• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIMENSI EPISTEMOLOGI ILMU DALAM PERSPEKT (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DIMENSI EPISTEMOLOGI ILMU DALAM PERSPEKT (1)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

DIMENSI EPISTEMOLOGI ILMU DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Farida Deni Indriana

[email protected]

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

PENDAHULUAN

Manusia hidup di dunia ini memerlukan informasi untuk mengetahui keadaan lingkungan sekitar mereka. Dalam upaya untuk memperoleh informasi, manusia seringkali melakukan komuniksi ataupun cara-cara lain yang bisa digunakan. Salah satu informasi yang didapat dari komunikasi adalah pengetahuan. Pengetahuan sangat diperlukan bagi kehidupan manusia. Karena dapat memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan, tak jarang manusia harus mempelajari Epistemlogi. Epistemologi disebut juga sebagai teori pengetahuan karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu manusia,termasuk ilmu logika.

Epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit karena menekankan kepada kebenaran pengetahuan. Selain itu pengetahuan merupakan hal yang sangat abstrak. Dalam hal ini Epistemologi yang berhubungan erat dengan filsafat dapat diibaratkan seperti pohon dengan rantingnya. Pohon filsafat memiliki cabang-cabang berupa subdisiplin: filsafat ilmu, etika, estetika, filsafat antropologi dan metafisika. Cabang disiplin filsafat ilmu tersebut akhirnya memiliki ranting-ranting dan sub-sub disiplin yakni logika, ontologi, epistemologi dan aksiologi. Namun ruang lingkup filsafat ilmu dapat disederhanakan menjadi tiga pertanyaan mendasar, yakni : apa yang ingin diketahui (ontologi), bagaimana cara memperoleh pengetahuan-pengetahuan (epistemologi), dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi manusia (aksiologi). Ketiganya saling berkaitan dan jika ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi ilmu.

PENGERTIAN EPISTEMOLOGI

Epistomologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat dari apa yang telah difikirkan

(2)

sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Selain kata “episteme” untuk kata pengetahuan dalam bahasa Yunani juga dipakai kata “gnosis”, maka istilah epistemology dalam sejarah pernah juga disebut dengan gnoseologi yang artinya teori pengetahuan. Istilah epistemology Secara terminologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.1

Masalah utama dari epistemologi adalah bagaimana cara memperoleh pengetahuan, Sebenarnya seseorang baru dapat dikatakan berpengetahuan apabila telah sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan epistemologi artinya pertanyaan-pertanyaan epistemologi dapat menggambarkan manusia mencintai pengetahuan. Hal ini menyebabkan eksistensi epistemologi sangat urgen untuk menggambar manusia berpengetahuan yaitu dengan jalan menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang dipertanyakan dalam epistemologi. Makna pengetahuan dalam epistemologi adalah nilai tahu manusia tentang sesuatu sehingga ia dapat membedakan antara satu ilmu dengan ilmu yang lainnya.

Sebagai cabang ilmu filsafat, epistemologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengetahuan manusia. Bagaimana pengetahuan itu pada dasarnya diperoleh dan diuji kebenarannya? Epistemologi juga bermaksud secara kritis mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan serta mencoba memberi pertanggungjawaban secara rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitasnya.2 Epistemologi tidak cukup hanya memberi deskripsi atau paparan

tentang bagaimana proses manusia mengetahui itu terjadi,tetapi perlu membuat penentuan mana yang benar dan mana yang keliru.

Dalam epistemologi peroses terjadinya pengetahuan menjadi masalah yang paling mendasar, sebab hal ini akan mewarnai pemikiran kefilsafatannya. Pandangan yang sederhana dalam memikirkan proses terjadinya pengetahuan yaitu dalam sifatnya baik apriori maupun

aposteriori. Pengetahuan apriori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman indera maupun pengalaman batin. Sedangkan aposteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman.

EPISTEMOLOGI FILSAFAT

Epistemelogi filsafat membicarakan tiga hal, yakni objek filsafat yaitu segala sesuatu yang di pikirkan, cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran pengetahan filsafat.3

1) Objek Filsafat

1 J. Sudarminta, Epistemologi Dasar, (Yogyakarta : Kanisius,2002), hlm. 18. 2 Ibid.

(3)

Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya,yang terdalam. Jika hasil pemikiran itulah sistematika flsafat. Sistematika atau struktur filsafat dalam garis besar terdiri dari ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Isi setiap cabang filsafat di temukan oleh objek apa yang di teliti (pemikirannya),jika ia memikirkan pandidikan maka jadilah filsafat pendidikan, jika yang di pikirkannya adalah hukum maka hasilnya tentulah filsafat hukum, dan begitu juga seterusnya. Seberapa luas yang kemungkinaan dapat di pikirkan? luas sekali.yaitu semua yang ada dan mungkin ada, inilah objek filsafat.

Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sain. Sain hanya meneliti objek yang empiris (nyata),karena formula utama dalam pengetahuan sain ialah buktikan bahwa itu rasional dan tunjukkan bukti empirisnya. Sedangkan filsafat meneliti objek-objek yang abstrak, yang ada dan mungkin ada. Paradigmanya ialah paradigm rasional dan metodenya metode rasional. Ada kalanya pengetahuan filsafat itu berada di level supra rasional,4 oleh karena itu objek abstrak

supra rasional itu dapat diketahui dengan menngunakan rasa, bukan panaca indera dan atau akal rasional.

2) Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat

Semua orang mengakui memiliki pengetahuan. Persoalannya dari mana pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa pengetahuan didapat. Dari situ timbul pertanyaan bagaimana caranya kita memperoleh pengetahuan atau dari mana sumber pengetahuan kita. Pengetahuan yang ada pada kita diperoleh dengan menggunakan berbagai alat yang merupakan sumber pengetahuan tersebut. Dalam hal ini ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain :

A. Empirisme

Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada Yunaninya, pengalamn yang dimaksud ialah pengalaman inderawi.5 Orang sering merasa bahwa pengindraan

adalah alat yang paling vital dalam memperoleh pengetahuan. Memang dalam hidup manusia tampaknya pengindraan adalah satu-satunya alat untuk menyerap segala objek yang ada di luar diri manusia. Bahkan dalam Al-qur’an ada beberapa ayat yang memerintahkan manusia agar menggunakan pancaindranya dalam mencari kebenaran di alam semesta.

ميرك جوز لك نم اهيف انتبنأ مك ضرلا ىلإ اوري ملوأأ

Dan apakah mereka tidak melihat ke bumi, beraakah banyaknya Kami telah tumbuhkan di sana dari setiap pasang 9tumbuhan) yang tumbuh subur lagi bermanfaat. (QS. Al-Syuara :7)6

4 Ibid, hlm. 9

(4)

Manusia mempunyai 5 pengindraan,yaitu indra penglihatan-mata, pendengaran-telinga,penciuman-hidung,peraba-kulit,perasa-lidah. Mata, misal fisiknya melainkan juga warnanya. Selanjutnya gelombang cahaya yang masuk ke retina ternyata mampu diterjemahkan oleh mata sebagai warna dan bentuk benda-benda.7

Meskipun demikian,dalam tilikan ilmuwan Muslim, kapasitas indra-indra kita mempunyai banyak kelemahan sehingga membuat informasi mereka sering tidak bisa dipercaya,kelemahan-kelemahan itu antara lain8 :

a) Indera terbatas,benda yang jauh kelihatan kecil,apakah ia benar-benar kecil? Ternyata tidak. Keterbatasan inderalah yang menggambarkan seperti itu, dari sinin akan terbentuk pengetahuan yang salah.

b) Indera menipu,pada orang yang sakit,gula rasanya pahit,udara akan terasa dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan yang empiris yang salah juga.

c) Objek yang menipu, contohnya fatamorgana dan ilusi. Jadi objek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh indera, ia membohongi indera.

d) Berasal dari indera dan objek sekaligus. Dalam hal ini indera (mata) tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan,dan kerbau itu juga tidak dapat memeperlihatkn badannya secara keseluruhan. Kesimpulannya adalah empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia.

B. Rasionalisme

Secara umum, rasionalisme adalah pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan. Ini berarti bahwa sumbangan akal lebih besar daripada sumbangan indra, sehingga dapat diterima adanya struktur bawaan (ide, kategori). Oleh rasionalisme bahwa mustahillah ilmu dibentuk hanya berdasarkan fakta dan data empiris (pengamatan).

Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indera dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas,bahkan ini memungkinkan dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berfikir. Akal mengatur bahan tersebut sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi fungsi panca indera hanyalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata dan akalnya menghubungkan data-data itu satu dengan lainnya.

6 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah : Pesan, Kesan, dan Keserasian Al Quran, (Jakarta : Lentera Hati.2002), hlm. 367.

7 Zaprulkhan, Filsafat Islam (Sebuah Kajian Tematik), (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2014),hlm. 213.

(5)

C. Intuisi

Intuisi adalah suatu kemampuan yang ada pada diri manusia melalui proses kejiwaan tanpa suatu rangsangan atau stimulus mampu untuk membuat pernyataan berupa pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi tidak dapat dibuktikan seketika atau melalui kenyataan karena pengetahuan ini muncul tanpa adanya pengetahuan lebih dahulu. Dengan demikian, peran intuisi sebagai sumber pengetahuan adalah adanya kemampuan dalam diri manusia yang dapat melahirkan pernyataan-pernyataan berupa pengetahuan.

Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur,intuisi tidak dapat diandalkan. Pengetahuan intuisi dapat dipergunakan sebagai hipotesa bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan. Kegiatan intuisi dan analisis bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran.

D. Wahyu

Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para nabi. Para nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan tanpa upaya,tanpa bersusah payah,tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semesta. Akal meyakinkan bahwa kebenaran pengetahuan mereka berasal dari Tuhan,karena pengetahuan itu memang ada pada saat manusia biasa tidak mampu mengusahakannya,karena hal itu memang diluar kemampuan manusia. Bagi manusiia tidak ada jalan kecuali menerima dan membenarkan semua yang berasal dari Nabi.

Kita mempunyai pengetahuan melalui wahyu, karena ada kepercayaan tentang sesuatu yang disampaikan itu. Seseorang yang mempunyai pengetahuan melalui wahyu secara dogmatik akan melaksanakan dengan baik. Wahyu dapat dikatakan sebagai salah satu sumber pengetahuan, karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita.

3) Ukuran Kebenaran Filsafat

Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis benar, bila tidak logis, salah. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan hanya logis. Bila logis dan empiris,itu adalah pengetahuan sains.

(6)

terletak pada kekuatan argumen, bukan pada kehebatan konklusi. Karena argumen itu menjadi kesatuan konklusi,maka boleh juga di terima pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu argumen kebenaran konklusi di tentukan 100% oleh argumennya.9

Dalam dunia ilmu dikenal tiga pandangan mengenai pengujian kebenaran ilmiah sebagai berikut: a) Teori Koresponden (Uji Persamaan dengan Fakta)

Menurut teori ini, suatu pernyataan pengetahuan (sepertinya yang dinyatakan dalam hipotesis) bisa diterima kebenarannya secara ilmiah apabila ia dapat dibuktikan bersesuaian kebenarannya dengan obyek empirik yang dinyatakannya.

b) Teori Koherensi (Uji Konsistensi)

Teori ini menyatakan suatu pernyataan pengetahuan dapat diterima kebenarannya secara ilmiah apabila pernyataan pengetahuan tersebut menunjukkan koheren dengan teori-teori ilmiah yang kebenarannya telah diterima sebelumnya.

c) Teori Pragmatik (Uji Kemanfaatan)

Teori ini menilai kebenaran suatu pernyataan pengetahuan secara ilmiah apabila pernyataan pengetahuan tersebut memang potensial digunakan untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan secara berguna.

d) Agama sebagai teori kebenaran

Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam,manusia,maupun tentang Tuhan,dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dari Tuhan. Menurut teori ini suatu hal dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Oleh karena itu,sangat wajar ketika Imam Al-Ghazali merasa tidak puas dengan penemuan-penemuan akalnya dalam mencari suatu kebenaran. Akhirnya Al-Ghazali sampai pada kebenaran yang kemudian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses yang panjang. Tasawuflah yang menghilangkan keraguan-raguan tentang segala sesuatu. Kebenaran menurut agama ini lah yang dianggap oleh kaum sufi sebagai kebenaran mutlak,yaitu kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi.10

LANDASAN EPISTEMOLOGIS

Landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yakni tercantum dalam metode ilmiah.

9 Ahmad Tafsir, Filsafar Ilmu (Mengurai Ontologi,Epistemologi,dan Aksiologi Pengetahuan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 88.

(7)

Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan sangat bergantung pada metode ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif. Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan,diantaranya adalah:

1. Metode induktif

Induksi merupakan suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Menurut David Hume (1711-1716), pernyataan yang berdasarkan observasi tunggal betapa pun besar jumlahnya, secara logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas.

2. Metode Deduktif

Rasio atau akal merupakan instrumen utama untuk memperoleh pengetahuan. Pendekatan sistematis yang mengandalkan rasio disebut pendekatan rasional dengan pengertian lain disebut dengan metode deduktif yaang dikenal denagn silogisme Aristoteles, karena dirintis oleh Aristoteles. Pada silogisme ini pengetahuan baru diperoleh melalui kesimpulan deduktif (baik menggunakan logika deduktif, berpikir deduktif atau metode deduktif), maka harus ada pengetahuan dan dalil umum yang disebut premis mayor yang menjadi sandaran atau dasar berpijak dari kesimpulan-kesimpulan khusus. Bertolak dari premis mayor ini dimunculkan premis minor yang merupakan bagian dari premis mayor. Setelah itu baru bisa ditarik kesimpulan deduktif.

3. Metode Positivisme

Metode ini dikeluarkan oleh August Comte (1798-1857). Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian atau persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak dan segala gejala. Usaha mencapai pengenalan yang mutlak,baik pengetahuan teologis maupun metafisis dipandang tak berguna,tidaklah berguna melacak asal dan tujuan akhir seluruh alam,melacak hakikat yang sejati dari segala sesuatu. Yang penting adalah menemukan hukum-hukum alam dengan pengamatan dan penggunaan akal.

4. Metode Kontemplatif

Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan sehingga objek yang dihasilkan pun berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi.

(8)

Merupakan metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat.

PERBANDINGAN EPISTEMOLOGI BARAT DAN PERSPEKTIF ISLAM

Secara sangat jelas epistemologi barat meletakkan pandangan bahwa pencapaian pengetahuan ilmiah semata-mata merupakan fungsi dari bekerjanya indera dan akal manusia. Hal ini ditunjukkan oleh filsafat rasionalisme dan empirisme secara sendiri-sendiri, maupun oleh kritisisme secara bersama-sama. Pengetahuan filsafat barat hanya meletakkan pengetahuan ilmiah (ilmu pengetahuan sains) secara sempit dalam wilayah keterjangkauan indera lahiriah dan/atau kemampuan rasional manusia. Pandangan epistemologi Islam sebenarnya juga meletakkan pandangan bahwa pengetahuan ilmiah dapat dicapai antara lain dengan indera dan akal. Akan tetapi penggunaan indera dan akal tidak ditetapkan secara mutlak berlaku untuk seluruh obyek pengetahuan, dan indera serta akal itu sendiri mempunyai pengertiannya yang berbeda secara mendasar dengan pandangan epistemology barat.

Pertama mengenai indera. Dalam hal ini epistemologi Islam meletakkan pandangan adanya dua kategori indra yaitu indera lahiriah dan indera batiniah (indera kalbu). Indera batiniah (fuad) inilah yang tidak dikenal dalam epistemology barat. Padahal dalam rangka berpengatahuan, peranan indera batiniah ini sangat jelas, yaitu untuk mempersepsi realitas non fisik.

Selanjutnya mengenai akal. Filsafat barat mengenai akal identik dengan otak pada manusia dengan keseluruhan fungsi sistem sarafnya. Apa yang dipahami oleh filsfat barat sebagai yang masuk akal atau rasional adalah hubungan-hubungan logis (dedukatif maupun induktif) yang kemudian dikembangkan pemahamannya.

Dalam Konsep epistemologi Islami yang telah dikemukakan di atas, akal adalah sekedar sebuah benda secara terminologis yang sesungguhnya menunjuk pada qalb (hati).

KESIMPULAN

Epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar. Epistomologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat dari apa yang telah difikirkan. Epistemologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan (theory of knowledge).

(9)

tidaknya teori itu. Ukuran logis tidaknya tersebut akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan (teori) itu.

Dalam menyusun sebuah pengetahuan dan mencari kebenarannya kita perlu menggunakan landasan epistemologi. Landasan epistemologi ini disebut metode ilmiah, yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah yang harus disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.

Perbandingan epistemologi barat dan islam adalah terletak pada penggunaan sumber-sumber pengetahuan. Epistemologi barat berpandangan bahwa pencapaian pengetahuan ilmiah semata-mata merupakan fungsi dari bekerjanya indera dan akal manusia. Sedangkan epistemologi Islam berpandangan bahwa pengetahuan ilmiah dapat dicapai antara lain dengan indera dan akal. Akan tetapi penggunaan indera dan akal tidak ditetapkan secara mutlak berlaku untuk seluruh obyek pengetahuan,melainkan berpedoman terhadap wahyu Tuhan juga sebagai kebenaran yang hakiki dan mutlak.

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal, 2004, Filsafat Ilmu, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

J. Sudarminta,2002, Epistemologi Dasar, Yogyakarta : Kanisius.

M. Amin Abdullah, 2008, Aspek Epitomologis Filsafat Islam, Perpustakaan Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Syah Budi, Epistemologi Perspektif Islam dan Barat, e-jurnal.stain-sorong.ac.id/index.php/ Tasamuh/article/dowload/132/104. (diakses tgl 12 maret 2017.21.58)

Tafsir, Ahmad, 2004, Filsafar Ilmu (Mengurai Ontologi,Epistemologi,dan Aksiologi Pengetahuan), Bandung : Remaja Rosdakarya.

Watloly, Aholiab, 2001, Tanggung Jawab Pengetahuan (Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural), Yogyakarta : Kanisius.

Zaprulkhan, 2014, Filsafat Islam (Sebuah Kajian Tematik), Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Referensi

Dokumen terkait

(pertanyaan dari mahasiswa yang harus dijawab oleh dosen) baik secara lisan atau tertulis untuk memperluas dan memperdalam penguasaan materi perkuliahan tersebut Penutup

Sistem dan Prosedur Pelunasan Pembiayaan Gadai (Rahn) Syariah Sesuai dengan syarat yang telah ditentukan pada waktu pemberian pinjaman, nasabah mempunyai kewajiban

• Sistem enzimatik yg terdiri dari sejumlah protein > 30 proteins plasma ( enzymes, receptors, and complement inhibitors/ regulator ).. Sifat Komplemen.. • Aktivasi

bahwa untuk melaksanakan pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi secara terbuka dan kompetitif pada tingkat nasional sesuai dengan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan ayat (4)

Pengadilan HAM dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2000. Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran HAM berat yang

Cara penimbunan sampah yang baik adalah dengan cara menimbun.. sampah di bawah tanah, atau digunakan untuk mengurug tanah berawa

Tugas dari rumah detensi imigrasi ( RUDENIM ) Kota Pekanbaru ialah melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di

Berdasarkan hasil penelitian Christine (2010) penambahan larutan NaCl 2% dan larutan garam dapur Dolphin ® menunjukkan setting time yang lebih singkat dibandingkan dengan tanpa