• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pengukuran Terumbu Karang melalui

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Metode Pengukuran Terumbu Karang melalui"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Darmawi Hamid dan Rizqi Rahman Prodi : Keamanan Maritim

Metode Pengukuran Terumbu Karang

Pendahuluan

Terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang penting karena menjadi

sumber kehidupan bagi beraneka ragam biota laut. Terumbu karang mempunyai fungsi yang

sangat penting sebagai tempat memijah, mencari makan, daerah asuhan bagi biota laut dan

sebagai sumber plasma nutfah. Terumbu karang juga merupakan sumber makanan dan bahan

baku substansi bioaktif yang berguna dalam farmasi dan kedokteran. Selain itu terumbu karang

juga mempunyai fungsi yang tidak kalah pentingnya, yaitu sebagai pelindung pantai dari

degradasi dan abrasi. Survei terumbu karang diperlukan untuk mendapatkan data actual

mengenai kondisi terumbu karang dan jumlah tutupan terumbu karang yang dimiliki suatu

perairan. Beberapa metode dalam pengukuran informasi terumbu karang dan kelemahan serta

kelebihan menggunakan metode tersebut dijelaskan di bab berikut.

Pembahasan

Metode pengukuran terumbu karang yang umum digunakan adalah sebagai berikut:

1. Metode survei lapangan

a. Metode Rapid Reef Resource Assesment (RRA) (Manta tow)

Metode ini digunakan untuk pengamatan seluruh kondisi terumbu karang di suatu area

yang luas. Metode Manta Tow ini juga suatu teknik pengamatan terumbu karang dengan cara

pengamat di belakang perahu kecil bermesin dengan menggunakan tali sebagai penghubung

antara perahu dengan pengamat

Kelebihan metode ini yaitu mampu mengetahui area penutupan terumbu karang di area yang luas, juga memberikan estimasi tutupan terumbu karang, tipe karang yang dominan, dan

94

= sebaiknya ada grafis dgn metode LIT

(2)

Nama : Darmawi Hamid dan Rizqi Rahman Prodi : Keamanan Maritim

estimasi kematian. Kelemahan metode ini yaitu diagnosa secara detail atau data kuantitatif

tidak mungkin ada. Tergantung pada kualitas air, estimasi karang mati bisa dilakukan jika

kondisi visibilitas air baik.

b. Metode Line Intercept Transect (LIT)

Metode Transek garis (Line Intercept transect/LIT) digunakan untuk mengestimasi

penutupan karang dan penutupan komunitas bentos yang hidup bersama karang. Metode ini

cukup praktis, cepat dan sangat sesuai untuk wilayah terumbu karang di daerah tropis.

Pengambilan data dilakukan dengan penyelaman pada kedalaman 3 meter dan 10 meter.

Metode ini dapat memberikan data detail tentang rata – rata berdasarkan pengukuran seluruh koloni, dinamika populasi dan satus kesehatan karang. Monitoring dengan waktu yang lama

pada coloni yang di tag dapat memberikan data tentang nasib koloni (penutupan

/kematian/tetap).

Menurut English et al.(1994), prosedur kerja yang digunakan yaitu merentangkan rol

meter di atas ekosistem sepanjang 100 meter. Kemudian dilakukan pengamatan biota habitat

dasar yang terbentang di bawah rol 100 meter tersebut. Pengambil data bergerak perlahan

dari titik nol untuk mencatat transisi dan lifeform (kategori) yang berada tepat di bawah

transek pada datasheet. Peneliti harus mencatat kode lifeform biota habitat dasar dan transisi

(dalam cm) tempat pergantian lifeform dalam datasheet sesuai dengan format tercantum.

Kelebihan metode ini yaitu dapat mengukur dengan cepat tentang struktur komunitas karang, kondisi, dan rata-rata disease dari seluruh koloni. Menyediakan informasi tentang

struktur ukuran, kepadatan koloni, dan penutupan karang. Kelemahan metode ini yaitu

memerlukan multiple transek seluruhnya dari masing - masing zona untuk rata-rata kuantitas.

Metode ini tidak mampu menyajikan informasi sebaran terumbu. Cara ini akan mendapatkan

kendala sulitnya pengamatan medan akbiat ketidakaturan formasi terumbu. Tidak

memberikan nilai yang bisa di compare dari area yang di survey jika karang memiliki variasi

ukuran berbeda stasiun. Ukuran koloni berdasarkan pengukuran aktual (atau pengkiasan

ukuran) akan tetapi persen kematian koloni di estimasi dan dapat memilik variasi yang

(3)

Nama : Darmawi Hamid dan Rizqi Rahman Prodi : Keamanan Maritim

2. Metode Penginderaan Jauh

a. Foto udara

Metode ini dilakukan dengan menggunakan fotogrametri di daerah dengan perairan

visibilitas yang jelas. Pada interpretasi foto udara, pengaruh kedalaman perairan tidak dapat

dibedakan dengan pengaruh karakteristik dasar perairan, sehingga penampakan terumbu

karang menjadi kurang jelas.

b. Citra satelit

Pengamatan citra dilakukan melalui citra pada kondisi air laut yang jernih dan

mempunyai karakteristik yang homogen. Informasi tentang objek didapat dari analisis data

yang dikumpulkan oleh sensor.

Pantulan dasar perarian tidak dapat diamati secara langsung pada citra satelit karena

dipengaruhi oleh serapan dan hamburan lapisan permukaan ini. Pengaruh ini dapat dihitung

menggunakan algoritma lyzenga. Lyzenga mengembangkan teknik penggabungan informasi

dari beberapa saluran spectral untuk menghasilkan indeks pemisah kedalaman dari material

penutup dasar perairan. Penggunaan algortima ini dapat memberikan akurasi yang lebih

tinggi. Secara umum prosedur kerjanya adalah sebagai berikut:

Citra Satelit Koreksi radiometrik dan

geometrik

Koreksi Kolom air

(4)

Nama : Darmawi Hamid dan Rizqi Rahman Prodi : Keamanan Maritim

Kelebihan pemetaan terumbu karang menggunakan citra satelit sangat menguntungkan untuk pemantauan dan manajemen lingkungan terumbu karang yang sangat luas. Metode ini

juga menbutuhkan biaya yang lebih sedikit dengan waktu pengerjaan yang lebih cepat.

Kelemahan metode ini yaitu kemampuan penetrasi panjang gelombang menurun tiap kedalaman. Pemetaan dengan citra satelit dibatasi sampai kedalaman 10 meter. Metode ini

juga mengalami keterbatasan pada perairan keruh. Kekeruhan akan mempengaruhi sifat

pantulan dasar perairan.

Pemetaan terumbu karang menggunakan citra satelit merupakan cara yang efektif untuk

diterapkan di Indonesia dengan pertimbangan luasnya wilayah yang harus dipetakan, biaya

yang dibutuhhkan, serta tingkat ketelitian informasi yang diharapkan.

Manfaat terumbu karang terhadap masyarakat dan keamanan Indonesia

Terumbu karang merupakan ekosistem yang menunjang kehidupan makhluk hidup

lainnya. Ekosistem ini merupakan tempat mencari makan dan berkembang biak bagi tumbuhan

dan hewan laut lainnya. Terumbu karang mempunyai bidiversitas tinggi dibanding ekosistem

lainnya. Biodiversitas yang tinggi akan menjadi sumber keanekaragaman genetik dan spesies.

Dengan banyaknya spesies makan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan obat-obatan

bagi masyarakat. Pengelolaan terumbu karang secara lestari dapat mendukung kehidupan

manusia.

Terumbu karang dapat menjadi pelindung wilayah pantai dengan saling berhubungan

dengan ekosistem lainnya, yaitu mangrove dan padang lamun. Terumbu karang akan mengikis

energi gelombang ombak besar dan arus sehingga dapat mengurangi abrasi pantai. Terumbu

karang juga dapat berfungsi untuk mengurangi pemansan global. Ekosistem ini dapat menyerap

gas CO2 hasil pembakaran. Gas Co2 banyak diserap oleh air laut dan selanjutnya melalui reaksi

kimia dan batuan karang, akan diubah menjadi zat kapur yang menjadi bahan baku terumbu1.

Dalam proses yang disebut klasifikasi ini, karang dibantu oleh zooxhanthella (tumbuhhan bersel

satu yang hidup dalam jaringan tubuh karang). Pembentukan kapur ini sangat penting artinya

dalam mengurangi jumlah karbon yang ada di udara. Karbon akan diubah menjadi CaCo3.

Fungsi karang sebagai pelindung pantai dari abrasi dan mengurangi pemanasan global adalah

fungsi eksositem sebagai keamanan berbasis lingkungan.

1

Referensi

Dokumen terkait

Persentase Tutupan Terumbu Karang Pada Lokasi Transplantasi Karang dan Kawasan Terumbu Karang Alami Pulau Rubiah, Aceh.. Jenis Lifeform Kode Transplantasi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kondisi tingkat kerusakan ekosistem terumbu karang berdasarkan luas tutupan karang hidup di perairan Barat Pulau

Penggunaan metode survei dalam menggambarkan kondisi terumbu karang biasanya disajikan dalam bentuk struktur komunitas yang terdiri dari data: persentase tutupan karang

Persentase tutupan karang hidup berada pada kisaran 10,8 - 20,52%, nilai tersebut menunjukan kondisi terumbu karang di Perairan Desa Daruba dan area perairan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persen kondisi tutupan terumbu karang, Indeks mortalitas terumbu karang, kelimpahan ikan kepe-kepe dan hubungan persentase

Sedangkan hubungan antara persentase penutupan karang dengan kelimpahan ikan karang pada bulan April 2018 hasilnya adalah persentase penutupan terumbu karang

Cakupan area dalam monitoring kesehatan terumbu karang ini adalah semua perairan di dalam TNP Laut Sawu. Monitoring dilakukan pada terumbu karang yang mewakili semua tipe habitat

Persentase Tutupan Terumbu Karang Tutupan ekosistem terumbu karang di Perairan Desa Perlang setelah dilakukan analisis tingkat lifeformdidapatkan 4 stasiun dengan kategori sangat baik