• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS REGULASI TARIF INTERKONEKSI DI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS REGULASI TARIF INTERKONEKSI DI"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS UAS

MAKALAH

ANALISIS REGULASI TARIF INTERKONEKSI DI INDONESIA”

MATA KULIAH : HUKUM & REGULASI TELEKOMUNIKASI

DOSEN : DR. IWAN KRISNADI, MBA/ DR. DENNY SETIAWAN

Disusun Oleh :

Yuli Ermawati (55414110009)

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MERCUBUANA

JAKARTA

(2)

ANALISIS REGULASI TARIF INTERKONEKSI DI INDONESIA

PENDAHULUAN

interkoneksi yang efisien merupakan faktor krusial dalam implementasi kebijakantelekomunikasi terbuka. Sejak adanya penyelenggaraan jasa telekomunikasi, interkoneksi merupakan isu kontroversi, terutama antara operator dominan dan operator baru. Sebagai pihak yang lebih dulu eksis dengan jumlah pelanggan yang relatif lebih besar, operator memiliki kekuatan untuk menentukan kondisi interkoneksi sesuai yang dikehendakinya. Di pihak lain, para operator baru yang belum memiliki jangkauan layanan dan basis pelanggan sebesar operator dominan, cenderung harus menerima apapun kondisi yang ditawarkan oleh operator dominan. Kondisi ketidak-seimbangansemacam ini

terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dapat dilihat di berbagai negara.

Interkoneksi adalah keterhubungan antar jaringan telekomunikasi dari penyelenggara telekomunikasi yang berbeda. Secara teknis dapat dikatakan sebagai hubungan fisik jaringan yang dilalui oleh sebuah carrier dengan jaringan lain. Dengan kata lain, carrier tersebut menggunakan peralatan dan fasilitas yang bukan dimiliki oleh jaringan asal muasal carrier tersebut. Interkoneksi inilah yang memungkinkan pelanggan satu operator berkomunikasi dengan pelanggan operator lainnya.

PERATURAN MENTERI (PERMEN) TERKAIT REGULASI

Terkait dengan interkoneksi, pemerintah menetapkan rancangan peraturan menteri (Permen). Namun ada sebagian operator telekomunikasi yang keberatan dengan rancangan Permen tersebut. Dari informasi di media massa, ada beberapa masukan/komentar yang diharapkan menjadi faktor pertimbangan dalam menetapkan regulasi yang terkait dengan interkoneksi tersebut, antara lain:

1. Dari setiap peraturan yang ditetapkan, akan ada yang diuntungkan dan dirugikan. Dalam hal ini, operator penyelenggara telekomunikasi memperhitungkan keuntungan yang akan mereka peroleh. Sedangkan regulasi yang ditetapkan pemerintah bertujuan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk masyarakat.

(3)

3. Efek biaya interkoneksi. Beberapa pihak beranggapan bahwa interkoneksi berbasis biaya dapat menyebabkan kenaikan tarif telepon kepada pelanggan, atau tarif ritel. Dalam hal ini, besaran tarif interkoneksi sangat bergantung kepada besaran yang diajukan oleh operator dominan (incumbent) yang umumnya memiliki basis pelanggan besar dan bermodal kuat. Besaran yang mereka ajukan, kemungkinan akan memaksa operator yang tidak dominant untuk mengimbangi tarif interkoneksi dengan cara menaikan tarif telepon.

4. Jenis-jenis layanan baru yang mungkin akan diadakan. Tapi hal ini juga harus disesuaikan dengan tujuan penyelenggaraan interkoneksi itu sendiri.

5. Pertimbangan teknis.

6. Regulasi yang sudah ada sebelumnya, yang terkait dengan interkoneksi. Misalnya PP No. 52/2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi.

Kini, regulasi tentang interkoneksi sudah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 08/Per/M.KOMINF/02/2006 tentang Interkoneksi. Peraturan tersebut dapat diperoleh melalui situs Postel (www.postel.go.id) dalam bentuk PDF. []

PERMASALAHAN

Permasalahan ketidak-seimbangan kekuatan dalam interkoneksi diatasi dengan regulasi pemerintah. Peraturan Menteri Nomor 8 tahun 2006 tentang Interkoneksi mengharuskan setiap operator untuk menerbitkan Daftar Penawaran Interkoneksi (DPI). Bagi operator dominan, sebelum DPI-nya dapat digunakan sebagai acuan dalam perjanjian interkoneksi dengan operator lain, perlu mendapat persetujuan dari Pemerintah (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia – BRTI). Dengan mekanisme persetujuan ini diharapkan tarifinterkoneksi yang diminta oleh operator dominan dapat dikendalikan oleh Pemerintah.

(4)

REGULASI TARIF INTERKONEKSI DI INDONESIA

Undang-undang Telekomunikasi secara tegas melarang praktik bisnis monopoli dan tidak adil, dan mewajibkan penyedia jaringan untuk mengizinkan pengguna dalam satu jaringan untuk mengakses pengguna atau layanan di jaringan lainnya dengan membayar biaya interkoneksi yang disepakati oleh tiap operator jaringan. Peraturan Pemerintah No.52/2000 tertanggal 11 Juli 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi menyatakan pengenaan biaya interkoneksi antara dua operator jaringan atau lebih harus transparan, adil dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Pada tanggal 8 Februari 2006, Menkominfo menerbitkan Peraturan No.8/PER/M.KOMINFO/02/2006 tentang Interkoneksi (“Peraturan Menkominfo No.8/2006”), yang mengatur penerapan skema tarif interkoneksi berbasis biaya bagi seluruh operator layanan dan jaringan telekomunikasi sebagai ganti dari skema pembagian pendapatan. Dengan skema baru tersebut biaya interkoneksi ditentukan oleh operator jaringan panggilan berakhir berdasarkan rumusan tarif pada biaya inkremen jangka panjang (long run incremental).

Sesuai ketentuan dalam Peraturan Menkominfo No.8/2006 operator harus memasukkan proposal Dokumen Penawaran Interkoneksi (“DPI”) kepada BRTI yang berisi pengajuan tarif interkoneksi untuk tahun berikutnya. Operator wajib menggunakan metode berbasis biaya dalam menyiapkan proposal DPI, BRTI dan Menkominfo wajib menggunakan metode yang sama dalam mengevaluasi DPI dan menyetujui tarif interkoneksi.

Terkait dengan Peraturan Menkominfo No.8/2006 dan Surat BRTI No.246/BRTI/VIII/2007 tertanggal 6 Agustus 2007, kami mengajukan proposal DPI pada Oktober 2007, yang meliputi penyesuaian atas penyelenggaraan, konfigurasi, teknis dan layanan yang ditawarkan. Pada Desember 2007, seluruh operator jaringan menandatangani perjanjian interkoneksi baru yang menggantikan seluruh perjanjian interkoneksi antar operator jaringan lainnya yang ditandatangani pada Desember 2006.

Pada tanggal 5 Februari 2008, BRTI mengharuska operator lainnya untuk mulai menerapkan tarif interkoneksi berbasis biaya. Pada tanggal 11 April 2008, sesuai dengan Keputusan Dirjen Postel No.205/2008, BRTI dan Menkominfo menyetujui DPI dari semua operator untuk menggantikan perjanjian interkoneksi sebelumnya. DPI yang disetujui pada tahun 2008 berlaku hingga 29 Juli 2011, ketika biaya interkoneksi baru diimplementasikan sebagaimana diatur dalam surat BRTI No.227/BRTI/XII/2010 tanggal 31 Desember 2010 perihal Implementasi Biaya Interkoneksi 2011. Penetapan ini sebagai hasil dari perhitungan ulang biaya interkoneksi yang dilakukan di tahun 2010 oleh Kemkominfo dan disepakati oleh seluruh operator yang dituangkan dalam bentuk Kesepakatan Bersama. Hasil perubahan biaya interkoneksi ini berakibat pada turunnya besaran biaya interkoneksi.

(5)

telekomunikasi dengan pendapatan usaha (operating revenue) 25% atau lebih dari total pendapatan usaha seluruh penyelenggara telekomunikasi dalam segmentasi layanannya, wajib mendapatkan persetujuan BRTI.

Era Baru KebijakanInterkoneksi Indonesia Menuju Iklim Kompetisi yang Sehat

Era baru kebijakan interkoneksi di Indonesia ditandai dengan adanya

perubahan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1989 menjadi Undang-Undang

Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Undang-Undang yang mulai

berlaku September tahun 2000 bersamaan dengan dikeluarkannya PP Nomor 52

tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi menjadi dasar perubahan

interkoneksi berbasis

revenue sharing

ke berbasis biaya (

cost based

). Perubahan

ini juga international best practices, WTO Reference Paper-1997, Guidelines

Apectel (Cancun declaration 2000). Meskipun dirasakan masih banyak

kekurangannya, regulasi interkoneksi ini merupakan

“milestone”

industri

telekomunikasi yang terbuka, transparan dan non-diskriminatif.

Adanya skema biaya interkoneksi berbasis biaya berlaku antar

penyelenggara jaringan sedangkan tarif kepada pelanggan hanya terdiri dari satu

tarif pungut, dimana tarif pungut dari penyelenggara yang menyediakan layanan

sudah termasuk besaran biaya interkoneksi.

Pada tahun 2005, Pemerintah berdasarkan kajian yang telah dimulai semenjak

berlakunya UU 36/1999 dan hasil konsensus dengan para penyelenggara

menetapkan penggunaan model perhitungan biaya interkoneksi berbasis biaya

dengan metode Bottom Up Long Run Incremental Cost (BU-LRIC). Ketentuan ini

kemudian dibakukan dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor 8 tahun 2006

tentang Interkoneksi, yang dimuat dalam tata cara perhitungan biaya interkoneksi

berbasis biaya.

Penggunaan metode BU-LRIC didasarkan pada pertimbangan bahwa

beberapa negara sudah menerapkan model ini dalam perhitungan biaya

interkoneksinya, seperti: India, Hongkong, Uni Eropa, Amerika, Australia dan UK.

Long Run Incremental Cost pada dasarnya adalah biaya yang timbul didalam

jangka panjang, sebagai akibat dari meningkatnya penggunaan hingga mencapai

suatu tingkat tertentu. Adapun kelebihan dari metode LRIC adalah sebagai

berikut:

1. Metode terbuka dan transparan,

2. Biaya berorientasi kedepan menghindari inefisiensi dari peralatan yang sudah

ketinggalan,

3. Terdapat hubungan kausalitas antara kegiatan dan biaya,

4. Meliputi keuntungan yang wajar.

Pengertian Bottom Up adalah design jaringan dimulai dengan penentuan

jumlah pelanggan dan trafik yang disalurkan. Kemudian, jaringan didesain

berdasarkan model jaringan yang efisien.

(6)

Pengertian Incremental Cost dalam hal ini berlawanan dengan marginal

cost, karena penambahan peralatan tidak dapat dilakukan untuk setiap unit

permintaan penambahan,melainkan hanya dapat dilakukan dalam suatu jumlah

kapasitas minimum tertentu. Dalam perhitungan biaya Interkoneksi berbasis

biaya (cost based), ada 2 (dua) prinsip desain model jaringan yang bisa

dipergunakan untuk penghitungan, yakni:

a.

Scorched node

, prinsip perhitungan dengan mengembangkan model desain

konfigurasijaringan berdasarkan node-node eksisting yang sudah dibangun

oleh penyelenggara.

b.

Scorched earth

, prinsip perhitungan dengan mengembangkan model desain

konfigurasi jaringan berdasarkan hipotetical network (teoritis) yang

dikembangkan berdasarkan coverage dan kapasitas layanan.

Metode BU-LRIC dilakukan dengan mengembangkan model konfigurasi

scorched node

dengan mempertimbangkan:

1. Perbedaan komitmen pembangunan yang ditetapkan Pemerintah kepada

masing-masing penyelenggara

2. Realisasi penggelaran jaringan para penyelenggara yang berbeda-beda

3. Penyelenggara masih dalam tahap membangun

coverage

.

Untuk nilai/valuasi aset, terdapat beberapa pendekatan yang lazim digunakan

dalam perhitungan biaya interkoneksi, yaitu:

1. Historic Cost: Aset dinilai berdasarkan harga pada saat pembelian/perolehan.

Metode ini dapat digunakan pada saat aset tidak mempunyai suatu nilai yang

signifikan, nilai aset tidak terlalu berpengaruh terhadap perubahan harga,

tidak terdapat pergantian teknologi yang terkait atau perubahan yang ada

tidak signifikan, serta pada saat dampak dari revaluasi tidak bersifat material.

2. Indexation: Menggunakan indeks untuk menilai aset, biasa digunakan untuk

menilai tanah dan bangunan. Metode indeksasi dapat digunakan pada saat

tidak terdapat pergantian teknologi yang terkait atau perubahan yang ada

tidak signifikan, terdapat informasi yang cukup akurat tentang aset terkait

valuasi, serta kelompok aset adalah homogen terkait perubahan harga

3. Absolute Valuation: Perkalian antara jumlah aset yang ada dengan harga

pembelian/perolehan saat ini. Metode ini cocok digunakan pada saat terdapat

pergantian teknologi atau pada saat terdapat perbedaan yang cukup jauh

antara harga perolehan dengan harga saat ini.

(7)

e. memfasilitasi setiap penyelenggara telekomunikasi untuk memilih skema penyaluran trafik interkoneksi, diantaranya membangun, menyewa jaringan dan transit dengan penyelenggara lain dalam menyediakan layanan telekomunikasi.

Sejarah Implementasi Perhitungan Biaya Interkoneksi

Implementasi biaya interkoneksi berbasis biaya dimulai dengan disahkannya PM 08/2006 tentang Interkoneksi, dimana salah satu amanat dari peraturan tersebut adalah perhitungan biaya interkoneksi dengan basis biaya menggunakan pendekatan long run incremental cost (LRIC) yang berorientasi ke depan (forward looking) dengan pendekatan (bottom up) berdasarkan network design. Dalam pendekatan ini, para Penyelenggara diharuskan melakukan re-design jaringannya kepada bentuk yang efisien dan pergantian biaya asset dan operasi dengan harga terkini. Akibat dari rejim ini, mengharuskan Pemerintah memiliki angka referensi sebagai acuan dalam mengevaluasi besaran biaya interkoneksi hasil perhitungan para Penyelenggara. Mengingat kompleksnya proses perhitungan dan akan membutuhkan resources, maka disepakati dilakukan bersama dengan para Penyelenggara, sehingga angka hasil perhitungan akan menjadi angka bersama dan memudahkan perhitungan.

Perhitungan biaya interkoneksi berbasis biaya pertama kali dilakukan di Indonesia pada tahun 2005, dimana pada waktu itu dilakukan untuk merubah kebijakan dari kebijakan interkoneksi yang berbasis revenue sharing menjadi berdasarkan biaya penyelenggaraan. Hasil perhitungan ini menjadi referensi dan acuan dalam menyusun regulasi interkoneksi PM 8/2006 dan diimplementasikan sampai diperoleh biaya interkoneksi baru berdasarkan perhitungan ulang biaya interkoneksi.

Perhitungan ulang selanjutnya dilakukan pada tahun 2007 dan diimplementasikan pada tahun 2008, kemudian karena adanya perubahan dan perkembangan bisnis yang cepat, maka pada tahun 2010 dilakukan perhitungan ulang dan diimplementasikan pada tahun 2011. Sebagai akibat dari adanya perkembangan teknologi jaringan yang berbasis IP, kemudian tahun 2013 dilakukan lagi perhitungan ulang dengan melakukan update model terhadap elemen jaringan

dan perencanaan jaringan berdasarkan data komitmen Penyelenggara. Hasil perhitungan biaya interkoneksi tahun 2013 kemudian diimplementasikan mulai tahun 2014.

Secara umum historis implementasi biaya interkoneksi mulai tahun 2006 setelah dikeluarkannya regulasi PM 8/2006 tentang interkoneksi sampai sekarang dapat dijabarkan sebagai berikut :

Implementasi biaya interkoneksi pada penyelenggara jaringan seluler cenderung mengalami penurunan. Penurunan biaya interkoneksi ini terutama diakibatkan oleh meningkatnya jumlah pelanggan akibat penurunan harga telepon seluler dan bertambahnya volume trafik.

PEMBAHASAN

RENCANA PERMERINTAH TENTANG REGULASI TARIF INTERKONEKSI

Pemerintah segera menentukan tarif baru layanan industri telekomunikasi terutama untuk sambungan seluler (ponsel). Kini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sudah menyelesaikan rancangan penerapan tarif baru untuk industri telko dan sedang menampung aspirasi publik sampai 20 Februari 2015.

(8)

penyempurnaan terhadap regulasi tarif dan interkoneksi," kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kominfo, Ismail Cawidu, dalam keterangan resminya, Minggu (8/2).

Teknis implementasi interkoneksi pada industri telekomunikasi Indonesia selama ini diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 8 tahun 2006 tentang Interkoneksi (PM 8/2006). Sementara tarif layanan telekomunikasi melalui jaringan bergerak selular diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 tahun 2008 (PM 9/2008).

PM 8/2006 menjamin pelaksanaan interkoneksi yang transparan, non-diskriminatif dan mengedepankan prinsip cost-based (sesuai biaya) yang dipandang lebih adil bagi para penyelenggara yang berinterkoneksi. Menurut Ismail, perhitungan biaya interkoneksi menggunakan metode bottom up long run incremental cost (BU-LRIC) dengan pendekatan forward looking. “Penyempurnaan regulasi interkoneksi difokuskan pada pendetailan variabel-variabel dalam perhitungan biaya interkoneksi, implementasi interkoneksi antar-penyelenggara serta pelaporan kepada regulator," terusnya.

Sedangkan PM 9/2008 mengatur besaran tarif telekomunikasi melalui jaringan bergerak seluler. Penyempurnaan regulasi tarif diharapkan dapat mendorong penyelenggara untuk memberlakukan tarif yang lebih terjangkau oleh masyarakat, mencerminkan kompetisi yang sehat serta menjamin keberlangsungan perkembangan industri yang berkelanjutan.

Konsep penyempurnaan, mengedepankan perbaikan di formulasi tarif pungut layanan suara dan SMS, batasan tarif pungut, besaran tarif dan jangka waktu promosi, mekanisme kontrol serta pelaporan kepada regulator. Hanya saja, belum disebutkan berapa tarif baru yang akan diberlakukan. Namun, dalam berbagai latar belakang permasalahan yang menjadi landasan perlunya perbaikan itu terlihat beberapa indicator dan skema solusinya. Kecenderungannya akan terjadi beragam skema dan harga tarif untuk setiap jenis dan situasi operator.

Dalam simulasi tarif interkoneksi yang ditetapkan regulator Rp 200 per menit, seandainya biaya interkoneksi ke operator A Rp 150 maka marginnya Rp 50. Biaya interkoneksi ke operator B Rp 200, margin operator B Rp 0. Biaya interkoneksi ke operator C Rp 300, margin operator C Rp - (minus) 100. Biaya interkoneksi ke operator D Rp 400 maka margin operator D Rp -(minus) 200.

Penyelenggara yang biaya interkoneksinya lebih rendah (operator A), mendapat margin keuntungan sementara penyelenggara yang biaya interkoneksinya lebih tinggi (operator C dan D) mengalami kerugian. Kondisi ini akan lebih buruk apabila pemerintah menurunkan biaya interkoneksi menjadi Rp 150.

Latar belakang lainnya, perkembangan teknologi dan penggunaan layanan telekomunikasi di Indonesia berkembang sangat pesat dalam 5 tahun terakhir, khususnya layanan komunikasi data, dikarenakan tersedianya akses jaringan yang digelar oleh penyelenggara sampai ke pelosok negeri, harga perangkat yang semakin terjangkau, serta adanya "killer application" seperti BlackBerry Messenger (BBM) dan Facebook.

(9)

KESIMPULAN

Untuk melakukan penyempurnaan terhadap regulasi tarif dan interkoneksi agar kompetisi di industri telekomunikasi jadi lebih sehat. Selama ini teknis implementasi interkoneksi pada industri telekomunikasi Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 8 tahun 2006 tentang Interkoneksi (PM 8/2006). Sementara itu, tarif layanan telekomunikasi melalui jaringan bergerak selular diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 tahun 2008 (PM 9/2008).

“PM 8/2006 menjamin pelaksanaan interkoneksi yang transparan, non-disriminatif dan mengedepankan prinsip cost-based (sesuai biaya) yang dipandang lebih adil bagi para penyelenggara yang berinterkoneksi,” perhitungan biaya interkoneksi menggunakan metode perhitungan Bottom Up Long Run Incremental Cost (BU LRIC) dengan pendekatan Forward Looking. “Penyempurnaan regulasi interkoneksi difokuskan pada pendetailan variabel-variabel dalam perhitungan biaya interkoneksi, implementasi interkoneksi antar penyelenggara serta pelaporan.

Dalam PM 9/2008 diatur besaran tarif telekomunikasi melalui jaringan bergerak selular. Penyempurnaan regulasi tarif diharapkan dapat mendorong penyelenggara untuk memberlakukan tarif yang lebih terjangkau oleh masyarakat, mencerminkan kompetisi yang sehat serta menjamin keberlangsungan perkembangan industri yang berkelanjutan.

Konsep penyempurnaan mengedepankan perbaikan di formulasi tarif pungut layanan suara dan SMS, batasan tarif pungut, besaran tarif dan jangka waktu promosi, mekanisme kontrol serta pelaporan kepada regulator.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Haryadi S, “Cost-Based FWA Networks Optimization”, Proceeding ofMoMM 2006 Sympsioum ISBN 9783-85603-216-8.585-590, (2006)

[2] Haryadi S, “Telecommunication Network Operator Charging Plan Strategy To Cope With Cost Based Interconnection Regulation”,Proceeding of the International Conference on Electrical Engineering and Informatics ISBN 978-979-16338-0-2

[3] Haryadi S, “Mobile Switching Centre Processing Capacity Computations”, Seminar Proceeding-International Wireless Symposium, 21 September 2005, Allborg, Denmark.

[4] Haryadi S, “Mobile Multimedia Teletrafific Swtiching Processing Time”, Seminar Proceeding – Mobile Multi Media, 19 September 2005, Kuala Lumpur – Malaysia

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan permasalahan dan kondisi perusahaan yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengajukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Kepuasan Kerja, Lingkungan

TK Pertiwi Kota Banda Aceh berdasarkan pengamatan awal dan hasil diskusi dengan guru kelas menunjukan bahwa anak-anak pada umumnya masih memiliki kemampuan motorik

Penulis juga menganalisis bahwa koalisi yang dibangun merupakan sebuah strategi ofensif, yakni strategi memperluas pasar dalam hal ini partai-partai pendukung mencoba

Hasil pengkompilasian ini menjadi berkas portofolio yang diserahkan oleh PSD di PT-Pengusul kepada perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi dosen (PTP-Serdos).. Untuk

Serangkaian upaya yang bersifat medik, sosial, edukasional, dan vokasional yang terkoordinasi untuk melatih atau melatih kembali penyandang cacat untuk

Melalui nilai-nilai pendidikan yang ada dalam cerita wayang kulit lakon Dewa Ruci, khususnya pendidikan moral dan budi pekerti penulis berupaya membuktikan cara agar perilaku

Komitmen yang Tinggi atas Kesepakatan Bilateral di Wilayah Kerja KJRI Toronto Persentase tindak lanjut/ implementasi kesepakatan Indonesia dengan wilayah kerja KJRI