• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mediasi intention to buy pada pengaruh internet marketing dan brand awareness terhadap buying decision. StudikKasus pada Starbucks Coffee Yogyakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Mediasi intention to buy pada pengaruh internet marketing dan brand awareness terhadap buying decision. StudikKasus pada Starbucks Coffee Yogyakarta"

Copied!
176
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

MEDIASI

INTENTION TO BUY

PADA PENGARUH

INTERNET

MARKETING

DAN

BRAND AWARENESS

TERHADAP

BUYING

DECISION

Studi Kasus Pada Starbucks Coffee Yogyakarta

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Manajemen

Oleh:

Agnes Sekartaji Putri NIM: 132214036

PROGRAM STUDI MANAJEMEN JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)

ii

Skripsi

MEDIASI

INTENTION TO BUY

PADA PENGARUH

INTERNET

MARKETING

DAN

BRAND AWARENESS

TERHADAP

BUYING

DECISION

Studi Kasus pada Konsumen Starbucks Coffee Yogyakarta

Oleh :

Agnes Sekaraji Putri NIM: 132214036

Telah disetujui oleh : Pembimbing I

Drs. Aloysius Triwanggono,M.S. Tanggal, 16 Juni 2017

Pembimbing II

(4)

iii

Skripsi

MEDIASI INTENTION TO BUY PADA PENGARUH INTERNET MARKETING DAN BRAND AWARENESS TERHADAP BUYING DECISION

Studi Kasus pada Starbucks Coffee Yogyakarta

Dipersiapkan dan Ditulis oleh: Agnes Sekartaji Putri

NIM: 132214036

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal 13 Juli 2017

dan Dinyatakan Memenuhi Syarat Susunan Dewan Penguji

Jabatan Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua Dr. Lukas Purwoto, M.Si

Sekertaris Maria Theresia Ernawati, S.E., M.A.

Anggota Drs. A Triwanggono, M.S.

Anggota Drs. G. Hendra Poerwanto, M.Si.

Anggota Ima Kristina Yulita, S.E., M.Sc

(5)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, Karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:34).

Believe in yourself and your own strength.

YES, things can be difficult, life can be hard at times.

You will meet many obstacles along your journey,

but know that you CAN and you will get through each and every one.

You have the strength to do so ! - Heather Stillufsen

Skripsi ini saya persembahkan untuk :

(6)

v

MEDIASI INTENTION TO BUY PADA PENGARUH INTERNET MARKETING DAN BRAND AWARENESS TERHADAP BUYING

DECISION

Studi Kasus pada Konsumen Starbucks Coffee Yogyakarta

dan diajukan utuk diuji pada tanggal, 13 Juli 2017 adalah hasil karya saya.

Saya juga menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin, atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau symbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain yang saya aku seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri, dan atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, saya tiru, atau saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan (disebutkan dalam refrensi) pada penulis aslinya.

Bila di kemudian hari terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan tersebut, maka saya bersedia menerima sanksi, yaitu skripsi ini digugurkan dan gelar akademik yang saya peroleh (S.E) dibatalkan serta diproses sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku (UU No 20 Tahun 2003, pasal 25 dan pasal 70).

Yogyakarta, 31 Juli 2017 Yang membuat pernyataan,

(7)

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Nama : Agnes Sekartaji Putri

Nomor Induk Mahasiswa : 132214036

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul :

MEDIASI INTENTION TO BUY PADA PENGARUH INTERNET MARKETING DAN BRAND AWARENESS TERHADAP BUYING DECISION” Studi Kasus: Konsumen

Starbucks Coffee Yogyakarta. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikan pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 31 Juli 2017 Yang menyatakan

(8)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terima kasih kepada Allah atas karunia dan rahmat-Nya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “MEDIASI INTENTION TO BUY PADA PENGARUH INTERNET MARKETING DAN

BRAND AWARENESS TERHADAP BUYING DECISION: Studi Kasus pada Konsumen Starbucks Coffee Yogyakarta.” Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen, Jurusan

Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulisan skripsi ini dapat selesai dengan baik berkat bantuan berbagai pihak.

Untuk itu penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Albertus Yudi Yuniarto, S.E.,M.B.A., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Univeritas Sanata Dharma.

2. Bapak Dr. Lukas Purwanto, M.Si, selaku Ketua Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma.

3. Bapak Drs. Aloysius Triwanggono, M.S. selaku dosen pembimbing I, yang telah mengarahkan dan membimbing penulis dengan kesungguhan hati.

4. Bapak Drs. Gregorius Hendra P, M.Si . selaku dosen pembimbing II, yang juga telah mengarahkan dan membimbing penulis sehingga skripsi ini

(9)

vii

5. Ibu Ima Kristina Yulita, S.E., M.Sc selaku anggota tim penguji yang telah memberi masukan yang sangat berguna.

6. Segenap dosen dan karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

7. Kedua orangtuaku, Bapak Antonius Gatot Ari Goentoro dan Ibu Fransisca Listyorini, yang selalu memberikan dukungan melalui doa, nasihat, perhatian dan cinta yang tidak terhingga sehingga memberikan

semangat yang luar biasa kepada penulis untuk menjalani semuanya dengan baik dan ikhlas.

8. Mba Cicilia yang membantu saya untuk menemukan ide atas penelitian ini.

9. Budi dan Panut yang selalu membantu saya memberikan solusi ketika mengalami kesulitan dalam mengerjakan skripsi.

10.Vian yang mau membantu saya membuat kuesioner online.

11.Teman – teman “Danus Squad” Engline, Tata, Wulan, Damaris yang selalu ada untuk menyemangati dan mengingatkan saya bila saya mulai

merasa jenuh dalam menyelasikan skripsi.

12.Valeriana, Devina, Ika yang selalu ada ketika saya sedang merasa jatuh mereka selalu bisa membuat saya melupakan sejenak.

13.Teman-teman MPT kelas Pak Triwanggono, terimakasih atas kebersamaan dan dinamika pertemuan selama satu semester, selamat

(10)

viii

14.Teman-teman angkatan 2013, terimakasih atas kebersamaan dan dinamika pertemanan selama 4 tahun perkuliahan ini.

15.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu dan telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini sehingga dapat

terselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa skrisi ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan dan pengalaman yang dimiliki penulis. Oleh karena itu, penulis

mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca guna menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat

menjadi bahan masukan bagi rekan-rekan dalam menyusun skripsi.

Yogyakarta, Juli 2017 Penulis,

(11)

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAB PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ... v

HALAMAN KATA PENGANTAR ... vi

HALAMAN DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

HALAMAN DAFTAR LAMPIRAN ... xv

HALAMAN ABSTRAK ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Massalah ... 4

C. Batasan Masalah ... 4

D. Tujuan Penelitian... 5

E. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7

A. Landasan Teori ... 7

B. Penelitian Sebelumnya ... 37

(12)

x

D. Hipotesis ... 40

BAB III METODE PENELITIAN ... 44

A. Jenis Penelitian ... 44

B. Subjek dan Objek Penelitian ... 44

C. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 45

D. Variabel Penelitian ... 45

E. Definisi Operasional ... 50

F. Populasi dan Sampel ... 53

G. Teknik Pengambilan Sampel ... 54

H. Sumber Data ... 54

I. Teknik Pengumpulan Data ... 55

J. Teknik Pengujian Instrumen ... 56

K.Teknik Analisis Data ... 57

BAB IV GAMBARAN UMUM SUBYEK PERUSAHAAN ... 61

A.Sejarah Singkat Starbucks ... 61

B.Visi dan Misi Starbucks ... 63

C. Struktur Organisasi Perusahaan ... 65

D. Logo Starbucks Coffee ... 68

E.Manajamen Sumber Daya Manusia Starbucks ... 69

F. Manajemen Pemasaran Starbukcs ... 72

G.Manajemen Operasi Starbucks ... 75

H.Manajemen Keuangan Starbucks ... 82

I. Lokasi Starbucks di Yogyakarta ... 82

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 84

(13)

xi

B. Deskipsi Karakteristik Responden ... 85

C. Deskripsi Data ... 93

D. Model Pengukuran (Outer Model) ... 97

E. Model Struktural (Inner Model) ... 103

F. Pembahasan ... 116

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 122

A. Kesimpulan ... 122

B. Saran ... 122

C. Keterbatasan ... 127

DAFTAR PUSTAKA ... 128

(14)

xii

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 38

Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 50

Tabel 5.1 Karakteristik Responden berdasarkan Usia ... 85

Tabel 5.2 Karakteristik Responden berdasarkan Universitas ... 86

Tabel 5.3 Karekteristik Responden berdasarkan Fakultas ... 87

Tabel 5.4 Karekteristik Responden berdasarkan Prodi ... 88

Tabel 5.5 Karekteristik Responden berdasarkan Semester ... 89

Tabel 5.6 Karekteristik Responden berdasarkan Media Sosial yang Digunakan 90 Tabel 5.7 Karekteristik Responden berdasarkan Media Sosial yang Digunakan untuk Informasi tentang Starbucks ... 91

Tabel 5.8 Karekteristik Responden berdasarkan Uang Saku ... 92

Tabel 5.9 Skor Variabel Internet Marketing ... 94

Tabel 5.10 Skor Variabel Brand Awareness ... 95

Tabel 5.11 Skor Variabel Intention to Buy ... 95

Tabel 5.12 Skor Variabel Buying Decision ... 96

Tabel 5.13 Hasil Uji Convergent Validity ... 98

Tabel 5.14 Indikator yang tidak Valid ... 99

Tabel 5.15 Hasil Uji Convergent Validity setelah Dihilangkan ... 99

Tabel 5.16 Hasil Uji Discriminat Validity ... 100

Tabel 5.17 Average Variance Extracted (AVE) ... 101

(15)

xiii

Tabel 5.19 Cronbrach Alpha ... 102

Tabel 5.20 Nilai R-Square ... 103

Tabel 5.21 Hasil Estimasi Path Coefficient ... 106

(16)

xiv

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

Gambar 2.1 Diagram Pemasaran Integrasi ... 12

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran ... 39

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Starbucks Coffee Yogyakarta ... 66

Gambar 4.2 Logo Starbucks ... 68

Gambar 5.1 Pengujian Model Penelitian ... 105

Gambar 5.2 Hasil Pengujian Model Direct Effect ... 112

(17)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 132

Lampiran 2 Tabel Hasil Output Data Kuesioner Penelitian ... 137

Lampiran 3 Tabel Hasil Output Data Kuesioner Penelitian yang Valid ... 142

Lampiran 4 Tabel Skor Internet Marketing ... 146

Lampiran 5 Tabel Skor Brand Awareness ... 149

Lampiran 6 Tabel Skor Intention to Buy ... 152

(18)

xvi

ABSTRAK

MEDIASI INTENTION TO BUY PADA PENGARUH INTERNET MARKETING DAN BRAND AWARENSS TERHADAP BUYING DECISION

Studi Kasus pada Starbucks Coffee Yogyakarta

Agnes Sekartaji Putri Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2017

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah: 1)internet marketing mempengaruhi brand awareness secara positif, 2) intention to buy mempengaruhi buying decision secara positif, 3) intention to buy memediasi internet marketing terhadap buying decision, 4) intention to buy memediasi brand awareness terhadap buying decision. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan snowball sampling. Data diperoleh dengan membagikan kuesioner online kepada 100 responden. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah Pertial Least Square menggunakan aplikasi WarpPLS 5.0.

Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) internet marketing berpengaruh positif terhadap brand awareness, 2) intention to buy berpengaruh positif terhadap buying decision, 3) intention to buy memediasi internet marketing terhadap buying decision, 4) intention to buy memediasi brand awareness terhadap buying decision.

(19)

xvii

ABSTRACT

INTENTION TO BUY AS A MEDIATOR ON THE INFLUENCE OF

INTERNET MARKETING AND BRAND AWARENESS ON BUYING

DECISION

A Case Study at Starbucks Coffee Yogyakarta

Agnes Sekartaji Putri Sanata Dharma University

Yogyakarta 2017

This study aims to determine whether: 1) internet marketing affects positively brand awareness, 2) intention to buy affects positively buying decision, 3) intention to buy mediates the influence of internet marketing on buying decision, 4) intention to buy mediates the influence of brand awareness on buying decision. Sampling technique used was purposive sampling and snowball sampling. Data obtained by distributing online questionnaires to 100 respondents. The data analysis technique used in this research was Partial Least Square method by using the WarpPLS 5.0.

The research results showed that 1) internet marketing affected positively brand awareness, 2) intention to buy affects positively buying decision, 3) intention to buy mediates the influence of internet marketing on buying decision, 4) intention to buy has mediates the influence of brand awareness on buying decision.

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam dunia modern saat ini, hampir mustahil meraih penjualan kepada

banyak orang dengan menawarkan barang dari pintu ke pintu. Sebab, biaya operasi dari kegiatan tersebut terlalu besar. Pemasar tidak lagi bisa berkeliling kota berteriak-teriak. Sebab, tidak banyak lagi orang yang memiliki waktu luang

untuk mendengarkan teriakan penjual. Pemasar juga tidak lagi memerlukan materi cetak yang secara terus menerus dicetak dan dikirim ke segenap calon

pembeli. Sebab, sebagian besar akan dimasukkan ke dalam tong sampah.

Pemasaran modern dalam penempatan iklan di berbagai media massa

modern seperti radio, film, media cetak, dam televise masih tetap dilakukan, tidak banyak orang yang saat ini betah berlama-lama memberikan waktu untuk melihat tayangan iklan. Agar dapat memasuki ruang pribadi setiap individu

manusia moderen secara massal, komunikasi pemasaran juga membutuhkan saluran komunikasi modern.

Perubahan teknologi komunikasi yang sangat cepat dan mengglobal, telah memberikan kesempatan para pemasar dapat menjangkau pasar sasaran yang lebih luas dan efisien. Menggunakan media internet sebagai cara menjangkau

(21)

sampai dengan 2008, (Marketing, Januari 2006). Pertumbuhan ini akan berdampak pada perilaku pengambilan keputusan pembelian konsumen.

Penggunaan internet di Indonesia berkembang dari tahun ke tahun seiring dengn perbaikan infrastruktur yang dibangun oleh para provider, baik yang

berbasis nirkabel maupun kabel. Hasil riset yang dirilis oleh majalah Marketeers (Marketeers, 27 Oktober 2011) yang dilakukan oleh MarkPlus Insight terhadap 2161 pengguna internet di Indonesia memberikan gambaran mengenai tren

penggunaan internet di Indonesia. Menurut hasil riset ini, jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2011 sudah mencapai 55 juta orang, meningkat

dari tahun sebelumnya diangka 42 juta.

Angka pertumbuhan internet di Indonesia masih didominasi oleh anak muda

dari kelompok umur 15-30 tahun. Di masing- masing kota yang disurvei oleh MarkPlus Insight, sekitar 50 persen hingga 80 persen dari pengguna internet merupakan kaum muda. Kemampuan internet yang dapat mengakses berbagai

informasi seperti berita ekonomi, olahraga jejaring sosial hingga berita hiburan secara real dan terbaru dapat terjadi karena internet memiliki jaringan informasi

yang jumlahnya sangat banyak.

Awal pemakaian internet marketing sebagai media pemasaran lebih dikenal dengan mailing list dan news group . Saat ini media social membawa tantangan

dan peluang baru bagi dunia bisnis. Hasil penelitian Garther mengatakan bahwa sedikitnya ada lebih dari 60 persen dari 1.000 perusahaan yang memiliki website

(22)

Desember 2009). Pada tahun 2007 perusahaan Dell telah mengadopsi media jejaring ini untuk menjalankan aktivitas bisnisnya dan berhasil mendapat

keuntungan sebesar $ 3 juta melalui akunnya di salah satu media jejaring sosial di internet.

Perkembangan bisnis di industri food and beverage mengalamai persaingan yang semakin ketat. Fenomena persaingan usaha sekarang ini, membuat industri

food and beverage seperti Starbucks coffee harus berusaha untuk berada dibarisan terdepan dalam benak konsumen pada saat konsumen membutuhkan. Persaingan ketat antara perusahaan membuat para pelaku bisnis terus melakukan

inovasi baru dan berani tampil berbeda dari pesaingnya. Maka Starbucks mulai memanfaatkan internet sebagai salah satu media yang digunakan untuk

mempromosikan produknya. Dalam hal ini Starbucks menggunakan media sosial untuk melakukan promosi dengan memberikan berbagai informasi menarik mengenai promosi yang diberikan Starbucks kepada konsumennya.

Starbucks adalah salah satu gerai kopi yang memiliki cabang terbesar di dunia yang berasal dari Amerika Serikat. Starbucks coffee pertama kali membuka

gerai pada tahun 1971 di Seattle, dengan total jumlah barista dan karyawan sebanyak 27 orang. Pada tahun 2011 Starbucks coffee memiliki pendapatan tahunan saat ini lebih dari 10 miliyar dolar dan melayani hampir 60 juta

pengunjung per minggu di 16.000 gerai di 61 negara (Schultz,2012). Starbucks

(23)

salah satunya di DIY (Daerha Istimewa Yogyakarta). Terdapat 6 gerai Starbucks

coffee yang tersebar di DIY.

Peneliti memilih Starbucks coffee menjadi objek penelitian dikarenakan media promosi yang digunakan Starbucks baru diindustri food and beverage

yang menggunakan media sosial sebagai alat untuk melakukan promosi. Sehingga peneliti tertarik untuk meneliti promosi yang dilakukan Starbucks melalui media sosial untuk memunculkan keputusan pembelian.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah internet marketing berpengaruh positif terhadap brand awareness ?

2. Apakah intention to buy berpengaruh positif terhadap buying decision ?

3. Apakah intention to buy memediasi pengaruh internet marketing terhadap

buying decision ?

4. Apakah intention to buy memediasi pengaruh brand awareness terhadap

buying decision ?

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat maka penulis membatasi

permasalahan yang akan diteliti, maka penulis memfokuskan pada pengaruh strategi promosi internet marketing menggunakan media sosial untuk melihat kesadaran merk Starbucks Coffee terhadap niat beli oleh konsumen kaum muda

(24)

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dan pembatasan

masalah maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui pengaruh internet marketing terhadap brand awareness.

2. Mengetahui pengaruh intention to buy terhadap buying decision.

3. Mengetahui pengaruh intention to buy memediasi pengaruh internet

marketing terhadap buying decision.

4. Mengetahui pengaruh intention to buy memediasi pengaruh brand

awareness terhadap buying decision.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi perusahaan.

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan atau sebagai informasi tambahan bagi perusahaan yang diteliti dalam rangka mengetahui efektivitas promosi melalui internet marketing dalam hal ini menggunakan

media sosial terhadap kesadaran merek dan keputusan pembelian oleh konsumen. Selain itu hasil penelitian sebagai bahan untuk mengetahui

karakterisktik dan perilaku konsumen terlebih generasi muda dalam mengkonsumsi Starbucks Coffee. Hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi perusahaan untuk melihat efektivitas penggunaan

(25)

2. Bagi Penelitian selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai refrensi dan informasi bagi

peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian di bidang pemasaran khususnya kegiatan internet marketing dengan menggunakan strategi

promosi melalui media sosial dalam sistem pemasarannya. 3. Bagi peneliti.

Penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai

(26)

7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pemasaran

a. Pengertian Pemasaran

Pemasaran (marketing) adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. American Marketing Association (AMA) menyatakan bahwa “Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi

dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan

memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan

pemangku kepentingan (Kotler dan Keller, 2009:5).

Menurut Peter Drucker “Selalu akan ada kebutuhan akan

penjualan. Namun tujuan dari pemasaran adalah membuat penjualan

berlimpah. Tujuan pemasaran adalah mengetahui dan memahami pelanggan dengan baik sehingga produk atau jasa bisa sesuai dengan

kebutuhannya sehingga terjual sendiri. Idealnya, pemasaran harus menghasilkan seorang pelanggan yang siap untuk membeli. Dengan demikian yang dibutuhkan hanyalah memastikan produk dan jasa

(27)

b. Saluran Pemasaran

Untuk mencapai pasar sasaran, pemasar menggunakan tiga jenis

saluran pemasaran. Saluran ini mencakup komunikasi menyampaikan dan menerima pesan dari pembeli sasaran. Saluran ini mencakup surat

kabar, majalah, radio, televisi, surat, telepon, papan iklan, poster, filter, CD, kaset rekaman, dan Internet. Untuk menyampaikan pesan dengan ekspresi wajah dan pakaian, perusahaan berkomunikasi

melalui tampilan toko eceran mereka, tampilan situs Internet mereka. Pemasaran semakin banyak menggunakan saluran dua arah seperti

e-mail, blog, dan nomor layanan bebas pulsa, dibandingkan saluran satu arah seperti iklan (Kotler dan Kelle, 2009:14).

Kini pasar menjadi berbeda sebagai hasil dari keuatan-kekuatan kemasyarakatan utama yang kadang-kadang saling berkaitan, yang telah menciptakan perilaku baru, peluang baru, dan tantangan

baru.

1) Teknoogi informasi jaringan, revolusi digital telah menciptakan

era informasi. Era industri dicirikan oleh produksi massal dan komunikasi massal, toko-toko penuh dengan barang, iklan di mana-mana, dan diskon yang agresif. Era informasi menjanjikan

(28)

2) Globalisasi, kemajuan teknologi dalam transportasi, pengiriman

barang dan komunikasi telah mempermudah perusahaan dalam

memasarkan produknya ke negara lain, dan juga mempermudah konsumen untuk membeli produk dan jasa dari pemasar di negara

lain (Kotler dan Keller, 2009:16).

Pelanggan masa kini menganggap perbedaan produk yang satu dengan yang lain hanya beda tipis sehingga mereka kurang loyal

terhadap suatu merek. Mereka menjadi semakin peka terhadap harga dan kualitas dan pencarian mereka akan nilai. Kemampuan baru

konsumen adalah :

1) Peningkatan yang berarti dalam hal daya beli, pembeli hanya

memerlukan satu klik untuk membandingkan harga dan atribut produk pesaing di Internet.

2) Ragam barang dan jasa yang lebih banyak, pembeli dapat

memesan barang secara online dari mana saja dan menghindari tawaran lokal yang terbatas. Selain itu dapat menghemat banyak

dengan memesan dari negara dengan tingkat harga yang lebih rendah.

3) Kemudahan yang lebih besar dalam memesan dan menerima pesanan, pembeli masa kini dapat melakukan pemesanan dari

(29)

dan dengan cepat menerima barang yang mereka pesan di kantor atau rumah.

4) Kemampuan untuk membandingkan catatan produk dan jasa,

situs jaringan sosial menyatukan pembeli yang memiliki niat yang

sama.

5) Suara lebih kuat untuk mempengaruhi teman sepergaulan dan pendapat umum, internet mendorong timbulnya hubungan

personal dan konten yang dihasilkan oleh pengguna melalui media sosial (Kotler dan Keller, 2009:17).

Untuk menanggapi perilaku baru, peluang baru dan tantangan baru kini perusahaan memiliki kemampuan baru untuk mengimbangi

kekuatan baru yang dimiliki oleh masyarakat seperti berikut :

1) Pemasar dapat menggunakan Internet sebagai saluran informasi dan penjualan yang kuat, memperluas jangkauan geografis mereka

untuk memberi informasi kepada pelanggan dan mempromosikan bisnis serta produk mereka keseluruh dunia.

2) Perusahaan dapat mempermudah dan mempercepat komunikasi

eksternal diantara pelanggan dengan menciptakan “gossip” online

dan off-line melalui para duta merek dan komunitas pengguna.

3) Pemasar dapat mengirimkan iklan, kupon, sampel, dan informasi kepada pelanggan yang memintanya atau yang telah mengizinkan

(30)

4) Perusahan dapat menjangkau pelanggan yang sedang berpergian dengan mobile marketing (Kotler dan Keller, 2009:17-18).

c. Pemasaran Terinteregasi

Aktivitas pemasaran muncul dalam sebuah bentuk. McCarthy

mengklasifikasikan aktivitas–akivitas ini sebagai sarana bauran pemasaran dari empat jenis yang disebut 4 P dari pemasaran : product (produk), price (harga), place (tempat), dan promotion (promosi).

Pemasar membuat keputusan pemasaran bauran untuk mempengaruhi saluran perdagangan mereka dan juga atau menyesuaikan penawaran

atau solusi, menginformasikan konsumen, menetapkan harga yang menawarkan nilai yang sesungguhnya dan memilih tempat dimana

(31)
(32)

d. Komunikasi pemasaran

Komunikasi pemasaran dapat didefinisikan sebagai kegiatan

komunikasi yang dilakukan oleh pembeli dan penjual, dan merupakan kegiatan yang membantu dalam pengambilan keputusan di bidang

pemasaran serta mengarahkan pertukaran agar lebih memuaskan dengan cara menyadarkan semua pihak untuk berbuat lebih baik. Komunikasi pemasaran memudahkan atau membantu pembeli dan

penjual dengan :

1) Menciptakan hubungan pertukaran.

2) Mempertahankan arus informasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran.

3) Menciptakan kesadaran serta memberitahu pembeli dan penjual agar mereka dapat melakukan pertukaran secara lebih memuaskan. 4) Memperbaiki pengambilan keputusan di bidang pemasaran

sehingga seluruh proses pertukaran menjadi lebih efektif.

Menurut Harold Lasswell dalam bukunya :”The Structure and Function of Communication in Society, in Mass Communications”

(edisi Wilbur Schramm, 1960), komunikasi dapat difahami dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut (Basu

Swastha,1999:234-236) :

1) Siapa ? (menunjukan sumber).

(33)

3) Dalam saluran yang mana ? (menunjukan media yang dipakai). 4) Kepada siapa ? (menunjukan pihak yang menerima atau menjadi

sasaran).

5) Dengan pengaruh apa ? (menunjukan pengaruh berbagai faktor

terhadap hasil yang dicapai).

2. Promosi

Michael Ray dalam buku Morissan (2010:16) mendefinisikan

promosi sebagai koordinasi dari seluruh upaya yang dimulai pihak penjual untuk membangun berbagai saluran informasi dan persuasi untuk

menjual barang dan jasa atau memperkenalkan satu gagasan.

Intrumen dasar yang digunakan untuk mencapai tujuan komunikasi

perusahaan disebut dengan bauran promosi atau promotional mix. Bauran promosi mencakup enam elemen, yaitu:

1) Iklan

Iklan dapat didefinisikan: setiap bentuk komunikasi nonpersonal mengenai suatu organisasi, produk, servis, atau ide yang dibayar

oleh satu sponsor yang diketahui.. 2) Pemasaran Langsung

Pemasaran langsung atau direct marketing adalah upaya perusahaan

atau organisasi untuk berkomunikasi secara langsung dengan calon pelanggan sasaran dengan maksud untuk menimbulkan tanggapan

(34)

3) Promosi Penjualan

Bauran promosi adalah promosi penjualan atau sales promotion.

Promosi penjualan secara umum dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu promosi penjualan yang berorientasi kepada

konsumen ditujukan kepada pengguna atau pemakai akhir suatu barang atau jasa yang mencakup pemberian kupon, pemberian sampel produk, potongan harga, undian berhadiah, kontes, dan

sebagainya. Promosi penjualan yang berorientasi kepada pedagang ditujukan kepada pihak-pihak yang menjadi perantara pemasaran

yaitu: para pedagang pengecer, pedagang besar dan distributor. 4) Hubungan Masyarakat

Mejelis Humas Dunia (World Assembly of Public Relations) mendefinisikan humas sebagai berikut: humas adalah seni dan ilmu sosial dalam menganalisis kecenderungan, memperkirakan

akibat-akibat, memberikan saran kepada pimpinan perusahaan serta melaksanakan program tindakan terencana yang melayani

baik kepentingan organisasi dan khalayaknya. 5) Penjualan Personal

Penjualan personal yaitu suatu bentuk komunikasi langsung antara

seorang penjual dengan calon pembelinya . Dalam hal ini, penjual berupaya untuk membantu atau membujuk calon pembeli untuk

(35)

6) Pemasaran Interaktif

Saat ini Internet sudah menjadi media iklan yang menarik. Banyak

praktisi pemasaran mengiklankan produk mereka baik di website sendiri maupun di wesite milik perusahaan lain. Dapat dikatakan

Internet merupakan media yang bahkan dapat digunakan untuk melaksanakan seluruh elemen bauran promosi. Selain digunakan untuk beriklan, Internet juga dapat digunakan untuk melakukan

kegiatan promosi bentuk lainnya, seperti promosi penjualan dengan kupon, kontes dan undian secara online.

3. Internet Marketing

a. Definisi Internet Marketing

Mulia (2009) mengatakan bahwa intenet marketing adalah sarana untuk memasarkan produk atau jasa melalui internet. Internet

marketing merupakan aplikasi dari internet dan teknologi – teknologi digital terkait untuk mencapai tujuan – tujuan pemasaran, teknologi – teknologi itu seperti media internet, kabel – kabel, satelit, perangkat

keras, perangkat lunak yang diperlukan untuk keperluan internet marketing tersebut (Chaffey et al,2000).

Internet marketing memiliki lima keuntungan besar bagi

perusahaan yang menggunakannya. (1) Baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar dapat melakukannya. (2) Tidak terdapat batasan

(36)

media penyiaran. (3) Akses dan pencarian keterangan sangat cepat jika dibandingkan dengan surat kilat atau bahkan fax. (4) Situsnya dapat

dikunjungi oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. (5) Belanja dapat dilakukan lebih cepat dan sendirian (Kottler dan Philip,2002).

Sedangkan McPheat (2011) mengemukakan bahwa internet marketing dapat mempengaruhi beberapa kegiatan dalam bisnis seperti iklan, promosi, public relation, dan penjualan.

b. Indikator penerapan Internet Marketing

Menurut Supranto (2006:244), dimensi yang digunakan dalam

mengukur penerapan internet marketing sebagai berikut : 1) Informasi, terdiri dari:

a) Memberikan kemudahan kepada pelanggan dalam memperoleh informasi.

b) Informasi yang tersedia sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

c) Informasi yang dapat diperoleh dalam waktu singkat.

d) Program-program yang ditawarkan memenuhi kebutuhan

konsumen.

e) Informasi yang tersedia sangat up to date. f) Informasi yang jelas kepada pelanggan.

(37)

2) Keberadaan Pelayanan, terdiri dari :

a) Fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

b) Website perusahaan dapat diakses dalam 24 jam 7 hari.

c) Teknlogi jaringan yang mengkoordinasikan kegiatan

pemasaran.

d) Memberi kemudahan dalam memelihara hubungan dengan pelanggan.

e) Kebutuhan kedua belah pihak yaitu perusahaan dan pelanggan dapat terpenuhi.

f) Pelanggan dapat dengan mudah melakukan aktivitas secara online kepada perusahaan.

3) Proses terdiri dari:

a) Proses penyampian informasi lebih baik. b) Kegiatan promosi berjalan dengan efektif.

c) Proses kegiatan pemasran secara keseluruhan menjadi mudah.

4. Media Sosial

Menurut Thoyibie (2010), social media adalah konten berisi informasi, yang dibuat oleh orang yang memanfaatkan teknologi penerbitan, sangat mudah diakses dan dimaksudkan untuk memfasilitasi

komunikasi, pengaruh dan interaksi dengan sesama dan dengan khalayak umum. Dewasa ini, praktek pemasaran melalui social media mulai

(38)

mempromosikan merek dan brand suatu perusahaan. Social media merupakan tempat berkumpulnya orang–orang yang ingin berbagi

informasi dan tempat untuk mencari teman baru serta berinteraksi dengan teman lainnya secara online.

Saat ini banyak perusahaan, brand yang menggunakan media sosial (internet marketing) untuk melakukan penetrasi pemasaran. Alasan merek membutuhkan social media marketing adalah membangun hubungan

yang riil dengan konsumen, konsumen mudah menerima pesan, memungkinkan targeting dan retargeting, memecahkan masalah dengan

segera, membangun loyalitas merek, merebut pelanggan competitor, dan efisiensi biaya (Markerteers, Agustus 2016).

5. Brand Awareness

a. Definisi Brand Awareness

Brand awareness adalah kondisi dimana seorang konsumen tahu dan sadar mengenai keberadaan sebuah produk di pasaran dengan sendirinya tanpa diberi pancingan-pancingan tertentu mengenai

sebuah kategori sebuah merek. Kesdaran merek adalah kemampuan dari konsumen potensial untuk mengenali atau mengingat bahwa suatu merek termasuk ke dalam kategori produk tertentu (Aaker

(39)

Brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian

dari suatu kategori produk tertentu (Durianto,dkk,2004:30). Kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat merek suatu

produk berbeda tergantung tingkat komunikasi merek atau presepsi konumen terhadap merek produk yang ditawarkan.

b. Tingkatan Brand Awareness

Tingkat brand awareness dapat diukur dengan melihat bagaimana sebuah merek tersebut dapat degan mudah dikenali dan

diingat kembali oleh seorang konsumen. Biasanya untuk mendapatkan tingkat brand awareness yang tinggi maka perusahaan

harus dapat mengiat emosi konsumen dengan berbagai komunikasi pemasaran, atribut dan nilai dari produk tersebut yang berkenaan secara emosional dengan konsumen.

Terdapat empat tingkatan untuk dapat membentuk suatu nilai didalam benak calon konsumen. Menurut Aaker dalam Haryanto

(1991) ada empat tingkatan yaitu :

1) Tidak menyadari merek ( Brand Unaware ).

Pada tingkat ini konsumen tidak sadar akan keberadaan merek-

merek di pasaran, dan didalam benaknya semua merek adalah sama dengan tidak mempedulikan kualitas dari merek tersebut.

(40)

2) Pengenalan merek ( Brand Recognition )

Pada tingkat ini konsumen mampu untuk mngenali merek dan

memberikan nama merek sebagai petunjuk dengan diberikan ransangan yang cukup besar mengenai mengenai suatu

kategori produk tertentu.

3) Pengingatan kembali merek ( Brand Recall )

Pada tingkat ini konsumen tidak perlu diberikan suatu

ransangan untuk menyebutkan merek-merek tertentu didalam pasaran.

4) Puncak pikiran ( Top of Mind )

Merek yang pertama kali muncul didalam benak seorang

konsumen dan disebutkan ketika ditanya mengenai sebuah kategori produk yang ada dipasaran.

Tingkat kesadaran konsumen terhadap suatu merek dapat

ditingkatkan melalui beberapa upaya sebagai berikut (Durianto,dkk,2004:57) :

1) Suatu merek harus dapat menyampaikan pesan yang mudah diingat oleh konsumen. Pesan yang disampaikan harus berbeda dibandingkan merek lainnya.

(41)

3) Symbol yang digunakan perusahaan sebaiknya memiliki hubungan dengan mereknya.

4) Perusahaan dapat menggunakan merek untuk melakukan perluasan produk, sehingga merek tersebut akan semakin

diingat oleh konsumen.

5) Perusahaan harus selalu melakukan pengulangan untuk mengingatkan ingatan konsumen terhadap merek.

c. Indikator Brand Awareness

Terdapat empat indikator yang dapat digunakan untuk

mengetahui seberapa jauh konsumen aware terhadap suatu merek, antara lain sebagai berikut (Simamora,2000) :

1) Recall, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya merek apa saja yang diingat.

2) Recognition, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali

merek terebut termasuk dalam kategori tertentu.

3) Purchase, yaitu seberapa jauh konsumen akan memasukkan

suatu merek kedalam alternatif pilihan ketika akan membeli produk atau jasa.

4) Consumption, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali

(42)

6. Intention to Buy

a. Definisi Intention to Buy

Minat adalah kecenderungan seseorang untuk merasa tertarik pada objek tertentu yag dianggap paling penting. Sedangkan need for

achievement adalah kebutuhan untuk mencapai prestasi tertentu (Weiner, 1985 dalam Arifin, 2003). Minat beli dapat diartikan sebagai keinginan untuk membeli yang merupakan bagian dari proses

menuju kearah tindakan pembelian yang dilakukan oleh seorang konsumen.

Sebelum pembelian, konsumen mulai dengan mengumpulkan infomasi produk berdasarkan pengalaman pribadi dan lingkungan

eksternal. Ketika jumlah informasi mencapai tingkat tertentu, konsumen mulai menilai dan proses evaluasi, dan membuat keputusan pembelian setelah perbandingan dan penilaian. Niat beli

sering digunakan untuk menganalisis perilaku konsumen dalam studi terkait. Niat beli konsumen berarti kecenderungan subjektif untuk

memiliki produk tertentu, dan telah terbukti menjadi faktor kunci untuk memprediksi perilaku konsumen (Fishbein dan Ajzen, 1975,et

al.,2007)

Menurut Farida dan Dini (2009), Minat beli adalah tahap kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan

(43)

pembelian aktual dengan minat beli. Pembelian aktual adalah pembelian yang memang dilakukan oleh pelanggan, sedangkan minat

beli yaitu niat untuk melakukan pembelian pada waktu yang akan datang walaupun minat beli merupakan pembelian yang tidak pasti

akan benar-benar dilakukan pada waktu yang akan datang tetapi pengukuran terhadap pembelian aktual itu sendiri (Kinnear dan Taylor, 1995 dalam Farida dan Dini, 2009).

b. Indikator Intention to Buy

1) Minat transaksional yaitu kecenderungan seseorang untuk

membeli produk.

2) Minat refrensial yaitu kecenderungan seseorang untuk

merefrensikan produk kepada orang lain.

3) Minat preferensial yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memliki preferensi utama pada produk tersebut.

Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferennya.

4) Minat eksploratif yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat

(44)

7. Buying Decision

a. Definisi Buying Decision

Keputusan pembelian adalah keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alernatif atau lebih, Schiffman dan

Kanuk dalam Sangadji dan Sopiah (2013:120).

Setiadi dalam Sangadji dan Sopiah (2013:121) mendefinisikan bahwa inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses

pengintegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif atau lebih, dan memilih salah satu

di antaranya.

Keputusan pembelian adalah proses dimana konsumen

memutuskan merek mana yang akan dibeli. Keputusan pembelian dilakukan dengan melibatkan keyakinan pada suatu produk, sehingga timbul rasa percaya diri atas kebenaran tindakan yang diambil.

Konsumen akan membeli merek yang paling disukai, tetapi dapat dipengaruhi oleh dua faktor yang berada antara niat pembelian dan

keputusan pembelian yaitu sikap orang lain dan situasi yang tidak diharapkan. Niat pembelian dapat berubah apabila situasi yang dihadapi konsumen menghambat atau memaksa untuk membatalkan

pembelian atau beralih alternatif pilihan yang lain. Preferensi dan niat membeli tidak selalu menghasilkan pembelian yang aktual

(45)

b. Definisi perilaku konsumen.

Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu,

kelompok, organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan

kebutuhan dan keinginan mereka (Kotler dan Keller,2009:166).

Menurut Mowen dan Minor dalam buku Sangaji dan Sopiah (2003:7) mendefinisikan perilaku konsumen adalah studi unit-unit dan

proses pembuatan keputusan yang terlibat dalam penerimaan, pengunaan dan pembelian, dan penentuan barang, jasa dan ide.

Schiffman dan Kanuk dalam buku Sangaji dan Sopiah (2003:7) mendefinisikan perilaku konsumen adalah perilaku yang diperlihatkan

konsumen untuk mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka.

c. Tahap-tahap keputusan pembelian

Menurut Sunyoto (2013:85) keputusan pembelian yang dilakukan oleh

konsumen memiliki struktur. Struktur keputusan pembelian antara lain: 1) Keputusan tentang jenis produk

Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah

(46)

2) Keputusan tentang bentuk produk

Konsumen akan mempertimbangkan ukuran, mutu, corak, dan

sebagainya. Perusahaan harus memperhatikan kesukaan konsumen terhadap produk yang bersangkutan agar dapat memaksimumkan

daya merek produk. 3) Keputusan tentang penjual

Konsumen akan memutuskan dimana produk tersebut akan dibeli

sehingga perusahaan harus memperhatikan bagaimana konsumen memilih penjual tertentu.

4) Keputusan tentang jumlah produk

Konsumen dapat mengambil keputusan tentang berapa banyak

produk yang harus dibeli pada suatu waktu. Perusahaan perlu mempersiapkan jumlah produk sesuai dengan keinginan konsumen yang berbeda.

5) Keputusan tentang waktu pembelian

Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan produk harus

(47)

d. Peran keputusan pembelian

Lima peran dalam keputusan pembelian menurut Suryani

(2008:13), antara lain : 1) Pencetus (Initiator)

Orang yag pertama menyarankan atau memikirkan gagasan membeli produk atau jasa tertentu.

2) Pemberi Pengaruh (Influencer)

Seseorang yang memberikan pengaruh, orang yang pandangannya atau nasihatnya diperhitungkan dalam membuat keputusan akhir.

3) Pembuat Keputusan (Decider)

Seseorang yang pada akhirnya menentukan sebagian besar atau

keseluruhan keputusan membeli, terlaksananya pembelian, apa yang dibeli saat pembelian, bagaimana proses pembeliannya atau tempat membeli.

4) Pembeli (Buyer)

Seseorang yang melakukan pembelian yang sebenarnya.

5) Pemakai (User)

Seseorang atau beberapa orang yang menikmati atau memakai produk atau jasa. Sebuah perusahaan perlu mengenali

peranan-peranan tersebut karena hal terebut mempengaruhi dalam kaitannya merancang produk, menentukan peran dan

(48)

e. Faktor yang mempengaruhi

Faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen (Kotler

dan Keller, 2009:166-175):

1) Faktor Budaya

Budaya (culture) adalah determinan dasar keinginan dan perilaku seseorang. Setiap budaya terdiri dari beberapa

subbudaya (subculture) yang lebih kecil yang memberikan

identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk anggota mereka. Dalam kelompok sering terdapat kelas sosial yaitu divisi

yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, tersusun secara hierarki, dan mempunyai anggota

yang berbagi nilai, minat dan perilaku yang sama. Kelas sosial memperlihatkan berbagai prefensi produk dan merek dibanyak bidang, mencakup pakaian, peralatan rumah, kegiatan santai, dan

mobil.

2) Faktor Sosial

Kelompok refrensi (refrence group) adalah semua kelompok yang mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut. Kelompok

yang memiliki pengaruh langsung disebut kelompok keanggotaan (membership group). Beberapa dari kelompok ini merupakan

(49)

tetangga, dan rekan kerja. Serta terdapat kelompok sekunder (secondary group) seperti: agama, profesional dan kelompok

persatuan dagang yang cenderung lebih resmi.

Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang

paling penting dalam masyarakat dan anggota keluarga memprsentasikan kelompok refrensi utama yang paling berpengaruh.

Ada dua keluarga dalam kehidupan pembeli yaitu keluarga orientasi terdiri dari orangtua dan saudara kandung. Dari

orangtua, seseorang mendapatkan orientasi terhadap agama, politik, dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri, dan cinta. Keluarga proyeksi adalah pasangan dan anak-anak. Suami-istri

dalam pembelian sangat beragam berdasarkan kategori produk.

Peran dan status. Orang berpartisipasi dalam banyak

kelompok, kelurga, klub, dan organisasi. Kelompok menjadi sumber informasi penting dan membantu mendefinisikan norma perilaku. Peran (role) teridiri dari kegiatan yang diharapkan dapat

dilakukan seseorang. Setiap peran menyadang status.

3) Faktor Pribadi

Usia dan tahap siklus hidup. Selera konsumen dalam

(50)

dengan usia. Serta bentuk konsumsi dibentuk oleh siklus hidup keluarga dan jumlah usia, serta jenis kelamin orang dalam rumah

tangga pada satu waktu tertentu.

Pekerjaan dan keadaan ekonomi. Pekerjaan juga

mempengaruhi pola konsumsi. Pekerja kerah biru akan membeli baju kerja, sepatu, dan kotak makan. Pilihan produk sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, penghasilan yang dapat

dibelanjakan , tabungan, dan aset, utang, kekuatan pinjaman, dan sikap terhadap pengeluaran dan tabungan.

Kepribadian dan konsep diri. Kepribadian adalah

sekumpulan sifat psikologis manusia yang menyebabkan respons

yang relatif konsisten dan tahan lama terhadap ransangan lingkungan

Gaya hidup adalah pola hidup seseorag di dunia yang

tercermin dalam kegiatan, minat dan pendapat. Gaya hidup memotret interaksi seseorang secara utuh dengan lingkungannya.

f. Proses keputusan pembelian (Kotler dan Keller, 2009:184-186)

1) Pengenalan Masalah

Proses pembelian dimulai ketika knsumen menyadari suatu

(51)

normal seseorang naik ke tingkat maksimun dan menjadi dorongan atau kebutuhan bisa timbul karena dorongan eksternal

2) Pencarian Informasi

Konsumen dapat membedakan antara dua tingkat keterlibatan

dengan pencarian. Keadaan pencarian yang lebih rendah disebut perhatian tajam. Pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih reseptif terhadap informasi tentang sebuah produk. Pada tingkat

berikutnya orang akan masuk pada tahap pencarian informasi aktif. Sumber informasi utama dibagi menjadi empat :

a. Pribadi : keluarga, teman, tetangga, rekan.

b. Komersial : iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan,

tampilan.

c. Publik : media massa, organisasi pemeringkat konsumen. d. Eksperimental : penanganan, pemeriksaaan, penggunaan

produk. 3) Evaluasi Alternatif

Konsumen memproses informasi merek kompetitif dan melakukan penilaian nilai akhir dengan proses evaluasi: (1) konsumen berusaha memuaskan sebuah keputusan. (2) konsumen mencari

(52)

kemampuan untuk menghantarkan manfaat yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan.

4) Keputusan Pembelian

Tahap dalam proses pengambilan keputusan pembelian sampai

konsumen benar-benar membeli produk. Biasanya pembelian konsumen adalah pembelian merek yang paling disuka.

5) Perilaku Pasca pembelian

Tahap dalam proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli

berdasarkan kepuasan atau ketidak puasan yang mereka rasakan. Hubungan antara harapan konsumen dengan kinerja yang

dirasakan dai produk merupakan faktor yang menentukan apakah pemebeli puas atau tidak ( Sangaji dan Sopiah,2013:37-38).

g. Indikator Buying Decision

Terdapat tiga indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keputusan pembelian yang dilakukan konsumen sebelum

membeli (Hawkins,2010):

1. Product selection yaitu para konsumen atau pengguna melakukan evaluasi pemilihan produk sebelum membeli. Hal ini berarti

(53)

2. Brand selection yaitu dimana konsumen atau pengguna melakukan keputusan pembelian berdasarkan pertimbangan

suatu merek.

3. Store selection yaitu tempat atau letak yang dapat

mempermudah para konsumen dalam mencari produk (kemudahan dalam mencari suatu produk).

8. Hubungan antara Internet Marketing dengan Brand Awareness

Internet marketing merupakan segala bentuk usaha yang dilakukan perusahaan untuk mempromosikan produk atau jasa mereka melalui

internet. Internet yang berkembang sangat pesat dapat dijadikan sisi positif perusahaan untuk memasarkan produk secara cepat dan efisien. Dalam hal

ini internet marketing berperan penting dalam brand awareness konsumen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ricard dan Jony

(2010) dengan judul “Analisis Pengaruh Internet Marketing terha dap

Pembentukan Word of Mouth dan Brand Awareness untuk Memunculkan

Intention to Buy” menyatakan bahwa internet marketing berpengaruh positif terhadap brand awareness.

9. Hubungan antara Internet Marketing dengan Intention to Buy

Internet marketing merupakan segala bentuk usaha yang dilakukan perusahaan untuk mempromosikan produk atau jasa mereka melalui internet. Internet yang berkembang sangat pesat dapat dijadikan sisi positif

(54)

ini internet marketing berperan penting dalam intention to buy pada konsumen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Albert Joshua

(2014) yang berjudul “Pengaruh Internet Marketing, Media Sosial dan

Experiental Marketing dalam Minat Beli Es Krim Magnum” mengatakan bahwa internet marketing berpengaruh positif terhadap intention to buy.

10.Hubungan antara Internet Marketing dengan Buying Decision

Internet marketing merupakan segala bentuk usaha yang dilakukan perusahaan untuk mempromosikan produk atau jasa mereka melalui internet. Internet yang berkembang sangat pesat dapat dijadikan sisi positif

perusahaan untuk memasarkan produk secara cepat dan efisien. Dalam hal ini internet marketing berperan penting dalam buying decision pada

konsumen. Berdasarkan peneliatian ang dilakukan oleh Singgih

Nurgiyanto (2014) yang berjudul “Pengaruh Strategi Promosi Melalui

Social Media terhadap Keputusan Pembelian Garskin yang Dimediasi

Word of Mouth Marketing” mengatakan bahwa internet marketing

berpengaruh positif terhadap buying decision.

11.Hubungan antara brand awareness dengan intention to buy

Kesadaran merek berperan penting bagi konsumen dalam memunculkan niat beli akan suatu produk dari merek tertentu. Karena

ketika konsumen sadar akan keberadaan suatu merek maka konsumen akan mencari informasi lebih lanjut mengenai produk tersebut.

(55)

dengan judul “Analisis Pengaruh Internet Marketing terhadap

Pembentukan Word of Mouth dan Brand Awareness untuk Memunculkan

Intention to Buy” menyatakan bahwa brand awareness berpengaruh positif terhadap intention to buy.

12.Hubungan anatara brandawareness dengan buying decision

Kesadaran merek berperan penting bagi konsumen ketika mengambil sebuah keputusan pembelian karena ketika konsumen sadar akan

keberadaan suatu merek maka konsumen akan mencari informasi lebih lanjut mengenai produk tersebut sebelum memutuskan untuk membeli

atau tidak. Penelitian yang dilakukan oleh Favian Firwan (2015) yang

berjudul “Pengaruh Kesadaran Merek, Presepsi Kualitas dan Promosi

Periklanan Terhadap Keputusan Pembelian Handphone Samsung”

mengatakan bahwa brand awareness berpengaruh positif terhadap buying decision. Sementara itu penelitian dilakukan oleh Ricard dan Jony (2010)

dengan judul “Analisis Pengaruh Internet Marketing terhadap

Pembentukan Word of Mouth dan Brand Awareness untuk Memunculkan

(56)

13.Hubungan antara intention to buy dengan buying decision

Penelitian yang dilakukan oleh Herche (1994), yang dikutip oleh Yoestini

dan Eva (2007) menunjukkan antara minat beli dan keputusan pembelian

memiliki pengaruh yang positif. Minat beli konsumen yang tinggi akan

mendorong konsumen membeli suatu produk.

B. Penelitian Terdahulu

(57)

Tabel 2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Penelitian Lembaga Variabel Alat Analisis

Penelitian dalam Minat Beli Es Krim Magnum

Universitas

3. Singgih Nurgiyanto Pengaruh Strategi Promosi Melalui

(58)

Terdapat persamaan dan perbedaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang dibuat penulis. Persamaan dengan penelitian terdahlu adalah menggunakan

beberapa variabel yang sama yaitu : internet marketing, brand awareness, intention to

buy. Selain itu perbedaan dengan penelitian terdahulu adalah penelitian ini menambah satu variabel yaitu buying decision, karakteristik responden yang lebih spesifik yaitu mahasiswa S1 di Yogyakarta, alat analisis penelitian yang digunakan adalah PLS

(Partial Least Square).

C. Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka berpikir dari penelitian ini dapat digambarkan secara sistemastis

(59)

D. Hipotesis

1. Hubungan antara internet marketing terhadap brand awareness

Intenet marketing adalah sarana untuk memasarkan produk atau jasa melalui internet Mulia (2009). Brand awareness adalah kondisi dimana

seorang konsumen tahu dan sadar mengenai keberadaan sebuah produk di pasaran dengan sendirinya tanpa diberi pancingan-pancingan tertentu mengenai sebuah kategori sebuah merek.

Semakin menarik internet marketing dikelola oleh Starbucks, maka semakin tinggi brand awareness yang terbentuk didalam benak seorang

konsumen potensial.

H1 : Internet marketing secara langsung berpengaruh positif terhadap

brand awareness

2. Hubungan antara internet marketing terhadap intention to buy

Intenet marketing adalah saran untuk memasarkan produk atau jasa melalui internet Mulia (2009). Minat beli dapat diartikan sebagai keinginan untuk membeli yang merupakan bagian dari proses menuju kearah tindakan

pembelian yang dilakukan oleh seorang konsumen.

Semakin menarik informasi internet marketing, maka semakin besar

intention to buy yang terbentuk dalam benak konsumen potensial.

H2 : Internet marketing secara langsung berpengaruh positif terhadap

(60)

3. Hubungan internet marketing terhadap buying decision

Intenet marketing adalah saran untuk memasarkan produk atau jasa melalui internet Mulia (2009). Keputusan pembelian adalah keputusan sebagai

pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alernatif atau lebih, Schiffman dan Kanuk dalam Sangadji dan Sopiah (2013:120).

Semakin menarik informasi internet marketing , maka semakin yakin

konsumen potensial dalam melakukan buying decision.

H3 : Internet marketing secara langsung berpegaruh positif terhadap

buying decision

4. Hubungan antara brand awareness terhadap intention to buy

Brand awareness adalah kondisi dimana seorang konsumen tahu dan sadar mengenai keberadaan sebuah produk di pasaran dengan sendirinya tanpa diberi pancingan-pancingan tertentu mengenai sebuah kategori sebuah merek.

Minat beli dapat diartikan sebagai keinginan untuk membeli yang merupakan bagian dari proses menuju kearah tindakan pembelian yang dilakukan oleh

seorang konsumen.

Semakin tinggi brand awareness konsumen terhadap produk Starbucks, maka semakin besar intention to buy terhadap produk Starbucks.

H4 : Brand awareness secara langsung berpengaruh positif terhadap

(61)

5. Hubungan antara brand awareness terhadap buying decision

Brand awareness adalah kondisi dimana seorang konsumen tahu dan sadar mengenai keberadaan sebuah produk di pasaran dengan sendirinya tanpa diberi pancingan-pancingan tertentu mengenai sebuah kategori sebuah merek.

Keputusan pembelian adalah keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alernatif atau lebih, Schiffman dan Kanuk dalam Sangadji dan Sopiah (2013:120).

Semakin tinggi brand awareness konsumen terhadap produk Starbucks, maka semakin yakin konsumen melakukan buying decision.

H5 : Brand awareness secara langsung berpengaruh positif terhadap

buying decision

6. Hubungan antara intention to buy terhadap buying decision

Minat beli dapat diartikan sebagai keinginan untuk membeli yang merupakan bagian dari proses menuju kearah tindakan pembelian yang

dilakukan oleh seorang konsumen. Keputusan pembelian adalah keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alernatif atau lebih,

Schiffman dan Kanuk dalam Sangadji dan Sopiah (2013:120).

Semakin besar intention to buy terhadap produk Starbucks, maka semakin yakin konsumen melakukan buying decision.

H6 : Intention to buy secara langsung berpengaruh positif terhadap

(62)

7. Hubungan antara internet marketing terhadap buying decision melalui

intention to buy

Intenet marketing adalah saran untuk memasarkan produk atau jasa melalui internet Mulia (2009). Keputusan pembelian adalah keputusan sebagai

pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alernatif atau lebih, Schiffman dan Kanuk dalam Sangadji dan Sopiah (2013:120). Minat beli dapat diartikan sebagai keinginan untuk membeli yang merupakan bagian dari proses menuju

kearah tindakan pembelian yang dilakukan oleh seorang konsumen.

H7 : intention to buy memediasi pengaruh internet marketing terhadap

buying decision.

8. Hubungan antara brand awareness terhadap buying decision melalui

intention to buy

Kesdaran merek adalah sebuah kemampuan dari seorang pembeli potensial untuk mengenali atau memanggil ulang (mengingat) bahwa

Keputusan pembelian adalah keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan alernatif atau lebih, Schiffman dan Kanuk dalam Sangadji dan

Sopiah (2013:120). Minat beli dapat diartikan sebagai keinginan untuk membeli yang merupakan bagian dari proses menuju kearah tindakan pembelian yang dilakukan oleh seorang konsumen.

H8 : intention to buy memediasi pengaruh brand awareness terhadap

(63)

44

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Metode penlitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penelitian kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan instrument penelitian dan analisis data bersifat kuantitatif yang betujuan menguji hipotesisnya yang telah ditetapkan.

Penelitian kuantitatif bertujuan untuk mengungkap hubungan sebab – akibat antar variabel yang digolongkan sebagai jenis penelitian kausal. Penelitian

kausal, selain mengukur kekuatan hubungan anatara dua variabel atau lebih, juga menunjukkan arah hubungan antara variabel bebas dan terikat.

B. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah konsumen potensial Starbucks coffee

yang berstatus sebagai mahasiswa S1 di Yogyakarta, serta pernah membaca atau mendengar informasi mengenai promosi yang dilakukan oleh Starbucks

melalui media sosial. 2. Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah informasi promosi Starbucks

(64)

C. Waktu dan Lokasi Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Mei 2017. 2. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Yogyakarta.

D. Variabel Penelitian

1. Identitas Variabel

a. Variabel Bebas ( Independent VariableI)

Variabel bebas (Independet Variable) menurut

(Sugiyono,2009:59) adalah variabel yang memengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Variabel

bebas dalam penelitian ini adalah Internet Marketing (X1) dan brand awareness (X2) .

b. Variabel Antara (Intervening Variabel)

Variabel antara (intervening variabel) adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen

dengan dependen, tetapi tidak dapat diamati atau diukur. Variabel ini menyebabkan variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya variabel dependen (Wiyono,2011:31). Variabel antara

(65)

c. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono,2009:59). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah

Buying Decision (Y). 2. Definisi Variabel

Definisi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Internet Marketing

Mulia (2009) mengatakan bahwa intenet marketing adalah

sarana untuk memasarkan produk atau jasa melalui internet. Internet

marketing merupakan aplikasi dari internet dan teknologi – teknologi digital terkait untuk mencapai tujuan – tujuan pemasaran, teknologi – teknologi itu seperti media internet, kabel – kabel, satelit, perangkat keras, perangkat lunak yang diperlukan untuk keperluan internet

marketing tersebut (Chaffey et al,2000).

Penelitian yang dilakukan Kusuma (1999) menemukan bahwa

penggunaan internet (internet marketing) berdampak terhadap bauran pemasaran, dan yang paling banyak terkena dampaknya adalah promosi. Dalam hal ini kegiatan promosi didalam internet marketing

(66)

b. Brand Awareness (Kesadaran Merk)

Kondisi dimana seorang konsumen tahu dan sadar mengenai

keberadaan sebuah produk di pasaran dengan sendirinya tanpa diberi pancingan-pancingan tertentu mengenai sebuah kategori sebuah

merek. Kesdaran merek adalah sebuah kemampuan dari seorang pembeli potensial untuk mengenali atau memanggil ulang (mengingat) bahwa sebuah merek adalah bagian dari sebuah kategori

produk tertentu (Aaker, 1991:61). c. Intention to Buy ( Minat Beli )

Minat adalah kecenderungan seseorang untuk merasa tertarik pada objek tertentu yag dianggap paling penting. Sedangkan need for

achievement adalah kebutuhan untuk mencapai prestasi tertentu (Weiner, 1985 dalam Arifin, 2003). Minat beli dapat diartikan sebagai keinginan untuk membeli yang merupakan bagian dari proses

menuju kearah tindakan pmbelian yang dilakukan oleh seorang konsumen.

Menurut Farida dan Dini (2009), Minat beli adalah tahap kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar – benar dilaksanakan.

d. Buying Decision (Keputusan Pembelian)

Keputusan adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif

(67)

membuat keputusan harus terdapat alternatif pilihan. Sebaliknya jika konsumen tidak dapat dikategorikan sebagai pengambilan keputusan.

Terdapat tiga tingkat pegambilan keputusan oleh konsumen dari usaha yang paling tinggi ke usaha yang paling rendah, yaitu: extensive

problem solving, limited problem solving dan routinized response

behavior (Schiffman dan Kanuk, 2000:438).

1) Pengambilan keputusan diperluas (extensive problem solving)

Ketika konsumen belum memiliki kriteria untuk mengevaluasi kategori produk atau merek yang memenuhi kategori tertentu atau

banyaknya merek yang harus dipertimbangkan terlalu banyak, usaha pengambilan keputusan tersebut dikategorikan sebagai

pengambilan keputusan diperluas. Pada tingkat pengambilan keputusan diperluas konsumen memerlukan informasi yang banyak untuk menentukan kriteria guna mengambil keputusan.

2) Pengambiln keputusan terbatas (limited problem solving)

Pada tingkat ini, konsumen telah menentukan kriteria dasar untuk

melakukan evaluasi kategori produk dan berbagai merek untuk kategori produk tersebut. Pencarian informasi tambahan tentang masing – masing merek ditujukan agar pilihan menjadi lebih baik.

3) Perilaku respon rutinitas (routinized response behavior)

Pada tingkat ini, konsumen telah memiliki beberapa pengalaman

Gambar

Tabel 5.22 Hasil Pengujian Hipotesis Keseluruhan  ............................................
Gambar 2.1     Diagram Pemasaran Integrasi  .....................................................
Gambar 2.1 Diagram Pemasaran Integrasi
Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Internet Marketing Terhadap Pembentukan Word of Mouth dan Efektivitas Iklan Dalam Meningkatkan Brand Awareness.. Jurnal

Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti pengaruh brand awareness dan perceived quality terhadap purchase intention: brand

H4 : Diduga bahwa faktor yang berpengaruh paling dominan adalah Brand Awareness terhadap Buying Decision Sepeda Motor Honda (Study Kasus Mahasiswa UIN

Reliability Test Result Variable Composite Reliability Brand Awareness 0.850 Online Advertising 0.896 Purchase Decision 0.933 Social Media Marketing 0.850 Source: primary data

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh brand awareness terhadap repurchase intention dan brand loyalty sebagai variabel mediasi pada konsumen Queen Apple di Kota Batu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bukti empiris mengenai pengaruh dan hubungan brand image, brand awareness dan brand loyalty terhadap purchase decision dengan perceived quality

Standardized Indirect Effect Information Abundance Simplicity Motive Perceived Enjoyment Intention to Buy .000 .000 .000 Online Buying Behavior .043 .043 .086 Sumber: Data

PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian tentang Pengaruh Internet marketing dan Exeriental Markeitng Terhadap pembentukan Brand Awareness dapat di ketahui bahwa dari kedua variabel