• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 Metodologi Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 Metodologi Penelitian"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

43

3.1 Desain Penelitian

Menurut Istijanto (2005, p:29) jenis penelitian dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu penelitian eksplotari, penelitian deskriptif dan penelitian kausal. Penelitian eksploratori merupakan jenis penelitian yang memiliki tujuan utama untuk memperoleh pandangan yang mendalam dan menyeluruh mengenai masalah yang sebenarnya dihadapi manajemen. Penelitian desktiptif merupakan jenis penelitian yang tujuan utamanya adalah menggambarkan sesuatu.

Sedangkan penelitian kausal merupakan penelitian yang memiliki tujuan utama membuktikan hubungan sebab akibat atau antar variabel-variabel yang diteliti dapat terjadi hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi.

Selain jenis penelitian diatas, menurut Sugiyono, Jenis penelitian lain adalah jenis

penelitian asosiatif yaitu merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan atau

pengaruh antara dua variabel atau lebih. Dan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian

asosiatif karena tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi kualitas

terhadap brand image pada SMA Kristen Ketapang 1, untuk mengetahui pengaruh persepsi

kualitas terhadap sikap konsumen pada SMA Kristen Ketapang 1 dan untuk mengetahui pengaruh

brand image terhadap sikap konsumen pada SMA Kristen Ketapang 1. Dalam pelaksanaannya

metode penelitian yang dilakukan adalah survey, yaitu penelitian dilakukan pada suatu populasi

dengan menganalisis data yang diperoleh dari populasi itu sendiri. Unit analisis yang dituju

adalah individu, yaitu para murid SMA Kristen Ketapang 1 dan informasi hanya dikumpulkan satu

kali pada waktu tertentu atau disebut juga Cross-sectional.

(2)

Tabel 3.1 Desain Penelitian

Tujuan Jenis dan Metode

Penelitian

Unit Analisis Time Horison

T-1 Asosiatif-Survey Individu ->

konsumen

Cross sectional

T-2 Asosiatif-Survey Individu ->

konsumen

Cross sectional

T-3 Asosiatif-Survey Individu ->

konsumen

Cross sectional

Keterangan :

T-1 : Untuk mengetahui pengaruh persepsi kualitas (perceieved quality) terhadap citra merek (brand image) pada Sma Kristen Ketapang 1.

T-2 : Untuk mengetahui pengaruh persepsi kualitas (perceieved quality) terhadap sikap konsumen pada Sma Kristen Ketapang 1.

T-3 : Untuk mengetahui pengaruh citra merek (brand image) terhadap sikap konsumen pada Sma Kristen Ketapang 1.

3.2 OPERASIONALISASI VARIABEL PENELITIAN

Penelitian ini terdapat tiga variabel yaitu persepsi konsumen, brand image dan sikap konsumen dengan indikator disetiap variabel. Dan menggunakan skala likert. Skala dapat dibedakan menjadi skala pembanding dan skala bukan pembanding. Skala pembanding terdiri dari skala perbandingan berpasangan ( paired comparison scaling ), skala urutan bertingkat ( rank order scaling ) dan skala jumlah tetap ( constant sum scaling ). Sedangkan skala bukan pembanding terdiri skala likert, skala sematik diferensiasi dan skala stapel.

Dalam penelitian ini menggunakan skala likert karena skala ini meminta responden

menunjukkan tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan terhadap serangkaian pernyataan

(3)

tentang suatu obyek. Skala ini dikembangkan oleh Rensis Likert dan biasanya memiliki 5 atau 7 kategori atau ukuran dari ”sangat setuju” sampai ”sangat tidak setuju”.

Tabel 3.2 Definisi Opersional dan Instrumen Pengukuran

Variabel Konsep Variabel Dimensi Variabel Indikator Skala Persepsi

Kualitas (Perceived

Quality )

Persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu

produk atau jasa layanan yang sama

dengan maksud yang diharapkannya.

Tangible • Gedung

• Kebersihan Kantor

• Kenyamanan kelas

• Areal sekolah

Likert

Reliability • Ketepatan waktu

• Sikap guru dan karyawan ramah Responsiveness • Kemampuan Mengajar

• Tanggapan terhadap Pertanyaan dan saran Assurance • Kompentensi guru

• Kesopanan

• Keamanan

Empaty • Hubungan sekolah

dengan siswa

• Komunikasi Citra Merek

( brand image )

persepsi tentang suatu merek yang

direfleksikan oleh sekumpulan asosiasi yang menghubungkan pelanggan dengan

merek dalam ingatannya

Pengajaran • Kualitas kurikulum

• Kualitas guru

• Ekstrakulikuler

• Kuat dalam nilai-nilai religius

Likert

Fasilitas • Kebersihan fasilitas

• Sarana Pendukung Pelayanan • Guru membantu siswa

• Hubungan sekolah dengan orang tua User image • Siswa kreatif

• Siswa taat beragama

• Siswa pandai bersosialisasi

• Siswa yang taat pada peraturan

School image • Sekolah berkarakter kristiani

• Sekolah favorit Prestasi sekolah • Berprestasi dalam

bidang akademik

• Berprestasi dalam bidang olahraga

• Alumnus yang banyak

berprestasi

(4)

• Lulusannya banyak yang diterima di universitas terkemuka Sikap

Konsumen Ungkapan perasaan konsumen tentang suatu objek apakah disukai atau tidak, dan sikap juga mengambarkan kepercayaan

konsumen terhadap berbagai atribut dan manfaat dari objek tersebut.

Kognitif • Tanggapan pemikiran konsumen SMA Kristen Ketapang 1

Likert

Afektif • Tanggapan Perasaan konsumen SMA Kristen Ketapang 1

Kognitif • Tanggapan konsumen terhadap SMA Kristen Ketapang 1

Sumber: Hasil Pengolahan Penulis, 2009.

3.3 Jenis dan Sumber Data Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, ada beberapa data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Jenis dari masing-masing data tersebut adalah kualitatif, dan sumber datanya adalah primer, yang didapat secara langsung dari konsumen yang dijadikan responden, melalui penyebaran kuesioner.

Tabel 3.3 Jenis dan sumber data

Tujuan Sumber data Jenis data

T - 1 Primer - kuesioner Kualitatif

T – 2 Primer - kuesioner Kualitatif

T – 3 Primer - kuesioner Kualitatif

Keterangan :

T-1 : Untuk mengetahui pengaruh persepsi kualitas (perceieved quality) terhadap citra merek (brand image) pada SMA Kristen Ketapang 1.

T-2 : Untuk mengetahui pengaruh persepsi kualitas (perceieved quality) terhadap sikap

konsumen pada SMA Kristen Ketapang 1.

(5)

T-3 : Untuk mengetahui pengaruh citra merek (brand image) terhadap sikap konsumen pada SMA Kristen Ketapang 1.

3.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam keseluruhan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Observasi

Metode yang dilakukan untuk melakukan pengamatan secara langsung untuk mendapatkan data-data yang tidak ada diperusahaan secara tertulis.

2. Kuesioner

Pengumpulan data melalui sebuah set pertanyaan yang disebarkan kepada konsumen secara langsung untuk mendapatkan penilaian mengenai brand image dan persepsi konsumen terhadap sikap konsumen yang implikasi terhadap pengambilan keputusan pembelian konsumen.

3. Studi Literatur

Studi dilakukan dari berbagai buku, jurnal, dokumen-dokumen perusahaan dan berhubungan dengan penelitian serta data-data yang penulis dapatkan melalui internet.

3.5 Populasi

Menurut Riduwan & Kuncoro (2007, p:209) Populasi adalah totalitas semua nilai

yang mungkin baik hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif dari

karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin

dipelajari sifat-sifatnya. Sedangkan sampel adalah sebagaian dari jumlah dan karakteristik

yang dimiliki oleh populasi. Pada umunya pengertian survei dibatasi pada penelitian yang

datanya dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. Populasi

dalam penelitian ini adalah murid-murid SMA Ketapang 1. Jumlah murid kelas X ada 73

orang, jumlah Murid kelas XI ada 69 orang, jumlah murid kelas XII ada 85 orang.

(6)

Tabel 3.4 Jumlah Populasi

NO Unit Kerja Jumlah

1 Murid kelas X 73

2 Murid kelas XI 69

3 Murid kelas XII 85

Total 227

3.6 Teknik Pengambilan Sampel

Menurut Riduwan & Kuncoro (2007, p:210) Sampel adalah bagian dari populasi.״

Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Berkaitan dengan teknik pengambilan sampel bahwa,

“..mutu penelitian tidak selalu ditentukan oleh besarnya sampel, akan tetapi oleh kokohnya dasar-dasar teorinya, oleh desain penelitiannya (asumsi-asumsi statistik), serta mutu pelaksaan dan pengolahannya.״ Berkaitan dengan teknik pengambilan sampel bahwa: Untuk sekadar ancer-ancer maka apabila subjek kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua, sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar, dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih.

Memperhatikan pernyataan di atas, karena jumlah populasi lebih dari 100 orang,

maka penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel secara acak (Random

sampling). Menurut Mulyono (2006, p:172-174) ada 4 jenis utama sampel random yaitu

simple, stratified, cluster dan sytematic. Dalam penelitian ini digunakan stratified random

sample adalah populasi dibagi ke dalam kelompok (strata) yang relatif homogen dan sampel

dibentuk dari masing-masing kelompok. Pengelompokan ini dimaksudkan untuk memperbaiki

pendugaan ciri-ciri populasi. Sedangkan teknik pengambilan sampel menggunakan rumus

dari Taro Yamane atau Slovin sebagai berikut:

(7)

n =

1 N.d

N

2

+

Dimana

n = Jumlah sampel

N = Jumlah Populasi =227 responden

d

2

= Presisi = (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 95%) Berdasarkan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel sebagai berikut:

n =

1 N.d

N

2

+ = ( ) 227 227 . 01

2

+ 1 = 3 , 27

227 = 69 . 42 ≈ 70 responden

Dari jumlah sampel 70 responden tersebut untuk mempermudah dalam penyebaran kuesioner, maka ditentukan jumlah masing-masing sampel menurut unit kerja (kelas) masing-masing secara proporsional dengan rumus :

ni = n n Ni .

Dimana : ni = jumlah sampel menurut stratum.

n = jumlah sampel seluruhnya.

Ni = jumlah populasi menurut stratum.

N = jumlah populasi seluruhnya.

Dengan rumus diatas, maka diperoleh jumlah sampel menurut masing-masing kelas sebagai berikut :

Murid kelas X = 73/227 X 70 = 22.51 ≈ 23 responden Murid kelas XI = 69/227 X 70 = 21.27 ≈ 21 responden Murid kelas XII = 85/227 X70 = 26.21 ≈ 26 responden

Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat dibulatkan seperti pada tabel 3.

sebagai berikut.

(8)

Tabel 3.5 Jumlah Populasi dan Sampel NO Unit kerja Populasi Murid Sampel Murid

1 Murid kelas X 73 23

2 Murid kelas XI 69 21

3 Murid kelas XII 85 26

Total 227 70

3.7 Model Skala Pengukuran

Skala Likert adalah suatu skala psikometrik yang umum digunakan dalam kuesioner, dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survei. Nama skala ini diambil dari nama Rensis Likert, yang menerbitkan suatu laporan yang menjelaskan penggunaannya. Sewaktu menanggapi pertanyaan dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya disediakan lima pilihan skala dengan format seperti:

Tabel 3.6 Bobot dan Kategori pengukuran

Keterangan Penilaian

Sangat setuju 5

Setuju 4 Netral 3

Tidak setuju 2

Sangat tidak setuju 1

Selain pilihan dengan lima skala seperti contoh di atas, kadang digunakan juga skala

dengan tujuh atau sembilan tingkat. Suatu studi empiris menemukan bahwa beberapa

(9)

karakteristik statistik hasil kuesioner dengan berbagai jumlah pilihan tersebut ternyata sangat mirip. Skala Likert merupakan metode skala bipolar yang mengukur baik tanggapan positif ataupun negatif terhadap suatu pernyataan. Empat skala pilihan juga kadang digunakan untuk kuesioner skala Likert yang memaksa orang memilih salah satu kutub karena pilihan

"netral" tak tersedia. (http://wapedia.mobi/id/Skala_Likert) . Sehingga saya dalam penelitian ini mengunakan empat pilihan skala dengan format seperti:

Tabel 3.7 Bobot dan Kategori pengukuran

Keterangan Penilaian

Sangat setuju 4

Setuju 3

Tidak setuju 2

Sangat tidak setuju 1

Berdasarkan kategori-kategori tersebut dapat diketahui bobot nilai tertinggi adalah 4 dan bobot nilai terendah adalah 1. Untuk mengetahui range maka selisih antara bobot nilai tertinggi dan bobot nilai terendah adalah 4 – 1 = 3, dan untuk mengetahui jumlah interval kelas dan besar interval kelas dapat digunakan dengan rumus sebagai berikut:

Menurut Supangat (2007), besar interval dapat ditentukan sebagai berikut : Jarak Xmax – Xmin 4 – 1

Banyak Kelas k 4

Berdasarkan ketentuan di atas maka penulis mengelompokkan tanggapan responden berdasarkan batas-batas penelitian terhadap bagian-bagian yang dievaluasi sehingga dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Interval = = = = 0,75

(10)

Batasan Keterangan 1 -- 1,75 Sangat Tidak Setuju

1,76 -- 2,51 Tidak Setuju

2,52 -- 3,27 Setuju

3,28 – 4,03 Sangat Setuju

Tabel 3.8 Tabel Batas Penelitian 3.8 Tranformasi Data Ordinal ke Data Interval

Untuk memenuhi sebagian syarat dari statistik parametrik, maka data ordinal yang merupakan hasil jawaban kuesioner diubah menjadi data interval dengan menggunakan software MSI pada program MINITAB ver 11.0 untuk melanjutkan ke tahap metode penelitian berikutnya.

3.9 Metode Analisis 3.9.1 Validitas

Menurut Santosa & Ashari ( 2005, p247) validitas adalah ukuran yang menunjukan sejauh mana instrumen pengukur mampu mengukur apa yang ingin diukur. Jadi, dapat dikatakan semakin tinggi validitas suatu instrumen, maka instrumen semakin mengenai sasarannya atau semakin mampu menunjukkan apa yang seharusnya diukur.

Untuk mengetahui tingkat validitas instrumen, maka dalam penelitian ini dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan

r = Koefisien korelasi

X = Skor item X

(11)

Y = Skor item Y

N = Jumlah responden atau banyaknya sampel dalam penelitian.

Dasar pengambilan keputusan:

• Jika r hitung positif serta r hitung > r tabel, maka butir atau variabel tersebut valid.

• Jika r hitung tidak positif serta r hitung < r tabel, maka butir atau variabel tersebut tidak valid.

• Jika r hitung > r tabel, tapi bertanda negatif, maka butir atau variabel tersebut tidak valid.

3.9.2 Reliabilitas

Apabila suatu alat pengukuran telah dinyatakan valid, maka tahap berikutnya adalah mengukur reliabilitas dari data. Menurut Santosa & Ashari (2005, p251) reliabilitas adalah ukuran yang menunjukkan konsistensi dari alat ukur dalam mengukur gejala yang sama di lain kesempatan. Setelah kita melakukan pengujian validitas kuesioner, maka kuesioner tersebut kita uji reliabilitasnya. Sebagaimana dikemukakan di muka, reliabilitas adalah ukuran yang menunjukkan kestabilan dalam mengukur. Kestabilan disini berarti kuesioner tersebut konsistensi jika digunakan untuk mengukur konsep atau konstruk dari suatu kondisi ke ke kondisi yang lain.

Salah satu cara pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan cara One Shot. Pada teknik ini pengukuran dilakukan hanya pada satu waktu, kemudian dilakukan perbandingan dengan pertanyaan yang lain atau dengan pengukuran perbandingan korelasi antarjawaban.

Pada program SPSS, Metode ini dilakukan dengan Cronbach Alpha, di mana suatu kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,60.

Rumus Cronbach Alpha dapat digunakan untuk mencari realibilitas instrumen yang skornya merupakan rentangan antara beberapa nilai atau berbentuk skala.

Rumusnya sebagai berikut :

(12)

R

11

= ⎟⎟ ⎠

⎜⎜ ⎞

⎛ − Σ

⎟ ⎠

⎜ ⎞

2

1

2

1 t

b k

k

σ σ

Dimana

R

11

= Reliabilitas instrumen

K = Banyaknya butir pertanyaan σ t

2

= Varians total

∑ σ b

2

= Jumlah varians butir.

Dasar pengambilan keputusan:

o Jika r alpha positif dan r alpha > r tabel, maka butir atau variabel tersebut reliabel.

o Jika r alpha positif dan r alpha < r tabel, maka butir atau variabel tersebut tidak reliabel.

o Jika r alpha > r tabel tapi bertanda negatif, maka butir atau variabel tersebut tidak reliabel.

3.9.3 Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang diolah berdistribusi normal dalam artian bahwa sampel yang diambil berasal dari populasi yang sama. Sebaran data harus dianalisis untuk mengetahui apakah asumsi normalitas dipenuhi, sehingga data dapat diolah lebih lanjut pada diagram.

Menurut Rochaety ( 2007, pp: 99-100) Uji Normalitas berdasarkan dari histogram yang berdistribusi normal ditunjukan dengan bentuk menyerupai lonceng atau diagaram dahan daun. Uji normalitas diolah dengan melihat Q-Q plot juga disebut plot kenormalan.

3.9.4 Analisis Jalur ( Path Analysis ) 3.9.4.1 Definisi & Pengertian

Menurut Riduwan & Kuncoro (2007, p:1) Path Analysis adalah “ a technique

for estimating the effect’s a set of independent variables has on a dependent variable from a

(13)

set of observed correlations, given a set of hypothesized causal asymmetric relation among the variable”. Sedangkan tujuan utama Path Analysis adalah “a method of measuring the direct influence along each separate path in such a sytem and thus of finding the degree to which variation of a given affect is determined by each particular cause. The method depend on the combination of knowledge of the degree of correlation among the variables in a system with such knowledge as may possessed of the causal relations”.

Sedangkan menurut Sarwono ( 2007, p:1) analisis jalur adalah suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda jika variable bebasnya mempengaruhi variable tergantung tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung. Analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingkat kepentingan ( magnitude ) dan significance ) hubungan sebab akibat hipotetikal dalam seperangkat variable. Analisis jalur sebagai model perluasan regresi yang digunakan untuk menguji keselarasan matriks korelasi dengan dua atau lebih model hubungan sebab akibat yang dibandingkan oleh peneliti.

Modelnya digambarkan dalam bentuk gambar lingkaran dan panah dimana anak panah tunggal menunjukkan sebab penyebab. Regresi dikenakan pada masing-masing variable dalam suatu model sebagai variable tergantung ( pemberi respons ) sedang yang lain sebagai penyebab. Pembobotan regresi diprediksikan dalam suatu model yang dibandingkan dengan matriks korelasi yang diobserbasi untuk semua variable dan dilakukan juga perhitungan uji keselarasan statistik.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya analisis jalur ( path analysis ) merupakan kepanjangan dari analisis regresi berganda.

3.9.4.2 Manfaat Path Analysis

Menurut Riduwan & Kuncoro (2007, p:2) manfaat model Path Analysis

adalah sebagai berikut:

(14)

1. Penjelasan ( explanation ) terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang diteliti.

2. Prediksi nilai variable terikat ( Y ) berdasarkan nilai variable bebas ( X ) dan prediksi dengan Path Analysis ini bersifat kualitatif.

3. Faktor diterminan yaitu penentu variable bebas ( X ) mana yang berpengaruh dominant terhadap variable terikat ( Y ), juga dapat digunakan untuk menelusuri mekanisme ( jalur-jalur ) pengaruh variable bebas ( X ) terhadap variable terikat ( Y).

4. Pengujian model, menggunakan theory trimming, baik untuk uji reliabilitas ( uji keajegan ) konsep yang sudah ada ataupun uji pengembangan konsep baru.

3.9.4.3 Asumsi-Asumsi Path Analysis

Menurut Riduwan & Kuncoro (2007, p:2) asumsi yang mendasari Path Analysis sebagai berikut:

1. Pada model Path Analysis, hubungan antar variable adalah bersifat linier, adaptif dan bersifat normal.

2. Hanya sistem kausal ke satu arah artinya tidak ada arah kausalitas yang berbalik.

3. Variabel terikat ( endogen ) minimal dalam skala ukur interval dan ratio.

4. Menggunakan sampel probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel untuk memberikan peluang yang sama pada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

5. Observed variables diukur tanpa kesalahan ( instrumen pengukuran valid dan reliable ) artinya variabel yang diteliti dapat diobservasi secara langsung.

6. Model yang dianalisis dispesifikasikan ( diidentifikasi ) dengan benar berdasarkan

teori-teori dan konsep-konsep yang relevan artinya model teori yang dikaji atau

diuji dibangun berdasarkan kerangka teoritis tertentu yang mampu menjelaskan

hubungan kausalitas antar variabel yang diteliti.

(15)

3.9.4.4 Langkah-Langkah Menguji Path Analysis Langkah-langkah menguji Path Analysis sebagai berikut:

1. Merumuskan hipotesis dan persamaan struktural.

Struktur: Y = p

yx1

X

1

+ p

yx2

X

2

+ p

y

ε

1

2. Menghitung koefisien jalur yang didasarkan pada koefisien regresi.

a. Gambarkan diagram jalur lengkap, tentukan sub-sub strukturnya dan rumuskan persamaan strukturalnya yang sesuati hipotesis yang diajukan.

Hipotesis: Naik turunnya variabel endogen dipengaruhi secara signifikan oleh variabel eksogen.

b. Menghitung koefien regresi untuk struktur yang telah dirumuskan. Hitung koefisien regresi untuk struktur yang telah dirumuskan.

Persamaan regresi ganda: Y = a + b

1

x

i

+ b

2

x

2

+ ε

1

3. Menghitung koefisien jalur secara simultan ( keseluruhan )

Uji secara keseluruhan hipotesis statistik dirumuskan sebagai berikut:

Ha: pyx1 = pyx2 = ...= pyxk ≠ 0 Ho: pyx

1

= pyx

2

= ...= pyxk = 0

a. Kaidah pengujian signifikan secara manual: Menggunakan Tabel F.

F =

2 ) 1 (

R 2 ) 1 k n (

k yx

k yx

R k

Keterangan : n = Jumlah sampel

k = Jumlah variabel eksogen R

2yxk

= R square

Jika F hitung ≥ F tabel maka tolak Ho artinya signifikan dan

Jika F hitung ≤ F tabel, maka terima Ho artinya tidak signifikan. Dengan

taraf signifikan ( ) α = 0,05

(16)

Cari nilai F tabel menggunakan Tabel F dengan rumus:

F tabel = F { ( 1 − α )( dk = k ) ( , dk = nk − 1 ) } atau

F { ( 1 − α ) ( v 1 = k ) ( v 2 = nk − 1 ) }

Cara mencari F tabel: nilai

(dk=k)

atau v1 disebut nilai pembilang dan nilai

( dk = nk1 ) atau

v2

disebut nilai penyebut.

b. Kaidah pengujian signifikan: Program SPSS

• Jika nilai probalitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau [ 0,05 ≤ Sig ], maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak signifikan.

• Jika nilai probalitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai probalitas Sig atau [ 0,05 ≥ Sig ], maka Ho ditolah dan Ha diterima, artinya signifikan.

4. Menghitung koefosien jalur secara individu

Hipotesis penelitian yang akan diuji dirumuskan menjadi hipotesis statistik berikut:

Ha: pyx1 > 0 Ho: pyx1 = 0

Secara individual uji statistik yang digunakan adalah uji t yang dihitung dengan rumus:

t

k

= ; ( dk = nl − 1 ) se

pk

ρ

k

Statistik se ρ x

1

diperoleh dari hasil komputasi pada SPSS untuk analisis regresi setelah data ordinal ditransformasi ke interval.

Selanjutnya untuk mengetahui signifikan analisis jalur bandingkan

antara nilai probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig dengan

dasar pengambilah keputusan sebagai berikut:

(17)

¾ Jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau [ 0,05 ≤ Sig ], maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak signifikan.

¾ Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai probabilitas Sig atau [ 0,05 ≥ Sig ], maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.

5. Meringkas dan menyimpulkan 3.10 Rancangan Uji Hipotesis

3.10.1 Pengertian Hipotesis

Menurut Kuncoro (2003, p:47) hipotesis adalah suatu penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena atau keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi.

3.10.2 Perumusan Hipotesis

Menurut Kuncoro (2003, p:50) sebagaimana diketahui, hipotesis yang baik adalah hipotesis yang dinyatakan dengan jelas dan ringkas, menyatakan hubungan antara dua variabel dan menjelaskan variabel tersebut dalam terminologi operasional yang diukur.

3.10.3 Uji Hipotesis

Menurut Sugiyono (2006, p:51) perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukkan landasan teori dan kerangka berfikir.

Untuk dapat diuji, suatu hipotesis haruslah dinyatakan secara kuantitatif. Pengujian hipotesis statistik ialah prosedur yang memungkinkan keputusan dapat dibuat yaitu keputusan untuk menolak atau tidak menolak hipotesis yang sedang diuji.

Perhitungan yang akan digunakan adalah dengan menggunakan cara SPSS.13 yang

akan menghasilkan persamaan, dimana dari hasil SPPS.13 akan diketahui apakah

perhitungan signifikan atau tidak serta akan menjelaskan hubungan antara 3 variabel yaitu

varibel persepsi kualitas ( perceived quality ) ( X ), citra merek ( brand image ) ( Y ) dan

(18)

sikap konsumen ( Z ). Berdasarkan atas variabel tersebut diatas maka hipotesisnya adalah sebagai berikut :

T-1 : Untuk mengetahui Apakah ada pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap citra merek (brand image) pada sekolah SMA Ketapang 1.

Ha : ada pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap citra merek (brand image) pada sekolah SMA Ketapang 1.

Ho : tidak ada pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap citra merek (brand image) pada sekolah SMA Ketapang 1.

T-2 : Untuk mengetahui Apakah ada pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap sikap konsumen pada sekolah SMA Ketapang 1.

Ha : ada pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap sikap konsumen pada sekolah SMA Ketapang 1.

Ho : tidak ada pengaruh persepsi kualitas (perceived quality) terhadap sikap konsumen pada sekolah SMA Ketapang 1.

T-3 : Untuk mengetahui Apakah ada pengaruh citra merek (brand image) terhadap sikap konsumen pada sekolah SMA Ketapang 1.

Ha : ada pengaruh citra merek (brand image) terhadap sikap konsumen pada sekolah SMA Ketapang 1.

Ho : tidak ada pengaruh citra merek (brand image) terhadap sikap konsumen pada sekolah SMA Ketapang 1.

3.11 Rancangan Implikasi Hasil Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian ini yaitu ingin mengetahui pengaruh persepsi

kualitas ( perceived quality ) terhadap citra merek ( brand image ), pengaruh persepsi

kualitas ( perceived quality ) terhadap sikap konsumen dan pengaruh citra merek ( brand

image ) terhadap sikap konsumen pada SMA Kristen Ketapang 1, maka untuk mendapatkan

hasil dari setiap tujuan penelitian dilakukan survey melalui kuesioner. Dari hasil kuesioner

(19)

tersebut, maka akan mendapatkan informasi yang diinginkan dan selanjutnya dapat digunakan untuk menganalisis variabel-variabel penelitian yaitu persepsi kualitas ( perceived quality ), citra merek ( brand image ) dan sikap konsumen.

Rancangan implikasi hasil penelitian ini adalah bahwa SMA Kristen Ketapang 1 dapat mengevaluasi apakah persepsi kualitas ( perceived quality ) dapat mempengaruhi citra merek ( brand image ) pada SMA Kristen Ketapang 1, apakah persepsi kualitas ( perceived quality ) dapat mempengaruhi sikap konsumen pada SMA Kristen Ketapang 1 dan apakah citra merek ( brand image ) dapat mempengaruhi sikap konsumen pada SMA Kristen Ketapang 1.

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan hasil yang memuaskan kepada

SMA Kristen Ketapang 1 dan juga para konsumen. Dengan begitu SMA Kristen Ketapang 1

dapat terus mempertahankan konsumennya agar tetap bersekolah di SMA Kristen Ketapang

1 sehingga dapat meningkatkan citra merek ( brand image ) SMA Kristen Ketapang 1.

Gambar

Tabel 3.1 Desain Penelitian
Tabel 3.2  Definisi Opersional dan Instrumen Pengukuran
Tabel 3.3 Jenis dan sumber data
Tabel 3.4  Jumlah Populasi
+4

Referensi

Dokumen terkait

Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan motivasi melaksanakan diet pada pasien diabetes mellitus rawat jalan di RSUD Dr.. Bagi RSUD

Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI nomor 21 tahun 2009 tentang Standar Penyiaran Digital Untuk Penyiaran Radio pada Pita VHF di Indonesia menyatakan

Kemudian di didihkan sampai jernih (kurang lebih 5 jam) (pengerjaan harus dilakukan dilemari asam). Titrasi destilat yang diperoleh dengan HCl 0,02 N sampai

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak daun babadotan dan jahe didalam ransum sapi perah yang diamati dari fermentabilitas rumen secara in vitro..

jauh ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan. 3) Valuing artinya memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek, sehingga apabila kegiatan itu tidak

menghubungkan paragraf satu dengan paragraf lain sehingga hubungan itu terasa logis. Transisi dapat dinyatakan secara eksplisit dan secara implisit. 2) Kalimat

Dari hasil analisis den- gan uji t didapat t statistik -7,165, t tabel 1,943 dengan demikian t statistik (-7,165) &lt; t tabel (1,943) ini berarti terdapat perubahan atau

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mendapatkan formulasi amelioran yang tepat dari kapur, beberapa unsur mikro (Cu, Fe, Mn, Zn) dan garam NaCl dalam