judul “Pemahaman Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsîr atas Ayat-Ayat Musibah”, di tulis oleh Ridwan Kusuma, di UIN Jakarta pada tahun 2007. Skripsi ini membahas tentang studi kasus pemahaman mahasiswa ilmu al-Qur’an dan Tafsir dalam memahami ayat-musibah dan cara menyikapinya. Pemahaman tersebut dikomparasikan dengan ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai musibah apakah terjadi kesesuaian antara pemahaman mahasiswa ilmu al-Qur’an dengan ayat yang dimaksud.21 Skripsi dengan judul “Pemahaman Umat Islam terhadap Surat Yasin di Desa Nyiur Permai. Kab. Tembelihan Riau”, yang ditulis oleh Andi Firman, pada tahun 2016 di UIN Jakarta. Skripsi ini mengkaji tentang praktek pembacaan surat Yasin di Desa Nyiur Permai. Kab. Tembelihan Riau. Dalam penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa pembacaan surat Yasin baik secara penuh maupun dalam berbagai bentuk potongan-potongan tertentu sehingga ayat-ayatnya sudah menjadi bagin dari living Qur’an dalam kehidupan masyarakat dengan beragam yang hendak dicapai .22 Skripsi dengan judul “Jilbab antara Pemahaman Ayat dan Aplikasinya (Studi Kasus Mahasiswa Anggota HIQMA dan LDK di UIN Jakarta)”, yang ditulis oleh Adam Haekal Radintya Hutabarat pada tahun 2017 di UIN Jakarta. Dalam skripsi ini penulis mengkaji tentang pemahaman mahasiswa HIQMA dan 21. Ridwan Kusuma, “Pemahaman Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir atas Ayat-Ayat Musibah”, (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin Ilmu Qur’an Jakarta 2017). 22 Andi Firman, “Pemahaman Umat Islam Terhadap Surat Yasin Di Desa Nyiur Permai. Kab. Tembelihan Riau”, (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin Ilmu Qur’an Jakarta 2016)..
(33) 15. LDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. terhadap jilbab dan. aplikasinya yang merupakan hasil dari pemahaman mereka terhadap jilbab 23 “Makna Spiritual Sholat (29): Hakikat Atsar Al-Sujûd” karya Nasaruddin Umar. Jakarta, 2017. Adapun. isinya. menjelaskan tentang makna hakekat dan spritual sujud yang mencapai puncak kedekatan diri dengan Tuhan melalui penyerahan diri secara totalitas kepada-Nya.24 Bekas sujud tak sekedar tanda kehitaman di dahi, karya Achmad Satori Ismail, menjelakan bahwa bekas hitam yang ada di dahi adalah salah satu ciri bahwa dia sering melakukan shalat. Namun, bekas sujud yang dikehendaki. Allah. adalah. sikap. tawaddu,. kelembutan,. kepedulian, dan kasih sayang yang dipancarkan wajah setiap Muslim.25 Skripsi dengan judul “KAROMAHAN (Studi tentang Pengamalan Ayat-Ayat al-Qur’an dalam Praktek Karomahan di Padepokan Macan Putih kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk)” yang ditulis oleh M. Assyafi’ Syaikhu Z pada tahun 2017 di Insititut Agama Islam Negeri Surakarta. Skripsi dengan kajian living Qur’an di Desa Baron Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk terhadap prekatek karomahan, di mana 23. secara garis. Adam Haekal Radintya Hutabarat, “Jilbab antara Pemahaman Ayat dan Aplikasinya (Studi Kasus Mahasiswa Anggota HIQMA dan LDK” di UIN Jakarta 2017. 24 Nasaruddin Umar, “Makna Spritual Shalat, (29): Hakikat Atsar alSujûd” diakses pada 4 april 2017 dari http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat /16/04/01/o4y94614makna spiritual-sholat-29-hakikat-atsar-sujud 25 http://.www.repiblika.ac.id/berita/duniaIslam/hikmah/11/07/18/Ioinf 6-bekas-sujud-tak-sekedar-tanda-kehitaman-di-dahi..
(34) 16. besar penggunaan ayat al-Qur’an dalam padepkan Macan Putih adalah praktek pembacaan dan pengamalan ayat yang dapat direspon oleh santri-santri untuk dijadikan karomahan. Media dalam karomahan menggunakan media lantunan bacaan ayat alQur’an dan menggunakan bahan-bahan alami seperti suara, air, garam, pasir, gelang, dan kayu menjalin, yang semua itu dibumbui dengan ayat al-Qur’an.26. I. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan penulis dalam penyusunan skripsi, penulis membagi penjelasannya menjadi beberapa bab dengan sistematika sebagai berikut: BAB pertama: merupakan serangkaian pembahasan yang menjelaskan gambaran umum mengenai permasalahan. yang. dikaji. Pembahasan dalam BAB ini biasanya lebih dikerucutkan sehingga titik permasalahan dapat terlihat dengan jelas. Dalam BAB ini terdiri dari pendahuluan, di mana dalam pendahuluan ini diuraikan. latar. belakang. masalah,. identifikasi. masalah,. perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, metode pengumpulan data, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan. BAB kedua: memuat landasan teori yang tujuannya untuk menjelaskan secara eksplisit tentang permasalahan yang dikaji dengan tinjauan beberapa literatur terkait. Dalam BAB ini terdiri 26. M. Assyafi’ Syaikhu Z, “Karomahan: (Studi tentang Pengamalan Ayat-Ayat al-Qur’an dalam Praktek Karomahan di Padepokan Macan Putih kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk” (Skripsi S1 Institut Agama Islam Negeri Surakarta, 2017)..
(35) 17. dari definisi atsar dan sujud, ayat yang berbicara tentang atsar al-sujûd, penafsiran ulama tentang atsar al-sujûd. BAB ketiga: khusus memuat profile informan dan lokasi penelitian sebagai bukti bahwa telah melakukan penelitian di tempat tersebut. Sementara itu BAB ini juga dijadikan sebagai rujukan untuk mengkaji pemahaman informan dengan melihat latarbelakang yang bersangkutan. Dalam BAB ini terdiri dari profil guru agama di Kelurahan Pondok Ranji, akulturasi jamâ’ah tablȋgh dalam tradisi kehidupan Pesantren, sosial kemasyarakatan Pesantren Sunanul Husna, visi dan misi Pesantren Sunanul Husna, dan deskripsi responden. BAB keempat: BAB ini Khusus memuat rangkaian hasil penelitian yang telah dianalisis kembali berdasarkan sudut pandang peneliti. Di samping itu sekaligus menjawab hipotesa penulis di BAB pertama. BAB ini terdiri dari pemahaman dan Tafsir atsar al-sujûd dalam kehidupan guru-guru di Pesantren Sunanul Husna, perbedaan pemahaman terhadap atsar al-sujûd, durasi, frekuensi, tempat dan cara sujud, landasan tentang atsar al-sujûd, atsar al-sujûd sebagai tanda ketaatan dan atsar al-suûjd dalam wacana kesalehan muslim. BAB kelima: merupakan BAB penutup yang meliputi kesimpulan guna menjawab rumusan masalah dan saran sebagai lanjutan penelitian yang masih terkait. BAB ini pula memuat daftar pustaka yang berisi literatur-literatur yang dimuat dalam skripsi dan lampiran-lampiran yang memuat hasil rangkaian penelitian..
(36) BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG TAFSIR ATSAR AL-SUJÛD. A. Makna Atsar 1. Pengertian Atsar Jika ditinjau dari segi etimologi atsar memiliki beberapa pengertian di antaranya dalam kitab Mu‟jam alTa‟rifat disebutkan tiga makna kata atsar. Pertama, kata atsar berarti al-natîjah yang berarti kesimpulan dari suatu rumusan. Kedua, kata atsar yang berararti al-alâmah yang artinya tanda atau alamat. Ketiga, atsar yang memiliki arti sebagai al-juz‟u atau bagian.1Adapun dalam buku-buku hadis atsar ialah bekas sesuatu atau sisa dari sesuatu. Dan nukilan (yang dinukilkan), sesutu doa umpamanya yang dinukilkan dari Nabi dinamai doa ma‟tsur.2 Secara terminologi atsar didefinisikan oleh M. Quraish Shihab3 dalam beberapa pengertian antara lain. Pertama, „taqdimusy-syai‟ (mengutamakan atau memilih sesuatu), dengan arti memutuskan mengambil sesuatu dari beberapa pilihan yang ada. Mengambil salah satu dari sekian. banyak. pilihan. di. sini. harus. berdasarkan. pertimbangan yang matang terlebih dahulu, dan hasilnya. 1. Ali bin Muhammad Al-Sayyid al-Syarif al-Jurjani, Mu‟jam alTa‟rifat (Dar al Fdhillah,2012), Cet.II,h.11 2 Asep Herdi, Memahami Ilmu Hadis, (Bandung: Tafakur,2014), h.6 3 M. Quraish Shihab, Ensiklopedia al-Qur‟an: Kajian Kosakata (Jakarta: Lentera Hati,2007) h. 106. 18.
(37) 19. disebut. pilihan.. Kedua,. atsar. berarti. bekas-bekas. peninggalan lama. Bekas-bekas yang dimaksud dapat membuktikan bahwa dahulu pernah ada pemiliknya. Misalnya dahulu ada bekas-bekas rumah disebut atsar albait karena ia pernah membuktikan bahwa dahulu pernah ada rumah tersebut. Demikian juga atsar al-ṯâriq diartikan sebagai bekas-bekas jalan karena bekas itu membuktikan bahwa dahulu pernah ada orang lewat. Ketiga, atsar berarti berita yang disampaikan. Hadits Nabi saw juga merupakan berita ya ng disampaikan kepada orang lain. Sedangkan atsar menurut Jumhur ulama sama arti dengan khabar atau hadits.4 Sedangkan penulis lebih condong pada arti kedua yaitu bekas atau jejak dari makna atsar, mengingat zaman dahulu mesjid atau tempat peribadatan jauh dari rumah warga sehingga seseorang rela menempuh perjalanan jauh untuk melakukan ibadah shalat. Maka atsar atau bekas kakinya akan dihitung sebagai balasan atas perjalanan yang telah dilakukan. Semakin jauh perjalanan seseorng semakin banyak pula atsar kakinya dan pahalanya pun akan lebih banyak dibandingkan dengan yang hanya beribadah di rumah.. 4. Asep Herdi, Memahami Ilmu Hadis, h.6.
(38) 20. 2. Kata Atsar dalam al-Qur’an Dalam al-Qur‟an banyak penggunaan kata atsar seperti dijelaskan oleh Fu‟ad „Abd al-Baqi dalam kitab alMu‟jam al-Mufahras li Alfâz al-Qur‟an al-Karim bahwa kata atsar dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 21 kali di antaranya 17 turun di Mekkah dan 4 turun di Madinah.5 Dalam al-Qur‟an kata atsar terdiri dari dua bentuk yaitu isim dan fi‟il. Dalam bentuk isim terulang sebanyak 15 kali begitu juga dalam bentuk fi‟il terulang sebanyak 6 kali. Seperti pada tabel berikut ini: Bentuk Isim. Bentuk Fi‟il. QS. Thaha [20]: 96, QS. Al-Fath:. dalam QS. Thaha [20]: 24,. 29, QS. Thaha [20]: 84, QS. Ar-. QS. An-Nazi‟at [79]: 38, QS.. Rum [30]: 50, QS. Ghafir [40]:. Yusuf [12]: 91, QS. Al-A‟la. 21 dan 28, QS Al-Maidah [5]: 46, [87]: 16, QS. Thaha[20]: 72 QS. Al-Kahfi:[18] 6, QS.. dan QS. Al-Hasyir [59]: 9.. Yasin[36]: 12, QS. Al-Shaffat [37]: 22, QS. Az-Zukhruf [43]: 22 dan 23, QS. Al-Hadid[57]:27, QS. Al-Kahfi:[18] 64, QS. AlAhqaf [46]:. Kalimat isim dari kata atsar terdiri dari dua bentuk yaitu tunggal dan jamak. Dalam bentuk tunggal kata atsar disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur‟an, di 5. Muhammad Fu‟ad Abd al-Baqi, al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfaz alQur‟an al-Karim, (Qohiroh: Dar al-Qutub Misriah, 1364 H), h.15-16.
(39) 21. antaranya pada QS. Ahqaf [46]: 4 dan QS. Thaha [20]: 74 dan 96. Adapun kata atsar dalam bentuk jama‟ disebutkan 11 kali dalam al-Qur‟an yaitu pada QS. Al-Maidah [5]: 46, QS. Al-Kahfi [18]: 6 dan 46, QS. Yasin [36]:12, QS. Ash-Shaffat [37]: 38, QS. [40]: 21 dan. 82, QS. Az-. Zukhruf [43]: 22 dan 23, QS. Al-Hadid [57]: 27 dan QS. Ar-Rum [30]: 50.. 3. Ragam Makna Kata Atsar Di dalam Ensiklopedi Al-Qur‟an Quraish Shihab menjelaskan beberapa ragam makna dari kata Atsar ke dalam tiga bagian Pertama, atsar dalam arti „pilihan‟ dapat dilihat Dalam QS. Surat Yusuf [12]: 91 yang menggunakan kata atsar untuk menggambarkan kelebihan dan keutamaan yang diberikan Allah kepada Yusuf berupa ketampanan, keimanan, kejujuran, dan sebagainya. Begitu pula dalam QS. Al-A‟la [87]: 16 kata atsar digunakan untuk menjelaskan dan menggambarkan sikap orang musyrik yang mengutamakan kehidupan dunia. Kedua, untuk arti “bekas” atau “jejak” yang membuktikaan bahwa sesuatu yang meninggalkan bekas itu pernah ada, misalnya QS. Ghafir [40]: 21, yang menggambarkan bekas-bekas orang terdahulu, berupa bangunan, bentengbenteng pertahanan , istana dan sebagainya. Ketiga, untuk arti menyampaikan sesuatu, ditemukan misalnya dalam QS.. Al-Mudatsir. [74]:. 24,. yang. menggambarkan.
(40) 22. penyampaian sihir, orang-orang dahulu kepada Nabi Muhammad.6. B. Makna Sujud 1. Pengertian Sujud Secara. bahasa. kata. )سجودا-(سجد. berarti. membungkuk dengan khidmat, meletakan kening di atas permukaan bumi, merendahkan diri dengan maksud menghormat. Arti lain dari kata ini ialah merendehkan diri atau menghinakan diri.7 Sedangkan. secara. terminologi. sujud. berarti. pernyataan ketaatan seseorang hamba kepada Allah swt dengan cara meletakan kaki, kedua lutut, kedua tangan, dan muka di atas lantai (tanah) sambil menghadap ke arah kiblat.8 Sujud juga berarti meletakan dahi ke tanah atau di bumi yang telah ditentukan keadaanya di dalam sholat.9 Sujud merupakan penanda rasa rendah hati, penuh harap dan rasa cinta yang mendalam dari seorang hamba kepada Allah Swt.10 ibaratnya, kita sedang menunggu jawaban dari ungkapan cita yang sedang kita nyatakan kepada. 6. Quraish Shihab, Ensiklopedi Al-Qur‟an: Kajian Kosakata (Jakarta:Lentera Hati, 2007), Cet. 1 h. 106-107 7 Gus Arifin, Penuntun Praktis Salat : Sudah Benar Salat Kita, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2017) , cet ke-3 h. 232 8 Quraish Shihab, Ensiklopedi Al-Qur‟an: Kajian Kosakata, h. 362 9 Mentri Wakaf Kepengurusan Agama Kuwait, Mausuah al Fikhiyyah al-Quwait, (Kuwait: Maktab Quwait, 2004), Cet 3, Jilid 6h. 322. 10 Muhammad Thobbroni, Tahajud: Sejuta Mukjizat, (Jakarta: Pustaka Marwa, 2008) Cet. 1 h. 61.
(41) 23. kekasih kita; kita merunduk-runduk sembari berharap banyak agar pernyataan cinta kita dikabulkan kekasih kita. Menurut penulis sujud adalah suatu bentuk perbuatan tertinggi yang dilakukan oleh seseorang atau sesuatu dengan cara merendahkan dihadapan yang dihormatinya, baik bagi makhluk yang berakal maupun yang tidak berakal. Meletakan kening di atas permukaan bumi hanya salah satu bentuk amal, tapi intinya merendahkan diri untuk menghormati, meskipun tidak dalam bentuk itu. Oleh karena itu, kata sujud dalam alQur‟an dipakai untuk menunjukan perbuatan sujud, baik dilakukan oleh manusia, malaikat, maupun oleh makhluk lainnya seperti bintang dan pepohonan.. 2. Ragam Kata dan Makna Sujud dalam Al-Qur’an Kata sujud dan bentuknya dalam al-Qur‟an ditemukan sebanyaak 92 kali. Dalam bentuk kata sajada. ) )سجدsendiri dijumpai dua kali dalam kaitan mengenai sujud para malaikat dan pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah yaitu QS. al-Hijr ayat [15]: 30 dan QS. Shad: 73. Kata. ))سجد. derivasi lainnya kata مسجدmasjid. dan kata ساجدsâjid.11. 11. 232. Gus Arifin, Penuntun Praktis Salat : Sudah Benar Salat Kita, h..
(42) 24. Menurut Fu‟ad „Abd al-Baqi dalam kitab al-Mu‟jam alMufahras li Alfâz al-Qur‟an al-Karim, kata sujud dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 92 kali dalam alQur‟an, 54 di antaranya turun di Mekkah dan 38 yang turun di Madinah.12 Dari 92 ayat yang mengandung kata sujud di dalam al-Qur‟an, terbagi dalam dua kategori isim (tunggal dan jama‟) dan kategori fi‟il (madi‟ mudhorik, dan amar) yakni bentuk isim dari kata sujud yang berbentuk tunggal terdiri dari 36 kata Sedangkan isim dalam bentuk jama‟ terdiri dari 21 kata. Kemudian bentuk fi‟il madi‟ dari kata sajada terdapat 8 kata, sedangkan dalam bentuk mudarik terdiri dari 15 kata, dan dalam bentuk amar 12 kata. Di antara 92 ayat yang mengandung kata sujud, berikut akan dijelaskan beberapa ayat yang relevan dengan penelitian ini seberapa. Sujud dalam ayat yang pertama menggambarkan. Iblis. yang membangkang. terhadap perintah Tuhan-Nya dalam menyembah kepada Adam sebagai berikut: “maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersamasama, kecuali Iblis. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: “Hai Iblis apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu? Berkata iblis: “aku sekali-kali tidak sujud kepada manusia yang engkau telah menciptakannya dari 12. Muhammad Fu‟ad Abd al-Baqi, al-Mu‟jam al-Mufahras li Alfaz alQur‟an al-Karim, h. 18.
(43) 25. tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”13 Allah menceritakan pujian-Nya terhadap. Nabi. Adam AS di hadapan para Malaikat-Nya sebelum Dia menciptakan Adam, dan juga pemulian-Nya kepada Adam AS dengan memerintahkan para Malaikat untuk bersujud untuknya. Allah juga menceritakan terhadap penolakan Iblis musuh Adam AS untuk bersujud kepadanya. Di hadapan para Malaikat karena kedengkian, kekafiran penetangan,. kesombongan,. dan. kebanggan. dirinya. terhadap sesuatu yang batil. Sehingga dengan demikian keluarlah ucapan Iblis seperti di atas.14 Begitu juga penjelasan di dalam surat yang lain sujud dijelaskan dengan makna yang berbeda sebagai berikut: “Hanya kepada Allah-lah kamu sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayangan-bayangannya di waktu pagi dan petang hari”.15 Secara. umum. kata. sujud. dalam. al-Qur‟an. dipergunakan dalam konteks pertama, pembicaraan tentang ketaatan para malaikat kepada Allah Swt. dan pembangkangan Iblis, misalnya pada QS. Al-Hijr [15]: 30-32. Kedua, uraian tentang ketaatan dan kepatuhan 13. Depertemen Agama Republik Indonesia, Mushaf al-Qur‟an dan Terjamahan, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2009), h.263-264 14 Ahmad Syakir, Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Darus Sunnah, 2014), Cet. 2 Jilid 4 h.18. 15 Depertemen Agama Republik Indonesia, Mushaf al-Qur‟an dan Terjamahan,h.251.
(44) 26. langit dan bumi, serta benda-henda alam lainnya, yang diciptakan Tuhan umpamanya pada QS. Ar- Ra‟du [13]: 15. Ketiga,, larangan sujud kepada matahari, bulan, dan benda-benda alam lainnya, misalnya pada QS. Fushilat [41]: 37 janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakanya jika kepadanya saja kamu menyembah. Keempat, pembicaraan tentang orang-orang yang taat kepada Allah swt. misalnya pada QS. Ali Imran [3]: 113.16. C. Pemaknaan Atsar al-Sujûd 1. Pengertian Atsar al-Sujûd Atsar secara bahasa berasal dari kata. اثر. yang. berarti peninggalan bekas atau jejak.17 Sujud berasal dari kata. سجدyang berarti. bersujud18 membungkuk dengan. khidmat.19 Jadi Atsar al-Sujûd. اثرالسجود. secara bahasa. berarti bekas sujud, muka mereka tampak bersinar dan. 16. Quraish Shihab, Ensiklopedi Al-Qur‟an: Kajian Kosakata h. 363 A(tabik Ali dan Ahmad ZuhdiMuhdlor, Kamus Kontemporer ArabIndonesia, (Jakarta: Multi Karya Grafika,2003), h.20 18 Achmad Sunarto, Kamus al-fikr Indonesia-Arab-Inggris, (Rembang: Team Halim Jaya, 2007, cet ke-3), h.294 19 A. Warson Munawwir, al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, h. 650 17.
(45) 27. bercahaya karena kecintaan. mereka kepada Allah. menimbulkan kedamaian pada hati mereka.20 Bekas sujud diartikan sebagai sebagai tanda-tanda yang tampak pada kening karena sering sujud dalam shalat. Menurut al-Qadhi Iyadh bekas yang dimaksud ada pada dahi.21 Berbanding lurus dengan pemahaman orangorang Khawarij bahwa tanda yang terdapat pada dahi lebih spesifik adalah tanda berupa jidat yang hitam.22 Berbeda dengan pemahaman Khawarij menurut Ibnu Katsir. atsar. al-sujûd. merupakan. tanda. berupa. ketampanan. Pemahaman ini didasarkan pada pendapat salaf yang mengatakan bahwa kebaikan itu menurut cahaya dalam hati, sinar pada wajah, keluasan rizki, dan kecintaan. dalam. hati. manusia,. seseorang. yang. menyembunyikan rahasia Allah akan menampakan pada wajah dan lisannya.23 Usman Abdullah Al-Mirgani menjelaskan bahwa atsar al-sujûd adalah pada kening mereka terdapat bekas karena banyak melakukan sujud berupa wajah yang bercahaya. Menurutnya hal ini dapat dikenali pada hari. 20. Al-Imam Abdul Fida Isma‟ilIbnu Katsir ad-Dimsyqi, Tafsir Ibnu Katsir, Judul Asli Tfsir al-Qur‟an Al-„Azim, Penerjemah Bahrun Abu Bakar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2008) cet ke-2 juz 2 h.277. 21 Al-Imam al-Hafids, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarah Hadis Al-Bukhari, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), h. 623 22 Ahmad Shawi al-Maliky, Hasyiyatul al-Shawy ala Tafsiri alJalalain, (Dar al-Fikr) h. 106 23 Al-Imam Abdul Fida Isma‟ilIbnu Katsir ad-Dimsyqi, Tafsir Ibnu Katsir, Judul Asli Tfsir al-Qur‟an Al-„Azim, 29.
(46) 28. akhir nanti karena banyak bersujud di dunia.24 Dengan kata lain tanda keimanan mereka akan terpancar dari wajah-wajah, karena mereka kelak akan dibangkitkan dengan wajah yang putih bersinar yang disebabkan karena terkena air wudhu. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi “ cahaya mereka memancar dari hadapan dan dari samping kanan mereka.25 Begitu pula dengan Abdullah Yusuf Ali, ia mengatakan bahwa atsar al-sujûd. yang terdapat dalam ayat ini merupakan tanda kekhyukan dan sikap rendah hati yang terukir di wajah dan menembus hati nurani. Jika wajah adalah tanda keadaan lahir dan batin manusia, maka wajah orang baik itu sendiri akan memperlihatkan rahmat, dan cahaya Allah. hatinya damai dan tenang.. dan. 26. Bekas sujud mempunyai arti yang bervariasi di sebagaian masyarakat atsar al-sujûd dipahami sebagai tanda kehitaman yang terdapat di jidat yang mengara kepada sesuatu yang lahiriyah. Sedangkan menurut sebagian yang lain yang dimaksud dalam surat al-Fath ayat 29 ini adalah mempunyai arti kiasan. Bahwa yang sebenarnya dimaksud dengan atsar al-sujûd adalah yang tercermin dalam prilakunya yang sesuai dengan tuntunan al-Qur‟an dan Hadis. Namun ada juga yang mengatakan 24. Al-Iman Muhammad „Usman Abdullah Al-Mirgani, Mahkota Tafsir, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), h.2997-2998 25 Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Qur‟an Al-Aisar, (Jakarta Timur: Darus Sunnah, 2013), jilid 6, h.892-893. 26 Abdullah Yusuf Ali, Qur‟an Terjamahan dan Tafsirnya, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), h. 1327.
(47) 29. bahwa Atsar al-Sujûd adalah tanda yang akan terlihat di akhirat kelak.. 2. Ayat dan Penafsiran Para Mufassir Mengenai Atsar al-Sujûd. dijelaskan dalam QS.. Al-Fath [48]: 29 sebagai berikut:. ِ َّ ِ َّ ُ ُُم َّم ٌد رس ين َم َعوُ أ َِشدَّاءُ َعلَى الْ ُكفَّا ِر ُر ََحَاءُ بَْي نَ ُه ْم تَ َر ُاى ْم ُرَّك ًعا ُس َّج ًدا َُ َ َ ول اللو َوالذ ِ ِ ُّ وى ِهم ِمن أَثَِر ِ ِ ْ ضال ِمن اللَّ ِو وِر ك َ الس ُجود ذَل ُ يم ْ ْ اى ْم ِِف ُو ُج َ ض َوانًا س َ َ ْ َيَْبتَ غُو َن ف ِْ مثَلُهم ِِف التَّوراةِ ومثَلُهم ِِف استَ َوى َ َاستَ ْغل َ ََخَر َج َشطْأَهُ ف ْ اإلْن ِيل َكَزْرٍع أ ْ َظ ف ْ َآزَرهُ ف ْ ُ َ َ َْ ُْ َ ِ َّ َّ ِ ِِ ِِ َ الزَّراع لِيغِي ين َآمنُوا َو َع ِملُوا َ َ ُّ ب َ ظ ِب ُم الْ ُكف َ َّار َو َع َد اللوُ الذ ُ َعلَى ُسوقو يُ ْعج ِ ِ ِ ِ ِ َّ ) ۹۴ :يما (الفتح ْ الصاِلَات مْن ُه ْم َم ْغفَرًة َوأ ً َجًرا َعظ “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orangorang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. A-Fath [48]:29). Untuk mengetahui pemahaman atsar al-sujûd dalam ayat ini penulis mengambil beberapa beberapa kitab tafsir yang dikarang oleh mufassir yang terkenal.
(48) 30. dalam bidang tafsir baik klasik maupun kontemporer di antaranya: Pertama, Jâmi‟ al-Bayan fî Tawîl al-Qur‟an karya Ibnu Jarir al-Thabari, dengan alasan seorang mufassir klasik yang banyak memuat riwayat-riwayat di dalam tafsirnya dan bercorak tafsîr bil ma‟tsûr, ia tidak hanya ulama tafsir tapi pakar hadis juga. Kedua, Tafsir Ibnu Katsir yang ditulis oleh Ibnu Katsir,. dalam tafsirnya memaparkan tentang aturan-. aturan linguistik, i‟rab nahwu dan aspek balaghah, tafsir ini menggunakan pendekatan bil ma‟tsur, menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan hadis maupun ayat dengan qaul sahabat. Ketiga, Tafsîr Jâmi‟ li Ahkâm al-Qur‟an karya alQurthubi, dengan alasan mengggunakan metode bil ma‟tsur. Tafsir-tafsir yang ia gunakan dengan cara memuat hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur‟an dengan pembahasan yang lebih luas yang menyatukan hadis dengan masalah-masalah ibadah, hukum dan linguistik. Hadis-hadis yang digunakan yang ada dalam tafsirnya itu sudah ditakhrij dan disandarkan langsung pada orang yang meriwayatkanannya. Keempat, Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab, dengan alasan ia adalah mufassir modern dan kebanyakan tafsirnya bercorak al-adab al-Ijtima‟iy sehingga mudah dipahami..
(49) 31. Kelima, Tafsir Jalalain dengan alasan tafsir ini jauh dari penjelasan yang bertele-tele dan tafsir ini menjelaskan makna dari setiap ayat hanya bersandar kepada riwayat yang kuat, selain itu memberikan catatan tentang. kedudukan. kalimat. yang. dibutuhkan. dan. memberikan penjelasan tentang perbedaan qirâ‟at. a. Tafsir al-Thabari Ibn Jarir al-Thabari dalam tafsirnya, Jâmi‟ alBayan fî Tawîl al-Qur‟an, mengutip perkataan Muqattil bin Hayyan dan Ali bin Mubarak dari al-Hasan bahwa yang dimaksud. “tanda-tanda mereka tampak pada. muka mereka” di sana adalah cahaya yang tampak pada wajah orang-orang yang beriman pada hari kiamat kelak sebagai bekas shalat dan wudhunya. Bahkan dalam tafsirnya tersebut, Ibn Jarir perkataan. sahabat. Ibnu. Abbas. juga mengutip yang. menolak. penafsiran ayat secara literal dengan kata-kata: “hal itu bukanlah seperti yang kalian kira, karena maksudnya (dari kalimat min atsar al-sujûd) adalah tanda-tanda keislaman. (ketundukan. dan. kepasrahan). serta. kehyuku‟an.27 Sebagaimana hadist berikut ini:. ٍِ َع ْن َس ال َ َ َجاءَ َر ُج ٌل إِ َل اِبْ ُن عُ َمَر فَ َسلَّ َم َعلَْي ِو ق: ال َ َض ِر ق ْ َّال أَِ ْب الن ي ِعْي نَ ْي ِو َس َج َد ًة َ َت؟ ق َ ُ اَنَا َحا ِضن:ال َ ْ َ َوَرأَى ب.ك فُالَ ٌن َ ْ َم ْن اَن: ِ ك؟ فَ َق ْد ِ ما ىا َذ الَثَر ب ْي َعي نَ ي:ال ت َر ُس ْو ُل اهلل ُ صحْب َ َ َ َس ْوَداءَ فَ َق ْْ ََُ َ 27. Abu Ja‟far Muhammmad bin Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, Penerjemah: Abdul Somad, Abdurrahman Supandi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), Juz 26 h.141.
(50) 32. صلى اهلل عليو وسلم َوأَبَا بَ ْك ٍر َوعُ َمَر َوعُثْ َما َن رضي اهلل عنهم فَ َه ْل تَ َرى َىا ُىنَا ِم ْن َش ْي ٍء؟. “Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam,Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. ”Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Ia berkata kepadanya, “bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (HR. Baihaqi dalam Sunan Qubro no 3698) Selain itu adapula hadits yang serupa sebagai berikut:. الر ُج ْل َ أَنَّوُ َرأَى أَثًَرا فَ َق: َع ْن اِبْ ُن ُع َمَر َّ ص ْوَرَة ُ يَا َعْب ُد اهلل إِ ْن:ال ِ ك َ َص ْوَرت ُ فَ َال تَش ْن،َُو ْج ُهو. “Dari Ibnu Umar ia melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata “wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (HR. Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699). b. Tafsir Ibnu Katsir Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan. bahwa. “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud “sîma” yang terdapat di dalam ayat ini adalah tanda yang baik dan bekas kekhuyukan terhadap Allah SWT. Berkata sebagian ulama salaf “barangsiapa yang. melakukan. sholat. pada. malamnya,. maka. wajahnya akan tampak cerah di siang hari” jadi bila aneka kerahasiaan seorang mukmin itu baik terhadap.
(51) 33. Allah, maka Allah akan memperbaiki lahiriyahnya di hadapan. orang. banyak.. Sebagaimana. telah. diriwayatkan dari umar bin Khathab r.a yang mengatakan. “barangsiapa. yang. memperbaiki. kerahasiaanya, maka Allah SWT. akan memperbaiki apa yang tampak dari dirinya. Kemudian, telah diriwayatkan oleh Imam Mahmud dari Ibnu Abbas r.a dari Rasulullah bahwasanya beliau bersabda :. ِِ ص َاد ُج ْزءٌِم ْن َخَْ َس ٍة َّ ت َّ اِ َّن ا ْْلَُدى َّ الصالِ ُح و َ الس ْم َ الصاحلُ و ْاْلقْت ِ )ج ْزءٌ ِم ْن النُبُ َّوةٍ (رواه اَحد ُ َوع ْش ِريْ َن. “petunjuk yang saleh, tanda yang saleh, dan kesederhanaan itu adalah satu bagian dari 25 bagain kenabian”.. Maka para sahabat Nabi adalah orang-orang yang telah memurnikan niat mereka, memperbaiki amalan. mereka,. dan. terang-benderanglah. wajah. mereka. Oleh karena itu, setiap orang yang melihat mereka pastilah akan terpesona oleh tanda dan petunjuk mereka. 28. c. Tafsir al-Qurthubi Dalam Tafsîr Jâmi‟ li Ahkâm al-Qur‟an, dijelaskan bahwa “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” Sîma adalah al-alâmah 28. Muhammad Nasib, ar-Rifai‟i, Kemudahan dari Allah:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir; Penerjemah Syihabuddin, (Jakarta: Gema Insani, vPress, 2000), 123.
(52) 34. (tanda). Untuk kata ini ada dua dialek: pertama, dibaca panjang, dan kedua, dibaca pendek. Maksud lafas ini adalah tanda-tanda tahajud pada malam hari dan ciriciri bangun malam muncul. Pada sunan Ibnu Majah dinyatakan. Ismail. bin. Muhammad. Ath-Thalhi. menceritakan kepada kami, Tsabit bin Musa Abu Yazid, menceritakan kepada kami dari Syarik, dari alA‟masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir, dia berkata Rasulullah Saw bersabda:. ِ ِ َّها ِر ْ َم ْن َكثَُر َ صالَتُوُ بالَّ ْلي ِل َح ُس َن َو ْج ُهوُ باالن َ ت. “Barangsiapa yang banyak shalatnya pada malam hari, niscaya wajahnya cerah pada siang hari”29 Disamping itu disebutkan juga bahwa Imam Malik menyatakan tanda mereka pada wajah mereka. berupa bekas sujud, bukan tanah yang bersangkut pada dahi mereka ketika sujud. Pendapat merupakan pendapat. ini juga. Sa‟id bi Jubair. Ibnu Juraij. mengatakan berwibawa dan bercahaya. Syamir bin Athiah pucat wajah karena mendirikan shalat malam. Hasan mengatakan apabila kamu melihat mereka, kamu sangka mereka sakit. Zhahak mengatakan tidak ada bekasa apapun pada wajah mereka, tetapi itu pucat.30 29. Ibnu Arabi berkata: ada kelompok yang menyelipkan hadis itu ke dalam hadis Nabi karena kesalahannya. Padahal ia tidak diriwayatkan oleh Nabi Saw satu huruf pun. 30 Al-Qurthubi, Al-Jami‟ li Ahkam Al-Qur‟an, Penerjemah: Akhmad Khatib, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), h. 758.
(53) 35. d. Tafsir al-Misbah Dalam Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa “bekas sujud” hendaknya tidak dipahami dalam arti bekas yang terlihat di dahi seseorang yang boleh jadi merupakan akibat seringnya dahi tersebut bersentuhan dengan benda keras. Diriwayatkan oleh Ibnu Atsîr bahwa sahabat Nabi SAW. Abu ad-Darda melihat seorang antar kedua matanya (dahinya) sesuatu yang bagaikan tsafnat alAnz. Ia berkomentar: “ seaindainya itu tidak ada maka jauh lebih baik” itu menjadi lebih baik karena yang bersangkutan. menghindarkan. diri. dari. riya.. Diriwayatkan juga dalam kitab al-Firdaus melalui sahabat. Nabi. Rasulullah. SAW., Anas. SAW.. Ibn Malik,. sesungguhnya. aku. bahwa. membenci. sesorang dan tidak menyenanginya kalau aku melihat di antara kedua matanya (dahinya) bekas sujud. demikian dikutip al-Biqai yang juga. menjelaskan. bahwa bekas sujud itu menjadikan penyandangnya memiliki wibawa, kharisma dan kekhuyukan, sehingga bila ia dilihat, maka yang melihatnya tergugah untuk berdzikir. Apabila ia membaca, maka bacaanya menimbulkan kekhusyukan dan keterharuan dan ketundukan kepada Allah. walau penampilan luarnya sangat sederhana.31: 31. M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h.217.
(54) 36. e. Tafsir Jalalain Dalam tafsir Jalalain disebutkan cahaya putih yang dapat dikenali mereka dengan sebabnya di hari akhirat. kelak.. Dalam. al-Shawi. „ala. al-Jalalain. dikatakan terjadi perbedaan pendapat mengenai makna tanda tersebut. Sebagian ulama mengatakan bagian wajah yang kena sujud itu dilihat pada hari kiamat laksana bulan purnama. Pendapat ini mengatakan pucat wajah karena berjaga malam. Sebagian yang lain mengatakan khusyu‟ yang muncul pada anggota tubuh sehingga seperti dilihat mereka dalam keadaan sakit. Selanjutnya al-Shawi menegaskan tidak termasuk dari dari bekas sujud itu apa yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh yang sengaja memperlihatkan tanda bekas sujud pada dahinya, maka itu adalah perbuatan kaum Khawarij. Kemudian al-Shawi mengutip hadis Nabi yang berbunyi:. ِ ِ الس ُج ْوِد َّ ض ُّ ي َعْي نَ ْي ِو اَثَِر َ ْ َت ب َ ْالر ُج ْل َو اَ ْكَرُىوُ اذَا َراَي َ َا ِّن َلَ بْغ. “ Sesungghunya aku sangat membenci seseorang apabila aku melihat di antara dua matanya bekas sujud”.32 Penafsiran yang telah dikemukakan oleh para mufasir. merupakan gambaran awal penulis terhadap makna atsar alsujûd. Dalam upaya. mengetahui pemahaman masyarakat. terhadap atsar al-sujûd maka kriteria orang yang mempunyai 32. Al-Shawi, Hasyiah al-Shawi‟ala Al-Jalalain, dar Ihya al-KUKUB AL-Arabiyah, Indonesia, Juz. VI, h.229..
(55) 37. atsar al-sujûd telah dijelaskan oleh para mufassir. Hal ini tentu menjadi tolok ukur untuk mengetahui sumber pemahaman masyarakat terhadap atsar al-sujûd dan sejauh mana masyarakat berinteraksi dengan Qur‟an..
(56) BAB III GAMBARAN UMUM PESANTREN SUNANUL HUSNA. A. Profil Pesantren Sunanul Husna 1. Sejarah dan Latar Belakang Berdirinya Pesantren Sejarah berdirinya pesantren Sunanul Husna dilatarbelakangi oleh keluarga besar H. Jaiy dan anakanaknya. Di antara anak-anaknya yaitu H. Sulaiman, H. Hasan, H. Sinen. Kedua anaknya H. Hasan dan H. telah berkompromi untuk membuka pondok pesantren. Setelah mereka sepakat dan ada lahan lalu mereka mencari seseorang yang bisa memimpin pondok pesantren dan sudah tentu mempunyai. kapasitas keilmuan di bidang. agama. Lalu ditemukan seorang ustad yang bernama ustad Abdul Najib dan kedua ustad Sholeh. Ustad Najib menikah dengan anak Bapak H. Sinen dan yang kedua ustad Sholeh menikah dengan anak bapak H. Hasan. Dari pernikahan di antara kedua pasangan inilah mereka menetap di sana lalu mengolah pondok pesantren Sunanul Husna. Setelah itu dikelolah dari tahun 80-an sampai sekarang. Awalnya masih berbentuk non formal yang mana diisi dengan kajian-kajian agama yang awalnya diikuti oleh mahasiswa-mahasiswi. Lalu lambat laun pola pikir mahasiswa berbeda dengan ajaran yang diterapkan di sana sehingga satu sama lain tidak menyatu. Maka pesantren ini dialihkan menjadi tempat tinggal anak-anak panti asuhan. Setelah panti asuhan berkembang. 38.
(57) 39. mereka kembali. mendirikan Tsanawiyah dan Aliyah. Sehingga Pesantren Sunanul Husna seperti sekarang. Santri putra dan putri dipisah masing-masing diberikan tempat tinggal yang putra 3000 meter dan di putri 3000 meter. Di mana lahan ini diwakafkan oleh H. Hasan 3000, dan di putri 3000 dari H. Sinen. Sehingga terjadilah Pesantren Sunanul Husna al-Jaiyah.1 Al-Jaiyah itu mengambil dari nama kakek, sedangkan Husna mengambil dari nama bapak H. Hasan dan Sunanul diambil dari nama bapak H. Sinen. Semuanya adalah anak-anak dari bapak H. Jaiyah. Di daerah Pondok Ranji pada waktu itu belum ada pesantren. Sehingga Pesantren ini ada pertama kali pada awal tahun 80-an. dan. sampai. sekarang. berkembang. dengan. terbentuknya kepala yayasan bapak Akib di bidang Jamâ’ah Tablîg. Di sana mayoritas anak-anak Jamâ’ah Tablîgh, yang pemahamannya cukup mendalam sehingga putri semuanya diwajibkan menggunakan cadar. Perlu diketahui bahwa pesantren Sunanul Husna sekarang ada pembelajaran yang formal dan ada juga yang non Formal. Ada TPA, Bait al-Qur’an, Tsanawiyah dan Aliyah. Pada awalnya, Pesantren Sunanul Husna adalah Yayasan Islam yang mana santrinya hanya belajar ngaji kitab saja (dîniyyah) seperti yang dijelaskan di atas,. 1. Wawancara singkat dengan Ust. Miftahuddin (Kepala Sekolah Tsanawiyah Sunanul Husna) Senin, 1 Desember 2018, pukul 10.39. di Pesantren Sunanul Husna Pondok Ranji.