• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal SAINSTECH Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : Volume 3 Nomer 6 Desember 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal SAINSTECH Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : Volume 3 Nomer 6 Desember 2016"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

25

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)MELALUI PENERAPAN MODELPEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP

INVESTIGATION PADA SISWAKELAS XI PEMASARAN 2 SMK NEGERI 1 JOGONALAN KLATENSEMESTER 3

TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Wakadinem, S.Pd. SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosialmelalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigationsiswa kelas XIPemasaran 2SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten semester 3 tahun pelajaran 2015/2016.

Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas, yaitu suatu penelitian yang dilakukan kolaboratif antara peneliti, siswa, dan guru pengampu mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XIPemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan Klatenyang berjumlah 36orang. Pelaksanaan tindakan dilakukan oleh peneliti yang direncanakan bersama dengan guru teman sejawat. Sumber data penelitian ini adalah informan, tempat, peristiwa dan dokumen.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasidan tes.Proses penelitian dilakukan dalam dua siklus mengingat peneliti adalah guru pengampu mata pelajaran tersebut. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, dan analisis dan refleksi. Setiap siklus dilakukan dengan tiga kali pertemuan dan masing-masing pertemuan 2 x 45 menit.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosialsiswa kelas XIPemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation.Hasil penelitian yang telah dilakukan adalah ada peningkatan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial siswa dari 20 siswa (56%) yang tuntas pada pra siklus menjadi 27 siswa (75%) yang tuntas pada siklus I dan meningkat menjadi 34 siswa (94%) yang mencapai batas ketuntasan belajar. Nilai rata-rata prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial meningkat dari 71,94 pada pra siklus menjadi 77,83 atau meningkat 8% pada siklus I dan menjadi 83,47 atau meningkat 16% pada siklus II.

Kata kunci : Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation. Prestasi belajar. Siklus

I. PENDAHULUAN

Pendidikan di Indonesia dapat ditempuh melalui tiga jalur yaitu : pendidikan formal, pendidikan informal, dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang dimulai dari jenjang terendah hingga tertinggi yang harus ditempuh dengan serangkaian persyaratan tertentu jika akan naik ketingkat atau jenjang selanjutnya. Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorangdi lingkungan masyarakat, baik lingkungan keluarga maupun masyarakat disekitar seseorang tersebut berada. Sedangkan pendidikan non formal merupakan jenjang pendidikan yang berorientasi memberi dan meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan untuk berkompetisi dalam meraih kesuksesan

hidup.

Pendidikan formal yangberlangsung di Indonesia meliputi beberapa jenjang yaitu jenjang pendidikan dasar, jenjang pendidikan menengah, dan jenjang pendidikan atas.Proses pendidikan formal ini lebih dikenal sebagai proses pendidikan di sekolah. SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten adalah salah satu sekolah menengah kejuruan yang bertujuan untuk menyiapkan siswa memasuki dunia kerja serta mengembangkan sikap. Inti dari proses pendidikan secara keseluruhan adalah proses belajar mengajar. Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi beberapa faktor baik faktor internal yang meliputi gurudan siswa maupun faktor eksternal yaitu factor diluar guru dan siswa seperti lingkungan dan fasilitas belajar

(2)

26 mengajar.

Berdasarkan dokumentasi ni lai mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) menunjukkan bahwa hasil belajar mata pelajaran tersebut pada siswa kelas XI Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten masih banyak yang mendapat nilai dibawah nilai kriteria ketuntasan minimal yaitu75.Survei awal menunjukkan masih terdapat 16 siswa (44%) yang memperoleh nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal. Asumsi dasar yang menyebabkan hasil belajar kurang optimal adalah pemilihan metode pembelajaran.

Metode mengajar guru masih secara konvensional. Proses belajar mengajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) masih berpusat pada guru dan kurang berpusat pada siswa. Hal ini mengakibatkan kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan pada pengajaran daripada pembelajaran. Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah. Adapun penyampaian metode ceramah guru menerangkan atau menguraikan materi pelajaran secara lisan, sedangkan siswa mendengarkan dan mencatat uraian dari guru. Dalam kaitannya dengan peningkatan hasil belajar pada kegiatan pembelajaran, ketepatan dalam menggunakan pendekatan mengajar yang dilakukan guru sangat penting. Ketepatan dalam menggunakan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan dapat membangkitkan minat ataupun motivasi siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan dan terhadap proses serta hasil belajar siswa. Siswa akan lebih mudah menerima materi yang diberikan guru apabila pendekatan mengajar tepat dan sesuai dengan tujuan pengajarannya.

Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan di benak mereka sendiri. Belajar merupakan suatu proses yakni suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.Dalam proses belajar, anak belajar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi pengetahuan kemudian member makna pada pengetahuan itu. Melalui proses belajar yang mengalami sendiri, menemukan sendiri, secara berkelompok seperti bermain, maka anak menjadi senang, sehingga tumbuhlah

minat untuk belajar. Hasil dari belajar bukan penguasaan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Oleh karena itu diperlukan pembelajaran yang bermutu yang langsung menyenangkan dan mencerdaskan siswa. Suasana kondisi pembelajaran yang menyenangkan dan mencerdaskan siswa itu salah satunya dapat tercipta melalui pembelajaran Group Investigation.

Dalam penelitian ini peneliti mencoba mengkaji penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation dalam proses pembelajaran. Group Investigation adalah penemuan yang dilakukan secara berkelompok, murid/siswa secara berkelompok mengalami dan melakukan percobaan dengan aktifyang memungkinkannya menemukan prinsip. Model pembelajaran kooperatif Group Investigation memiliki beberapa kelebihan.

Pertama, siswa diberi kesempatan untuk mencari sendiri informasi mengenai topik/materi pembelajaran untuk menambah wawasan siswa.Kedua ,adanya kegiatan diskusi kelompok untuk bertukar pendapat/gagasan yang melibatkan peran serta seluruh siswa. Ketiga, adanya kegiatan presentasi yang akan melatih siswa untuk mengemukakan pendapat dimuka umum serta menumbuhkan adanya keaktifansiswa dalam kegiatan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran dalam Group

Investigation siswa dibagi menjadi beberapa

kelompok yang heterogen kemudian guru mengidentifikasi topik sesuai materi pelajaran, dan masing-masing kelompok menentukan topik untuk diinvestigasi atau dikaji lebih lanjut dengan mencari informasi-informasi melalui sumber belajar yang relevan. Setelah itu masing-masing kelompok membuat laporan hasil investigasinya dan dipresentasikan di depan kelas. Dalam presentasi harus dapat melibatkan siswasecara aktif melalui umpan balik terhadap topic yang telah disampaikan siswa. Guru memberikan penilaian atas hasil laporan siswa dan kegiatan presentasi semua kelompok. Guru memberikan nilai tambah bagi siswa yangselalu berpartisipasi aktif dalam kegiatan presentasi sehingga hal ini diharapkan akan memotivasi keaktifan siswa dan meningkatkan minat belajar siswa, sehingga pencapaian hasil belajar siswa bisa optimal.

(3)

27 Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan judul penelitian sebagai berikut: ”Peningkatan Prestasi

Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigationp pada Siswa Kelas XI Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten Semester 3 Tahun Pelajaran 2015/2016”

II. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Model Pembelajaran KooperatifTipe Group Investigation

Dari berbagai pendapat para ahli mengenai definisi cooperative learning, maka dapat disimpulkan bahwa model cooperative

learning adalah sebuah model pembelajaran

yang membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dengan maksud agar siswa dapat bekerja dan belajar bersama dalam sebuah kelompok untuk menyelesaikan tugas secara bersama dan saling membantu dalam kelompoknya.Dalam model pembelajaran kooperatif lebih menekankan pada tugas-tugas yang diberikan guru untuk diselesaikan bersama dengan anggota kelompoknya, sedangkan peran guru hanya sebagai fasilitator dalam membimbing siswa menyelesaikan tugas.

Dalam pandangan Tsoi, Goh, dan Chia (Aunurrahman, 2010: 151), model investigasi kelompok secara filosofis beranjak dari paradigma konstruktivis, dimana terdapat suatu situasi yang di dalamnya siswa-siswa berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan berbagai informasi dan melakukan pekerjaan secara kolaboratif untuk menginvestigasi suatu masalah, merencanakan, mempresentasikan, serta mengevaluasi kegiatan mereka. Model investigasi kelompok sesuai untuk merespon kebutuhan siswa dalam mengembangkan kemampuan belajar kolaborasi melalui kerja kelompok, dimana kemampuan tersebut diperoleh dari pengalaman masing-masing siswa.

Group Investigation yang

dikembangkan oleh Shlomo dan Yael Sharan “Model ini didasari oleh proses demokratis dan pengambilan keputusan secara berkelompok. Guru berperan membantu siswa menyusun rencana, melaksanakanrencana, dan mengatur kelompok, serta berfungsi sebagai

konselor akademik” (Suprihadi Saputro, 2000: 129).

Berdasarkan pada pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa model

cooperative learning tipe group investigation

merupakan model pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran mulai dari merencanakan topik-topik yang akan dipelajari, bagaimana melaksanakan investigasinya, hingga melakukan presentasi kelompok dan evaluasi. Model ini menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan- bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Dalam menerapkan model investigasi kelompok pada pembelajaran diperlukan keterampilan berkomunikasi yang baik antar siswa untuk memperlancar jalannya proses kelompok, sehingga sebelum melakukan investigasi kelompok guru diharapkan memberikan pelatihan-pelatihan berkomunikasi kepada siswa. Hal ini diperkuat oleh pendapat Nur Asma (2006:61) bahwa “keberhasilan pelaksanaan Investigasi Kelompok sangat tergantung dengan latihan-latihan berkomunikasi dan berbagai keterampilan sosial lain yang dilakukan sebelumnya”.

Prinsip Model Cooperative Learning Tipe Group Investigation

Dalam proses pembelajaran yang menerapkan model cooperative learning tipe

group investigation, peran seorang guru atau

pengajar adalah sebagai pembimbing dalam pelaksanaan proses pembelajaran dan sebagai konselor maupun konsultan dalam membantu mencarikan jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi oleh siswanya. Menurut Udin S. Winataputra mengungkapkan (2001: 36-37) bahwa dalam kerangka ini pengajar seyogyanyamembimbing an mengarahkan kelompok melalui tiga tahap yaitu sebagai berikut.

1. Tahap pemecahan masalah. 2. Tahap pengelolaan kelas.

3. Tahap pemaknaan secara perorangan. Tahap pemecahan masalah berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan. Masing-masing kelompok fokus pada subtopik yang menjadi bagian dari

(4)

28 kelompoknya. Misalnya kelompok yang mendapat subtopik tentang preseanceakan membahas dan mencari informasi yang terkait masalah tersebut. Selanjutnya bagaimana masing-masing kelompok melakukan upaya untuk mencari pemecahan dari masalah yang ada dalam kelompoknya.

Tahap pengelolaan kelas berkenaan dengan proses menjawab pertanyaan, informasi apa saja yang diperlukan, bagaimana mengorganisasikan kelompok untuk memperoleh informasi itu. Pada tahap ini masing-masing kelompok melakukan perencanaan kelompok yang berkaitan dengan bagaimana cara menyelesaikan masalah yang ada dalam kelompoknya, kemudian informasi apa saja yang akan digunakan dimana informasi tersebut dapat diperoleh di lingkungan sekitar ssiwa.

Tahap pemaknaan secara perorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuatnya, dan apa yang membedakan seseorang sebagai hasil dari mengikuti proses tersebut.Setelah memperoleh informasi dari berbagai sumber langkah selanjutnya adalah melakukan diskusi, menganalisis dan menyimpulkan. Karena dalam model

cooperative learning tipe group investigation

siswa membangun pengetahuannya sendiri melalui belajar dalam kelompok, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing siswanya maka pengetahuan yang diperoleh siswa akan lebih bermakna, dan siswa dapat memperoleh pengalaman yang lebih melalui proses belajarnya daripada siswa yang belajar secara individual.

Langkah-Langkah Model Cooperative Learning Tipe Group Investigation

Menurut Sharan, dkk. (Trianto, 2010: 80), membagi langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 (enam) fase yaitu sebagaiberikut.

1. Memilih topik

2. Perencanaan kooperatif. 3. Implementasi.

4. Analisis dan sintesis. 5. Presentasi hasil final. 6. Evaluasi.

Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara sadar dan menyeluruh yang diperoleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan siswa dan juga dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Hasil belajar mencakup tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dimana ketiga ranah tersebut saling berhubungan satu sama lain.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri.Sugihartono, dkk. (2007: 76-77), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut: 1. Faktor internal adalah faktor yang ada

dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis.

2. Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Evaluasi Belajar

Oemar Hamalik (2001:159) mengemukakan bahwa “Evaluasi Belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.Hasil belajar menunjuk pada prestasi belajar, sedang prestasi belajar itu merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku siswa”. Evaluasi belajar adalah suatu proses kegiatan penilaian untuk membuat keputusan tentang hasil belajar yang dicapai siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Salah satu mata pelajaran produktif kelompok normatif adaptif yang diajarkan

(5)

29 pada siswa kelas XI semua progrm keahlian di SMK adalah ilmu pengetahuan sosial. Materi yang diajarkan pada pelajaran semester tiga terdiri dari dua standar kompetensi yaitu: 1. Memahami struktur sosial dan berbagai

faktor penyebab konflik dan mobilitas sosial

2. Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural

Pada penelitian ini materi yang akandiajarkan pada kegiatan pembelajaranadalah menganalisis faktor penyebab konflik sosial dalam masyarakat dan menganalisis hubungan antar struktur sosial dan mobilitas sosial. Sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan, siswa perlau melakukan pengamatan untuk menggali pemahamannya pada materi yang diajarkan guru. Siswa juga perlu berdiskusi dengan teman untuk berbagi pengetahuan atau sumber belajar untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, peneliti melakukan evaluasi setiap mengadakan siklus penelitian.Nilai Kriteria Ketentuan Minimal (KKM) pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) di SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten adalah adalah 75. Jadi apabila ada siswa yang belum mencapai nilai tersebut, maka dilakukan ulangan lagi atau pengajaran remedial pada siswa tersebut

Kerangka Berpikir

Materi pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) dalam penelitian ini dekat dengan kejadian-kejadian atau permasalahan-permasalahan yang ada dilingkungan masyarakat. Kemudian siswa membangun dan mengembangkan pengetahuannya untuk dapat mencari pemecahan terhadap berbagai permasalahan yang ada, sehingga siswa memiliki pengetahuan dalam memahami kehidupan masyarakat.Kegiatan pembelajaran sebelumnya umumnya diwarnai oleh model pembelajaran konvensional yang lebih banyak menekankan pada metode ceramah, sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yangdigunakan guru selama ini lebih bersifat (teacher center) dan hanya berlangsung satu arah dari guru ke siswa.Hal ini berdampak pada kegiatan pembelajaran yang kurang efektif, sehingga

dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.Untuk itu perlu diadakan pemilihan terhadap strategi pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Salah satu cara yang dapat dilakukan guru adalah dengan menerapkan model pembelajaran baru (inovatif)tipe investigasi kelompok (Group Investigation).

Dalam penerapan model cooperative

learning tipe group investigation dalam

kegiatan pembelajaran dapat membantu siswa dalam memperoleh pengetahuan baru melalui pengalamanya dalam berkelompok. Kemudian melalui proses investigasi kelompok, siswa akan saling bekerja bersama menyelesaikan tugas kelompok sehingga tercipta kehangatan interpersonal siswa. Selanjutnya investigasi kelompok juga dapat melatih siswa menjadi pembelajar yang mandiri karena siswa yang aktif dalam mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran melalui berbagai sumber yang tersedia. Melalui interaksinya dalam kelompok akan menjadikan siswa lebih komunikatif dan berani dalam mengemukakan ide maupun pendapatnya di dalam kelompok. Selain itu, pembentukan kelompok secara heterogen dapat melatih siswa bersikap saling menghormati dan toleransi terhadap keragaman misalnya perbedaan latar belakang siswa, agama, suku, budaya, dan sebagainya. Siswa akan tetap bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok dan tidak memandang adanya perbedaan.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir tersebut di atas, dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut :

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation mampu meningkatkan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada siswa kelas XI Pemasaran 2SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten semester 3 tahun pelajaran 2015/2016.

III. METODE PENELITIAN Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Jogonalan yang terletak di jalan Tegalmas Prawatan Jogonalan Kabupaten Klaten.

(6)

30 Penelitian dilaksanakan selama enam bulan mulai bulan Juli sampai Desember 2015.

Subyek Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas XIPemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten tahun pelajaran 2015/2016 dengan jumlah siswa 36siswa.

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dilaksanakan dengan strategi siklus yang berangkat dari identifikasi masalah yang dihadapi oleh guru, penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi. Rangkaian kegiatan berurutan mulai dari perencanaan tindakan sampai dengan refleksi disebut satu siklus penelitian. Jika dalam setiap refleksi ditemukan masalah yang dihadapi guru, baik masalah baru maupun masalah lama yang dianggap mengganggu tercapainya PTK, maka guru dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan merumuskan masalah tersebut. Selanjutnya, guru dapat melakukan penelitian lebih lanjut pada siklus berikutnya, yang dimulai dari penyusunan rencana tindakan sampai dengan refleksi. Namun, jika refleksi pada siklus tertentu tidak terjadi kendala dan tujuan PTK telah terselesaikan/tercapainya, maka penelitian tidak perlu dilanjutkan ke siklus kedua.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Observasi, digunakan untuk mengamati

pelaksanaan dan perkembangan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Pengamatan dilakukan sebelum, selama, dan sesudah siklus penelitian berlangsung. Alat untuk mengumpulkan data digunakan lembar pengamatan terhadap kegiatan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

2. Tes, digunakan untuk mengetahui perkembangan atau keberhasilan pelaksanaan tindakan. Adapun bentuk tes yang diberikan kepada siswa adalah tes tertulis.

Validasi Data

Pada penelitian ini uji validitas yang digunakan untuk memeriksa keabsahan data adalah triangulasi, yaitu dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Pada penelitian ini, peneliti memakai teknik triangulasi data dan triangulasi metode. Triangulasi data berarti peneliti memperoleh data dari berbagai sumber dalam ha lini guru lain pegampu mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Triangulasi metode berarti peneliti menggunakan berbagai teknik atau metode dalam pengumpulan data (observer berperan aktif).

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data pada penelitian ini adalah analisa deskriptif komparatif. Data yang diperoleh digunakan untuk menggambarkan hasil penelitian dan membuat refleksi dari hasil tersebut. Hasil observasi pra siklus kemudian dibandingkan dengan hasil observasi setelah pelaksanaan tindakan mulai dari siklus I sampai dengan siklus II.

Indikator Kinerja

Indikator ketercapaian siklus I dan II dinilai dari beberapa komponen dan target yang diharapkan dapat dicapai. Indikator ketercapaian dalam penelitian ini adalah pencapaian prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) siswa yang memperoleh nilai sama dengan atau di atas 75 sebanyak minimal 29 orang atau 80%.

IV. HASIL TINDAKAN Deskripsi Siklus Awal

Dari observasi awal yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) masih banyak yang berada dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75. Berdasarkan hasil nilai pra siklus, terlihat baru20 siswa telah memenuhi KKM sedangkan sisanya 16 siswa belum memenuhi KKM. Berdasarkan hasil pengamatan pra siklus di atas diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 1. Prestasi Belajar Ilmu pengetahuan

sosial (IPS)Pra Siklus No Kriteria Jumla

h Prosentase

1 Tuntas 20 56

(7)

31

Jumlah 36 100

(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Dari data tersebut di atas, dapat dinyatakan bahwa prestasi belajar mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS)masih perlu ditingkatkan karena masih terdapat 16 siswa yang belum mencapai batas nilai tuntas. Untuk lebih jelasnya ketuntasan belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) pra siklus dapat dilihat pada diagram berikut ini :

Dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa penyebab kurang maksimalnya kegiatan pembelajaran tersebut antara lain adalah :

1. Dari Segi Siswa

a. Siswa kurang berminat mengikuti kegiatan pembelajaranilmu pengetahuan sosial (IPS), terbuktikonsentrasi mereka tidak dapat fokus sampai akhir kegiatan pembelajaran.

b. Siswa cenderung mengabaikan pelajaran produktif dan pasif dalam kegiatan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS), terbukti mereka cenderung melakukan kegiatan yang mengasyikkan tanpa memperhatikan materi.

c. Siswa kurang serius pada saat mengerjakan latihan dan tugas yang diberikan oleh guru.

2. Ditinjau dari Segi Guru

a. Guru masihmenggunakan model pembelajaran yang mungkin kurang sesuai dengan karakter siswa maupun materi pelajaran, terbukti pembelajaran masih berpusat pada guru.

b. Guru hanya menganggap siswa hanya sebagai obyek belajar, terbukti mereka kurang dilibatkan dan hanya melaksanakan perintah selama kegiatan pembelajaran yang berlangsung.

Deskripsi Hasil Siklus I Perencanaan Tindakan

Kegiatan perencanaan tindakan 1 dilaksanakan pada hari Rabu 12 Agustus 2015 di ruang guru SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten. Peneliti membuat rancangan tindakan yang akan dilakukan dalam proses penelitian pada siklus I. Pelaksanaan tindakan pada siklus I direncanakan akan dilaksanakan

selama tiga kali pertemuan, yakni pada hari Jum’at tanggal 14, 21 dan 28 Agustus 2015.

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan I dilaksanakan selama tiga kali pertemuan sesuai dengan skenario pembelajaran dan RPP. Masing-masing pertemuan dilaksanakan selama 2 x 45 menit (dua jam pelajaran). Selama proses belajar mengajar berlangsung, peneliti juga melakukan observasi terhadap proses pembelajaran yang berlangsung dengan mengamati kegiatan siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.

Materi pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada pelaksanaan tindakan I ini adalah menganalisis faktor penyebab konflik sosial dalam masyarakat. Materi ini direncanakan untuk tiga kali pertemuan.

Observasi dan Interpretasi

Berdasarkan hasil evaluasi belajar siklus I yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 2. Hasil Nilai Evaluasi Siklus I

No Siklus I Jumlah Prosentase

1 Tuntas 27 75

2 Tidak Tuntas 9 25

Jumlah 36 100

(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Dari tabel di atas, pada siklus I terdapat27 siswa (75%) yang sudah mampu mendapatkan nilai sama dengan atau di atas KKM, sedangkan 9 siswa lainnya (25%) belum mampu mencapai batas KKM. Nilai rata-rata prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada siklus I ini adalah 77,83 meningkat 8% dari nilai rata-rata pra siklus.

Refleksi Tindakan Siklus I

Berdasarkan observasi dan analisis di atas, maka tindakan refleksi yang dapat dilakukan untuk mencapai target keberhasilan penelitian adalah:

1. Sebaiknya guru memperhatikan tingkat kesiapan belajar siswa agar konsentrasi mereka dapat terpusat pada materi yang akan disampaikan.

2. Gurumembagi siswa pada kelompok yang lebih kecil menjadi 9 kelompok dengan anggota empat orang per kelompok dan

(8)

32 lebih heterogen untuk menjaga harmonisasi kerja kelompok.

3. Guru harussering berkeliling ke kelompok pada saat siswa berdiskusi untuk menjaga kondisi konsentrasi mereka pada saat bekerja kelompok.

Deskripsi Hasil Siklus II

Perencanaan Tindakan Siklus II

Kegiatan perencanaan tindakan IIdilaksanakan pada hari Kamis 3 September 2015 di ruang guru SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten. Peneliti merencanakan rancangan tindakan yang akan dilakukan pada siklus II. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi dari siklus I, kemudian direncanakan pelaksanaan tindakan pada siklus II akan dilaksanakan selama tiga kali pertemuan, yakni pada hari Jum’at tanggal 4, 11 dan 18 September 2015 dengan rancangan sebagai berikut:

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan II dilaksanakan selama tiga kali pertemuan sesuai dengan skenario pembelajaran dan RPP. Masing-masing pertemuan dilaksanakan selama 2 x 45 menit (dua jam pelajaran). Pelaksanaan tindakan II hampir sama dengan pelaksanaan tindakan I, hanya pada pelaksanaan tindakan II terdapat penguatan yang masih diperlukan dari tindakan I dengan membagi siswa pada kelompok yang lebih kecil dan lebih heterogen.

Materi yang disampaikan pada pelaksanaan tindakan II adalah menganalisis hubungan antarstruktur sosial dan mobilitas sosial yang merupakan kelanjutan dari materi pada pelaksanaan tindakan I.

Observasi dan Interprestasi

Dari hasil evaluasi belajar pada siklus IIterdapat34 siswa (94 %) yang mampu mendapatkan nilai sama atau di atas nilai KKM, sedangkan 2 siswa lainnya (6 %) belum mampu mencapai nilai KKM. Nilai rata-rata hasil evaluasi siklus II adalah 83,47 naik 16% dari nilai rata-rata hasil evaluasi pra siklus. Hasil nilai evaluasi ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3. Hasil Nilai Evaluasi Siklus II

No Keterangan Jumlah Prosentase

1 Tuntas 34 94

2 Tidak Tuntas 2 6

Jumlah 36 100

(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Refleksi Tindakan Siklus II

Tindakan refleksi yang dapat diambil berdasarkan pengamatan dan analisis yang telah dilakukan adalah:

1. Untuk materi hubungan antar struktur sosial, guru masih perlu memberikan contoh nyata di sekitar lingkungan siswa. 2. Guru masih perlu meluangkan waktu untuk

mengadakan pendekatan individu untuk mengatasi perbedaan kemampuan siswa.

Pembahasan

Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II dapat dinyatakan bahwa terjadipeningkatan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) dengan menggunakan modelpembelajaran kooperatif tipe Group Investigationdari siklus satu ke siklus berikutnya. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 4. Ketuntasan Hasil Evaluasi Siklus I dan Siklus II

Kriteria

Siklus I Siklus II

Jumlah Prosentase Jumlah Prosentas

Tuntas 27 75 34 94

Tidak Tuntas 9 27 2 6

Jumlah 36 100 36 100

(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Peningkatan prestasi belajarilmu pengetahuan sosial (IPS) tersebut juga dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Grafik di atas menunjukan bahwa setelah digunakannyamodel pembelajaran kooperatif tipe Group Investigationmembawa perubahan yang positif dalamkegiatan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Perubahan positif tersebut adalah terlihat dari :

1. Semakin banyaknya siswa antusias dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS).

2. Siswa menjadi lebih aktif pada saat diskusi kelompok untuk mengerjakan tugas dari guru.

3. Siswa menjadi lebih mudah memahami materi pembelajaran karena guru dan teman-temannya mau membantu

(9)

33 mengatasi kesulitan belajar yang dialaminya.

Dari hasil pengamatan pelaksanaan siklus II terlihat bahwa masalah yang dihadapi pada pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) di kelas XI Pemasaran 2 sudah dapat teratasi dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation .

HASIL TINDAKAN

Berdasarkan data penelitian diperoleh nilai tes awal pra siklus, hanya 20 siswa yang tuntas yaitu nilai memenuhi KKM dengan persetase 56% dan sisanya 16 siswa atau 44% belum tuntas. Kemudian ketuntasan belajar yang tercapai pada siklus I adalah sebanyak 27 siswa dengan persentase sebesar 75% telah memenuhi KKM dan 9 siswa atau 25% yang belum memenuhi KKM. Pada siklus I sudah terlihat peningkatan persentase meskipun belum mencapai target ketuntasan klasikalminimal yang ditetapkan (80% dari jumlah siswa atau 27 siswa) sehingga perlu melakukan tindakan siklus II . Kemudian untuk siklus II, ketuntasan prestasi belajar yang tercapai sebanyak 34 siswa dengan persentase sebesar 94 % dan hanya 2siswa yang dinyatakan belum tuntas yaitu sekitar 6%.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5. Ketuntasan Prestasi belajar Siswa Pra Siklus, Siklus I dan II

Sumber :(Sumber : Data Hasil Penelitian)

Berdasarkan data penelitian diperoleh hasil bahwa nilai rata-rata evaluasi prestasi belajar juga mengalami peningkatan. Nilai rata-rata pada pra siklus adalah 71,94 kemudian pada setelah dilaksanakan tindakan siklus I meningkat menjadi 77,83 naik 8% dari rata-rata semula. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 83,47 naik 16% dari rata-rata pra siklus. Kenaikan nilai rata-rata siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 7. Nilai Rata-Rata Per Siklus No Keterangan Nilai

1 Pra Siklus 71,94 2 Siklus 1 77,83 3 Siklus 2 83,47 (Sumber : Data Hasil Penelitian)

Hasil tersebut di atas menunjukan bahwa setelah adanya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigationberdampak pada peningkatan

prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) siswa. Dampak tersebut antara lain siswa menjadi lebih berkonsentrasi, bersemangat dan aktif sehingga lebih mudah memahami materi yang disampaikan oleh guru. Selama bekerja kelompok, siswa sudah banyak yang menyadari pentingnya berbagi ilmu dan berpikir bersama untuk menyelesaikan tugas dari guru. Akibatnya hasil belajar yang diperolehnya pun meningkat dari siklus I sampai dengan siklus II.

Setelah dilaksanakannya tindakan pada siklus I dan II dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada siswa kelas XI Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

Group Investigation.

V. PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hipotesis tindakan yang telah dikemukakan dan tindakan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh simpulan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar ilmu pengetahuan sosial (IPS) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigationpada kelas XI Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Jogonalan Klaten tahun pelajaran 2015/2016.

Implikasi

Penelitian ini memberikan gambaran yang jelas bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group

Investigationdalam pembelajaran ilmu

pengetahuan sosial (IPS) dapat meningkatkan kualitas proses dan hasilnya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pilihan dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Dengan penerapan model pembelajaran ini diharapkan dapat menghapus

(10)

34 pandangan siswa terhadap pembelajaran yang dinilai membosankan menjadi sebuah pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

Pemberian tindakan dan siklus I sampai siklus II memberikan deskripsi bahwa terdapatnya kekurangan dan kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) berlangsung. Namun, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi pada pelaksanaan tindakan pada siklus II. Pelaksanaan tindakan yang kemudian dilakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran, dapat dideskripsikan terdapatnya peningkatan kualitas baik proses maupun hasil darikegiatan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation dapat mengatasi rendahnya

prestasi belajar administrasi humas dankeprotokolan siswa. Hal ini dapat pula diterapkan pada mata pelajaran yang lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan materi pelajaran ini.

Saran

Berkaitan dengan simpulan di atas, maka peneliti mengajukan saran- saran yang dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Bagi Kepala Sekolah

a. Hendaknya selalu mendorong guru untuk berani mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan bagi siswa untuk meningkatkan kualitas kegiatan dan hasil pembelajaran.

b. Hendaknya mengusahakan tercukupinya sarana dan prasarana pendukung kegiatan pembelajaran. 2. Bagi Guru

a. Hendaknya lebih intensif dan berani mengembangkan dan menggunakan model pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan sesuai dengan karakteristik materi dan siswa yang diampunya.

b. Hendaknya mau meluangkanwaktu untuk pendekatan individual kepada siswa yang bermasalah dengan belajarnya agar segera dapat mengatasinya dan mampu meningkatkan prestasi belajar mereka.

3. Bagi Siswa

a. Hendaknya mampu memanfaatkan kegiatan diskusi kelompok untuk membentuk karakter yang bertanggung jawab, toleransi dan kerja keras.

b. Hendaknya mampu memanfaatkan pembelajaran yang kooperatif ini untuk meningkatkan pemahamannya pada materi karena kegiatan pembelajaran berjalan dengan menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKAj

Agus Suprijono. 2009. Cooperative Learning

Teori dan Aplikasi Paikem. Surabaya :

Pustaka Pelajar.

Anita. Lie. 2002. Mempraktikkan Coopertive

Learning di Ruang-Ruang Kelas.

Jakarta : Gramedia.

Arikunto, Suharsimi. 2011.Penelitian

Tindakan.Yogyakarta:Aditya Media

Arikunto,S.,Suhardjono,Supardi.

2006.PenelitianTindakanKelas.Jakarta: PT BumiAksara.

Arnie Fajar, dkk. 2005. Portofolio dalam

pembelajaran IPS. Bandung : PT

Remaja Rosdakarya.

Asmani, Jamal Ma’mur. 2013.7 Tips Aplikasi

PAIKEM.Jogyakarta:Diva Press.

Aunurrahman. 2012.Belajar dan

Pembelajaran. Bandung:Penerbit

Alfabeta.

Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi

Mahasatya.

DaryantodanMulyoR.2012.ModelPembelajara

nInovatif.Yogyakarta:GavaMedia.

Dimyati dan Mudjiono. 2009.Belajardan

Pembelajaran.Jakarta: Rineka Cipta.

Indra Bastian. 2006, Akuntansi Pendidikan. Yogyakarta : Erlangga.

Hamdani. 2011.Strategi BelajarMengajar. Bandung: CVPustaka Setia.

Kalhani Kasholah. 2001 .Penelitian Tindakan

Kelas Untuk Guru. Malang :

Universitas Negeri Malang.

Moleong,LexyJ.2010.MetodologiPenelitianKu

alitatif.Bandung:PTRemajaRosdakarya.

Mulyasa.2007.StandarKompetensidanSertifika

siGuru.Bandung:PTRemajaRosdakarya.

Muhibbin Syah. 2005. Psikologi Pendidikan

Dengan Pendekatan. Bandung : PT

(11)

35 Mulyani Sumantri dan Johar Permana. 2001.

Strategi Belajar Mengajar. Bandung:

PT Remaja Rosdakarya.

Nana Sudjana. 2008. Penilaian Hasil Proses

Belajar Mengajar. Bandung : PT

Remaja Rosdakarya.

Oemar Hamalik. 2003. Kurikulum dan

Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Permendikbud No. 70 Tahun2013 tentang Kerangka Dasar danStrukturKurikulum Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah AliyahKejuruan.

PermendikbudNo. 81A Lapiran IV tahun2013 tentang Pedoman UmumPembelajaran. Purwanto. 2013. Evaluasi Hasil

Belajar.Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Purwanto, Ngalim. 2004. Prinsip-prinsip

danTeknik Evaluasi

Pengajaran.Bandung:PT Remaja

Rosdakarya.

Rini Budiharti. 2002. Strategi Belajar

Mengajar. Surakarta : UNS Press.

Sardiman AM. 2007. Interaksi dan Motivasi

Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor

yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT

Rineka Cipta. Sudjana,Nana.2005.

PenilaianHasilProsesBelajarMengajar

.Bandung:PT Remaja Rosdakarya. Sukmadinata, NanaSyaodih. 2004. Landasan

PsikologiProses Pendidikan.

Bandung:PT Remaja Rosdakarya. Undang-Undang Republik Indonesia Tentang

Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Tahun 2003.

Uno, HamzahB dan Nurdin Mohamad. 2011.

Belajar

denganpendekatanPAIKEM.Jakarta:PT

Gambar

Tabel 3. Hasil Nilai Evaluasi Siklus II
Tabel 5. Ketuntasan Prestasi belajar Siswa Pra  Siklus, Siklus I dan II

Referensi

Dokumen terkait

Ampul dibuat dari bahan gelas tidak berwarna akan tetapi untuk bahan obat yang peka terhadap cahaya, dapat digunakan ampul yang terbuat dari bahan gelas

Tugas belajar adalah penugasan yang diberikan oleh Pejabat yang berwenang kepada Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat untuk mengikuti pendidikan pada suatu lembaga

Ketiga, pengarang Bali baik yang menulis cerpen maupun novel dalam SIM ataupun yang menulis dalam SBM, intens menempatkan tokoh guru dalam karya- karyanya sehingga

Dalam penelitian ini, penulis bermaksud mengungkapkan efektifitas alat evaluasi dengan menggunakan model ballot box pada pelatihan yang di selenggarakan di Balai

Desain form ini berfungsi untuk meng-input data-data dari karyawan yang akan menjadi objek penilaian.

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi komputer (seperti SPC) akan memberikan suatu model yang berbasis unjuk kerja, hal ini

Sterilisator Non Listrik, Stethoscope dan Tensimeter dimasukkan ke dalam utility tray.. Untuk tensimeter dan stethoscope dimasukkan ke dalam sterilisator

Kuliah mimbar OHT, papan tulis Membuat karya tulis tentang pengelolaan proyek dari studi kasus yang akan dibahas pada pertemuan ke 15 - 20... Pengelolaan Proyek