• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH SIMANTEK ISSN Vol. 5 No. 2 Mei 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL ILMIAH SIMANTEK ISSN Vol. 5 No. 2 Mei 2021"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

125

HUBUNGAN PENYULUHAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU TERHADAP PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) PADA SISWI KELAS 3

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 1 PADANG LAWAS TAHUN 2019

1SYAKINAH AMILINA SIREGAR, 2SITI MIRHALINA 1,2UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

1[email protected]

ABSTRACT

Breast cancer is one of frightening cancer for women around the world. It is mostly found at a young age, there are even girls aged fourteen having tumors in their breasts that can potentially become cancerous if not detected early.

SADARI (Self Breast Examination) is an examination for woman to detect breast cancer by looking for lumps or abnormalities in breast itself. Health education as primary and secondary prevention efforts in breast cancer has an important role to increasing people knowledge. This study aims to determine the relationship of health education with knowledge and behavior level towards breast self examination in grade 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas students in 2019. This research type is experimental with pre-experiment design and one pretest-posttest design group type. The research sample was obtained using total sampling technique totaling 120 grade 3 students that inclusion criteria. Data analysis using Wilcoxon analysis. Knowledge and behavior level of female students was significantly different before and after counseling with p = 0,000 (p <0.05). A relationship was found between counseling and the knowledge and behavior level.

Keywords : Knowledge, Behavior, SADARI

PENDAHULUAN

Kanker payudara merupakan jenis kanker yang sangat menakutkan bagi perempuan di seluruh dunia, juga di Indonesia. Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker serviks. Kasus kanker payudara lebih banyak terjadi di daerah kurang berkembang (883.000 kasus) dibandingkan dengan daerah yang lebih maju (794.000 kasus). Menurut data GLOBOCAN (IARC) tahun 2012, diketahui bahwa insidens kanker payudara menempati urutan pertama kasus baru dan kematian akibat kanker, yaitu sebesar 43,3% dan 12,9% pada penduduk perempuan di dunia. Penderita kanker payudara telah banyak ditemukan pada usia muda, bahkan tidak sedikit remaja putri usia 14 tahun menderita tumor di payudaranya, dimana tumor dapat berpotensi menjadi kanker bila tidak terdeteksi lebih awal. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, bahwa terdapat 13 kasus (4,2%) dari 312 kasus kanker payudara yang diteliti menyerang usia 13-25 tahun. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian di Hope Clinic Medan, dari 78 penderita kanker payudara terdapat diantaranya 6 kasus (7,8%) yang menyerang usia 15-25 tahun. Pemerintah Indonesia khususnya departemen kesehatan cukup andil untuk mencegah peningkatan mortalitas ataupun morbiditas dari penyakit kanker payudara, sehingga terwujudnya kualitas hidup yang lebih baik. Dalam hal ini, salah satu program nasional pemerintah adalah pemeriksaan payudara sendiri. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) merupakan pemeriksaan yang bisa dilakukan setiap wanita untuk mendeteksi kanker payudara dengan mencari benjolan atau kelainan yang tidak normal pada payudara sendiri. Berdasarkan hasil penelitian dari Putri pada tahun 2015 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bahwa persepsi manfaat dari SADARI menunjukkan SADARI memiliki manfaat tinggi sebanyak 74,2% sebagai skrining awal terhadap terjadinya kanker payudara. Penyuluhan atau pelatihan kesehatan sebagai upaya pencegahan primer dan sekunder pada kanker payudara memiliki peranan penting dalam meningkatkan pengetahuan bagi masyarakat. Dengan adanya penyuluhan kesehatan, diharapkan akan mampu meningkatkan

(2)

126

pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam upaya deteksi dini kanker payudara dengan cara melakukan SADARI. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Shinta Arini pada tahun 2016 menunjukkan bahwa :

1. Rata-rata keterampilan remaja putri dalam melakukan SADARI di SMA Kartikatama Metro sebelum dilakukan penyuluhan adalah sebesar 49,53 dengan standar deviasi 18,239 dan sesudah penyuluhan adalah sebesar 77,88 dengan standar deviasi 13,234.

2. Pada hasil uji t-test menunjukkan bahwa ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap keterampilan remaja putri dalam melakukan SADARI (p- value 0,000<α0,05).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni pada tahun 2015 di Sumatera Barat, menunjukkan tingkat pengetahuan responden tentang SADARI yaitu sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang, separuh responden tidak pernah mendapatkan informasi tentang SADARI. Separuh responden yang pernah mendapatkan informasi tentang SADARI, sebagian besar dari keluarga atau teman dan hanya sebagian kecil yang mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan. Masih minimnya wanita Indonesia, khususnya remaja dalam melakukan SADARI, dilatar belakangi oleh masih banyak remaja Indonesia belum peka terhadap perawatan payudaranya sendiri, juga dilatar belakangi oleh kurangnya informasi dan kemauan untuk menggali informasi mengenai pencegahan kanker payudara ini. Bukan hanya itu, teknik SADARI masih awam, karena masih sedikit jumlah wanita yang rutin melakukan SADARI.

Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan penyuluhan kesehatan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku terhadap pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) pada siswi kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian experimental. Desain penelitian ini menggunakan rancangan pra-experiment dengan tipe one group pretest-posttest design, dimana rancangan ini tidak ada kelompok pembandingnya (kontrol) tetapi dilakukan observasi pertama (pretest) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan setelah adanya eksperimen (penyuluhan). Penelitian ini dilakukan di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas. Penelitian dimulai dari mencari studi literatur sampai pengolahan data yaitu mulai bulan April-Desember 2019. Besar sampel penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik total sampling. Jumlah populasi siswi kelas 3 di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas adalah 120 siswi. Seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi termasuk ke dalam sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah siswi-siswi kelas 3 yang memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Kriteria Inklusi a. Siswi yang hadir

b. Bersedia menjadi responden

c. Dapat memahami informasi yang diberikan d. Sehat fisik dan mental.

2. Kriteria Ekslusi

a. Responden yang mengundurkan diri di tengah-tengah proses penelitian.

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini telah mendapat persetujuan etik penelitian kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara No: 316/KEPK/FKUMSU/2019. Penelitian dilakukan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilakukan pada tanggal 6 Desember 2019 untuk pembagian informed consent pada calon responden dan orangtua responden.

Pertemuan kedua dilakukan keesokan harinya pada tanggal 7 Desember 2019 untuk penyuluhan dan pembagian kuesioner. Pertama, kuesioner pre-test dibagikan dan langsung diisi oleh responden sebelum penyampaian materi penyuluhan. Selanjutnya memberikan penyuluhan dan teknik melakukan SADARI. Setelah selesainya penyuluhan, para responden mengisi kuesioner post-test kembali. Secara keseluruhan responden yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 110 orang setelah memenuhi kriteria inklusi, seperti yang telah dijelaskan di metode penelitian.

(3)

127

Analisis Univariat Usia

Hasil penelitian pada responden diperoleh distribusi frekuensi usia responden adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia Usia Responden (Tahun) Frekuensi (n) Persen (%) 13 6 5.5 14 54 49.1 15 50 45.5 Total 110 100.0

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa urutan usia responden yang terbanyak adalah responden yang berusia 14 tahun yang berjumlah 54 orang (49,1%), usia 15 tahun dengan jumlah 50 orang (45,5%), dan usia 13 tahun dengan jumlah 6 orang (5,5%).

Pengetahuan Remaja Putri Tentang SADARI Sebelum Dilakukan Penyuluhan

Hasil penelitian pada responden diperoleh distribusi frekuensi pengetahuan responden sebelum dilakukan penyuluhan adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri Tentang SADARI Sebelum Dilakukan Penyuluhan Pengetahuan

Responden Frekuensi (n) Persen (%)

Baik 5 4.5

Cukup 59 53.6

Kurang 46 41.8

Total 110 100.0

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 5 orang (4,5%), responden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 59 orang (53,6%), dan responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 46 orang (41,8%).

Pengetahuan Remaja Putri Tentang SADARI Sesudah Dilakukan Penyuluhan

Hasil penelitian pada responden diperoleh distribusi frekuensi pengetahuan responden sesudah dilakukan penyuluhan adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri Tentang SADARI Sesudah Dilakukan Penyuluhan Pengetahuan

Responden Frekuensi (n) Persen (%)

Baik 57 51.8

Cukup 44 40.0

Kurang 9 8.2

Total 110 100.0

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 57 orang (51,8%), responden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 44 orang (40,0%), dan responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 9 orang (8,2%).

(4)

128

Kemampuan/Perilaku Remaja Putri Dalam Melakukan SADARI Sebelum Dilakukan Penyuluhan

Hasil penelitian pada responden diperoleh distribusi frekuensi kemampuan/perilaku responden sebelum dilakukan penyuluhan adalah sebagai berikut :

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kemampuan/Perilaku Remaja Putri Dalam Melakukan SADARI Sebelum Dilakukan Penyuluhan

Melakukan

SADARI Frekuensi (n) Persen (%)

Mampu

melakukan 0 0

Tidak mampu

melakukan 110 100

Total 110 100.0

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa seluruh responden sebanyak 110 orang tidak mampu melakukan SADARI.

Kemampuan/Perilaku Remaja Putri Dalam Melakukan SADARI Sesudah Dilakukan Penyuluhan

Hasil penelitian pada responden diperoleh distribusi frekuensi kemampuan/perilaku responden sesudah dilakukan penyuluhan adalah sebagai berikut :

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kemampuan/Perilaku Remaja Putri Dalam Melakukan SADARI Sesudah Dilakukan Penyuluhan

Melakukan

SADARI Frekuensi (n) Persen (%)

Mampu melakukan 99 90.0 Tidak mampu melakukan 11 10.0 Total 110 100.0

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa sebanyak 99 orang (90,0%) mampu melakukan SADARI dan sebanyak 11 orang (10,0%) tidak mampu melakukan SADARI.

Analisis Bivariat

Analisis untuk mengetahui pengaruh penyuluhan tentang SADARI terhadap tingkat pengetahuan dan perilaku siswi dalam melakukan SADARI berdasarkan uji Wilcoxon, karena data yang digunakan tidak berdistribusi normal. Dengan hipotesis yaitu :

Ho : Tidak terdapat hubungan penyuluhan kesehatan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku terhadap SADARI. Ha : Terdapat hubungan penyuluhan kesehatan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku terhadap SADARI.

Dengan dasar pengambilan keputusan jika nilai signifikansi atau Sig. (2- tailed) >0,05 maka Ho diterima dan sebaliknya jika nilai signifikansi atau Sig. (2- tailed) <0,05 maka Ho ditolak.

Analisis Hasil Uji Wilcoxon Pengetahuan Sebelum Dan Sesudah Mendapatkan Penyuluhan

Tabel 6. Hasil Uji Wilcoxon Pengetahuan Sebelum Dan Sesudah Mendapatkan Penyuluhan Z-Hitung P

(5)

129

Dengan uji Wilcoxon, diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05), yang bermakna terdapat perbedaan antara pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan. Sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak artinya “terdapat hubungan penyuluhan kesehatan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku terhadap SADARI”.

Analisis Hasil Uji Wilcoxon Perilaku Sebelum Dan Sesudah Mendapatkan Penyuluhan

Tabel 7. Hasil Uji Wilcoxon Perilaku Sebelum Dan Sesudah Mendapatkan Penyuluhan Z-Hitung P

-8,723 0,000

Dengan uji Wilcoxon, diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05), yang bermakna terdapat perbedaan antara perilaku sebelum dan sesudah penyuluhan. Sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak artinya “terdapat hubungan penyuluhan kesehatan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku terhadap SADARI”.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan, pengetahuan siswi dalam kategori baik berjumlah 5 orang (4,5%). Setelah dilakukan penyuluhan, pengetahuan siswi dalam kategori baik meningkat menjadi 57 orang (51,8%). Pengetahuan yang kurang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya latar belakang sebagai siswi SMP yang belum pernah mendapat informasi dan pendidikan kesehatan sebelumnya mengenai SADARI di sekolah.

Hal ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan Rizka Damayanti pada tahun 2017 yang menunjukkan bahwa 92% siswi memiliki pengetahuan dalam kategori kurang. Sedangkan setelah diberikan penyuluhan kesehatan, 93.2% siswi memiliki pengetahuan dalam kategori baik. Pada penelitian ini didapatkan bahwa setelah diberikan penyuluhan kesehatan siswi mampu menjawab pertanyaan pengetahuan tentang SADARI dalam aspek tujuan SADARI, waktu pelaksanaan SADARI, serta mengenai teknik dan langkah SADARI. Penelitian Reza Fitryesta tahun 2016 juga menunjukkan bahwa pengetahuan siswi sebelum diberikan penyuluhan, sebagian besar berpengetahuan cukup yaitu sebesar 46%.

Namun terjadi peningkatan setelah dilakukan penyuluhan yaitu sebesar 67,5% siswi berpengetahuan baik.

Terjadi peningkatan yang bermakna dari kategori kurang menjadi kategori baik dengan hasil uji statistik Wilcoxon sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan kesehatan diperoleh nilai p=0,000 karena p<0,05 hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) terhadap pengetahuan siswi di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas. Pengetahuan merupakan hasil tahu melalui proses sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, kulit dan lidah). Hasil pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Kemudian sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga) dan indra penglihatan (mata). Serta pengetahuan seseorang mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Dalam Notoatmodjo pada tahun 2010 menekankan bahwa ada berbagai macam cara yang dapat meningkatkan pengetahuan siswi tentang pemeriksaan payudara sendiri, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan. Melalui pendidikan kesehatan tentang pemeriksaan payudara sendiri maka akan terjadi transfer informasi kepada siswi dan mereka akan melakukan penginderaan terhadap informasi tersebut sehingga informasi yang dimiliki bertambah dan akhirnya pengetahuan mereka tentang SADARI dapat meningkat.

Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon sebelum dan sesudah diberikan teknik pelaksanaan SADARI diperoleh nilai p=0,000 karena p<0,05 hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan dan teknik pelaksanaan pemeriksaan payudara sendiri terhadap perilaku siswi di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas.

Sebelum diberikan penyuluhan kesehatan dan teknik pelaksanaan tentang SADARI, didapatkan bahwa seluruh siswi tidak mampu melakukan SADARI. Setelah peneliti memberikan intervensi berupa penyuluhan kesehatan dan teknik pelaksanaan tentang SADARI, hasil penelitian menunjukkan 90,0% siswi mampu melakukan praktik SADARI.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian responden belum mengetahui benar cara melakukan SADARI yang sesuai dengan prosedur yang ada. Hal ini dikarenakan selama ini belum pernah dilakukan penyuluhan kesehatan dan teknik pelaksanaan tentang SADARI pada siswi di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas. Oleh sebab itu, pengetahuan responden yang kurang tentang SADARI berdampak pada perilaku melakukan SADARI.

(6)

130

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Shinta Arini dan Rilyani pada tahun 2016 menunjukkan bahwa ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap keterampilan remaja putri dalam melakukan SADARI.

Seseorang dapat mempelajari sesuatu dengan lebih baik apabila menggunakan lebih dari satu indra ketika menerima penyuluhan. Semakin banyak panca indra yang digunakan maka akan semakin jelas pula pengertian atau pemahaman yang diperoleh sehingga siswi mampu melakukan praktik SADARI dengan terampil. Penggunaan metode demonstrasi dapat dilakukan apabila tersedia alat peraga sehingga memudahkan pemahaman, dalam hal ini indra mata memiliki kemampuan 75%- 87% untuk dapat menangkap suatu informasi dan disampaikan ke otak. Salah satu strategi untuk perubahan perilaku adalah pemberian informasi untuk meningkatkan pengetahuan sehingga timbul kesadaran yang pada akhirnya orang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuannya tersebut. Salah satu upaya pemberian informasi yang dapat dilakukan adalah penyuluhan. Perubahan sikap pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan keyakinan atau kepercayaan yang didapatkan dari hasil penginderaan, yang salah satunya didapatkan melalui pendidikan atau proses belajar.

KESIMPULAN

1. Secara umum, siswi kelas 3 di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas sama sekali tidak mengetahui tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), sehingga seluruh remaja putri kelas 3 tersebut tidak mampu melakukan SADARI.

2. Kemampuan/perilaku siswi kelas 3 di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sesudah dilakukan penyuluhan dan teknik pelaksanaan SADARI, responden yang mampu melakukan SADARI berjumlah 99 orang (90,0%) dan responden yang tidak mampu melakukan SADARI berjumlah 11 orang (10,0%).

3. Pengetahuan siswi kelas 3 di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebelum dilakukan penyuluhan dan teknik pelaksanaan SADARI, responden yang memiliki pengetahuan baik berjumlah 5 orang (4,5%), pengetahuan cukup berjumlah 59 orang (53,6%) dan pengetahuan kurang berjumlah 46 orang (41,8%).

4. Pengetahuan siswi kelas 3 di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Padang Lawas tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sesudah dilakukan penyuluhan dan teknik pelaksanaan SADARI, responden yang memiliki pengetahuan baik berjumlah 57 orang (51,8%), pengetahuan cukup 44 orang (40,0%) dan pengetahuan kurang berjumlah 9 orang (8,2%). 5. Dalam penelitian ini didapati nilai p=0,000 (p<0,05) yang bermakna terdapat perbedaan antara pengetahuan dan perilaku

sebelum dan sesudah penyuluhan. Sehingga terdapat hubungan penyuluhan kesehatan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku terhadap pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

SARAN

Bagi Responden

Pelaksanaan penelitian dengan penyuluhan diharapkan dapat menimbulkan kebiasaan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) setiap bulan oleh masing- masing responden.

Bagi MTsN 1 Padang Lawas

Sebaiknya sekolah selalu melakukan sosialisasi tentang kesehatan kepada siswa dan siswi serta bekerjasama dengan petugas kesehatan terutama tentang pemeriksaan SADARI.

Bagi Peneliti Lain

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penyuluhan dengan materi dan media penyuluhan yang berbeda. Dan juga melakukan penelitian lanjutan mengenai penyuluhan dan demonstrasi SADARI dengan melakukan follow up.

(7)

131

REFERENSI

Infodatin (PUSATDATA DAN INFORMASI KEMENTERIAN KESEHATAN RI).2016. Bulan Peduli Kanker Payudara.Diakses darihttp://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/InfoDatin%20Bulan%20Peduli%20Kanker%20Payudara_ 2016.pdf

Azrie. 2010. Prevalensi dan Karakteristik Penderita Kanker Payudara di Departemen Bedah Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2010.

Fransiskus. 2012. Pengaruh Komunikasi Terapeutik Perawat terhadap Kepatuhan Penderita Kanker Payudara dalam Menjalankan Kemoterapi di Hope Clinic Medan.

Nugroho, T. 2011. ASI dan Tumor Payudara. Yogyakarta: Nuha Medika.

Putri DI. 2015. Gambaran Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2015.

Ayu SA, Rilyani R. Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Keterampilan Remaja Putri Dalam Melakukan SADARI Sebagai Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara Di SMA Kartikatama Metro Tahun 2016. Holistik J Kesehat. 2016;10(3):153-158. doi:10.33024/HJK.V10I3.262

Wahyuni D, Edison, Harahap WA. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap terhadap Pelaksanaan SADARI pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Jati. J Kesehat Andalas. 2015;4(1):89-93.

Alini, Indrawati. Efektifitas Promosi Kesehatan Melalui Audio Visual Dan Leaflet Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja Putri Tentang SADARI Di SMAN 1 Kampar Tahun 2018. J Ners Univ Pahlawan. 2018;2(2):1-9.

Damayanti, R. 2017. Pengaruh Pelaksanaan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Terhadap Pengetahuan dan Kemampuan Siswi dalam Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara di SMP Negeri 1 Sibulue Kab. Bone.

Fitryesta, RR. 2016. Pengaruh Penyuluhan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dengan Penggunaan Media Video Terhadap Pengetahuan dan Sikap Deteksi Dini Kanker Payudara Pada Siswi SMA Negeri 1 Sumbawa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2008. Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN: 9792238417- 9789792238419.

Notoatmodjo, S. 2010. Promosi Kesehatan, Teori dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Citra Medika. Maulana. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC.

Gambar

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Putri Tentang SADARI Sebelum Dilakukan Penyuluhan  Pengetahuan         Responden  Frekuensi  (n)  Persen   (%)  Baik  5  4.5  Cukup  59  53.6  Kurang  46  41.8  Total  110  100.0

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara , mengenai hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan

Tanya jawab di kelas Papan tulis, OHP - Wirth, niclaus - Rinaldi munir 5 Perintah pengkondisian (selection) dengan perintah if_endif Mahasiswa mampu memecahkan

Sedangkan yang dimaksud dengan pengeluaran pendapatan adalah biaya-biaya yang hanya akan memberi manfaat dalam periode berjalan, sehingga biaya-biaya yang dikeluarkan ini tidak

Laron (dalam Hutama, 2016) menyebutkan kalau dalam kehidupan sehari-hari, mau tidak mau pasien diabetes mellitus dituntut untuk melakukan berbagai prosedur yang

Berdasarkan draf laporan yang telah diparaf kasubbag umum &amp; keuangan dan Sekretaris menandatangani laporan SAIBA tersebut untuk kemudian diteruskan kepada petugas

Pandangan (persepsi) masyarakat tentang remaja yang mengkonsumsi minuman keras dalam penelitian awal, mereka atau masyarakat khususnya mengatakan bahwa remaja sekarang ini tidak

Berdasarkan karakteristik sifat optik dan sifat listriknya didapatkan bahwa sampel Sp 2 adalah sampel yang terbaik untuk diaplikasikan sebgai bahan aktif sel surya

Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa komunikasi pemasaran merupakan kegiatan atau usaha yang di lakukan oleh sebuah perusahaan guna menyebarluaskan informasi