Strategi Kebijakan Pemerintahan G.W Bush

Teks penuh

(1)

Strategi Kebijakan Pemerintahan G.W Bush Dalam Memerangi Terorisme

Paska Tragedi Penyerangan 9/11

Oleh:

Arita Gloria Zulkifli (1306460961)

Abstract

The September 11th tragedy in New York, Washington DC and Pennsylvania was one of the worst humanity case and terrorism attack that ever happened in The United States even in the world. The attack that was believed was initiated by al-Qaeda an organisation based in Afghanistan had hit The U.S as a superpower country. This paper tries to examine the U.S. re-sponse towards the counter-terrorism based on the 9/11 attack. The aim of this paper is to examine how the administration of G.W Bush initiated and implemented security policies regarding the ter-rorism issue, which was War on Terter-rorism. The analysis focuses on what policy and acts that the Bush’s administration adapted during the worst days post 9/11 tragedy.

Keywords: September 11th, al-Qaeda, policy, security, G.W Bush, War on Terrorism.

Bab 1. Pendahuluan

Latar Belakang

Serangan terhadap gedung World Trade Centre (WTC) dan markas pertahanan Pentagon pada tahun 2001 silam telah meyakinkan stigma Barat terutama Amerika terhadap Islam dan negara Timur-Tengah sebagai ideologi dari kaum teroris. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, telah mem-buktikan bahwa teroris merupakan ancaman serius bagi negara super power seperti Amerika sekalipun. Tragedi tersebut merupakan mimpi buruk bagi Amerika Serikat dengan status yang disandangnya sebagai negara adidaya, dimana sekelompok teroris berhasil membajak empat pe-sawat komersil AS, penyerangan gedung WTC, dsb, dan menghasilkan kerugian yang amat banyak bagi AS.

(2)

tersebut, banyak konspirasi muncul, dari mulai penyerang adalah intelijen Israel, keterlibatan CIA dalam peristiwa ini, hingga hubungan usaha antara keluarga Bush dan Bin Laden selama bertahun-tahun lamanya1. Dengan banyak bermunculannya spekulasi tersebut, pemerintah Amerika Serikat mengambil kebijakan strategisuntuk memerangi terorrism. Hal tersebut merupakan respon atas an-caman teroris yang dianggap tengah mengglobal.

Berdasarkan informasi dan data intelijen, pemerintah AS pada saat itu yang dibawah pemer-intahan Goerge Bush, menetapkan bahwa Osama bin Laden beserta kelompok al-Qaeda adalah pelaku dari penyerangan terhadap AS. Pada 7 Oktober 2001, Amerika menyatakan sikap perang ter-hadap teror, mereka men-cap "terorisme" sebagai musuh yang universal terter-hadap semua bangsa (siapapun bisa dianggap teroris oleh AS, termasuk negara-negara yang tidak bersedia mengikuti ajakan AS untuk membasmi terorisme). Kebijakan yang diambil pemerintah AS berdampak lang-sung secara global. Salah satu kebijakan yang dicanangkan oleh pemerintah AS pada saat itu dalam menghadapi terorisme adalah kebijakan War on Terorrism, dimana kebijakan tersebut dianggap telah merugikan kepentingan umat Islam. Perang terhadap terorisme merupakan sebuah agenda be-sar dalam kebijakan AS. Dengan bergabungnya negara-negara untuk menyatakan perang terhadap terorisme. Upaya menanggulangi aksi ini dilakukan dengan menggunakan cara-cara kekerasan melalui kekuatan militer, dimana tidak terlihat kompromi untuk mencari jalan keluar.

Pada 14 September 2001, 19 negara anggota NATO mengeluarkan sebuah maklumat Artikel 5. Sesuai dengan Artikel 5 dalam akta pendirian NATO, maka sebagai Pakta Pertahanan/Pakta Militer, dengan pasukan profesional dan industri militer yang canggih, yang menganut paham Col-lective Defense, maka serangan terhadap salah satu anggota oleh musuh bersama dari luar kelom-pok, berarti serangan terhadap seluruh kelompok. Bergabungnya negara-negara ini untuk meng-hadapi musuh bersama adalah karena ketidakmampuan melawannya sendiri-sendiri. Serangan 9/11 dianggap serangan terhadap semua anggota NATO. Sehingga War On Terrorism yang dicanangkan Presiden Bush, langsung mendapat dukungan dari sekutunya2.

Dalam menghadapi situasi yang mencekam bagi negara adidaya, tentunya pemerintahan Bush harus bisa cerdik dan jeli dalam melihat kondisi negara dan dunia. Amerika masih dalam tahap tidak aman, dan masih harus terus waspada terhadap serangan susulan atau bentuk teror lain-nya dari kelompok terorisme ataupun negara tertentu. Oleh sebab itu, ada beberapa strategi dan ke-bijakan yang diimplementasikan oleh pemerintahan Bush dalam menghadapi isu terorisme yang sedang marak yang secara khusus menimpa Amerika pada peristiwa 9/11 itu sendiri.

1Brokers, Mathias. (2003). “Konspirai, Teori­teori Konspirasi dan Rahasia”. Jakarta: Publikatama. hal. 88

2 Siagian, Tagor.  STRATEGI FAR ENEMY AL QAEDA DAN JARINGAN MELAWAN AMERIKA SERIKAT,  NATO DAN SEKUTU DALAM PERANG ASIMETRIK DI AFGHANISTAN DAN IRAK, 2001­2011 diakses dari

(3)

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merumuskan bahwa permasalahan yang ingin di-analisa dalam makalah ini adalah mengenai strategi AS melalui kebijakannya dalam memerangi an-caman terorisme. Dari rumusan masalah tersebut, penulis membuat sebuah pertanyaan penelitian, yaitu :

“Bagaimanakah strategi kebijakan AS dalam memberantas terorisme dibawah pemerintahan G.W Bush pasca tragedi September 11 2001?”

Kerangka Pemikiran a. Terorisme

Masalah pertama ketika kita dihadapkan dengan terorisme adalah ketika kita menentukan apa itu dan bagaimana hal tersebut dapat dilihat. Banyak ilmuwan menggambarkan terorisme seba-gai "tindakan berkelanjutan, atau ancaman tindakan, kekerasan oleh sekelompok kecil atau besar untuk tujuan politik yang dilakukan dengan kejam, dan menarik perhatian luas bagi ranah politik dan / atau memprovokasi dengan respon kejam atau tindakkan berkelanjutan.3"

Menurut definisi ini, serangan 9/11 terhadap AS dapat ditandai sebagai tindakan terorisme. Namun, serangan terhadap Amerika Serikat mengungkapkan aspek yang berbeda dari terorisme. Hal ini tidak lagi sebuah kelompok kecil yang bertindak untuk menarik perhatian, tapi jaringan in-ternasional kelompok ekstrimis berafiliasi yang objek utamanya adalah untuk menimbulkan korban. Al-Qaeda berusaha untuk menggulingkan tatanan dunia saat ini, yang ditandai dengan keunggulan Amerika Serikat.

Noam Chomsky mendefinisikan terorisme sebagai ancaman kekerasan untuk menindas atau memaksa untuk tujuan-tujuan politik, baik yang dilakukan oleh negara maupun kelompok-kelom-pok atau perorangan yang melakukan pembalasan atas serangan sebelumnya4.

Pemerintah Amerika Serikat mendefinisikan terorisme sebagai kekerasan terencana bermotif politik terhadap personil non tempur yang dilakukan oleh kelompok sub nasional atau agen rahasia yang bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat. Sedangkan terorisme internasional adalah teror-isme yang melibatkan warga negara atau wilayah lebih dari satu negara5.

3 Kiras, JD. Irregular Warfare: Terrorism and Insurgency. http://www.indianstrategicknowledgeonline.­ com/web/baylis3e_ch09.pdf diakses pada 6 Juni 2016 pukul 00:20 WIB.

4 Chomsky, Noam. (199). “Menguak Tabir Terorisme Internasional”. Bandung: Mizan. hal. 20.

(4)

b. Perang Terhadap Terorisme (War on Terorrism)

Dalam menanggapi serangan teroris 11 September 2001, pemerintahan Bush memberlakukan kebijakan Perang Melawan Teror untuk menggalakkan kebijakan keamanan di dalam negeri dan intervensi militer di luar negeri. Perang Melawan Teror muncul sebagai bingkai ideologi yang kuat. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari antisipasi pemerintahan Bush akan adanya aksi teror susulan. Kampanye ini melibatkan operasi militer terbuka dan terselubung, un-dang-undang keamanan baru, upaya untuk memblokir pendanaan terorisme, dan banyak lagi. AS menyerukan bagi negara-negara lain untuk bergabung dalam perang melawan terorisme meny-atakan slgoannya "either you are with us, or you are with the terrorists” dimana hasilnya, banyak negara-negara yang bergabung dengan kampanye ini6.

Kampanye ini secara terfokus mengarah pada kelompok Al-Qaeda dan jaringan-jaringannya serta negara-negara lain yang dianggap mendukung aksi teror. Walaupun pada masa akhir pemerin-tahan Bill Clinton telah ada rumusan kebijakan pemberantas terorisme, namun sebelum terjadinya peristiwa 9/11 program ini tidak direalisasikan. Aksi 11 September telah merubah banyak hal terutama dalam pemerintahan AS, termasuk dalam kebijakan pertahanan dan keamanan. Hingga saat itu gagasan kampanye War on Terorrism digaungkan secara besar-besaran.

c. Teori Penetrasi dan Intervensi

Serangan 9/11 memperkuat pemerintah AS alam menentukan arah kebijakannya yang lebih nyata di bidang pertahanan dan keamanan yang secara khusus untuk memerangi terorisme. Bangkit-nya ancaman teoisme internasional membuat persoalan politik internasional juga semakin rumit pula. Biasanya, bentuk terorisme adalah penghancuran oleh sebuah negara terhadap negara lainnya, kini, aktor-aktor non-negara seperti kelompok-kelompok jyang mungkin kecil dapat mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap negara yang diserangnya. Fenomena ini dapat dikatikan dengan teori penetrasi dan intervensi yang dikemukakan oleh John T. Rourke dalam bukunya International Politics on the World Stages (1989).

Menurut Rourke, penetrasi dan intervensi adalah proses aktivitas internal seorang aktor in-ternasional terhadap negara lain7. Ia mengemukakan 3 jenis penetrasi, yaitu penetrasi pasif, per-suasif dankoersif. Pada konteks ini, AS cenderung melakukan penetrasi persuasif dimana diyakini AS telah melakukan kegiatan menyebarkan propaganda untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari negara lain, misalnya propaganda AS terhadap Iran mengenai fasilitas pengembangan nuklir. Selain itu, penetrasi lainnya adalah penetrasi koersif. Penetrasi koersif adalah pilihan terakhir dari

6 https://www.globalpolicy.org/war­on­terrorism.html diakses pada 7 Juni 2016 pukul 00:56 WIB.

(5)

sebuah negara untuk menjalankan kebijakan luar negerinya, yaitu dengan menggunakan kekuatan bersenjata.

Bab 2. Pembahasan

a. Tragedi 9/11 Sebagai Pukulan yang Keras Terhadap Pemerintahan G.W Bush

Pada tanggal 11 September 2001, 19 militan yang terkait dengan kelompok ekstremis Islam al-Qaeda membajak empat pesawat dan melakukan serangan bunuh diri di Amerika Serikat. Dua dari empat pesawat tersebut diterbangkan ke menara World Trade Center di New York City, dan pesawat ketiga ditabrakkan ke Pentagon di luar Washington DC, dan pesawat keempat jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania. Serangan mengakibatkan banyak korban yang mati dan kehancuran, memicu inisiatif AS untuk memerangi terorisme dan menjadikan inisiatif tersebut mendefinisikan masa pemerintaha presiden George W. Bush. Lebih dari 3.000 orang tewas selama serangan di New York City dan Washington DC, korban tersebut termasuk juga lebih dari 400 petugas polisi dan petugas pemadam kebakaran.

Pada tanggal 11 September 2001, pukul 08:45 di hari Selasa pagi yang cerah, sebuah pe-sawat American Airlines Boeing 767 yang berisi 20.000 galon bahan bakar jet menabrak menara utara World Trade Center di New York. Dampak dari menabraknya pesawat tersebut adalah lubang terbakar dekat lantai 80 hingga 110, dan secara instan membunuh ratusan orang yang terjebak di lantai yang lebih tinggi. Kemudian, 18 menit setelah pesawat hit pertama, kedua Boeing 767 United Airlines Penerbangan 175 muncul dari langit, berbalik tajam ke arah World Trade Center dan men-giris menara selatan dekat lantai 60. Tabrakan itu menyebabkan ledakan besar yang menebarkan pu-ing-puing bangunan terbakar dan jalan-jalan di bawah sekitarnya. Ini menandakan bahwa Amerika sedang diserang.

(6)

lin-tas benua panjang. Segera setelah lepas landas, para teroris meng-komandoi empat pesawat dan mengambil kontrol, mengubah jet komuter biasa menjadi peluru kendali.

Ketika jutaan mata tengah menyaksikan kejadian mencengangkan di New York, American Airlines Penerbangan 77 mengelilingi seluruh pusat kota Washington, DC, dan menabrak sisi barat markas militer Pentagon. Hal tersebut menyebabkan runtuhnya struktural sebagian dari bangunan beton raksasa tersebut. Setidaknya 125 personel militer dan warga sipil tewas di Pentagon, bersama dengan semua 64 orang di atas kapal pesawat tersebut.

Kurang dari 15 menit setelah teroris menyerang pusat militer AS, kembali terjadi serangan di New York ketika menara selatan World Trade Center runtuh dalam awan besar debu dan asap. Baja struktural dari gedung pencakar langit tersebut yang dibangun untuk menahan angin lebih dari 200 mil per jam dan api konvensional besar, tidak bisa menahan panas yang luar biasa yang di-hasilkan oleh bahan bakar jet yang terbakar. Pada 10:30, menara lainnya Trade Center runtuh. Ham-pir 3.000 orang tewas di World Trade Center dan sekitarnya, termasuk 343 petugas pemadam ke-bakaran dan paramedis, 23 petugas polisi New York City dan 37 petugas polisi Port Authority yang sedang berjuang untuk menyelesaikan evakuasi bangunan dan menyelamatkan pekerja kantor yang terperangkap di lantai yang lebih tinggi. Hanya enam orang di menara World Trade Center yang pada saat runtuhnya mereka selamat. Hampir 10.000 orang dirawat karena luka-luka yang parah.

Pada 07:00, Presiden George W. Bush, yang telah menghabiskan hari dengan berkeliling ke seluruh negeri demi keamanan, kembali ke Gedung Putih. Pada 09:00, ia menyampaikan pidato melalui televisi dari Oval Office, menyatakan, "Serangan teroris bisa mengguncang fondasi bangu-nan terbesar kami, tetapi mereka tidak dapat menyentuh dasar Amerika. Tindakan ini menghan-curkan baja, tetapi mereka tidak bisa mempenyokkan tekad baja Amerika. "Dalam referensi untuk respon militer AS akhirnya ia menyatakan," Kami tidak akan membuat perbedaan antara teroris yang melakukan tindakan ini dan mereka yang menampung mereka. “

Serangan ini merupakan sebuah pukulan yang amat keras bagi AS terutama bagi pemerinta-han G.W Bush pada saat itu. Meskipun sebelumnya Amerika telah mendefinisikan negara-negara yang dianggapnya menjadi sponsor terorisme internasional, seperti Iran, Irak, Kuba, dll, belum ada bentuk nyata dari Amerika untuk menindak lanjuti negara-negara tersebut. Dengan terjadinya peny-erangan besar-besaran pada 9/11, sontak pemerintahan G.W Bush menggaungkan inisiasi kebijakan keamanan baru terutama untuk anti terorisme dan pembantaian terorisme, yakni War on Terorrism.

b. Kebijakan Amerika Dalam Memerangi Terorisme

(7)

sebuah momentum untuk memulai kampanye War on Terrorism yang diinisiasi oleh AS dan menda-patkan dukungan dari puluhan negara di dunia. Terorisme kini merupakan masalah baru yang sangat menyulitkan bagi AS. Jika kita melihat pada pemerintahan Bill Clinton, ia tidak memasukkan teor-risme di dalam agenda pelaksanaan kebijakannya, termasuk juga pada masa pemerintahan George H.W Bush atau Bush senior. Mereka tidak mengeluarkan kebijakan formal mengenai perlawanan terhadap terorisme, mereka cenderung mengurusi aksi anti Amerika selama masa jabatananya melalui jalur diplomasi bukan melalui senjata8.

Di masa pemerintahan Bil Clinton, kebijakan memerangi terorisme telah dirumuskan namun belum dilaksanakan. Dengan terjadinya peristiwa ini, merupakan momen yang epat bagi AS untuk menyerukan kebijakan perang melawan terorisme yang memang telah di rumuskan oleh presiden sebelumnyaa, yang dinamai dengan War on Terorrism. Pada tahun-tahun sebelumnya, National Se-curity Council (NSC) belum terlalu berpikir akan adanya ancaman terorisme sebab mereka masih terbawa alur perang dingin yang konteksnya berbeda dengan terorisme. Memang War on Terorrism

telah ada sebelum Bush menjabat. Pada April 1996, Clinton mempresentasikan masalah mengenai terorisme di Universitas George Washington dan mendeklarasikan War on Terorrism yang kemu-dian menjadi populer pasca tragedi 9/11 pada pemerintahan Bush.

Dalam melakukan upaya memerangi terorisme secara global, AS memiliki dua objek utama. Yaitu mengenai al-Qaeda yang dianggap sebagai dalang utama dari penyerangan terhadap AS ini, dan yang kedua adalah Jamaah Islamiyah sebuah organisasi yang juga diyakini merupakan jaringan dari al-Qaeda yang beroperasi di kawasan Asia Tenggara. Pasca tragedi 9/11, organisasi al-Qaeda dianggap AS sebagai organisasi yang paling bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan ini. Bin Laden memang aktif dalam memprakarsai kegiatan-kegiatan anarkis dan teror sejak perang di Af-ganistan tahun 1986. Ia merancang sendiri kamp-kamp pelatihan untuk membentuk prajurit-prajurit Arab. Menurut AS, al-Qaeda bertanggung jawab atas kejadian ini juga didasari oleh beberapa peris-tiwa sebelumnya, seperti isyarat dari Bin Laden yang akan menyerang AS, dan berdasarkan data, para 19 militan setidaknya sebagian dari mereka secara rutin bertemu dengan Bin Laden dan mener-ima uang dari al-Qaeda.

Menurut G.W Bush, serangan 11 September telah merubah segalanya, dirinya, termasuk pe-merintahannya bahkan orang-orang AS itu sendiri. Ia merasa bahwa kewajibannya kini adalah un-tuk melindungi rakyatnya. Oleh sebab itu, Bush merubah kebijakan luar negerinya secara radikal, dari yang bersifat new-isoasionisme menjadi intervensionisme yang sifatnya unilateral9. Kampanye War on Terrorism adalah alat yang jitu untuk dapat mengimplementasikan keinginannya tersebut.

8 Clarke,Richard A. (2004). “Menggempar Semua Musuh: Dibalik Perang Amerika Melawan Teroris".  Jakarta: Sinergi Publishing. hal. 70

(8)

Setelah kejadian 11 September tersebut Bush mengeluarkan banyak pernyataan, dan upaya-upaya untuk dapat segera memberlakukan aksi anti teror dan perlindungannya.

Secara geografis, upaya AS memerangi teroris dapat dibagi menjadi dua, yaitu luar dan dalam negeri. Untuk luar negeri, pemerintah banyak menjalankan beberapa strategi seperti peng-galangan masyarakat internasional untuk bersama-sama memerangi teroris dengan melalui jalur diplomasi, hingga melakukan serangan ke tempat-tempat yang dianggap lokasi persembunyian teroris, atau negara-negara yang sekiranya mendukung teroris. Bush melakukan langkah-langkah dalam memerangi terorisme, yaitu dengan diplomasi, militer, finansial, dan investigasi/intelijen.

Upaya diplomasi AS terhadap anggota PBB membuahkan kesuksesan dimana dikeluarkan-nya DK PBB No. 1373 tanggal 28 September 2001 yang berisi bahwa seluruh negara PBB harus memberantas terorisme. Hal ini juga menghasilkan hubungan diplomasi yang harmonis dalam rangka War on Terrorism dengan negara-negara dunia secara simultan, seperti Jepang, Tiongkok, dan Rusia. Pada aspek militer, penggunaan kekuatan militer adalah kebijakan yang paling nyata dalam upaya menjalankan kebijakan dalam memerangi terorisme ini. Namun, kebijakan ini meru-paakan kebijakan ynag paling kontroversial dan mendapat banyak kritik karena dianggap melanggar Piagam PBB tahun 1945 yang berisi larangan untuk menyerang negara lain. Serangan militer yang dilakukan oleh pemerintah Bush junior antara lain mengintervensi Afghanistan.

Selanjutnya, strategi yang digunakan dalam pengimplementasian War on Terrorism adalah dengan melalui jalur finansial10. Cara ini dianggap sebagai strategi penangkalan yang mendasar yang dilakukan dengan mengientifikasi, membongkar, dan merusak jaringan keuangan para teroris. AS yakin bahwa apabila jaringan teroris tidak memiliki dana, maka mereka tidak bisa melakukan aksi-aksi selanjutnya. Dalam perihal finansial, AS mengajak negara-negara pendukung War on Ter-rorism untuk membantu menyelidiki, mengidentifikasi dan membekukan aset semua pihak yang se-cara finansial terkait dalam memfasilitasi aksi teror terhadap AS. Kebijakan ini kemudian di-jalankan oleh 173 negara lainnya selain AS dan berhasil memblokir uang setidaknya sebesar $138 juta.

Tidak kalah penting, strategi investigasi atau intelijen merupakan sarana utama dalam kebi-jakan War on Terrorism. Keberhasilan AS sangat ditentukan oleh kemampuan dari intelijennya. Dengan bekerja sama dan dengan bantuan intelijen internasional, AS berhasil menangkap orang-orang yang dicurigai terkait dengan jaringan terorisme. Pasca tragedi 9/11, aparat intelijen melakukan pemburuan besar-besaran baik di dalam maupun di luar negeri terhadap orang-orang yang dicurigai mempunyai kaitan dengan peristiwa tersebut. Propaganda sebagai salah satu bentuk aktifitas intelijen juga sangat berperan dalam berjalannya kampanye War on Terrorism. Propaganda

(9)

disini salah satunya adalah dengan melakukan pembentukkan image negatif terhadap teroris Islam yang terus berkembang, hingga output nya adalah banyak orang menyamakan Islam sama dengan teroris.

Bab 3. Penutup Kesimpulan

Menurut penulis, serangan terhadap AS oleh kelompok teroris pada September 2001 silam merupakan sebuah titik balik dan pukul yang hebat bagi negara super power seperti Amerika Serikat. Hal ini dapat dibuktikan dengan segeranya diimplementasikan kebijakan War on Terrorism

pada masa pemerintaha G.W Bush paska kejadian tersebut menimpa Amerika. Padahal, jika kita melihat lagi, kebijakan ini telah dirumuskan dan telah dimasukkan dalam agenda dan formulasi ke-bijakan sejak zaman Bill Clinton. Namun, dengan terjadinya peristiwa 9/11 tersebut, merupakan dorongan yang paling nyata dan kuat bagi pemerintahan AS untuk segera memberlakukan kebijakan tersebut demi keamanan dan perlindungan Amerika Serikat dari serangan terorisme.

Untuk menjawab pertanyaan makalah, yaitu “Bagaimanakah strategi kebijakan AS dalam memberantas terorisme dibawah pemerintahan G.W Bush pasca tragedi September 11 2001?”, da-pat disimpulkan bahwa pemerintah Bush dalam memberantas terorisme pasca tragedi 9/11 yaitu dengan menggunakan strategi dan kampanye kebijakan War on Terorrism. Dimana AS mendapat banyak dukungan dari negara-negara di dunia. Pada pengimplementasian kebijakan tersebut, AS menggunakan 4 langkah nyata yang nantinya dapat dikaitkan dengan teori yang dipilih penulis, yaitu dengan berdiplomasi, militer, finansial, dan investigasi/intelijen.

(10)

Total : 3.597 kata.

Referensi Buku

Brokers, Mathias. (2003). “Konspirai, Teori-teori Konspirasi dan Rahasia”. Jakarta: Publikatama.

(11)

Clarke,Richard A. (2004). “Menggempar Semua Musuh: Dibalik Perang Amerika Melawan Teroris". Jakarta: Sinergi Publishing.

Tehranian, Majid. (2003). “The Center Cannot Hold: Terrorism and Global Change”. Singapore: Se-lect Publishing.

Jurnal

Siagian, Tagor. STRATEGI FAR ENEMY AL QAEDA DAN JARINGAN MELAWAN AMERIKA SERIKAT, NATO DAN SEKUTU DALAM PERANG ASIMETRIK DI AFGHANISTAN DAN IRAK, 2001-2011 diakses dari http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20305416-T30929%20-%20Strategi%20far.pdf pada 6 Juni 2016 pukul 23:50 WIB.

Kiras, JD. Irregular Warfare: Terrorism and Insurgency. http://www.indianstrategicknowledgeon-line.com/web/baylis3e_ch09.pdf diakses pada 6 Juni 2016 pukul 00:20 WIB.

Internet

http://object.cato.org/sites/cato.org/files/serials/files/policy-report/2004/7/cpr-26n4-1.pdf diakses pada 8 Juni 2016 pukul 03:58 WIB.

http://nsarchive.gwu.edu/NSAEBB/NSAEBB55/crs20010913.pdf diakses pada 7 Juni 2016 pukul

00:37 WIB.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...