PERBEDAAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA REMAJA
DITINJAU DARI POLA
ATTACHMENT
SKRIPSI
Oleh :
Andreas Moensaku
201110230311358
FAKULTAS PSIKOLOGI
PERBEDAAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA REMAJA
DITINJAU DARI POLA
ATTACHMENT
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang
sebagai salah satu persyaratan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Psikologi
Oleh :
Andreas Moensaku
201110230311358
FAKULTAS PSIKOLOGI
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis hantarkan atas kehadirat Allah SWT yang atas limpahan rahmat serta hidayah-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Kecerdasan Emosional Pada Remaja Ditinjau Dari Pola Attachment”. Shalawat serta salam
senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Dalam proses hingga penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, arahan, serta bantuan yang sangat bermanfaat dari berbagai pihak. Maka daripada itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebenar-benarnya kepada:
1. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP selaku rektor Universitas Muhammadiyah Malang.
2. Dra. Tri Dayakisni, M.Si selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Dr. Latipun, M.Kes dan Arifirmanto, S.Psi, M.Si selaku dosen Pembimbing I dan II yang telah bersedia meluangkan waktu agar dapat membimbing penulis hingga penulis mampu mencapai pencapaian hingga saat ini.
4. Ni’matuzahroh, S.Psi, M.Si selaku dosen wali yang selama penulis masuk kuliah hingga mampu menyelesaikan skripsi ini selalu memberikan semangat dan perhatian kepada penulis.
5. Mama dan Papa yang memberikan kepercayaan dan kasih sayang kepada penulis, serta menjadi alasan penulis hingga saat ini.
6. Kakak serta saudara yang selalu mensupport penulis dalam keadaan apapun. 7. Anisa Fajarwati yang memberikan perhatian, motivasi, serta bantuannya.
8. Teman-teman Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya kelas Psikologi G angkatan tahun 2011, kalian terbaik.
9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa tiada hal sempurna yang dapat dihasilkan oleh manusia, namun penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hal itu. Kritik dan saran yang diberikan akan sangat berarti bagi penulis. Penulis juga berharap bahwa hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca serta penulis sendiri pada khususnya. “ Ketika kau gagal tetapi masih mampu untuk bangkit kembali, itulah arti kesuksesan yang sebenarnya” – Hinata Hyuga
Malang, 19 November 2015 Penulis
DAFTAR ISI
Pola Attachment Dengan Kecerdasan Emosional Pada Remaja ... 7
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Perbandingan jumlah subjek pola secure attachment, pola anxious resistant attachment dan pola anxious avoidant attachment pada remaja. ... 11
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 ... 17
Blueprint Pola Attachment ... 18
Blueprint Kecerdasan Emosional. ... 18
Lampiran 2... ... 19
Skala Pola Attachement dan Kecerdasan Emosional ... 20
Lampiran 3. ... 25
Tabulasi Skala Pola Attachment ... 26
Tabulasi Skala Pola Kecerdasan Emosional. ... 42
Lampiran 4. ... 58
Validitas dan Reliabilitas Skala Pola Attachment ... 59
Validitas dan Reliabilitas Skala Pola Kecerdasan Emosional ... 61
Lampiran 5. ... 63
PERBEDAAN KECERDASAN EMOSIONAL PADA REMAJA DITINJAU DARI
POLA ATTACHMENT
Andreas Moensaku
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang [email protected]
Kecerdasan emosi diperlukan seorang remaja untuk dapat membina hubungan baik dan menjadi teman yang menyenangkan selain merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan remaja dalam menjalani hidupnya. Walaupun demikian, tidak semua remaja memiliki kecerdasan emosi yang baik. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya kenakalan remaja yang membuat resah dengan perilaku para remaja dalam berbagai bentuk. Banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional, salah satunya pola attachment
orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecerdasan emosional pada remaja ditinjau dari pola attachment. Subjek
penelitian yaitu remaja kota Lumajang usia antara 12 sampai 18 tahun dengan jumlah 241 subjek. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Analisa data dengan menggunakan uji One Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan
kecerdasan emosional pada remaja ditinjau dari pola attachment dengan
nilai signifikan sebesar 0.006 < 0.05.
Katakunci: Kecerdasan Emosional, Pola Attachment, Remaja
Emotional intelligence required a teenager to be able to establish a good relationship and be a pleasant companion in addition to being one of the factors that determine the success of a teenager in living his life. However, not all adolescents have good emotional intelligence. This can be seen by the increasing juvenile delinquency that make troubled by the behavior of young people in various forms. Many factors affect the emotional intelligence, one parent attachment patterns. This study aims to determine differences in emotional intelligence in adolescents in terms of patterns of attachment. Subject of research that Lumajang city adolescents aged between 12 to 18 years the number of 241 subjects. The sampling technique used was random sampling. Analysis of the data by using One Way ANOVA. The results showed that there are differences in emotional intelligence in adolescents in terms of patterns of attachment with significant value 0.006 < 0.05.
Secara hakikat manusia merupakan makhluk sosial, sejak dilahirkan ia membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya (Gerungan, 2010). Sebagai makhluk sosial, dalam melakukan proses interaksi dengan lingkungannya dapat dipastikan manusia pernah mengalami adanya rasa marah, jengkel, muak, frustasi dan sebagainya yang berupa emosi dan dituangkan dalam bentuk perilaku. Hude (2006) menyebutkan bahwa dalam proses interaksi atau komunikasi yang baik tidak selamanya berbentuk verbal, melainkan bisa non verbal. Dari ekspresi itu kita dapat melakukan komunikasi dengan diri sendiri dan orang lain, serta menentukan sikap dan tindakan apa yang perlu dilakukan di saat yang tepat. Emosi dikategorikan sebagai psiko-fisik atau psiko-fisis yang melibatkan sisi luar dan dalam diri manusia sekaligus (Hude, 2006).
Khususnya remaja, masa ini merupakan periode transisi perkembangan yang terjadi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan baik itu secara biologis, kognitif dan sosioemosional (Santrock, 2007). Transisi perkembangan ini juga nampak jelas, salah satunya dalam perkembangan sosioemosional remaja. Seperti yang dikemukakan oleh Mappiare (2003) yang mengatakan sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku dan harapan sosial yang baru namun meskipun emosi remaja seringkali sangat kuat dan tidak terkendali tetapi pada umumnya dari tahun ketahun terjadi perbaikan perilaku emosional.
Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini sangatlah memprihatinkan khususnya di kalangan remaja. Berbagai bentuk kenakalan remaja semakin berkembang di masyarakat seperti yang diulas dalam media cetak maupun media visual yang mengakibatkan hilangnya rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan kesetiakawanan sosial antar sesama yang dicirikan dengan sikap arogansi, saling memfitnah sesama teman, rendah kepedulian sosial, bahkan merosotnya penghargaan dan rasa hormat terhadap guru atau pun orang tua sebagai sosok yang seharusnya disegani dan dihormati. Dalam media cetak diberitakan banyak kasus melibatkan remaja yang bertindak kasar atau menganiaya orang lain, melakukan kritikan dengan bahasa yang menyakitkan, sehingga berakhir pada perkelahian bahkan kematian. Terdapat juga perilaku remaja yang dapat dikatakan sangat emosional, seperti contoh pada harian Solopos edisi 15 April 2009 yang menyebutkan bahwa remaja putri mencoba bunuh diri dengan minum cairan pembunuh serangga, karena dimarahi oleh orang tua berkaitan dengan keterlambatan jam pulang sekolah.
pada seseorang (Wildan, 2008). Salah satu contoh siswa di Lumajang, Jawa Timur misalnya, pada tanggal 2 November 2010 berawal dari salah paham antar sesama teman SMA yang berakhir dengan kematian (detiknews.com). Peristiwa lain lagi yakni pada tanggal 19 Desember 2014 seorang mantan siswa yang pernah dikeluarkan dari salah satu SMA di Lumajang mengamuk dengan membawa senjata tajam di sekolahan tersebut yang akhirnya beberapa orang mengalami luka-luka salah satunya kepala sekolah SMA tersebut (memotimuronline.com). Bila dicermati dengan seksama ternyata kejadian ini semuanya memperlihatkan adanya kecenderungan rendahnya kecerdasan emosi pada remaja.
Untuk mengatasi masalah tersebut remaja dituntut memiliki kecerdasan emosional, yaitu kecerdasan dalam menjalin interaksi sosial untuk membina hubungan yang baik dan efektif dengan orang lain atau antar individu (Martin, 2003). Para remaja yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi atau berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja, seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, dan perilaku seks bebas. Hal ini sesuai dengan pendapat Goleman (2000) tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosional, dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Kemampuan ini sangat dibutuhkan oleh individu tak terkecuali para remaja. Dengan demikian seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi mampu mengenali perasaannya sendiri dan perasaan orang lain sehingga mampu memotivasi dirinya sendiri serta mampu mengelola emosinya secara baik dalam hubungannya dengan orang lain. Dapat dilihat dari teori kecerdasan emosi di atas bahwa kecerdasan emosi memiliki peran penting dalam perkembangan manusia. Dengan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi manusia dapat mengendalikan emosinya termasuk juga kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya (Goleman, 2000).
Namun kecerdasan emosi pada remaja tidak timbul dengan sendirinya. Kemampuan ini diperoleh remaja dari proses interaksi sosial dengan lingkungannya. Lingkungan keluarga merupakan tempat pertama kali remaja melakukan interaksi sosial yang paling mendalam dan mendasar. Orang tua merupakan figur yang memberi bekal pengalaman kepada remaja berupa tingkah laku, sikap dan cara-cara dalam mengenali emosi diri serta orang lain, mengendalikan emosi, menanggapi orang lain sesuai porsinya, dan bersosialisasi dengan masyarakat melalui pengalaman-pengalaman emosi yang didapatkan remaja ketika berinteraksi dengan keluarga terutama orang tua. Bagaimana bentuk hubungan yang terjalin antara orang tua dan remaja akan menentukan bagaimana kecerdasan emosi pada remaja terbentuk. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Lestari (1997), bahwa keluarga terutama orang tua yang merupakan figur sentral mempunyai peranan penting dalam perkembangan remaja, karena dasar hubungan pribadi remaja diperoleh pertama kali dalam hubungannya dengan orang tua. Lestari (1997) juga menyebutkan bahwa hubungan pribadi atau kelekatan pada orang tua menjadi suatu langkah awal dalam proses perkembangan kecerdasan emosi remaja, karena orang tua menjadi orang terdekat remaja untuk berinteraksi dan memiliki jalinan emosi sebelum remaja menjalin interaksi dengan orang lain.
Kelekatan yang tepat antara orang tua dengan remaja akan memberikan kesempatan kepada remaja mengalami perkembangan emosi yang optimal, sehingga remaja dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi yang kompleks. Menurut Bowlby terdapat tiga pola kelekatan yaitu: pola secure attachment, pola anxious resistantattachment, dan pola anxious avoidant attachment. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yessy (2003) pada remaja
menjalin relasi pertemanan ditinjau dari perbedaan pola kelekatan. Remaja dengan pola
secure attachment mempunyai kemampuan menjalin relasi yang tinggi, remaja dapat
mengembangkan hubungan pertemanan yang positif, sehingga membuat remaja menjadi teman yang diinginkan, memperhatikan kepentingan orang lain, tidak ditolak untuk bermain, bersedia untuk percaya pada orang lain serta dapat mengutarakan pikiran dengan jujur dan jelas tanpa merugikan orang lain. Ciri-ciri remaja dengan pola anxious resistant attachment
cenderung mempunyai kemampuan yang rendah dalam menjalin relasi pertemanan, kurang bisa mempercayai orang lain, suka mengasingkan diri, dan memiliki konformitas yang rendah dalam kelompoknya. Sedangkan untuk pola anxious avoidant attachment, dicirikan dengan
adanya kecenderungan pengabaian dan penolakan oleh teman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecerdasan emosional pada remaja ditinjau dari pola attachment berdasarkan sampel yang ada. Manfaat penelitian ini yakni
sebagai sumber informasi kepada orang tua pada terkait jenis-jenis pola attachment dan dampak bagi remaja dalam perkembangan kecerdasan emosionalnya terkait pola attachment
yang tepat pada remaja dalam menghadapi segala hal dan sebagai acuan dalam pelayanan bimbingan dan konseling tentang tugas-tugas perkembangan remaja, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun di lingkungan masyarakat lainnya.
Dari beberapa teori, kasus dan penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi akan mampu menguasai dirinya untuk tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari norma sosial. Peneliti memilih kecerdasan emosional pada remaja karena keadaan emosi remaja yang masih labil, emosi remaja lebih kuat dan lebih mengusai diri mereka daripada pikiran yang realistis (Zulkifli, 2005). Dan kelekatan (attachment) pada orang tua pada dasarnya keluarga terutama orang tua merupakan
figur sentral yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan kepribadian remaja dan hubungan pribadi remaja diperoleh pertama kali dalam hubungannya dengan orang tua (Lestari, 1997).
Pola Kelekatan/Attachment
Pola kelekatan dapat berarti bentuk atau struktur kelekatan. Kelekatan didefinisikan oleh Kartono (2003) sebagai pelengketan, perkaitan, relasi, ikatan, tersangkut satu dengan yang lain, hubungan pelekatan yaitu satu daya tarik atau ketergantungan emosional antar dua orang. Menurut Smith dkk.(1999), kelekatan merupakan suatu hubungan kasih sayang antara satu individu dengan individu yang lainnya. Yessy (2003) berpendapat bahwa kelekatan adalah ikatan emosional sebagai bentuk perilaku yang ditujukan oleh individu dalam mencapai atau menjaga kedekatan dengan individu lain yang di identifikasikan sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan lebih baik dalam menghadapi hidup. Sedangkan menurut Santrock (2002), kelekatan mengacu kepada suatu relasi antara dua orang yang memiliki perasaan yang kuat satu dengan yang lain dan melakukan banyak hal bersama untuk melanjutkan relasi tersebut. Dalam psikologi perkembangan, kelekatan diartikan sebagai adanya daya suatu relasi antara figur sosial tertentu dengan suatu fenomena tertentu yang dianggap mencerminkan karakteristik relasi yang unik.
Sesuai pengertian dari Bowlby yang akan digunakan dalam penelitian ini, pengertian pola
attachment adalah bentuk atau struktur ikatan emosional sebagai bentuk perilaku yang
Menurut Bowlby terdapat tiga pola kelekatan, yaitu pola secure attachment (aman), anxious resistant attachment (cemas ambivalen), dan anxious avoidant attachment (cemas
menghindar).
a. Pola Secure Attachment
Pola secure attachment adalah pola yang terbentuk dari interaksi orang tua dengan
remaja, remaja merasa percaya terhadap orang tua sebagai figur yang selalu mendampingi, sensitif, dan responsif, penuh cinta serta kasih sayang saat mereka mencari perlindungan dan kenyamanan, dan selalu membantu atau menolongnya dalam menghadapi situasi yang menakutkan dan mengancam. Remaja yang mempunyai pola ini percaya adanya responsivitas dan kesediaan orang tua bagi dirinya.
b. Pola Anxious Resistant Attachment (cemas ambivalen)
Pola anxious resistant attachment adalah pola yang terbentuk dari interaksi orang tua
dengan remaja, remaja merasa tidak pasti bahwa orang tuanya selalu ada dan responsif atau cepat membantu serta datang kepadanya pada saat remaja membutuhkan mereka. Akibatnya, remaja mudah mengalami kecemasan untuk berpisah, cenderung bergantung, menuntut perhatian, dan cemas ketika bereksplorasi dalam lingkungan. Pada pola ini, remaja mengalami ketidakpastian sebagai akibat dari orang tua yang tidak selalu membantu pada setiap kesempatan dan juga adanya keterpisahan.
c. Pola Anxious Avoidant Attachment (cemas menghindar)
Pola anxious avoidant attachment adalah pola yang terbentuk dari orang tua dengan
remaja, remaja tidak memiliki kepercayaan diri karena saat mencari kasih sayang, remaja tidak direspons atau bahkan ditolak. Pada pola ini, konflik lebih tersembunyi sebagai hasil dari perilaku orang tua yang secara konstan menolaknya ketika remaja mendekat untuk mencari kenyamanan atau perlindungan.
Faktor Kelekatan (Attachment)
Attachment tidak muncul secara tiba-tiba, ada faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya kelekatan. Ainsworth (dalam Feeny & Noller 1996) mengembangkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kelekatan, yaitu individual experience, genetic consitution, dan culture influence.
1. Individual Experience
Kualitas kelekatan antara orang tua dan anak bergantung pada perilaku caregiver atau
pengasuhnya. Gaya kelekatan berhubungan dengan berbagai indeks kualitas kepedulian. Indeks kualitas kepedulian yang dimaksud seperti responsivitas saat menangis, waktu pemberian makanan, sensitivitas, kerjasama dan penerimaan.
2. Genetic Constitution
Perbedaan individu berdasarkan kualitas kelekatan berasal dari perbedaan karakteristik anak disamping adanya pengaruh dari perilaku caregiver atau pengasuh.
3. Cultural Influences
Kecerdasan Emosional
Emosi dalam pemaknaan sehari-hari sangat berbeda dengan pengertian emosi dalam psikologi. Emosi dalam makna sehari-hari lebih identik kepada ketegangan yang terjadi pada individu akibat dari tingkat kemarahan yang tinggi. Dalam makna paling harfiah, Oxford English Dictionary mendefinisikan emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran,
perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap (Goleman, 2007).
Kecerdasan emosional merupakan himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Dalam menghadapi dunia sekitar individu tidak bersifat pasif, tetapi bersifat aktif, artinya berusaha mempengaruhi, menguasai, mengubah dalam batas-batas kemungkinannya. Dengan demikian kehidupan manusia dalam lingkungan sosial mempunyai dua macam fungsi yaitu berfungsi sebagai obyek dan sebagai subyek. Demikian pula manusia lain betapa banyaknya diantara apa yang kita lakukan dapat didorong oleh emosi, bagaimana kita dapat menjadi begitu rasional di suatu saat dan menjadi begitu tidak rasional pada saat lainnya, dan pemahaman dimana emosi mempunyai nalar dan logikanya sendiri (Goleman, 2007).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan suatu perasaan atau gejala psiko-fisis yang menimbulkan efek pada respons berupa tingkah laku terhadap stimulus (perasaan), persepsi, sikap, dan segala bentuk ekspresi emosi lainnya. Emosi dikatakan sebagai gejala psiko-fisis dikarenakan hal ini terkait langsung dengan jiwa dan fisik. Ketika seseorang memiliki emosi bahagia meledak-ledak, ia secara psikis memberi kepuasan namun secara fisiologis hal itu membuat jantung berdebar-debar, langkah kaki terasa ringan, bahkan tak terasa ketika berteriak merasa kegirangan. Kecerdasan emosional sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial, karena dalam kehidupan sosial terdapat interaksi yang terjadi dalam lingkungan masyarakat atau sosial, hal ini di sebut dengan interaksi sosial.
Menurut H.Bonner (dalam Ahmadi, 1990) menyebutkan interaksi sosial adalah suatu
hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Kecerdasan emosional adalah suatu kesatuan kecerdasan dibidang sosial yang melibatkan keadaan emosional untuk memantau perasaan dan emosi pada diri sendiri dengan mengontrol perilaku mana yang pantas dan yang tidak pantas ditunjukkan pada lingkungan luar. Kecerdasan
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni
kesadaran seseorang akan emosinya sendiri.
b. Mengelola emosi (self regulation)
kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan– perasaan menekan.
c. Memotivasi diri (motivation oneself)
Kemampuan memotivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan, inisiatif dan optimisme yang tinggi, sehingga seseora memiliki kekuatan semangat untuk melakukan aktifitas tertentu, percaya diri, serta mempunyai dorongan untuk berprestasi.
d. Empati.
Empati merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli pada seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal– sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.
e. Membina hubungan (interpersonal relationship)
Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan dalam membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain.
Pola Attachment dengan Kecerdasan Emosi pada Remaja
Mu’tadin (2002) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi dipandang sebagai suatu aspek psikis yang sangat menentukan reaksi individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Remaja sebagai individu perlu memiliki kecerdasan emosi untuk bisa mendapatkan kualitas interaksional yang baik dengan lingkungan masyarakat. Mu’tadin (2002) juga menyebutkan bahwa remaja yang memiliki kecerdasan emosi dapat menjalankan kehidupan sosialnya dengan baik, tidak mudah stres, dan menjadi teman yang diinginkan di dalam masyarakat. Sebaliknya remaja yang tidak didukung dengan kecerdasan emosi memiliki tingkat emosional yang tinggi, mudah marah, tidak pandai menempatkan diri di lingkungan masyarakat, sehingga seringkali menimbulkan masalah baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
Stanley Hall (dalam Santrock, 2002) mengatakan bahwa masa remaja adalah periode storm and stress atau “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai
yang pertama untuk mempelajari emosi, jadi dapat dikatakan bahwa orang tua memiliki peran dalam membantu terbentuknya kecerdasan emosi remaja.
Lingkungan keluarga merupakan tempat remaja pertama kali menjalin interaksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam Saarni (1999) disebutkan bahwa remaja memperoleh berbagai pengalaman emosi dari orang tuanya sejak usia anak-anak. Remaja menjadi seseorang yang aktif menciptakan pengalaman emosi bagi mereka sendiri. Cara orang tua mengenali dan mengendalikan emosi, berempati dengan apa yang dialami orang lain serta cara orang tua berinteraksi sosial dengan masyarakat dan berbagai macam pengalaman emosi lainnya akan menjadi sesuatu yang dipelajari remaja, dimaknai, dan distimulasikan oleh mereka sendiri, yang kemudian remaja akan menerapkannya dalam menjalin hubungan atau berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitar. Perkembangan kecerdasan emosi remaja sangat dipengaruhi oleh proses interaksi yang didapat remaja dengan orang tua dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial dan pengalaman-pengalaman emosi yang terjadi setiap saat dan berkelanjutan (Saarni,1999).
Pengalaman-pengalaman emosi tersebut bisa remaja pelajari dengan mudah semenjak usia masih anak-anak apabila remaja tersebut memiliki pola kelekatan aman (secure attachment)
dengan orang tuanya. Individu dengan pola kelekatan aman, dicirikan dengan orang tua yang selalu siap membantu anaknya kapan saja dalam melewati berbagai pengalaman emosinya, sedangkan remaja yang memiliki pola kelekatan cemas ambivalen (anxious resistant attachment), dimungkinkan akan selalu bergantung dengan orang tua sehingga tidak bisa
belajar mandiri dalam memaknai dan menerapkan pengalaman-pengalaman emosi yang pernah didapatkan dari orang tuanya. Remaja dengan pola kelekatan cemas menghindar (anxious avoidant attachment) bisa dikatakan sangat sulit untuk mendapatkan pengalaman
emosi dari orang tuanya, bahkan mungkin tidak ada sama sekali karena orang tuanya tidak menanggapinya atau bahkan menolak kehadirannya. Monks (2004) mengungkapkan, bahwa kelekatan individu dengan figur lekat menjadi awal kemampuan individu dalam kemampuan sosial dan menjadi dasar perkembangan individu pada setiap masa pertumbuhan. Gordon (dalam Saarni, 1999) menyatakan bahwa bagaimana corak perilaku individu kelak sangat dipengaruhi oleh bagaimana kelekatan yang terjadi antara orang tua dan individu tersebut. Pengalaman kelekatan menjadi sumber informasi untuk belajar mengenai individu itu sendiri. Pola kelekatan yang berbeda berpengaruh pada kualitas interaksional antara remaja pada orang tua, yang pada akhirnya mempengaruhi terbentuknya kecerdasan emosi pada remaja. Hal ini berarti bahwa pola kelekatan remaja pada orang tua memberikan kontribusi dalam proses terbentuknya kecerdasan emosi remaja.
Hipotesa
Berdasarkan penjelasan tersebut hipotesa penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan kecerdasan emosional pada remaja ditinjau dari pola attachment orang tua.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
multivariat karena peneliti ingin meneliti perbedaan antara variabel independen yaitu pola
attachment terhadap variabel dependen yaitu kecerdasan emosional pada remaja awal, serta
menguji signifikansinya. Desain penelitian yang digunakan menggunakan teknik One Way Anova yaitu metode statistik untuk menguji perbedaan 3 kelompok data atau lebih
(Winarsunu, 2009).
Subjek Penelitian
Populasi dalam pelitian ini adalah remaja laki-laki maupun perempuan. Subjek penelitian yang diambil sebanyak 241 remaja. Adapun karakteristik subjek penelitian yaitu remaja berusia 12 - 18 tahun (remaja awal) Mappiare (2003). Teknik sampel yang digunakan adalah
random sampling, yaitu accidental sampling dimana remaja yang secara kebetulan bertemu
dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2007).
Variabel dan Instrumen Penelitian
Pola attachement adalah bentuk atau struktur ikatan emosional sebagai bentuk perilaku yang
ditujukan oleh individu dalam mencapai atau menjaga kedekatan dengan individu lain yang diidentifikasikan sebagai seseorang yang mempunyai kemampuan lebih baik dalam menghadapi hidup. Alat ukur yang digunakan yakni skala pola attachment yang disusun oleh
Hermasanti (2009), terdiridari 3 aspek diantaranya pola secure attachment, pola anxious resistant attachment, pola avoidant attachment (. Jumlah item dalam skala pola attachment
ini sebanyak 45 butir. Contoh item pola attachment salah satunya adalah “Berada dekat
dengan orang tua membuat saya merasa dilindungi”. Reliabilitas pola attachment di bagi
berdasarkan per aspek, yaitu aspek secure attachment sebesar 0,693, anxious resistant attachment sebesar 0,772 dan anxious avoidant attachment sebesar 0,826. Pilihan jawaban
yang diberikan terdapat 4 kategori yakni sangat setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Cara penskoran yang dilakukan adalah menjumlah nilai tiap-tiap aspek pola attachment yang terdiri dari item favourable dan unfavourable dengan skor
terendah sampai tertinggi berkisar 0 – 48. Berdasarkan uji validitas dapat disimpulkan bahwa indeks validitas secure attachment berkisar antara 0,432 – 0,510, anxious resistant attachment
berkisar antara 0,363 – 0,778, anxious avoidant attachment berkisar antara 0,547 – 0,744.
Dilihat dari hasil uji validitas dapat disimpulkan bahwa dari 45 item skala pola attachment
sebanyak 12 item valid. Dengan ini menyatakan bahwa skala tersebut dapat digunakan untuk sebuah penelitian.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Alat ukur yang digunakan yakni skala kecerdasan emosional yang disusun oleh peneliti sendiri, terdiri dari 5 aspek diantaranya mengenali emosi diri/self awarness, mengelola emosi/self regulation, memotivasi diri/motivation oneself, empati dan
membina hubungan/interpersonal relationship (Goleman, 2007). Jumlah item dalam skala
kecerdasan emosional ini sebanyak 38 butir. Contoh item kecerdasan emosional salah satunya adalah “Saya memahami perasaan-perasaan saya sendiri”. Reliabilitas koefisien alpha
kecerdasan emosional sebesar 0,910 dengan pilihan jawaban yang diberikan terdapat 4 kategori yakni sangat setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Cara penskoran yang dilakukan adalah menjumlah nilai tiap-tiap aspek kecerdasan emosional yang terdiri dari item favourable dan unfavourable dengan skor terendah sampai tertinggi
disimpulkan bahwa dari 38 item skala kecerdasan emosional sebanyak 29 item valid. Dengan ini menyatakan bahwa skala tersebut juga dapat digunakan untuk sebuah penelitian.
Prosedur dan Analisa Data Penelitian
Prosedur penelitian diawali dengan persetujuan dosen pembimbing, setelah dilakukannya persetujuan proposal dan skala yang digunakan peneliti melakukan tryout yang dilaksanakan
pada tanggal 11 juni 2015. Skala diberikan kepada 40 orang yang sesuai dengan kriteria subjek penelitian. Dari data tryout yang didapatkan, dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
Terdapat 12 item valid pada skala pola attachment dan 29 item pada skala kecerdasan
emosional. Skala ini kemudian akan digunakan sebagai instrumen penelitian.
Setelah instrumen penelitian telah siap disebar, langkah selanjutnya adalah pengambilan data yang dilakukan pada rentang tanggal 18 juni 2015 – 28 Juni 2015. Peneliti menyebarkan instrumen penelitian berupa skala pola attachment dan skala kecerdasan emosional disebarkan
kepada kepada remaja lumajang yang sesuai dengan kriteria penelitian sejumlah 241 subjek. Hal ini dilakukan setiap hari di beberapa tempat yang ada di kota Lumajang hingga data setiap sampel dari populasi yang ada di kota Lumajang telah didapatkan semua. Data yang telah diperoleh dianalisa menggunakan uji normalitas. Analisa data menggunakan analisis
One Way ANOVA yaitu metode statistik untuk menguji perbedaan 3 kelompok data atau lebih
dengan menggunakan program SPSS 21.
HASIL PENELITIAN
Subjek dalam penelian ini adalah remaja laki-laki dan perempuan dengan jumlah total sebanyak 241 subjek, dimana jumlah subjek laki-laki sebanyak 128 (53%) orang dan jumlah subjek perempuan sebanyak 113 (47%) orang. Subjek penelitian berusia antara 12 – 18 tahun. (Lebih ringkas lihat tabel 1).
Tabel 1
Deskripsi Subjek Penelitian
Berdasarkan perhitungan pada skala pola attachment yang telah disebar diketahui bahwa
remaja yang mendapatkan pola secure attachment yaitu sebanyak 170 orang (70,5%).Remaja
yang mendapatkan pola anxious resistant attachment yaitu sebanyak 30 orang (12,5%).
Sedangkan remaja yang mendapatkan pola anxious avoidant attachment tinggi sebanyak
sebanyak 41 orang (17%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada remaja yang mendapatkan pola secure attachment lebih banyak dibandingkan dengan remaja yang
mendapatkan pola anxious resistant attachment dan pola anxious avoidant attachment. (Lebih
Gambar 1. Perbandingan jumlah subjek pola secure attachment, pola anxious resistant attachment dan pola anxious avoidant attachment pada remaja.
Sedangkan perhitungan t-score pada skala kecerdasan emosional diketahui bahwa remaja
yang memiliki kecerdasan emosi tinggi sebanyak 149 orang (61,8%). Sedangkan remaja yang memiliki kecerdasan emosi rendah sebanyak 92 (38,2%). (Lebih ringkas lihat gambar 2).
Gambar 2. Perbandingan jumlah subjek kecerdasan emosional tinggi dan kecerdasan
emosional rendah pada remaja berdasarkan t-score.
Uji Hipotesis
Berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada 241 remaja dapat disimpulkan bahwa hasil analisis uji beda diperoleh dengan nilai signifikan 0,006 > 0,05 yang artinya Ho ditolak maka populasi tidak identik atau ada perbedaan. Sedangkan untuk nilai rata-rata pola secure attachment terhadap kecerdasan emosional sebesar 83,01. Untuk nilai rata-rata pola anxious resistant attachment terhadap kecerdasan emosional sebesar 81,86. Dan nilai rata-rata pola anxious avoidant attachment terhadap kecerdasan emosional sebesar 80,95. Artinya nilai
rata ketiga pola attachment terhadap kecerdasan emosional memiliki perbedaan namun tidak
signifikan. (Lebih ringkas lihat tabel 2).
Tabel 2
Hasil analisis one way ANOVA perbedaan kecerdasan emosional pada remaja ditinjau dari pola attachment
Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa ada perbedaan pada kecerdasan emosional remaja awal ditinjau dari pola attahment orang tua. Subjek yang mendapatkan pola secure attachment memiliki kecerdasan emosi lebih tinggi (M=83,01) dibandingkan dengan subjek
yang mendapatkan pola anxious resistantattachment (M= 81,86) dan pola anxious avoidant attachment (M= 80,95), namun secara uji analisis menggunakan ANOVA ada perbedaan
dengan nilai signifikan 0,006 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesa penelitian yang diajukan diterima. Dimana hipotesa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa ada perbedaan kecerdasan emosional remaja awal ditinjau dari pola attachment orang tua.
Hasil penelitian ini merujuk pada teori Goleman (2000) yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi adalah lingkungan keluarga. Keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi dan hal ini dapat berkembang hingga individu beranjak dewasa. Pendapat serupa dinyatakan oleh Armsden & Greenberg (1987) menjelaskan pula bahwa remaja yang memiliki hubungan aman dengan orangtua lebih memiliki harga diri yang tinggi dan kesejahteraan emosi yang lebih baik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yessy (dalam Hermasanti, 2009) ditemukan terdapat perbedaan yang bermakna dalam kemampuan menjalin relasi pertemanan antara remaja yang memiliki pola secure attachment dengan pola attachment yang lain. Remaja
yang memiliki pola secure attachment memiliki kemampuan menjalin relasi, memperhatikan
kepentingan orang lain, dan mengembangkan hubungan pertemanan yang positif, mengutarakan pikiran yang jujur dan jelas tanpa merugikan orang lain, sehingga membuat remaja menjadi teman yang diinginkan. Selain itu penelitian Kim (2005) menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara pola secure attachment dengan kecerdasan emosional
dibandingkan dengan pola yang lainnya. Penelitian lain menunjukkan bahwa individu yang memiliki pola anxiousavoidant attachment cenderung menerima dan terlibat dalam pergaulan
Ikatan keluarga pada remaja bukanlah sesuatu yang terpisah. Ketika remaja sedang belajar untuk kehidupan otonominya, remaja sangat membutuhkan kehadiran orang tua yang mengerti mengenai perkembangan emosi remaja untuk dapat memberikan arahan dan bimbingan serta memberi kesempatan kepada remaja untuk belajar mandiri tanpa harus keluar dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal tersebut didukung oleh pernyataan yang dilakukan oleh Sutcliffe (dalam Ervika,2005) dimana sebagian besar anak membentuk kelekatan dengan orang tua dengan proporsi 50% pada ibu dan 33% pada ayah dan sisanya pada orang lain. Sedangkan menurut Jacobson dan Hoffman (1997) dalam Papalia, Olds & Feldman (2009) bila anak mendapatkan dasar aman dan dapat mempercayai respon oran tua, mereka akan merasa cukup percaya diri untuk melibatkan diri dari dunia mereka secara aktif. Anak dengan kelekatan tidak aman cenderung akan menunjukkan emosi negatif (rasa takut,
distress dan marah). Sementara anak dengan kelekatan aman terlihat lebih ceria, Kohsanka
(2002)
Selain faktor keluarga di samping pola attachment yang juga mempunyai kontribusi terhadap
terbentuknya kecerdasan emosi pada remaja adalah konsep diri serta kualitas komunikasi antara orang tua dan anak. Remaja yang memiliki konsep diri yang baik sesuai dengan kenyataan dirinya akan dapat memahami, mengenali, mampu menilai dirinya, menerima perasaan-perasaan atau emosi yang dialaminya dalam berinteraksi dengan lingkungannya, sebaliknya jika remaja memiliki konsep diri yang kurang baik akan menimbulkan perilaku negatif yang menggambarkan remaja mempunyai kontrol diri yang rendah terhadap emosinya.
Hal ini sesuai dengan penelitian Lestari (2006) yang membuktikan bahwa konsep diri mempunyai sumbangan efektif terhadap kecerdasan emosi sebesar 9,62 % disamping kualitas komunikasi orang tua dan anak yang memberikan sumbangan efektif sebesar 12,9 %. Pada dasarnya konsep diri yang mempengaruhi kecerdasan emosi remaja terbentuk karena dipengaruhi oleh proses-proses dalam keluarga. Sedangkan penelitian dari Eki dan Agustin (2010) bahwa pola pengasuhan dan pola kelekatan memberikan sumbangan efektif sebesar 51,5% terhadap penyesuaian sosial pada remaja dengan sumbangan efektif masing-masing variabel adalah 3,1% untuk variabel pola pengasuhan dan 48,4% untuk pola kelekatan. Sesuai dengan yang disampaikan oleh Goleman (2000) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi adalah faktor keluarga, faktor non keluarga, dan otak. Salah satu contoh faktor non keluarga yang mempengaruhi kecerdasan emosi remaja pernah dibuktikan melalui sebuah penelitian oleh Salovey, Stroud, Woolery & Epel, (2002) yang menemukan bahwa kecerdasan emosi siswa di sekolah dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan emosi para kepala sekolah dan hubungannya dengan teman-teman siswa itu sendiri.
SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada subjek 241 remaja awal yang berada di kota Lumajang dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima karena terdapat perbedaan antara ketiga pola attachment terhadap kecerdasan emosional dengan nilai sig 0,006 > 0,05 yang
artinya Ho ditolak maka populasi tidak identik. Hal lain juga ditunjukkan dengan hasil
rata-rata ketiga pola tersebut dimana pola secure attachment terhadap kecerdasan emosional lebih
Implikasi dari penelitian ini yaitu diharapkan remaja untuk lebih memperhatikan faktor faktor yang mempengaruhi terbangunnya kecerdasan emosi pada remaja, sehingga dapat memilah-milah faktor apa saja yang dapat meningkatkan kecerdasan emosi. Bercermin dari jaman sekarang ini keberhasilan seseorang tidak hanya didukung oleh kecerdasan inteligensi saja, tetapi kecerdasan emosi dalam menjalin hubungan dan relasi dengan berbagai pihak, baik itu merupakan hubungan interpersonal ataupun kelak ketika bekerja sama dengan instansi atau perusahaan. Mengembangkan kecerdasan emosi tidak saja bisa dilakukan dengan belajar dari pengalaman emosi kepada orang yang berada di sekitar remaja, tapi juga dapat dikembangkan melalui pelatihan-pelatihan psikologis yang ada. Kecerdasan emosi bukan merupakan bakat, tapi aspek emosi di dalam diri seseorang yang bisa dikembangkan dan dilatih.
Bagi orang tua peranan lingkungan non keluarga mempunyai kontribusi terhadap kecerdasan emosi seorang remaja, maka dari itu orang tua disarankan untuk dapat membantu remaja dalam memahami tuntutan sosial sesuai dengan norma masyarakat. Orang tua juga disarankan untuk dapat lebih memahami perkembangan remaja karena mereka membutuhkan arahan, bimbingan serta pendampingan untuk dapat menjalani tugas perkembangan agar lebih optimal. Selain itu orang tua diharapkan mengupayakan suatu hubungan yang hangat, antara lain dengan cara melibatkan remaja dalam diskusi-diskusi keluarga, memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengekspresikan perasaan, serta memberikan kebebasan yang bertanggungjawab kepada remaja untuk mengembangkan potensi dirinya di masyarakat yang lebih luas.
Bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk mengadakan penelitian dengan topik yang sama, disarankan untuk lebih mendetail lagi dalam melihat hubungan dari tiap-tiap pola
attachment dan kecerdasan emosi serta lebih memperhatikan faktor-faktor lain yang perlu
dikontrol yang mungkin mempengaruhi kecerdasan emosi pada remaja.
Individual Differences and Their Relationship to Psychological Well-Being in Adolescence. Journal of Youth and Adolescence. 16(5).
Darwis, H. (2006). “Emosi”.Jakarta: Penerbit Erlangga.
Marewati,E.D.H, Mamuroch R.W.A. (2010) Hubungan Antara Pola Pengasuhan dan Pola Kelekatan Dengan Penyesuaian Sosial Pada Remaja Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Sragen. Jurnal Psikologi, no 1, 55-56. UNS.
Ervika, E. (2005). Kelekatan (Attachment) Pada Anak. Skripsi Program Studi Fakultas
Gerungan, W.A. (2010). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Goleman, D. (2000). Emotional intelligence, kecerdasan emosional, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Goleman, D. (2007). Emotional intelligence, kecerdasan emosional. Jakarta: P.T Gramedia Pustaka Utama.
Kim, Y. (2005). Emotional and cognitive consequences of adult attachment: Th e mediating effects of the self. Personality and Individual Difference.
Lestari, R. (1997). Pengaruh Peran Ibu terhadap Perkembangan Remaja. Jurnal Kognisi,Vol 1. No 2 Nopember 1997.
Priyatno, D. (2011). Buku saku analisis statistik data SPSS. Jakarta : PT. Buku Seru.
Rahayi, S. (2010, Desember 2). Siswa SMA PGRI Lumajang tewas ditikam teman sendiri. Pesan dari: http://news.detik.com/surabaya/read/2010/12/02/142229 /1507577/475 /siswa-sma-pgri lumajang-tewas-ditikam-teman-sendiri
Saarni, C. (1999). The Development of Emotional Competence. New York: The Guilford
Salovey, S.W & Epel. (2002). Perceived Emotional Intelligence, Stress Reactivity and Symptom Report : Further Explanations Using The Trait Meta-Mood Scale. Journal of Psychology of Health, 2002, vol.17, no.5, pp.611-627. USA : Brunner &
Routledge, Taylor & Francis, Ltd.
Santrock, J. W. (2007). Adolescence Perkembangan Remaja (terjemahan Adelar, S. B., dan
Saragih, S). Jakarta: Erlangga.
Santrock, J. W. (2002). Life-Span Development. Jilid 2 (terjemahan Chusairi Achmad dan
Damanik Judo). Jakarta: Erlangga.
Smith, E.M.J & Coats, S. (1999). Attachment to Group: Theory and Measurement. Journal of Personality and social Psychology. American Psychological Assosiation. Vol 77 no
1.
Sugiyono. (2007). Statistik untuk penelitian. edisi ke13, Bandung: Alfabeta.
Tempo.co. (2014 Desember 31). Sepanjang 2014 Kejahatan Terhadap Anak Meningkat. Pesan dari: http://m.tempo.co/read/news/2014/12/31/174632007/sepanjang-2014 kejahatan-terhadap-anak-meningkat
Wildan, A. (2008). Hubungan antara religiusitas dengan agresivitas pada mahasiswa. Skripsi.
Malang: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. [online]. Tersedia dalam http://skripsi.umm.ac.id/ (20-06-2010).
Winarsunu, T. Statistik dalam penelitian psikologi dan pendidikan. Malang: UMM Press.
Yessy. 2003. Hubungan Pola Attachment dengan Kemampuan Menjalin Relasi
Pertemanan pada Remaja. Jurnal Psikologi, Vol. 12, no. 2, 1-12.
Tabel Blueprint
Skala Pola Attachment
No Indikator Pola Attachment Item Jumlah
1 Secure Attachment 1,2,3,4 4
2 Anxious Resistant Attachment 5,6,7,8 4
3 Anxious Avoidant Attachment 9,10,11,12 4
Total 12
Tabel Blue Print
Skala Kecerdasan Emosional
No Indikator Kecerdasan Emosional
Item
Jumlah
F UF
1 Mengenali Emosi Diri 1,19,21 6,24 5
2 Mengelola Emosi 2,11,20 7,13 5
3 Memotivasi Diri Sendiri 3,10,16,26 14,25 6
4 Mengenali Emosi Orang Lain 4,12,17,22 8,15 6
5 Membina Hubungan 5,9,18,27,28,29 23 7
Skala Pola Attachment dan Kecerdasan Emosional
Kepada Yth. Responden Di Tempat
Dengan hormat,
Saya Andreas Moensaku (201110230311358) mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, saat ini sedang melakukan penelitian guna penyusunan skripsi. Dalam penyusunan skripsi saya memerlukan data yang akan dianalisis. Berkaitan dengan pemerolehan data penelitian saya mengharap kesediaan saudara untuk membantu memberikan data penelitian dengan cara mengisi angket yang telah saya sediakan. Kuisioner ini tidak ada kaitannya dengan prestasi atau kinerja saudara dan juga tidak berimplikasi terhadap penilaian diri saudara. Kuisioner berisikan kesesuaian atau ketidaksesuaian saudara dengan pernyataan yang ada. Oleh sebab itu dimohon tidak ragu dalam menjawab setiap pernyataan yang tersajikan dan pilih yang sesuai dengan kondisi saudara. Penyusunan skripsi ini sangat bergantung pada data yang saudara berikan, maka saya sangat berharap saudara memastikan seluruh pernyataan telah terjawab tanpa ada yang terlewati. Atas bantuan dan kerjasama saudara saya ucapkan terima kasih.
Hormat Saya
Petunjuk Pengisian Skala.
1) Isilah identitas saudara pada tempat yang telah disediakan.
Nama/inisial : (L/P)
Umur :
2) Dibawah ini terdapat pernyataan-pernyataan, dan pada setiap pernyataan terdapat empat pilihan jawaban di skala I dan II, diantaranya :
SS : Sangat Setuju S : Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
Pilihlah salah satu jawaban yang menurut saudara tepat dan berilah tanda checklist (√) pada jawaban saudara.
2 Saat menghadapi kesulitan, saya akan memilih orang tua untuk bercerita
3 Berada dekat dengan orang tua membuat saya merasa dilindungi
4 Orang tua memberi saya kebebasan untuk memilih aktivitas yang saya senangi
5 Berpisah jauh dari orang tua membuat saya khawatir 6 Saya merasa cemas saat jauh dari orang tua
8 Saya lebih suka berada di rumah bersama orang tua
9 Orang tua saya lebih mengutamakan hal lain dibanding saya
10 Saya merasa orang tua kurang memiliki waktu untuk membantu memecahkan masalah yang saya hadapi
11 Orang tua saya mengeluh sibuk jika saya ingin menceritakan masalah saya
12 Orang tua tidak bereaksi jika saya menceritakan masalah yang saya hadapi
KECERDASAN EMOSIONAL
NO PERYATAAN STS TS S SS
1 Saya memahami perasaan-perasaan saya sendiri
2 Saya mencoba memahami alasan ketika orang lain bersikap tidak menyenangkan terhadap saya
3 Melakukan kegiatan yang bermanfaat dapat membantu saya melepaskan ketegangan
4 Saya bisa memahami apa yang orang lain alami
5 Apabila ada teman yang sedih, saya mencoba menghiburnya
6 Saya sering tidak mengerti apa yang saya rasakan
7 Ketika orang lain membuat saya marah, saya tidak mau tahu alasannya
8 Saya kurang dapat memahami apa yang orang lain rasakan
9 Saya suka memperhatikan apa yang dibutuhkan teman saat berdiskusi
11 Saya merenungkan perasaan saya terlebih dahulu sebelum saya ungkapkan kepada orang lain
12 Ketika akan menyampaikan perasaan, saya akan memperhatikan suasana hati orang lain
13 Saya sering tidak dapat menahan diri saat marah
14 Jika ada hambatan membuat saya tidak mau berusaha lagi
15 Saya bosan apabila harus mendengarkan masalah yang diceritakan orang lain
16 Saya akan segera mengatasi suatu kesulitan yang saya hadapi
17 Teman-teman senang menceritakan permasalahannya kepada saya
18 Saya senang mendengarkan cerita-cerita orang lain
19 Saya mencoba memahami apa yang membuat orang lain tersinggung dengan ucapan saya
20 Saya bisa menahan diri untuk tidak memarahi seseorang di depan orang banyak
21 Saya tahu mana yang perlu saya ucapkan kepada orang lain
22 Saya dapat merasakan kesedihan seseorang dengan melihat raut wajahnya
23 Saya tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat orang lain sedih
24 Kadang-kadang saya tidak tahu apa yang membuat saya marah
25 Saya sulit bangkit kembali dari kegagalan yang saya alami
26 Jika mengalami hambatan, saya akan mengerahkan energi yang lebih banyak dari sebelumnya
27 Saya senang untuk diajak berbagi rasa
kepada orang lain
Tabulasi Skala Pola Attachment
Subjek item1 item2 item3 item4 item5 item6 item7 item8 item9 item10 item11 item12
1 3 4 3 4 3 3 3 3 1 2 1 1
2 4 4 4 3 4 4 4 4 1 1 1 1
3 4 4 4 3 4 4 4 4 1 1 1 1
4 4 4 4 4 3 4 4 4 1 1 1 1
5 4 4 4 3 4 4 4 4 1 1 1 1
6 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2
7 3 3 4 2 3 2 3 3 1 3 2 2
8 2 2 4 4 4 4 3 2 1 1 1 2
9 4 3 3 4 3 3 4 4 3 2 2 2
10 2 3 4 3 4 4 4 3 1 2 2 2
11 3 1 3 4 4 4 3 4 1 3 1 2
12 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1
14 3 3 3 3 4 4 4 4 2 2 2 1
15 3 3 3 3 4 4 3 2 1 2 2 2
16 3 3 4 3 4 3 3 3 2 2 2 2
17 4 4 4 2 3 3 4 3 2 2 2 2
18 4 4 3 2 3 3 4 4 2 2 2 1
19 3 4 4 3 3 4 3 3 1 2 2 1
20 2 3 4 3 4 4 3 2 2 2 2 1
21 2 3 3 4 4 4 4 3 1 3 3 3
22 2 3 3 3 4 4 3 4 1 3 3 3
23 3 3 3 3 2 2 4 2 1 1 4 4
24 3 3 3 3 2 2 4 3 1 1 1 3
25 4 4 4 3 4 4 3 4 1 1 1 2
26 3 3 3 4 4 4 3 4 1 1 1 1
27 3 3 4 4 4 4 3 3 1 1 1 1
28 2 2 3 4 4 3 2 4 1 2 1 1
30 2 2 2 4 4 3 2 2 2 2 2 3
31 4 4 4 4 4 4 4 3 2 1 1 1
32 3 3 3 4 4 3 2 3 1 1 1 1
33 3 2 4 4 4 4 4 2 1 1 1 1
34 3 3 4 3 4 4 3 4 1 2 1 1
35 3 3 3 2 3 3 2 4 1 1 1 1
36 3 3 3 4 4 2 1 4 3 4 4 2
37 3 3 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1
38 3 3 4 3 4 4 4 3 2 1 1 1
39 3 3 3 4 3 3 3 2 2 2 2 2
40 4 4 4 4 4 4 3 4 3 1 1 1
41 2 3 2 1 3 2 2 3 2 3 1 2
42 2 2 3 4 3 2 3 4 2 1 2 3
43 3 4 3 3 3 4 3 4 1 2 2 1
44 2 3 3 3 3 3 2 3 4 3 2 1
46 3 3 3 2 3 3 3 2 2 2 1 2
47 3 4 3 4 2 2 3 1 1 1 1 1
48 2 3 4 4 4 4 4 4 2 2 2 4
49 3 3 4 4 4 4 4 3 1 3 2 2
50 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3
51 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2
52 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2
53 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2
54 3 3 4 3 3 3 2 3 2 2 2 2
55 3 3 4 3 3 3 3 3 2 2 2 2
56 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2
57 2 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3
58 1 2 1 2 1 4 2 3 4 2 1 1
59 1 3 2 4 2 4 2 4 2 4 1 2
60 3 3 4 3 4 4 2 3 2 2 1 1
62 4 4 3 4 3 4 4 2 2 2 4 2
63 3 4 4 3 2 2 2 3 1 3 2 1
64 3 4 3 3 4 4 2 3 2 3 3 3
65 3 3 4 4 4 4 4 4 1 2 2 2
66 3 4 4 3 4 4 4 2 2 2 2 2
67 2 3 4 4 3 3 2 2 2 3 3 1
68 2 3 4 4 3 2 2 2 1 2 1 1
69 2 3 3 3 2 3 2 3 2 1 1 2
70 4 3 4 3 4 4 2 1 2 2 3 3
71 2 3 4 3 4 4 4 1 4 3 1 2
72 2 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2
73 2 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2
74 3 4 4 2 3 3 3 2 2 2 2 1
75 2 3 4 2 4 3 3 2 2 1 1 4
76 2 3 3 1 3 3 3 2 3 3 2 3
78 3 3 3 3 4 4 4 3 2 2 2 2
79 4 4 4 3 4 4 3 3 1 2 1 1
80 2 2 2 4 4 4 2 4 1 2 2 2
81 2 3 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2
82 3 3 3 3 2 2 3 2 1 2 2 3
83 2 2 3 3 4 3 3 2 3 3 2 2
84 4 2 4 3 4 4 1 1 4 1 2 1
85 2 3 4 4 2 2 2 3 1 3 3 4
86 2 3 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2
87 1 2 3 4 1 2 3 1 2 4 1 3
88 2 1 3 2 2 3 3 2 3 4 3 2
89 3 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1
90 4 4 4 3 4 4 2 3 2 1 4 3
91 3 3 3 4 3 3 4 3 4 3 2 2
92 3 3 3 4 3 3 3 3 1 2 2 2
94 3 3 3 4 3 3 3 4 2 2 2 2
95 4 3 1 2 3 1 1 3 2 1 2 2
96 3 3 4 4 2 2 4 4 2 3 2 2
97 3 3 3 4 3 3 4 3 1 3 1 1
98 3 3 3 4 3 3 4 3 1 3 1 1
99 2 2 2 3 2 2 3 2 2 3 2 2
100 3 3 3 4 3 3 3 2 1 2 2 2
101 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 2 1
102 1 2 4 4 4 4 4 3 2 2 2 2
103 1 2 4 4 4 4 4 3 1 1 2 2
104 3 3 3 3 4 4 4 2 1 1 1 1
105 3 3 4 3 4 4 3 4 2 2 1 1
106 1 1 1 4 4 2 1 2 1 2 2 2
107 3 2 3 3 4 3 2 3 1 1 1 1
108 2 2 4 4 3 3 2 4 2 2 1 2
110 3 3 4 3 4 4 4 3 1 1 1 1
111 2 2 4 3 4 4 3 4 1 1 1 1
112 3 3 3 3 4 4 3 3 2 2 1 2
113 2 4 4 4 4 4 2 4 1 2 1 2
114 3 2 4 3 4 4 3 2 1 2 1 1
115 3 3 3 4 3 3 3 4 1 2 2 1
116 2 3 4 3 3 3 2 3 2 2 2 1
117 4 3 4 3 4 4 3 4 2 2 1 1
118 2 2 3 4 4 3 2 4 3 3 1 1
119 2 2 3 3 4 4 4 3 4 2 2 1
120 2 3 4 3 3 4 3 3 1 2 1 1
121 3 4 4 3 3 3 3 2 1 2 2 2
122 3 2 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3
123 3 3 3 3 4 4 3 4 1 2 2 2
124 3 3 4 3 3 3 4 4 1 2 2 2
126 1 2 4 1 2 3 2 1 3 4 1 2
127 1 2 4 3 3 4 3 4 4 2 1 2
128 4 3 3 3 2 3 3 4 2 2 1 1
129 3 3 4 3 4 4 4 3 1 1 1 1
130 3 3 4 3 4 4 4 3 1 1 1 1
131 3 3 3 2 3 3 3 3 2 2 2 2
132 2 2 3 3 2 3 3 4 2 3 2 1
133 3 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 2
134 3 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 2
135 3 3 4 4 4 4 4 3 1 1 1 1
136 3 4 4 3 4 4 4 4 1 2 2 2
137 3 4 4 3 4 4 4 4 1 2 2 2
138 3 4 4 3 3 3 4 3 2 2 2 2
139 4 3 4 3 4 3 3 4 1 2 2 2
140 3 4 4 3 4 4 4 4 1 1 2 2
142 3 3 4 3 2 2 2 2 2 2 2 2
143 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3
144 3 3 4 3 4 4 3 4 1 2 2 2
145 3 4 3 2 3 3 3 2 1 2 2 2
146 3 3 4 3 3 3 4 3 2 2 2 2
147 2 3 3 3 2 3 3 4 2 3 2 1
148 3 3 4 4 4 4 3 2 1 1 2 2
149 3 3 4 3 4 4 4 3 1 1 1 1
150 2 3 4 4 1 1 4 4 1 2 2 2
151 3 4 4 3 2 3 2 4 3 2 3 3
152 4 4 4 3 4 4 3 4 1 2 2 1
153 3 4 4 3 4 3 4 4 1 2 2 2
154 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 2
155 3 4 4 3 3 3 2 4 2 1 2 2
156 3 4 4 4 4 4 3 4 1 1 2 2
158 3 4 4 4 4 4 3 3 2 2 2 2
159 3 3 3 2 3 4 3 3 2 2 1 1
160 3 4 4 3 4 4 3 4 1 2 2 2
161 3 3 3 3 4 4 4 3 1 1 1 1
162 3 3 4 3 3 3 3 4 2 3 2 3
163 2 3 3 4 4 4 4 4 1 1 1 3
164 4 1 4 3 3 2 3 4 2 1 2 3
165 3 3 3 4 2 2 4 3 1 1 1 2
166 3 3 3 3 2 2 3 4 2 2 2 1
167 3 4 4 4 3 4 4 3 2 2 2 2
168 1 3 4 4 4 4 2 4 1 1 1 3
169 2 2 3 3 3 3 2 3 2 3 3 2
170 2 3 3 1 1 1 2 3 2 2 2 3
171 2 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 2
172 4 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 1
174 1 3 4 4 4 3 2 2 2 3 1 1
175 4 4 2 4 3 3 3 3 2 2 1 2
176 3 3 4 3 4 4 3 3 1 2 1 1
177 3 3 4 4 4 3 3 3 1 1 2 2
178 3 4 4 3 4 4 3 3 2 2 2 2
179 4 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2
180 3 3 3 3 3 3 2 3 1 1 2 2
181 3 4 3 3 4 3 1 3 2 1 1 1
182 3 3 3 3 4 2 2 4 1 2 2 2
183 2 2 2 3 2 2 2 2 3 3 2 3
184 3 3 3 4 3 2 2 3 2 2 2 2
185 4 4 4 3 4 3 4 3 1 2 2 2
186 4 4 4 4 2 2 1 2 2 2 1 1
187 3 4 4 4 3 3 3 3 2 2 2 2
188 4 4 4 3 4 4 3 4 1 2 2 1
190 2 3 4 3 3 4 4 3 1 2 2 1
191 4 4 3 3 3 4 3 4 1 2 2 1
192 3 1 3 3 4 3 1 4 2 3 1 2
193 3 3 3 4 3 3 4 4 2 1 2 2
194 4 2 3 3 4 4 3 2 1 2 1 1
195 3 3 4 3 4 3 4 2 1 1 2 1
196 4 3 3 4 1 2 4 3 1 3 1 1
197 3 4 4 4 2 4 4 4 1 2 2 2
198 3 4 4 3 3 4 4 2 2 1 2 2
199 2 2 3 3 2 2 3 3 2 1 2 3
200 2 2 4 3 1 1 4 3 1 2 2 2
201 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 3
202 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2
203 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 2
204 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2
206 3 3 4 3 3 3 3 3 2 2 2 2
207 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2
208 2 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3
209 2 2 1 2 1 4 2 3 4 2 1 1
210 2 3 2 4 2 4 2 4 2 4 1 2
211 3 3 3 3 3 3 3 2 1 2 2 2
212 3 3 3 4 3 3 3 2 1 2 2 1
213 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 2 2
214 1 2 4 4 4 4 4 3 1 1 2 2
215 3 3 3 3 4 4 4 2 1 1 1 1
216 3 3 4 3 4 4 3 4 2 2 1 1
217 2 1 2 4 4 2 1 2 1 2 2 2
218 3 2 3 3 4 3 2 3 1 1 1 1
219 2 2 4 3 3 3 2 4 2 2 1 2
220 2 2 4 4 4 4 4 3 1 1 1 1
222 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2
223 3 3 3 3 3 4 4 3 4 4 4 2
224 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2
225 3 3 4 3 3 3 2 3 2 2 2 2
226 3 3 4 3 3 3 3 3 2 2 2 2
227 3 3 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2
228 2 2 3 3 3 3 3 2 2 2 3 3
229 1 2 1 2 1 4 2 3 4 2 1 1
230 2 3 2 4 2 4 2 4 2 4 1 2
231 2 3 3 4 3 3 3 2 1 2 2 2
232 3 3 3 4 3 3 3 2 1 2 2 1
233 2 2 4 4 4 4 4 3 2 2 2 2
234 2 2 4 4 4 4 4 3 1 1 2 2
235 2 3 3 3 4 4 4 4 1 1 1 3
236 4 1 4 3 3 2 3 4 2 1 2 3
238 3 3 3 3 2 2 3 4 2 2 2 1
239 3 4 3 3 3 4 4 3 2 2 2 2
240 2 3 4 4 4 4 2 4 1 1 1 3
Tabulasi Skala Kecerdasan Emosional
Subjek
ITEM
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29
Pola Anxious Avoidant Attachment
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
,826 4
Item-Total Statistics
Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance
if Item Deleted
Corrected
Item-Total
Correlation
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
item33 5,675 3,661 ,744 ,738
item39 5,325 3,456 ,707 ,753
item43 5,700 4,574 ,547 ,826
item37 85,78 106,692 ,419 . ,908
Hasil Analisis Penelitian
Descriptives
Kecerdasan
N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimum Maximum
Lower Bound Upper Bound
1 67 83,01 4,419 ,540 81,94 84,09 73 89
2 71 81,86 3,870 ,459 80,94 82,78 73 89
3 103 80,95 4,042 ,398 80,16 81,74 73 89
Total 241 81,79 4,172 ,269 81,26 82,32 73 89
Test of Homogeneity of Variances
Kecerdasan
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1,727 2 238 ,180
ANOVA
Kecerdasan
Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
Between Groups 173,293 2 86,646 5,150 ,006
Within Groups 4004,334 238 16,825