Oleh :
ARIS WIHAJAR SUMANTO
NIM. 110 500 028
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
Oleh :
ARIS WIHAJAR SUMANTO
Nim. 110 500 028
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli MadyaPada Program Diploma III
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
NAMA : ARIS WIHAJAR SUMANTO TEMPAT/TANGGAL LAHIR : TENGGARONG, 09 Januari 1991
NIM : 110 500 028
PROGRAM STUDI : TEKNOLOGI HASIL HUTAN JURUSAN : TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS / PT : POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA SEMESTER : VI (ENAM)
ALAMAT RUMAH : JL. SAMRATULANGI SAMARINDA SEBERANG
Adalah benar melaksanakan penelitian dan telah selesai melaksanakan
penelitian tersebut dari tanggal 9 April 2014 – 28 Juni 2014 dengan judul penelitian
“Dimensi dan Kualitas Serat Cabang Kayu Kerai Payung (Filicium Decipiens) Sebagai Alternatif Bahan Baku Kertas” dibawah Pembimbing Ir. Sumiati dan PLP
pendamping Ibu Feriani.
Demikian surat pernyataan ini saya ini saya buat dan digunakan sebagaimana mestinya.
Samarinda, 22 Agustus 2014
Mahasiswa bersangkutan,
ARIS WIHAJAR SUMANTO
NIM. 110 500 028
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Karya Ilmiah : Dimensi Dan Kualitas Serat Cabang Kayu Kerai Payung (Filicium decipiens) Sebagai Alternatif Bahan Baku Kertas. Nama : Aris Wihajar Sumanto
NIM : 110 500 028
Program Studi : Teknologi Hasil Hutan Jurusan : Teknologi Pertanian
Lulus Ujian Pada Tanggal: Pembimbing,
Ir. Sumiati,
NIP. 19590612 198903 2 004
Penguji I,
M. Fikri Hernandi, S. Hut, MP NIP. 19701127 199903 1 001
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Heriad Daud Salusu, S. Hut, MP NIP. 19700830 199703 1 001
Menyetujui,
Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Ir. H. A. Syafii, MP NIP. 19680610 199512 1 001
Penguji II,
Firna Novari, S. Hut, MP NIP. 19710717 199702 2 001
ABSTRAK
ARIS WIHAJAR SUMANTO. Dimensi dan Kualitas Serat Cabang Kayu Kerai
Payung (Filicium decipiens) Sebagai Alternatif Bahan Baku Kertas, (di bawah bimbingan Sumiati).
Penelitian mengenai dimensi dan kualitass serat kayu kerai payung pada bagian cabang ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah kayu jenis ini memenuhi syarat untuk di jadikan sebagai bahan baku kertas.
Contoh uji diambil dari cabang pohon kerai payung, kemudian dibagi menjadi tiga bagian yaitu pangkal, tengah, dan ujung. Selanjutnya dari masing – masing contoh uji di ambil bagian gubal dan terasnya, kemudian dilakukan proses pemisahan serat (proses maserasi) dengan menggunakan metode SHULTZE pengamatan dan pengukuran meliputi dimensi dan nilai turunan seratnya.
Hasil rata-rata pengukuran dimensi serat menunjukan bahwa panjang serat cabang kayu kerai payung pada ketiga bagian contoh uji yang meliputi bagian gubal dan teras masing-masing pada panjang serat : 836,35 µm, diameter serat : 14,97 µm, dan tebal dinding serat : 2,5 µm.
Sementara perhitungan nilai turunan cabang serat kayu gubal dan teras masing-masing meliputi Runkel Ratio : 0,58, Felting Power : 58,28, Flexibility Ratio : 0,65, Coefficient of Rigidity : 0,18, dan Mulhstep Ratio : 57,72 %.
Untuk kelas kualitas serat cabang kayu kerai payung pada bagian gubal dan terasnya termasuk dalam kelas kualitas II dan secara keseluruhan cabang kayu kerai payung juga termasuk dalam kelas kualitas II.
RIWAYAT HIDUP
Aris Wihajar Sumanto lahir pada tanggal 09 Januari 1991 di
Tenggarong Kalimantan Timur. Merupakan anak ke 3 (tiga) dari 5 (lima) bersaudara dari pasangan Ayahanda Barnawi dan Ibunda tercinta Sukatmi.
Tahun 1998 memulai pendidikan formal pada SD Negeri 026 Sendawar Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur dan lulus tahun 2003, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 10 Sendawar Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur, lulus tahun 2006, kemudian melanjutkan ke SMA 03 Sendawar Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur dan lulus pada tahun 2009. Kemudian bekerja selama setahun di pembangunan ruko daerah Kutai Barat dan pada 2011 melanjutkan Pendidikan perguruan tinggi pada Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Pada tahun pertama mengiuti kegiatan perkuliahan sampai tahun ketiga pernah mengikuti paduan suara, kemudian pernah menjadi anggota BEM perwakilan HIMA, lalu menjadi wakil ketua HIMA, kemudian pernah menjadi panitia Bina Akrab selama dua tahun berturut – turut menjadi seksi kesehatan, selanjutnya pada tahun ketiga aktif menjadi ketua HIMA Teknologi Hasil Hutan.
Pada tanggal 01 Maret 2014 sampai 30 April 2014 mengikuti program Praktek Kerja Lapang (PKL) di Balai Besar Kerajinan dan Batik Kota Yogyakarta.
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini tepat pada waktunya.
Karya ilmiah ini disusun berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi pada Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada :
1. Dosen pembimbing, yaitu Ibu Ir. Sumiati.
2. Kepala Laboratorium Sifat Kayu dan Analisa Produk, Ibu Eva Numarini, S. Hut. MP.
3. Dosen penguji Ibu Firna Novari, S. Hut, MP dan Bapak M. Fikri Hernandi, S. Hut. MP .
4. Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan, yaitu Bapak Ir, Safii, MP. 5. Ketua Jurusan Teknologi Pertanian, yaitu Bapak Heriad Daud S. Hut, MP. 6. Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, yaitu Bapak Ir.Wartomo, MP. 7. Para Staf pengajar, administrasi dan PLP di Program Studi Teknologi Hasil
Hutan.
8. Ayah dan Ibunda tercinta yang telah memberikan dukungan baik secara materi maupun doa.
9. Safry, Rahman, Alimuddin, Theo, Rivan, Ellen serta rekan-rekan angkatan 2011 tanpa terkecuali yang telah banyak mendukung dan terus memberikan semangat hingga penulisan karya ilmiah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan, untuk itu diharapkan saran dan kritiknya. Namun demikian penulis berharap karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN………... i
ABSTRAK ……….. ii
RIWAYAT HIDUP ………. Iii KATA PENGANTAR ……….. iv
DAFTAR ISI ……….. v
DAFTAR TABEL ……….. vi
DAFTAR GAM BAR ………. x
I. PENDAHULUAN ………. 1
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Serat ………... 3
B. Dimensi Serat ……… 3
C. Nilai Turunan Serat ………. 5
D. Kualitas Serat Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kerta ……… 6
E. Risalah Jenis Kayu Kerai Payung (Filicium decipiens) ………. 7
III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ………. 12
B. Bahan dan Alat Penelitian ... 12
C. Prosedur Penelitian ……… 13
D. Perhitungan Data ………. 17
E. Pengolahan Data ……… 19
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ……….. 20
B. Pembahasan ……….. 21
V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………. 26
B. Saran ……… 27
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Tubuh Utama Halaman
1. Persyaratan Dan NIlai Turunan Serat Sebagai Bahan Baku Pulp Dan ... 6
Kertas ………. 2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ………. 12
3. Rata-rata Dimensi Serat Cabang Kayu Kerai Payung ………... 20
4. Rata-rata Nilai Turunan Serat Cabang Kayu Kerai Payung ……….. 20
5. Nilai Kualitas Serat Cabang Kayu Kerai Payung ………. 21
Lampiran 6. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian .. 30
Pangkal (1) Gubal Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung……… (Filicium decipiens) ………. 7. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 31
Pangkal (1) Gubal Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung…………. (Filicium decipiens)………. 8. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 32
Pangkal (1) Gubal Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung…………. (Filicium decipiens)………. 9. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 33
Pangkal (1) Gubal Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung………….. (Filicium decipiens)………. 10. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 34
Pangkal (1) Teras Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung………….. (Filicium decipiens)………. 11. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 35
Pangkal (1) Teras Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung…………. (Filicium decipiens)……….
12. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 36 Pangkal (1) Teras Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung…………... (Filicium decipiens)……….
13. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 37 Pangkal (1) Teras Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung………….. (Filicium decipiens)………..
14. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 38 Tengah (2) Gubal Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung…………..
(Filicium decipiens)………..
15. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 39 Tengah (2) Gubal Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung………….
(Filicium decipiens)……….
16. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 40 Tengah (2) Gubal Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung…………..
(Filicium decipiens)………..
17. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 41 Tengah (2) Gubal Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung…………..
(Filicium decipiens)………..
18. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 42 Tengah (2) Teras Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung…………..
(Filicium decipiens)………..
19. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 43 Tengah (2) Teras Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung…………..
(Filicium decipiens)………..
20. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 44 Tengah (2) Teras Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung…………..
(Filicium decipiens)……….
21. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 45 Tengah (2) Teras Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung…………..
(Filicium decipiens)……….
22. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 46 Ujung (3) Gubal Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung……….
(Filicium decipiens)………..
23. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 47 Ujung (3) Gubal Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung………
(Filicium decipiens)……….
24. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 48 Ujung (3) Gubal Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung……….
(Filicium decipiens)………..
25. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 49 Ujung (3) Gubal Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung……….
(Filicium decipiens)……….
26. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 50 Ujung (3) Teras Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung……….
(Filicium decipiens)……….
27. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 51 Ujung (3) Teras Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung……….
(Filicium decipiens)……….
28. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 52 Ujung (3) Gubal Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung……….
(Filicium decipiens)………..
29. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian.. 53 Ujung (3) Teras Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung……….
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh Utama Halaman
1. Ranting Kerai Payung ………... 8
2. Pohon Kerai Payung ……… 10
3. Bentuk Batang dan Percabangan Kerai Payung ………. 14
4. Cara Pengambilan Contoh Uji……….... 15
5. Cara Pengukuran Dimensi Serat ………... 16
Lampiran 6. Pengambilan Sampel ……….. 54
7. Bentuk Lempengan………... 54
8. Sampel yang Berbentuk Splinter ……….. 54
9. Pemberian Kalium Chlorat ………. 54
10. Pemberian Asam Nitrat ……….. 55
11. Proses Maserasi ……….. 55
12. Pencucian Serat……… 55
13. Pemberian Zat Pewarna……….. 55
14. Penyimpanan Serat dalam Tabung Filem ………... 56
15. Pengukuran Serat ………... 56
16. Pengukuran Panjang Serat dengan Perbesaran 100 x ………. 56
17. Pengukuran Serat dengan Perbesaran 400 x ………. 56
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara dengan potensi hutan paling besar di benua asia dan di dunia. Luas seluruh hutan di Indonesia adalah 133.300.543,98 ha. Ini mencakup kawasan suaka alam, hutan lindung dan hutan produksi di masing-masing provinsi di Indonesia. (Anonim, 2010). Satu diantara hasil hutan yang utama adalah kayu. Kayu sebagai sumber kekayaan alam mempunyai peranan penting dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia, diantaranya adalah sebagai bahan bangunan, alat rumah tangga, jembatan, mebel, bantalan kereta api dan juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan pulp dan kertas.
Dengan berkembangnya jumlah penduduk mengakibatkan bertambah pula kebutuhan hidup dari berbagai sisi. Demikian pula halnya keperluan akan kertas, dimana semakain bertambah jumlah penduduk maka bertambah pula keperluan akan kertas. Dewasa ini telah banyak didirikan industri pengolahan kertas (pabrik kertas). Hal ini disebabkan oleh keperluan akan kertas untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang makin meningkat. Dengan demikian bahan baku untuk pembuatan kertas juga akan semakin meningkat.
Seperti diketahui bahwa kertas selama ini menggunakan kayu sebagai bahan baku utama, dengan semakin bertambahnya konsumsi akan kertas berarti semakin banyak kayu yang digunakan sebagai bahan baku. Sementara hutan sebagai pemasok bahan baku kayu semakin terbatas jumlahnya.
Hal inilah yang mendorong dan melatarbelakangi adanya upaya-upaya untuk terus berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
berkaitan dengan penggunaan kayu sebagai bahan baku kertas. Dengan mengetahui teknologi ini diharapkan mampu mencari penyelesaian atas permasalahan dalam pemenuhan akan kebutuhan kayu sebagai bahan baku kertas dan juga merupakan upaya sebagai pelestarian sumber daya hutan.
Umumnya hampir semua jenis tumbuhan yang mengandung selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat ekstraktif dapat digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas baik tumbuhan berkayu dan non kayu. Namun pada hakekatnya tidak semua jenis tumbuhan dapat menghasilkan pulp dan kertas dengan kualitas yang diharapkan. Dengan demikian ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh jenis tumbuhan tersebut apakah baik atau tidak dijadikan bahan baku pulp dan kertas.
Kayu kerai payung (Filicium decipiens) adalah salah satu jenis kayu yang belum banyak diteliti dan diketahui bentuk pemanfaatannya pada industri perkayuan, tanaman kayu kerai payung di Indonesia biasanya banyak dijumpai ditanam pada halaman rumah atau halaman perkantoran yang hanya dijadikan sebagai tanaman peneduh.
Penelitian mengenai dimensi dan kualitas serat kayu kerai payung pada bagian cabang ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah kayu jenis ini memenuhi sarat untuk di jadikan sebagai bahan baku kertas.
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan infomasi mengenai gambaran dimensi dan kualitas serat kayu kerai payung berdasarkan letak pada cabang, sebagai alternatif bahan baku pulp dan kertas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Serat
Menurut Brown, et al, (1949) dalam Sumiati (2001), serat merupakan sel-sel yang memanjang kearah aksial, umumnya berdiameter kecil yang berangsur-angsur berkurang dan meruncing tiap ujungnya.
Haygreen dan Bowyer (1989), mengemukakan bahwa secara umum
istilah serat sering digunakan untuk menyatakan semua sel-sel kayu yang terpisahkan dalam proses pembuatan pulp, sedangkan konteks morfologi kayu, istilah serat menyatakan semua sel-sel yang spesifik. Serat adalah xylem kayu khas yang panjang, meruncing dan biasanya berdinding tebal. Selanjutnya Haroen
(1989), mengemukakan bahwa serat berbentuk seperti tabung, yang kedua
ujungnya meruncing. Setiap serat dikelilingi oleh suatu lapisan yang kaku dan banyak mengandung lignin yang disebut lamela tengah, kemudian bila serat dipotong secara melintang maka terlihat lubang dibagian tengah yang disebut lumen.
B. Dimensi Serat
Casey (1960) menjelaskan, bahwa panjang serat, diameter serat dan tebal
dinding serat sangatlah bervariasi, tergantung dari jenis dan posisi serat dalam batang maupun tempat tumbuh. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dari jenis tumbuhan itu sendiri sebagai faktor yang mempengaruhi. Seperti persaingan sinar matahari dan ruangan yang berpengaruh terhadap panjang serat. (Libby, 1962 dalam Sumiati, 2001).
Untuk menyatakan dimensi serat kayu yang pada umumnya bervariasi, biasanya digunakan ukuran panjang serat, diameter serat dan diameter lumen sebagaimana yang dinyatakan oleh Hendayani (1988) dalam Sumiati (2001).
Wegenfeur (1984) yang dikutip oleh Hernandi (1996), mengklasifikasikan panjang
serat, diameter lumen, tebal dinding serat dalam lima kelas : 1. Panjang serat :
a) Serat sangat pendek : < 1000 µm b) Serat pendek : 1000 – 1500 µm c) Serat sedang : 1500 – 2000 µm d) Serat panjang : 2000 – 2500 µm e) Serat sangat panjang : > 2500 µm 2. Diameter lumen :
a) Diameter sangat kecil : < 5 µm b) Diameter kecil : 5 – 10 µm c) Diameter sedang : 10 – 15 µm d) Diameter besar : 15 – 20 µm e) Diameter sangat besar : > 20 µm 3. Tebal dinding serat :
a) Berdinding sangat tipis : < 4 µm b) Berdinding tipis : 4 – 6 µm c) Berdinding sedang : 6 – 8 µm d) Berdinding tebal : 8 – 10 µm e) Berdinding sangat tebal : > 10 µm
Kemudian Klem (1928) dalam Sumiati (2001), mengklasifikasikan diameter serat dalam kelas,yaitu :
1) Berdiameter besar : 25 – 40 µm 2) Berdiameter sedang : 10 – 24 µm 3) Berdiameter kecil : 2 – 9 µm
C. Nilai Turunan Serat
Adapun nilai turunan serat menurut Casey (1960), adalah :
1. Runkel Ratio, adalah perbandingan antara dua kali tebal dinding serat dengan diameter lumen. Perbandingan Runkel Ratio (bilang runkel) rendah, berarti memiliki dinding sel tipis dan lumen lebar, pada waktu pembentukan lembaran serat akan membentuk pita akan memperluas permukaan kontak serat memungkinkan terjadinya ikatan antar serat yang tinggi melalui gugus hidroksilnya.
2. Felting Power Slederness (daya tenun), adalah perbandingan antara panjang serat dengan diameter serat. Daya tenun serat sangat berpengaruh terhadap kekuatan sobek kertas, sedangkan bilangan flesibilitas mempunyai hubungan parabolis terhadap kekuatan panjang putus, tetapi berkorelasi negatif dengan koefisien kekakuan serat.
3. Muhlstep Ratio, adalah perbandingan antara luas penampang tebal dinding serat dengan luas penampang lintang serat. Muhlstep Ratio akanmemberikan sifat kekuatan ledak dan kekuatan tarik yang tinggi.
4. Coefficient of Rigidity, adalah perbandingan antara tebal dinding serat dengan diameter serat.
5. Flexibility Ratio, adalah perbandingan antara diameter lumen dengan diameter serat. Serat dengan flexibility ratio tinggi berarti serat tersebut mempunyai tebal dinding yang tipis dan mudah berubah bentuk.
D. Kualitas Serat Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas
Anonim (1976), menuliskan persyaratan dan nilai serat bahan baku pulp
dan kertas seperti tercantum pada tabel 1:
Tabel 1. Persyaratan Dan Nilai Turunan Serat Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas
Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Syarat Nilai Syarat Nilai Syarat Nilai Syarat Nilai Panjang Serat > 2200 100 1600-2200 75 900 – 1600 50 < 900 25 Runkel Ratio < 0,25 100 0,25 - 0,50 75 0,50 - 0,1 50 > 1,0 25 Felting Power > 90 100 70 - 90 75 40 – 70 50 < 40 25 Mulhstep Ratio < 30 100 30 - 60 75 60 – 80 50 > 80 25 Flexibility Ratio > 0,80 100 0,60 - 0,80 75 0,40 - 0,6 50 < 0,40 25 Coeff of Rigidity < 0,10 100 0,10 - 0,15 75 0,15 - 0,2 50 > 0,20 25 Jumlah Nilai (451 - 600) (301 - 450) (151 - 300) 150 Sumber : Anonim (1976)
Berdasarkan ukuran dimensi dan nilai turunan seratnya maka dibuat klasifikasi kelas kualita serat untuk pulp dan kertas dengan ciri sebagai berikut :
a. Kualitas satu
Serat panjang sampai panjang sekali, dinding serat tipis sekali dan lumen lebar. Seratakan mudah menggepeng waktu digiling dan ikatan seratnya baik. Serat jenis ini diduga menghasilkan lembaran dengan kekuatan sobek dan retak serta kekuatan tariknya tinggi.
b. Kualitas dua
Serat sedang sampai panjang, mempunyai dinding tipis dan lumen agak lebar. Serat akan mudah menggepeng waktu digiling dan ikatan seratnya baik. Serat
jenis ini dapat menghasilkan lembaran kertas dengan kekuatan sobek, retak, dan tarik sedang.
c. Kualitas tiga
Serat berukuran pendek sampai sedang, dinding serat dan lumen sedang. Dalam lembaran pulp dan kertas, serat agak pipih dan ikatan antar seratnnya masih baik.Diduga serat ini menghasilkan lembaran kertas dengan kekuatan sobek, retak, dan tarik sedang.
d. Kualitas empat
Serat pendek, dinding serat tebal dan lumen sempit. Serat ini akan menggepeng waktu digiling, jenis ini diduga menghasilkan lembaran kertas dengan kekuatan sobek, retak dan tarik yang rendah.
E. Risalah Jenis Kayu Kerai Payung (Filicium decipiens)
1. Deskripsi Botani.
Berdasarkan hasil penelitian Dahlan dalam (Eka W dan Adji H, 2012), tinggi pohon dapat mencapai 25 m. Bentuk tajuknya bulat atau semiglobular sehingga membentuk seperti payung. Tanaman ini memiliki cabang yang banyak dengan tinggi bebas cabang yang rendah, bahkan ada yang hanya beberapa centimeter saja di atas permukaan tanah. Cabang tumbuh menyudut tajam kearah atas menjadikan bentuk tanaman ini cukup indah. Kondisi cabang tanaman inilah yang menyebabkan pemanfaatan kayunya kurang maksimal. Dengan adanya cabang yang sangat banyak, pada umumnya tajuk tanaman ini rimbun berdaun lebat sehingga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh.
Batang kerai payung berwarna abu-abu kecoklatan dengan kulit batang retak-retak tidak teratur dan pada umumnya arah retakan vertikal. Dalam retakan tersebut, batang terlihat sedikit kemerahan. Kerai payung memiliki bunga sempurna yang terdapat benang sari dan putik. Susunan bunganya adalah bunga majemuk. Bunganya berukuran kecil, berwarna putih kekuningan, ukuran pedicel (tangkai bunga) kecil yaitu 0,3 cm. Malainya muncul dari ketiak daun yang dekat dengan ujung ranting. Panjang malai antara 10 – 35 cm. Sama halnya dengan bunganya, buah kerai payung berukuran sangat kecil, pada tiap buah umumnya berisi satu biji. Buah termasuk tipe buah batu berbentuk bulat memanjang berukuran lebar sekitar 0,6 – 0,8 cm dan panjang sekitar 0,9 – 1 cm dengan warna ungu kehitaman dan mengkilat.
Gambar 1. Ranting Kerai Payung.
Kerai payung memiliki daun majemuk dengan panjang 15 – 20 cm. Jumlah anak daun 10 – 24 helai. Bentuk anak daunnya memanjang dengan panjang antara 4 – 13 cm dan lebar antara 1 – 3 cm, tepi daun agak bergelombang. Daun berwarna
hijau tua dengan permukaan daun bagian atas lebih halus dan mengkilap daripada bagian bawah daun.
2. Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan kerai payung dapat dilakukan secara generatif melalui biji dan secara vegetatif melalui cangkok. Benih sebaiknya tidak langsung ditanam, namun perlu ditabur dalam bedeng tabur dan disapih terlebih dahulu pada bedeng sapih mengingat ukuran benih yang sangat kecil. Di Indonesia, benihnya masih sulit untuk didapatkan, oleh karena itu perbanyakan melalui cangkok menjadi solusinya. Cangkok dilakukan pada tanaman induk yang unggul dan cabang yang baik. Pada bagian sayatan cangkok, perlu ditambahkan hormon pemacu pertumbuhan akar. Dalam satu pohon tidak boleh terlalu banyak cangkok karena akan mengganggu pertumbuhan tanaman induknya. Pada masa pertumbuhannya, tanaman ini dapat diberikan pupuk NPK dengan kandungan nitrogen yang cukup tinggi.
3. Penyebaran dan Habitat
Kerai payung merupakan tanaman yang berasal dari Asia Tropis dan Afrika, yaitu Ethiopia, Kenya, Tanzania, Malawi, Mozambique, Zimbabwe, India, Srilanka. Saat ini telah tersebar di berbagai daerah terutama daerah tropis, termasuk di Indonesia. Kerai payung merupakan tanaman yang biasanya tumbuh di hutan hujan tropis dengan intensitas penyinaran matahari yang tinggi. Tanaman ini mudah tumbuh di berbagai daerah tropis karena dapat menyesuaikan di berbagai kondisi tanah dengan kelembaban sedang. Tanaman ini dapat dijumpai pada daerah dengan ketinggian mencapai 1000 m. Namun demikian, kerai payung dapat tumbuh
dengan baik pada daerah dengan intensitas sinar matahari yang banyak dengan kondisi tanah yang cukup subur dan pH sedang.
Gambar 2. Pohon Kerai Payung 4. Kegunaan
Di Indonesia, kerai payung banyak ditemukan di pinggir jalan, halaman kantor dan sekolah sebagai pohon peneduh, peredam kebisingan dan pemecah angin. Bentuk tanaman ini cukup menarik dengan daun yang rimbun sehingga memiliki fungsi estetika untuk ditanam di taman, halaman rumah, atau sebagai pagar alam. Tanaman ini juga dapat digunakan pada ruang terbuka hijau sempadan rel kereta api. Daya transpirasi tanaman ini rendah sehingga baik ditanam pada ruang terbuka hijau, dan di sumber air/mata air. Tanaman ini memiliki daya reduksi yang tinggi terhadap timbal yang merupakan emisi dari kendaraan bermotor. Daya serap karbondioksida kerai payung adalah 404,837 kg/pohon/tahun, sehingga bagus digunakan sebagai pohon penyerap polusi. Kayu tanaman ini digunakan sebagai
kayu bakar karena banyak cabang dan dapat dibuat arang. Tanaman ini disebut ki sabun karena seluruh bagian tubuhnya mengandung saponin atau zat kimia yang menjadi salah satu bahan sabun.
5. Taksonomi dan Tatanama :
Divisi : Magnoliophyta, Kelas : Magnoliopsida, Sub kelas : Rosidae, Ordo : Sapindales, Famili : Sapindaceae, Genus : Filicium,
Spesies : Filicium decipiens,
Sinonim : Filicium elongatum. Radlk. ex Taub., Jur ighas decipiens. (Wight & Arn.) Kunt ze , Pteridophyllum decipiens. (Wight & Arn.) Thwaites, Rhus decipiens. Wight & Arn.
Nama lokal/daerah : Kerai payung, Kere payung, Kiara Payung, Ki sabun (Indonesia), Fern tree, Fern Leaf Tree, Soapberry (Inggris), Ningal, Nirkongu, Athadali, Iruvillipalai (Tamil), Kaadu Hoovarasi, Neeroli (Kanada), Valmuriccha, Niroli, Sanimaram, Kattunelli (Malayalam).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Sifat Kayu dan Analisis Produk Jurusan Teknologi Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, selama kurang lebih 4 bulan mulai dari tanggal 1 Mei – 8 Agustus 2014 dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 2 . Jadwal pelaksanaan penelitian
No Kegiatan Bulan ke I II III IV 1 Persiapan 2 Pengambilan Bahan 3 Proses Maserasi 4 Pengukuran serat 5 Pengolahan data 6 Penulisan Laporan
B. Bahan dan Alat Penelitian
1. Bahan
a. Lempengan Kayu Kerai Payung sebanyak tiga buah ( pangkal, tengah, dan ujung )
b. Larutan asam nitrat (HNO3), 65 %
c. Kalium chlorat (KCLO3)
d. Zat pewarna (Safranin) e. Alkohol 50 %
2. Alat
a. Parang b. Cutter c. Gergaji
d. Alat tulis menulis e. Tabung reaksi f. Tabung film g. Kompor listrik h. Pinset
i. Klem untuk tabung reaksi j. Corong kaca
k. Erlenmeyer l. Kertas saring m. Pipet ukur
n. Objek dan cover glass o. Mikroskop
p. Tisu
q. Botol aquades r. Rak tabung
C. Prosedur Penelitian
1. Persiapan Contoh Uji
Bahan baku penelitian berupa kayu kerai payung (Filicium decipiens) yang tumbuh di lingkungan Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, contoh uji
yang di ambil adalah dari cabang pohonnya yang berdiameter sekitar 40 cm panjang total cabang sekitar 12 m, dan panjang bebas ranting pertama ± 6 m.
Gambar 3. Bentuk Batang dan Percabangan Kerai Payung.
Kegiatan pembuatan contoh uji yaitu cabang kayu yang bebas ranting pertama tersebut dipotong menjadi tiga bagian yaitu: pangkal, tengah dan ujung, kemudian tiap-tiap bagian dari cabang tersebut dipotong menjadi lempengan dengan ketebalan 5 cm. Selanjutnya masing-masing lempengan yang mewakili pangkal, tengah dan ujung cabang kayu tersebut dibagi lagi menjadi 4 bagian seperti arah mata angin dan disamping itu juga contoh uji yang diambil adalah dari kayu teras dan gubalnya.
Kemudian masing-masing bagian kayu yang di ambil untuk contoh uji di buat menjadi ukuran kurang lebih 2 x 2 x 2 cm. Selanjutnya dilakukan proses maserasi atau proses pemisahan serat.
Untuk lebih jelasnya, pengambilan dan pembuatan contoh uji dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 4. Cara Pengambilan Contoh Uji
2. Proses Maserasi (Proses Pemisahan Serat)
Proses pemisahan serat dalam penelitian ini digunakan metode Schlutze, dimana urutan-urutan kerjanya sebagai berikut :
a) Contoh uji yang berbentuk splinter dari tiap-tiap bagian contoh uji tersebut. Diambil masing-masing 5 buah dan dimasukan kedalam tabung reaksi secara terpisah. Gubal Teras 2x2x2 Seplinter Serat Chip
b) Selanjutnya kedalam tabung reaksi tersebut di masukkan pula asam nitrat (HNO3) dengan konsentrasi 65 % hingga kayu terendam.
c) Selanjutnya dimasukkan lagi kedalam tabung reaksi tersebut kalium chlorat (KCLO3) sekitar ± 3 tetes, yang tujuannya untuk mempercepat reaksi.
d) Kemudian tabung reaksi beserta isinya dipanaskan di atas kompor listrik hingga terdapat gelembung udara berwarna putih kekuning-kuningan yang cukup banyak sebagai tanda proses maserasi telah berlangsung dan serat mulai terpisah.
e) Setelah serat terlihat terpisah seluruhnya tabung reaksi beserta isinya tadi segera didinginkan dan serat dituang kedalam kertas saring yang berada pada corong kaca. Selanjutnya serat dicuci dengan aquadest sampai bahan kimia (zat asamnya) hilang.
f) Kemudian setelah bersih serat disimpan pada tabung film serta direndam dengan alkohol 50 % dan diberi zat pewarna (safranin) agar memudahkan pada saat pengukuran.
g) Pada pelaksanaan pengukuran serat, serat diambil dengan menggunakan pipet lalu di teteskan diatas gelas obyek dan ditutup dengan cover glass. Kemudian diperiksa dan dilakukan pengukuran di bawah mikroscop.
3. Cara Pengukuran Dimensi Serat
Dimensi serat diukur menggunakan perbesaran 100 kali untuk pengukuran panjang dan 400 kali untuk pengukuran diameter serat dan diameter lumen. Kemudian hasilnya dikonversikan kedalam satuan micron (µ). Untuk lebih jelasnya
Gambar 5. Cara Pengukuran dimensi Serat. Keterangan :
W = Tebal dinding serat L = Panjang serat D = Diameter serat L = Diameter lumen
Dalam mengukur dimensi serat ,diambil dari serat yang utuh. Pengukuran dilakukan sebanyak 25 serat untuk setiap sampel, sehingga jumlah masing-masing bagian dari mulai keseluruhan serat yang diukur sebanyak 600 serat yang terdiri dari 12 sampel untuk kayu teras dan 12 sampel untuk kayu gubalnya.
D. Perhitungan Data
Perhitungan data yang terdiri dari dimensi dan nilai turunan serat di gunakan rumus sebagai berikut :
1. Perhitungan Dimensi Serat a. Panjang Serat
Panjang serat yang dikonversikan kedalam micron dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
Obyek = Saat pengukuran di mikroskop
100 = Perbesaran pada lensa obyek mikroskop 1000 = Perkalian ke satuan mikron
b. Diameter Serat dan Diameter Lumen
Untuk menghitung diameter serat dan diameter lumen yang dikonversikan kedalam micron adalah sebagai berikut :
Keterangan :
Obyek = Saat pengukuran di mikroskop
400 = Perbesaran pada lensa obyek mikroskop 1000 = Perkalian ke satuan mikron
c. Tebal Dinding Serat
Untuk menghitung tebal dinding serat digunakan rumus :
Keterangan :
W = Tebal dinding serat D = Diameter serat l = Diameter lumen
2. Nilai Turunan Serat
a. Runkel ratio
:
Keterangan :w = tebal dinding serat l = diameter lumen b. Felting power : Keterangan : L = panjang serat D = diameter serat c. Flexibility ratio : Keterangan : L = diameter lumen D = diameter serat d. Coeficient of rigidity :
Keterangan :
W = tebal dinding serat D = diameter serat e. Mulhstep ratio : x 100%
Keterangan :
D 2 = diameter serat l2 = diameter lumen
E. Pengolahan Data
Untuk menghitung rata-rata dimensi dan nilai turunan serat cabang kayu
kerai payung, menggunakan rumus sebagai berikut Purwanto
(2011).
Dimana :
=
Keterangan :
x = nilai rata-rata
∑
x
= jumlah nilai seratBAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Dimensi Serat
Dari hasil penelitian dan pengukuran terhadap dimensi serat kayu kerai payung berdasarkan letak pada cabang tercantum pada tabel berikut:
Tabel 3. Rata-rata Dimensi Serat Cabang Kayu Kerai Payung (Filicium decipens)
No Bagian yang diambil Panjang (µm) Diameter (µm) Lumen (µm) Tebal dinding serat (µm) 1 Pangkal Gubal 872,2 15,1 10,1 2,5 Teras 836,8 15,25 10,25 2,5 2 Tengah Gubal 834 15,4 10 2,5 Teras 872,2 15,1 10,1 2,5 3 Ujung Gubal 811,3 14,33 9,33 2,5 Teras 791,6 14,65 9,65 2,5 Total Keseluruhan 5018,1 89,83 59,43 15 Rata-rata Keseluruhan 836,35 14,97 9,91 2,5
2. Nilai Turunan Serat
Demikian pula dengan perhitungan nilai turunan seratnya yang berdasarkan letak pada cabang dapat di lihat pada table berikut di bawah ini :
Tabel 4. Rata-rata Nilai Turunan Serat Cabang Kayu Kerai Payung (Filicium decipens). No Bagian yang diambil Runkel Ratio Felting Power Flexibility Ratio Coefition of Regidity Mulhstep Ratio (%) 1 Pangkal Gubal 0,58 58,85 0,64 0,18 58,81 Teras 0,55 56,96 0,66 0,17 56,09 2 Tengah Gubal 0,54 56,53 0,66 0,17 55,98 Teras 0,57 60,90 0,65 0,18 57,92 3 Ujung Gubal 0,62 59,79 0,64 0,19 59,32 Teras 0,59 56,62 0,64 0,18 58,17 Total Keseluruhan 3,45 349,65 3,89 1,07 346,29 Rata-rata Keseluruhan 0,58 58,28 0,65 0,18 57,72
3. Nilai Kualitas Serat
Untuk mendapatkan gambaran mengenai kemungkinan penggunaan kayu kerai payung pada bagian cabang sebagai bahan baku pulp dan kertas dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 5. Nilai Kualitas Serat Cabang Kayu Kerai Payung
Dimensi dan Nilai Turunan Serat
Rata-rata kualitas serat
Rata-rata Nilai Panjang Serat (µm) 836,35 25 Runkel Ratio 0,58 50 Felting Power 58,28 50 Flexibility Ratio 0,65 75 Coeficient of Rigidity 0,18 50 Muhlsteph Ratio 57,72 75 Jumlah 325 Kualitas II B. Pembahasan
1. Dimensi Serat Cabang Kayu Kerai Payung.
Melihat dari hasil pengukuran dimensi panjang serat berdasarkan letak pada cabang panjang serat pada cabang kayu kerai payung rata-rata 856,35 µm.
Wegenfeur (1984) dalam Hernandi (1996), bahwa panjang serat tersebut termasuk
dalam kelas serat sangat pendek karena panjangnya kurang dari 1000 µm. Untuk serat yang pendek jika dibuat kertas maka akan berkaitan dengan kekuatan tarik dan formasi kertas yang akan dibuat, dimana menurut Sudrajat dan Rahman (1980) dalam Sumiati (2001), bahwa serat pendek akan memberikan formasi yang lebih baik dengan permukaan dasar halus. Demikian pula menurut Rydholm dan Giert
(1965) yang dikutip Becham (1984) dalam Sumiati (2001), menjelaskan bahwa
berukuran pendek dan mempunyai sifat permukaan kertas yang lebih baik dari pada kertas yang dibuat dari serat kayu daun jarum yang berukuran panjang.
Kemudian untuk diameter serat pada cabang kayu kerai payung yaitu 14,97 µm. Dimana nilai ini menurut Klemm (1928) dalam Sumiati (2001), termasuk kategori serat yang berdiameter sedang karena berkisar antara 10-24 µm. Serat yang berdiameter sedang ini jika di buat kertas diduga akan menghasilkan kekuatan yang cukup baik. Menurut Soenardi (1976) dan Kasmudjo (1983) dalam Sumiati
(2001), menjelaskan bahwa serat yang berdiameter kecil dan berdinding tipis sangat
baik bagi pembentukan lembaran maupun bagi kekuatan kertas.
Demikian pula halnya dengan ketebalan dinding serat, dimana dinding serat cabang kayu kerai payung adalah sebesar 2,5 µm. Nilai ini menurut Wegenfeur
(1984) yang dikutip oleh Hernandi (1996) dalam Sumiati (2001), termasuk kategori
serat yang berdinding sangat tipis karena berkisar < 4 µm. Serat yang berdinding sangat tipis ini menurut Hendayani (1988) dalam Sumiati (2001), jika dibuat kertas akan menghasilkan kertas yang lebih kuat, lebih padat, permukaan rata dan kekuatan lipat yang lebih besar. Pada waktu penggilingan, dinding serat yang tipis akan berubah bentuk menjadi pipih dengan memberikan permukaan yang lebih luas sehingga jalinan antara permukaan seratnyapun akan lebih kuat pula.
2. Nilai Turunan Serat Cabang Kayu Kerai Payung.
Dari hasil perhitungan nilai turunan serat kayu kerai payung berdasarkan letak pada cabang yang meliputi Runkel Ratio, Felting Power, Flexibility Ratio, Coefition of Regidity, Mulhstep Ratio seperti yang tercantum pada tabel 4, dimana rata-rata Runkel Ratio sebesar 0,58, Felting Powernya sebesar 58,28, Flexibility
Ratio sebesar 0,65, Coefition of Regidity sebesar 0,18 dan Mulhstep Rationya sebesar 57,72 %.
Melihat dari hasil nilai turunan seratnya pada cabang kayu kerai payung ini dimana nilai rata-rata Runkel Ratio adalah 0,58. Nilai ini menurut klasifikasi Runkel Ratio yang bersumber dari Casey (1960) dalam Sumiati (2001), bahwa serat cabang kayu kerai payung mempunyai dinding serat yang tipis,karena dari perhitungan Runkel Rationya atau perbandingan tebal dinding serat dan diameter lumennya lebih kecil dari 1. Selanjutnya jika mengacu pada klasifikasi persyaratan nilai serat cabang kayu kerai payung ini sebagai bahan baku kertas Anonim (1976), mempunyai nilai 50, karena masuk dalam syarat 0,50 – 0,1. Jika serat ini diperoses menjadi kertas, maka akan mempunyai kelenturan yang cukup baik karena semakin kecil Runkel Ratio maka semakin lentur serat tersebut dan kekuatan kertas semakin meningkat (Margono, 1972; Budi, 1995) dalam Sumiati (2001).
Kemudian dari hasil nilai rata-rata perhitungan Felting Powernya, cabang kayu kerai payung adalah 58,28. Jika mengacu pada klasifiasi persyaratan nilai serat sebagai bahan baku kertas Anonim (1976), maka serat ini mempunyai nilai 50, karena masuk dalam syarat 40 – 70. Wasrin dan Iskandar (2006) dalam Sumiati
(2001) menyatakan, semakin rendah nilai daya tenun maka sifat serat cenderung
semakin tidak lentur. Daya tenun serat ini berpengaruh pada kekuatan sobek, artinya semakin rendah daya tenun maka semakin rendah pula kekuatan sobek dari kertas tersebut. Dalam menjalin ikatan antar serat, panjang serat merupakan faktor yang lebih penting karena panjang serat akan berperan dalam meningkatkan kekuatan sobek jika serat ini dijadikan kertas.
Demikian pula dengan Flexibility Ratio, dimana nilai rata-rata Flexibility Ratio pada cabang kayu kerai payung adalah 0,65. Jika mengacu pada klasifikasi persyaratan nilai serat sebagai bahan baku kertas Anonim (1976), maka serat ini mempunyai nilai 75, karena masuk dalam syarat 0,60 – 0,80. Artinya serat tersebut mempunyai dinding serat yang mudah berubah bentuk, hal ini menyebabkan serat yang akan dihasilkan lembaran pulp dengan kekuatan cukup baik. (Soenardi, 1976) dalam Sumiati (2001).
Dari nilai rata-rata Coefficient of Rigidity, serat cabang kayu kerai payung adalah 0,18. Berdasarkan Anonim (1976), maka serat ini mempunyai nilai 50, karena berada di antara 0,15 – 0,2. Artinya serat tersebut mempunyai dinding serat tipis dan diameter lumen lebar dalam pembentukan lembaran pulp, serat digepengkan dengan ikatan antar serat dan tenunan baik, di duga menghasilkan lembaran kertas dengan kekuatan sobek, jebol dan tarik yang cukup tinggi atau sedang.
Selanjutnya nilai rata-rata Muhlsteph Ratio, serat cabang kayu kerai payung adalah 57,72%. Berdasarkan Anonim (1976), serat ini mempunyai nilai 75, karena
berada antara 30 % sampai 60 %. Selanjutnya di jelaskan bahwa serat yang berada antara 30 % sampai 60 % ini bersifat plastis dan memberikan lembaran yang lebih halus, mempunyai dinding serat tipis dan lumen lebar. Dalam proses penggilingan, diduga serat ini mudah di gepengkan dan dalam pembentukan lembaran kertasnyapun diduga ikatan antar serat dan tenunannya baik, menghasilkan lembaran dengan keteguhan sobek, jebol dan tarik yang sedang.
3. Kualitas Serat Cabang Kayu Kerai Payung.
Dalam menentukan kualitas serat sebagai bahan baku kertas, tidak hanya menentukan nilai dimensi dan nilai turunannya saja secara sendiri, tetapi juga berdasarkan persyaratan dan nilai seratnya secara keseluruhan.
Dari hasil perhitungan nilai kualitas serat pada cabang kayu kerai payung yang diteliti secara keseluruhan mempunyai jumlah nilai sebesar 325 µm. Berdasarkan persyaratan nilai turunan serat sebagai bahan baku kertas dalam Anonim (1976) nilai serat ini termasuk dalam kelas kualitas II. Selanjutnya di jelaskan bahwa serat yang termasuk dalam kelas kualitas dua, (II) biasanya mempunyai dinding serat tipis, dan jika akan dibuat kertas, maka dalam proses penggilingan seratnya akan mudah menggepeng dan ikatan antar seratnya pun menjadi baik. Jika dijadikan kertas, serat ini diduga akan menghasilkan lembaran dengan kekuatan sobek, retak, dan tarik yang cukup tinggi atau sedang.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Hasil pengukuran dimensi serat cabang kayu kerai payung menunjukkan bahwa panjang serat cabang kerai payung yaitu : 836,35 µm, diameter serat yaitu :14,97 µm, dan tebal dinding serat adalah : 2,5 µm.
2. Hasil perhitungan nilai turunan seratnya meliputi Runkel Ratio : 0,58, Felting Power : 58,28, Flexibility Ratio : 0,65, Coefficient of Regidity : 0,18, dan Mulhstep Ratio : 57,72 %.
3. Untuk kelas kualita serat cabang kayu kerai payung baik pada kayu gubal maupun pada kayu terasnya masuk dalam kelas dua (II) dengan nilai 325, secara keseluruhan pada cabang kayu kerai payung termasuk dalam kelas kualitas dua (II).
4. Serat cabang kayu kerai payung berukuran pendek dan berdinding serat tipis, jika dibuat kertas diduga serat mudah menggepeng pada saat penggilingan serat, ikatan antar seratnya baik, kemudian kekuatan sobek, retak dan tarik dari kertas yang dihasilkan diduga cukup baik sampai sedang.
B. Saran
1. Disarankan serat cabang kayu kerai payung ini berdasarkan kualitas seratnya yang termasuk dalam kualitas 2 dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku kertas.
2. Disarankan pada penelitian selanjutnya untuk mencoba meneliti tentang proses pulping dari kayu kerai payung ini, dengan harapan dapat diketahui dari hasil
pemasakan yaitu rendemen dan kekuatan dari pulp bahan baku itu sendiri seperti kekuatan retak,tarik,jebol,lipat dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1976. Vademicum Kehutanan Indonesia. Direktorat Jendral Kehutanan
Departemen Pertanian. Jakarta.
. 2010 Jenis-Jenis Kayu Indonesia. Balai Pustaka 1980.
Casey, 1960. Pulp and Paper.Volume II Second Edition. Interscience Publisher Inc.
New York.
Eka W dan Adji H. 2012. Informasi Singkat Benih. Balai Perbenihan Tanaman
Hutan Sulawesi. Makassar.
Gledhiil. 2008. The Names Of Plants. Cambrigde University Press.p.357.
Haroen. 1989. Pengetahuan Bahan Baku. Yayasan Pendidikan Bakti Industri.
Sekolah Pulp dan Kertas. Bandung.
Haygreen dan Bowyer. 1989. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Universitas Gajah Mada.
Yogyakarta.
Hernandi. 1996. Variasi Serat Arah Radial, Longitudinal, dan Umur Pohon Serta
Penentuan Kualitas Pulp Pada Kayu Leda. Fakultas Kehutanan UNMUL. Samarinda.
Ingeten. 2009. Dimensi Serat Sludge Primer Industri Pulp dan Kertas.Fakultas
Pertanian Universitas Sumatra Utara.
Iskandar. 1997. Dimensi dan Nilai Serat Pulp Kraft Dari Jenis Kayu Mahang Damar,
Merkubung, dan Karet, Fakultas Kehutanan UNMUL. Samarinda.
Purwanto. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Pustaka Pelajar. Celeban Timur
Yogyakarta.
Sumiati. 2001. Dimensi dan Nilai Turunan Serat Cabang Pohon Sengon Sebagai
Alternatif Bahan Baku Pulp dan Kertas.
Wasrin dan Iskandar. 2006. Sifat Kimia dan Serat Kayu Dari Tiga Provenances.
Departemen hasil hutan.Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan Bogor. Bogor.
Tabel 6. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Gubal Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 900 20 15 2.5 0,33 40 0,75 0,13 43,75 2 970 17.5 12.5 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 3 640 15 10 2.5 0,4 45,71 0,71 0,14 48,98 4 930 12.5 7.5 2.5 0,67 68 0,6 0,2 64 5 950 17.5 12.5 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 6 760 15 10 2.5 0,33 40 0,75 0,13 43,75 7 800 10 5 2.5 0,5 48 0,67 0,17 55,56 8 860 12.5 7.5 2.5 0,67 72 0,6 0,2 64 9 830 15 10 2.5 0,28 46,86 0,71 0,14 48,98 10 1000 17.5 12.5 2.5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 11 950 10 5 2.5 1 100 0,5 0,25 75 12 750 15 10 2.5 0,5 52,67 0,67 0,17 55,56 13 800 17.5 12.5 2.5 0,67 72 0,6 0,2 64 14 970 12.5 7.5 2.5 0,4 48,57 0,71 0,14 48,98 15 600 10 5 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 16 950 20 15 2.5 1 70 0,5 0,25 75 17 790 17.5 12.5 2.5 0,67 76 0,6 0,2 64 18 870 20 15 2.5 0,33 40 0,75 0,13 43,75 19 1000 15 10 2.5 0,4 41,71 0,71 0,14 48,98 20 970 10 5 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 21 810 15 10 2.5 1 90 0,5 0,25 75 22 940 17.5 12.5 2.5 0,67 63,2 0,6 0,2 64 23 1000 20 15 2.5 0,4 45,71 0,71 0,14 48,98 24 850 15 10 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 25 900 12.5 7.5 2.5 1 95 0,5 0,25 75 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 7. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Gubal Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 900 15 10 2.5 0,4 45,71 0,71 0,14 48,98 2 800 10 5 2.5 0,67 56 0,6 0,2 64 3 900 17.5 12.5 2.5 0,33 50 0,75 0,13 43,75 4 950 12.5 7.5 2.5 1 66 0,5 0,25 75 5 850 15 10 2.5 0,4 47,43 0,71 0,14 48,98 6 940 20 15 2.5 0,67 50,4 0,6 0,2 64 7 920 10 5 2.5 0,5 42,67 0,67 0,17 55,56 8 1000 12.5 7.5 2.5 1 72 0,5 0,25 75 9 990 15 10 2.5 0,4 52 0,71 0,14 48,98 10 870 17.5 12.5 2.5 0,67 64 0,6 0,2 64 11 1000 12.5 7.5 2.5 1 70 0,5 0,25 75 12 980 20 15 2.5 0,5 93,33 0,67 0,17 55,56 13 850 17.5 12.5 2.5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 14 710 15 10 2.5 0,67 76,8 0,6 0,2 64 15 830 12.5 7.5 2.5 0,4 49,72 0,71 0,14 48,98 16 920 15 10 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 17 960 17.5 12.5 2.5 0,67 80 0,6 0,2 64 18 760 10 5 2.5 0,4 53,72 0,71 0,14 48,98 19 950 20 15 2.5 0,33 42 0,75 0,13 43,75 20 1000 15 10 2.5 0,5 50 0,67 0,17 55,56 21 770 17.5 12.5 2.5 0,67 73,6 0,6 0,2 64 22 900 10 5 2.5 0,4 47,43 0,71 0,14 48,98 23 850 20 15 2.5 0,5 64,67 0,67 0,17 55,56 24 690 15 10 2.5 0,4 46,86 0,71 0,14 48,98 25 950 10 5 2.5 0,33 43,5 0,75 0,13 43,75 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 8. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Gubal Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens)
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 600 15 10 2.5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 2 950 10 5 2.5 0,67 58,4 0,6 0,2 64 3 800 10 5 2.5 1 81 0,5 0,25 75 4 960 17.5 12.5 2.5 0,5 50 0,67 0,17 55,56 5 970 12.5 7.5 2.5 0,4 36 0,71 0,14 48,98 6 1000 20 15 2.5 0,67 56 0,6 0,2 64 7 850 12.5 7.5 2.5 1 82 0,5 0,25 75 8 760 20 15 2.5 0,33 45 0,75 0,13 43,75 9 910 15 10 2.5 0,5 42,67 0,67 0,17 55,56 10 1000 20 15 2.5 0,4 42,85 0,71 0,14 48,98 11 950 17.5 12.5 2.5 0,67 68,8 0,6 0,2 64 12 800 12.5 7.5 2.5 0,67 76 0,6 0,2 64 13 950 15 10 2.5 1 66 0,5 0,25 75 14 1000 10 5 2.5 0,5 54 0,67 0,17 55,56 15 960 15 10 2.5 0,67 74,4 0,6 0,2 64 16 900 17.5 12.5 2.5 0,4 45,72 0,71 0,14 48,98 17 800 15 10 2.5 0,5 48,67 0,67 0,17 55,56 18 950 12.5 7.5 2.5 1 100 0,5 0,25 75 19 970 20 15 2.5 0,4 52,57 0,71 0,14 48,98 20 790 10 5 2.5 0,5 46,67 0,67 0,17 55,56 21 680 12.5 7.5 2.5 0,4 46,28 0,71 0,14 48,98 22 850 15 10 2.5 1 90 0,5 0,25 75 23 900 10 5 2.5 0,5 42,67 0,67 0,17 55,56 24 910 17.5 12.5 2.5 0,33 36 0,75 0,13 43,57 25 1000 20 15 2.5 1 80 0,5 0,25 75 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 9. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Gubal Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens)
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 1000 10 5 2.5 0,5 50 0,67 0,17 55,56 2 950 15 10 2.5 1 64 0,5 0,25 75 3 750 17.5 12.5 2.5 0,33 39 0,75 0,13 43,75 4 800 20 15 2.5 0,67 64 0,6 0,2 64 5 600 12.5 7.5 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 6 790 15 10 2.5 0,5 62 0,67 0,17 55,56 7 700 17.5 12.5 2.5 0,4 46,28 0,71 0,14 48,98 8 800 20 15 2.5 0,67 52,8 0,6 0,2 64 9 680 15 10 2.5 0,4 44,57 0,67 0,14 48,98 10 740 10 5 2.5 0,67 73,6 0,6 0,2 64 11 850 17.5 12.5 2.5 1 68 0,5 0,25 75 12 810 20 15 2.5 0,67 69,6 0,6 0,2 64 13 950 12.5 7.5 2.5 0,67 76 0,6 0,2 64 14 1000 15 10 2.5 0,5 54,67 0,67 0,17 55,56 15 830 17.5 12.5 2.5 0,67 56 0,6 0,2 64 16 900 20 15 2.5 0,4 49,14 0,71 0,14 48,98 17 1000 10 5 2.5 1 90 0,5 0,25 75 18 790 15 10 2.5 0,5 56 0,67 0,17 55,56 19 800 17.5 12.5 2.5 0,4 57,14 0,71 0,14 48,98 20 900 15 10 2.5 0,67 48 0,6 0,2 64 21 630 17.5 12.5 2.5 0,33 36 0,75 0,13 43,75 22 800 12.5 7.5 2.5 0,5 53,33 0,67 0,17 55,56 23 950 17.5 12.5 2.5 0,67 60 0,6 0,2 64 24 1000 10 5 2.5 1 90 0,5 0,25 75 25 960 15 10 2.5 0,4 38,86 0,71 0,14 48,98 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 10. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Teras Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens)
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 800 12.5 7.5 2.5 0,67 64 0,6 0,2 64 2 900 15 10 2.5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 3 950 10 5 2.5 1 85 0,5 0,25 75 4 800 17.5 12.5 2.5 0,4 45,72 0,71 0,14 48,98 5 750 15 10 2.5 0,5 50 0,67 0,17 55,56 6 730 15 10 2.5 0,5 48,67 0,67 0,17 55,56 7 1000 20 15 2.5 0,33 50 0,75 0,13 43,75 8 900 17.5 12.5 2.5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 9 800 20 15 2.5 0,33 40 0,75 0,13 43,75 10 930 15 10 2.5 0,5 62 0,67 0,17 55,56 11 900 12.5 7.5 2.5 0,67 72 0,6 0,2 64 12 750 15 10 2.5 0,5 50 0,67 0,17 55,56 13 950 20 15 2.5 0,33 47,5 0,75 0,13 43,75 14 800 17.5 12.5 2.5 0,14 45,72 0,71 0,14 48,98 15 1000 12.5 7.5 2.5 0,67 80 0,6 0,2 64 16 900 10 5 2.5 1 90 0,5 0,25 75 17 950 20 15 2.5 0,33 47,5 0,75 0,13 43,75 18 990 15 10 2.5 0,5 66 0,67 0,17 55,56 19 800 12.5 7.5 2.5 0,67 64 0,6 0,2 64 20 750 17.5 12.5 2.5 0,4 42,86 0,71 0,14 48,98 21 850 20 15 2.5 0,33 42,5 0,75 0,13 43,75 22 700 15 10 2.5 0,5 46,67 0,67 0,17 55,56 23 650 12.5 7.5 2.5 0,67 52 0,6 0,2 64 24 1000 10 5 2.5 1 100 0,5 0,25 75 25 700 20 15 2.5 0,33 35 0,75 0,13 43,75 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 11. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Teras Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 800 15 10 2.5 0,5 53,33 0,67 0,17 55,56 2 700 17.5 12.5 2.5 0,4 40 0,71 0,14 48,98 3 850 10 5 2.5 1 85 0,5 0,25 75 4 800 20 15 2.5 0,33 40 0,75 0,13 43,75 5 760 15 10 2.5 0,5 50,67 0,67 0,17 55,56 6 850 12.5 7.5 2.5 0,67 68 0,6 0,2 64 7 900 17.5 12.5 2.5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 8 1000 20 15 2.5 0,33 50 0,75 0,13 43,75 9 900 15 10 2.5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 10 850 12.5 7.5 2.5 0,67 68 0,6 0,2 64 11 800 10 5 2.5 1 80 0,5 0,25 75 12 900 15 10 2.5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 13 860 20 15 2.5 0,33 43 0,75 0,13 43,75 14 800 15 10 2.5 0,5 53,33 0,67 0,17 55,56 15 900 17.5 12.5 2.5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 16 850 12.5 7.5 2.5 0,67 68 0,6 0,2 64 17 800 17.5 12.5 2.5 0,4 45,72 0,71 0,14 48,98 18 1000 15 10 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 19 900 20 15 2.5 0,33 45 0,75 0,13 43,75 20 850 15 10 2.5 0,5 56,67 0,67 0,17 55,56 21 650 17.5 12.5 2.5 0,4 37,14 0,71 0,14 48,98 22 800 12.5 7.5 2.5 0,67 64 0,6 0,2 64 23 750 10 5 2.5 1 75 0,5 0,25 75 24 1000 15 10 2.5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 25 900 20 15 2.5 0,33 45 0,75 0,13 43,75 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 12. Nilai Pengukuran Dimensi Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Teras Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens)
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 1000 20 15 2,5 0,33 50 0,75 0,13 43,75 2 800 15 10 2,5 0,5 53,33 0,67 0,17 55,56 3 850 12,5 7,5 2,5 0,67 68 0,6 0,2 64 4 650 12,5 7,5 2,5 0,67 52 0,6 0,2 64 5 900 17,5 12,5 2,5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 6 820 10 5 2,5 1 82 0,5 0,25 75 7 1000 15 10 2,5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 8 800 17,5 12,5 2,5 0,4 45,72 0,71 0,14 48,98 9 850 15 10 2,5 0,5 56,67 0,67 0,17 55,56 10 900 12,5 7,5 2,5 0,67 72 0,6 0,2 64 11 750 10 5 2,5 1 75 0,5 0,25 75 12 950 20 15 2,5 0,33 47,5 0,75 0,13 43,75 13 700 12,5 7,5 2,5 0,67 56 0,6 0,2 64 14 800 10 5 2,5 1 80 0,5 0,25 75 15 1000 17,5 12,5 2,5 0,4 57,14 0,71 0,14 48,98 16 900 15 10 2,5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 17 950 20 15 2,5 0,33 47,5 0,75 0,13 43,75 18 750 15 10 2,5 0,5 50 0,67 0,17 55,56 19 690 15 10 2,5 0,4 39,43 0,71 0,14 48,98 20 800 10 5 2,5 1 80 0,5 0,25 75 21 900 17,5 12,5 2,5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 22 700 15 10 2,5 0,5 46,67 0,67 0,17 55,56 23 850 20 15 2,5 0,33 42,5 0,75 0,13 43,75 24 950 17,5 12,5 2,5 0,4 54,28 0,71 0,14 48,98 25 650 15 10 2,5 0,5 43,33 0,67 0,17 55,56 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 13. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Pangkal (1) Teras Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 900 17,5 12,5 2,5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 2 1000 10 5 2,5 1 100 0,5 0,25 75 3 800 12,5 7,5 2,5 0,67 64 0,6 0,2 64 4 950 20 15 2,5 0,33 47,5 0,75 0,13 43,75 5 650 15 10 2,5 0,5 43,33 0,67 0,17 55,56 6 700 17,5 12,5 2,5 0,4 40 0,71 0,14 48,98 7 900 10 5 2,5 1 90 0,5 0,25 75 8 850 15 10 2,5 0,5 56,67 0,67 0,17 55,56 9 600 15 10 2,5 0,5 40 0,67 0,17 55,56 10 750 17,5 12,5 2,5 0,4 42,86 0,71 0,14 48,98 11 1000 20 15 2,5 0,33 50 0,75 0,13 43,75 12 600 17,5 12,5 2,5 0,4 34,28 0,71 0,14 48,98 13 780 12,5 7,5 2,5 0,67 62,4 0,6 0,2 64 14 800 15 10 2,5 0,5 53,33 0,67 0,17 55,56 15 960 17,5 12,5 2,5 0,4 54,86 0,71 0,14 48,98 16 900 20 15 2,5 0,33 45 0,75 0,13 43,75 17 700 10 5 2,5 1 70 0,5 0,25 75 18 680 15 10 2,5 0,5 45,33 0,67 0,17 55,56 19 1000 17,5 12,5 2,5 0,4 57,14 0,71 0,14 48,98 20 730 15 10 2,5 0,5 48,67 0,67 0,17 55,56 21 850 20 15 2,5 0,33 42,5 0,75 0,13 43,75 22 900 15 10 2,5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 23 750 12,5 7,5 2,5 0,67 60 0,6 0,2 64 24 800 10 5 2,5 1 80 0,5 0,25 75 25 820 12,5 7,5 2,5 0,67 65,6 0,6 0,2 64 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 14. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Tengah (2) Gubal Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 970 15 10 2,5 0,5 64,67 0,67 0,17 55,56 2 800 17,5 12,5 2,5 0,4 45,71 0,71 0,14 48,98 3 740 20 15 2,5 0,33 37 0,75 0,13 43,75 4 880 17,5 12,5 2,5 0,4 50,28 0,71 0,14 48,98 5 840 10 5 2,5 1 84 0,5 0,25 75 6 780 20 15 2,5 0,33 39 0,75 0,13 43,75 7 860 17,5 12,5 2,5 0,4 49,14 0,71 0,14 48,98 8 920 12,5 7,5 2,5 0,67 73,6 0,6 0,2 64 9 900 15 10 2,5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 10 900 17,5 12,5 2,5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 11 750 17,5 12,5 2,5 0,4 42,86 0,71 0,14 48,98 12 840 12,5 7,5 2,5 0,67 67,2 0,6 0,2 64 13 730 17,5 12,5 2,5 0,4 41,71 0,71 0,14 48,98 14 850 20 15 2,5 0,33 42,5 0,75 0,13 43,75 15 780 12,5 7,5 2,5 0,67 62,4 0,6 0,2 64 16 880 10 5 2,5 1 88 0,5 0,25 75 17 800 15 10 2,5 0,5 53,33 0,67 0,17 55,56 18 750 17,5 12,5 2,5 0,4 42,86 0,71 0,14 48,98 19 700 20 15 2,5 0,33 35 0,75 0,13 43,75 20 680 12,5 7,5 2,5 0,67 54,4 0,6 0,2 64 21 740 17,5 12,5 2,5 0,4 42,28 0,71 0,14 48,98 22 680 10 5 2,5 1 68 0,5 0,25 75 23 930 15 10 2,5 0,5 62 0,67 0,17 55,56 24 820 17,5 12,5 2,5 0,4 46,86 0,71 0,14 48,98 25 870 20 15 2,5 0,33 43,5 0,75 0,13 43,75 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 15. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Tengah (2) Gubal Bagian (2) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 870 17,5 12,5 2,5 0,4 49,71 0,71 0,41 48,98 2 840 15 10 2,5 0,5 56 0,67 0,17 55,56 3 820 20 15 2,5 0,33 41 0,75 0,13 43,75 4 800 17,5 12,5 2,5 0,4 45,71 0,71 0,14 48,98 5 1000 12,5 7,5 2,5 0,67 80 0,6 0,2 64 6 800 15 10 2,5 0,5 53,33 0,67 0,17 55,56 7 860 10 5 2,5 1 86 0,5 0,25 75 8 690 20 15 2,5 0,33 34,5 0,75 0,13 43,75 9 890 17,5 12,5 2,5 0,4 50,86 0,71 0,14 48,98 10 900 12,5 7,5 2,5 0,67 72 0,6 0,2 64 11 750 15 10 2,5 0,5 50 0,67 0,17 55,56 12 760 10 5 2,5 1 76 0,5 0,25 75 13 840 20 15 2,5 0,33 42 0,75 0,13 43,75 14 920 17,5 12,5 2,5 0,4 52,57 0,71 0,14 48,98 15 700 15 10 2,5 0,5 46,67 0,67 0,17 55,56 16 740 12,5 7,5 2,5 0,67 59,2 0,6 0,2 64 17 900 17,5 12,5 2,5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 18 760 15 10 2,5 0,5 50,67 0,67 0,17 55,56 19 800 12,5 7,5 2,5 0,67 64 0,6 0,2 64 20 900 17,5 12,5 2,5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 21 950 10 5 2,5 1 95 0,5 0,25 75 22 960 20 15 2,5 0,33 48 0,75 0,13 43,75 23 920 15 10 2,5 0,5 61,33 0,67 0,17 55,56 24 1000 17,5 12,5 2,5 0,4 57,14 0,71 0,14 48,98 25 720 12,5 7,5 2,5 0,67 57,6 0,6 0,2 64 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 16. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Tengah (2) Gubal Bagian (3) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 730 15 10 2,5 0,5 48,67 0,67 0,17 55,56 2 750 10 5 2,5 1 75 0,5 0,25 75 3 770 17,5 12,5 2,5 0,4 44 0,71 0,14 48,98 4 870 12,5 7,5 2,5 0,67 69,6 0,6 0,2 64 5 900 20 15 2,5 0,33 45 0,75 0,13 43,75 6 760 17,5 12,5 2,5 0,4 43,43 0,71 0,14 48,98 7 880 15 10 2,5 0,5 58,67 0,67 0,17 55,56 8 790 17,5 12,5 2,5 0,4 45,14 0,71 0,14 48,98 9 900 12,5 7,5 2,5 0,67 72 0,6 0,2 64 10 640 15 10 2,5 0,5 42,67 0,67 0,17 55,56 11 960 17,5 12,5 2,5 0,4 54,86 0,71 0,14 48,98 12 790 10 5 2,5 1 79 0,5 0,25 75 13 980 12,5 7,5 2,5 0,67 78,4 0,6 0,2 64 14 950 15 10 2,5 0,5 63,33 0,67 0,17 55,56 15 1000 17,5 12,5 2,5 0,4 57,14 0,71 0,14 48,98 16 800 20 15 2,5 0,33 40 0,75 0,13 43,75 17 900 15 10 2,5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 18 890 15 10 2,5 0,5 59,33 0,67 0,17 55,56 19 1000 17,5 12,5 2,5 0,4 57,14 0,71 0,14 48,98 20 930 10 5 2,5 1 93 0,5 0,25 75 21 750 12,7 7,5 2,5 0,67 60 0,6 0,2 64 22 980 17,5 12,5 2,5 0,4 56 0,71 0,14 48,98 23 920 15 10 2,5 0,5 61,33 0,67 0,17 55,56 24 790 20 15 2,5 0,33 39,5 0,75 0,13 43,75 25 900 17,5 12,5 2,5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 17. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Tengah (2) Gubal Bagian (4) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 800 15 10 2,5 0,5 53,33 0,67 0,17 55,56 2 900 17,5 12,5 2,5 0,4 51,43 0,71 0,14 48,98 3 780 15 10 2,5 0,5 52 0,67 0,17 55,56 4 1000 17,5 12,5 2,5 0,4 57,14 0,71 0,14 48,98 5 850 20 15 2,5 0,33 42,5 0,75 0,13 43,75 6 760 15 10 2,5 0,5 50,67 0,67 0,17 55,56 7 690 12,5 7,5 2,5 0,67 55,2 0,6 0,2 64 8 800 10 5 2,5 1 80 0,5 0,25 75 9 1000 12,5 7,5 2,5 0,67 80 0,6 0,2 64 10 750 10 5 2,5 1 75 0,5 0,25 75 11 900 15 10 2,5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 12 860 20 15 2,5 0,33 43 0,75 0,13 43,75 13 750 17,5 12,5 2,5 0,4 42,86 0,71 0,14 48,98 14 660 12,5 7,5 2,5 0,67 52,8 0,6 0,2 64 15 920 17,5 12,5 2,5 0,4 52,57 0,71 0,14 48,98 16 830 10 5 2,5 1 83 0,5 0,25 75 17 680 15 10 2,5 0,5 45,33 0,67 0,17 55,56 18 730 12,5 7,5 2,5 0,67 58,3 0,6 0,2 64 19 820 15 10 2,5 0,5 54,68 0,67 0,17 55,56 20 960 17,5 12,5 2,5 0,4 54,86 0,71 0,14 48,98 21 600 10 5 2,5 1 60 0,5 0,25 75 22 740 20 10 2,5 0,5 37 0,67 0,13 55,56 23 830 12,5 7,5 2,5 0,67 66,4 0,6 0,2 64 24 900 15 10 2,5 0,5 60 0,67 0,17 55,56 25 880 17,5 12,5 2,5 0,4 50,28 0,71 0,14 48,98 Keterangan :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.
Tabel 18. Nilai Pengukuran Dimensi dan Nilai Turunan Serat Kayu Pada Bagian Tengah (2) Teras Bagian (1) Cabang Pohon Kerai Payung (Filicium decipiens).
No
Dimensi Serat Nilai Turunan Serat
L (µm) D (µm) I (µm) W (µm) RR FP FR CoR MR (%) 1 900 20 15 2,5 0,33 45 0,75 0,13 43,75 2 970 17,5 12,5 2,5 0,4 55,43 0,71 0,14 48,98 3 640 15 10 2,5 0,5 42,67 0,67 0,17 55,56 4 930 12,5 7,5 2,5 0,67 74,4 0,6 0,2 64 5 950 17,5 12,5 2,5 0,4 54,28 0,71 0,14 48,98 6 760 15 10 2,5 0,5 50,67 0,67 0,17 55,56 7 800 10 5 2,5 1 80 0,5 0,25 75 8 860 12,5 7,5 2,5 0,67 68,8 0,6 0,2 64 9 830 15 10 2,5 0,5 55,32 0,67 0,17 55,56 10 1000 17,5 12,5 2,5 0,4 57,14 0,71 0,14 48,98 11 950 10 5 2,5 1 95 0,5 0,25 75 12 750 15 10 2,5 0,5 50 0,67 0,17 55,56 13 800 17,5 12,5 2,5 0,4 45,71 0,71 0,14 48,98 14 970 12,5 7,5 2,5 0,67 77,6 0,6 0,2 64 15 600 10 5 2,5 1 60 0,5 0,25 75 16 950 20 15 2,5 0,33 47,5 0,75 0,13 43,75 17 790 17,5 12,5 2,5 0,4 45,14 0,71 0,14 48,98 18 870 20 15 2,5 0,33 43,5 0,75 0,13 43,75 19 1000 15 10 2,5 0,5 66,67 0,67 0,17 55,56 20 970 10 5 2,5 1 97 0,5 0,25 75 21 810 15 10 2,5 0,5 54 0,67 0,17 55,56 22 940 17,5 12,5 2,5 0,4 53,71 0,71 0,14 48,98 23 1000 20 15 2,5 0,33 50 0,75 0,13 43,75 24 850 15 10 2,5 0,5 56,67 0,67 0,17 55,56 25 900 12,5 7,5 2,5 0,67 72 0,6 0,2 64 Keterangn :
L = Panjang Serat. RR = Runkel Ratio. D = Diameter Serat. FP = Felting Power. I = Lumen. FR = Flexibility Ratio.
W = Tebal Dinding Serat. CoR = Coefition of Regidity.