SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN
PENDIDIKAN KIMIA
Universitas Negeri Semarang
FMIPA – JURUSAN KIMIA
“Penilaian Otentik Aspek Sikap dan Keterampilan
Untuk Penguatan Karakter Siswa”
(Universal / Broader Context)
Socio-Assessment
: Paradigma Baru Penilaian Proses
Pendidikan Abad-21 (
Edisi Revisi)
Drs. R.Witjaksono, MA; MPhil. Perekayasa Madya/IVc
Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jakarta
SABTU, 15 OKTOBER 2016
HOTEL GRASIA
JL. S. PARMAN NO. 29
Tema seminar hari ini: “Penilaian Otentik Aspek Sikap dan Keterampilan Untuk Penguatan Karakter Siswa” direfleksikan pada konteks yang lebih luas (universal/broader context) menjadi makalah bertema: “Socio-Assessment: Paradigma Baru Penilaian Proses Pendidikan Abad-21”. Sedangkan untuk konteks yang lebih kecil (micro-context) dioperasionalkan melalui bahan presentasi dengan sub-tema 1: “Penilaian Otentik Keterampilan di Kelas / Laboratorium Kimia: Pengembangan Rubrik” dan sub-tema 2: “Penilaian Otentik Sikap di Kelas / Laboratorium Kimia: Pengembangan Rubrik”. Tujuan umumnya adalah untuk menyosialisasikan pergeseran paradigma penilaian pendidikan dari abad-20 (abad modern) ke abad-21 (abad post-modern) - “Socio-assessment
paradigm” - kepada semua stakeholder pendidikan dalam kaitannya dengan implementasi
Kurikulum-2013. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk memberikan pemahaman kepada peserta seminar mengenai pengembangan desain penilaian pendidikan yang otentik, valid dan reliabel. Selain itu, memberikan pemahaman mengenai pengembangan instrumen penilaian keterampilan dan penilaian sikap (rubrik) dalam kaitannya dengan penguatan karakter siswa.
Pada sosialisasi melalui makalah ini dibahas beberapa aspek dari paradigma socio-constructivist, diantaranya: pengertian, latar belakang konseptual dan faktual, mekanisme kerja, perbandingan penilaian pendidikan abad-20 dan abad-21, outcomes, feasibilitas implementasinya, sosialisasi serta kendala dalam implementasinya. Adapun pembahasan untuk setiap aspek tersebut dapat dilihat pada paragraf-paragraf di bawah ini.
II. Literatur dan Hasil Penelitian
“The Revised Curriculum aims to empower our young people to develop their potential as individuals and to make informed and responsible decisions for living and working in the 21stcentury.”
(Northern Ireland Curriculum, KS-1 & 2, 2000)
1. Pengertian socio-assessment
Socio-assessment (sociology of educational assessment) adalah penilaian proses pendidikan dilihat dari perspektif sosiologi. Perspektif ini meliputi hal-hal berikut: pertama, melihat pola umum kehidupan sosial peserta didik melalui perilaku individu siswa selama berlangsungnya maupun setelah menyelesaikan penilaian pendidikan. Kedua, menyadari bahwa bagaimana individu siswa berpikir dan bertindak sangat dipengaruhi oleh bagaimana pihak sekolah/guru memperlakukannya, misal dalam hal tutur katanya, perilakunya maupun cara mengajarnya, cara mengujinya selama atau setelah proses pembelajaran. Selanjutnya, bahwa individu siswa terintegrasi dalam kehidupan sosial masyarakat di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Terakhir, adanya individu siswa yang termarjinalisasi setelah menempuh penilaian pendidikan (misalnya, ujian) yang pada akhirnya menginginkan perubahan status sosialnya. Dalam hal ini socio-assessment menggunakan pendekatan kemanusiaan
Socio-assessment mulai diperkenalkan di Indonesia melalui implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 yang selanjutnya direvisi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dalam konteks otonomi daerah/desentralisasi (Witjaksono, 2007). Selanjutnya penyempurnaannya melahirkan Kurikulum 2013. Ketiga kurikulum tersebut mempunyai filosofi/ideologi yang sama, yaitu suara-suara siswa dan guru yang sebelumnya diabaikan/tidak didengar/termarjinalisasi dalam paradigma input-output, dihidupkan kembali melalui paradigma proses pembelajaran yang terintegrasi dengan penilaiannya dalam fungsi formatif melalui assessment for learning dan assessment as learning.
2. Latar belakang konseptual dari socio-assessment
‘The ability to think critically, solve probs, work together, and manage oneself are critical for future success ... Without student talk we cannot evaluate and improve student thought ...Talk helps students arrive at a greater understanding than any one mind can come at alone.
(twitter quotes, 2015) The ability to perceive or think differently is more important than the knowledge gained.
David Bohm
Socio-assessment dioperasionalkan melalui paradigma proses (socio-constructivist
paradigm) dalam penilaian berbasis kelas. Paradigma proses didasarkan pada sistem pendidikan berbasis kemanusiaan dan berprinsip bahwa manusia itu mempunyai moral, nilai, norma, emosi, perasaan, dan saling berinteraksi dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya (Hargreaves, 2001). Disamping itu, paradigma proses mempunyai ideologi bahwa suara-suara yang selama ini termarjinalisasi dalam dominasi paradigma output (paradigma hasil belajar), yaitu suara siswa dan guru, dalam hal menentukan metodologi pendidikan - baik menentukan kurikulumnya (enacted curriculum), pedagoginya maupun menentukan cara penilaiannya -dihidupkan kembali melalui suara-suara kritis (‘critical voices’) mereka dan peran mereka yang proporsional (sharing of power) melalui self-, peer- dan co-assessment (Broadfoot, 1996). Inilah yang merupakan masalah konseptual terpenting dari socio-assessment yang merupakan parameter signifikan dari pendidikan progresif di abad-21 (progressive education/liberal education). Dalam hal ini pendidikan dipandang sebagai instrumen untuk melakukan transformasi sosial melalui epistemologi socio-constructivist (Witjaksono, 2007).
‘children start school from rather different points and therefore require different teaching approaches’ (Osborn et al., 1997, p.377).
Dengan menghidupkan kembali suara-suara yang termarjinalisasi tersebut yang dimanifestasikan dalam proses pembelajaran di kelas, yang terintegrasi dengan penilaiannya (fungsi formatif), siswa menjadi aktif dan partisipatif serta belajar itu menyenangkan bagi mereka (low stake assessment). Jadi proses pembelajaran berpusat pada siswa sehingga siswa merupakan subjek dalam proses pendidikan. Hal ini berarti bahwa ‘students’needs, ‘interests’, ‘expectations’ dan ‘culture’ harus diakomodir oleh guru dalam membuat Desain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kemudian guru sebagai orang yang mempunyai banyak pengalaman wajib untuk memfasilitasi interaksi sosial dalam proses pembelajaran (melalui sharing of power) dengan menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran aktif dan berbagai metode penilaian (multiple methods of active teaching-learning and assessments). Selain itu, guru memberikan “immediate, direct and on-going constructive feedback” pada saat proses pembelajaran (scaffolding assessment). Jadi proses pembelajaran dan penilaiannya dalam ‘day-to-day assessment’ terhadap kompetensi siswa secara komprehensif (pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku) yang benar adalah tidak boleh terpisah melainkan harus simultan. Inilah yang dikenal dengan nama ‘assessment for learning’ dan ‘as learning’ melalui fungsi penilaian formatif (Black & Wiliam, 1998).
4. Mekanisme kerja socio assessment
Dalam hal ini ada dua mekanisme: mekanisme makro dan mekanisme mikro. Mekanisme makro menutut adanya sistem di semua lapisan manajemen birokrasi pendidikan, pusat dan daerah, yang memberi dukungan penuh terhadap terjadinya mekanisme mikro. Mekanisme makro terdiri atas komponen-komponen: penyiapan lingkungan pembelajaran siswa yang memadai dalam hal sarana-prasarananya, menyiapkan guru profesional yang siap mengimplementasikan paradigma proses (socio constructivist paradigm), dokumen kurikulum 2013 yang ‘feasible’ dan ‘aplicable’ dan pedagogi pembelajaran aktif yang terintegrasi dengan penilaiannya serta pengembangan komunitas pembelajaran dan budaya kerjasama/kolaboratif (Fullan, 1998).
Pada mekanisme mikro, tahapan awal yang harus terpenuhi adalah adanya perubahan
‘mindset’ atau ’belief’ dari guru dan siswa mengenai pergeseran paradigma proses pembelajaran dari ‘teacher centre’ ke ‘student centre’ melalui ‘socio-constructivist paradigm’. Bahwa siswa akan mengonstrak pengetahuan (knowledge) berdasarkan pengalaman belajarnya setelah berinteraksi sosial dengan guru (co-assessment), dengan siswa lainnya (peer-assessment) atau dengan dirinya sendiri (self-assessment) atau berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (lingkungan fisik, sosial, ekonomi, politik, budaya maupun lingkungan sejarah) (Cobb, 1996).
Socio-assessment terjadi pada proses pembelajaran yang diintegrasikan dengan proses penilaiannya, di dalam penilaian berbasis kelas (classroom-based assessment) pada dua tahapan, pre-diagnostic assessment dan formative assessment (assessment for learning dan
Pada kedua tahapan tersebut di atas, penilaiannya tidak bertujuan untuk memberi skor/ grade (fungsi penilaian formatif) melainkan memberikan ‘immediate, direct and on-going constructive feedback’ (assessment for teacher learning) dan ‘reflective learning’ (assessment as student learning – self- and peer-assessments ) setelah melalui tahapan zone of proximal development (scaffolding assessment) untuk mencapai target/tujuan pembelajaran.
5. Perbandingan socio assessment terhadap conventional assessment
If I had one wish for all our institutions, and the institution called school in particular, it is that we dedicate ourselves to allowing them to be what they would naturally become, which is human communities, not machines. Living beings who continually ask the questions: Why am I here? What is going on in my world? How might I and we best contribute? (Senge, 2000, p 58)
Institusi sekolah, secara alami, merupakan komunitas manusia yang bergerak dalam dunia pendidikan secara komprehensif - baik pengetahuan, keterampilan maupun sikap - dan
bukan merupakan komunitas mesin. Mereka secara kontinyu bertanya mengenai
standing/position mereka: Mengapa mereka ada di dunia ini? Apa yang sedang berlangsung di dunia saya? Bagaimana saya dan kita semua berkontribusi dalam kehidupan kita sehari-hari dengan cara terbaik?
Jawaban dari pertanyaan tersebut di atas adalah socio-assessment yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini. abad ‘dicourse war’ / perang wacana/ perang ideologi melalui ‘information, technology and communications’ – ICT.
Multiple-methods of Assessment (penilaian kinerja, project, portofolio proses & produk, penilaian sikap dll)
The test of successful education is not the amount of knowledge that a pupil takes away from school, but his appetite to know and his capacity to learn (Sir Richard Livingston, President of Corpus Christi College, Oxford, 1941 – cited in Emslie et al., 2004, p.4).
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana meningkatkan kapasitas belajar siswa yang sekaligus dapat memperbaiki outcomesnya? Dari sudut pandang sosial-politik, peran pemerintah pusat dan daerah sangat penting dalam hal memformulasikan dan memberi dukungan penuh terhadap kebijakan mengenai socio-assessment yang terintegrasi dengan proses pembelajaran siswa. Siswa belajar secara komprehensif (pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku) melalui pembelajaran aktif, partisipatif dan kolaboratif, baik individual maupun kelompok, menggunakan konteks ‘real-life problems’ (authentic contexts). Hal ini harus tertuang dalam mendesain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang transparan serta komunikasi dua arah antara guru dan siswa dalam rangka mengakomodir needs, interests, expectatitions dan culture siswa (sharing of power). Dengan cara ini kapasitas belajar siswa dapat ditingkatkan (Loyd, 1994). Proses pembelajaran yang berpusat pada siswa tersebut terintegrasi dengan penilaiannya dalam ‘day-to-day assessment’ melalui fungsi penilaian formatif, sehingga perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku siswa dapat dimonitor secara langsung dan terus-menerus melalui ‘immediate, direct, constructive feedback, deep reflective-learning pada continuous, on-going assessment. Sebagai implikasinya, siswa akan belajar dengan menyenangkan, timbul motivasi internal pada diri siswa, saling menghargai pendapat teman, santun dan hormat kepada sesama, tidak egois dan tidak otoriter serta sebagai konsekuensinya prestasi akademik siswa diharapkan akan meningkat. Inilah yang merupakan outcomes dari paradigma proses melalui socio assessment (Witjaksono, 2007).
Hal tersebut sejalan dengan paradigma proses pembelajaran abad-21, sebagai hasil sintesa dari empat (4) pilar pendidikan dan 4C - keterampilan pembelajaran abad-21, yang kurang-lebih berbunyi sebagai berikut:
Students learn, individually or collaboratively in pairs, small groups or a whole class, in order both to think critically, creatively, innovatively and to do creatively and innovatively by respecting others supported by sophisticated technology within a real-life context to solve any kind of real-life problems within a school community through communications, both oral and written. The main outcome is students who are dilligent, skillful and polite.
7. Feasibilitas educational socio-assessment
How to put the idea into practice? How to implement the new curriculum into the school/classroom level? There are likely a lot of challenges, issues and problems (technical or non-technical). (Fullan, 2001)
Untuk mengantisipasi adanya tantangan, isu maupun masalah teknis/non teknis dalam mengimplementasikan Kurikulum-2013 sehingga dapat meyakinkan stakeholder pendidikan akan nilai-nilai yang terkandung di dalam perubahan tersebut, termasuk di dalamnya perubahan ke paradigma socio-assessment, perlu diperhatikan beberapa kondisi berikut:
Pertama, harus ada perubahan ‘mindset’ / ‘belief’ dan komitmen/political will dari masing-masing individu yang merupakan stakeholder pendidikan - jajaran pemerintah pusat dan daerah, jajaran sekolah (kepala sekolah, guru, siswa) dan orangtua.
peraturan pemerintah maupun rencana strategis mengenai kurikulum, pedagogi serta penilaian proses pendidikan. Sedangkan pada jajaran sekolah dan orang tua, indikatornya dapat terlihat dari cara berpikir, bertindak, dan bersikap terhadap paradigma ‘ socio-assessment’.
Kedua, guru sebagai ujung tombak dari perubahan paradigma pembelajaran yang terintegrasi dengan penilaiannya melalui fungsi penilaian formatif, harus kompeten dan profesional dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 secara komprehensif, termasuk di dalamnya pedagogi pembelajaran aktif yang terintegrasi dengan penilaiannya melalui socio-assessment.
Kemudian, materi Kurikulum 2013 tidak overload (broad caverages of many topics but shallow) dan mempunyai alokasi waktu yang memadai untuk berlangsungnya proses pembelajaran aktif yang efektif. Dengan demikian setiap individu siswa (high/low achievers) pada setiap jenjang pendidikan mempunyai kesempatan belajar yang sama untuk mendapatkan pengalaman belajar sebanyak-banyaknya dan detail (deep learning) dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran aktif serta berbagai metode penilaian proses.
Selanjutnya, semua fasilitas/sarana-prasarana yang diperlukan untuk terjadinya paradigma proses di tingkat sekolah/kelas melalui socio-assessment harus tersedia dan memadai serta mempunyai mutu yang baik.
Pada akhirnya, perlu anggaran yang memadai dalam mengimplementasikan socio-assessment
melalui implementasi Kurikulum 2013 untuk tujuan sosialisasi baik melalui pilot project, seminar maupun workshop yang lebih mengutamakan pada hasil yang bermutu baik.
Apabila semua kondisi tersebut di atas terpenuhi, socio-assessment diharapkan akan terlaksana secara feasible dan valuable (Witjaksono, 2007; 2013).
8. Sosialisasi socio-assessment
Sosialisasi konsep socio-assessment dilakukan bersamaan waktunya dengan sosialisasi Kurikulum-2013 oleh nara sumber yang benar-benar kompeten, yaitu mengetahui ontologi, epistemologi serta metodologi dari masing-masing aspek Kurikulum-2013, aspek pedagoginya maupun aspek penilaian prosesnya. Selanjutnya, perlu adanya komunikasi dua arah dan terus menerus serta kerjasama yang baik dan bermutu antar institusi terkait – Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, semua Direktorat di lingkungan Direktorat Dikdasmen, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan maupun Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) serta Dinas Pendidikan Provinsi/Kota/Kabupaten dan guru-guru mata pelajaran/bidang studi lintas jenjang pendidikan. Adapun bentuk sosialisasinya dapat berupa seminar, konferensi atau workshop yang memfokuskan pada kualitas hasilnya.
(twitter quotes, 2015)
Kendala utamanya adalah kurangnya tenaga sumber daya manusia yang kompeten, profesional dan handal dalam penguasaan ontologi, epistemologi maupun metodologi dari
socio-assessment. Kemudian, dengan merujuk hasil penelitian studi kasus mengenai implementasi KBK-2004 dan KTSP-2006 (Witjaksono, 2007), walaupun tidak dapat dipakai untuk men-generalisasi, kemungkinan ada peluang menghadapi kesulitan untuk mengubah
mindset/belief serta komitmen guru dan siswa untuk mengimplementasikan socio-assessment
melalui implementasi Kurikulum 2013. Pada akhirnya, hal yang sama, keterbatasan finansial dan waktu pada saat ini (scarcity of any kind of resources) untuk mengimplementasikan
socio-assessment dengan benar melalui implementasi Kurikulum 2013 kemungkinan juga merupakan kendala yang perlu mendapatkan perhatian serius (Witjaksono, 2007; 2013).
III. Penutup
Secara singkat dapat dikatakan bahwa pada saat ini, abad-21/abad milenium/abad globalisasi/abad post-modern/ abad ‘perang’ ideologi/abad pendidikan progresif, konsep
socio-assessment di Indonesia mulai diperkenalkan melalui implementasi Kurikulum KBK (2004), KTSP (2006) dan Kurikulum 2013. Konsep ini menggunakan pendekatan kemanusiaan - mengakomodir needs, interests, expectations dan culture setiap individu siswa dalam proses pembelajaran yang terintegrasi dengan penilaiannya (fungsi penilaian formatif melalui assessment for dan as learning). Individu siswa didudukan sebagai subjek dalam sistem pendidikan nasional. Ditingkatkan potensinya melalui suara-suara kritis mereka dan melalui sharing of power antara guru dan siswa dalam mendesain RPP serta dalam proses pembelajaran komprehensif (pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku) yang aktif, partisipatif dan kolaboratif serta menyenangkan bagi setiap individu siswa. Individu siswa mengonstrak pengetahuan setelah berinteraksi sosial dengan dirinya, teman sebayanya dan dengan guru mereka melalui self-, peer-, dan co-assessment serta setelah berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitarnya (socio constructivist paradigm) dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran aktif dan berbagai metode penilaian proses. Individu siswa dimonitor perkembangan pembelajarannya secara kontinyu selama proses pembelajaran melalui
immediate, direct constructive feedback (assessment for learning) dan reflective learning (assessment as learning) dalam konteks day-to-day assessment. Sedangkan guru berperan dan bertanggungjawab sebagai fasilitator selama berlangsungnya pembelajaran melalui
scaffolding atau zone of proximal development. Mereka bertindak sebagai pendidik dan sekaligus sebagai pengajar dalam kaitannya untuk mencapai target/tujuan pembelajaran. Hal tersebut di atas dapat berlangsung apabila beberapa kondisi yang tersebut di atas terpenuhi, sehingga outcomes dari proses pembelajaran berbasis kemanusiaan dapat menjadi kontributor signifikan bagi terwujudnya manusia Indonesia yang cerdas, terampil dan santun.
Pustaka
for Macionis Society: The Basics, 11/e. Pearson Education, Inc.
Black, P., and Wiliam, D. (1998). Assessment and classroom learning. Assessment in
Education, 5(1), pp.7-74.
Black, P., Harrison, C., Lee., C., Marshall, B., & Wiliam, D. (2002) Working inside the black box: Assessment for learning in the classroom. London: King’s College, Department of Education & Professional Studies.
Black, P., Harisson, C., Lee, C., Marshall, B., and Wiliam, D. (2003). Formative and
summative assessment: can they serve learning together? (Draft). Paper
presented at AERA Chicago, 23 April. SIG Classroom Assessment Meeting.
Broadfoot, P. (1996). Assessment and learning: Power or partnership? In H.Goldstein and T. Lewis (Eds.), Assessment: Problems, developments and statistical issues. John Wiley & Sons, Ltd.
Cobb, P. (1994). Where is the mind? Constructivist and socio-cultural perspectives on
mathematical development. Educational Researcher, 23(7), pp.13–20.
Delors, J., Al Mufti, I., Amagi, A., et al. (1996). Learning: the treasure within. Report of the
International Commission on Education for the Twenty First Century. Paris:
UNESCO.
Emslie, G., Jonsson, M., Kwawukume, S., Kuhlenkamp, J., Noor, N., and Strapkova, I.
(2004). Assessment: Its impact in the classroom. Bobergsskolan Report.
Fullan, M. (1998). Education reform: Are we on the right track? Canadian Education
Association, 38(3).
Gipps, C. (1999). Socio cultural aspects of assessment. Review of Research in Education
– AERA, 24, pp. 355 – 392.
Hargreaves, D. (2001). A capital theory of school effectiveness and improvement. British
Educational Research Journal, 27(4). Qualifications and Curriculum Authority.
Loyd, B.H. (1994). Book review: Toward a science of educational testing and assessment
by H. Berlak., F.M. Newmann., E. Adam., D.A. Archbald., T. Burgess., J.
Raven., and T.A. Romberg. Journal of Educational Measurement, 31(1),
pp.83-87.
Osborn, M., Broadfoot, P., Planel, C., and Pollard, A. (1997). Social class, educational
opportunity and equal entitlement: dilemmas of schooling in England and
France. Comparative Education, 33(3), pp.375-393.
Prideaux, J.B. (2007). The constructivist approach to mathematics teaching and the active
learning strategies used to enhance student understanding. Fisher Digital
Publications.
Senge, P.M. (2000). Systems Change in Education, Reflections, Vol.1, No. 3, p 58
The Partnership for 21st Century Skills (P21), 2011. Putting it all together: 21st Century
skills, Common Core and Assessment.
The very best twitter quotes from ILA (2015).
Witjaksono, R. (2007). Analysis of Policy on Educational Assessment in relation to the
Implementation of the New 2004 Curriculum/Revised 2006 Curriculum (KTSP):
A Case Study of Four Senior General Secondary Schools in Jakarta, Indonesia
(Unpublished Doctoral Thesis, 2nd Draft). School of Curriculum, Pedagogy, and
Assessment, Institute of Education, University of London.
Witjaksono, R. (2013). Implementasi Awal Kebijakan Kurikulum 2013 di Sekolah Menengah
Atas Negeri 3 Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Buletin