• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adat di Bali. Bagi masyarakat Bali tanah adalah ibu pertiwi (ibu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adat di Bali. Bagi masyarakat Bali tanah adalah ibu pertiwi (ibu"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tanah memiliki fungsi dan kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apalagi dalam kehidupan masyarakat hukum adat, seperti masyarakat adat di Bali. Bagi masyarakat Bali tanah adalah ibu pertiwi (ibu bumi), sumber kehidupan masyarakat Bali. Hubungan manusia dengan tanah dalam hukum adat mempunyai hubungan yang kosmis-magis-religius, artinya hubungan ini bukan antara individu dengan tanah saja tetapi juga antar sekelompok anggota masyarakat suatu persekutuan hukum adat (rechtsgemeentschap) di dalam hubungan dengan hak ulayat.1

Tanah bagi kehidupan manusia mengandung makna yang multidimensional. Pertama, dari sisi ekonomi tanah merupakan sarana produksi yang dapat yang mendatangkan kesejahteraan. Kedua, secara politis tanah dapat menentukan posisi seseorang dalam pengambilan keputusan masyarakat. Ketiga, sebagai kapital budaya dapat menentukan tinggi rendahnya status sosial pemiliknya. Keempat, tanah bermakna sakral karena pada akhir hayat setiap orang akan kembali kepada tanah.2 Karena makna yang multidimensional tersebut ada kecenderungan bahwa orang yang memiliki tanah akan mempertahankan tanahnya dengan cara apapun bila hak-haknya dilanggar.

1

Jhon Salindeho, 1994, Manusia Tanah Hak dan Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, hal.33 2 Heru Nugroho, 2001, Menggugat Kekuasaan Negara, Muhamadyah University Press, Surakarta, hal.237

(2)

Menurut Surojo Wignyodipuro, ada dua hal yang menyebabkan tanah itu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu karena sifat dan faktanya. Dikatakan penting karena sifatnya, yakni karena tanah merupakan satu-satunya benda kekayaan yang meskipun mengalami keadaan-keadaan yang berbagaimanapun juga toh masih bersifat tetap dalam keadaan-keadaannya, bahkan menjadi lebih menguntungkan. Sedangkan tanah dikatakan menjadi penting karena fakta bahwa pada hakekatnya tanah merupakan tempat tinggal persekutuan, memberi penghidupan kepada persekutuan, tempat pemakaman warga dari kesatuan masyarakat hukum adat (persekutuan), dan tempat pemujaan roh leluhur dari warga kesatuan masyarakat hukum adat tersebut3.

Mengingat pentingnya fungsi dan kedudukan tanah, maka dibutuhkan peraturan yang berkaitan dengan pertanahan demi terwujudnya kepastian hukum. Dalam Undang Undang Dasar (UUD) Negara RI 1945, Pasal 33 ayat (3) dinyatakan bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakuran rakyat”. Ketentuan Pasal tersebut kemudian menjadi landasan terhadap pengaturan tanah di Indonesia yang secara yuridis diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria yang kemudian dikenal dengan sebutan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA).

UUPA memberikan perbedaan pengertian antara ”bumi” dan ”tanah”. Pengertian ”bumi” dalam UUPA mendapat pengaturan dalam Pasal 1 ayat (4)

3 Surojo Wignyodipuro, 1973, Pengantar dan Azas-azas Hukum Adat, Penerbit Alumni, Bandung, hal. 237

(3)

yang menyatakan bahwa: “Dalam pengertian bumi, selain permukaan bumi, termasuk tubuh bumi dibawahnya serta yang berada dibawah air.” Pasal di atas memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan istilah “bumi”, yaitu meliputi permukaan bumi (yang kemudian disebut dengan tanah) berikut apa yang ada di bawahnya (tubuh bumi) serta yang berada di bawah air. Selanjutnya pengertian ”tanah” mendapat penjelasan dalam ketentuan Pasal 4 ayat (1) bahwa : “atas dasar hak menguasai dari negara, ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah yang dapat diberikan dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri- sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain atau badan hukum”. Dalam ketentuan di atas, yang disebut tanah adalah permukaan bumi. Hak atas tanah adalah hak atas permukaan bumi, sedangkan bumi meliputi tanah, tubuh bumi dan berikut apa yang ada di bawahnya serta di bawah air.

Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara RI No. 104 Tahun 1960; Tambahan Lembaran Negara RI No. 2043), di negara kita berlaku dua macam hukum yang menjadi dasar bagi hukum pertanahan, yaitu hukum adat dan hukum barat4. UUPA mulai berlaku sejak diundangkan pada tanggal 24 September 1960. Sejak berlakunya UUPA ini, di seluruh Indonesia telah terjadi unifikasi hukum dalam bidang hukum agraria atau pertanahan, di mana UUPA memilih hukum adat sebagai dasar dalam hukum agraria nasional.

4 Wantjik Saleh, 1982, Hak Anda Atas Tanah, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta, hal. 8

(4)

Prinsip bahwa hukum adat sebagai dasar dari hukum agraria nasional dengan jelas disebutkan dalam Pasal 5 UUPA, yang menyatakan bahwa:

Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuian bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama.

Kalimat panjang yang mengikuti frasa “hukum adat” di atas menunjukkan bahwa pengakuan Negara terhadap hukum adat sebagai dasar hukum agraria nasional adalah suatu pengakuan bersyarat, artinya hukum adat hanya diakui hanya jika: (1) hukum adat tersebut tidak bertentangan dengan dengan kepentingan nasional

dan Negara, yang berdasarkan persatuan bangsa;

(2) hukum adat tersebut tidak bertentangan dengan sosialisme Indonesia;

(3) hukum adat tersebut tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam UUPA dan dengan peraturan perundangan lainnya;

(4) Mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama.

Pengakuan bersyarat juga berlaku untuk hak-hak dari kesatuan masyarakat hukum adat atas tanah yang ada di lingkungan wilayahnya, yang lazim disebut dengan istilah “hak ulayat”. Pasal 3 UUPA menyatakannya sebagai berikut:

…. Pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan persatuan bangsa serta tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan yang lebih tinggi.

(5)

Meskipun demikian, pengakuan UUPA terhadap hukum adat dan hak-hak kesatuan masyarakat hukum adat atas tanah (hak-hak ulayat) menunjukkan bahwa Negara mengakui adanya lebih dari sistem hukum yang berlaku terhadap tanah di dalam masyarakat Indonesia, yaitu adanya hukum tanah yang dibuat oleh Negara (state law) dan hukum tanah yang tumbuh dari kehidupan rakyat sehari-hari (folks law), seperti hukum adat dan hukum-hukum lokal pada kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat yang jumlahnya ribuan di Indonesia. Kondisi di mana ada lebih dari satu sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat lazim disebut dengan istilah: pluralisme hukum (legal pluralism), di mana sistem-sistem hukum tersebut bisa saja berlaku berdampingan, berinteraksi, atau saling berkompetisi dalam kehidupan masyarakat5.

John Griffiths membedakan pluralisme hukum tersebut dalam dua golongan, yaitu pluralisme hukum kuat (strong legal pluralism) dan pluralisme hukum lemah (weak legal pluralism). Pluralisme hukum kuat berlaku pada kondisi di mana dalam suatu masyarakat tidak hanya tunduk kepada hukum Negara, melainkan juga berlaku sistem hukum lain (hukum rakyat, hukum adat, hukum agama, dan lain-lain) yang hidup berdampingan, dengan masing-masing dasar dan keabsahannya. Sedangkan pluralisme hukum lemah berlaku dalam kondisi di mana hukum rakyat hanyalah merupakan bagian kecil dari hukum suatu Negara, yang berlaku selama mendapat pengakuan dari hukum negara6. Apabila

5 I Nyoman Nurjaya, 2008, “Memahami Potensi dan Kedudukan Hukum Adat dalam Politik Hukum Nasional”, makalah dalam Seminar Hukum Adat dan Politik Hukum Nasional, di Fakultas Hukum Universitas Airlangga 20 Agustus 2008, hal. 4.

(6)

penggolongan di atas dikaitkan dengan ketentuan-ketentuan UUPA di atas, tampak jelas bahwa dalam hukum tanah di Indonesia dianut pluralisme hukum lemah, karena berlakunya hukum adat tergantung kepada pengakuan dari hukum Negara (UUPA). Dengan pemberian syarat-syarat yang ketat terhadap berlakunya hukum adat dan hak-hak kesatuan masyarakat hukum adat atas tanah di lingkungan wilayahnya, maka tampak jelas adanya dominasi hukum Negara terhadap hukum adat.

Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa berlakunya lebih dari satu sistem hukum terhadap tanah bisa saja saling berinteraksi dan bersinergi dalam kehidupan masyarakat, tetapi tidak jarang berlaku berdampingan dan justru saling berkompetisi. Dalam beberapa kasus sengketa tanah, khususnya dalam sengketa tanah ulayat yang terjadi di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya, menunjukkan adanya kompetisi antara UUPA sebagai hukum negara (state law) di satu sisi dan hukum adat sebagai hukum rakyat (folks law) di sisi lain.

Menurut Suwitra, sebenarnya dalam mengimplementasikan UUPA tidak mesti ditemukan adanya kompetisi dengan hukum adat masyarakat setempat, karena antara UUPA dan hukum adat akan berfungsi saling melengkapi (interkomplementer) dan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) dalam upaya mengisi kekosongan hukum yang ada, jadi tampak adanya sinergi antara sistem hukum nasional dan sistem hukum adat. Selayaknya hal itu juga dapat

6 J. Griffiths, 1986, “What is Legal Pluralism?”, dalam Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, Number 24, Published by the Foundation for Journal of Legal Pluralism, hal. 5

(7)

memberi rasa keadilan akan eksistensi terhadap hak ulayat sebagai hak adat masyarakat hukum adat setempat.7

Demikianlah yang terjadi pada kasus-kasus sengketa tanah adat di Bali, di mana terhadap hubungan manusia dengan tanah diatur oleh lebih dari satu sistem hukum, yaitu disatu sisi diatur oleh hukum agraria nasional, di sisi lain juga diatur oleh hukum adat. Adanya lebih dari satu sistem hukum yang berlaku dalam kehidupan masyarakat (pluralisme hukum) dengan jelas terlihat pada pengaturan tanah adat di Bali. Seperti yang dikatakan oleh Wayan P Windia dan I Ketut Sudantra, di luar yang telah diatur oleh hukum agraria nasional, masih ada aspek-aspek tertentu dari tanah yang diatur oleh hukum adat, seperti misalnya tanah-tanah adat8. Tanah adat yang dimaksudkan di sini adalah tanah-tanah yang ada sangkut pautnya dengan hak ulayat, dengan batasan pengertian tanah-tanah yang bukan milik perorangan, tetapi milik persekutuan, marga, kaum, suku, desa dan sebagainya, dan tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa tanah itu milik pribadinya dan tetap di bawah persangkutpautan (campur tangan) hak ulayat persekutuan.9

Dari pengertian tanah adat di atas, dengan jelas tampak bahwa menurut hukum adat tanah-tanah adat tersebut adalah tanah yang dikuasai oleh kesatuan masyarakat hukum adat, yang tidak boleh diklaim sebagai milik perseorangan. Di

7

I Made Suwitra, 2010, Eksistensi Hak Penguasaan dan Pemilikan Atas Tanah Adat di Bali Dalam Perspektif Hukum Agararia Nasional, Logoz Publishing, Bandung , hal. 3

8 Wayan P Windia dan I Ketut Sudantra, 2006, Pengantar Hukum Adat Bali, Lembaga Dokumentasi dan Publikasi Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar, hal. 125

9 Suasthawa Dharmayuda, 1987, Status dan Fungsi Tanah Adat Bali setelah berlakunya

(8)

Bali, salah satu bentuk kesatuan masyarakat hukum adat (KMHA) adalah desa pakraman (dulu disebut desa adat). Menurut Pasal 9 Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman sebagaimana yang telah diubah dengan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003, desa pakraman dapat mempunyai tanah yang disebut dengan istilah “tanah desa pakraman”, yang merupakan salah satu wujud harta kekayaan desa pakraman. Menurut Pasal 9 ayat (5), “tanah desa pakraman dan atau tanah milik desa pakraman tidak dapat disertifikatkan atas nama pribadi”. Tetapi dengan ketentuan Konversi Pasal II ayat (1) UUPA 1960 diatur bahwa hak atas tanah druwe desa (tanah desa pakraman) dapat dikonversi menjadi hak milik sepanjang pemegang haknya memenuhi syarat untuk memperoleh hak milik10. Menurut Pasal 21 UUPA, subyek hukum yang dapat memiliki tanah dengan status sebagai hak milik adalah warga Negara Indonesia dan badan-badan hukum yang ditetapkan oleh pemerintah.

Kondisi status hak atas tanah adat di Bali setelah adanya konversi ini adalah sebagai berikut:

(1) Desa pakraman belum ditunjuk oleh pemerintah sebagai subyek hak yang dapat mempunyai hak milik atas tanah adat, akibatnya status hak atas tanah adat belum jelas, padahal kenyataannya desa adat menguasai tanah-tanah

10 Mengenai pihak-pihak yang memenuhi syarat sebagai subyek hak milik atas tanah, Pasal 21 UUPA menyatakan sebagai berikut:

(1) Hanya warga-negara Indonesia dapat mempunyai hak milik.

(2) Oleh Pemerintah ditetapkan badan-badan hukum yang dapat mempunyai hak milik dan syarat-syaratnya.

(9)

adat. Akibatnya, dalam perspektif UUPA status kepemilikan dan penguasaan tanah adat oleh desa pakraman belum ada kepastian hukum.

(2) Warga desa pakraman dapat mempunyai hak milik atas tanah adat setelah memenuhi syarat, dengan menunjukkan bukti kewarganegaraan tunggal dan hak atas tanah tersebut.

(3) Ketentuan konversi dalam Pasal II UUPA memberikan peluang tanah-tanah adat, khususnya tanah druwe desa yang ada di Bali untuk dapat dikonversi menjadi hak milik perseorangan.

Di sinilah dapat ditunjukkan terjadinya kompetisi antara hukum adat dengan hukum Negara. Di satu sisi menurut hukum adat semua tanah adat tidak boleh dijadikan hak milik perseorangan, di sisi lain hukum Negara (UUPA) memungkinkannya melalui ketentuan konversi. Kondisi berbedanya pengaturan hukum terhadap tanah adat, menimbulkan ketidakpastian hukum dalam masyarakat, terutama menyangkut tanah adat. Ketidakpastian hukum di atas sering menjadi embrio timbulnya konflik atau sengketa tanah adat antar krama desa, maupun antara krama desa dengan desa pakramannya di Bali.

Menurut Wayan P Windia11, konflik adat muncul akibat adanya pelanggaran terhadap norma agama Hindu dan adat Bali. Walaupun Wayan P Windia mengakui bahwa konflik adat sebenarnya bukanlah hal baru melainkan sudah berlanjut sejak dulu sampai sekarang, tetapi menurutnya sejak tahun 1999 konflik menjadi semakin marak. Hal itu disebabkan oleh karena hembusan

11

Wayan P. Windia, 2010, “Menyelesaikan Konflik Adat”, dalam: I Ketut Sudantra dan AA Gede Oka Parwata (ed), Wicara Lan Pamidanda: Pemberdayaan Desa Pakraman dalam Penyelesaian Perkara di Luar Pengadilan, Edisi Revisi, Udayana University Press, Denpasar, hal. 134.

(10)

“iklim” reformasi dan otonomi daerah. Dalam penelitian yang dilakukannya selama tujuh tahun (1999-2005) Wayan P. Windia menemukan 112 konflik yang terjadi di seluruh Bali. Konflik terbanyak terjadi di kabupaten Gianyar (39 kasus), disusul oleh kabupaten-kabupaten/kota lainnya, yaitu: Karangasem (17 kasus), Tabanan (14 kasus), Kota Denpasar (11 kasus), Bangli (10 kasus), Klungkung (9 kasus), Buleleng (8 kasus), Tabanan (2 kasus) dan Jembrana (2 kasus). Para pihak yang terlibat konflik bervariasi, dapat berupa konflik antar desa pakraman, konflik desa pakraman dengan warganya (krama desa pakraman), konflik desa pakraman dengan lembaga lain (investor), konflik desa pakraman dengan pemerintah, dan konflik desa pakraman dengan penduduk pendatang (krama tamiu). Dari penelitian Wayan P. Windia, ternyata konflik yang terbanyak terjadi antara desa pakraman dengan warganya

Dari hasil penelitian Wayan P Windia di atas, tampak dengan jelas bahwa lokus terjadinya konflik adat (sengketa adat) adalah dalam kesatuan masyarakat hukum adat yang di Bali dikenal dengan nama Desa Pakraman. Karena itu, perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan desa pakraman.

Desa Pakraman pada dasarnya merupakan organisasi sosial religius masyarakat Bali. Pengertian yuridis desa pakraman ditemukan pada Pasal 1 angka 4b Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman, yang berbunyi:

Desa pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Provinsi Bali yang mempuyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga atau Kayangan Desa yang mempuyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tanganya sendiri.

(11)

Dari difinisi desa pakraman di atas, dengan jelas tampak bahwa desa pakraman mempunyai kewenangan mengurus mengurus rumah tanganya sendiri. Dengan perkataan lain, desa pakraman mempunyai otonomi, suatu otonomi asli, yaitu otonomi yang bukan pemberian dari pihak lain, tetapi bersumber dari kodratnya sendiri. Menurut Wirtha Griadhi dan Widnyana, sebagaimana dikutip oleh Sudantra12, otonomi desa pakraman berisi:

(1) Kewenangan menetapkan aturan hukumnya sendiri yang disebut awig-awig; (2) Kewenangan menyelenggarakan pemerintahan desa pakraman secara

mandiri; serta

(3) Mempunyai kewenangan persoalan-peroalan hukum (wicara) yang terjadi di lingkungan wilayahnya, baik yang berupa pelanggaran hukum maupun sengketa.

Eksistensi Desa Pakraman di Bali berikut hak otonominya diakui secara yuridis formal oleh Negara dan Pemerintah Republik Indonesia, sebagaimana yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, baik pada level konstitusi (UUD), undang-undang, maupun peraturan daerah13.

12 I Ketut Sudantra, 2010, “Peranan Desa Pakraman dalam Menyelesaikan Perkara di Luar Pengadilan”, dalam: I Ketut Sudantra dan AA Gede Oka Parwata (ed), Wicara Lan Pamidanda: Pemberdayaan Desa Pakraman dalam Penyelesaian Perkara di Luar Pengadilan, Edisi Revisi, Udayana University Press, Denpasar, hal. 38

13 Dalam konstitusi, pengakuan Negara terhadap desa pakraman dapat dilihat pada Pasal 18B ayat 2 yang menyatakan bahwa: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-undang.”. Pada level undang-undang, pengakuan tersebut dapat dilihat pada Pasal 2 ayat (9) yang bunyinya “copy paste” bunyi Pasal 18B ayat (2) di atas. Desa pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Bali, sehingga eksistesinya diakui oleh konstitusi dan undang-undang. Pada level peraturan daerah, eksistensi desa pakraman sebagai kesatuan masyarakat hukum adat di Bali diatur dalam Perda Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 sebagaimana yang telah diubah dengan Perda Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2003.

(12)

Dengan diakuinya eksistensi desa pakraman oleh negara, berarti secara logis kewenangan desa pakraman dalam penyelesaian sengketa juga diakui.. Secara khusus pengakuan Negara terhadap kewenangan desa pakraman dalam menyelesaikan perkara dengan tegas dinyatakan dalam Pasal 6 Perda Provinsi Bali Nomor 3 tahun 2001, yang menyatakan bahwa: “Desa pakraman mempunyai wewenang…menyelesaikan sengketa adat dan agama dalam lingkungan wilayahnya dengan tetap membina kerukunan dan toleransi antar karma desa sesuai dengan awig-awig”

Menurut I Ketut Sudantra, desa pakraman sudah mempunyai mekanisme tersendiri dalam penyelesaian perkara (pelanggaran hukum maupun sengketa) sesuai dengan awig-awig (peraturan-peraturan adat) yang dibuat oleh desa pakraman yang bersangkutan. Walaupun mengakui bahwa tidak jarang suatu perkara tidak dapat diselesaikan di tingkat desa pakraman, namun I Ketut Sudantra menyebutkan bahwa penyelesaian kasus-kasus perkara adat melalui kelembagaan adat dengan mekanisme awig-awig umumnya akan lebih efektif jika dibandingkan dengan mekanisme lainnya. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu14.:

(1) Pada umumnya warga desa pakaman sangat taat dan patuh kepada awig-awig;

(2) Penyelesaian secara musyawarah mufakat yang menjadi ciri penyelesaian adat masih dapat mengakomodasi kepentingan-kepentingan para pihak, sehingga secara logis lebih menguntungkan bagi para pihak yang bersengketa

(13)

Dari uraian di atas, secara teoritis (das sollen) dapat dikatakan bahwa kasus-kasus perkara adat, termasuk sengketa yang berobyek tanah adat, semestinya diselesaikan melalui mekanisme hukum adat. Di samping landasan yuridisnya sudah cukup jelas, penyelesaian melalui mekanisme hukum adat juga lebih menguntungkan bagi para pihak dibandingkan dengan penyelesaian melalui pengadilan. Banyak ahli menyatakan bahwa berperkara ke pengadilan bukanlah cara yang ideal untuk menyelesaikan perkara. Banyak kritik ditujukan kepada penyelesaian perkara melalui pengadilan, antara lain: prosesnya lambat, biaya mahal, dan menghasilkan keputusan kalah-menang dan memelihara permusuhan15. Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa dalam kenyataan (das sein) beberapa sengketa adat ternyata diselesaikan melalui jalur pengadilan negara, dalam hal ini peradilan umum. Kasus konkrit dapat ditunjuk sebagai bukti terjadinya fenomena tersebut adalah kasus sengketa tanah adat yang terjadi di Desa Kubutambahan Kabupaten Buleleng. Di sini kemudian tampak adanya suatu gap, kesenjangan antara das sollen dengan das sein, kesenjangan antara teori dan praktik, sehingga timbul pertanyaan: mengapa para pihak yang bersengketa mengenai tanah adat justru lebih suka membawa perkaranya melalui peradilan Negara (peradilan umum) bukannya menyelesaikannya sampai tuntas secara adat?

Tentu saja tidak mudah menemukan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Perlu diidentifikasi secara teliti dan dianalisis secara kritis faktor-faktor yang mempengaruhi para pihak memilih penyelesaian sengketa di pengadilan Negara,

15 Tjok Istri Putra Astiti, 1997, “Pemberdayaan Hakim Perdamaian Desa dalam Penyelesaian Kasus Adat di Luar Pengadilan”, Orasi Ilmiah, Universitas Udayana, Denpasar, hal.2 (selanjutnya disebut Astiti I).

(14)

apakah faktor tersebut terletak pada factor hukum ataukah factor non hukum. Kalau masalahnya terletak pada faktor hukum, apakah faktor tersebut terletak pada faktor struktur hukumnya (legal structure), substansi hukumnya (legal substance), ataukah pada budaya hukumnya (legal cukture) sebagaimana yang dikemukakan oleh Laurence M. Friedman16. Pada faktor struktur hukum antara lain dapat diselidiki apakah secara kelembagaan, pengadilan diangap lebih handal dibandingkan dengan kemampuan fungsionaris hukum adat dalam menyelesaikan sengketa atau sebaliknya. Pada tataran substansi hukumnya dapat diteliti apakah norma-norma atau kaidah hukum Negara dirasa oleh para pihak lebih memberikan keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum dibandingkan dengan hukum adat atau sebaliknya. Sedangkan pada tataran budaya hukum, misalnya dapat diteliti dan dikaji secara kritis apakah masyarakat memang lebih suka berperkara ke pengadilan atau sebaliknya, dan seterusnya. Kalau faktor yang mempengaruhi adalah factor non hukum, perlu diidentifikasi secara cermat, faktor non hukum apa yang bekerja dalam pilihan masyarakat menyelesaikan sengketa adat melalui peradilan umum. Faktor-faktor non-hukum yang dapat diteliti ,misalnya antara lain dapat berupa faktor ekonomi, politik, psikologis (dendam, marah, kecewa), dan lain-lain. Intinya adalah: perlu diteliti secara cermat dan dianalisis secara kritis faktor apa sesungguhnya yang menyebabkan para pihak memilih menyelesaikan perkaranya melalui peradilan Negara, dalam hal ini peradilan umum.

16 Lawrence M.Friedman , 1975, The Legal System A Social Science Perspective, Rusell Sage Foundation, New York, hal. 16

(15)

Hal lain yang menarik perhatian sehubungan dengan fenomena di atas adalah masalah pelaksanaan keputusan pengadilan. Menjadi pertanyaan, apakah suatu keputusan pengadilan terhadap kasus sengketa, apalagi menyangkut sengketa adat, dapat dilaksanakan secara efektif dalam masyarakat adat, dalam artian dapat dilaksanakan dan diterima oleh para pihak yang bersengketa. Pertanyaan ini menjadi relevan karena seringkali keputusan pengadilan berjarak dengan rasa keadilan masyarakat sehingga menimbulkan perlawanan dari masyarakat, terutama masyarakat adat. Perlawanan-perlawanan itu sering muncul sebagai wujud rendahnya kepercayaan (trust) masyarakat dan runtuhnya kewibawaan pengadilan di masyarakat17 Kondisi inilah yang menurut Moh. Jamin menjadi salah satu penyebab kecendrungan prilaku pengadilan massa atau ”main hakim sendiri” dalam masyarakat18

.

Pertanyaan-pertanyaan akademis di atas melatar belakangi penulis tertarik mengkaji fenomena di atas, suatu fenomena yang nyata-nyata terjadi, yaitu penyelesaian sengketa adat melalui jalur peradilan umum. Kasus kongkrit yang mewakili fenomena di atas dan dijadikan obyek penelitian ini adalah kasus sengketa tanah adat yang terjadi di Desa Kubutambahan Kabupaten Buleleng sekitar tahun 2005. Kasus ini menarik untuk diteliti karena beberapa hal. Pertama, kasus ini nyata-nyata adalah kasus sengketa adat tetapi diselesaikan tidak secara adat, melainkan diselesaikan melalui pengadilan Negara, dalam hal ini peradilan

17 Adi Sulistiyono, 2007, Mengembangkan Paradigma Non-Litigasi di Indonesia. LPP dan UNS Press Universiats Sebelas Maret, Surakarta, hal. 303.

18 Moh. Jamin, 2000, “Fenomena Pengadilan Massa dalam Perspektif Sosiologi Hukum”, dalam Satjipto Rahardjo, Wajah Hukum di Era Reformasi, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung, hal. 110.

(16)

umum). Kedua, dalam proses penyelesaian sengketa dalam kasus ini diwarnai oleh aksi kekerasan massa. Ketiga, kasus ini menimbulkan persoalan-persoalan baru sebagai dampak dari proses penyelesaian sengketa, seperti timbulnya masalah adat (sanksi adat kasepekang), masalah keamanan (aksi blokir jalan), dan lain-lain19. Memang, jika dibandingkan dengan kasus sengketa tanah yang terjadi di Desa Lemukih, yang juga terjadi di Kabupaten Buleleng, kasus Kubutambahan tidaklah sehebat dan seheboh kasus Lemukih yang terjadi tahun 2010. Pada kasus Lemukih, aksi kekerasan yang terjadi jauh lebih massif (terjadi pembakaran puluhan rumah, penganiayaan, bahkan pembunuhan) dan korbannya juga jauh lebih besar20. Tetapi, ketika penelitian in i dilakukan, proses sengketa tanah pada kasus Lemukih belum selesai di Pengadilan sehingga tidak dapat diteliti proses penyelesaiannya secara utuh dan komprehensif. Faktor inilah yang menyebabkan penulis lebih tertarik meneliti kasus sengketa tanah adat di Desa Kubutambahan.

Atas pertimbangan tersebut, maka penulis mengangkat permasalahan tersebut sebagai karya ilmiah dalam bentuk tesis dengan judul “Penyelesaian Sengketa Tanah Adat melalui Peradilan Umum, Studi Kasus Sengketa Tanah Adat di Desa Kubutambahan”

19 “Tolak Eksekusi Tanah, Warga Kubutambahan Blokir Jalan”, http://202.169.46.231/News/2005/11/22/Nasional/nas15.htm. Diakses: 4 Agustus 2011.

20 “Lemukih Bergolak Lagi Warga Bentrok, 13 Rumah Dibakar”, http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=43711. Diakses: 4 Agustus 2011.

(17)

1.2 Rumusan Masalah

Sejalan dengan apa yang diurai dalam latar belakang masalah di atas, permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi masyarakat memilih penyelesaian sengketa tanah adat melalui jalur peradilan umum ?

2. Bagaimanakah pelaksanaan putusan pengadilan berkaitan dengan penyelesaian sengketa tanah adat ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memberikan sumbangan bagi pemikiran-pemikiran akademis guna pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pengembangan ilmu hukum terkait penyelesaian sengketa adat di Bali pada umumnya, dan sengketa tanah adat pada khususnya.

1.3.2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah menyatakan buah pikiran secara yurudis empiris dalam :

1. Mendiskripsikan dan melakukan analisis secara kritis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat memilih penyelesaian sengketa tanah adat melalui jalur melalui jalur peradilan umum.

(18)

2. Untuk mendiskripsikan dan melakukan analisis secara mendalam tentang pelaksanaan putusan pengadilan berkaitan dengan penyelesaian sengketa tanah adat.

1.4 Manfaat Penelitian.

1.4.1. Manfaat teoritis.

Manfaat teoritis penelitian ini adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran yang bersifat teoritis dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan hukum mengenai kebenaran hukum yang hidup dalam masyarakat (living law).

1.4.2. Manfaat praktis

Manfaat praktis penelitian ini adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat dan dapat dijadikan acuan bagi Pemerintah Daerah, aparat penegak hukum dan Desa Pakraman di Bali dalam proses penyelesaian sengketa tanah adat. Dari hasil penelitian ini akan dapat diketahui keuntungan-keuntungan dan/atau kelemahan-kelemahan penyelesaian sengketa tanah adat melalui jalur peradilan umum, sehingga dapat dijadikan pedoman dalam dalam memilih alternatif-alternatif penyelesaian sengketa adat yang mungkin saja terjadi di masa depan.

(19)

1.5 Originalitas Penelitian

Sesungguhnya, kajian mengenai sengketa adat diakui bukanlah suatu hal yang hal yang sama sekali baru. Sebelum penelitian ini, beberapa pihak telah melakukan penelitian yang berkaitan dengan sengketa adat (konflik adat), baik yang berupa penelitian tesis, disertasi, maupun penelitian-penelitian lainnya. Beberapa penelitian yang berkaitan dengan sengketa adat yang telah pernah dilakukan pihak lain sebelumnya dapat disebutkan di sini, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Penelitian yang dilakukan oleh I Ketut Wirta Griadhi (2005)21 yang berjudul “Konflik Adat di Bali Suatu Studi Hukum dan Perubahan Sosial” yang meneliti tentang peranan hukum adat dan hukum negara dalam penyelesaian konflik adat. Yang membedakan penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian yang dilakukan oleh I Ketut Wirta Griadhi adalah bahwa penelitian I Ketut Wirta Griadhi tidak secara spesifik meneliti sengketa tanah adat di peradilan umum, sedangkan penelitian penulis khusus menyangkut penenyelesaian sengketa tanah adat melalui jalur peradilan umum.

2. Penelitian yang dilakukan oleh I Ketut Natha Wibawa (2005)22 yang berjudul “Efektivitas Putusan Desa Pakraman Dalam Penyelesaian Sengketa Adat

21

I Ketut Wirta Griadhi, 2005, “Konflik Adat di Bali Suatu Studi Hukum dan Perubahan Sosial”, Tesis Program Pasca Sarjana (S2) Ilmu Hukum Universitas Udayana, Denpasar.

22

I Ketut Natha Wibawa, 2005, “Efektivitas Putusan Desa Pakraman Dalam Penyelesaian Sengketa Adat (Studi Kasus di Desa Pakraman Belang Samu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar)”, Tesis Program Pasca Sarjana (S2) Ilmu Hukum Universitas Udayana, Denpasar.

(20)

(Studi Kasus di Desa Pakraman Belang Samu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar)” yang meneliti tentang proses dan kekuatan mengikat putusan desa pakraman dalam penyelesaian sengketa adat. Yang membedakan penelitian penulis dengan penelitian I Ketut Natha Wibawa, adalah bahwa penelitian I Ketut Natha Wibawa menyangkut penyelesaian sengketa adat melalui mekanisme di desa pakraman, sedangkan penelitian penulis menyangkut penyelesaian sengketa adat di Pengadilan.

3. Penelitian yang dilakukan oleh I Gede Suartika berjudul “Konflik Adat di Desa Pakraman Pengosekan, Desa Mas, Ubud, Gianyar: Perspektif Kajian Budaya”23

. Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian penulis, antara lain: pertama, kajian penelitian I Gede Suartika ini menggunakan pendekatan kajian budaya, sedangkan penelitian penulis adalah penelitian dalam perspektif penelitian hukum empirik. Perbedaan kedua, konflik yang diteliti oleh I Gede Suartika adalah konflik antara desa pakraman dengan desa pakraman yang tidak diselesaikan melalui jalur pengadilan, sedangkan penelitian penulis adalah menyangkut sengketa antara desa pakraman dengan warganya yang diselesaikan di pengadilan.

Penelitian khusus yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa tanah adat melalui lembaga peradilan umum, sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan, sehingga penulis menilai masih relevan untuk dilakukan penelitian.

23 I Gede Suartika, 2009, “Konflik Adat di Desa Pakraman Pengosekan, Desa Mas, Ubud, Gianyar: Perspektif Kajian Budaya”, Disertasi, Program Pascasarjana Unicersitas Udayana, Denpasar.

(21)

1.6 Landasan Teori dan Kerangka Berpikir 1.6.1. Landasan Teori

Dalam penelitian ini peneliti akan menggali bahan hukum berupa teori hukum dalam arti luas yang terdiri dari dogmatika hukum (recht dogmatiek), teori hukum dari arti sempit (legal theory), filsafat hukum (philosophy of law), serta konsep-konsep nilai dan asas-asas hukum yang akan dipakai untuk landasan analisis. Bahan hukum ini akan diuraikan satu persatu yang digunakan sebagai alat analisis untuk membedah isu hukum atau rumusan masalah yang sudah ditentukan dalam tesis ini.

a. Teori Hukum

Dalam penelitian ini digunakan 3 (tiga) teori hukum yang dapat dipakai sebagai alat analisis penelitian, yaitu: (1) Teori Pluralisme Hukum dari John Griffiths, (2) Teori Pilihan dalam Penyelesaian Sengketa dari Gluckman, dan (3) Teori Legal System dari Lawrence M.Friedman.

(1) Teori Pluralisme Hukum (Legal Pluralism) dari John Griffiths

Adanya pilihan-pilihan warga masyarakat dalam dalam penyelsaian sengketa, apakah menyelesaikannya dengan mekanisme hukum adat di luar pengadilan ataukah memilih penyelesaian sengketa di pengadilan tidak lepas dari adanya pluralisme hukum dalam masyarakat. Karena itu, salah satu teori yang relevan digunakan untuk membahas fenomena tersebut adalah teori pluralisme hukum dari John Griffiths.

(22)

Teori pluralisme hukum menjelaskan bahwa hukum yang secara nyata berlaku dalam masyarakat selain terwujud dalam bentuk hukum Negara (state law), juga terwujud sebagai hukum rakyat (folk law). John Griffiths membedakan pluralisme hukum tersebut dalam dua golongan, yaitu pluralisme hukum kuat dan pluralisme hukum lemah. Pluralisme hukum kuat berlaku pada kondisi di mana dalam suatu masyarakat tidak hanya tunduk kepada hukum Negara, melainkan juga berlaku system hukum lain (hukum rakyat, hukum adat, hukum agama, dan lain-lain) yang hidup berdampingan, dengan masing-masing dasar dan keabsahannya. Sedangkan pluralisme hukum lemah berlaku dalam kondisi di mana hukum rakyat hanyalah merupakan bagian kecil dari hukum suatu Negara, yang berlaku selama mendapat pengakuan dari hukum negara24.

Rikardo Simarmata menyatakan bahwa sampai saat ini pemikiran pluralisme telah mengalami perkembangan, antara lain berkaitan dengan difinisi relasi antar berbagai sistem hukum. Bersamaan dengan ditinggalkannya konsep relasi dikotomik antar sistem hukum negara dengan sistem hukum rakyat, pluralisme hukum diramaikan dengan temuan yang menyatakan bahwa relasi antar berbagai sistem hukum tersebut bisa saja berupa difusi, kompetisi atau koorporatif, Rikardo Simarmata memberikan contoh mengenai relasi hukum negara dengan hukum adat, hukum negara tidak selalu berperilaku menyangkal hukum adat. Ada kalanya, hukum negara mengakui atau mengakomodasi keberadaan hukum adat. Pengakuan dan akomodasi juga dilakukan hukum adat terhadap hukum negara. Misalnya banyak komunitas adat menyerahkan

24 J. Griffiths, 1986, “What is Legal Pluralism?”, dalam Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, Number 24, Published by the Foundation for Journal of Legal Pluralism, hal. 5

(23)

kewenangan penanganan pelanggaran pidana tertentu kepada sistem yudisial negara. Penyerahan serupa juga terjadi bila ada pelanggar hukum adat yang tidak bersedia mematuhi dan melaksanakan sanksi adat. Dalam kasus serupa ini, biasanya komunitas adat, lewat lembaga atau tetua adat, akan melimpahkan penyelesaian perkaranya kepada sistem yudisial negara. Dengan contoh tersebut, Rikardo Simarmata menunjukkan bahwa perjumpaan antara hukum negara dengan hukum lainnya tidak selalu berakhir pada konflik atau pertentangan tapi bisa menghasilkan integrasi (penggabungan antar berbagai sistem hukum), inkoorporasi (penggabungan sebagian aturan sebuah sistem hukum ke dalam sistem hukum yang lainnya) dan penghindaran (salah satu sistem hukum menghindari keberlakuan sistem hukum yang lainnya)25.

Teori pluralisme hukum ini akan digunakan untuk membahas ke dua masalah yang diajukan dalam penelitian ini. Kedua permasalahan tersebut, yaitu faktor-faktor yang menyebabkan dipilihnya peradilan umum sebagai tempat penyelesaian sengketa dan pelaksanaan keputusan pengadilan dalam masyarakat tidak akan terlepas dari berlakunya lebih dari system hukum dalam kehidupan masyarakat.

(2) Teori Pilihan dalam Penyelesaian Sengketa dari Gluckman

Untuk menjelaskan secara spesifik faktor-faktor yang melatarbelakangi masyarakat memilih salah satu alternative penyelesaian sengketa, apakah di

25 Rikardo Simarmata, 2005, “Mencari Karakter Aksional Dalam Pluralisme Hukum”, dalam: Tim HuMa (ed.), Pluralisme Hukum Sebuah Pendekatan Interdisiplin, Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa), Jakarta, hal.8.

(24)

Pengadilan ataukah di Luar Pengadilan, maka teori dari Gluckman dapat dipinjam sebagai titik acuan. Menurut Gluckman, jenis-jenis relasi antara orang-orang bersengketa banyak pengaruhnya pada cara penyelesaian sengketa yang dipilihnya. Hubungan antara orang yang bersengketa bisa saja bersifat apa yang disebut simpleks yaitu mereka yang mempunyai hanya satu jenis hubungan, hubungan majikan pekerja misalnya, atau bersifat multipleks, yaitu mempunyai hubungan yang beragam-ragam misalnya dengan tetangga, pada saat yang sama juga berhubungan sebagai keluarga, juga sebagai orang peminjam uang dan yang meminjamkannya. Bila terjadi sengketa maka hubungan yang simpleks, pemecahan yang tidak lagi memungkinkan dilanjutkannya hubungan yang semula dapat saja ditempuh, yaitu cara adjudication atau litigasi (melalui peradilan). Sedangkan pada hubungan yang multipleks pilihan yang umumnya akan di tempuh adalah pemecahan masalah yang masih memungkinkan hubungan-hubungan multipleks itu berlanjut, misalnya dengan negosiasi, dimana kompromi akan menonjol.26

Teori Gluckman ini akan dipakai untuk mengkaji permasalahan pertama yang telah dirumuskan, yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat memilih penyelesaian sengketa tanah adat melalui jalur peradilan umum.

26 T.O Ihromi, 1993 “ Beberapa Catatan Mengenai Metode Kasus Sengketa yang digunakan dalam Antropologi Hukum” dalam T.O. Ihromi, Editor, Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, hal. 212

(25)

(3) Teori Legal System dari Lawrence M.Friedman.

Lawrence M.Friedman dalam bukunya yang berjudul The Legal Sistem A Social Science Perspective, 1975; menyebutkan bahwa: “ A legal sistem in actual operation is a complex organism in which structure, substance, and culture interact.”27

Agar hukum berperan secara optimal dalam masyarakat diperlukan suatu sistem hukum (legal sistem). Suatu sistem hukum dalam operasionalnya terdiri atas 3 (tiga) komponen/ perangkat yaitu: legal structure/ struktur hukum (berupa lembaga pembentuk dan penegak hukum), legal substance/ substansi hukum (peraturan perundang-undangan/ hukumnya) dan legal culture/ kultur hukum (budaya hukum). Ketiga komponen saling berhubungan dan saling mendukung berjalannya sistem hukum.

Teori Friedman ini sangat bermanfaat untuk menganalisi bekerjanya hukum dalam masyarakat. Dengan demikian sangat relevan digunakan dalam menganalisis permasalahan kedua yang telah dirumuskan, yaitu pelaksanaan putusan pengadilan berkaitan dengan penyelesaian sengketa tanah adat.

b. Konsep

Topik penelitian ini adalah Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Melalui Peradilan Umum (Studi Kasus Sengketa Tanah Adat di Desa Kubutambahan). Untuk lebih memahami topik tersebut, maka terlebih dahulu perlu dijelaskan beberapa konsep. Konsep-konsep yang perlu dijelaskan adalah kata-kata kunci

(26)

yang digunakan dalam judul, konsep sengketa, sengketa adat, konsep tanah adat, dan konsep peradilan umum.

(1) Sengketa dan Sengketa Adat

Istilah sengketa dan konflik sering dipakai secara bergantian dalam berbagai literatur. Sengketa merupakan terjemahan dari kata dispute dalam bahasa Inggris, sedangkan konflik pengindonesiaan dari kosakata conflict dalam bahasa Inggris. Secara konseptual tidak terdapat perbedaan antara sengketa (dispute) dan konflik (conflict). Keduanya merupakan konsep yang sama mendeskripsikan situasi dan kondisi di mana orang-orang sedang mengalami perselisihan yang bersifat faktual maupun perselisihan-perselisihan yang ada pada persepsi mereka saja.28 Tetapi istilah konflik lebih banyak ditemukan dalam kepustakaan ilmu-ilmu sosial dan politik, sedangkan istilah sengketa lebih sering ditemukan dalam kepustakaan hukum, terutama antropologi hukum, sehingga dalam penelitian ini penulis cenderung lebih menggunakan istilah sengketa.

Menurut kamus bahasa Indonesia, sengketa adalah perselisihan, pertikaian, perkara (dalam pengadilan), sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat, pertengkaran.29. Menurut I Ketut Wirta Griadhi, sengketa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat secara umum dapat dibedakandalam dua macam, yaitu:

28 Takdir Rahmadi, 2010, Mediasi, Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan

Mufakat, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal.1

29 Ananda Santoso dan S.Priyanto, 1995, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Penerbit Kartika, Surabaya, hal. 318

(27)

(1) Sengketa hukum (legal disputes), yaitu sengketa yang diselesaikan oleh penduduk atau kelompok dengan menggunakan kekuasaan yang ada padanya;

(2) Sengketa non hukum masih dibedakan dalam dua golongan, yaitu:

a. Sengketa yang berada di bawah hukum artinya sengketa yang tidak diselesaikan melalui proses hukum, seperti misalnya dengan perundingan, sumpah, perkelahian, dan lain-lain.

b. Sengketa yang di luar proses hukum, yaitu yang berkembang dalam bentuk kekerasan yang berulang-ulang dilakukan diantara jkelompok-kelompok. Wujud senketa seperti ini berupa perang kalo terjadi antara dua organisasi politik seperti Negara, sedangkan jika dialkukan diantara dua kelompok dalam satu lingkungan masyarakat berwujud sengketa yang berkepanjangan. Sengketa seperti ini disebut extralegal disputes30.

Selanjutnya I Ketut Wirta Griadhi menyatakan bahwa sengketa adat jelas pula menunjukkan eksistensinya sebagai satu bentuk perselisihan yang terjadi antara dua subyek hukum, disebabkan karena adanya perbenturan kepentingan yang dilandasi oleh pandangan atau pendirian yang berbeda. Ciri yang melekat pada sengketa adat ini ialah ialah adanya satu obyek sengketa yang menyangkut kepentingan adat, terutama yang berhubungan dengan dengan kehidupan kelompok31. Dengan demikian, sengketa adat yang dimaksudkan disini adalah sengketa antara dua subyek hukum yang berobyekkan pada kepentingan adat.

30 I Ketut Wirta Griadhi, 1990, “Beberapa Catatan tentang Sengketa Adat di Bali”, dalam Majalah Ilmiah Kertha Patrika Nomor 50/Maret 1990, hal. 26.

(28)

Dalam konsep ini juga perlu ditambahkan uraian tentang sengketa tanah, sengketa yang menjadi topik bahasan penelitian ini. Sengketa pertanahan ialah proses interaksi antara dua orang atau lebih atau kelompok yang masing-masing memperjuangkan kepentingannya atau objek yang sama, yaitu tanah dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah seperti air, tanaman, tambang juga udara yang berada dibatas tanah yang bersangkutan32. Secara umum ada beberapa macam sifat permasalahan dari suatu sengketa tanah antara lain :33

1. Masalah yang menyangkut prioritas dapat ditetapkan sebagai pemegang hak yang sah atas tanah yang berstatus hak atau atas tanah yang belum ada haknya. 2. Bantahan terhadap sesuatu alasan hak atau bukti perolehan yang digunakan

sebagai dasar pemberian hak.

3. Kekeliruan / kesalahan pemberian hak yang disebabkan penerapan peraturan yang kurang atau tidak benar.

4. Sengketa atau masalah lain yang mengandung aspek-aspek sosial praktis. Alasan sebenarnya yang menjadi tujuan akhir dari sengketa bahwa ada pihak yang lebih berhak dari yang lain atas tanah yang disengketakan oleh karena itu penyelesaian sengketa hukum terhadap sengketa tanah tersebut tergantung dari sifat permasalahannya yang diajukan dan prosesnya akan memerlukan beberapa tahap tertentu sebelum diperoleh sesuatu keputusan. Diakui bahwa permasalahan

31 Ibid.

32

Rusmadi Murad, 1991, Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah, Mandar Maju, Bandung, hal.22

(29)

tanah makin kompleks dari hari kehari sebagai akibat meningkatnya kebutuhan manusia akan tanah. Oleh karena itu pelaksanaan dan implementasi UUPA di lapangan menjadi makin tidak sederhana. Persaingan mendapatkan ruang (tanah) telah memicu konflik baik secara vertikal maupun horizontal yang makin menajam. Menurut Maria S.W. Sumardjono secara garis besar peta permasalahan tanah dikelompokkan 5 yaitu: 34

1. Masalah penggarapan rakyat atas tanah areal perkebunan, kehutanan, proyek perumahan yang ditelantarkan dan lain-lain.

2. Masalah yang berkenaan dengan pelanggaran ketentuan Landerform 3. Ekses-ekses penyediaan tanah untuk keperluan pembangunan 4. Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah

5. Masalah yang berkenaan dengan hak Ulayat masyarakat Hukum Adat.

Secara yuridis, Boedi Harsono dalam bukunya Arie Sukanti Hutagalung, lebih lanjut memperinci masalah tanah yang dapat disengketakan yang terdiri dari: 35

1. Sengketa mengenai bidang mana yang dimaksud 2. Sengketa mengenai batas-batas bidang tanah 3. Sengketa mengenai luas bidang tanah

34

Maria S.W. Sumardjono, 1982, Puspita Serangkum Masalah Hukum Agraria, Liberty, Jogyakarta, hal. 28

35 Ari Sukanti Hutagalung, 2002, Penyelesaian Sengketa Tanah Menurut Hukum yang

(30)

4. Sengketa mengenai status tanahnya: tanah negara atau tanah hak 5. Sengketa mengenai pemegang haknya

6. Sengketa mengenai hak yang membebaninya 7. Sengketa mengenai pemindahan haknya

8. Sengketa mengenai penunjuk lokasi dan penetapannya untuk suatu proyek atau swasta.

9. Sengketa mengenai pelepasan / pembebasan tanah 10. Sengketa mengenai pengosongan tanah

11. Sengketa mengenai pemberian ganti kerugian 12. Sengketa mengenai pembatalan haknya 13. Sengketa mengenai pemberian haknya 14. Sengketa mengenai pencabutan haknya 15. Sengketa mengenai pemberian sertifikatnya

16. Sengketa mengenai alat-alat pembuktian adanya hak/perbuatan liku yang dilakukan dengan sengketa-sengketa lainnya.

Meski demikian perlu disadari bahwa sengketa pertanahan bukanlah hal baru. Namun dimensi sengketa makin terasa meluas di masa kini. Tanah dalam perkembangannya juga telah memiliki nilai baru, bilamana tidak saja dipandang sebagai alat produksi semata melainkan sebagai alat untuk berspekulasi (ekonomi)

(31)

tanah telah menjadi barang dagangan dimana transaksi ekonomi berlangsung dengan pengharapan akan margin perdagangan komoditas yang dipertukarkan itu.

(2) Tanah Adat

Istilah tanah adat bukanlah istilah teknis yuridis, karena istilah tersebut tidak ditemukan dalam peraturan perundang-undangan. Terdapat dua konsep tentang tanah adat, yaitu konsep tanah adat dalam pengertian yang luas dan konsep tanah adat dalam arti sempit. Menurut Mahadi, pada jaman Hindia Belanda semua tanah-tanah yang tidak tunduk kepada hukum Barat adalah tanah adat (tanah hak adat), baik berupa tanah hak ulayat maupun hak milik perseorangan menurut hukum adat. Tanah-tanah adat ini adalah lawan dari tanah dengan “hak eigendom” (hak milik menurut hukum Barat)36

. Sedangkan dalam pengertian yang sempit, tanah adat hanya meliputi tanah-tanah yang dimiliki oleh kesatuan masyarakat hukum adat (persekutuan), yang lazim disebut tanah hak ulayat37. Dalam penelitian ini, konsep tanah adat yang digunakan adalah konsep tanah adat dalam pengertian yang sempit, yaitu tanah yang dikuasai oleh kesatuan masyarakat hukum adat.

Di Bali, salah satu bentuk kesatuan masyarakat hukum adat adalah desa pakraman. Menurut Suasthawa Dharmayuda, tanah-tanah yang dikuasai oleh desa pakraman sebagai kesatuan masyarakat hukum adat (tanah hak ulayat) di Bali

36 Mahadi, 1978, “Kedudukan Tanah Adat Dewasa Ini”, dalam: BPHN, Simposium Undang-undangPokok Agraria dan Kedudukan Tanah-tanah Adat Dewasa Ini”. BPHN-Penerbit Binacipta, hal. 31

(32)

lebih memasyarakat disebut dengan istilah “tanah desa”. Tanah desa inilah yang dalam penelitian ini disebut tanah adat. Dilihat dari subyek yang menguasainya, tanah adat (tanah desa) dapat dibedakan menjadi :

1. Tanah Adat yang dikuasai langsung oleh desa pakraman. Kelompok tanah ini dibedakan lagi menjadi:

a. Tanah Druwe Desa.

Tanah yang termasuk tanah druwe desa antara lain: tanah pasar, tanah kuburan/setra, tanah lapang, dan tanah bukti (yaitu tanah pertanian berupa sawah atau tegalan yang diberikan pada pengurus desa, di Jawa sama dengan tanah bengkok )

b. Tanah Pelaba Pura

Yaitu tanah-tanah yang berasal dari milik Desa yang khusus dipergunakan untuk kepentingan suatu Pura.

2. Tanah Adat yang dikuasai oleh perseorangan atau masing-masing krama desa. Tanah Adat ini adalah tanah milik desa yang diberikan kepada perseorangan atau masing-masing krama desa untuk dimanfaatkan dengan kewajiban memberikan “ayahan” terhadap desa. Kelompok tanah ini dibedakan lagi menjadi :

a. Tanah Pekarangan Desa (PKD), Yaitu berupa tanah tempat krama desa mendirikan pemukiman/ perumahan dengan luas tertentu yang hampir sama untuk setiap keluarga.

(33)

b. Tanah Ayahan Desa (AyDs), Yaitu berupa tanah sawah atau tegalan yang penggarapannya diserahkan kepada masing-masing krama desa.38

(3) Peradilan Umum

Setiap orang memiliki cara-cara sendiri dalam menyelesaikan konflik/sengketa yang dihadapinya. Di dalam masyarakat terdapat 2 (dua) jalur yang diyakini, dipercaya, dan digunakan masyarakat untuk menyelesaikan sengketa (konflik), yaitu: melalui jalur peradilan (litigasi) dan jalur di luar peradilan (non litigasi). Litigasi adalah proses gugatan atas suatu konflik yang diritualisasikan untuk menggantikan konflik yang sesungguhnya, di mana para pihak memberikan kepada seseorang pengambil keputusan dua pilihan yang bertentangan. Litigasi merupakan proses yang sangat dikenal bagi para ahli hukum dengan karakteristik adanya pihak ketiga yang mempunyai kekuatan untuk memutuskan solusi diantara pihak yang bersengketa.39 Penyelesaikan Sengketa dengan jalan litigasi menggunakan sistem perlawanan atau pertentangan (the Adversary Sistem) dengan hasil ada pihak yang menang dan kalah (win-lose solution) dan pihak pemenang akan mengambil segalanya (winner takes all). Tipe ini digunakan oleh para pihak yang terlibat dalam sengketa yang tidak ada kebutuhan untuk melanjutkan kesinambungan hubungan. Lembaga peradilan merupakan pranata dari jalur litigasi sebagai suatu sarana untuk mengakomodasi sengketa-sengketa yang muncul di masyarakat.

38

I Made Suasthawa Dharmayuda, op.cit. hal 40-42.

39 Suyud Margono, 2002, Alternative Dispute Resolution dan Arbitrase: Proses

(34)

Banyaknya masyarakat yang menggunakan jalan litigasi selaras dengan makin berkembangnya penggunaan sistem hukum modern di seluruh penjuru dunia. Penetrasi hukum modern tersebut telah merubah budaya penyelesaian sengketa di masyarakat yang tadinya menggunakan pranata-pranata adat beralih pada litigasi yang bergaya adversary (pertentangan).

Di Indonesia, di samping adanya lembaga peradilan Negara, secara faktual juga terdapat peradilan adat, setidak-tidaknya terdapat lembaga yang melaksanakan fungsi peradilan. Yang tersebut terakhir ini umumnya berlaku pada kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat, seperti desa pakraman di Bali. Secara legal formal, eksistensi peradilan adat terutama diakui pada daerah-daerah dengan otonomi khusus, misalnya pada daerah otonomi khusus Papua, yang diakui berdasarkan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 40.

Secara legal formal Peradilan Negara diatur berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) Pasal 24 ayat (2) dan Undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Pada UUD 1945 Pasal 24 ayat (2) dan UU No.48 tahun 2009 Pasal 18 yang isinya sama dinyatakan bahwa: “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah

40 Pengakuan terhadap adanya peradilan adat di Papua dinyatakan dalam Pasal 50 ayat (2) Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Disebutkan dalam pasal tersebut bahwa di samping kekuasaan kehakiman yang diatuir dalam peraturan perundang-undangan RI, di Papua diakui adanya peradilan adat di dalam masyarakat hukum adat tertentu.

(35)

Konstitusi”. Berdasarkan rumusan diatas terdapat 4 (empat) lingkungan peradilan di Indonesia, antara lain adalah :

1. Lingkungan Peradilan Umum, meliputi sengketa perdata dan pidana.

2. Lingkungan Peradilan Agama, meliputi hukum keluarga seperti perkawinan, perceraian, dan lain-lain.

3. Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, meliputi sengketa antar warga Negara dan pejabat tata usaha Negara.

4. Lingkungan Peradilan Militer, hanya meliputi kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh militer.

Lingkungan Peradilan diatas tersebut memiliki struktur tersendiri yang semuanya bermuara kepada Mahkamah Agung (MA). Dibawah Mahkamah Agung terdapat Pengadilan Tinggi untuk Peradilan Umum dan Peradilan Agama di tingkat ibukota Provinsi. Disini, Pengadilan Tinggi melakukan supervisi terhadap beberapa Pengadilan Negeri, untuk Peradilan Umum dan Peradilan Agama ditingkat Kabupaten/Kotamadya.

Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1984 tentang Peradilan Umum, sebagaimanan telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2004, pada pasal 2 didefinisikan bahwa yang dimaksud Peradilan Umum adalah salah satu

pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya. Peradilan

umum meliputi:

1. Pengadilan Negeri, berkedudukan di ibukota kabupaten/kota, dengan daerah hukum meliputi wilayah kabupaten/kota

(36)

2. Pengadilan Tinggi, berkedudukan di ibukota provinsi, dengan daerah hukum meliputi wilayah provinsi.

Pengadilan Negeri merupakan Pengadilan Tingkat Pertama untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pidana dan perdata bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya. Pengadilan Tinggi merupakan Pengadilan Tingkat Banding terhadap perkara-perkara yang diputus oleh Pengadilan Negeri, sedangkan Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Negara Tertinggi.

1.6.2. Kerangka Berpikir

Berdasarkan pemaparan landasan teori tersebut di atas, dapat dijelaskan alur pikir penelitian sebagai bagan berikut ini. Teori pluralisme hukum menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat terdapat pilihan-pilihan dalam penyelesaian sengketa, terlebih-lebih untuk sengketa terhadap tanah adat yang nyata-nyata diatur oleh lebih dari satu system hukum yaitu hukum Negara (UUPA) dan hukum adat. Hal ini memberi peluang bagi para pihak yang bersengketa untuk memilih mekanisme-mekanisme penyelesaian sengketa yang tersedia, apakah memilih penyelesaian menurut hukum adat ataukah memilih mekanisme hukum Negara, dalam hal ini melalui jalur peradilan umum. Walaupun secara teoritis (das sollen) penyelesaian sengketa adat lebih ideal dilakukan dengan menggunakan mekanisme penyelesaian menurut hukum adat dibandingkan dengan mekanisme hukum Negara, tetapi dalam kenyataan (das sein) ditemukan fenomena menarik di mana sengketa tanah adat justru diselesaikan melalui peradilan umum (mekanisme hukum Negara).

(37)

Permasalahan yang timbul sehubungan dengan fenomena tersebut adalah: (1) faktor-faktor apa yang mempengaruhi para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui peradilan umum, dan (2) bagaimana pelaksanaan putusan pengadilan dalam penyelesaian sengketa tersebut. Untuk mengkaji permasalahan pertama, digunakan teori Pilihan dalam Penyelesaian Sengketa dari Gluckman, sedangkan permasalahan kedua akan dibahas dengan menggunakan Teori The Legal Syatem dari Lawrence M. Friedman sebagai pisau analisis. Dari hasil penelitian akan diketahui efektivitas penyelesaian sengketa melalui jalur peradilan umum. Kata “efektivitas” bersifat netral, artinya bisa efektif dan dapat pula tidak efektif. Penyelesaian tersebut dapat dipandang efektif apabila keputusannya dapat dilaksanakan dan dapat diterima oleh para pihak yang bersengketa.

Kerangka berpikir yang diuraikan di atas, apabila digambarkan dalam bentuk bagan, tampilannya akan tampak seperti terlihat pada Bagan 1 berikut ini.

(38)

Bagan 1 Kerangka Berpikir SENGKETA TANAH ADAT EFEKTIVITAS PENYELESAIAN SENGKETA FAKTOR-FAKTOR

YANG MEMPENGARUHI PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA TEORI PILIHAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA (GLUCKMAN) TEORI THE LEGAL SYSTEM (FRIEDMAN) TEORI PLURALISME HUKUM (JOHN GRIFFITHS) MEKANISME HUKUM ADAT MEKANISME HUKUM NEGARA PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN PENYELESAIAN MELALUI PERADILAN UMUM

(39)

1.7. Metode Penelitian. 1.7.1. Jenis Penelitian

Soerjono Soekanto membedakan penelitian hukum dari sudut tujuannya menjadi dua, yaitu penelitian hukum normatif dan penelitian hukum empiris. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang mengkaji hukum yang dikonsepkan sebagai norma atau kaidah yang berlaku dalam masyarakat, dan menjadi acuan perilaku orang. Norma hukum yang berlaku itu dapat berupa norma hukum positif tertulis bentukan lembaga perundang-undangan (undang-undang dasar, kodifikasi, (undang-undang-(undang-undang, peraturan pemerintah, dan seterusnya), dan norma hukum tertulis bentukan lembaga peradilan (judge made law), serta norma hukum tertulis buatan pihak-pihak yang berkepentingan (kontrak, dokumen hukum, laporan hukum, catatan hukum, dan rancangan undang-undang).41 Sedangkan penelitian hukum empiris yaitu penelitian tentang fakta-fakta sosial masyarakat atau fakta tentang berlakunya hukum di tengah-tengah masyarakat.42 Penelitian hukum empiris ini disebut pula dengan penelitian hukum sosiologis (socio legal research) yang dalam pelaksanaannya memanfaatkan metode ilmu-ilmu sosial.43

41 Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, hal. 51.

42 Bahder Johan Nasution, 2008, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar Maju,

Bandung, hal. 135

43 Ronny Hanitijo Soemitro, 1983, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal. 1

(40)

Penelitian ini tidak hanya meneliti apa yang terdapat dalam tataran norma, tetapi bagaimana norma tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris/sosiologis (yuridis empiris), karena yang menjadi pokok perhatian dalam penelitian ini adalah bekerjanya hukum di masyarakat yang dapat diamati dari adanya perilaku (behavior) masyarakat dalam penyelesaianan sengketa tanah adat.

1.7.2. Sifat Penelitian

Sifat penelitian hukum dapat dibedakan dalam tiga macam, yaitu yang bersifat exploratory (menjelajah), descriptive analytic (melukiskan dan menganalisa) dan explanatory (menjelaskan)44

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Penelitian dekskriptif (descriptive research), yaitu penelitian yang bermaksud membuat pemeriaan (penyanderaan) secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu, yang menjadi obyek penelitian.45 Dalam penelitian ini penulis ingin menggambarkan serta mengkaji fakta-fakta terkait dengan proses penyelesaian sengketa tanah adat melalui jalur peradilan umum dalam kasus sengketa tanah adat di Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.

44 Hilman Hadikusuma, 1995, Metode Pembuatan Kertas Kerja atau Skripsi Ilmu

Hukum, Mandar maju, Bandung, hal. 10

45 Usman, Husaini, dan Akbar, Purnomo Setiady, 2003, Metode Penelitian Sosial, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal 4

(41)

1.7.3. Jenis Data dan Sumber Data

a. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil penelitian lapangan (field research), sedangkan data sekunder diperoleh melalui hasil penelitian kepustakaan (library research).

b. Sumber Data

Data primer bersumber dari hasil penelitian langsung di lapangan. Sumber data lapangan berupa informan dan responden yang memberikan keterangan terkait dengan pokok permasalahan yang diteliti. Sedangkan data sekunder diperoleh dari penelitian kepustakaan, baik yang berupa bahan-bahan hukum maupun non hukum. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer, sekunder, maupun tersier. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan buku yang sifatnya mengikat (hukum positif) dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan obyek penelitian. 46 Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas, terutama berupa peraturan perundang-undangan. Perundang-undangan yang dikaji dalam penelitian ini antara lain adalah:

(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

(2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria,

46 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, 2004, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 118.

(42)

(3) Undang-Undang Nomor 2 tahun 1984 tentang Peradilan Umum, sebagaimanan telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2004. (4) Undang-Undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung,

sebagaimanan telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 (Perubahan Pertama) dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 (Perubahan Kedua).

(5) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, sebagaimana telah diganti dengan Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

(6) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. (7) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif

Penyelesaian Sengketa,

(8) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran tanah, (9) Perda Provinsi Bali Nomor 3 tahun 2001 tentang Desa Pakraman

sebagaimanan telah diubah dengan Perda Nomor 3 tahun 2003.

Bahan hukum sekunder adalah bahan-bahan yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer, seperti rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum, dan seterusnya.47 Bahan-bahan hukum sekunder dapat berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokmen resmi. Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini diambil atau diperoleh dari buku-buku (text book), artikel, hasil-hasil

47 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, 2006, Penelitian Hukum Normatif, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 13.

(43)

penelitian, baik berupa Tesis maupun Disertasi yang berkaitan dengan penelitian ini. Sedangkan bahan hukum tersier yang dipergunakan berupa kamus hukum.

1.7.4. Teknik Pengumpulan Data

Karena kasus sengketa tanah adat di Kubutambahan yang dijadikan obyek penelitian sudah lama terjadi, maka tidak mungkin data primer dapat dikumpulkan dengan teknik pengamatan (observasi) di lapangan. Jalan keluarnya adalah data primer dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara (interview) dengan pihak-pihak yang mengetahui peristiwanya (informan) atau bertanya pada pihak yang mengalami langsung peristiwa tersebut (responden). Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data primer adalah pedoman wawancara (interview guide) dan catatan lapangan. Pedoman wawancara disiapkan sebelumnya48 berisi sejumlah pertanyaan yang dapat dikembangkan di lapangan sesuai dengan situasi dan kondisi saat wawancara. Hasil wawancara kemudian dicatat dalam catatan lapangan. Catatan lapangan dibuat dengan sistem kartu berupa catatan-catatan hasil wawancara dengan informan atau responden yang isinya mengenai informasi yang dijaring, waktu pelaksanaan wawancara (hari, tanggal, jam), tempat wawancara dan identitas informan atau responden. Pedoman wawancara dan catatan lapangan ini diperlukan untuk mencegah kesesatan-kesesatan yang mungkin timbul dalam wawancara sebagaimana

48 Dihubungkan dengan pendapat Amiruddin dan Zainal Asikin yang membedakan wawancara menjadi 2, yaitu wawancara berencana (standardized interview) dan wawancara tidak berencana (unstandardized interview). Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara berencana. Wawancara berencana adalah suatu wawancara yang disertai dengan daftar pertanyaan yang disusun sebelumnya. Lihat: Amiruddin dan H. Zainal Asikin, op.cit, hal. 84

Referensi

Dokumen terkait

Peredaran darah ibu dipengaruhi oleh beberapa factor: a. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retro -

Dosen koordinator menyerahkan nilai kepada bagian pengajaran, setelah semua peralatan dikembalikan dengan lengkap oleh praktikan.. DAFTAR

Objek pada penelitian ini adalah masyarakat yang membeli buah jeruk impor di BNS yang merupakan salah satu pasar moderen di Kota Palu yang menyediakan buah jeruk

Upaya pelestarian dan pemeliharaan lingkungan agar terbebas dari limbah yaitu dengan cara pengolahan limbah dengan pola 3R (Wohyono, 2001). Pola 3R terdiri

Alasan utama dipilihnya bunglon sebagai sumber ide untuk berkarya, karena bunglon merupakan hewan reptil yang memiliki wajah ekspresif seperti manusia dan dapat merubah

Sedangkan pada kondisi KHDTK ULM tutupan tajuk pohon di lokasi penelitian tutupan tajuknya sedang sehingga tumbuhan pasak bumi tersebut tumbuh mendekati pohon

Dari skala liekert di atas dapat disimpulkan bahwa responden merngakui bahwa Saya kesal jika pembawa acara MANTAP menggunakan kata- kata yang sulit dimengerti, karena

Sesuai ketentaun Pasal 1 ayat (8) Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Desa adat Di Bali menyebutkan bahwa Desa Adat adalah kesatuan masyarakat