• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Industri Manufaktur di Indo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perkembangan Industri Manufaktur di Indo"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Perkembangan

Industri

Manufaktur di

Indonesia

TAHUN 2015-2016

Berdasarkan hasil kajian dan telaah singkat dari berbagai macam

literatur, berikut adalah ringkasan eksekutif mengenai

perkembangan industri manufaktur di Indonesia.

Ditulis oleh: Arif Darmawan

(2)

Industri Manufaktur di Indonesia

Industri manufaktur merupakan kegiatan ekonomi yang dalam kegiatannya mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir (Holzi and Sogner, 2004). Contoh lain kegiatan ini adalah kegiatan jasa industri dan pekerjaan perakitan (assembling).

Sektor industri manufaktur sebagai salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor industri manufaktur merupakan salah satu penopang perekonomian nasional karena sektor ini memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada tahun 1990-1996, industri manufaktur Indonesia tumbuh dengan cepat dan Indonesia pada saat itu mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Saat ini Indonesia tengah berada dalam transisi dari perekonomian yang berbasis agraris menjadi perekonomian semi-industrial dalam upaya untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Pola perekonomian subsistensi yang mengandalkan sektor primer perlahan-lahan bergeser menjadi perekonomian yang ditopang oleh sektor manufaktur.

Sektor industri manufaktur merupakan sektor yang cukup stabil dan menjadi salah satu penopang perekonomian negara di tengah ketidakpastian perekonomian dunia dengan tingkat pertumbuhan yang positif. Data terbaru dari Kementerian Perindustrian tahun 2015 menunjukkan bahwa sektor industri, khususnya sektor manufaktur non-migas mengalami pertumbuhan yang signifikan, melampaui pertumbuhan GDP Indonesia pada kwartal I tahun 2015.

Menurut data BPS, kontribusi sektor industri manufaktur non-migas terhadap PDB tahun 2015 mencapai 18.18 % dengan nilai Rp 2.089 triliun. Kontribusi ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang mencapai 17.89 % dengan nilai hanya Rp 1.884 triliun.

Grafik 1. Perkembangan Industri Manufaktur, Kontribusi terhadap PDB, dan PDB Indonesia Tahun 1990-2016 (Sumber: BPS, 2016).

(3)

Tingkat pertumbuhan yang pesat pada industri nasional merupakan

multiplier effect dan tingginya investasi pada sektor ini. Terhitung sejak tahun 2010, trend investasi sektor industri di Indonesia terus mengalami peningkatan meskipun sempat tertahan akibat krisis finansial pada tahun 2008.

Apabila ditarik lebih jauh ke belakang, pertumbuhan industri manufaktur dalam perekeonomian Indonesia telah meningkat secara bertahap. Namun, di sisi lain, peningkatan kerja industri manufaktur hanya naik dari 10 % menjadi 12 %.

Grafik 2. Kontribusi Sektor Utama dalam Perekonomian tahun 2015. (Sumber: Biro Riset Ekonomi, Bank Indonesia, 2015).

Sektor ini menjadi dominan dalam penyumbang terbesar PDB Indoneesia dimana mencapai 23.37 % (migas dan non-migas), namun sektor ini hanya mampu menyerap tenaga kerja terendah sebesar 14.88 % dibandingkan dengan sektor pertanian (38.07 %) dan perdagangan (23.74 %) (Kementerian Perdagangan, 2014). Hal ini bisa disebabkan karena industri manufaktur menitikberatkan pada investasi dan penggunaan teknologi menengah-tinggi ketimbang penggunaan tenaga kerja/labor.

(4)

Apabila melihat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang, menurut BPS, terjadi peningkatan sebesar 4.22 % pada triwulan III tahun 2015 dibanding dengan periode sebelumnya. Setelah diberlakukan revitalisasi industri sejak tahun 2004, pertumbuhan positif terjadi pada seluruh sub-industri. Jenis-jenis industri manufaktur yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah sbb:

- Farmasi, Produk Obat Kimia dan Obat Tradisional, naik 15.31 % - Pengolahan laiinya, naik sebesar 13.53 %

- Mesin dan Perlengkapan ytdl, naik 8.28 % - Barang Galian Bukan Logam, naik 7.37 %

- Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer, naik 7.14 % - Makanan, naik 7.09 %

- Pengolahan Tembakau, naik 5.78 %

(Sumber: BPS, 2015)

Tabel 1. Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang Triwulanan (q-to-q) dan (y-to-y) kurun waktu 2013-2015

Sumber: BPS, 2015

Sedangkan, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada triwulan III tahun 2015 mencatat pertumbuhan yang lebih baik, sekitar (6.87 %) dibanding dengan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama disumbangkan oleh naiknya industri tembakau (19.17 %), industri mesin dan perlengkapan (19.12 %) serta industri bahan kimia dan barang dari kimia sebesar (18.63 %). Sedangkan, industri kayu, barang dari kayu, anyaman rotan turun (5.88 %) mengikuti industri logam dan barang logam yang mengalami penurunan (5.87 %).

Secara lengkap, pertumbuhan industri non-migas dapat diketahui melalui tabel berikut:

Tabel 2. Pertumbuhan Industri Pengolahan Non-Migas menurut Cabang-Cabang Industri untuk tahun dasar 2010

No Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015

1 Industri Makanan dan

Minuman 10.33 4.07 9.49 7.54

2 Industri Pengolahan

(5)

3 Industri Tekstil dan Pakaian

Jadi 6.04 6.58 1.56 -4.79

4 Industri Kulit, Barang dari

Kulit dan Alas Kaki -5.43 5.23 5.62 3.98 5 Industri Kayu, Barang dari

Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu dan Rotan

-0.80 6.19 6.12 -1.84

6 Industri Kertas dan Barang

dari Kertas; Percetakan -2.89 -0.53 3.58 -0.11 7 Industri Kimia, Farmasi dan

Obat Tradisional 12.78 5.10 4.04 7.36 8 Industri Karet, Barang dari

Karet dan Plastik 7.56 -1.86 1.16 5.05 9 Industri Barang Galian

bukan Logam 7.91 3.34 2.41 6.18

10 Industri Logam Dasar -1.57 11.63 6.01 6.48 11 Industri Barang Logam;

Komputer, Barang Elektronik, Optik dan Peralatan Listrik

11.64 9.22 2.94 7.83

12 Industri Mesin dan

Perlengkapan -1.39 -5.00 8.67 7.49

Sumber: BPS diolah Kemenperin, 2015.

(6)

Tantangan Industri Manufaktur di Indonesia

Tantangan eksternal yang harus dihadapi adalah kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang diterapkan sejak akhir tahun 2015. Konsekuensinya adalah industri di Indonesia dituntut untuk mampu bersaing secara global karena produk dari luar negeri akan membanjiri pangsa pasar lokal. Selain itu, perlambatan ekonomi global yang diikuti dengan lesunya permintaan dunia akan memengaruhi kinerja ekspor dan impor nasional, sehingga industri manufaktur akan mengalami dampak kelesuan dan tidak dapat memberikan kontribusi efektif kepada perekonomian nasional.

Secara keseluruhan, permasalahan rendahnya penyerapan tenaga kerja dalam sektor manufaktur ini disebabkan oleh rendahnya produktivitas. Rendahnya kualitas pekerja menyebabkan produktivitas dan daya saing rendah. Dilihat secara mendalam, rata-rata tingkat pendidikan pekerja di Indonesia masih rendah, sekitar 63 % didominasi oleh tamatan SMA ke bawah. Selain itu, ketidaksesuaian antara kebutuhan industri manufaktur terhadap tenaga kerja dengan pendidikan dan pelatihan menyebabkan perusahaan/industri mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas.

Data di lapangan menyebutkan, hanya 5 % angkatan kerja yang memperoleh pelatihan dan hanya sekitar 1.6 % yang mempunyai sertifikat kompetensi (Biro APBN, 2015). Kondisi ini turut menyebabkan kualitas angkatan kerja yang rendah, sehingga produktivitasnya pun tergolong rendah dibandingkan produktivitas negara-negara ASEAN, untuk seluruh aktivitas dalam sektor perekonomian.

Selanjutnya, kualitas hasil produksi. Kualitas hasil produksi industri manufaktur Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan hasil produksi negara lain. Hal ini yang menyebabkan rendahnya nilai jual dan daya saing hasil produksi. Selain itu, mengenai regulasi pemerintah. Para pelaku usaha di sektor industri manufaktur menghendaki adanya peraturan yang dapat melindungi secara hukum serta memberikan jaminan agar pengusaha merasa aman dalam menjalankan usahanya. Peraturan tersebut antara lain meliputi sistem pajak, retribusi, perizinan, dan lain-lain. Selain itu, untuk mengatasi adanya permasalahan sengketa investasi, pemerintah perlu menyusun aturan mengenai penyelesaian sengketa penanaman modal antara pemerintah dan investor untuk memperkuat kepastian hukum dalam berusaha di Indonesia

(7)

membutuhkan modal yang tidak sedikit, selain itu masih sangat bergantung pada pendanaan pemerintah yang jumlahnya terbatas sehingga belum memenuhi harapan masyarakat baik dari sisi kuantitas maupun kualitas layanan.

Upaya melibatkan sektor swasta melalui skema Public-Private Partnership

(8)

Kesimpulan

Industri manufaktur masa depan adalah industri-industri yang mempunyai daya saing tinggi, yang didasarkan tidak hanya kepada besarnya potensi Indonesia (comparative advantage), seperti luas bentang wilayah, besarnya jumlah penduduk serta ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga berdasarkan kemampuan atau daya kreasi dan keterampilan serta profesionalisme sumber daya manusia Indonesia (competitive advantage).

Menelisik tentang Indonesia yang mempunyai modal yang cukup bersaing dengan negara lain, pemerintah memerlukan strategi yang tepat untuk melakukan industrialisasi sektor manufaktur. Dengan tantangan yang ada saat ini, baik itu tantangan internal maupun eksternal, pemerintah perlu menerapkan beberapa strategi. Strategi-strategi tersebut difokuskan pada bagaimana menciptakan industri manufaktur yang tahan terhadap guncangan krisis serta kondisi atau iklim industri yang dapat menarik investor.

Gambar

Grafik 1. Perkembangan Industri Manufaktur, Kontribusi terhadap PDB,
Grafik 2. Kontribusi Sektor Utama dalam Perekonomian tahun 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Definisi Konseptual Kualitas Pelayanan ( Service Quality ): Kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa baik tingkat layanan yang diberikan sesuai harapan pelanggan

Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh bahwa tidak ada interaksi antara perlakuan batang bawah dengan batang atas, namun secara terpisah tinggi tanaman sampai dengan

[r]

〔下級審民訴事例研究七九〕再生債務者が関連会社の新規の借入に際して担保のために行った約

Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat variasi penghambatan antarbakteri antagonis yang akan digunakan dalam program pengendalian hayati penyakit lincat��� Hampir separuh isolat

Berdasarkan hasil uji analisis jalur menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemenuhan kebutuhan penyuluh agama adalah ; usia mewakili karakteristik pribadi

Proses dekolorisasi warna limbah batik, dilakukan dengan cara mengalirkan limbah melewati membran yang telah disusun sedemikian rupa, kemudian limbah batik setelah

Pada umumnya susu formula yang beredar saat ini tidak mengandung asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang dengan jumlah atom karbon lebih dari 18 sebaliknya ASI bukan hanya