• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak terlepas dari aturan hukum yang mengikat. Manusia memerlukan aturan yang

permanent seumur hidup. Aturan yang benar, adil, tidak memihak salah seorang

atau golongan, selalu manusia inginkan. Aturan yang pasti ada pada Allah Swt dan Rasulullah Saw dan aturan dari pemimpin atau ulil amri. Dalam Firman Allah Swt dalam QS. An-Nisaa (4) : 59,



























































Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.1

Ayat ini dalam Ibnu Katsir tentang keharusan, menjelaskan perintah Allah Swt Ta‟ala berfirman, “Taatlah kepada Allah,” yakni ikutilah kitab-Nya, “dan taatlah kepada Rasul”, yakni pegang-teguhlah Sunnahnya, “dan kepada ulil amri di antara kamu”, yakni terhadap ketaatan yang mereka perintahkan kepadamu, berupa ketaatan kepada Allah bukan ketaatan terhadap kemaksiatan terhadap-Nya.2

1

Departmen Agama RI, Al-Qur’anku dengan Tajwid Blok Warna, QS. An-Nisaa : 59 (Jakarta: Lautan Lestari, 2009), 73.

2 Muhammad Nasib Ar-Rifa‟I, Ringkasan Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani, 1999), Jilid 1, 741.

Comment [H1]: Jelaskan lebih dalam pada sub bab ini mengenai ketimpangan das sein (kenyataan atau kasus yang dihadapi) dan das sollen (dasar yuridis), dasar historis, dan dasar sosiologis. Fokus pada masalah yang diteliti, yaitu mengenai kewarisan...

Pembahasan hukum Islam secara global hanya sebagai pengantar sebelum masuk ke dalam latar belakang masalah penelitian

Comment [H2]: Penulisan karya ilmiah baku dengan spasi double, kecuali untuk pengutipan langsung lebih dari tiga baris menggunakan single spasi

Penulisan bahasa asing dimiringkan

Tidak menggunakan kata sambung di awal kalimat, apalagi di awal paraghrap/alinea

(2)

Ketaatan terhadap Allah Swt dibuktikan dengan melaksanakan syariat Islam serta mengikuti Ajaran Allah Swt yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw sebagaimana tuntunan dalam Al-Qur‟an. Ketaatan kepada ulil amri dalam etika berbangsa dan bernegara diwujudkan dengan melaksanakan UUD 1945 dan Pancasila, selama pemimpin itu berbuat adil dan benar terhadap dirinya maupun kepada rakyatnya. Kebaikan-kebaikan akan selalu tercipta dan ada manfaatnya, meskipun kebaikan itu sedikit sekali, mau kebaikan itu bersifat langsung ada balasannya atau pun kebaikan yang ditahan untuk balasan yang lebih dibutuhkan nanti. Kepemimpinan seseorang disuatu Negara tercipta atas dasar kerjasama baik diantara masyarakat yang ada di Negara itu.

Sistem hukum di Indonesia juga mengakui hukum adat yang hidup di masyarakat dan memberi kebebasan memeluk agama dan beribadat menurut agamanya masing-masing (UUD 1945 Pasal 28 E ayat (1)). Negara menjamin semua warga negaranya dalam konstitusi sehingga penegakan hukum waris dalam implementasinya sangat dipengaruhi oleh hukum adat.

Khusus dalam hal kewarisan misalnya hukum adat batak dan hukum adat lampung warisan hanya untuk laki-laki tertua, yaitu mempertahankan harta warisan (terbagi-bagi) hukum bersifat otoriter (authoritarianeim) dalam perkawinan semua kekuasaan berpusat pada suami. Isteri tidak memiliki kemerdekaan (independensi) membuat perjanjian. Istri tidak memiliki hak milik sendiri, yang ada adalah harta bersama di bawah kendali suami. 3

Negara Indonesia mempunyai bermacam-macam suku dan setiap suku pastinya berbeda pemikiran. Dari bermacam-macam suku dan ras itu Indonesia mempunyai tiga sistem hukum yang berlaku yaitu sistem hukum adat, hukum Islam, dan hukum barat. Ketiga sistem hukum tersebut mempunyai ciri tersendiri dan berlaku di Indonesia pada waktu yang tidak bersamaan. Pertama, hukum adat telah lama ada dan berlaku di Indonesia, yaitu sejak masyarakat itu ada. Hukum adat merupakan hukum tertua di Indonesia, meskipun baru dikenal sebagai sistem hukum pada abad kedua puluh. Kedua, hukum Islam baru dikenal di Indonesia sejak orang Islam datang dan bermukim di Nusantara ini. Kemudian, hukum barat

3 H.M. Hatta Ali at al., Varia peradilan No. 355 Juni 2015, Ikatan Hakim Indonesia

(IKAHI), 5.

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: 1,5 lines

Comment [H3]: Tambah satu atau dua kalimat sebelum masuk ke alinea berikutnya, yaitu pembahasan mengenai sistem hukum Indonesia. Satu alinea ke alinea berikutnya harus nampak jelas benang merahnya/

Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Indent: Left: 1,25 cm, First line: 0 cm, Line spacing: single

Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Italic, Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Italic, Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Red Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: Multiple 1,56 li

Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), English (U.S.)

(3)

mulai diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah VOC yaitu gabungan perusahaan dagang Belanda Hindia Timur.4

Keragaman di setiap daerah awalnya karena terdapat ketidaksetujuan dengan aturan dan ketidakpastian hukum, sehingga peraturan hukum apa pun, darimana pun, yang lebih jelas dan disepakati oleh bermacam-macam kelompok yang kacau di suatu daerah dan tidak bersatu itu, pada waktu itu juga akan menerima dan menerapkan hukum yang ada dan lebih jelas.

Sejarah mengenalkan masyarakat Indonesia pada hukum romawi yang dikenal baik menjadi Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) atau hukum BW (burgerlijk wetboek). Dengan diundangkannya KUH Perdata dan Kitab Undang-uundang Hukum Dagang pada tahun 1847 untuk golongan Eropa di Hindia Belanda, maka tugas-tugas kerja yang bersangkut paut dengan upaya kodifikasi yang diprakarsai dan ditata oleh eksponen-eksponen bewuste

rechtspolitiek untuk mengukuhkan supremasi hukum di Hindia Belanda.5 Dengan pengukuhan hukum di Hindia Belanda itu memudahkan orang untuk menetapkan nilai peraturan di masyarakat. Hukum perdata dalam arti luas meliputi semua hukum privat materiil yaitu segala hukum yang mengatur kepentingan-kepentingan perorangan.6

Hukum perdata barat di Indonesia dalam sejarahnya merupakan hukum yang sering dikatakan hukum Pemerintah VOC. Hukum pemerintahan masyarakat VOC digunakan untuk mengatur masyarakat Indonesia. Padahal sebenarnya hukum perdata barat itu adalah hukum romawi. Hukum pada masa pemerintahan Yulius Caesar tahun 1950 SM yang meluaskan kekuasaannya sampai Eropa Barat. Negara Perancis pun termasuk negara yang dijajahnya dan hukum Romawi diterapkan di sana.

4

Anshary MK., Hukum Kewarisan Islam Indonesia, Dinamika Pemikiran dari Fiqh

Klasik ke Fiqh Indonesia Modern, (Bandung: Mandar Maju, 2013), Cetakan 1, 2.

5

Soetandjo Wingjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional, (Jakarta: Rajawali Press, 1995), 56.

6

Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Intermasa, 1985), Cetakan ke 17, 9.

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: Multiple 1,58 li

(4)

Hukum perdata Indonesia mengenal “ketidakcakapan” (onbekwaamheid) istri melakukan hubungan hukum tertentu, melainkan harus didampingi oleh suami. Berbeda sekali dengan hukum adat kita. Suami isteri sederajat. Isteri bebas melakukan hubungan hukum tanpa perlu pendampingan suami. Kita juga mengenal harta bersama (gana-gini), tetapi setiap transansi yang dibuat suami atas gana gini memerlukan persetujuan isteri. 7

Sistem hukum yang berlaku di Indonesia ialah hukum positif. Adapun fungsi hukum menurut Gustav Radbrucgh terdiri dari kegunaan, kepastian dan keadilan. Selain daripada fungsi hukum itu, ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan dalam menegakkan hukum, yaitu : kepastian hukum (rechtssicherheit), kemanfaatan (zwechmassigkeit) dan keadilan (gerechtigkeit).8 Keadilan merupakan dambaan semua orang, meskipun demikian keadilan menurut semua orang berbeda-beda. Muncul pemikiran bahwa mana yang harus lebih didahulukan keadilan atau kepastian hukum. Di ruang pengadilan seorang hakim mengutamakan kepastian hukum, sedangkan seorang terdakwa mencari keadilan. Semakin dicari keadilan semakin ditemukan ketidakadilan. Ketidakadilan itu membawa pada permasalahan yang pelik di masyarakat, selalu saja hal ini menjadi pemandangan yang kerap kali dilihat dalam penerapan hukum.

Disamping itu, keadilan dan kepastian hukum juga harus memperhatikan kegunaan.

Pohon Ilmu hukum (science tree of law) mengenal PIH, PHI, HAN, HTN, Pidana, Perdata, HAM, dan Hukum Benda. Secara khusus dalam penelitian tesis ini akan dibahas mengenai hukum perdata. Hukum perdata yang kini dimiliki Indonesia merupakan warisan Belanda ketika Indonesia di jajah oleh Negara Belanda. Sumber hukum warisan penjajah yang biasa disebut sumber hukum abnormal sampai saat ini masih digunakan oleh Negara Indonesia. Kebutuhan akan peraturan dalam sekelompok orang, daerah, atau kelompok yang lebih besar,

7

H.M. Hatta Ali at al., Varia peradilan No. 355 Juni 2015, Ikatan ... Op. Cit.. 5

8 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum ( Suatu Pengantar), (Yogyakarta: Liberty, Juni 1999), Edisi Keempat, Cetakan ke 2, 145.

Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Italic, Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Font: (Default) +Headings CS (Times New Roman), Font color: Auto Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: Multiple 1,56 li

Formatted: Line spacing: Multiple 1,56 li

Formatted: Justified, Indent: First line: 1,25 cm

(5)

sangat penting untuk mengarahkan pada keadilan yang lebih baik nantinya. Indonesia dengan segala keragaman masyarakatnya tidak menjadi alasan penerapan suatu hukum menjadi tidak berlaku, apalagi dengan hukum Islam yang mayoritas di Indonesia menganutnya, tapi hanya sekelumit aturan yang mirip dengan hukum Islam tertuang dalam KUH Perdata.

Hukum perdata dibagi dalam hukum perdata materiil dan hukum perdata formil.9 Hukum perdata pada batasan materiil mencakup isi peraturan yang harus dilaksanakan oleh semua orang tanpa ada batasan jabatan tertinggi. Kemudian hukum perdata formil merupakan aturan yang dilakukan oleh orang tertentu dengan jabatan tertentu pula dalam artian khusus orang yang mampu mengemban tugas tetap. Hukum perdata mengatur bagian-bagian hukum yang memiliki syarat dan ketentuan masing-masing dalam wilayahnya sendiri. Untuk mengenal bagian-bagian hukum dalam hukum perdata lebih jauh,

Ssistematika hukum perdata itu terbagi 2 yaitu:

1. Sistematika menurut ilmu pengetahuan hukum yang terbagi dalam hukum perorangan (Personenrecht), hukum keluarga (familierecht), hukum harta kekayaan (vermogensrecht), hukum waris (efrecht).

a. Hukum perorangan (Personenrecht) yang memuat: peraturan-peraturan tentang manusia sebagai subyek hukum, domisili, dan catatan sipil; peraturan-peraturan tentang kecakapan untuk memilik hak-hak dan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak-haknya itu; hal-hal yang mempengaruhi kecakapan-kecakapan tersebut.

b. Hukum keluarga (familierecht) yang memuat: perkawinan beserta hubungan dalam hukum harta kekayaan antara suami/istri; hubungan antara orang tua dan anak-anaknya (ouderlijkemacht); perwalian (voogdij), yaitu hubungan antara wali dengan anak; pengampunan (curatele), yaitu hubungan antara orang yang diletakkan di bawah pengampunan karena gila atau pikiran tidak sehat.

9 LJ. Van Aveldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, terj. Octarid Sadino., (Jakarta: Pradnya paramita, 1983), 232.

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: 1,5 lines

Comment [H4]: Untuk apa membahas ini?

Formatted: Indent: Left: 0,5 cm, Line spacing: Multiple 1,57 li

Formatted: Indent: Left: 1,25 cm, Line spacing: Multiple 1,57 li

(6)

c. Hukum harta kekayaan (vermogensrecht), yang mengatur tentang hubungan-hubungan hukum yang dapat dinilaikan dengan uang. Hukum harta kekayaan meliputi: hak mutlak, yaitu hak-hak yang berlaku terhadap tiap orang; hak perorangan, yaitu hak-hak yang hanya berlaku terhadap seorang atau suatu pihak tertentu.

d. Hukum waris (Erfrecht), yang mengatur tentang benda atau kekayaan seorang jika ia meninggal dunia (mengatur akibat-akibat dari hubungan keluarga terhadap harta peninggalan seseorang).10

2. Sistematika menurut undang-undang yang terbagi dalam:

a. Buku I, Perihal Orang (Van Personen), yang memuat Hukum Perorangan dan Hukum Kekeluargaan;

b. Buku II, Perihal Benda (Van Zaken), yang memuat Hukum Benda dan Hukum Waris;

c. Buku III, Perihal Perikatan (Van Verbintennissen), yang memuat Hukum Harta Kekayaan yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban yang berlaku bagi orang-orang atau pihak-pihak tertentu;

d. Buku IV, yang berjudul Perihal Pembuktian dan Kadaluwarsa atau Lewat Waktu (Van Bewijs en Verjaring), yang memuat perihal alat-alat pembuktian dan akibat-akibat lewat waktu terhadap hubungan-hubungan hukum.11

Penetapan hukum tidak bisa lepas dari hukum adat istiadat. Adat istiadat di sini adalah adat istiadat yang mengikat anggota masyarakat. Untuk itu dibagi pada empat prinsip12, yaitu:

1. hukum Islam melegalisir hukum adat untuk berlaku seterusnya.

2. hukum Islam menerima hukum adat pada hal yang prinsip, kendatipun dalam pelaksanaannya berbeda dan karenanya harus disesuaikan.

3. hukum Islam lebih diutamakan dibandingkan dengan hukum adat jika terjadi perbedaan prinsip antara hukum Islam dengan hukum adat itu.

10

LJ. Van Aveldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, . . . ., 233. 11

Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, (Jakarta: PT. Intermasa, 1996)... Op. Cit.,, 16-17.

12 Abdul Ghofur Anshori, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, Eksistensi dan

Adaptabilitas, Cet. pertama, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Februari 2012), 80-8.

Formatted: Indent: Left: 1,25 cm

Formatted: Indent: Left: 0,5 cm, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: Left: 1,25 cm, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: Left: 1,25 cm

(7)

4. Islam menolak terhadap hukum adat lama karena adat itu tidak sesuai dengan hukum Islam, terutama jika memperhatikan terhadap kemaslahatan dan kemudaratan yang ditimbulkan oleh hukum adat itu.

Secara umum, prinsip-prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut: 1. tanggung jawab berdasarkan atas unsur kesalahan (liability based on fault), 2. praduga selalu bertanggungjawab (presumption of

liability), 3. praduga selalu tidak bertanggungjawab (presumption of nonliability),

4. tanggungjawab mutlak (strict liability), dan 5. pembatasan tanggung jawab (limitation of liability).13 Prinsip-prinsip tanggungjawab tersebut tergantung pada pribadi masing-masing pengemban.

Menerapkan sebagian hukum di suatu daerah atau negara yang mengacu pada salah satu agama saja tentunya mudah apabila mayoritas agama itu sendiri sama. Agama erat kaitannya dengan keimanan dan keyakinan seseorang. Jadi, dalam hal ketetapan sebuah aturan agama akan sedikit yang menentang peraturan itu. Indonesia mayoritas beragama Islam pada sejarahnya Islam masuk ke Indonesia melalui para wali yang terbagi ke daerah atau suku-suku heterogen. Mayoritas manusia dalam keimanan terhadap agama Islam itu yang memudahkan Islam berkembang di Indonesia. Hukum Islam yang berkaitan dengan keimanan dan keyakinan itu memudahkan sejumlah masyarkat untuk bersatu menegakkan aturan. Misalkan hukum yang berkaitan dengan keinginan nafsu manusia diutamakan, yang pertama hukum pernikahan. Dengan berbagai rukun dan aturan hukum yang pasti yaitu berdasarkan atas kaidah hukum al-Qur‟an, Sunnah Nabi, beserta Ijtihad para „ulama, memungkinkan untuk lebih mudah taat kepada aturan itu.

Kesepakatan terhadap waris Islam diatur juga dalam kompilasi hukum Islam dengan nama yang berbeda atau terdengar seperti nama Belanda karena secara resmi ditetapkan oleh Resolusi VOC di Hindia-Belanda (Resolutie der

13 Sukarmi, Cyber Law: Kontrak Elektronik dalam Bayang-Bayang Pelaku Usaha

(Cyberlaw Indonesia), (Jakarta: Tokobukuonline, 2008), 13.

Formatted: Space Before: 0 pt, Line spacing: single

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Space Before: 0 pt, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Space Before: 0 pt, Line spacing: Multiple 1,58 li

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: Multiple 1,58 li

(8)

Indische Regeering) pada 25 Mei 1960.14 Pada zaman VOC inilah bidang hukum keluarga diakui oleh penguasa dan dikumpulkan dalam sebuah kumpulan peraturan yang dinamakan Compendium Freijer.15 Compendium Freijer yaitu

sebutan yang menunjuk kepada nama penyusunnya, D.W. Freijer (1760).16 Mengawali berlakunya hukum Islam dengan nama kompilasi hukum Islam di Indonesia untuk pertama kalinya diumumkan Menteri Agama RI, Munawir Sjadzali, MA (periode 1983-1993) pada bulan Februari 1985 dalam ceramahnya di depan civitas academica IAIN Sunan Ampel Surabaya.17 Kompilasi hukum Islam sebagai acuan hukum setelah adanya hukum perdata tidak terlepas dari landasan idiil Pancasila dan juga tertulis pada pembukaan UUD 1945. Pada penyusunan landasan idiil Pancasila itu ditulis oleh ulama-ulama dan pemikir Islam pada masanya, walaupun saat ini pada UUD 1945 terdapat perbedaan karena mengalami empat kali perumusan tapi dengan perubahan itu lebih ada toleransi dengan agama di luar Islam.

Kompilasi hukum Islam sebagai pilar hukum masyarakat Islam di Indonesia dalam sejarahnya itu kompilasi hukum Islam dihantarkan oleh Undang-undang pengadilan agama, yang membawa nama Islam pada ranah hukum bercampur dengan hukum barat atau disebut juga Burgerlijk Wetboek. Kompilasi hukum Islam ini merupakan realisasi gagasan “Fiqh Indonesia” Hasbi dan “Madzhab Nasional” Hazairin, penilaian itu muncul atas dasar bahwa dalam merumuskan dan menyusun kompilasi hukum Islam, para penyusunnya sangat memperhatikan kebutuhan dan kesadaran hukum umat Islam.18

14

Ratno Lukito, Hukum Sakral dan Hukum Sekuler: Studi tentang Konflik dan Resolusi

dalam Sistem Hukum Indonesia terj. Sacred and Secular Laws: A Study of Conflict and Resolution in Indonesia, oleh Inyiak Ridwan Muzir, (Tangerang: Anggota IKAPI Pustaka Alvabet, Juni

2008), Cetakan 1, 196. 15

Zarkowi Soejuti, Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam, dalam Mahfud dkk (ed), Peradilan Agama, 54.

16

Ibnul Qoyim Isma‟il, Kiai Penghulu Jawa: Peranannya di Masa Kolonial, , (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), Cet. 1, 44.

17

Abdul Azis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 1996), Cetakan 1, 970.

18 Mahsun Fuad, Hukum Islam Indonesia: dari nalar partisipatoris hingga emansipatoris, (Yogyakarta: LkiS, 2004), 176

(9)

Busthanul Arifin juga mengemukakan tentang penamaan konsep meluruskan persepsi tentang syariat yang terdiri dari: 1). membenahi Pengadilan Agama, terutama hakim-hakimnya, 2). mengakrabkan umat Islam (ulama-ulama) dengan yurisprudensi, dan 3). membuat Kompilasi Hukum Islam.19 Ketiga konsep meluruskan persepsi yang dikemukakan oleh Busthanul Arifin dari membenahi Pengadilan Agama, khusus untuk hakim-hakimnya, mengakrabkan umat Islam dengan putusan-putusan hakim atau yurisprudensi kemudian membuat kompilasi hukum Islam merupakan proses mendekati pencapaian keadilan hukum.

Prospek peradilan agama semakin baik terutama setelah adanya kompilasi hukum Islam (KHI) yang dipandang dapat membantu tercapainya kesatuan dan kepastian hukum perkawinan, kewarisan, dan perwakafan.20 Dengan adanya hukum perkawinan, perwarisan, dan perwakafan di Indonesia melalui KHI tampaknya mulai mengangkat beban moral masyarakat. Proyek yang menghasilkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) ini, awalnya dimaksudkan untuk menghadirkan semacam buku pegangan bagi para hakim agama agar mampu memberikan kepastian hukum kepada para pencari keadilan.21 Urusan ibadah yang menjadi kewajiban manusia untuk menyembah Allah Swt dan untuk memenuhi hak Allah Swt. sebagai pencipta makhluk Nya, juga sebagai ketaatan kepada kekasih Nya yakni Rasulullah Saw. Sebagai sarana untuk melaksanakan sunnah Rasulullah Saw tentang perkawinan, perwarisan dan perwakafan.

Ketiga sistem yang mengandung aturan-aturan syariat terdapat dalam kompilasi hukum Islam dengan bagian-bagian buku, buku I tentang hukum perkawinan, buku II tentang hukum kewarisan, dan buku III tentang hukum perwakafan. Ketiga sistem hukum itu erat kaitannya dengan kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

19

Busthanul Arifin, Pelembagaan hukum Islam di Indonesia: akar sejarah, hambatan,

dan prospeknya, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), Cet. I, 72.

20

Anwar Harjono, Indonesia kita: pemikiran berwawasan iman-Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), Cet. 1, 125.

21 Mahsud Fuad, Hukum Islam Indonesia, : dari Nalar Partisipatoris Hingga

Emansipatoris, Cetakan ke 1, (Yogyakarta: LKiS, Februari 2005),.... Op.Cit., 248.

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: 1,5 lines

(10)

Oleh Busthanul Arifin, membagi empat jalur pengumpulan data bagi penyusunan tiga kitab hukum itu ialah:22

1. jalur kitab-kitab fiqih

2. jalur wawancara dengan ulama 3. jalur yurisprudensi peradilan agama 4. jalur studi perbandingan.

Berkaitan dengan hukum yang berhubungan dengan wilayah keluarga dan masyarakat yang saling berkaitan antara hukum perkawinan, hukum perwarisan dan hukum perwakafan. Dan kesemua hukum itu pada akhirnya bermuara pada hukum perwarisan, seseorang tidak hanya memikirkan kehidupan tapi juga kebaikan hidup yang bisa dicapai setelah meninggal nanti. Keyakinan seseorang terhadap kematian merupakan kepercayaan dan keimanan kepada Allah Swt.

Sebagai satu-satunya Pencipta. Seseorang yang beriman pada Allah yakin terhadap kehidupan yang hanya sementara di dunia. Dalam firman Allah Swt.

























































Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.23

Ayat di atas dengan tegas dimenjelaskan bahwa hanya Allah Swt yang Maha Tahutau tentang semua yang gaib. Maha Mengetahui , termasuk kehidupan manusia sebelum lahir ke dunia. Inilah kunci-kunci kegaiban yang hanya

22Busthanul Arifin, Pelembagaan hukum, .... Op. Cit.Loc. Cit, 59-60 23

Departmen Agama RI, Al-Qur’anku dengan Tajwid Blok Warna, QS. Luqman : 34, . . .

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: 1,5 lines

Formatted: Right: 1,25 cm, Line spacing: single

Formatted: Indent: Left: 1,25 cm, Line spacing: single

Formatted: Indent: First line: 0 cm, Line spacing: 1,5 lines

(11)

diketahui Allah Ta‟ala.24

Seperti dalam firman Allah Swt S. al-An’aam ayat 59 : Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.25 Ayat itu dengan langsung bermakna keimanan Allah Swt dan tentang syariat Islam yang semestinya dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari di dunia untuk mempersiapkan kehidupan yang nyata dan kekal di akhirat nanti. Dengan itu lahirlah muara ilmu hukum tentang kondisi keluarga dan sosial masyarakat yaitu ilmu faraidl atau ilmu waris.

Kedua Ilmu tentang hukum yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu KUH Perdata dan kompilasi hukum Islam atau KHI, sama-sama menjelaskan tentang aturan hukum untuk mengarahkan perilaku manusia yang menyimpang dari keadilan. Tapi lain halnya dengan masyarakat, masyarakat dalam prakteknya ada kehidupan lain, berada dalam penyimpangan pikiran, mereka mendahulukan nafsu. Kehidupan sehari-hari yang sudah berada di luar kebenaran dijadikan kebiasaan sehingga menjadi budaya.

Budaya Islam yang menjadi kebiasaan itu berada di wilayah hukum. Misalkan dalam wilayah hukum waris, pada pembagiannya. Karena waris adalah ilmu yang berhubungan dengan harta sehingga berbeda sedikit atau terlihat tidak adil sedikit maka menjadi masalah, bahkan bisa berujung pada pembunuhan. Harta bisa disebut identik dengan kemewahan seseorang, akan tetapi dalam hal waris, ada kewajiban dan hak penyaluran harta peninggalan.

Peruntukan harta peninggalan itu, secara berturut-turut ada 4 macam, yaitu;

1. Biaya perawatan (termasuk didalamnya biaya kain kafan, biaya jasa orang-orang yang memandikan, mengkafani, menyolatkan, menghantarkan ke kubur, sampai pembacaan doa/talkin);

2. Utang-utang (Utang perihal biaya kain kafan, biaya jasa orang-orang yang memandikan, mengkafani sampai pembacaan doa di kuburan);

24

Muhammad Nasib Ar-Rifa‟i, Kemudahan dari Allah : ..ringkasan tafsir Ibnu Katsir : diterjemahkan, Syihabuddin, cet 1, Jilid 3, (Jakarta: Genma Insani Press, 1999), 807.

25

(12)

3. Wasiat (dalam hal wasiat yaitu tentang keinginan waris yang spesial, dengan ditulis dalam bentuk surat yang disaksikan oleh dua orang saksi, atau oleh notaris, yang harus dilaksanakan pada waktunya tapi jika tidak menimbulkan madharat); dan

4. Waris (akhir dari pembagian harta dari yang meninggal kepada ahli waris/ keluarga/saudara yang ditinggalkan).

Pembagian waris dalam keluarga merupakan suatu keharusan bagi setiap orang untuk mensejahterakan keturunan atau sebagai upaya mempererat tali silaturahmi dalam keluarga. Waris dalam pembagiannya terkadang ada yang berbeda, karena tidak selamanya pemikiran setiap orang itu tetap seiring cobaan dan kebutuhan hidup. Oleh karenanya manusia harus sejahtera agar kehidupan dan segala kebutuhannya tercukupi dan tersyukuri. Rasa syukur manusia, merupakan sifat dari banyak sifat yang termasuk sulit dilakukan, perlu keimanan yang kuat dan latihan bersyukur yang terus menerus.

Firman Allah Swt surah An-Nisaa (4): 9,

































Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.26

Anak-anak dan harta dalam keluarga kehadirannya merupakan kebahagiaan yang berbeda. Harta selalu menjadi akar masalah dalam kehidupan khususnya keluarga di masyarakat yaitu tentang perbedaan besar kecilnya harta. Waris yang selalu berbeda dalam pembagiannya tidak bisa terlepas budaya kehidupan. Pembagian

26

Departmen Agama RI, Al-Qur’anku dengan Tajwid Blok Warna, QS. An-Nisaa : 9, . . .

Formatted: Right: 1,25 cm, Line spacing: single

Formatted: Line spacing: single Formatted: Indent: Left: 1,25 cm, Line spacing: single

(13)

yang berbeda pada waris dalam masyarakat itu disebut budaya patriarki. Karena sebagaimana pengertian dari masyarakat adalah bentuk paling modern dari peradaban manusia hingga saat ini, dari bentuk awalnya komunitas (homogen) berkembang menjadi masa (heterogen-tak teratur)27. Budaya itu sendiri dapat diartikan sebagai sesuatu perilaku atau ucapan yang sering dilakukan, yang akhirnya menjadi kebiasaan baik itu bernilai baik atau kebiasaan yang tidak bernilai atau tidak bermanfaat sama sekali. Budaya Islam banyak yang dikonsepsi dari budaya barat atau budaya yang berdasarkan pemikiran salah dan asal tiru. Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia yang beragama Islam hendaknya tetap berpedoman pada aturan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.

Mengingat dalam keluarga di masyarakat memiliki masalah dalam pembagian harta. Pemikir barat mengawali masalah keadilan dengan berpikir tentang ketidakadilan, mereka sebut kelompoknya itu kelompok feminisme. Perempuan dalam Islam berdasar atas pemikiran kaum feminis berada dalam wilayah yang terdzalimi atau tidak mendapatkan haknya sebagai perempuan. Secara umum, feminisme adalah gerakan yang berasal dari kelompok Eropa Barat yang menuntut kebebasan, keadilan, dan persamaan hak perempuan. Konon gerakan feminisme itu sudah mulai tumbuh sejak abad pertengahan. Prinsip dasar

feminisme28 adalah:

1. Bahwa kaum perempuan merupakan kelompok orang istimewa dengan sifat-sifat khususnya, misalnya atas dasar pertimbangan biologi seperti mempunyai kemampuan haid, hamil, melahirkan, dan menyusui. Atau berdasarkan kodrat dan budaya misalnya, menjadi ibu dan istri atau berdasarkan pengalaman mengasuh anak misalnya;

2. Bahwa setiap perempuan harus menjadi penentu apa yang baik baginya dan bersama-sama dengan kaum perempuan lain untuk sampai pada

27

Gunawan Sumodiningrat, Riant Nugroho D., Membangun Indonesia emas: Model

pembangunan Indonesia baru menuju negara-bangsa yang unggul dalam persaingan global

(Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2005), 112. 28

Zoer‟aini Djamal Irwan, Besarnya Eksploitasi Perempuan dan Lingkungan di

Indonesia: Siapa Bisa Mengendalikan Penyulutnya?. (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo,

(14)

kesadaran kolektif, yaitu apa dan siapa sesungguhnya seorang perempuan itu;

3. Bahwa perempuan mulai pulih kesadaran dan ketidakpuasan hidupnya bahwa dunia laki-lakilah yang menentukan segala kehidupan perempuan. Kaum feminis sadar bahwa kaum laki-laki punya kekuasaan, tetapi tentu saja laki-laki tidak mempunyai hak untuk mendiktekan kemauannya terhadap perempuan; dan

4. Bahwa feminisme bertujuan untuk mengubah semua itu dan membongkar sampai ke akar-akarnya dunia laki-laki. Kekuasaannya yang tidak adil dan kesewenang-wenangannya yang menentukan apa yang dianggap benar untuk kaum perempuan.

Feminisme tidak hanya mempersoalkan tentang pembagian waris antara

laki-laki dan perempuan. Tetapi keadilan dalam kehidupan di masyarakat lebih spesifiknya keluarga, mereka ingin keadilan dalam berbagai hal di dalam rumah atau pun di luar rumah. Pejuang feminis gender berusaha untuk merubah paradigma negatif tentang kelemahan perempuan. Mereka ingin perempuan melepaskan belenggu yang diemban berat dipikirannya. Perlahan lahan tapi pasti, belenggu itu mulai melepas pada awal abad ke-20, dan tahun 60-an hasilnya dapat dinikmati. Begitu banyak kaum perempuan di Eropa dan Amerika Serikat mulai “keluar” dari wilayahnya untuk bekerja di luar rumah sebagai perempuan karier.29 Suatu kemenangan yang besar bagi pejuang feminisme gender pada masanya, bisa merubah paradigma negatif yang telah meracuni pikiran orang dalam anggapan terdapat banyak ketidakadilan pada perempuan.

Ketidakadilan pembagian waris juga dialami oleh perempuan hindu yang tidak mendapatkan hak waris baik dari harta bawaan pemberi waris maupun dari harta gana-gini. Pertimbangan adat Bali kaum laki-laki adalah penanggungjawab leluhur dan harus membiayai ngaben. Perempuan-perempuan Bali menganggap hal ini sesuatu yang tidak adil. Awalnya perempuan Bali mendapat warisan dari

29 Naning Pranoto, Her Story :Sejarah Perjalanan Payudara, Mengungkap Sisi Terang –

Sisi Gelap Permata Perempuan, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), 103.

(15)

harta gana-gini tetapi oleh pemerintah Belanda di rubah perempuan Bali jadi tidak mendapat apa-apa. Hal ini sedang terus diperjuangkan oleh aktivis perempuan Bali. Berbeda dengan pembagian waris adat minang yang menganut matrilineal, di daerah minang Sumatera Barat hak waris merupakan hak mutlak dari kaum perempuan. Hal ini pun dianggap tidak adil oleh laki-laki minang.

Keadilan dalam hukum waris bagi untuk perempuan memang bukan hal yang baru, pengakuan atau perhatian hukum atau pembuat undang-undang terhadap perempuan terbilang baik jika peraturan itu dilaksanakan dengan baik. Misalkan pendapat Abdul Gani tentang tuduhan zina,30 bahwa lazimnya dalam pandangan masyarakat tuduhan zina itu dari suami kepada istrinya tetapi UUPA memberi kewenangan hukum kepada istri untuk melakukan hal yang sama terhadap suaminya dan menjadi salah satu alasan untuk pengajuan gugatan cerai.

Sejarah mencatat bahwa Indonesia merupakan negara yang menganut baik HAM. Di dalam Hak Asasi Manusia itu tidak ada perbandingan derajat manusia di dalam hukum. Dalam piagam Internasional, dengan adanya Hak Asasi Manusia di Indonesia sangat menghargai status perempuan, hak seorang Ibu dikhususkan, adanya keseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan. Kemudian dengan dirumuskannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 (UU No.7/1984), Konvensi Tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) (CEDAW) disahkan.31 Hukum internasional melindungi HAM melalui konvensi atau perjanjian internasional dan kebiasaan international.32 Ketentuan hukum internasional terhadap HAM yang paling lama adalah Maklumat Sedunia Tentang Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) (UDHR). UDHR

30

Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum

Indonesia, (Jakarta : Gema Insani Press, 1994), Cet. 1, 32.

31

UU No.7/1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention on the Elimination of All Forms of Discirmination

Against Women).

32 Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, Buku I, (1999), 102-105; Istento op. cit. catatan kaki no. kaki No.1, Bab II.

(16)

dikeluarkan pada tahun 1948. UDHR telah mempengaruhi serta diakui Republik Indonesia.33

Keadilan sangat erat kaitannya dengan hak asasi manusia (HAM). Dalam firman Allah Swt. keharusan berbuat adil tertulis jelas dalam Surah An-Nisaa (4): 135,













































































Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.34

Allah Swt sangat memerintahkan manusia yang beriman untuk menegakan keadilan, menjadi saksi keadilan karena Allah sebagai salah satu sikap ikhsan yang baik.Adil pada diri, adil pada hak Allah, ketika sendiri pun pada akhirnya akan bisa mengendalikan diri, tidak akan melakukan kejahatan apapun meskipun ada kesempatan untuk berbuat dzalim pada diri sendiri itu. Firman Allah, walaupun keadilan itu terhadap kedua orang tua dan karib kerabat. Maka janganlah kamu gentar terhadap mereka dan buktikanlah kebenaran, meskipun

33

Konsiderans Menimbang huruf b TAP MPR No.XVII/MPR/1998 beserta Konsiderans Menimbang huruf d UU No.39 Th.1999 Tentang Hak Asasi Manusia (HAM); Ni'matul Huda,

Hukum Tata Negara: Kajian Teoritis dan Yurdis Terhadap Konstitusi Indonesia (1999), 116-117.

34

(17)

mereka menjadi sengsara, karena kebenaran itu akan menghukumi setiap orang.35 Ketika kita tidak berbuat adil maka dalam firman Allah di atas dijelaskan bahwa Allah mengetahui segala apa yang kita kerjakan.

Islam telah menyelamatkan kaum wanita dari kezaliman dan ketidakadilan yang lebih jelas menjauhkan kaum wanita dari pikiran jahiliyah. Yang ketika itu sangat jauh sekali dari nilai-nilai agama sekarang, karena zaman jahiliyah atau zaman kebodohan, jika ibu melahirkan anak perempuan maka anak itu di kubur hidup-hidup karena ada pemahaman ideologi sesat anak perempuan itu merugikan, kalau hidup juga tidak akan mendapat harta waris. Wanita tidak mendapat bagian dari harta waris dan bahkan ia dimasukkan sebagai harta waris.36 Seiring berjalannya zaman yang semakin berkembang, manusia banyak yang berpikir, dan memiliki kelompok-kelompok cendikiawan yang berani berpikir mencari kebenaran yang sebenarnya. Pemikiran zaman jahiliyah pun semakin tidak dimengerti dan tidak dipahami, yang pada akhirnya pemikiran itu pun terhapuskan oleh pemikiran baru yang lebih realistis, baik dan benar sesuai al-Qur‟an dan sunah Nabi Saw.

Keadilan itu seolah-olah menjadi kata yang mudah diucapkan tapi banyak orang susah merealisasikannya dalam kehidupan. Adil seakan menjadi momok yang menakutkan dalam hidup manusia, meskipun sebenarnya adil dalam Al-Qur‟an disebutkan berdampingan dengan kebenaran. Padahal dalam aturan masyarakat Indonesia keadilan tercantum dalam Pancasila s. Sila ke-5 (lima)

Pancasila, yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, tetapi keadilan

bagi semua anggota waris mengenai harta warisan, baik ahli waris maupun waris yang bukan karena hubungan darah tetapi karena hubungan pengakuan saudara dan lain sebagainya menurut hukum adat setempat.37

Keadilan yang harusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam membagikan harta warisan tetapi bahayanya jika didahulukan dengan nafsu yang

35

Muhammad Nasib Ar-Rifa‟i, Kemudahan dari Allah:, .... Lock. Cit.,ringkasan tafsir Ibnu Katsir : diterjemahkan, Syihabuddin, cet 1, (Jakarta: Genma Insani Press, 1999), 817.

36

Husen Muhammad Yusuf, Keluarga Muslim dan Tantangannya, diterjemahkan Salim Basyarahil, (Jakarta: Gema Insani Press, 1989), Cet. 1, 25.

37 Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat, cet 7, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), 20.

(18)

menjadikan ahli waris lupa diri. Sehingga, tidak sedikit yang menjadikan harta warisan dibagikan secara tidak adil. Pembagian harta warisan itu bisa menjadi bahan pertengkaran meskipun dalam Islam sudah jelas diatur dalam aturan yang sesuai dengan porsinya. Pembagian harta warisan yang diatur dalam Islam sudah sesuai porsi menurut keadilan Tuhan. Harta waris dibagikan harus secara adil sesuai syariat, untuk mendapatkan pembagian waris yang adil diperlukan ilmu kewarisan.

Ilmu kewarisan dalam hukum yang berlaku di Indonesia, dikenali sebagai hukum membagi harta dengan kesepakatan pasti. Indonesia ada 3 sistem hukum yang dianggap baik dan adil. Ketiga hukum itu ialah hukum Barat/BW, hukum Adat, dan Hukum Islam. Menurut hukum perdata BW, tata cara pembagian warisan dikategorikan menjadi dua prosedur, yaitu: (1) pewarisan berdasarkan undang-undang (ab intestato), dan (2) pewarisan berdasarkan wasiat (testament).38

Waris hanya berlaku ketika seseorang meninggal dunia, itu terdapat dalam KUH Perdata Bab ke dua belas tentang perwarisan karena kematian, dibagian ke satu sebagai ketentuan umum. KUH Perdata mengatur masalah pembagian waris tidak terdapat perbedaan bagian antara laki-laki dan perempuan dan orang yang hidup terlama. Di bagian ke dua, tentang perwarisan para keluarga sedarah yang sah, dan si suami atau istri yang hidup terlama. Saudara laki-laki dan Saudari perempuan juga dinilai sama dalam KUH Perdata disebut keadilan adalah 1:1 yaitu:

1. Anak-anak atau sekalian keturunan mereka, biar dilahirkan dari lain-lain perkawinan sekali pun, mewaris dari kedua orangtua, kakek, nenek atau semua keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, dengan tiada perbedaan antara laki-laki atau perempuan dan tiada perbedaan berdasarkan kelahiran terlebih dahulu.39

2. Pembagian akan apa yang menurut pasal-pasal yang lalu menjadi bagian para Saudara laki-laki dan Saudari perempuan, dilakukan di antara mereka

38

Mukhtar Zamzami, Perempuan dan Keadilan dalam Hukum Kewarisan Indonesia, cet 1, (Jakarta: Prenadamedia, 2013), 149.

39

(19)

dalam bagian-bagian yang sama, jika mereka berasal dari perkawinan yang sama.40

Ahli waris dalam KUH Perdata tertulis di Pasal 832 yaitu, para keluarga sedarah baik sah, maupun luar kawin dan si suami atau istri yang hidup terlama. Di luar Pasal 838 sampai Pasal 840 yaitu terkait orang yang dianggap tak patut menjadi waris dan karenanya pun dikecualikan dari perwarisan. Tujuan aturan hukum ialah untuk kehidupan yang lebih baik. Hukum menentukan bentuk masyarakat. Masyarakat yang belum dikenal dapat dicoba mengenalnya pada

pokok-pokoknya dengan mempelajari hukum yang berlaku dalam masyarakat.41

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991, bahwa Ulama Indonesia dalam Loka Karya yang diadakan di Jakarta pada tanggal 2 sampai 5 Februari 1988 telah menerima baik tiga rancangan buku Kompilasi Hukum Islam, yaitu Buku I tentang Hukum Perkawinan, Buku II tentang Kewarisan dan Buku III tentang Hukum Perwakafan. Kompilasi Hukum Islam di Bab II dalam hal perwarisan tentunya mengarah pada perlindungan terhadap umat Islam dalam hal agamanya tidak hanya laki-laki tapi juga perempuan. Perlindungan dalam hal kecil sampai pada hal yang lebih besar, dengan akses jalan kebenaran, kejujuran, keuntungan nantinya akan tercipta keadilan tidak memihak. Secara dasar hukum Islam tentang keluarga ada pada Kompilasi Hukum Islam sebagai bahan dari campuran pemikiran Islam kontemporer.

Hukum kewarisan dalam KHI merupakan hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. Ahli waris dalam Kompilasi Hukum Islam ialah beragama Islam apabila diketahui dari kartu identitas atau pengakuan atau amalan atau kesaksian, sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau anak yang belum dewasa, beragama menurut ayahnya atau lingkungannya. Karena KHI berdasarkan Al-Qur‟an dan Al-Hadis yang

40

Pasal 857 KUH Perdata

41 Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al-Qur’an dan Hadits, (Jakarta: Tintamas, 1982), Cetakan ke 6, 11.

(20)

diimplementasikan melalui pemikir para tokoh dan atau para „ulama. Otoritas legislatif dalam pemerintahan Islam tidak diberikan atau diserahkan kepada manusia, melainkan kepada Qur‟an; dan keluar (menyimpang) daripadanya berarti kafir, zalim atau fasik.42

Peraturan hak waris pada KHI hendaknya dipakai untuk masyarakat Indonesia yang mempunyai keyakinan dan beragama Islam karena dalam KHI sudah diatur sesuai porsi dan aturan yang berlaku dalam Islam. Aturan yang dipakai dalam KHI berdasarkan pemikiran para tokoh ulama dengan kapasitas yang mumpuni. Sehingga dapat dijadikan pedoman untuk masyarakat muslim yang tinggal di Indonesia. Walaupun ditemukan bagian yang tidak sempurna dan tidak sama sebenar dengan al-Qur‟an dan Hadis, karena memang KHI ini berdasarkan pemikiran manusia, seberapa banyak pun jumlah manusia yang berpikir dalam pembuatan KHI tetap itu pikiran manusia, meskipun semua ahli dibidang masing-masing, tidak bisa menandingi kemutlakan al-Qur‟an.

Perbedaan ahli waris dari kalangan laki-laki secara singkat adalah sepuluh, ahli waris. Ahli waris dari kalangan perempuan ada 7, dengan tingkatan 1.ashabul furudh, 2. ashabah nasabiyah, 3. ashabah sababiyah, 4. ashabah orang yang memerdekakan, 5. harta rad diserahkan kepada ashabul furudh nasabiyah, 6.

dzawul arham, 7. maula perwalian, 8. orang yang dinyatakan bernasab yang

dihubungkan pada orang lain, dia mewarisi dari orang yang menyatakan sendiri jika yang menyatakan mati, sementara tidak memiliki dzawul furudh, ashabah, tidak pula dzawul arham, dan tidak pula maula perwalian.43

Kompilasi hukum Islam menjelaskan ahli waris pada Pasal 185 (a dan b): 1. Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris maka

kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173; dan

42

Manna Khalil al-Qattan, Mabahis fi ‘Ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh Mudzakir AS.,

Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an, (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2013), Cetakan ke 16, 398.

43 Tim El-Madani, Tata Cara Pembagian Waris dan Pengaturan Wakaf, cet 1, (Yogyakarta: Tim Pustaka Yustisia, 2014), 34-35.

(21)

2. Bagian bagi ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti. Artinya, bahwa pada bagian ahli waris bisa digantikan oleh anaknya, ahli waris pengganti tidak boleh sama bagiannya dengan yang diganti, bisa sama dengan yang diganti.

Aturannya Pasal 173, seseorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dihukum karena:44

1. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris; dan

2. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

Berdasarkan pemaparan di atas terdapat persamaan dan perbedaan ketentuan dalam perkara waris perdata dan waris Islam sehingga penelitian ini menarik untuk diteliti. Sepanjang pengetahuan peneliti, penelitian tentang keadilan distributif harta waris menurut KUH Perdata dan kompilasi hukum Islam dalam perspektif Maqashid al-Syari’ah belum diteliti sebelumnya sehingga penelitian ini murni gagasan peneliti.

Peneliti lain melakukan penelitian dengan fokus yang berbeda. Misalkan tesis yang diteliti oleh Asep Fauzi Firmansyah dengan judul tesis konsep keadilan dalam pembagian harta warisan terhadap isteri.45 Penelitian ini konsep keadilan dalam pembagian harta warisan terhadap isteri yang menanggung beban ekonomi keluarga. Menurutnya, pembagian warisan harta bersama pada wanita bekerja untuk menghidupi ekonomi keluarga sering dirasakan tidak adil oleh pihak wanita. Hal ini disebabkan harta milik perempuanwanita tersebut diikutsertakan

44

KHI Pasal 173 45

Asep Fauzi Firmansyah [online]. Tersedia: http://web.iaincirebon.ac.id/ebook/

repository/PERDAIS-116050001%20-%20Abstraksi.pdf, Tesis: Konsep Keadilan dalam Pembagian harta Warisan Terhadap Isteri (Studi Isteri yang Menanggung Nafkah Keluarga),

Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, 2011), [Bandung, 30 Juni 2015].

(22)

dalam pembagian harta warisan. Proses pembagian harta warisan dalam keluarga kurang memandang harta kepemilikan perempuanwanita yang bekerja yang diperoleh dari hasil jerih payahnya selama bekerja. Pada pembagian harta warisan keluarga terutama pada keluarga isteri ikut bekerja untuk menghidupi beban keluarga menjadi polemik yang sering terjadi.

Peneliti lain lagi tapi tetap pada fokus masalah yang sama dengan penliti sebelumnya diteliti oleh Mintarno dengan judul tesis hukum waris Islam dipandang dari perspektif hukum berkeadilan gender (studi di kecamatan Mranggen-Demak).46 Penelitian ini memiliki konsep yang sama dengan peneliti Asep Fauzi Firmansyah, yaitu tuntutan untuk memperoleh hak yang sama antara laki-laki dan perempuan sebagai ahli waris, karena mempunyai tanggung jawab yang sama dalam keluarga. Tanggung jawab laki-laki sebagai pemimpin keluarga dalam hal ekonomi mengalami perubahan. Karena banyak perempuan yang rela meninggalkan anaknya untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Itu yang dijadikan masalah oleh peneliti ini, kemudian perlu keadilan berdasarkan hak dan kewajiban yang diusahakan masing-masing antara laki-laki dengan perempuan dalam keluarga.

Keadilan pembagian harta melihat hak dan kewajiban yang kian banyak terjadi masalah dalam keluarga. Karena pembagian harta yang terlihat tidak seimbang dengan apa yang diusahakan, sehingga timbul suara keluhan yang lebih keras dari usahanya sehari-hari. Masalah yang kian muncul itu karena benturan antara aturan hukum yang berbeda. Jika melihat aturan KUH Perdata tentang hak dan kewajiban, yaitu Pasal 105.

1. Setiap suami adalah menjadi kepala persatuan perkawinan;

2. Setiap suami wajib memberi bantuan kepada isterinya atau tampil untuknya di muka Hakim;

3. Seorang suami harus mengurus harta kekayaan pribadi si isteri, kecuali disyaratkan yang sebaliknya;

46

Mintarno, http://core.ac.uk/download/files/379/11715232.pdf, Tesis: hukum waris

Islam dipandang dari perspektif hukum berkeadilan gender (studi di kecamatan Mranggen-Demak), (Program Pacasarjana Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang, 2006),

(23)

4. Seorang suami harus mengurus harta sebagai seorang kepala keluarga yang baik;

5. Seorang suami bertanggungjawab atas segala kelalaian dan kepengurusan harta;

6. Seorang suami tidak diperkenankan memindahtangankan atau membebankan harta kekayaan tanpa sepengetahuan isteri.47

Maqashid syari’ah atau maksud hukum Islam, waris dalam Al-Qur‟an dan

ketentuan-ketentuan hukum Islam adalah sebagai cara memperoleh kemaslahatan antara manusia dengan manusia, manusia dengan agamanya. Waris merupakan suatu ketetapan dari Allah yang tertulis dalam firman Nya, menjadi dasar rujukan yang adil mengenai pembagian harta/tirkah antara manusia dengan manusia baik hubungan laki-laki dan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, ayah ibu, kakek nenek bahkan saudara dari kedua pihak laki-laki dan perempuan. Waris mengharuskan manusia menemukan cara untuk meraih kemaslahatan manusia dalam kehidupannya. Berbagai cara yang dilakukan manusia untuk meraih kemaslahatan dalam kehidupannya itu, terlebih lagi menyangkut harta benda yang lebih dekat dengan masalah jika terdapat ketidakadilan.

Hadis telah mengharuskan mempelajari faraid atau ilmu waris yaitu al-Ahwash dari Abdullah Ibnu Mas‟ud bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

مهعناَ ضُبقم َرما يواف ,اٌُمهعَ طئارفنا اُمهعتَ ساىنا يُمهعَ نارقنا اُمهعت

جي لاف تناسمناَ تعيرفنا يف ناىثا فهتخي نا كشُيَ ,عُفرم

امٌربخياذحأ ناذ

Pelajarilah Al-Qur‟an dan ajarkanlah kepada orang lain, serta pelajarilah faraid dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal dan ilmu ini pun bakal sirna sehingga akan muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang akan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mesti ia terima), namun keduanya tidak mendapati orang yang dapat menyelesaikan perselisihan tersebut. (HR. Daruquthni).48

Ibnu Majah juga meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah yang hampir sama yaitu perintah untuk mempelajari ilmu faraid.

47

KUH Perdata pasal 105.

48 Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Waris Menurut Islam, Penerjemah, A.M. Basalamah, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), Cet. 1, 16.

Formatted: Right: 1 cm Formatted: Right: 1,25 cm

(24)

؛ طئارفنا مهع مهعت يف اىتبغرَ اىتمهع ذقن مهسَ ًيهع الله ّهص الله لُسر اي تقذص

ًيهع الله ّهص الله لُسر لاق : لاق ًىع الله يظر ةريرٌ يبأ هع . مهعنا فصو ٍُف

ي ٌَُ ، مهعنا فصو ًوإف ساىنا يُمهعَ طئارفنا مهعت ( : مهسَ

ى

لَأ ٌَُ ، ّس

.ًجام هبا يَر ) ّتمأ هم عزىي ءّش

49

Benarlah engkau wahai Rasulullah saw. Sungguh telah mengajarkan kami, dan keinginan kami dalam mempelajari Ilmu Faraid, itu setengah dari Ilmu. Dari Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : pelajarilah faraid dan ajarkan kepada manusia, dan sesungguhnya itu adalah setengah dari Ilmu, dan Ilmu faraid mudah dilupakan, dan Ilmu itu yang pertama manusia melupakannya.50

Ilmu faraid merupakan ilmu yang harus dipelajari dan diamalkan oleh keluarga terutama umat Islam untuk memperoleh keadilan sehingga tidak menimbulkan fitnah dalam pembagian harta peninggalan. Ilmu faraid yang dijelaskan oleh hadis di atas merupakan ilmu yang pertama akan dilupakan, dan ilmu yang akan pertama kali dihilangkan dari muka bumi. Ilmu faraid merupakan setengahnya Ilmu. Dikatakan pula dalam hadits dari Abdullah bin Umar,

، َرمع هب الله ذبع هعَ

: تثلاث مهعنا ( : مهسَ ًيهع الله ّهص الله لُسر لاق : لاق

. ) معف ٍُف كنر ِ ُس ناك امَ . تن د اع تعيرف َأ ، تمئاق تىس َأ ، تمكحم تيا

ُبأ ًجرخأ

ريخأتَ ميذقت عم هىسنا ّف دَاد

51

Dari Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah saw bersabda : Ilmu itu ada 3, Ayat yang tegas, Sunnah yang shahih, pembagian waris yang adil, dan yang selain dari itu adalah cabangnya. (HR. Abu Daud).

Hadis tersebut jika dimaknai bebas ayat yang tegas seperti hukum yang harus ditegakan, aturan yang harus dipahami benar kemudian ditegakan. Sunah Nabi Saw yang shahih, pasti dengan takhrij hadisnya, mengetahui kebenaran

49

Abdul al-Hamid Kishk, Fi Rihab at-Tafsir, (Mesir: Maktabah Misril Hadits, 1996 M-1417 H), 836.

50

HR. Ibnu Majah 51

al-Alamah Syekh Ali bin Sulthon Muhammad Al-Qorii, Markotul Mafaatih, Kitabul

Iman – kitabul Ilmu, (Beirut – Lebanon: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 1422H/1002 M), Cetakan ke 1,

(25)

hadisnya, kemudian pembagian waris yang adil, yang harus ditanamkan dan diimani keadilannya.

Keadilan tidak boleh ditinggalkan, supaya tidak ada fitnah. Dalam ilmu waris, pembagian harta merupakan keharusan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan penciptanya. Sebagaimana ketetapan syari‟at itu, Allah Swt berfirman dalam al-Qur‟an Surah an-Nisaa (4) : 14,





























Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal didalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.52

Ketentuan Allah Swt sebagai keadilan yang bertujuan akhir dalam hal pembagian harta waris setelah diketahui bahwa dilihat dari maksud hukum Islam tercapai, ada kemaslahatan, dan melihat nilai keadilan itu dari sisi kemanusiaan. Bagaimana dalam pembagian waris untuk menentukan keadilan dengan maksud hukum yang sudah tetap.

Berkenaan dengan latar belakang tersebut, maka dipandang perlu melakukan penelitian tesis yang berjudul: Keadilan Distributif Bagian Harta Waris menurut KUH Perdata dan KHI dalam Perspektif Maqhasid al-Syariah.

B. Perumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas maka perumusan masalah penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana Konsep pembagian waris dalam KUH Perdata dan kompilasi hukum Islam?

2. Bagaimana tujuan pembagian kewarisan dalam KUH Perdata dan kompilasi Hukum Islam?

52

(26)

3. Bagaimana aplikasi dan implikasinya terhadap pembagian waris mewarisi KUH Perdata dan kompilasi hukum Islam?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini menyimpulkan beberapa memiliki beberapa tujuan yang ingin direalisasi berdasar atas perumusan masalah yang telah diterapkan, yaitu:

1. Mengetahui dan meneliti pembagian waris dalam KUH Perdata dan KHI; 2. Mengetahui dan meneliti tujuan pembagian kewarisan dalam KUH Perdata

dan KHI;

3. Menemukan konsep baru aplikasi dan implikasinya terhadap pembagian waris mewarisi KUH Perdata dan KHI.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan yang terbagi dalam dua, yaitu secara teoritis dan praktis:

1. Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi secara teoritis berupa kajian permasalahan dan pengembangan Ilmu hukum Islam khususnya dalam Ilmu Faraidl. Penelitian ini juga diharapkan bisa menjadi rujukan pembagian waris dalam dua aturan hukum yang ada di Indonesia.

2. Praktis

Penelitian ini juga diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dan atau stakeholder dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan pembagian harta warisan menurut hukum Islam. Penelitian ini juga diharapkan menjadi bahan pemikiran masyarakat dalam pembagian waris dalam keluarganya.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh sebab, itu dalam penelitian ini ditawarkan cara pembelajaran apresiasi dongeng menggunakan media visual manipulatif boneka dengan harapan dapat

28 merupakan rancangan interface form pilih lagu yang akan tampil jika user menekan tombol latihan pada form menu pembelajaran alat musik gamelan. Gambar 3.29 Rancangan

S.E., M.Si Chaidir Iswanaji, S.E., M.Akt 14 Dina Febriyanti Bank Mandiri Syariah KCP.. Temanggung Chaidir Iswanaji, S.E., M.Akt Supanji Setyawan, S.Pd.,

Penampilan wanita tomboy memang sangat kasual, namun untuk memberikan daya tarik tersendiri tips-tips berikut ini bisa Anda coba, jika Anda wanita tomboy yang juga ingin

Berdasarkan model teoritis yang diajukan dalam penelitian ini, pengujian secara empiris dengan menggunakan penganalisaan Structural Equation Model (SEM) maka

Pada penelitian ini diperoleh bahwa teknik pencampuran yang pertama, yaitu pencampuran CB dengan NR dilakukan terlebih dahulu dalam Roll-Mill sebelum dicampur dengan

Kasim maupun Ketua Muhammadiyah pada waktu itu, dimutasi paksa oleh Pemerintah Belanda ke Makassar (1934). Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa struktur politik yang

Pemakai akhir dari aplikasi ini adalah King Hotel Yogyakarta yang digunakan sebagai media informasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal King Hotel Yogyakarta sebagai