Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 1 APLIKASI LIMA FORMULA PUPUK NITROGEN YANG DILAPIS BAHAN LOKAL TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (ZEA MAYS L. SACARATHA)
Abi Daulah Haque
Universitas Jenderal Soedirman, Indonesia Email: [email protected]
INFO ARTIKEL ABSTRAK
Diterima 3 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Agustus 2020
Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2020
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh lima formula pupuk N slow release terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis, dan (2) formula pupuk N slow release yang tepat untuk memperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis yang terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada September 2018 sampai dengan Januari 2019 di desa Kebumen kecamatan Baturraden kabupaten Banyumas dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan polybag dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 1 faktor dan 4 kali ulangan. Faktor berupa lima (5) pupuk formula N slow yaitu 5 macam perbandingan jumlah bahan penyusun yang berbeda-beda dan 1 buah kontrol, yaitu F0/kontrol (5,25 g tanaman-1), F1 (10 g tanaman-1), F2 (7,7 g tanaman-1), F3(9,1 g tanaman1), F4(7,5 g tanaman-1), dan F5 (7,9 g tanaman-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk nitrogen slow release yang dilapis bahan lokal berpengaruh nyata pada pada variabel tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, bobot segar tajuk, dan bobot segar tongkol. Formula pupuk nitrogen yang dilapis bahan lokal terbaik yaitu F4 dengan formula (70% Urea, 10% Azolla microphylla, 10% Gondorukem, 10% Asam humat). Pupuk N slow release F4 meningkatkan produksi bobot tongkol segar sebesar 58% dibanding kontrol.
Kata kunci:
Pupuk nitrogen, jagung manis.
Pendahuluan
Ketersediaan lahan pertanian potensial semakin berkurang dengan bertambahnya jumlah populasi masyarakat. Pertambahan populasi yang melaju cepat menuntut ketersediaan pangan dalam jumlah cukup dan mutu yang memadai. Ketersediaan pangan sangat tergantung pada tingginya kesuburan tanah. Penambahan unsur hara dalam bentuk pupuk sangat berguna untuk kesuburan tanah maupun untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk yang mengandung unsur hara nitrogen merupakan salah satu unsur yang diperlukan
dalam jumlah paling banyak untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman..
Pemberian pupuk nitrogen pada umumnya kurang efisien, karena keberadaan nitrogen dalam tanah bersifat mobile sehingga mudah hilang dari tanah melalui pencucian maupun penguapan, sehingga nitrogen yang tersedia langsung bagi tanaman sangat sedikit. Pupuk nitrogen yang disebarkan pada tanaman tidak semua dapat diserap oleh tanaman. Sekitar 40-70% nitrogen dari pupuk N akan hilang ke lingkungan dan tidak dapat diserap oleh tanaman. Tanaman hanya
2 Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 menyerap 30% dari pupuk nitrogen yang
diberikan (Doberman & Fairhust, 2000). Pupuk Nitrogen slow release fertilizers merupakan terobosan baru dan terdepan dalam penyediaan unsur hara nitrogen bagi tanaman. Pupuk ini dapat melepaskan unsur hara bertahap sesuai kebutuhan tanaman, meminimalisasi pencucian, sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Pupuk ini bersifat ramah lingkungan karena mengurangi kehilangan N (Du et al., 2007). Pupuk N slow release dapat menghemat penggunaan pupuk, yang biasanya dilakukan petani tiga kali dalam satu kali musim tanam; cukup dilakukan sekali, sehingga selain menghemat penggunaan pupuk juga tenaga kerja (Nainggolan et al., 2009). Agar efisiensi pupuk N meningkat maka pupuk Nurea memerlukan perlindungan menggunakan polimer organik dan mineral. Pelapisan pada pupuk menggunakan polimer organik bertujuan untuk merubah karakteristik kelarutan nutrisi, dan mengontrol pelepasan nutrisinya sehingga meningkatkan efektifitas pemakaian pupuk (Yerizam et al., 2017)
Jagung manis (Zea mays L. sacaratha) merupakan tanaman yang cukup populer di masyarakat Indonesia. Selain rasanya enak, kandungan karbohidrat, protein serta kadar gulanya cukup tinggi tetapi kandungan lemaknya rendah. Permintaan pasar tehadap jagung manis terus meningkat, kebutuhan yang cenderung meningkat dan harga yang tinggi merupakan faktor yang dapat merangsang para petani untuk mengembangkan usaha tanaman jagung manis (Stenly Mauke, M Ikhbal Bauke, 2015) Secara umum tanaman jagung dalam pertumbuhan pada fase awal sampai masak fisiologis membutuhkan nitrogen sekitar 120-180 kg/ha (Halliday & Trenkel, 1992) sedangkan N yang terangkut ke tanaman jagung hingga panen sekitar 129-165 kg N/ha dengan tingkat hasil 9,5 t/ha (Barber dan Olson 1968 dalam Halliday dan Trenkel 1992). Nitrogen
yang diserap pada tanaman tersebut merupakan hara esensial yang berfungsi sebagai bahan penyusun asam-asam amino, protein dan khlorofil yang penting dalam proses fotosintesis serta bahan penyusun komponen inti sel (Jones, J.B., B. Wolf, 1991) Pupuk P dan K memegang peranan penting dalam peningkatan produksi tanaman jagung selain pupuk N. Saat ini penggunaan pupuk pada tanaman jagung belum rasional dan berimbang.Pupuk yang rasional dan berimbang dapat tercapai apabila takaran pupuk memperhatikan status hara serta kebutuhan tanaman untuk mencapai hasil yang optimal (Balai Penelitian Tanah, 2008)
Produksi Produktivitas jagung manis di Indonesia masih rendah yaitu rata-rata 6-8 ton/ha. Produksi jagung manis di Indonesia pada tahun 2010 sampai 2015, terjadi 2 kali penurunan produksi jagung, yaitu tahun 2011 produksi jagung turun sebesar 3,73% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 17,643 juta ton, pada tahun 2012 produksi jagung manis adalah 19,377,030 dan tahun 2013 produksi jagung turun sebesar 4,51% dibandingkan tahun sebelumnya atau mencapai 18,512 juta ton (Statistik, 2014) Kebutuhan akan tersedianya jagung manis dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut (Sari & Syukur, 2013) pada tahun 2008-2010 impor jagung manis mengalami peningkatan sebesar 6,26% per tahun. Hal ini menandakan bahwa produksi jagung manis nasional belum mencukupi kebutuhan pasar.
Fenomena tersebut terjadi karena beberapa faktor, salah satunya disebabkan oleh produktifitas jagung manis yang tidak bisa mengimbangi permintaan ditambah dengan biaya produksi yang tinggi. Rendahnya produktivitas jagung terjadi karena menurunnya kualitas tanah yang disebabkan hilangnya unsur hara khususnya ketebalan nitrogen. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan suatu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman jagung manis, salah satu cara yang dapat digunakan
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 3 adalah memperbaiki kualitas tanah dengan
menggunakan pupuk nitrogen slow release. Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada September 2018 – Januari 2019 di desa Kebumen kecamatan Baturraden kabupaten Banyumas, Laboratorium Agronomi Hortikulutra dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain 5 formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal (Azolla microphylla, asam humat, montmorilonit, gondorukem), air, benih tanaman jagung manis varietas talenta, media tanam berupa tanah, pupuk urea, pupuk SP-36, pupuk KCl. Alat yang digunakan ember, mesin penggiling, pengaduk, timbangan analitik, polybag, lembar pengamatan, penggaris, kalkulator, kertas label, dan alat tulis.
Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) satu faktor. Yang terdiri atas 5 macam formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal dan 1 macam kontrol dengan komposisi pupuk urea, SP-36 dan KCL. Percobaan diulang 4 kali, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Data di analisis dengan Analysis of varians (Anova), dan dilanjutkan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) jika berbeda nyata.
Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot akar segar, bobot segar tongkol, bobot tongkol kering, bobot tajuk basah, bobot tajuk kering, dan pH tanah. Data dianalisis menggunakan uji F, dan untuk hasil yang berbeda nyata dilakukan uji lanjut DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) pada taraf 5%.
Hasil dan Pembahasan
Hasil Tabel 1.Hasil sidik ragam (uji F) pengaruh perlakuan pupuk nitrogen yang dilapis bahan lokal terhadap variabel pengamatan.
No
Variabel
Perlakuan
1
Bobot Segar Akar
tn
2
Luas Daun
n
3
Tinggi Tanaman
n
4
Jumlah Daun
n
5
Bobot Segar Tajuk
n
6
Bobot Segar Tongkol
n
7
pH Tanah
tn
8
Bobot Kering Tajuk
tn
Keterangan:: tn = tidak nyata, n = nyataBerdasarkan hasil analisis penelitian bahwa perlakuan pupuk nitrogen yang dilapis bahan lokal terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis dilihat tabel 1, menunujukan dari 10 variabel bahwa perlakuan pupuk nitrogen yang dilapis bahan lokalberbeda nyata terhadap variabel tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, bobot segar tajuk, dan bobot segar tongkol dan tidak berbeda nyata terhadap, bobot segar akar, pH tanah, dan bobot kering tajuk, Hasil rata-rata variabel pengamatan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis dengan pemberian aplikasi formula pupuk nitrogen yang dilapis bahan lokal disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil rata-rata variabel dan uji DMRT pengamatan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis dengan pemberian aplikasi formula pupuk nitrogen yang dilapis bahan lokal.
Pembahasan 1. Luas Daun
Berdasarkan Tabel 2, setelah dilakukan analisis ragam bahwa semua perlakuan kontrol dan formula pupuk nitrogen F1 hingga F5 berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan luas daun pada pertumbuhan tanaman jagung manis. Luas daun tanaman jagung manis berdasarkan
4 Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 perlakuan formula pupuk disajikan pada
Tabel 2.
Hasil uji DMRT menunjukan bahwa formula pupuk N slow release F4 dan F5 berbeda terhadap kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dengan F1, F2, dan F3. Perlakuan pupuk N slow release F4 sebesar 454,72 cm2 ada kenaikan sebesar 24,5 % dibanding kontrol dan F5 sebesar 437,72 dengan kenaikan 19,7% terhadap kontrol (N tanpa di slow release). Penelitian lain dengan pupuk yang sama pada
tanaman bayam oleh Kurniawan (2019) mendapatkan hasil yang sama yaitu dengan penelitian ini berbeda nyata dengan kontrol pada perlakuan pupuk N slow release F4 dan F5.
Hasil penelitian variabel luas daun jagung berbeda nyata pada perlakuan pupuk N slow release F4 dan F5. Diduga perlakuan F4 memberikan hasil luas daun tertinggi dikarenakan kandungan Azolla mycrophylla mengandung nitrogen, gondorukem untuk mengurangi penguapan, dan asam humat sebagai pembenah tanah terbukti efektif dalam memperlambat kelarutan N, sehingga pasokan N untuk jagung manis optimal selama kurun waktu pertumbuhan tanaman. Menurut (Gardner, F.B., R.B. Pearce, 1991) efesiensi fotosintesis terjadi bila luas daun lebih lebar, sehingga produk fotosintat menjadi lebih optimal. Sementara itu pupuk formula N slow release F5 dengan menggunakan monmorilonite memberi pengaruh nyata. Keberadaan polimer tersebut diduga mampu memperlambat kelarutan N, sehingga ketersediaan N disekitar perakaran berlangsung lama. Perlakuan ini mampu menahan terjadinya peluruhan hara sehingga hara tetap tersedia di tanah untuk diserap tanaman (Kurniawan, 2019) Adanya unsur hara khususnya N menyebabkan bahan penyerapan N oleh akar optimal, dan karena N merupakan bahan penyusun daun, maka luas daun juga optimal (Lakitan, 2012). 2. Jumlah Daun
Berdasarkan Tabel 5, setelah dilakukan analisis ragam, semua perlakuan formula pupuk nitrogen F1 hingga F5 berpengaruh nyata (Tabel 5) terhadap variabel jumlah daun pada pertumbuhan tanaman jagung manis. Hasil analisis ragam parameter jumlah daun setelah diuji dengan DMRT pada taraf 5% menunjukkan pengaruh yang nyata. Jumlah daun tanaman jagung manis berdasarkan perlakuan formula pupuk disajikan pada Tabel 2.
Hasil DMRT menunjukkan bahwa hasil berbeda nyata hanya pada pupuk N slow release F1 , F3, dan F4 dengan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dengan F2 dan F5. Sementara itu F2 dan F5 tidak berbeda nyata dengan kontrol. Pupuk N slow release F4 paling banyak menghasilkan jumlah daun 8 dibanding kontrol 6,83 helai daun dengan kenaikan sebesar 14,6%. Sementara F1 dan F3 sebanyak 7,5 helai daun dengan kenaikan 9,8% dibanding kontrol. Menurut Sabrina (2018), pada hasil tanaman kailan hasil berbeda nyata dan tertinggi jumlah daun diperoleh pupuk N-slow release F4.
Pupuk N slow release F4 berbeda nyata dengan kontrol, diduga adanya pemberian unsur hara dalam formula pupuk nitrogen (urea) dilapis bahan lokal (Azolla michroylla, gondorukem dan asam humat) Azolla michroylla sendiri mengandung nitrogen, kemudian fungsi gondorukem pada pencampuran pupuk adalah sebagai pengikat terhadap tanah atau campuran pupuk yang lain, sehingga kandungan N pupuk yang dicampurkan dengan gondorukem tidak mudah untuk menguap atau larut (Adam, 2002). Sedangkan pada pupuk N slow release F1 berbeda nyata diduga karena kandungannya yang lengkap (Azolla michroylla, montmorilonit, gondorukem, dan asam humat), mineral montmorilonit pada pupuk urea dapat menyebabkan KTK tanah menjadi tinggi. Selain itu, interaksi antara mineral dengan urea tersebut dapat meningkatkan penggunaan nutrisi dalam
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 5 efisiensi yang tinggi (Tan, 1933). Pada
perlakuan pupuk N slow release F3 (Azolla michroylla, montmorilonit, dan asam humat) diduga pelapisan pupuk N dengan asam humat bukan saja menghemat penggunaan pupuk urea, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Asam humat dapat meyediakan unsur hara seperti N ke dalam tanah (Sabrina, 2018)
3. Tinggi Tanaman
Perlakuan formula pupuk nitrogen slow release berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman jagung manis. Hasil DMRT tabel 2 menunjukkan bahwa berbeda nyata hanya pada pupuk N slow release F4 dengan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dengan F2. Sementara itu F1,F2, F3, dan F5 tidak berbeda nyata dengan kontrol. Pupuk N slow release F4 menghasilkan tinggi tanaman 125,14 cm dibanding kontrol 104,89 cm dengan kenaikan sebesar 19,3%.
Berdasarkan gambar 2, perlakuan F4 pupuk nitrogen yang dilapis bahan lokal mendapat hasil paling tinggi dan berpengaruh nyata terhadap variabel kontrol. Menurut Sabrina (2018) ini berbeda dengan temuannya pada tanaman Kailan dengan perlakuan 5 formula pupuk N slow release, yang dimana pupuk pupuk N slow release F3 (70% Urea, 10% Azolla microphylla, 10% Montmorillonite, 10% Asam humat) paling tinggi hasilnya. Perlakuan F3 (berdasarkan hasil analisis serapan N) memiliki nilai tertinggi sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal dan dapat membantu pertumbuhan tinggi tanaman kailan. Formula pupuk yang digunakan menggunakan mengandung bahanbahan lokal pada masing-masing formula.
Hasil penelitian pada variabel tinggi tanaman jagung manis berbeda nyata pada pupuk N slow release F4, diduga karena perlakuan F4 mengandung penambahan bahan lokal selain azolla seperti gondorukem. Penggunaan bahan lokal berupa gondorukem
mempunyai kelebihan yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Campuran gondorukem ke bahan pupuk juga dapat mengurangi adanya penguapan hara ke lingkungan sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan (Dahlian, n.d.) Hasil ini konsisten dengan hasil pengamatan pada variable lain, bahwa F4 cenderung menghasilkan bobot akar terbaik, luas daun dan jumlah daun terbaik, sehingga mampu memberikan pertumbuhan tinggi tanaman terbaik.
4. Bobot Segar Tajuk
Berdasarkan analisi DMRT tabel 2, setelah dilakukan analisis ragam, semua perlakuan kontrol dan formula pupuk nitrogen F1 hingga F5 berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan bobot segar tanaman pada pertumbuhan tanaman jagung manis.
Berdasarkan gambar 4, perlakuan F4 pupuk nitrogen slow release yang dilapis bahan lokal mendapat hasil paling tinggi dan berpengaruh nyata terhadap variabel kontrol bobot segar tajuk jagung manis. Hasil DMRT Hasil DMRT menunjukkan bahwa berbeda nyata hanya pada pupuk N slow release F3, dan F4 dengan kontrol, tetapi tidak berbeda nyata dengan F1, F2, dan F5. Sementara itu F1, F2, dan F5 tidak berbeda nyata dengan kontrol. Nilai bobot segar tanaman yang tertinggi dan berbeda nyata pada perlakuan F4 adalah 446,75 g dengan kenaikan 33% dibanding kontrol dengan bobot 333,41 g, sedangkan pupuk N slow release F3 berbeda nyata dengan bobot 406,5 g dibanding kontrol dengan kenaikan selisih kenaikan 17,9 % . Menurut (Altruis, 2019) perlakuan formula pupuk nitrogen yang dilapis bahan lokal berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan bobot segar tanaman pakcoy. Hasil berbeda nyata pada tanaman pakcoy terdapat pada perlakuan pupuk N slow release F4 terhadap kontrol. Hasil ini juga dilaporkan oleh Kurniawan (2019) yaitu perlakuan formula pupuk nitrogen F4 yang dilapis bahan lokal berpengaruh nyata terhadap
6 Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 variabel pengamatan bobot segar tanaman
bayam. Hasil penelitian jagung manis dengan pupuk N slow release yang mendapatkan F4 hasil tertinggi ini dan berbeda nyata diduga karena formula pupuk yang digunakan pada F4 mempunyai kandungan asam humat. Bahan organik ini Asam humat dapat meyediakan unsur hara seperti N ke dalam tanah. Perpaduan pupuk urea dan asam humat pada formula dapat mengefisienkan dan mengefektifkan penggunaan pupuk urea di lapangan. Jadi, dapat menekan biaya produksi. Secara lingkungan, hal tersebut juga mengurangi dampak residu kelebihan nitrogen melalui mekanisme pelepasan urea bertahap (slow release). Sedangkan pupuk N slow release F3 berbeda nyata diduga karena formula pupuk yang digunakan pada F3 mempunyai kandungan montmorilonit pada campuran pupuk urea dapat menyebabkan KTK tinggi.
Kedua pupuk N slow release F3 dan F4 terdapat bahan Azolla mychropilla yang mengandung nitrogen. Nitrogen berfungsi sebagai pembentuk klorofil yang berperan penting dalam proses fotosintesis. Semakin tinggi pemberian nitrogen (sampai batas optimum-nya) maka jumlah klorofil yang terbentuk akan meningkat (Adil et al., 2006). Meningkatnya jumlah klorofil mengakibatkan laju fotosintesis pun meningkat sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dan maksimum. Hasil fotosintesis digunakan untuk pertumbuhan organ-organ tanaman, dimana semakin besar organ tanaman yang terbentuk maka semakin banyak kadar air yang dapat diikat oleh tanaman (Koryati, 2004)
5. Bobot Basah Tongkol
Berdasarkan tabel 2, setelah dilakukan analisis ragam, semua perlakuan kontrol dan formula pupuk nitrogen F1 hingga F5 berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan bobot basah tongkol pada pertumbuhan tanaman jagung manis. Bobot basah tongkol tanaman jagung manis
berdasarkan perlakuan formula pupuk disajikan pada gambar 5.
Hasil analisis gambar 5 menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pupuk formula slow release memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot basah tongkol tanaman pada perlakuan pupuk N slow release F4 dan F3 terhadap kontrol namun perlakuan N slow release F1, F2, F5 tidak berpengaruh nyata terhadap control. Berdasarkan grafik, nilai terbesar pada variabel bobot basah tongkol tanaman adalah pada perlakuan F4 yaitu sebesar 294,29 g atau naik 58% serta F3 sebesar 276,64 gatau naik 49% apabila dibandingkan dengan kontrol atau F0 yang menghasilkan nilai 185,45 g. Pada penelitian (Aina & Jumadi, 2018) tentang respon tanaman jagung dengan pemberian urea bersalut zeolit sebagai nitrogen lepas lambat, mengatakan bahwa nitrogen berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas hasil penyempurnaan proses pengisian biji secara penuh. Sehingga dapat mengeraskan dan mencegah pengecilan biji tongkol, hal ini berkorelasi pada berat tongkol tanaman jagung. Pada variabel berat tongkol basah jagung manis memperoleh hasil yang tinggi pada F4 dan F3. Hal ini diduga karena F4 memiliki bahan lokal seperti gondorukem sebagai pengikat terhadap tanah atau
campuran pupuk lainnya. Sehingga kandungan pupuk yang dicampur gondorukem tidak mudah larut atau menguap (Adam, 2002) Asam humat memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang tinggi serta secara langsung memiliki fungsi merangsang pertumbuhan tanaman melalui pengaruhnya terhadap metabolisme dan terhadap sejumlah proses fisiologis lainnya (Suwardi dan Darmawan, 2009). Kemudian pada pupuk N slow release F3 diduga adanya bahan polimer monmorilonite yang dapat meningkatkan penggunaan nutrisi efisiensi tinggi. (Soetoro, Yoyo S, 1988), menyatakan bahwa unsur hara mempengaruhi bobot tongkol terutama biji karena unsur hara yang
Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 7 diserap akan dipergunakan untuk
pembentukan lemak, karbohidrat dan protein yang nantinya akan disimpan dalam biji. . Hal ini diduga karena pada setiap perlakuan kondisi unsur hara sudah cukup tersedia bagi tanaman sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Adanya unsur N dan P mampu mencukupi kebutuhan hara yang dibutuhkan tanaman. Menurut Lakitan (2012), unsur P sangat diperlukan tanaman dalam menentukan umur panen dan sangat mempengaruhi fotosintesis tanaman, sehingga fotosintat yang dihasilkan pada daun dan sel-sel fotosintetik lainnya dapat diangkut ke organ atau jaringan lain agar dapat dimanfaatkan oleh organ dan jaringan tersebut untuk pertumbuhan atau ditimbun sebagai bahan cadangan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pemberian pupuk nitrogen yang dilapis polimer berbahan lokal berpengaruh nyata pada pada variabel tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, bobot segar tajuk, dan bobot segar tongkol.
2. Formula pupuk nitrogen lepas lambat yang dilapis polimer bahan lokal terbaik yaitu F4 dengan formula (70% Urea, 10% Azolla microphylla, 10% Gondorukem, 10% Asam humat).
3. Pupuk N slow release F4 meningkatkan produksi bobot tongkol segar sebesar 58% dibanding kontrol.
BIBLIOGRAFI
Adam, B. (2002). Analisis Sifat Fisik, Kimia dan Biologi Tanah Hutan pada Tanaman Hutan Pinus (Pinus merkusii). Skripsi Mahasiswa Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Adil, W. H., Sunarlim, N., & Roostika, I. (2006). Pengaruh tiga jenis pupuk nitrogen terhadap tanaman sayuran. Biodiversitas, 7(1), 77–80.
Aina, N., & Jumadi, O. (2018). Respon Pertumbuhan Jagung (Zea mays) Dengan Pemberian Urea Bersalut Zeolit Sebagai Nitrogen Lepas Lambat. Bionature, 18(2).
Altruis, M. F. (2019). Pengujian Luruh Lima Formula Pupuk Nitrogen yang Dilapis Bahan Lokal dan Uji Agronomis untuk Tanaman Pakcoy. Skripsi. Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Balai Penelitian Tanah. (2008). Perangkat Uji Tanah Kering. Warta. Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Vol. 30, No. 5. P.13.
Dahlian, E. (n.d.). Hartoyo. 1997. Komponen Kimia Terpentin Dari Getah Tusam (Pinus Merkusii) Asal Kalimantan Barat. Info Hasil Hutan. Badan Pengembangan Dan Penelitian Kehutanan. Bogor, 4(1), 38–39.
Doberman, A., & Fairhust, T. (2000). Rice nutrient disorders and nutrient management. Potash and phosphate institute of Canada and international rice research institute. Oxford Geographic Printers Pte Ltd. Canada, Philippines. 192p.
Gardner, F.B., R.B. Pearce, and R. L. M. (1991). Phsycology of Crop Anatomi. Universitas Indonesia Press.
Halliday, D. J., & Trenkel, M. E. (1992). IFA world fertilizer use manual. International fertilizer industry association France.
Jones, J.B., B. Wolf, dan H. A. M. (1991). Plant Analysis Handbook. A practical sampling, preparation, analysis, and interpretation guide. Micro-Macro Publishing, Inc.
Koryati, T. (2004). Pengaruh Penggunaan Mulsa dan Pemupukan Urea terhadapPertumbuhan dan Produksi Cabai Merah (Capsicum annum L.). Kurniawan, R. (2019). Pengujian Luruh Lima
8 Jurnal Pertanian Indoensia, Vol. 1 No. 1, Agustus 2020 Formula Pupuk Nitrogen yang Dilapis
Bahan Lokal dan Uji Agronomis untuk Tanaman Bayam. Skripsi. Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Lakitan, B. (2012). Dasardasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press.
Nainggolan, G. D., Suwardi, S., & Darmawan, D. (2009). Pola Pelapasan Nitrogen dari Pupuk Tersedia Lambat (Slow Release Fertilizer) Urea-Zeolit-Asam Humat.
Sabrina, A. (2018). Aplikasi Pupuk N Lepas Lambat yang Dikelat Bahan Lokal Terhadap Serapan N, N Tersedia Tanah, dan Produksi pada Tanaman Kailan. Skripsi. Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Sari, H. P., & Syukur, M. (2013). Daya Hasil 12 Hibrida Harapan Jagung Manis (Zea
maysL. var. saccharata) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Buletin Agrohorti, 1(1), 14–22.
Soetoro, Yoyo S, dan I. (1988). Budidaya Tanaman Jagung. Balai Penerbit Tanaman Pangan.
Statistik, B. P. (2014). Produksi Jagung Manis Nasional.
Stenly Mauke, M Ikhbal Bauke, N. (2015). Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis Melalui Pemberian Pupuk Urea Dan Phonska. Jurnal Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis. Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo. Tan, K. H. (1933). Eviromental Soil Science.
Marcel Dekker.
Yerizam, M., Purnamasari, I., Hasan, A., & Junaidi, R. (2017). Modifikasi urea menjadi pupuk lepas lambat menggunakan fly ash batubara dan NaOH sebagai binder. Jurnal Teknik Kimia, 23(4), 226–229.