TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA
FISIK DAN MEKANIK
MERUPAKAN TEKNIK PENGENDALIAN PALING KUNO TUJUANNYA SECARA LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG:
1. MEMATIKAN HAMA
2. MENGGANGGU AKTIVITAS FISIOLOGI HAMA
3. MODIFIKASI LINGKUNGAN AGAR TIDAK SESUAI UNTUK HAMA, NAMUN BUKAN MERUPAKAN BAGIAN BUDIDAYA
TEKNIK INI MEMERLUKAN DUKUNGAN PENELITIAN DAN INFORMASI YANG RELEVAN, MISALNYA BIOLOGI DAN EKOLOGI HAMA SASARAN
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK
1. PERLAKUAN PANAS DAN KEBASAHANPENGERINGAN LAHANKEONG
PENGGENANGANSARANG-SARANG TIKUS PEMBAJAKAN LAHANURET
PEMBAKARAN BAGIAN TANAMAN YANG TERSERANG HAMA
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK
2. PENGGUNAAN LAMPU PERANGKAPUNTUK SURVEI DAN PENGENDALIAN HAMA NOKTURNALTERPERANGKAP DIPERLUKAN INTESIF DAN BANYAK PERANGKAP PERALATAN MEMERLUKAN SUMBER LISTRIK KEMUNGKINAN HAMA YANG TIDAK TERTANGKAP ADA
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK
3. PENGGUNAAN PERANGKAP WARNAPERLU PENELITIAN WARNA-WARNA YANG MEMIKAT HAMA BIASANYA WARNA KUNING MEMIKAT LEBIH BANYAK SERANGGA KEMUNGKINAN MUSUH ALAMI JUGA DAPAT TERPERANGKAP DIPERLUKAN BANYAK PERANGKAP
DIPASANG DI PERTANAMAN DAN SEKITARNYA
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK
4. PENGGUNAAN GELOMBANG SUARAPENELITIAN FREKUENSI SUARA YANG DAPAT DIGUNAKAN SECARA TEORITIK: INTENSITAS SUARA TINGGI UNTUK MERUSAK
SERANGGA, INTENSITAS SUARA LEMAH UNTUK MENGUSIR SERANGGA, DAN MEREKAN KEMUDIAN MENDENGARKAN SUARA UNTUK MENGGANGGU PERILAKU HAMA
SERANGGA MEMPUNYAI SISTEM STRIDULATORY
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK
5. PENGHALANG ATAU BARIERMERUPAKAN USAHA PREVENTIF PERLU USAHA PROAKTIF PERLU PENGHALANG YANG KUAT TRAP BARIER SYSTEMUNTUK TIKUS
PEMASANGAN MULSA MENCEGAH SERANGGA HAMA MELETAKKAN TELUR
PEMBERONGSONGAN / PENYARUNGAN BUAH MENCEGAH SERANGAN LALAT BUAH
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK
6. PENGASAPAN UNTUK MEMODIFIKASI LINGKUNGANMERUPAKAN USAHA KURATIF PERLU USAHA PROAKTIF
BERDASARKAN PENGETAHUAN BIOLOGI HAMA YANG MEMBUTUHKAN OKSIGEN
PENGENDALIAN LALAT BUAH
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA MEKANIK
1. PENGAMBILAN LANGSUNG DENGAN TANGANPERLU INTENSIF MENCARI HAMA YANG ADA DI PERTANAMAN DAPAT MENGGUNAKAN ALAT BANTU UNTUK
MEMOTONG/MEMANGKAS BAGIAN TANAMAN YANG TERSERANG HAMA
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA MEKANIK
2. GROPYOKANPERLU KEKOMPAKAN DAN BANYAK PERSONIL
DILAKUKAN PADA WAKTU PRATANAM DAN PASCAPANEN DAPAT MENGGUNAKAN ALAT BANTU: ALAT PEMUKUL, CANGKUL GROPYOKAN TIKUSPERLU INTENSIF
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA MEKANIK
3. PEMASANGAN ALAT PERANGKAPDIPERLUKAN PENGETAHUAN PERILAKU HAMA SASARAN DAPAT DITAMBAH ZAT-ZAT PEMIKAT PERANGKAP UNTUK TIKUS
PERANGKAP UNTUK WALANGSANGIT PERANGKAP UNTUK LALAT BUAH
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA MEKANIK
4. PENGUSIRANALAT BANTU PATUNG-PATUNGAN PENGHALAUAN DENGAN SUARA GADUH PERLU SECARA INTENSIF
PERLU PENGETAHUAN PERILAKU HAMA SASARAN
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
SECARA BIOLOGI / HAYATI
PENGENDALIAN HAYATI
=
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
SECARA BIOLOGI / HAYATI
PENGENDALIAN HAYATI:TAKTIK PENGELOLAAN HAMA YANG DILAKUKAN SECARA SENGAJA MEMANFAATKAN ATAU MEMANIPULASIKAN MUSUH
ALAMI UNTUK MENURUNKAN ATAU MENGENDALIKAN POPULASI HAMA
PENGENDALIAN ALAMI:
PROSES PENGENDALIAN POPULASI YANG BERJALAN SENDIRI
TANPA KESENGAJAAN YANG DILAKUKAN MAUSIA, PROSES INI
TIDAK HANYA KARENA ADANYA MUSUH ALAMI, NAMUN JUGA ADANYA KOMPONEN-KOMPONEN EKOSISTEM YANG LAIN
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
SECARA BIOLOGI / HAYATI
TEKNIK PENGENDALIAN HAYATI SULIT UNTUK DIDUGA DAN DIANALISA SECARA TEPAT KEBERHASILANNYA:
KARENA KERUMITAN DAN DINAMIKA AGROEKOSISTEM PENGETAHUAN DASAR EKOLOGI DAN BIOLOGI PEMANGSA
(PREDATOR) DAN MANGSA (PREY) SANGAT DIPERLUKAN
AGENS PENGENDALIAN HAYATI
PREDATOR
Organisme yang hidup bebas dengan memakan, membunuh atau
memangsa binatang lain
Secara luas predator meliputi: predator, parasitoid, dan patogen,
yang bersimbiosis komensalisme
Secara sempit predator merupakan binatang pemangsa binatang
lain, biasanya bersifat polifagus
Contoh:
- Belalang sembah (Mantodea: Mantidae) memangsa lebih dari
dua jenis serangga lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya
- Harimau dapat memangsa berbagai jenis hewan lain
PARASITOID
Binatang yang hidup di atas atau di dalam tubuh binatang lain
yang lebih besar sebagai inangnya.
Parasitoid: serangga yang memarasit serangga
atau binatang
artropoda lain, bersifat parasitik pada fase pradewasanya dan
bersifat hidup bebas tidak terikat pada inangnya ketika sudah
dewasa
PARASITOID
- ektoparasitoid: larva menghisap nutrisi dari inangnya dan
menyelesaikan perkembangannya berada di luar tubuh inang
Contoh: Campsomeris sp.
Uret
- endoparasitoid: sebagian besar perkembangan larva berada di
dalam tubuh inangnya.
PARASITOID
- parasitoid soliter: perkembangan hidupnya hanya sendiri berada
pada satu
tubuh inang.
Contoh: Charops sp.
- parasitoid gregarius: beberapa individu parasitoid ini hidup
bersama-sama dalam satu inang yang sama.
Contoh: Tetrastichus schoenobii
FENOMENA PARASITOID
- hiperparasitasi: serangga parasitoid memarasit parasitoid lain
parasitoid primer
parasitoid sekunder
parasitoid tersier
PERBEDAAN PREDATOR DAN PARASITOID:
Parasitoid
monofagus / oligofagus
Predator
polifagus
Parasitoid
ukuran tubuh lebih kecil dari mangsa
Predator
ukuran tubuh lebih besar dari mangsa
Parasitoid
satu inang untuk hidup
Predator
lebih dari satu inang
Parasitoid
hanya betina yang mencari inang
Predator
jantan dan betina mencari inang
Sinkronisasi prey-predator
Daya cari inang
PATOGEN
VIRUS.
BAKTERI,
PROTOZOA,
JAMUR,
RIKETTSIA,
NEMATODA
TELAH
DIKETAHUI
LEBIH
DARI
2000
JENIS
PATOGEN
MENYERANG SERANGGA
1.
VIRUS
GENERA VIRUS PENTING:
• NUCLEOPOLYHEDROVIRUS
• GRANULOVIRUS
• IRIDOVIRUS
• ENTOMOPOXVIRUS
• CYPOVIRUS
• NODAVIRUS
NPV : NUCLEOPOLYHEDRO VIRUS
40% Jenis virus menyerang serangga
Penggunaan
pertama
kali
pada
tahun
1970
an
untuk
mengendaliakan hama Trichoplusia ni di California, dengan
cara mengambil dan memperbanyak virus dari hama tersebut di
lapangan
SNPV
diformulasikan dalam bentuk tepung (wettable
powder), memiliki sifat mudah menyebar, persisten, dan mudah
diproduksi
Spodoptera litura pada kedelai
2. JAMUR ENTOMOPATOGENIK
-
Beuveria bassiana
Nilaparvata lugens (Wereng Coklat)
-
Metarhizium anisopliae
Oryctes rhinoceros (uret)
-
Nomuraea sp.
Helicoverpa zea, Spodoptera litura
-
Paecilomyces sp.
Diaphorina citri
-
Verticillium sp.
Aleurodicus destructor
-
Hirsutella sp.
Plutella xylostela
-
Sorosporella sp.
Berbagai ulat grayak (Spodoptera spp.)
-
Spicaria sp.
Helopeltis antonii
3. Bakteri
-
Bacillus thuringiensis
(Bt)
ada yang diformulasikan sebagai pestisida hayati
gen disisipkan pada tanaman transgenik
-
B. popilliae
Uret
4. Protozoa dan Rikettsia
-
Protozoa
mikrosporodia
lebih dari 250 spesies
Nosema locustae
belalang
-
Rikettsia
menyerang kumbang, kematian akaibat rikettsia
baru terjadi pada 1-4 bulan
5. Nematoda
- 19 famili nematoda menyerang serangga,
- Mermithidae
famili yang penting
Steinernema spp.
- Steinernema carpocapsae
penggerek batang padi/tebu, Cylas
formicarius, Spodoptera litura, Crocidolomia binotalis
STRATEGI PENGENDALIAN HAYATI
1.
INTORDUKSI
Langkah-langkah:
- eksplorasi origin
- pengiriman
- karantina
- perbanyakan
- pelepasan dan pemapanan
- evaluasi
2. AUGMENTASI
meningkatkan jumlah musuh alami atau pengaruhnya
-
Melepaskan sejumlah tambahan musuh alami ke ekosistem
-
Memodifikasi ekosistem
shelter, refuge
Pelepasan:
- inokulatif
- suplemen
- inundatif / pelepasan massal
3. KONSERVASI
menghindarkan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan
populasi musuh alami
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
DENGAN SERANGGA MANDUL
TEKNIK OTOSIDAL: MENDORONG HAMA MEMBERIKAN
KONSTRIBUSI TERHADAP PENGURANGAN POPULASINYA SENDIRI (OTOCIDE: MEMBUNUH SENDIRI)
STERILE INSECT TECHNIQUE (SIT)=TEKNIK SERANGGA MANDUL PERNAH DILAKUKAN DI:
FLORIDA, CURACAO, PUERTO RICO, DAN AMERIKA
PENGENDALIAN “SCREWWORM” Cochliomyia hominivorax (lalat ternak)
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
DENGAN SERANGGA MANDUL
PEMANDULAN SERANGGA JANTAN / BETINAUMUMNYA YANG DIGUNAKAN PEMANDULAN SERANGGA JANTAN PEMANDULAN:
1. RADIASI SINAR GAMMA (COBALT 60), SINAR X, SINAR NEUTRON
2. BAHAN PEMANDUL
- ZAT ALKYLATING: AZIRIDIN, ASAM BENSOIK - ZAT ANTIMETABOLIT: PURIN DAN PIRIMIDIN
PERMASALAHAN TEKNIK SERANGGA MANDUL
1. PEMISAHAN JENIS KELAMIN
2. PEMELIHARAAN DAN PEMBIAKAN MASSAL SERANGGA DENGAN MEDIA BUATAN
3. PENENTUAN DOSIS MANDUL
4. PELEPASAN SERANGGA MANDUL KE LAPANGAN 5. PENENTUAN KEPADATAN POPULASI DI LAPANGAN 6. EVALUASI PENGARUH PELEPASAN SERANGGA MANDUL
TERHADAP BERAT SERANGAN DAN KEPADATAN POPULASI SERANGGA HAMA SASARAN
PERSYARATAN KEBERHASILAN TEKNIK SERANGGA MANDUL
1. SERANGGA BETINA TIDAK BERSIFAT PARTHENOGENESIS 2. SERANGGA BETINA HANYA BERKOPULASI SEKALI 3. PEMANDULAN TIDAK MENYEBABKAN PENURUNAN
KEMAMPUAN KOPULASI
4. SERANGGA HARUS DIBIAKKAN SECARA MASSAL 5. PELEPASAN DENGAN TEKNIK DAN WAKTU YANG TEPAT 6. DAERAH PELEPASAN HARUS TERISOLIR SECARA
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
MELALUI PERATURAN KARANTINA
KARANTINA
?
SEJARAH KARANTINA INDONESIA
(http://karantina.deptan.go.id/main.php?link=or1) Karantina Pertanian
tempat pengasingan dan/atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia
Tugas Pokok Karantinaadalah melaksanakan perkarantinaan tumbuhan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan hewan budidaya.
KARANTINA TUMBUHAN
BAHAN DAN BAHAN PEMBAWA PRODUK BERUPA TUMBUHAN KARANTINA HEWAN
BAHAN DAN BAHAN PEMBAWA PRODUK BERUPA HEWAN DAN IKAN KARANTINA HEWAN DAN TUMBUHAN
MASA SEKARANG: KARANTINA HEWAN DAN TUMBUHAN DI INDONESIA DI LEBUR MENJADI SATU YAITU KARANTINA PERTANIAN INDONESIA, YANG MENANGANI KARANTINA HEWAN DAN TUMBUHAN
FUNGSI KARANTINA TUMBUHAN DI INDONESIA
1. Mencegah masuknya hama dan penyakit tumbuhan karantina dari luar negeri ke dalam wilayah negara RI
2. Mencegah tersebarnya hama dan penyakit tumbuhan karantina dari satu daerah ke daerah lain dalam wilayah negara RI
3. Mencegah keluarnya hama dan penyakit tumbuhan tertentu dari wilayah negara RI apabila negara tujuan menghendakinya
ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN KARANTINA (OPTK)
OPTKORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN KARANTINA OPTK Golongan I
OPTK yang tidak bisa dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan, biasanya OPTK ini tergolong patogen OPTK Golongan II
OPTK yang bisa dibebaskan dari media pembawanya dengan menggunakan cara perlakuan tertentu, biasanya hama
OPTK A1OPTK yang belum ada di wilayah Indonesia
OPTK A2 sudah ada di wilayah Indonesia namun penyebaran masih terbatas pada daerah tertentu
OPTP: Organisme Pengganggu Tumbuhan Penting
selain OPTK yang keberadaannya pada benih tanaman yang dilalulintaskan dapat menimbulkan pengaruh merugikan secara ekonomis terhadap tujuan penggunaan benih tersebut misalnya: patogen yang terbawa benih
CONTOH OPTK Gol. II A1 Berbagai spesies lalat buah:
Anastrepa spp. Bactrocera spp. Rhagoletis spp.
menyerang buah apel
Ceratitis capitata
menyerang buah jeruk
CONTOH OPTK Gol. II A2
Belalang Sexava nubila menyerang daun kelapa di Kepulauan Sangihe Talaud (Sulawesi Utara), Maluku Utara, dan Papua TINDAKAN KARANTINA (8P): 1. pemeriksaan 2. pengasingan 3. pengamatan 4. perlakuan 5. penahanan 6. penolakan 7. pemusnahan 8. pembebasan
SERTIFIKAT KESEHATAN KARANTINA (PHYTOSANITARY CERTIFICATE)
Surat keterangan yang dibuat oleh pejabat berwenang di negara atau area asal/pengirim/transit yang meyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari OPT, OPTK, OPTK Gol. I, OPTK Gol. II, dan atau OPTP
BEBERAPA ISTILAH
IPPCInternational Plant Protection Convention NPPONational Plant Protection Organization
ISPMInternational Standard for Phytosanitary Measures
Sanitary and Phytosanitary(kebersihan dan kesehatan tumbuhan)
Pest Risk Analysis(analisis resiko hama)
Pest Risk Assessment(penaksiran/pendugaan resiko hama)
Pest Risk Management(evaluasi dan seleksi meminimalkan resiko hama)
Surveillancekegiatan survey hama
Pest Free Area(Daerah yang bebas hama)
Inspection (Inspeksi)secara visual
Pest Status (status hama)OPT/OPTK/OPTP
Pest Records(Catatan Mengenai status dan kondisi Hama)
Pest List(Daftar Hama)
Point of Entry(pintu masuk produk pertanian dari luar negeri/daerah) FAO(Badan Pangan Dunia)
PENGALAMAN MENGENAI MASUKNYA OPTK: 1. Kumbang Trogoderma granarium
2. Siput Afrika (Giant Snail)Achatina fulica
3. Eceng gondokEichornia crassipes
4. Keong MasPomacea caniculata
5. Lalat pengorok daun kentangLiriomyza huidobrensis
6. Nematoda Sista KuningGlobodera rostochiensis
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
SECARA KIMIAWI
PESTISIDA
?
PESTISIDA
Zat atau senyawa kimia, zat pengatur tumbuh dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman
PENGELOMPOKAN PESTISIDA BERDASARKAN SASARAN - Akarisida - Adultsida - Algisida - Arborisida - Avisida - Bakterisida - Fungisida - Herbisida - Insektisida - Ixosida - Larvisida - Mitisida - Moluskisida - Nematisida - Ovisida - Piscisida - Predasida - Rodentisida - Silvisida - Termitisida
PEMBERIAN NAMA PESTISIDA
Nama Umum : karbofuran
Nama Dagang: Furadan, Currater, Indofur, Dharmafur
Nama Kimia : 2,3-hidro 2,2,-dimetil-7-benzonil metilkarbamat
Rumus Bangun
PENGGOLONGAN PESTISIDA
MENURUT PENGARUH TERHADAP HAMA
MENURUT CARA MASUK KE TUBUH HAMA (MODE OF ENTRY)
PESTISIDA BERDASAR PENGARUH TERHADAP SASARAN ANTIFIDAN (ANTI-FEEDANT) ANTITRANSPIRAN (ANTI-TRANPIRANT) ATRAKTAN (ATTRACTANT) KHEMOSTERILAN (CHEMOSTERILANT) DEFOLIAN (DEFOLIANT) DESIKAN (DESICCANT) DISENFEKTAN (DISINFECTANT)
PERANGSANG MAKAN (FEEDING STIMULANT)
PENGATUR PERTUMBUHAN (GROWTH REGULATOR)
REPELEN (REPELLENT)
SEMIOKIMIA (SEMIOCHEMICAL)
SINERGIS (SYNERGIST)
PESTISIDA BERDASARKAN MODE OF ENTRY
RACUN PERUT (STOMACH POISON)PESTISIDA SISTEMIK
RACUN KONTAK (CONTACT POISON)
FUMIGAN (FUMIGANT)
PESTISIDA BERDASARKAN SIFAT KIMIA PESTISIDA ANORGANIK / INORGANIK
TIDAK MENGANDUNG UNSUR KARBON
TOKSISITAS TINGGI PADA MAMALIA DAN MANUSIA
KALSIUM ARSENAT, Pb ARSENAT, KLORID, BELERANG
PESTISIDA ORGANIK
MENGANDUNG UNSUR KARBON
PESTISIDA ORGANIK ALAMI
PESTISIDA ORGANIK SINTETIK
PESTISIDA ORGANIK ALAMI
DIBUAT DARI TUMBUHAN (PESTISIDA BOTANI)
Chrysanthemum cinerariaefolium
Nicotiana tabacum
Azadirachta indica
Derris elliptica
PESTISIDA ORGANIK SINTETIK
Organo Klorin (OK)
DifenilalifatikDDT, dikofol, metoksiklor, klorbensid Derifat benzenBHC (benzena heksaklorid), lindan Siklodienklordan, endosulfan, endrin, heptaklor, mirex Polikloreoterpenekamfeklor (toksapene)
PESTISIDA ORGANIK SINTETIK
Organofosfat (OrganophosphatOP)
dengan unsur P meliputi semua ester asam fosforik (H3PO4)
ada 3 kelompok:
Alifatikrantai karbon lurus tdk berbentuk cincin TEPP, malation, dikrotofos, dll
Fenilcincin-cincin fenil
paration, metil paration, profenofos, dll
Heterosiklikada cincin fenil, satu atau beberapa atom C diikat oleh O, N, atau S
PESTISIDA ORGANIK SINTETIK
Karbamat (Carbamate) Ada 3 kelas:
Metil karbamat dengan cincin fenil
BPMC, MICP, Isokarb, dll
Metil karbamat dan dimetil karbamat dengan struktur heterosiklik
bendiokarp, karbofuran, dioxakarb, dll
Metil karbamat dari oksin yang mempunyai struktur rantai
aldikarb, metomil, dll
PESTISIDA ORGANIK SINTETIK
Piretroid Sintetik (PS)
meniru bahan aktif piretrum dari ekstra bunga Chrysanthemum
cinerariaefolium 4 generasi PS:
Allerin
Resmetrin
Fenvalerat dan permetrin
Sipermetrin, flusitrinat, fenpropatrin, fluvalinat, sihalotrin, deltametrin, siflutrin
Kloronikotinil
tiruan dari nikotin
imidakloprid
Pengatur Pertumbuhan Serangga (IGR= Insect Growth Regulator)
selektif secara fisiologis
mempengaruhi sistem endokrin
tebufenozoid, metoxyfenozoid, dan halofenozoid
di Indonesia menggunakan buprofezin penghambat khitin
Fumigan
bahan atau campuran bahan kimia yang dapat menghasilkan gas, uap, dan asap yang beracun
metil bromida, kloropikrin, aluminium fosfida, naftalena, fosfin
Minyak Petroliumminyak mineral
Insektisida Kimia Lain
formamidin, tiosianat, dinitrofenol, organosulfur, organotin, dan antibiotik
Insektisida Botani
FORMULASI PESTISIDA
UNTUK MEMPERBAIKI SIFAT-SIFAT BAHAN TEKNIS AGARA SESUAI DENGAN KEPERLUAN PENYIMPANAN, PENANGANAN, APLIKASI, PENINGKATAN EFEKTIVITAS, ATAU KEAMANAN BAGI MANUSIA DAN LINGKUNGAN
Bahan TeknisBahan Aktif Teknis
bahan kimia atau bahan lain yang terkandung dalam pestisida yang merupakan bahan yang berdaya racun
Bahan InertBahan Tambahan
Surfaktan Solvent Carrier Bahan khusus stabilizers sinergis wetters minyak odorants
cat dan pigment
thickeners colouring agent
zat anti mikrobia
Sistem Kode Formulasi Pestisida
Kode Formulasikarena perkembangan pembuatan Bahan Aktif dan formulasi pestisida sangat cepat, agar tidak membingungkan pengguna dan konsumen perlu dilakukan pembakuan kode formulasi secara internasional
GCPF : Global Crop Protection Federation, yaitu asosiasi industri pestisida global, sebelumnya disebut GIFAP, sekarang menjadi Crop Life International
Kode formulasi dengan dua huruf besar/kapital, sekitar 71 kode formulasi telah dibakukan. GCPF mengelompokkan:
1. konsentrat yang diencerkan dengan air
2. konsentrat yang diencerkan dengan pelarut organik 3. formulasi diaplikasikan tanpa diencerkan
4. macam-macam formulasi untuk keperluan khusus
KODE FORMULASI
Emulsifiable Concentrat (EC)
Terdiri dari: bahan aktif teknis, cairan pelarut untuk bahan aktif, dan pengemulsi
Biasanya mengandung 15-50% bahan aktif
Emulsi minyak dalam air terbentuk bila formulasi ini dicampur dengan aircairan putih seperti susu
Wettable Powders (WP)
Tepung kering yang dapat dilarutkan dalam air
Terdapat surfaktan dan pembasah (wettable)
Bahan aktif 95%
Suspension Concentrate (SC)
Formulasi ini dapat diencerkan dalam air
Keuntunganmudah ditangani, prosentase bahan aktif tinggi
Kelemahanharus sering diaduk, dapat cepat mengendap
Water Soluble Powder (SP)
Berupa bubuk kering
Lebih larut dalam air daripada WP
Kandungan bahan aktif 75-95%
Pengadukan hanya dilakukan pada awal pelarutan
Ultra Low Volume Liquid (ULV)
Konsentrat cair yang homogen
Harus dengan alat khususUltra Low Volume (ULV)
ULV menghasilkan butiran lembut (< 50 um)
Bahan aktif 95-100%
Dustable Powder (DP)
Tepung kering
Bahan aktif 1-10%
Alat penyemprot duster
Kurang efektif
Granules (GR)
Butiran
Bahan aktif 20-40%
Penggunaan dengan penyebaran secara langsug di lahan
Aerosol Dispenser (AE)
Larutan dalam kaleng yang bertekanan udara
Gas bertekanan: karbondioksida atau fluorokarbon
Persentase bahan aktif rendah
Bait (RB)
Umpan beracun
Dapat berupa granular bait (GB), plate bait (PB), block bait (BB)
Konsentrasi bahan aktif < 5%
Capsule Suspension (CS)
Emulsi atau dispersi dari bahan aktif yang telah diselimuti atau dienkapsulasi dengan kulit polimer
Bentuk formulasi: mikrokapsul berlubang mikroskopis, bersifat semi permeabel
Keunggulan: aktivitas residual lebih lama, mengurangi dampak bagi lingkungan, mengurangi kehilangan karena penguapan, mengurangi kontaminasi air tanah, memudahkan pencampuran dalam tangki, laju penggunaan bahan aktif dapat dikurangi
Kelemahan: mahal membuatnya, kandungan bahan aktif lebih rendah daripada EC
TOKSISITAS PESTISIDA AKUT
Pengaruh meracuni yang timbul segera setelah pemaparan
Keracunan dan atau kematian secara langsung atau cepat
KRONIK
Pengaruh merugikan yang timbul sebagai akibat pemberian takaran harian berulang pestisida dalam jumlah sedikit yang berlangsung sebagian besar rentang hidup organisme
Karsinogenik, mutagenik, teratogenik, endocrine destruptor
SUBKRONIK
Pengaruh merugikan yang timbul sebagai akibat pemberian takaran harian berulang pestisida yang langsung pada sebagian kecil rentang hidup organisme
PENGUJIAN TOKSISITAS INSEKTISIDA Toksisitas akut melalui oral atau dermal
Unit pengukuran miligram (mg) bahan aktif per kilogram (kg) berat tubuh binatang uji
Dosis median letal (LD 50): suatu dosis innsektisida yang diperlukan untuk membunuh 50% dari individu-individu spesies binatang uji dalam kondisi percobaan yang telah ditetapkan.
MASALAH RESIDU PESTISIDA
Resistensi hamafaktor genetik, biologi, dan operasional
Resurjensi hama peningkatan populasi hama sasaran yang mencolok sehingga jauh melampaui ambang ekonomi segera setelah diadakan tinndakan pengendalian dengan pestisida tertentu
BMR (MRLs)
APLIKASI DAN SELEKTIVITAS PENGGUNAAN PESTISIDA Selektivitas fisiologi
selektif terhadap hama sasaran
Selektivitas ekologi
waktu yang tepat
perlakuan secara parsial
perlakuan pada tanaman perangkap
cara aplikasi, misalnya melalui tanah atau air
Selektivitas melalui formulasi dan cara aplikasi
penggunaan formulasi butiraninsektisida sistemik
TEKNIK PENGENDALIAN HAMA
SECARA BUDIDAYA TANAMAN SEHAT
TujuanMengelola lingkungan tanaman sedemikian rupa sehingga menjadi kurang cocok bagi kehidupan dan perkembangan hama serta dapat mengurangi laju peningkatan populasi hama dan kerusakan tanaman, selain itu diupayakan untuk dapat mendorong berfungsinya musuh alami sebagai pengendali hama yang efektif.
Teknik pengendalian secara budidaya tanaman (Pedigo, 1996): 1. Mengurangi kesesuaian ekosistem
2. Mengganggu kontinuitas penyediaan keperluan hidup hama 3. Mengalihkan populasi hama menjauh tanaman
MENGURANGI KESESUAIAN EKOSISTEM 1. Sanitasi
2. Penghancuran atau modifikasi inang atau habitat pengganti 3. Pengerjaan tanah
4. Pengelolaan air
GANGGUAN KONTINUITAS PENYEDIAAN KEPERLUAN HIDUP HAMA 1. Pergiliran tanaman
2. Pemberoan lahan 3. Penanaman serentak 4. Penetapan jarak tanam 5. Lokasi tanaman
6. Memutuskan sinkronisasi tanaman-hama 7. Menghalangi peletakan telur
PENGALIHAN POPULASI HAMA MENJAUHI PERTANAMAN 1. Penanaman tanaman perangkap
2. Panen lajur
PENGURANGAN DAMPAK KERUSAKAN HAMA 1. Mengubah toleransi inang
2. Mengubah jadwal panen
TANAMAN TAHAN HAMA
SIFAT TANAMAN SEBAGAI SUMBER RANGSANGAN
1. Sifat Morfologirangsang fisik, misalnya: ukuran daun, bentuk daun, warna daun, dsb
2. Sifat Fisiologizat-zat kimia yang dihasilkan oleh tanaman semiokimiaferomon dan allelokimia
allelokimiaallomon dan kairomon Allomon:
- repellentpenolak
- penggairah gerakanmempercepat gerakan serangga - suppresantpenekan, menghalangi pengisapan oleh serangga - deterrentmenghalangi proses makan dan peletakan telur - antibiotikmengganggu pertumbuhan dan perkembangan normal
larva, mengurangi umur dan fekunditas imago - antixenotikmengganggu perilaku normal pemilihan inang Kairomon:
- Atraktan (attractant) - Arrestant (penahan)
- Penggerak makan dan oviposisi
MEKANISME KETAHANAN TANAMAN
1. KETAHANAN GENETIK
a. Non preference (ketidaksukaan)
Antixenosis kimiawi
Antixenosis Morfologis b. Antibiosis
Adanya metabolit toksis (alkaloid, glukosida, dan quinon)
Ketersediaan unsur hara kurang dalam tanaman
Perbandingan unsur hara dalam tanaman tidak seimbang
Adanya antimetabolit
Adanya enzim-enzim penghalang proses pencernaan makan c. Toleran
Kekuatan tanaman secara umum
Pertumbuhan kembali jaringan yang rusak
Ketegaran batang dan ketahanan terhadap perebahan
Produksi cabang-cabang tambahan
Pemanfaatan nutrisi lebih efisien oleh serangga
Kompensasi lateral oleh tanaman tetangga
2. KETAHANAN EKOLOGI
a. Pengelakan inang (host evasion) b. Ketahanan dorongan (induced resistance) c. Inang luput dari serangan (host escape)
TIPE
TIPE KETAHANAN
KETAHANAN GENETIK
GENETIK TANAMAN
TANAMAN
BERDASARKAN LATAR BELAKANG SIFAT GENETIK 1. Ketahanan vertikal
tahan terhadap biotipe tertentu
dikendalikan oleh satu atau sedikit gen pada tanaman 2. Ketahanan horizontal
tahan terhadap kisaran luas genotipe hama dan bebas biotipe hama
TIPE
TIPE KETAHANAN
KETAHANAN GENETIK
GENETIK TANAMAN
TANAMAN
BERDASARKAN CARA SIFAT KETAHANAN DITURUNKAN 1. Ketahanan Oligogenik
2. Ketahanan Poligenik 3. Ketahanan Sitoplasmik
KELEBIHAN
KELEBIHAN PENGGUNAAN
PENGGUNAAN VARIETAS
VARIETAS TAHAN
TAHAN
1. Praktis dan ekonomis menguntungkan 2. Sasaran pengendalian spesifik
3. Efektivitas pengendalian bersifat kumulatif dan persisten 4. Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya
5. Dampak negatif terhadap lingkungan terbatas
KELEMAHAN
KELEMAHAN PENGGUNAAN
PENGGUNAAN VARIETAS
VARIETAS TAHAN
TAHAN
1. Waktu dan biaya pengembangan 2. Keterbatasan sumber ketahanan 3. Timbulnya biotipe hama 4. Sifat ketahanan yang berlawanan
TANAMAN
TANAMAN TRANSGENIK
TRANSGENIK
Tanaman hasil rekayasa genetik, misalnya: tanaman kapas transgenik yang telah disisipi gen tahan dari bakteri Bacillus
thuringiensis (Bt) KELEBIHAN:
1. Efektif mengendalikan hama sasaran dan pengurangan kehilangan hasil
2. Penurunan penggunaan pestisida kimia 3. Penurunan biaya pengendalian 4. Pengendalian hama secara selektif
5. Penurunan populasi hama dalam areal yang luas
KETERBATASAN:
1. Resistensi hama terhadap toksin
2. Pengaruh tanaman transgenik terhadap non target organism 3. Pengurangan keanekaragaman hayati
4. Variasi hasil
5. Kepekaan terhadap jenis hama lain 6. Pengembalian investasi tidak terjamin 7. Risiko bagi kesehatan