• Tidak ada hasil yang ditemukan

27/09/2012 TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK DAN MEKANIK TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "27/09/2012 TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK DAN MEKANIK TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA

FISIK DAN MEKANIK

 MERUPAKAN TEKNIK PENGENDALIAN PALING KUNO  TUJUANNYA SECARA LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG:

1. MEMATIKAN HAMA

2. MENGGANGGU AKTIVITAS FISIOLOGI HAMA

3. MODIFIKASI LINGKUNGAN AGAR TIDAK SESUAI UNTUK HAMA, NAMUN BUKAN MERUPAKAN BAGIAN BUDIDAYA

 TEKNIK INI MEMERLUKAN DUKUNGAN PENELITIAN DAN INFORMASI YANG RELEVAN, MISALNYA BIOLOGI DAN EKOLOGI HAMA SASARAN

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK

1. PERLAKUAN PANAS DAN KEBASAHAN

PENGERINGAN LAHANKEONG

PENGGENANGANSARANG-SARANG TIKUS PEMBAJAKAN LAHANURET

PEMBAKARAN BAGIAN TANAMAN YANG TERSERANG HAMA

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK

2. PENGGUNAAN LAMPU PERANGKAP

UNTUK SURVEI DAN PENGENDALIAN HAMA NOKTURNALTERPERANGKAP DIPERLUKAN INTESIF DAN BANYAK PERANGKAP PERALATAN MEMERLUKAN SUMBER LISTRIK KEMUNGKINAN HAMA YANG TIDAK TERTANGKAP ADA

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK

3. PENGGUNAAN PERANGKAP WARNA

PERLU PENELITIAN WARNA-WARNA YANG MEMIKAT HAMA BIASANYA WARNA KUNING MEMIKAT LEBIH BANYAK SERANGGA KEMUNGKINAN MUSUH ALAMI JUGA DAPAT TERPERANGKAP DIPERLUKAN BANYAK PERANGKAP

DIPASANG DI PERTANAMAN DAN SEKITARNYA

(2)

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK

4. PENGGUNAAN GELOMBANG SUARA

PENELITIAN FREKUENSI SUARA YANG DAPAT DIGUNAKAN SECARA TEORITIK: INTENSITAS SUARA TINGGI UNTUK MERUSAK

SERANGGA, INTENSITAS SUARA LEMAH UNTUK MENGUSIR SERANGGA, DAN MEREKAN KEMUDIAN MENDENGARKAN SUARA UNTUK MENGGANGGU PERILAKU HAMA

SERANGGA MEMPUNYAI SISTEM STRIDULATORY

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK

5. PENGHALANG ATAU BARIER

MERUPAKAN USAHA PREVENTIF PERLU USAHA PROAKTIF PERLU PENGHALANG YANG KUAT TRAP BARIER SYSTEMUNTUK TIKUS

PEMASANGAN MULSA MENCEGAH SERANGGA HAMA MELETAKKAN TELUR

PEMBERONGSONGAN / PENYARUNGAN BUAH  MENCEGAH SERANGAN LALAT BUAH

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA FISIK

6. PENGASAPAN UNTUK MEMODIFIKASI LINGKUNGAN

MERUPAKAN USAHA KURATIF PERLU USAHA PROAKTIF

BERDASARKAN PENGETAHUAN BIOLOGI HAMA YANG MEMBUTUHKAN OKSIGEN

PENGENDALIAN LALAT BUAH

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA MEKANIK

1. PENGAMBILAN LANGSUNG DENGAN TANGAN

PERLU INTENSIF MENCARI HAMA YANG ADA DI PERTANAMAN DAPAT MENGGUNAKAN ALAT BANTU  UNTUK

MEMOTONG/MEMANGKAS BAGIAN TANAMAN YANG TERSERANG HAMA

(3)

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA MEKANIK

2. GROPYOKAN

PERLU KEKOMPAKAN DAN BANYAK PERSONIL

DILAKUKAN PADA WAKTU PRATANAM DAN PASCAPANEN DAPAT MENGGUNAKAN ALAT BANTU: ALAT PEMUKUL, CANGKUL GROPYOKAN TIKUSPERLU INTENSIF

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA MEKANIK

3. PEMASANGAN ALAT PERANGKAP

DIPERLUKAN PENGETAHUAN PERILAKU HAMA SASARAN DAPAT DITAMBAH ZAT-ZAT PEMIKAT PERANGKAP UNTUK TIKUS

PERANGKAP UNTUK WALANGSANGIT PERANGKAP UNTUK LALAT BUAH

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA SECARA MEKANIK

4. PENGUSIRAN

ALAT BANTU PATUNG-PATUNGAN PENGHALAUAN DENGAN SUARA GADUH PERLU SECARA INTENSIF

PERLU PENGETAHUAN PERILAKU HAMA SASARAN

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

SECARA BIOLOGI / HAYATI

PENGENDALIAN HAYATI

=

(4)

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

SECARA BIOLOGI / HAYATI

 PENGENDALIAN HAYATI:

TAKTIK PENGELOLAAN HAMA YANG DILAKUKAN SECARA SENGAJA MEMANFAATKAN ATAU MEMANIPULASIKAN MUSUH

ALAMI UNTUK MENURUNKAN ATAU MENGENDALIKAN POPULASI HAMA

 PENGENDALIAN ALAMI:

PROSES PENGENDALIAN POPULASI YANG BERJALAN SENDIRI

TANPA KESENGAJAAN YANG DILAKUKAN MAUSIA, PROSES INI

TIDAK HANYA KARENA ADANYA MUSUH ALAMI, NAMUN JUGA ADANYA KOMPONEN-KOMPONEN EKOSISTEM YANG LAIN

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

SECARA BIOLOGI / HAYATI

 TEKNIK PENGENDALIAN HAYATI SULIT UNTUK DIDUGA DAN DIANALISA SECARA TEPAT KEBERHASILANNYA:

KARENA KERUMITAN DAN DINAMIKA AGROEKOSISTEM PENGETAHUAN DASAR EKOLOGI DAN BIOLOGI PEMANGSA

(PREDATOR) DAN MANGSA (PREY) SANGAT DIPERLUKAN

AGENS PENGENDALIAN HAYATI



PREDATOR

Organisme yang hidup bebas dengan memakan, membunuh atau

memangsa binatang lain

Secara luas predator meliputi: predator, parasitoid, dan patogen,

yang bersimbiosis komensalisme

Secara sempit predator merupakan binatang pemangsa binatang

lain, biasanya bersifat polifagus

Contoh:

- Belalang sembah (Mantodea: Mantidae) memangsa lebih dari

dua jenis serangga lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya

- Harimau dapat memangsa berbagai jenis hewan lain



PARASITOID

Binatang yang hidup di atas atau di dalam tubuh binatang lain

yang lebih besar sebagai inangnya.

Parasitoid: serangga yang memarasit serangga

atau binatang

artropoda lain, bersifat parasitik pada fase pradewasanya dan

bersifat hidup bebas tidak terikat pada inangnya ketika sudah

dewasa



PARASITOID

- ektoparasitoid: larva menghisap nutrisi dari inangnya dan

menyelesaikan perkembangannya berada di luar tubuh inang

Contoh: Campsomeris sp.



Uret

- endoparasitoid: sebagian besar perkembangan larva berada di

dalam tubuh inangnya.

(5)



PARASITOID

- parasitoid soliter: perkembangan hidupnya hanya sendiri berada

pada satu

tubuh inang.

Contoh: Charops sp.

- parasitoid gregarius: beberapa individu parasitoid ini hidup

bersama-sama dalam satu inang yang sama.

Contoh: Tetrastichus schoenobii



FENOMENA PARASITOID

- hiperparasitasi: serangga parasitoid memarasit parasitoid lain

parasitoid primer



parasitoid sekunder



parasitoid tersier

PERBEDAAN PREDATOR DAN PARASITOID:



Parasitoid



monofagus / oligofagus

Predator



polifagus



Parasitoid



ukuran tubuh lebih kecil dari mangsa

Predator



ukuran tubuh lebih besar dari mangsa



Parasitoid



satu inang untuk hidup

Predator



lebih dari satu inang



Parasitoid



hanya betina yang mencari inang

Predator



jantan dan betina mencari inang



Sinkronisasi prey-predator



Daya cari inang



PATOGEN

VIRUS.

BAKTERI,

PROTOZOA,

JAMUR,

RIKETTSIA,

NEMATODA

TELAH

DIKETAHUI

LEBIH

DARI

2000

JENIS

PATOGEN

MENYERANG SERANGGA

1.

VIRUS

GENERA VIRUS PENTING:

• NUCLEOPOLYHEDROVIRUS

• GRANULOVIRUS

• IRIDOVIRUS

• ENTOMOPOXVIRUS

• CYPOVIRUS

• NODAVIRUS

NPV : NUCLEOPOLYHEDRO VIRUS



40% Jenis virus menyerang serangga



Penggunaan

pertama

kali

pada

tahun

1970

an

untuk

mengendaliakan hama Trichoplusia ni di California, dengan

cara mengambil dan memperbanyak virus dari hama tersebut di

lapangan



SNPV



diformulasikan dalam bentuk tepung (wettable

powder), memiliki sifat mudah menyebar, persisten, dan mudah

diproduksi



Spodoptera litura pada kedelai

(6)

2. JAMUR ENTOMOPATOGENIK

-

Beuveria bassiana



Nilaparvata lugens (Wereng Coklat)

-

Metarhizium anisopliae



Oryctes rhinoceros (uret)

-

Nomuraea sp.



Helicoverpa zea, Spodoptera litura

-

Paecilomyces sp.



Diaphorina citri

-

Verticillium sp.



Aleurodicus destructor

-

Hirsutella sp.



Plutella xylostela

-

Sorosporella sp.



Berbagai ulat grayak (Spodoptera spp.)

-

Spicaria sp.



Helopeltis antonii

3. Bakteri

-

Bacillus thuringiensis



(Bt)



ada yang diformulasikan sebagai pestisida hayati



gen disisipkan pada tanaman transgenik

-

B. popilliae



Uret

4. Protozoa dan Rikettsia

-

Protozoa



mikrosporodia



lebih dari 250 spesies



Nosema locustae



belalang

-

Rikettsia



menyerang kumbang, kematian akaibat rikettsia

baru terjadi pada 1-4 bulan

5. Nematoda

- 19 famili nematoda menyerang serangga,

- Mermithidae



famili yang penting



Steinernema spp.

- Steinernema carpocapsae



penggerek batang padi/tebu, Cylas

formicarius, Spodoptera litura, Crocidolomia binotalis

STRATEGI PENGENDALIAN HAYATI

1.

INTORDUKSI

Langkah-langkah:

- eksplorasi origin

- pengiriman

- karantina

- perbanyakan

- pelepasan dan pemapanan

- evaluasi

2. AUGMENTASI

meningkatkan jumlah musuh alami atau pengaruhnya

-

Melepaskan sejumlah tambahan musuh alami ke ekosistem

-

Memodifikasi ekosistem



shelter, refuge

Pelepasan:

- inokulatif

- suplemen

- inundatif / pelepasan massal

3. KONSERVASI

menghindarkan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan

populasi musuh alami

(7)

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

DENGAN SERANGGA MANDUL

TEKNIK OTOSIDAL: MENDORONG HAMA MEMBERIKAN

KONSTRIBUSI TERHADAP PENGURANGAN POPULASINYA SENDIRI (OTOCIDE: MEMBUNUH SENDIRI)

STERILE INSECT TECHNIQUE (SIT)=TEKNIK SERANGGA MANDUL PERNAH DILAKUKAN DI:

FLORIDA, CURACAO, PUERTO RICO, DAN AMERIKA

PENGENDALIAN “SCREWWORM” Cochliomyia hominivorax (lalat ternak)

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

DENGAN SERANGGA MANDUL

PEMANDULAN SERANGGA JANTAN / BETINA

UMUMNYA YANG DIGUNAKAN PEMANDULAN SERANGGA JANTAN PEMANDULAN:

1. RADIASI SINAR GAMMA (COBALT 60), SINAR X, SINAR NEUTRON

2. BAHAN PEMANDUL

- ZAT ALKYLATING: AZIRIDIN, ASAM BENSOIK - ZAT ANTIMETABOLIT: PURIN DAN PIRIMIDIN

PERMASALAHAN TEKNIK SERANGGA MANDUL

1. PEMISAHAN JENIS KELAMIN

2. PEMELIHARAAN DAN PEMBIAKAN MASSAL SERANGGA DENGAN MEDIA BUATAN

3. PENENTUAN DOSIS MANDUL

4. PELEPASAN SERANGGA MANDUL KE LAPANGAN 5. PENENTUAN KEPADATAN POPULASI DI LAPANGAN 6. EVALUASI PENGARUH PELEPASAN SERANGGA MANDUL

TERHADAP BERAT SERANGAN DAN KEPADATAN POPULASI SERANGGA HAMA SASARAN

PERSYARATAN KEBERHASILAN TEKNIK SERANGGA MANDUL

1. SERANGGA BETINA TIDAK BERSIFAT PARTHENOGENESIS 2. SERANGGA BETINA HANYA BERKOPULASI SEKALI 3. PEMANDULAN TIDAK MENYEBABKAN PENURUNAN

KEMAMPUAN KOPULASI

4. SERANGGA HARUS DIBIAKKAN SECARA MASSAL 5. PELEPASAN DENGAN TEKNIK DAN WAKTU YANG TEPAT 6. DAERAH PELEPASAN HARUS TERISOLIR SECARA

(8)

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

MELALUI PERATURAN KARANTINA

KARANTINA

?

SEJARAH KARANTINA INDONESIA

(http://karantina.deptan.go.id/main.php?link=or1) Karantina Pertanian

tempat pengasingan dan/atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia

Tugas Pokok Karantinaadalah melaksanakan perkarantinaan tumbuhan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan hewan budidaya.

 KARANTINA TUMBUHAN

BAHAN DAN BAHAN PEMBAWA PRODUK BERUPA TUMBUHAN  KARANTINA HEWAN

BAHAN DAN BAHAN PEMBAWA PRODUK BERUPA HEWAN DAN IKAN  KARANTINA HEWAN DAN TUMBUHAN

 MASA SEKARANG: KARANTINA HEWAN DAN TUMBUHAN DI INDONESIA DI LEBUR MENJADI SATU YAITU KARANTINA PERTANIAN INDONESIA, YANG MENANGANI KARANTINA HEWAN DAN TUMBUHAN

FUNGSI KARANTINA TUMBUHAN DI INDONESIA

1. Mencegah masuknya hama dan penyakit tumbuhan karantina dari luar negeri ke dalam wilayah negara RI

2. Mencegah tersebarnya hama dan penyakit tumbuhan karantina dari satu daerah ke daerah lain dalam wilayah negara RI

3. Mencegah keluarnya hama dan penyakit tumbuhan tertentu dari wilayah negara RI apabila negara tujuan menghendakinya

(9)

ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN KARANTINA (OPTK)

OPTKORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN KARANTINA OPTK Golongan I

OPTK yang tidak bisa dibebaskan dari media pembawanya dengan cara perlakuan, biasanya OPTK ini tergolong patogen OPTK Golongan II

OPTK yang bisa dibebaskan dari media pembawanya dengan menggunakan cara perlakuan tertentu, biasanya hama

OPTK A1OPTK yang belum ada di wilayah Indonesia

OPTK A2  sudah ada di wilayah Indonesia namun penyebaran masih terbatas pada daerah tertentu

OPTP: Organisme Pengganggu Tumbuhan Penting

  

selain OPTK yang keberadaannya pada benih tanaman yang dilalulintaskan dapat menimbulkan pengaruh merugikan secara ekonomis terhadap tujuan penggunaan benih tersebut misalnya: patogen yang terbawa benih

CONTOH OPTK Gol. II A1 Berbagai spesies lalat buah:

Anastrepa spp. Bactrocera spp. Rhagoletis spp.   

menyerang buah apel

Ceratitis capitata 

 

menyerang buah jeruk

CONTOH OPTK Gol. II A2

Belalang Sexava nubila  menyerang daun kelapa di Kepulauan Sangihe Talaud (Sulawesi Utara), Maluku Utara, dan Papua TINDAKAN KARANTINA (8P): 1. pemeriksaan 2. pengasingan 3. pengamatan 4. perlakuan 5. penahanan 6. penolakan 7. pemusnahan 8. pembebasan

SERTIFIKAT KESEHATAN KARANTINA (PHYTOSANITARY CERTIFICATE)

Surat keterangan yang dibuat oleh pejabat berwenang di negara atau area asal/pengirim/transit yang meyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari OPT, OPTK, OPTK Gol. I, OPTK Gol. II, dan atau OPTP

BEBERAPA ISTILAH

IPPCInternational Plant Protection Convention NPPONational Plant Protection Organization

ISPMInternational Standard for Phytosanitary Measures

Sanitary and Phytosanitary(kebersihan dan kesehatan tumbuhan)

Pest Risk Analysis(analisis resiko hama)

Pest Risk Assessment(penaksiran/pendugaan resiko hama)

Pest Risk Management(evaluasi dan seleksi meminimalkan resiko hama)

Surveillancekegiatan survey hama

Pest Free Area(Daerah yang bebas hama)

Inspection (Inspeksi)secara visual

Pest Status (status hama)OPT/OPTK/OPTP

Pest Records(Catatan Mengenai status dan kondisi Hama)

Pest List(Daftar Hama)

Point of Entry(pintu masuk produk pertanian dari luar negeri/daerah) FAO(Badan Pangan Dunia)

(10)

PENGALAMAN MENGENAI MASUKNYA OPTK: 1. Kumbang Trogoderma granarium

2. Siput Afrika (Giant Snail)Achatina fulica

3. Eceng gondokEichornia crassipes

4. Keong MasPomacea caniculata

5. Lalat pengorok daun kentangLiriomyza huidobrensis

6. Nematoda Sista KuningGlobodera rostochiensis

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

SECARA KIMIAWI

PESTISIDA

?

PESTISIDA

Zat atau senyawa kimia, zat pengatur tumbuh dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman

PENGELOMPOKAN PESTISIDA BERDASARKAN SASARAN - Akarisida - Adultsida - Algisida - Arborisida - Avisida - Bakterisida - Fungisida - Herbisida - Insektisida - Ixosida - Larvisida - Mitisida - Moluskisida - Nematisida - Ovisida - Piscisida - Predasida - Rodentisida - Silvisida - Termitisida

PEMBERIAN NAMA PESTISIDA

 Nama Umum : karbofuran

 Nama Dagang: Furadan, Currater, Indofur, Dharmafur

 Nama Kimia : 2,3-hidro 2,2,-dimetil-7-benzonil metilkarbamat

 Rumus Bangun

PENGGOLONGAN PESTISIDA

MENURUT PENGARUH TERHADAP HAMA

MENURUT CARA MASUK KE TUBUH HAMA (MODE OF ENTRY)

(11)

PESTISIDA BERDASAR PENGARUH TERHADAP SASARAN ANTIFIDAN (ANTI-FEEDANT) ANTITRANSPIRAN (ANTI-TRANPIRANT) ATRAKTAN (ATTRACTANT) KHEMOSTERILAN (CHEMOSTERILANT) DEFOLIAN (DEFOLIANT) DESIKAN (DESICCANT) DISENFEKTAN (DISINFECTANT)

PERANGSANG MAKAN (FEEDING STIMULANT)

PENGATUR PERTUMBUHAN (GROWTH REGULATOR)

REPELEN (REPELLENT)

SEMIOKIMIA (SEMIOCHEMICAL)

SINERGIS (SYNERGIST)

PESTISIDA BERDASARKAN MODE OF ENTRY

 RACUN PERUT (STOMACH POISON)PESTISIDA SISTEMIK

 RACUN KONTAK (CONTACT POISON)

 FUMIGAN (FUMIGANT)

PESTISIDA BERDASARKAN SIFAT KIMIA  PESTISIDA ANORGANIK / INORGANIK

 

TIDAK MENGANDUNG UNSUR KARBON

 

TOKSISITAS TINGGI PADA MAMALIA DAN MANUSIA

 

KALSIUM ARSENAT, Pb ARSENAT, KLORID, BELERANG

 PESTISIDA ORGANIK

 

MENGANDUNG UNSUR KARBON

 

PESTISIDA ORGANIK ALAMI

 

PESTISIDA ORGANIK SINTETIK

PESTISIDA ORGANIK ALAMI

DIBUAT DARI TUMBUHAN (PESTISIDA BOTANI)

Chrysanthemum cinerariaefolium

Nicotiana tabacum

Azadirachta indica

Derris elliptica

PESTISIDA ORGANIK SINTETIK

 Organo Klorin (OK)

 DifenilalifatikDDT, dikofol, metoksiklor, klorbensid  Derifat benzenBHC (benzena heksaklorid), lindan  Siklodienklordan, endosulfan, endrin, heptaklor, mirex  Polikloreoterpenekamfeklor (toksapene)

PESTISIDA ORGANIK SINTETIK

 Organofosfat (OrganophosphatOP)

 

dengan unsur P meliputi semua ester asam fosforik (H3PO4)

 

ada 3 kelompok:

 Alifatikrantai karbon lurus tdk berbentuk cincin TEPP, malation, dikrotofos, dll

 Fenilcincin-cincin fenil

paration, metil paration, profenofos, dll

 Heterosiklikada cincin fenil, satu atau beberapa atom C diikat oleh O, N, atau S

(12)

PESTISIDA ORGANIK SINTETIK

 Karbamat (Carbamate) Ada 3 kelas:

 Metil karbamat dengan cincin fenil

  

BPMC, MICP, Isokarb, dll

 Metil karbamat dan dimetil karbamat dengan struktur heterosiklik

  

bendiokarp, karbofuran, dioxakarb, dll

 Metil karbamat dari oksin yang mempunyai struktur rantai

  

aldikarb, metomil, dll

PESTISIDA ORGANIK SINTETIK

 Piretroid Sintetik (PS)

meniru bahan aktif piretrum dari ekstra bunga Chrysanthemum

cinerariaefolium  4 generasi PS:

 Allerin

 Resmetrin

 Fenvalerat dan permetrin

 Sipermetrin, flusitrinat, fenpropatrin, fluvalinat, sihalotrin, deltametrin, siflutrin

 Kloronikotinil

  

tiruan dari nikotin

  

imidakloprid

 Pengatur Pertumbuhan Serangga (IGR= Insect Growth Regulator)

  

selektif secara fisiologis

  

mempengaruhi sistem endokrin

  

tebufenozoid, metoxyfenozoid, dan halofenozoid

  

di Indonesia menggunakan buprofezin penghambat khitin

 Fumigan

bahan atau campuran bahan kimia yang dapat menghasilkan gas, uap, dan asap yang beracun

  

metil bromida, kloropikrin, aluminium fosfida, naftalena, fosfin

 Minyak Petroliumminyak mineral

 Insektisida Kimia Lain

formamidin, tiosianat, dinitrofenol, organosulfur, organotin, dan antibiotik

 Insektisida Botani

 

(13)

FORMULASI PESTISIDA

UNTUK MEMPERBAIKI SIFAT-SIFAT BAHAN TEKNIS AGARA SESUAI DENGAN KEPERLUAN PENYIMPANAN, PENANGANAN, APLIKASI, PENINGKATAN EFEKTIVITAS, ATAU KEAMANAN BAGI MANUSIA DAN LINGKUNGAN

 Bahan TeknisBahan Aktif Teknis

bahan kimia atau bahan lain yang terkandung dalam pestisida yang merupakan bahan yang berdaya racun

 Bahan InertBahan Tambahan

 Surfaktan  Solvent  Carrier  Bahan khusus    stabilizers    sinergis    wetters    minyak    odorants   

cat dan pigment

   thickeners    colouring agent   

zat anti mikrobia

 Sistem Kode Formulasi Pestisida

Kode Formulasikarena perkembangan pembuatan Bahan Aktif dan formulasi pestisida sangat cepat, agar tidak membingungkan pengguna dan konsumen perlu dilakukan pembakuan kode formulasi secara internasional

GCPF : Global Crop Protection Federation, yaitu asosiasi industri pestisida global, sebelumnya disebut GIFAP, sekarang menjadi Crop Life International

Kode formulasi dengan dua huruf besar/kapital, sekitar 71 kode formulasi telah dibakukan. GCPF mengelompokkan:

1. konsentrat yang diencerkan dengan air

2. konsentrat yang diencerkan dengan pelarut organik 3. formulasi diaplikasikan tanpa diencerkan

4. macam-macam formulasi untuk keperluan khusus

KODE FORMULASI

 Emulsifiable Concentrat (EC)

 Terdiri dari: bahan aktif teknis, cairan pelarut untuk bahan aktif, dan pengemulsi

 Biasanya mengandung 15-50% bahan aktif

 Emulsi minyak dalam air terbentuk bila formulasi ini dicampur dengan aircairan putih seperti susu

 Wettable Powders (WP)

 Tepung kering yang dapat dilarutkan dalam air

 Terdapat surfaktan dan pembasah (wettable)

 Bahan aktif 95%

(14)

 Suspension Concentrate (SC)

 Formulasi ini dapat diencerkan dalam air

 Keuntunganmudah ditangani, prosentase bahan aktif tinggi

 Kelemahanharus sering diaduk, dapat cepat mengendap

 Water Soluble Powder (SP)

 Berupa bubuk kering

 Lebih larut dalam air daripada WP

 Kandungan bahan aktif 75-95%

 Pengadukan hanya dilakukan pada awal pelarutan

 Ultra Low Volume Liquid (ULV)

 Konsentrat cair yang homogen

 Harus dengan alat khususUltra Low Volume (ULV)

 ULV menghasilkan butiran lembut (< 50 um)

 Bahan aktif 95-100%

 Dustable Powder (DP)

 Tepung kering

 Bahan aktif 1-10%

 Alat penyemprot duster

 Kurang efektif

 Granules (GR)

 Butiran

 Bahan aktif 20-40%

 Penggunaan dengan penyebaran secara langsug di lahan

 Aerosol Dispenser (AE)

 Larutan dalam kaleng yang bertekanan udara

 Gas bertekanan: karbondioksida atau fluorokarbon

 Persentase bahan aktif rendah

 Bait (RB)

 Umpan beracun

 Dapat berupa granular bait (GB), plate bait (PB), block bait (BB)

 Konsentrasi bahan aktif < 5%

 Capsule Suspension (CS)

 Emulsi atau dispersi dari bahan aktif yang telah diselimuti atau dienkapsulasi dengan kulit polimer

 Bentuk formulasi: mikrokapsul berlubang mikroskopis, bersifat semi permeabel

 Keunggulan: aktivitas residual lebih lama, mengurangi dampak bagi lingkungan, mengurangi kehilangan karena penguapan, mengurangi kontaminasi air tanah, memudahkan pencampuran dalam tangki, laju penggunaan bahan aktif dapat dikurangi

 Kelemahan: mahal membuatnya, kandungan bahan aktif lebih rendah daripada EC

TOKSISITAS PESTISIDA  AKUT

Pengaruh meracuni yang timbul segera setelah pemaparan

Keracunan dan atau kematian secara langsung atau cepat

 KRONIK

Pengaruh merugikan yang timbul sebagai akibat pemberian takaran harian berulang pestisida dalam jumlah sedikit yang berlangsung sebagian besar rentang hidup organisme

Karsinogenik, mutagenik, teratogenik, endocrine destruptor

 SUBKRONIK

Pengaruh merugikan yang timbul sebagai akibat pemberian takaran harian berulang pestisida yang langsung pada sebagian kecil rentang hidup organisme

(15)

PENGUJIAN TOKSISITAS INSEKTISIDA  Toksisitas akut melalui oral atau dermal

 Unit pengukuran miligram (mg) bahan aktif per kilogram (kg) berat tubuh binatang uji

 Dosis median letal (LD 50): suatu dosis innsektisida yang diperlukan untuk membunuh 50% dari individu-individu spesies binatang uji dalam kondisi percobaan yang telah ditetapkan.

MASALAH RESIDU PESTISIDA

 Resistensi hamafaktor genetik, biologi, dan operasional

 Resurjensi hama  peningkatan populasi hama sasaran yang mencolok sehingga jauh melampaui ambang ekonomi segera setelah diadakan tinndakan pengendalian dengan pestisida tertentu

 BMR (MRLs)

APLIKASI DAN SELEKTIVITAS PENGGUNAAN PESTISIDA  Selektivitas fisiologi

  

selektif terhadap hama sasaran

 Selektivitas ekologi

  

waktu yang tepat

  

perlakuan secara parsial

  

perlakuan pada tanaman perangkap

  

cara aplikasi, misalnya melalui tanah atau air

 Selektivitas melalui formulasi dan cara aplikasi

  

penggunaan formulasi butiraninsektisida sistemik

TEKNIK PENGENDALIAN HAMA

SECARA BUDIDAYA TANAMAN SEHAT

Tujuan

Mengelola lingkungan tanaman sedemikian rupa sehingga menjadi kurang cocok bagi kehidupan dan perkembangan hama serta dapat mengurangi laju peningkatan populasi hama dan kerusakan tanaman, selain itu diupayakan untuk dapat mendorong berfungsinya musuh alami sebagai pengendali hama yang efektif.

Teknik pengendalian secara budidaya tanaman (Pedigo, 1996): 1. Mengurangi kesesuaian ekosistem

2. Mengganggu kontinuitas penyediaan keperluan hidup hama 3. Mengalihkan populasi hama menjauh tanaman

(16)

MENGURANGI KESESUAIAN EKOSISTEM 1. Sanitasi

2. Penghancuran atau modifikasi inang atau habitat pengganti 3. Pengerjaan tanah

4. Pengelolaan air

GANGGUAN KONTINUITAS PENYEDIAAN KEPERLUAN HIDUP HAMA 1. Pergiliran tanaman

2. Pemberoan lahan 3. Penanaman serentak 4. Penetapan jarak tanam 5. Lokasi tanaman

6. Memutuskan sinkronisasi tanaman-hama 7. Menghalangi peletakan telur

PENGALIHAN POPULASI HAMA MENJAUHI PERTANAMAN 1. Penanaman tanaman perangkap

2. Panen lajur

PENGURANGAN DAMPAK KERUSAKAN HAMA 1. Mengubah toleransi inang

2. Mengubah jadwal panen

TANAMAN TAHAN HAMA

SIFAT TANAMAN SEBAGAI SUMBER RANGSANGAN

1. Sifat Morfologirangsang fisik, misalnya: ukuran daun, bentuk daun, warna daun, dsb

2. Sifat Fisiologizat-zat kimia yang dihasilkan oleh tanaman semiokimiaferomon dan allelokimia

allelokimiaallomon dan kairomon Allomon:

- repellentpenolak

- penggairah gerakanmempercepat gerakan serangga - suppresantpenekan, menghalangi pengisapan oleh serangga - deterrentmenghalangi proses makan dan peletakan telur - antibiotikmengganggu pertumbuhan dan perkembangan normal

larva, mengurangi umur dan fekunditas imago - antixenotikmengganggu perilaku normal pemilihan inang Kairomon:

- Atraktan (attractant) - Arrestant (penahan)

- Penggerak makan dan oviposisi

MEKANISME KETAHANAN TANAMAN

1. KETAHANAN GENETIK

a. Non preference (ketidaksukaan)

 Antixenosis kimiawi

 Antixenosis Morfologis b. Antibiosis

 Adanya metabolit toksis (alkaloid, glukosida, dan quinon)

 Ketersediaan unsur hara kurang dalam tanaman

 Perbandingan unsur hara dalam tanaman tidak seimbang

 Adanya antimetabolit

 Adanya enzim-enzim penghalang proses pencernaan makan c. Toleran

 Kekuatan tanaman secara umum

 Pertumbuhan kembali jaringan yang rusak

 Ketegaran batang dan ketahanan terhadap perebahan

 Produksi cabang-cabang tambahan

 Pemanfaatan nutrisi lebih efisien oleh serangga

 Kompensasi lateral oleh tanaman tetangga

2. KETAHANAN EKOLOGI

a. Pengelakan inang (host evasion) b. Ketahanan dorongan (induced resistance) c. Inang luput dari serangan (host escape)

TIPE

TIPE KETAHANAN

KETAHANAN GENETIK

GENETIK TANAMAN

TANAMAN

BERDASARKAN LATAR BELAKANG SIFAT GENETIK 1. Ketahanan vertikal

tahan terhadap biotipe tertentu

dikendalikan oleh satu atau sedikit gen pada tanaman 2. Ketahanan horizontal

tahan terhadap kisaran luas genotipe hama dan bebas biotipe hama

(17)

TIPE

TIPE KETAHANAN

KETAHANAN GENETIK

GENETIK TANAMAN

TANAMAN

BERDASARKAN CARA SIFAT KETAHANAN DITURUNKAN 1. Ketahanan Oligogenik

2. Ketahanan Poligenik 3. Ketahanan Sitoplasmik

KELEBIHAN

KELEBIHAN PENGGUNAAN

PENGGUNAAN VARIETAS

VARIETAS TAHAN

TAHAN

1. Praktis dan ekonomis menguntungkan 2. Sasaran pengendalian spesifik

3. Efektivitas pengendalian bersifat kumulatif dan persisten 4. Kompatibilitas dengan komponen PHT lainnya

5. Dampak negatif terhadap lingkungan terbatas

KELEMAHAN

KELEMAHAN PENGGUNAAN

PENGGUNAAN VARIETAS

VARIETAS TAHAN

TAHAN

1. Waktu dan biaya pengembangan 2. Keterbatasan sumber ketahanan 3. Timbulnya biotipe hama 4. Sifat ketahanan yang berlawanan

TANAMAN

TANAMAN TRANSGENIK

TRANSGENIK

Tanaman hasil rekayasa genetik, misalnya: tanaman kapas transgenik yang telah disisipi gen tahan dari bakteri Bacillus

thuringiensis (Bt) KELEBIHAN:

1. Efektif mengendalikan hama sasaran dan pengurangan kehilangan hasil

2. Penurunan penggunaan pestisida kimia 3. Penurunan biaya pengendalian 4. Pengendalian hama secara selektif

5. Penurunan populasi hama dalam areal yang luas

KETERBATASAN:

1. Resistensi hama terhadap toksin

2. Pengaruh tanaman transgenik terhadap non target organism 3. Pengurangan keanekaragaman hayati

4. Variasi hasil

5. Kepekaan terhadap jenis hama lain 6. Pengembalian investasi tidak terjamin 7. Risiko bagi kesehatan

Referensi

Dokumen terkait

Mahasiswa mampu memahami karakteristik riil sistem elektro melalui percobaan dalam laboratorium yang merupakan implementasi teori yang diperoleh.

Akasia Desa Bangunrejo pada BTM Amanah Bangunrejo dalam proses pengambilan keputusan penerimaan karyawan produksi masih menggunakan sistem manual dengan

Sekolah Menengah Atas (Kejuruan)6. Sekolah Menengah

palmivora yang berasosiasi dengan penyakit gugur buah kelapa yang menggunakan sembilan primer, tiga diantaranya sama dengan primer yang digunakan dalam

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah pepino kuning (Solanum muricatum Aiton) yang diambil dari tingkat kematangan yang berbeda (warna hijau, hijau kekuningan,

Sementara responden yang tidak setuju berjumlah 137 orang dengan alasan stereotip yang selama ini banyak dikemukakan tentang becak, yaitu misalnya becak tidak manusiawi,

Dalam percobaan kloning &#34;Bintje&#34; yang mengandung gen thionin dari daun barli (DB4) yang memakai promoter 35S cauliflower mosaic virus (CaMV), dengan

Dari peta juga terlihat bahwa beberapa unit Puskesmas yang berada tidak jauh dari jalan arteri Kabupaten Kebumen memiliki jangkauan pelayanan yang saling tumpang tindih