• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GURU DAN KARAKTER SISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GURU DAN KARAKTER SISWA"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

A. Guru

1. Pengertian Guru

Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di

masjid, di surau, di rumah, dan sebagainya.1 Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab

terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Kewibawaanlah yang menyebabkan guru dihormati sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia. 2

Menurut UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam konteks ini, guru dikatakan

1

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), Cet. 1, hlm. 31.

2

Soetjipto, Profesi Keguruan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), hlm. 17.

(2)

professional jika ia mempunyai keahlian, kemahira atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.3

Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat di pundak guru diberikan tugas dan tangung jawab yang berat mengemban tugas memang berat. Akan tetapi, lebih berat lagi mengemban tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Pembinaan yang harus diberikan oleh guru tidak hanya secara kelompok (klasikal), tetapi juga secara individual. Hal ini mau tidak mau menuntut guru agar selalu memperhatikan sikap, tangkah laku, dan perbuatan anak didiknya, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di luar sekolah.4

Dalam Kamus Bahasa Indonesia karya W. J. S Purwadarminto guru adalah seseorang mempunyai pekerjaan mengajar. Istilah guru sebetulnya sudah ada sejak dulu, dalam Islam istilah guru berkaitan erat kepada Nabi Muhammad saw. Karena beliau merupakan guru pertama dalam Islam yang mengajarkan tentang segala sesuatu kepada sesame manusia atau dengan kata lain sebagai rahmatan lil a’lamin, kemudian setelah beliau wafat maka tugas selanjunya di embank oleh para ulama-ulama sebagai pewaris para Nabi. Istilah guru mengalami perubahan istilah tetatpi intinya sama yaitu orang yang mempuanyai pekerjaan mengajar seperti di

3

UU RI No. 14 tahun 2005, Undang-Undang Guru dan Dosen, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 18.

4

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 32.

(3)

lingkungan sekolah dasar sampai sekolah menengah guru masih tetap dengan istilah guru. 5

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, guru juga dikatakan sebagai pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

2. Tugas Pokok Guru

Guru sebagai figur seorang pemimpin dan sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik, mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Guru bertugas mempersiapkan manusia susila yang cakap yang dapat diharapkan membangun dirinya dan membangun bangsa dan negara.6

Jabatan guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas dalam bentuk pengabdian. Tugas guru tidak hanya sebagai suatu profesi, tetapi juga sebagai suatu tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi menuntut kepada guru untuk mengemban profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai profesi. Tugas guru sebagai pendidik berarti meneruskan dan

5

Syaiful Bahri Djamaroh, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 13.

6

(4)

mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan keterampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik.7

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tugas pokok guru adalah membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang bisa mempersiapkan manusia susila yang cakap yang dapat diharapkan membangun dirinya, membangun bangsa dan negara.

Guru harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik. Dengan begitu anak didik dididik agar mempunyai sifat kesetiakawanan sosial. Guru harus dapat menempatkan diri sebagai orang tua kedua, dengan mengemban tugas yang dipercayakan orang tua kandung/wali anak didik dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan kemasyarakatan merupakan tugas guru yang juga tidak kalah pentingnya. Pada bidang ini guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila. Memang tidak dapat dipungkiri bila guru mendidik anak didik sama halnya guru mencerdaskan bangsa Indonesia.8

Bila dipahami, maka tugas guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat

7

Abdul Mujib, op. cit., hlm. 41.

8

(5)

bahkan bila dirinci lebih jauh, tugas guru tidak hanya yang telah disebutkan. Guru dalam mendidik anak didik bertugas, antara lain:9

a. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan pengalaman-pengalaman;

b. Membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai cita-cita dan dasar negara Pancasila;

c. Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik. d. Sebagai perantara dalam belajar;

e. Membawa anak didik ke arah kedewasaan, pendidik tidak mahakuasa, tidak dapat membentuk anak menurut sekehendaknya;

f. Sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat; g. Sebagai penegak disiplin;

h. Sebagai administrator dan manager; i. Sebagai suatu profesi;

j. Sebagai perencana kurikulum;

k. Sebagai pemimpin (Guidance worker); l. Sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak.10

Tugas pendidik dipetakan atas sebagai pendidik, pengajar, fasilitator, pembimbing, pelayan, perancang, pengelola, inovator dan

penilai, sebagaimana tabel di bawah ini: 11

9

M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001) Cet. 13, hlm. 8.

10

Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit., hlm. 38.

11

(6)

No Peran Tugas Pokok 1. Pendidik a. Mengembangkan kepribadian

b. Membina budi pekerti

2. Pengajar a. Menyampaikan ilmu pengetahuan

b. Melatih keterampilan dan memberikan panduan atau petunjuk

c. Perpaduan atau petunjuk

d. Perpaduan antara memberikan pengetahuan, bimbingan, dan keterampilan

e. Merancang pengajaran f. Melaksanakan pembelajaran g. Menilai aktivitas pembelajaran 3. Fasilitator a. Memotivasi siswa

b. Membantu siswa

c. Membimbing siswa dalam proses pembelajaran di dalam dan di luar kelas

d. Menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai

e. Menggunakan pertanyaan yang merangsang siswa untuk belajar

f. Menyediakan bahan pengajaran

g. Mendorong siswa untuk mencari bahan ajar h. Menggunakan ganjaran dan hukuman sebagai

(7)

alat pendidikan 4. Pembimbing a. Mewujudkan disiplin

b. Memberikan petunjuk atau bimbingan tentang gaya pembelajaran siswa

c. Mencari kekuatan dan kelemahan siswa d. Memberikan latihan

e. Memberikan penghargaan kepada siswa

f. Mengenal permasalahan yang dihadapi siswa dan menemukan cara pemecahannya

g. Membantu siswa untuk menemukan bakat dan minat siswa (karir di masa depan)

5. Pelayan a. Mengenali perbedaan individual siswa

b. Memberikan layanan pembelajaran yang nyaman dan aman sesuai dengan perbedaan individual siswa

c. Menyediakan fasilitas pembelajaran dari sekolah seperti ruang belajar, meja, kursi, papan tulis, almari, alat peraga, papan pengumuman

d. Memberikan layanan sumber belajar

6. Perancang a. Menyusun program pengajaran dan

pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku

(8)

c. Menentukan strategi dan metode pembelajaran sesuai dengan konsep PAKEM (pembelajaran aktif, efektif dan menyenangkan)

7. Pengelola a. Melaksanakan administrasi kelas b. Melaksanakan presensi kelas

c. Memilih strategi dan metode mengajar yang efektif

d. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam penggunaan strategi dan metode mengajar 8. Inovator a. Mencoba dan menerapkan strategi dan metode

pembelajaran yang baru

b. Menyusun tes dan instrument penilaian lain c. Melaksanakan penilaian terhadap siswa secara

objektif

d. Mengadakan pembelajaran remedial

e. Mengadakan pengayaan dalam pembelajaran.12

12

(9)

Secara singkat tugas guru dapat digambarkan melalui bagan berikut. 13

Bagan Tugas Guru

13

M. Uzer Usman, Op.Cit., hlm. 8.

PROFESI

MENDIDIK

MENGAJAR

MELATIH

Meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup

Meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi

Mengembangkan keterampilan dan penerapannya.

KEMANUSIAAN

Menjadi orang tua kedua Auto – pengertian:

Homoludens (manusia sebagai pemain) Homopuber (manusia mengalami transisi) Homosapiens (manusia yang tahu)

Transformasi diri

Autoidentifikasi

KEMASYARAKATAN

Mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia yang bermoral

Mencerdaskan bangsa Indonesia TUGAS GURU

(10)

3. Syarat-syarat Guru

Syarat-syarat untuk menjadi guru, antara lain:14 a. Takwa kepada Allah swt

Guru, sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan Islam, tidak mungkin mendidik anak didik agar bertakwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertakwa kepada-Nya sebab ia adalah teladan bagi anak didiknya sebagaimana Rasulullah saw. menjadi teladan bagi umatnya. Sejauhmana seorang guru mampu memberi teladan yang baik kepada semua anak didiknya, sejauh itu pulalah ia diperkirakan akan berhasil mendidik anak mereka agar menjadi penerus bangsa yang baik dan mulia

b. Berilmu

Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan.

Guru pun harus mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar kecuali dalam keadaan darurat, misalnya jumlah anak didik sangat meningkat, sedang jumlah guru jauh dari mencukupi, maka terpaksa menyimpang untuk sementara, yakni menerima guru yang belum berijazah. Akan tetapi dalam keadaan normal ada patokan bahwa makin tinggi pendidikan guru makin baik pendidikan dan pada gilirannya makin tinggi pula derajat masyarakat.

14

(11)

c. Sehat Jasmani

Kesehatan jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular, umpamanya, sangat membahayakan kesehatan anak-anak. Di samping itu, guru yang berpenyakit tidak akan bergairah mengajar. Kita kenal ucapan “Mens Sana in Corpore Sano”, yang artinya dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat. Walaupun pepatah itu tidak benar secara keseluruhan, akan tetapi kesehatan badan sangat mempengaruhi semangat bekerja. Guru yang sakit-sakitan kerapkali terpaksa absent dan tentunya merugikan anak didik.

d. Berkelakuan baik

Budi pekerti guru penting dalam pendidikan watak anak didik. Guru harus menjadi teladan, karena anak-anak bersifat suka meniru. Di antara tujuan pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi anak didik dan ini hanya mungkin bisa dilakukan jika pribadi guru berakhlak mulia pula. Guru yang tidak berakhlak mulia tidak mungkin dipercaya untuk mendidik. Yang dimaksud dengan akhlak mulia dalam ilmu pendidikan Islam adalah akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti dicontohkan oleh pendidikan utama, Nabi Muhammad saw. Di antara akhlak mulia guru tersebut semua anak didiknya, berlaku sabar dan tenang, berwibawa, gembira, bersifat

(12)

manusiawi, bekerjasama dengan guru-guru lain, bekerja sama dengan masyarakat.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah, untuk menjadi guru di Indonesia diatur dengan persyaratan, yakni berijazah, professional, sehat jasmani dan rohani. Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Kepribadian yang luhur, bertanggung jawab, dan berjiwa nasional.15

Dari berbagai macam syarat di atas, dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang guru tidaklah mudah harus memiliki persyaratan khusus yang wajib dipenuhi. Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Kewibawaan yang menyebabkan guru dihormati, sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.

4. Peran Guru

Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru. Semua peranan yang diharapkan dari guru, antara lain:16

a. Korektor

Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat.

15

Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm. 32-33.

16

(13)

b. Inspirator

Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik.

c. Informator

Sebagai informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.

d. Organisator

Sebagai organisator, adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya.

e. Motivator

Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motifasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah.

f. Inisiator

Dalam peranannya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses

(14)

interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan. g. Fasilitator

Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik. h. Pembimbing

Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas, adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap.

i. Demonstrator

Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat anak didik pahami. Apalagi anak didik yang memiliki inteligensi yang sedang. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik guru harus berusaha dengan membantunya, dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dan anak didik.

j. Pengelola Kelas

Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru.

(15)

Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif. Sebaliknya kelas yang tidak dikelola dengan baik menghambat kegiatan pengajaran.

k. Mediator

Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media nonmaterial maupun materiil.

l. Supervisor

Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervisi harus guru kuasasi dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik.

m. Evaluator

Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik. Penilaian terhadap aspek

intrinsik lebih menyentuh pada aspek kepribadian anak didik, yakni

aspek nilai (values).

Dari beberapa peran di atas, dapat disimpulkan bahwa menjadi guru berdasarkan tuntutan hati nurani tidak semua orang dapat melakukannya, karena orang harus merelakan sebagian besar dari seluruh hidup dan kehidupannya mengabdi kepada negara dan bangsa guna

(16)

mendidik anak didik manusia susila yang cakap, demokratis, dan bertanggung jawab atas pembangunan dirinya dan pembangunan bangsa dan negara.

5. Tanggung Jawab Guru dalam Proses Pembelajaran

Kiprah guru dalam berinteraksi dengan anak didik terpilah atas beberapa bidang garapan. Hal ini dengan tujuan mempermudah kinerja, mengembangkan kreativitas multifungsi dan mengarah pada spesialisasi kerja, meskipun tugas utamanya adalah mengajar.17 Adapun pilihan tersebut antara lain:

a. Guru kelas, komunikasi intensif seorang guru (hanya) pada kelas tertentu.

b. Guru mata pelajaran, kiprah guru dalam berinteraksi dengan anak didik di kelas (hanya) pada mata pelajaran tertentu.

c. Guru bimbingan dan konseling, guru yang bertugas sebagai tempat curhat anak didik atas berbagai masalah yang dihadapi sekaligus memberikan solusi alternatif.

d. Guru pustakawan, tambahan tugas guru selain mengajar juga sebagai pustakawan sekolah.

e. Guru ekstrakurikuler, guru yang bertugas utama mengajar dan mendapatkan tugas tambahan sebagai Pembina aktivitas ekstra kurikuler, misalnya kepanduan keolahragaan, seni drama dan lain-lain.18

17

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 18.

18

(17)

Sesungguhnya guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat, yang menurut Wens Tanlain dalam Syafrudin Nurdin adalah a) menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan, b) Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira, c) Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul, d) Menghargai orang lain, termasuk anak didik, e) Bijaksana dan hati-hati, e) Taqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa.19

Jadi, guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku dan perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik. Dengan demikian, tanggung jawab guru adalah untuk membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila yang cakap berguna bagi agama, nusa dan bangsa di masa yang akan datang.20

Menurut al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berangkat dari uraian tersebut maka tanggung jawab seorang pendidik sebagaimana disebutkan oleh Abdur al-Rahman An-Nahlawi adalah mendidik individu supaya beriman kepada Allah dan melaksanakan syariat-Nya, mendidik diri supaya beramal saleh dan mendidik masyarakat untuk saling menasihati dalam melaksanakan kebenaran, saling menasehati agar tabah dalam menghadapi kesusahan, beribadah kepada Allah serta menegakkan kebenaran. Tanggung jawab itu bukan hanya sebatas tanggung jawab moral seorang pendidik terhadap

19

Syafrudin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 74.

20

(18)

anak didik, tetapi lebih jauh dari itu. Pendidikan akan mempertanggungjawabkan atas segala tugas yang dilaksanakannya kepada Allah. Tanggung jawab dalam Islam bernilai keagamaan, berarti kelalaian seseorang terhadapnya akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat dan bernilai keduniawian, dalam arti kelalaian seseorang terhadapnya dapat dituntut di pengadilan oleh orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.21

Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka di pundak guru diberikan tanggung jawab yang berat. Mengemban tugas memang berat, tetapi lebih berat lagi mengemban tanggung jawab, sebab tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Pembinaan yang harus guru berikan pun tidak hanya secara kelompok (klasikal) tetapi juga secara individual. Hal ini harus menuntut guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku dan perbuatan anak didiknya, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di luar sekolah sekalipun.22

Proses pembelajaran yang bernafaskan lingkungan lebih menekankan pada pentingnya proses belajar anak didik daripada hasil belajar yang di capai oleh anak didik. Karena itu, pengendalian proses pembelajaran anak didik merupakan tanggung jawab guru.23 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak

21

Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005), hlm. 89.

22

Syaiful Bahri Djamarah, op.cit., hlm. 31.

23

(19)

didik baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah.24

Dari penjelasan tanggung jawab guru di atas, dapat disimpulkan bahwa makin tinggi pendidikan guru, makin baik pula pendidikan dan pengajaran yang diterima oleh anak-anak, dan makin tinggi pula derajat masyarakat. Oleh sebab itu, guru harus berkeyakinan dan bangga bahwa ia dapat menjalankan tugas itu. Guru hendaklah berusaha menjalankan tugas kewajiban sebaik-baiknya sehingga dengan demikian masyarakat menyadari sungguh-sungguh betapa berat dan mulianya pekerjaan guru.

6. Standar Kompetensi Guru

Istilah kompetensi guru mempunyai banyak makna, Broke and Stone mengemukakan bahwa kompetensi guru sebagai ...descriptive of

qualitative nature of teacher behavior appears to be entirely meaningful…

Kompetensi guru merupakan gambaran kualitatif tentang hakikat karakter guru yang penuh arti. Sementara Charles mengemukakan bahwa:

competency as rational performance which satisfactorily meets the objective for a desired condition (Kompetensi merupakan karakter yang

rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan).25

Sedangkan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa: “Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan karakter yang harus

24

Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit., hlm. 32.

25

Martinis Yamin, Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia, (Ciputat: Gaung Persada Press, 2006), hlm. 17.

(20)

dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”.26

Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial, dan spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru, yang mencakup pengusaan materi, pemahaman terhadap peserta tidik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme.27

Menurut Wina Sanjaya, terdapat sejumlah kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru, yaitu meliputi kompetensi pribadi, kompetensi profesional dan kompetensi sosial kemasyarakatan.28

a. Kompetensi Pribadi

Guru sering dianggap sebagai sosol yang memiliki kepribadian ideal. Karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus di-gugu dan di-tiru). Sebagai seorang model, guru harus mempunyai kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal competencies), di antaranya: 1) Kemampuan yang berhubungan dengan pengamatan ajaran agama

sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.

2) Kemampuan untuk menghormati dan menghargai antar umat beragama.

26

Masnur Muslich, Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 143.

27

E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 25-26.

28

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 17.

(21)

3) Kemampuan untuk berkarakter sesuai dengan norma, aturan dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat.

4) Mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru, misalnya sopan santun dan tata krama.

5) Bersifat demokratis dan terbuka terhadap pembaharuan dan kritik.29

b. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting, sebab langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Beberapa kemampuan yang berhubungan dengan kompetensi ini di antaranya: 1) Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya

paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai, baik tujuan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler dan tujuan pembelajaran.

2) Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang tahapan perkembangan siswa, paham tentang teori-teori belajar dan lain sebagainya.

3) Kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya.

29

(22)

4) Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran.

5) Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar.

6) Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran dan menyusun program pembelajaran.

7) Kemampuan dalam melaksanakan unsur-unsur penunjang, misalnya paham akan administrasi sekolah, bimbingan dan penyuluhan.

8) Kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berfikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja.

c. Kompetensi Sosial Kemasyarakatan

Kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan sebagai makhluk sosial, meliputi:

1) Kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional.

2) Kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan.

3) Kemampuan untuk menjalin kerjasama, baik secara individual maupun secara kelompok.30

30

(23)

Sedangkan kompetensi guru yang telah dibakukan oleh Dirjen Dikdasmen Depdiknas sebagai berikut:

1) Mengembangkan kepribadian 2) Menguasai landasan kependidikan 3) Menguasai bahan pelajaran

4) Menyusun program pengajaran 5) Melaksanakan program pengajaran

6) Menilai hasil dalam PBM yang telah dilaksanakan

7) Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran

8) Menyelenggarakan program bimbingan 9) Berinteraksi dengan sejawat dan masyarakat 10) Menyelenggarakan administrasi sekolah.31

Dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 dikemukakan bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Selanjutnya dalam rancangan keputusan pemerintah setiap kompetensi dijelaskan seperti di bawah ini.

a. Bahwa kompetensi pedagogis merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi:

31

(24)

1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan. 2) Pemahaman terhadap peserta didik.

3) Pengembangan kurikulum/silabus. 4) Perancangan pembelajaran

5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis.

6) Pemanfaatan teknologi pembelajaran dan evaluasi hasil belajar. b. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup kepribadian

yang:

1) Mantap, stabil, dewasa, arif dan bijaksana, berwibawa, berakhlak mulia.

2) Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. 3) Secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri.

4) Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

c. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi komponen untuk: 1) Berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat.

2) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.

3) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan

(25)

d. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.32

Dari uraian di atas bahwa kompetensi guru secara umum adalah menguasai pengetahuan dan ketrampilan sesuai dengan bidangnya, menguasai pendekatan metode pembelajaran, mengembangkan kurikulum, memahami karakteristik peserta didik, memotivasi peserta didik, menjalankan profesinya sebagai guru dan mampu bekerja sama dengan guru yang lain serta masyarakat.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kepribadian guru yang utuh dan berkualitas sangat penting karena dari sinilah muncul tanggung jawab professional sekaligus menjadi inti kekuatan professional dan kesiapan untuk selalu mengembangkan diri. Sebagai tauladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupannya adalah figur yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru sebagai sosok yang ideal. Sedikit saja guru berbuat yang tidak atau kurang baik, akan mengurangi kewibawaannya dan kharismapun secara perlahan lebur dari jati diri.

32

(26)

B. Karakter Siswa

1. Pengertian Karakter Siswa

Setiap individu memiliki cirri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor social psikologis.33

Secara etimologi, karakter adalah segala bentuk perubahan yang layak dilakukan oleh manusia. Secara terminologi, banyak diungkap oleh psikologi, diantaranya adalah sebagai berikut:

Menurut Sarlito Wirawan Sarwono, karakter adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tertentu.34 Menurut Chave, Bogardus, La Pierre, Mead dan Gordon Allport karakter merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.35

Dari pengertian di atas bahwa karakter senantiasa diarahkan kepada suatu objek, artinya tidak ada karakter tanpa objek, sesuai dengan pendapat Sarlito Wirawan Sarwono yang memberikan pengertian karakter bahwa karakter adalah kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara

33

Sunarto dan B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), hlm. 4

34

Sarlito Wirawan Sarwono, Teori-teori Psikologi Sosial (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 224.

35

(27)

tertentu terhadap hal tertentu.36 Adapun objek-objek karakter dapat terarah terhadap benda-benda, manusia, peristiwa-peristiwa, pemandangan-pemandangan, lembaga-lembaga, norma-norma, nilai-nilai dan sebagainya.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karakter adalah segala aktivitas manusia dalam bentuk perubahan. Tindakan dan kegiatan yang nyata baik disadari maupun tidak disadari yang merupakan hasil belajar. Tingkah laku secara umum juga disebut akhlak, perangai atau kelakukan.

Jadi yang dimaksud dengan karakter siswa adalah segala aktivitas baik dalam bentuk perbuatan atau tindakan, ucapan atau dengan kata lain adalah akhlak siswa yang tercover dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan hasil proses pembelajaran.

2. Macam-Macam Karater Siswa

Karakter merupakan suatu aktivitas dari pada manusia baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia iu berprilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing. 37

Menurut pendapat Skinner yang dikutip oleh Ngalim Purwanto, karakter merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena karakter terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap oganisme, dan kemudian organisme tersebut merespon,

36

Sarlito Wirawan Sarwono, op. cit., hlm. 225.

37

Abdurrahman Al-Nahlawi, Pendidikan Islam Di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta, Gema Insani Press, 2000), hlm. 16.

(28)

maka teori ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus Organisme Respons. Respon ini dibedakan menjadi dua, yaitu:38

a. Respondent respons, yakni respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini

disebut eliciting stimulation karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap.

b. Operant respons atau Instrumental respon, yakni respon yang timbul dan berkembang kemusian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respons.

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka karakter dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Karakter tertutup (covert behaviour)

Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert) respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. Oleh sebab itu, disebut

covert behaviour atau unobservable behaviour.

b. Karakter terbuka (overt behaviour)

Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas

38

(29)

dalam bentuk tindakan atau praktik (practice) yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Oleh sebab itu disebut overt

behavoiur.39

3. Bentuk-Bentuk Karakter Siswa

Bentuk-bentuk karakter siswa dapat dibedakan menjadi:40 a. Karakter Bermasalah (problem behavior).

Masalah karakter yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak karakter bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru, dan dengan masyarakat. Karakter malu dalam dalam mengikuti berbagai aktvitas yang digelar sekolah misalnya, termasuk dalam kategori karakter bermasalah yang menyebabkan seorang remaja mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang remaja di sekolah akibat karakternya sendiri.

b. Karakter menyimpang (behaviour disorder).

Karakter menyimpang pada remaja merupakan karakter yang kacau yang menyebabkan seorang remaja kelihatan gugup (nervous) dan karakternya tidak terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan

39

Ibid, hlm. 16.

40

Robert E Slavin, Psikologi Pendidikan Teori dan Praktek, (Jakarta: Indeks, 2008), hlm. 180

(30)

hilangnya konsentrasi diri. Karakter menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak karena persoalan psikologis yang selalu menghantui dirinya.

c. Karakter penyesuaian diri yang salah (behaviour maladjustment). Karakter yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya. Karakter menyontek, bolos, dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah (SLTP/SLTA).

d. Karakter tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder). Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara karakter benar dan salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan karakter yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa membedakan karakter yang benar dan salah pada anak. Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan hukuman (punisment) pada anak saat ia memunculkan karakter yang salah dan memberikan pujian atau hadiah (reward) saat anak memunculkan karakter yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah dikategorikan dalam conduct disorder apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal seperti

(31)

melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya . Selain itu, conduct disordser juga dikategorikan pada remaja yang berkarakter oppositional deviant disorder yaitu karakter oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.41

e. Karakter perhatian yang kurang terhadap anak hiperaktif (Attention

Deficit Hyperactivity disorder)

Attention Deficit Hyperactivity disorder, yaitu anak yang

mengalami defisiensi dalam perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara, remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya. Selain itu, anak hyperactif sangat mudah terpengaruh oleh stimulus yang datang dari luar serta mengalami kesulitan dalam bermain bersama dengan temannya.

41

(32)

4. Ciri-Ciri Karakter Siswa

Menurut Syaikh M. Jamaluddin Mahfudzh, karakteristik tingkah laku siswa yang positif dan matang dapat dibedakan dengan cirri-ciri berikut ini:42

a. Mampu menguasai diri;

b. Berani memikul tanggung jawab dan menghargainya; c. Mau bekerja sama;

d. Mampu saling mencintai dan mempercayai; e. Mampu saling memberi dan menerima;

f. Bisa diajak bekerja sama dan mendorong perkembangan dan kemajuan;

g. Mampu memperhatikan orang lain;

h. Mampu menghadapi pergumulan, ketakutan, kegelisahan, dan perasaan bersalah;

i. Menikmati kepercayaan diri dan kemampuan menarik orang lain berbuat hal yang sama;

j. Fleksibel dalam menghadapi kenyataan.

Tingkah laku positif dengan semua karakteristiknya inilah yang mampu mewujudkan adaptasi pribadi dan sosial bagi seseorang. Sehingga ia punya kemampuan untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat di mana ia hidup.

42

Syaikh M. Jamaluddin Mahfudh, Psikologi Anak dan Remaja Muslim, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm. 14.

(33)

5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter Siswa

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter siswa, antara lain:43

a. Faktor dari dalam (intrinsik), meliputi: 1) Intelegensi

Setiap orang mempunyai intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan intelegensi ini berpengaruh dalam daya serap terhadap norma-norma dan nilai-nilai sosial. Orang yang mempunyai intelegensi tinggi umumnya tidak kesulitan dalam bergaul, belajar, dan berinteraksi di masyarakat. Sebaliknya orang yang intelegensinya di bawah normal akan mengalami berbagai kesulitan dalam belajar di sekolah maupun menyesuaikan diri di masyarakat. Akibatnya terjadi penyimpangan-penyimpangan, seperti malas belajar, emosional, bersikap kasar, tidak bisa berpikir logis. Contohnya, ada kecenderungan dalam kehidupan sehari, anak-anak yang memiliki nilai jelek akan merasa dirinya bodoh. Ia akan merasa minder dan putus asa.

Dalam keputusasaannya tersebut, tidak jarang anak yang mengambil penyelesaian yang menyimpang. Ia akan melakukan segala cara agar nilainya baik, seperti menyontek.

2) Jenis kelamin

43

(34)

Karakter menyimpang dapat juga diakibatkan karena perbedaan jenis kelamin. Anak laki-laki biasanya cenderung sok berkuasa dan menganggap remeh pada anak perempuan. Contonya dalam keluarga yang sebagian besar anaknya perempuan, jika terdapat satu anak laki-laki biasanya minta diistimewakan, ingin dimanja.

3) Umur

Umur memengaruhi pembentukan sikap dan pola tingkah laku seseorang. Makin bertambahnya umur diharapkan seseorang bertambah pula kedewasaannya, makin mantap pengendalian emosinya, dan makin tepat segala tindakannya. Namun demikian, kadang kita jumpai penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh orang yang sudah berusia lanjut, sikapnya seperti anak kecil, manja, minta diistimewakan oleh anak-anaknya.

4) Kedudukan dalam keluarga

Dalam keluarga yang terdiri atas beberapa anak, sering kali anak tertua merasa dirinya paling berkuasa dibandingkan dengan anak kedua atau ketiga. Anak bungsu mempunyai sifat ingin dimanjakan oleh kakak-kakaknya maupun orang tuanya. Jadi, susunan atau urutan kelahiran kadang akan menimbulkan pola tingkah laku dan peranan dari fungsinya dalam keluarga.44

44

(35)

b. Faktor dari luar (ekstrinsik), meliputi: 1) Peran keluarga

Keluarga sebagai unit terkecil dalam kehidupan sosial sangat besar perananya dalam membentuk pertahanan seseorang terhadap serangan penyakit sosial sejak dini. Orang tua yang sibuk dengan kegiatannya sendiri tanpa mempedulikan bagaimana perkembangan anak-anaknya merupakan awal dari rapuhnya pertahanan anak terhadap serangan penyakit sosial.

Sering kali orang tua hanya cenderung memikirkan kebutuhan lahiriah anaknya dengan bekerja keras tanpa mempedulikan bagaimana anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan alasan sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Alasan tersebut sangat rasional dan tidak salah, namun kurang tepat, karena kebutuhan bukan hanya materi saja tetapi juga nonmateri. Kebutuhan nonmateri yang diperlukan anak dari orang tua seperti perhatian secara langsung, kasih sayang, dan menjadi teman sekaligus sandaran anak untuk menumpahkan perasaannya.

Kesulitan para orang tua untuk mewujudkan keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan lahir dan batin inilah yang menjadi penyebab awal munculnya kenakalan remaja yang dilakukan anak dari dalam keluarga yang akhirnya tumbuh dan berkembang hingga meresahkan masyarakat. Misalnya, seorang anak yang tumbuh dari keluarga yang tidak harmonis.

(36)

Kasih sayang dan perhatian anak tersebut cenderung diabaikan oleh orang tuanya. Oleh sebab itulah, ia akan mencari bentuk-bentuk pelampiasan dan pelarian yang kadang mengarah pada hal-hal yang menyimpang. Seperti masuk dalam anggota genk, mengonsumsi minuman keras dan narkoba, dan lain-lain. Ia merasa jika masuk menjadi anggota genk, ia akan diakui, dilindungi oleh kelompoknya. Di mana hal yang demikian tersebut tidak ia dapatkan dari keluarganya.

2) Peran masyarakat

Pertumbuhan dan perkembangan kehidupan anak dari lingkungan keluarga akhirnya berkembang ke dalam lingkugan masyarakat yang lebih luas. Ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan rohaniah anak mengakibatkan anak mencari kebutuhan tersebut ke luar rumah. Ini merupakan awal dari sebuah petaka masa depan seseorang, jika di luar rumah anak menemukan sesuatu yang menyimpang dari nilai dan norma sosial.45

Pola kehidupan masyarakat tertentu kadang tanpa disadari oleh para warganya ternyata menyimpang dari nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat umum. Itulah yang disebut sebagai subkebudayaan menyimpang. Misalnya masyarakat yang sebagian besar warganya hidup mengandalkan dari usaha prostitusi, maka anak-anak di dalamnya akan menganggap

45

(37)

prostitusi sebagai bagian dari profesi yang wajar. Demikian pula anak yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat penjudi atau peminum minuman keras, maka akan membentuk sikap dan pola karakter menyimpang.

3) Pergaulan

Pola tingkah laku seorang anak tidak bisa terlepas dari pola tingkah laku anak-anak lain di sekitarnya. Anak-anak lain yang menjadi teman sepergaulannya sering kali memengaruhi kepribadian seorang anak. Dari teman bergaul itu, anak akan menerima norma-norma atau nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat. Apabila teman bergaulnya baik, dia akan menerima konsep-konsep norma yang bersifat positif. Namun apabila teman bergaulnya kurang baik, sering kali akan mengikuti konsep-konsep yang bersifat negatif. Akibatnya terjadi pola tingkah laku yang menyimpang pada diri anak tersebut. Misalnya di suatu kelas ada anak yang mempunyai kebiasaan memeras temannya sendiri, kemudian ada anak lain yang menirunya dengan berbuat hal yang sama. Oleh karena itu, menjaga pergaulan dan memilih lingkungan pergaulan yang baik itu sangat penting.

4) Media massa

Berbagai tayangan di televisi tentang tindak kekerasan, film-film yang berbau pornografi, sinetron yang berisi kehidupan bebas dapat memengaruhi perkembangan karakter individu.

(38)

Anak-anak yang belum mempunyai konsep yang benar tentang norma-norma dan nilai-nilai sosial dalam masyarakat, sering kali menerima mentah-mentah semua tayangan itu. Penerimaan tayangan-tayangan negatif yang ditiru mengakibatkan karakter menyimpang.46

46

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana jika kita semua tidak pernah secara langsung menunjukkan framebuffer kita, tetapi menulisnya sebagai suatu citra untuk display berikutnya. Sebenarnya semua format

Prosedur pengangkatan anak perempuan pada masyarakat Etnis Tionghoa di Kota Medan termasuk oleh suku Hainan pada dasarnya dilakukan dengan upacara adat dengan melakukan

menunjukkan ada hubungan pajanan pestisida dengan kejadian dislipidemi pada wanita usia subur di Desa Gombong Kecamatan Belik Kabupaten Pemalang, secara rinci hasil uji

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon bangunan tinggi terhadap beban lateral dengan menggunakan variasi penempatan outrigger pada bangunan tinggi yang

Air limbah dari kedua gedung tersebut dialirkan dengan sistem perpipaan tertutup dan diolah dalam satu unit IPAL yang terletak di basement gedung 2 Selama ini ini,

Apapun keadaan anak balita harus menjadi sasaran pelayanan selama dan paska bencana karena sebagai generus penerus yang perlu dipelihara status kesehatan, dihindarkan masalah

Biaya tetap yang dihitung dalam usahatani kedelai di Desa Langkapsari meliputi PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), penyusutan alat ,dan bunga modal 24 persen

Isolasi Dan Uji Aktivitas Antibakteri Fungi Endofit Bawang Bombay ( Allium Cepa L.) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus ATCC 6538.. dengan maksud untuk memenuhi