128
BAB V
Kesimpulan
A. Masalah Cina di Indonesia
Studi mengenai etnis Tionghoa dalam penelitian ini berupaya untuk dapat melihat ‘Masalah Cina’, khususnya identitas Tionghoa, melalui kacamata kultur subjektif atau cara pandang suatu etnis. Dimana sebelumnya dipahami bahwasannya pemikiran tentang identitas Indonesia Tionghoa merupakan konsep yang sukar ditangkap dan melibatkan banyak penyebab yang saling berkaitan, terutama sejarah masa lampau etnis Tionghoa di Indonesia yang menjadi turning
point kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia. Dan seiring berjalannya waktu,
sejarah etnis Tionghoa dari zaman kolonial Belanda, Orde Baru, Reformasi sampai pada saat ini kemudian semakin mengalami proses pergeseran. Dari etnis minoritas, menjadi etnis dan komunitas yang superior dan bahkan eksklusif. Mereka yang dahulu termarjinalkan, kini memegang kekuatan pada beberapa sektor vital Negara, seperti perekonomian. Pribumi tidak lagi memandang mereka sebagai orang-orang minoritas yang tidak memiliki hak dan akses terhadap Negara dan lingkungan seperti perspektif terdahulu. Namun, justru keadaan berbalik. Kini kebanyakan etnis Tionghoa yang lebih memegang kendali daripada orang-orang Pribumi dan bahkan oleh Negara. Mereka seakan terpisah dari Negara dan masyarakat lainnya, membentuk suatu ‘komunitas’ atau in-group atas dasar kultur subjektifnya, dengan kekuatan finansial, terlebih di dukung dengan perkembangan stereotip masyarakat akan kehidupan sosial etnis Tionghoa di
129 Indonesia, mereka bertransformasi menjadi etnis yang superior dan eksklusif. Namun tanpa disadari, dengan kebudayaan dan life style etnis mereka sendiri lah yang memperkuat label dan disain ‘minoritas’ tersebut, sehingga “Tionghoa akan tetap Tionghoa”.
Aspek identitas sosial dalam penelitian ini penulis pandang menarik mengingat teori identitas sosial memiliki konsep sentral, yakni stereotip, yang penulis jadikan jendela pandang dalam melihat bagaimana sebenarnya identitas minoritas Tionghoa di Indonesia terbentuk dan semakin terlanggengkan. Stereotip juga dipandang sangat lekat dengan kehidupan etnis Tionghoa sejak zaman kolonial dan tidak pernah lepas sampai saat ini. Isu yang menjadi sangat penting dalam penelitian ini adalah mengenai bagaimana kehidupan ingroup etnis Tionghoa, baik dalam hal kebudayaan, kebiasaan, serta nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari mereka kemudian semakin menempatkan mereka dalam posisi ‘terpisah’, atau dapat dikatakan ‘terminoritaskan’ dari kehidupan kelompok lainnya (Pribumi) dalam hidup berwarganegara. Dimana notabene diketahui oleh masyarakat luas bahwa etnis Tionghoa menjadi minoritas karena diskriminasi yang dilakukan oleh Negara dan pribumi.
Sebagai objek kajian, etnis Tionghoa di Jakarta dinilai sangat merepresentasikan etnis Tionghoa yang memiliki gejala – yang disebut penulis – sebagai self-minoritisasi. Jakarta dinilai mempunyai wilayah dimana percampuran identitas sangat majemuk. Banyak fenomena yang kemudian terjadi dikalangan etnis Tionghoa yang relatif stabil dilakukan dalam kehidupan turun-temurunnya yang menjelaskan adanya sense of belonging terhadap negeri leluhurnya. Lebih
130 jauh, hal tersebut diidentifikasi melalui proses kategorisasi diri dan depersonalisasi identitas di lingkungan ingroup etnis Tionghoa. Dengan demikian, semakin membawa etnis Tionghoa kepada self-minoritisasi.
B. Konstruksi Historis Identitas Etnis Tionghoa di Indonesia
Sebenarnya sebagian besar imigran Tionghoa yang tinggal di kepulauan Nusantara sebelum kekuasaan kolonial berdiri sudah berbaur dengan masyarakat setempat (Somers 1965, Reid 1996). Namun, kebijakan Apartheid Belanda lah yang secara artifisial menciptakan ‘minoritas Tionghoa’ di wilayah yang waktu itu bernama Hindia Timur Belanda. Kebijakan inilah yang secara historis menanamkan benih-benih prasangka yang terkadang berkembang menjadi ketegangan antara etnis Tionghoa dan Pribumi, sekaligus menciptakan ketionghoaan itu sendiri.
Di Indonesia, ‘identitas nasional’ didefiniskan sebagai kepribumian daripada sebagai kewarganegaraan. Hal ini terbukti dalam kategorisasi resmi warga Negara kedalam dua kelompok Pribumi dan non-Pribumi yang secara umum dimengerti sebagai etnis Tionhoa – selama rezim Orde Baru berkuasa. Klasifikasi ini didasarkan pada ‘ras’ dan kepribumian, dengan Pribumi dianggap sebagai penduduk asli. Karena ke-Indonesia-an didefinisikan dalam terminologi kepribumian, maka “tak seorangpun bisa menjadi (benar-benar) Indonesia tanpa terlebih dahulu menjadi anggota kelompok etnis Pribumi”. Dikotomi rasial antara Pribumi dan non-pribumi ini secara ketat dipelihara selama rezim Orde Baru berkuasa, dengan maksud untuk terus-menerus mereifikasi dan
131 mengesensialisasikan etnis Tionghoa sebagai ‘orang yang benar-benar asing’. Proses ini juga berakibat pada homogenisasi kelompok etnis Tionghoa yang sesungguhnya heterogen.
Untuk itu, dalam memahami identitas yang kompleks yang disandang etnis Tionghoa dalam kurun waktu yang sudah beratus-ratus tahun di Indonesia, diperlukan dua kacamata berbeda yang tetap harus seimbang dalam melihat maupun mempersepsinya. Dalam hal ini bagaimana etnis Tionghoa mempersepsi kelompok lain (Pribumi) dan bagaimana etnis Tionghoa itu sendiri dalam mengidentifikasi dan menerima ketionghoaan mereka ditengah-tengah kehidupan masyarakat Pribumi yang tidak semua masyarakatnya menerima budaya dan keseharian Tionghoa. Salah satunya melalui stereotip.
Pada masa kolonial, ada tiga stereotip utama yang ‘dilekatkan’ terhadap etnis Tionghoa melalui kebijakan-kebijakan Pemerintah Hindia-Belanda. Stereotip pertama dikonstruksikan lewat kebijakan kolonial “Pecah Belah dan Kuasai”. Inilah awal dimana munculnya stereotip bahwa orang-orang Tionghoa merupakan kelompok yang ‘homogen’. Dengan adanya pembedaan seperti ini, bagi orang-orang Tionghoa, melakukan asimilasi dengan masyarakat Pribumi sama saja dengan merendahkan status sosial mereka sendiri. Kebijakan Politik Etis membangun stereotip yang kedua bagi etnis Tionghoa. Terlebih dengan adanya zonafikasi yang mengharuskan orang-orang Tionghoa tinggal dikawasan tertentu di setiap kota dan harus mendapatkan visa jika mereka ingin bepergian. Politik Etis mendiskriminasikan orang-orang Tionghoa, menghancurkan proses asimilasi dan mengubah kedudukan orang Tionghoa dari ‘anak emas pengusaha’
132 menjadi ‘musuh Negara yang paling utama’. Stereotip yang ketiga dibangun melalui perubahan orientasi dan kiblat politik. Langkah ini disebut-sebut sebagai langkah dalam pengambilan sikap yang antipati terhadap Negara dan Pribumi yang menyumbangkan stereotip baru tentang orang-orang Tionghoa sebagai pihak yang ‘merasa lebih hebat’ dan ‘enggan berbaur’.
Pada masa Orde Baru, stereotip kembali dibentuk lewat tiga cara. Yang pertama melalui stigmatisasi. Stigma yang dibentuk terhadap etnis Tionghoa kala itu adalah Tionghoa yang eksklusif, kaya raya dan mengiblatkan kembali etnis Tionghoa di Indonesia pada negeri leluhurnya, yakni China. Stigma tersebut direproduksi malalui sistem pendidikan yang tertutup dikalangan Tionghoa. Stigma lainnya, yaitu naturalisasi, yang mendiskriminasi dan menjadikan etnis Tionghoa sebagai objek pemerasan birokrasi, polisi dan Tentara. Lebih jauh kemudian stigma-stigma tersebut dipertegas dengan diterbitkannya sebuah risalah yang berisi “Sembilan ‘dosa’ etnis Tionghoa” yang semakin menyudutkan etnis Tionghoa.
Cara kedua dilakukan pemerintah Orde Baru melalui asimilasi. Kebijakan ini ditujukan untuk menghapuskan ketionghoaan dan ke’eksklusif’an orang-orang Tionghoa agar dapat ‘berbaur’ dengan Pribumi. Tujuan tersebut ditempuh melalui kebijakan penggantian nama Tionghoa kedalam nama yang ‘kedengaran’ Indonesia serta mendesak anak-anak Tionghoa untuk masuk ke sekolah-sekolah berbahasa pengantar bahasa Indonesia. Hal ini dipandang karena sekolah Tionghoa merupakan tempat yang paling memungkinkan dalam pewarisan kebudayaan Tionghoa dan tempat memelihara ketionghoaan itu sendiri.
133 Langkah stereotipikasi terakhir pada masa Orde Baru ditempuh melalui viktimisasi. Viktimisasi secara garis besar digambarkan lewat tragedi Mei 1998 yang menjadikan orang Tionghoa sebagai kambing hitam. Ketakutan akan dampak pengkambinghitaman terhadap etnis Tionghoa tersebut membuat mereka ketakutan dan memutuskan untuk meninggalkan Indonesia untuk mendapatkan tempat yang ‘lebih aman’ di luar negeri. Hal tersebut membuat mereka semakin dikecam dan dituduh oleh kalangan Pribumi sebagai kelompok yang tidak patriotis dan tidak memiliki rasa nasionalisme yang hingga kini melahirkan pertanyaan-pertanyaan terkait loyalitas Tionghoa terhadap Ibu Pertiwi.
C. Self-Minoritisasi: Proses Panjang ‘Pengekalan’ Identitas dalam Kelompok Etnis Tionghoa
Proses konstruksi identitas Tionghoa yang menyudutkan etnis Tionghoa dari zaman kolonial sampai pada masa Orde Baru dapat dikatakan berhasil dalam pembentukan stereotip di tengah-tengah kehidupan berwarganegara. Tidak hanya melalui kebijakan Pemerintah, pada kelanjutannya pelekatan stereotip yang ‘meminoritaskan’ etnis Tionghoa juga dilakukan melalui konsep ‘ras’ dan etnisitas. ‘Ras’ dan etnisitas dipandang merupakan suatu cara bagaimana sekat dibangun antara mereka yang dapat dan tidak dapat menjadi bagian dari konstruksi khusus suatu etnis kolektif. Salah satu contohnya, sampai saat ini orang Tionghoa dipandang lebih berkuasa karena keunggulan mereka dalam hierarki kelas dan ras, karena mereka pada umumnya dianggap kaya dan berkulit terang, bergaya dan berpenampilan mewah, yang dipandang lebih diminati dan lebih
134 tinggi ‘derajat’ nya daripada kulit yang gelap (Pribumi). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ‘superioritas’ kelas identik dengan ‘superioritas’ ras dan etnisitas Tionghoa. Tak sampai disitu, stereotip-stereotip tersebut tidak hanya diidentifikasi atas dasar kelas, tetapi juga dikaitkan dengan simbol-simbol atau penanda-penanda perbedaan lainnya seperti gender, budaya dan agama. Lebih jauh kedua instrumen tersebut berperan untuk ‘melestarikan’ atau mengekalkan perbedaan yang diesensialisasikan atas dasar absolutisme ras, dalam hal ini ras Tionghoa.
Pada akhirnya, pembentukan identitas etnis – dalam hal ini berbicara mengenai identitas Tionghoa sebagai minoritas – tergantung pada identifikasi diri kelompok yang bersangkutan dan identitas itu diberikan oleh ‘pihak-pihak diluar’ kelompok tersebut melalui stereotip yang sudah terbentuk sedemikian rupa. Identitas etnis lebih jauh mengacu pada identitas yang diberikan kelompok lain kepada suatu kelompok, sedangkan ‘kelompok etnis’ secara internal mengacu pada identitas yang didefinisikan sendiri oleh anggota-anggota kelompok itu sendiri. Citra-citra yang diberikan oleh pihak diluar kelompok tersebut lah yang pada akhirnya mewarnai sikap-sikap yang dipegang para anggota-anggota kelompok etnis. Melalui proses kategorisasi diri dan depersonalisasi, sekat antara orang Tionghoa dan Pribumi semakin tegas dan menegaskan juga ‘ke-minoritas-an’ Tionghoa. Kategorisasi diri pada etnis Tionghoa merujuk pada kecenderungan kelompok etnis Tionghoa untuk menyerap nilai-nilai tertentu yang berkembang didalam kelompok etnis tersebut, terlepas dari nilai-nilai yang berasal dari negeri leluhur mereka di Tiongkok ataupun yang terbentuk dari hasil stereotipikasi kelompok lainnya. Hal ini dinilai merupakan cara kelompok etnis Tionghoa dalam
135 membuat batas pembeda antara dirinya dengan kelompok-kelompok lain (Pribumi). Kategorisasi diri sebagai bagian tak terpisahkan dari kelompok etnis Tionghoa pada akhirnya akan melahirkan apa yang disebut depersonalisasi. Depersonalisasi muncul dari motif-motif untuk mereduksi ketidakpastian yang dialami individu. Ketidakpastian dalam tiap individu Tionghoa itu dapat diredusir bilamana individu bersedia meleburkan dirinya kedalam identitas kelompok yang dapat menjamin rasa aman dan keutuhan. Ketika depersonalisasi terjadi, anggota-anggota kelompok melihat diri mereka sebagai satu kesatuan, yakni mereka Tionghoa (yang minoritas), dan akan melihat individu-individu dari kelompok lain (Pribumi) sebagai pihak yang berbeda dengan diri mereka.
Proses-proses pembentukan identitas sosial ini juga memberikan penegasan bahwa ada sense of belonging dari individu kepada kelompoknya dan juga terhadap kebudayaan dan negeri leluhurnya, yakni China, yang coba untuk dibentuk oleh kelompok etnis Tionghoa di Indonesia. Bagaimanapun juga, rasa memiliki merupakan isu yang krusial karena terkait dengan seberapa kuat identitas sosial ini terbangun. Kuatnya orientasi dan identifikasi diri orang Cina terhadap negeri leluhur menyebabkan kurangnya sense of belonging dan loyalitas mereka terhadap Negara Indonesia, yang pada akhirnya tetap meletakkan etnis Tionghoa pada label minoritas.
D. Kontribusi Studi Identitas Tionghoa di Indonesia
Penelitian ini dilakukan dengan harapan mampu melakukan pembacaan melalui sudut pandang yang lain terkait kelompok minoritas Tionghoa di
136 Indonesia. Mengingat identitas minoritas Tionghoa sejauh ini hanya dilihat dari sudut pandang Negara dan Pribumi saja yang selalu dipersalahkan atas diskriminasi dan segala bentuk ‘ke-minoritas-an’ etnis Tionghoa di Indonesia. Penulis menganggap bahwa hal terkait identitas Tionghoa harus dilihat dari kacamata yang seimbang, dimana kita dapat melihat bahwa adanya label ‘minoritas’ terhadap etnis Tionghoa merupakan sesuatu yang ‘dilestarikan’ oleh etnis Tionghoa itu sendiri melalui kultur subjektifnya yang berupa kebudayaan dan kebiasaan etnis Tionghoa melalui konsep sentral, yakni stereotip.
Dalam tulisan ini tentunya ada banyak sekali kekurangan baik dalam penggunaan teori, kutipan ataupun analisis. Mungkin juga dalam penelitian ini nantinya ditemukan ketidaksepahaman ataupun alur pembacaan yang kurang pas antara penulis dengan pembaca. Namun, atas semua kekurangan tersebut, semoga penelitian ini mampu menjadi salah satu sumbangan penting bagi studi mengenai identitas Tionghoa dan dapat memberikan pencerahan terkait penyelesaian ‘Masalah China’ yang tidak pernah selesai di Indonesia. Untuk itu, penulis mengharapkan melalui studi identitas Tionghoa ini nantinya akan ada banyak aspek yang bisa digali lebih dalam dan semakin menyempurnakan pembahasan mengenai identitas Tionghoa yang berkembang sebelumnya, alih-alih juga dapat menyelesaikan problematika yang ada.