• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA ME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA ME"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN IPA

MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN AKTIF, KREATIF,

EFEKTIF DAN MENYENANGKAN (PAKEM) PADA SISWA

KELAS 4 SD NEGERI CABAWAN 1 KECAMATAN

MARGADANA KOTA TEGAL

Susi Purwanti [email protected]

Abstrak : rendahnya kualitas pembelajan IPA di kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Cabawan 1 adalah pola dan metode pembelajaran yang bersifat monoton. Hal ini berdampak pada menurunya motivasi belajar dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pemecahannya adalah penerapan model pembelajaran yang menyenangkan, dan mencerdaskan yaitu model pembelajaran PAKEM. Hasil menunjukkan pembelajaran Pakem mampu meningkatkan minat membaca dari 15,58% menjadi 29.87%, yang sering membaca meningkat dari 29,87% menjadi 61,04%, dan yang kadang-kadang membaca menurun dari 51,95% menjadi ] [[]22,08%, siswa merasa senang 58,44%, merasa lebih mudah memahami 77,02% dan meningkatkan pemahaman konsep ekosisitem 80,52%.

Kata kunci: Model Pembelajaran PAKEM, Kualitas pembelajaran

PENDAHULUAN

(2)

langsung pada rendahnya ketercapaian kompetensi kognitif, psikomotor, dan afektif siswa.

Kondisi serupa terjadi pada siswa kelas 4 SD Negeri Cabawan 1 Kecamatan Margadana Kota Tegal. Pembelajaran pada mata pelajaran IPA di kelas tersebut kurang mendapatkan perhatian yang baik dari siswa. Mata pelajaran IPA bagi siswa kelas 4 SD termasuk materi yang sulit dan memerlukan cara pemahaman yang lebih spesifik, karena sebagian besar isi materi IPA banyak sekali konsep-konsep alam yang terjadi di sekitar kehidupan nyata. Motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPA tampaknya sangat rendah. Hal ini terbukti dari hasil pembelajaran bidang IPA masih jauh dari harapan. Banyak siswa tidak mampu memahami dan menghubungkan antara isi materi IPA dengan kejadian sehari-hari. Kondisi ini terjadi karena kurang adanya variasi model pembelajaran yang dilakukan oleh para guru. Selain itu juga karena kondisi dan alam pemikiran siswa kelas 4 SD Negeri Cabawan 1 Kecamatan Margadana Kota Tegal yang belum mampu menangkap secara komprehensif materi IPA yang diberikan oleh guru.

Akar permasalah utama yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran IPA ialah bahwa selama ini sistem pembelajaran bidang IPA masih banyak bertumpu pada pengembangan aspek kognitif siswa saja, di mana guru menggunakan cara pembelajaran yang masih konvensional, sehingga aspek psikomotor dan aspek afektif kurang dapat berkembang secara optimal. Sementara itu sebagian besar siswa merasa kurang senang mengikuti pelajaran IPA karena tidak menarik, materinya sulit dan guru yang menyajikan proses pembelajaran kurang menarik. Kondisi ini berdampak negatif terhadap kualitas pembelajaran siswa kelas 4 SD. Oleh karena itu diperlukan upaya meningkatkan kualitas pembelajaran pada mata pelajaran IPA melalui desain pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan.

(3)

bagi siswa (Diknas, 2004). Hal terpenting yang dapat dilakukan oleh guru adalah memperbaiki proses pembelajaran sebagai upaya tindakan terhadap penyelesaian permasalahan-permasalahan yang ditemukan dan dialami dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan serta mencerdaskan siswa. Dengan demikian diharapkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di tingkat sekolah dasar dapat ditingkatkan dengan cara memperbaiki dan menyusun desain pembelajaran yang lebih sesuai, dimana siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan menyenangkan.

Salah satu desain model pembelajaran yang menarik adalah pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM). Pembelajaran Aktif menuntut guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang mendorong siswa aktif dalam proses pembelajaran. Kreatif dimaksudkan agar guru dalam proses pembelajaran menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga mampu memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan dimaksudkan agar suasana belajar mengajar di kelas cukup menyenangkan sehingga siswa mampu memusatkan perhatiannya secara penuh pada kegiatan belajar mengajar. Kegiatan pembelajaran belum cukup jika hanya aktif dan menyenangkan, namun juga harus efektif, yaitu mencapai hasil belajar dan tujuan pembelajaran yang diharapkan (Puspowati dan Astuti, 2004).

Rumusan permasalah dalam penelitian ini adalah apakah kualitas pembelajaran IPA dapat ditingkatkan dengan menggunakan desain pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) pada siswa kelas 4 SD Negeri Cabawan 1 Kecamatan Margadana Kota Tegal.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA dengan menggunakan desain pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) pada siswa kelas 4 SD Negeri Cabawan 1 Kecamatan Margadana Kota Tegal. Sedangkan manfaat penelitian ini antara lain:

(4)

2. Bagi guru, memberikan masukan yang positif pada para guru untuk dapat diadopsi dan adaptasi tentang desain pembelajaran PAKEM sesuai kondisi lingkungan sekolah;

3. Bagi Sekolah, memberikan masukan kepada lembaga pendidikan untuk dapat memprogramkan dan memfasilitasi peningkatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menggunakan desain pembelajaran yang lebih baik dan sesuai.

PROSEDUR PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kelas 4 SD Negeri Cabawan 1 Kecamatan Margadana Kota Tegal.

Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan pada semester genap, mulai bulan Januari 2013 sampai Maret 2013.

B. Subyek Penelitian.

Subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas 4 SD Negeri Cabawan 1 Kecamatan Margadana Kota Tegal.

C. Prosedur Penelitian.

Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan desain PTK model John Elliot, yaitu pada setiap siklus menggunakan satu tindakan (acting) yang terdiri dari beberapa tahap (NcNiff, 1992). Hal ini disebabkan dalam PTK ini menggunakan lebih dari satu pokok bahasan, yaitu empat pokok bahasan. Siklus yang direncanakan dalam PTK ini adalah 3 siklus, sebagai berikut:

Siklus I : Diberikan materi bahan ajar IPA, LKS, integrasi Imtaq; Siklus II : Diberikan materi bahan ajar IPA, LKS, integrasi Imtaq,

metode permainan dan pemutaran VCD tentang ilmu alam (Sains);

(5)

Setiap terminal dan masing-masing siklus diadakan refleksi atau evaluasi untuk menentukan skenario tindakan berikutnya.

Secara rinci, prosedur penelitian dalam setiap siklus adalah:

Tahap Persiapan.

Kegiatan ini dilakukan secara bersama antara peneliti dan guru dalam menentukan langkah-langkah penelitian yang meliputi:

a. Peneliti dan guru berkolaborasi menetapkan model pembelajaran PAKEM untuk meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran mata pelajaran IPA

b. Membuat perencanaan pengajaran,

c. Membuat dan melengkapi alat media pembelajaran. d. Membuat lembar observasi.

e. Mendesain alat evaluasi.

Tahap Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang telah ditetapkan bersama peneliti.

Tahap Observasi

Dalam tahap ini dilakukan observasi oleh peneliti/observer terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan.

Tahap Refleksi

(6)

Penelitian ini dilakukan dalam 3 (tiga) siklus, sehingga pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini benar-benar akan bermanfaat dan meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran mata pelajaran biologi.

Penelitian ini membutuhkan data kualitatif dan kuantitatif, sehingga digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :

a. Metode Observasi, digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif yang berkaitan dengan perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Proses pengumpulan data ini dilakukan oleh pengamat/observer, dengan mengisi lembar observasi yang telah disiapkan.

b. Metode Tes, digunakan untuk memperoleh data prestasi siswa, untuk mengukur tingkat penguasaan materi sesudah diberi tindakan. c. Metode Wawancara, metode ini dilakukan jika ada siswa yang

bermasalah sesudah pelaksanaan tindakan berakhir.

d. Metode Angket, metode ini untuk mengumpulkan data tentang peningkatan minat siswa dalam mengikuti model pembelajaran PAKEM

HASIL PENELITIAN TINDAKAN Siklus I.

Pelaksanaan kegiatan pada siklus I dilakukan dengan membuat persiapan dan rencana tindakan berdasarkan hasil diskusi antara peneliti dengan guru dan observer. Berdasarkan pengamatan awal terhadap permasalahan di kelas 4, diperoleh hipotesis tindakan sebagai berikut:

- penggunaan lembar kegiatan siswa secara terstruktur dapat meningkatkan kesadaran siswa untuk membaca dan mempersiapkan diri mengikuti proses pembelajaran

- pengintegrasian konsep-konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari dan penanaman nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan (Imtaq).

(7)

(RP) 1 dan 2 dengan materi Bentuk-bentuk perlindungan diri hewan terhadap musuhnya. Hal-hal penting yang dilakukan pembelajaran ini adalah:

- membentuk kelas menjadi beberapa kelompok belajar dengan anggota 5 (lima) siswa setiap kelompok,

- memberikan apersepsi dan ringkasan materi,

- memberikan petunjuk pelaksanaan lembar kegiatan siswa (LKS),

- melaksanakan kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan berupa lomba/permainan,

- memberikan waktu untuk mendiskusikan hasil lomba/permainan,

- mengarahkan dan menghubungkan materi permaian kedalam pemahaman konsep IPA dan penanaman nilai Imtaq. Diskusi dipandu oleh guru dengan mengembangkan materi lomba/permainan tentang konsep bentuk perlindungan diri hewan yang ada di sekitarnya. Menanamkan konsep pentingnya perlindungan diri pada siswa untuk dapat mengembangkan kompetensi dalam belajar dan hidup di masyarakat.

Hasil monitoring (observasi) dan evaluasi pelaksanaan siklus I diperoleh beberapa temuan, sebagai berikut:

1. Jalannya proses pembelajaran yang berupa lomba/permainan secara umum berjalan dengan baik sesuai dengan rencana, tetapi masih terkesan kaku dan siswa tampak ”larut” dalam permainan sehingga kurang dapat dikendalikan aktivitasnya.

2. Substansi materi pembelajaran dapat diterima siswa bahkan dapat dikembangkan karena pendekatan pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual.

3. Diskusi masih belum berkembang, karena siswa tidak tahu makna dibalik lomba/permainan yang dilakukan. Pertanyaan dapat dijawab dengan jawaban yang bersifat spekulatif, tanpa ada keterkaitan dengan materi pembelajaran.

(8)

5. Atmosfer pembelajaran cukup kondusif, aktivitas siswa dapat digali dan siswa merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan siklus 1, maka dirumuskan refleksi sebagai berikut:

- Guru dalam memandu proses pembelajaran masih ”terbelenggu” dengan metode pembelajaran konvensional, sehingga beberapa aktivitas dalam skenario pembelajaran tidak dilaksanakan.

- Persiapan siswa pembelajaran siklus 1 masih kurang, siswa enggan membaca buku dan sumber belajar lain yang relevan.

- Siswa masih terikat pada pola pembelajaran konvensional, di mana siswa lebih banyak menerima informasi, sehingga tampak canggung dalam proses pembelajaran.

- Siswa belum terbiasa berdiskusi dan menyampaikan pendapat dan belum memahami tentang kedudukan dan fungsinya dalam kelompok belajar.

Hasil refleksi siklus I merekomendaskan aktivitas kegiatan yang dapat dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut:

a. Persiapan guru dalam proses pembelajaran harus lebih diselaraskan dengan ”tuntutan skenario” yang ditetapkan dalam RP dan LKS.

b. Siswa lebih disiapkan dengan skenario pembelajaran yang sudah disiapkan.

c. Penerapan pembelajaran kooperatif dengan memberikan tanggung jawab yang bersifat individual, sehingga diharapkan semua siswa aktif dalam proses pembelajaran.

d. Integrasi nilai-nilai Imtaq masih perlu ditekankan dalam proses pembelajaran.

Siklus II.

(9)

tumbuhan dengan lingkungannya. Pembelajaran yang akan dilaksanakan adalah pembelajaran di luar kelas (out door), dengan memanfatkan sumber belajar di sekitar sekolah, dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:

a. membagi kelas menjadi 2 (dua) kelompok, dengan memperhatikan karakter anggota kelompok,

b. memberikan pengarahan pada siswa tentang aktivitas yang harus dilaksanakan,

c. memandu diskusi langsung pada saat siswa beraktivitas, dan merangsang siswa untuk mengembangkan konsep-konsep IPA terhadap hasil temuannya.

d. Menanamkan nilai Imtaq tentang konsep perlunya perlindungan diri yang dilakukan oleh tumbuhan.

e. Melibatkan semua guru dan observer dalam proses penggalian kompetensi belajar siswa pada saat siswa beraktivitas.

Kegiatan monitoring dilakukan oleh guru/observer pada masing-masing aktivitas kelompok siswa yang dibina. Monitoring proses dilakukan dengan pendekatan pengamatan sejawat (observasi peer) dan supervisi klinis pada implementasi tindakan pada siklus II. Hasil monitoring diperoleh data hasil sebagai berikut:

a. Proses pembelajaran sudah lebih santai dan siswa lebih menikmati mekanisme pembelajaran yang sedang dilaksanakan.

b. Aktivitas siswa dalam bertanya hasil pengamatannya semakin meningkat, rata-rata 65% siswa setiap kelompok mengajukan pertanyaan.

c. Proses diskusi berjalan semakin baik dengan tingkat pemerataan aktivitas setiap kelompok mencapai 72%.

d. Bobot pertanyaan siswa lebih berkembang dan relevansi pertanyaan dengan materi pembelajaran semakin ”mengerucut” pada pemahaman suatu konsep perlindungan diri.

(10)

f. Tumbuhnya aspek afektif siswa terhadap lingkungan dengan sikap tidak merusak tanaman.

Berdasarkan hasil monitoring, dapat ditetapkan hasil refleksi kegiatan sebagai berikut:

a. Siswa belum memiliki kemampuan eksperimen dalam mengamati gejala dan fakta alam,

b. Kemampuan menghubungkan data / fakta belum sepenuhnya tergali, siswa hanya tahu sebatas kejadian / fakta yang ada di sekitarnya.

c. Pembelajaran masih menitikberatkan pada kajian teori, pembelajaran aspek kontekstual belum optimal.

d. Aspek afektif siswa sudah tercermin dari perilaku siswa yang berwawasan lingkungan.

Dampak positif hasil implementasi tindakan pada siklus II meningkat secara signifikan terhadap proses instruksional maupun terhadap siswa, namun masih membutuhkan optimalisasi tindakan pada siklus berikutnya.

Siklus III.

Pelaksanaan siklus III mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang terangkum pada Rencana Pembelajaran siklus III. Materi pada siklus 3 adalah konsep tentang penyesuaian mahluk hidup sebagai bentuk pertahanan diri untuk tetap hidup. Pembelajaran dilkukan dengan menggunakan penayangan VCD tentang bentuk-bentuk penyesuaian diri dan bentuk penyamaran mahluk hidup. Urutan pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut:

a. membentuk kelompok diskusi dengan anggota berkisar 4-5 siswa dengan memperhatikan karakter setiap anggota kelompok.

b. Memberikan ulasan dan persepsi tentang kegiatan yang harus dilaksanakan oleh siswa.

c. Memberikan lembar kegiatan siswa, yang harus dilaksanakan setelah melihat tayangan VCD pembelajaran.

(11)

dilakukan dengan pendekatan observasi kelompok oleh masing-masing observer dan pendekatan triangulasi hasil observasi masing-masing observer. Hasil monitoring memperoleh data sebagai berikut:

a. atmosfer akademik siswa dalam mendiskusikan masalah-masalah yang diajukan berdasarkan tayangan VCD terbangun, Kompetensi siswa pada aspek kognisi terlihat optimal dengan peningkatan aktivitas bertanya dan berpendapat mencapai 68%.

b. Rekonstruksi daya imajinasi siswa dalam memahami suatu konsep penyesuaian dan perlindungan diri mahluk hidup dapat tergali, terbukti dengan beragamnya jawaban dan pendapat pada lembar kegiatan siswa yang dibahas secara berkelompok.

c. Motivasi siswa dalam belajar IPA tergali, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran 94% terbangun.

d. Siswa lebih memahami secara komprehensif tentang konsep-konsep IPA yang dipelajari.

e. Terjadi peningkatan daya serap terhadap materi, dimana jawaban atas pertanyaan dalam lembar kegiatan siswa diselesaikan dengan benar. Perkembangan hasil proses pembelajaran pada siklus I terlihat ada perkembangan yang cukup menggembirakan, dimana atmosfer akademik dan keterlibatan siswa sudah mulai tampak, walaupun aktivitas belum merata pada semua siswa. Dalam mengikuti proses pembelajaran siswa merasa senang dengan pendekatan permainan dan lomba, sehingga secara tidak sadar siswa sudah merasa senang belajar IPA. Rasa senang siswa dapat dilihat dari rasa ”ingin tahu” mereka dengan bentuk permainan yang berikutnya.

(12)

Pada siklus II terjadi peningkatan yang lebih baik dibandingkan pada siklus I. Daya serap siswa dalam belajar IPA meningkat, dimana siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran dengan melakukan pembelajaran dengan pendekatan permainan/lomba yang menyenangkan.

Peningkatan aktivitas yang terjadi pada siklus II antara lain seperti proses pembelajaran sudah lebih santai dan siswa lebih menikmati mekanisme pembelajaran yang sedang dilaksanakan, bobot pertanyaan siswa lebih berkembang dan relevansi pertanyaan dengan materi pembelajaran semakin ”mengerucut” pada pemahaman suatu konsep perlindungan diri, tumbuhnya aspek afektif siswa terhadap lingkungan dengan sikap tidak merusak tanaman. Hal itu terjadi karena kondisi mental siswa sudah mampu ”menangkap” pesan pembelajaran yang dilaksanakan, sehingga siswa menikmati jalannya aktivitas pembelajaran. Selain itu, guru mampu menfasilitasi ”pesan pembelajaran” yang dilaksanakan. Dengan demikian terjadi sinkronisasi antara pola pembelajaran PAKEM yang diterapkan dengan motivasi belajar siswa.

(13)

Berdasarkan hasil analisis angket yang berikan kepada siswa tentang pmbelajaran IPA menggunakan PAKEM dari siklus I sampai dengan III, dapat dirangkum sebagai berikut : Pembelajaran Pakem mampu meningkatkan minat membaca siswa dari 15,58% menjadi 29.87%, yang sering membaca meningkat dari 29,87% menjadi 61,04%, dan yang kadang-kadang membaca menurun dari 51,95% menjadi 22,08%. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa implementasi pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan minat baca siswa asal diberi lembar keja secara testruktur seperti tergambar pada grafik 1.

Grafik 1. Perbandingan minat baca siswa pada pembelajaran PAKEM

a. Tanggapan siswa dalam mempelajari IPA merasa senang belajar IPA meningkat dari 38,98% mejadi 58,44%, merasa lebih mudah belajar IPA meningkat dari 76,53% menjadi 77,02%, siswa memahami konsep ekosistem meningkat dari 49,53% menjadi 80,52%. Hal ini dapat dimaknai bahwa pelajaran IPA terutama materi biologi bukan materi yang ditakuti siswa, seperti tergambar pada grafik 2 berikut.

0

senang sering baca kurang baca kadang

(14)

Grafik 2. Tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPA (biologi)

b. Siswa lebih menyukai pembelajaran secara kontekstual, yaitu pembelajaran yang berkaitan dengan dunia nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna, dimana siswa yang menyatakan sangat setuju meningkat dari 44,16% menjadi 61,04% seperti tergambar pada grafik 3. Hal ini dapat dimaknai bahwa dalam proses pembelajaran harus senantiasa menggunakan model dan metode serta pendekatan yang lebih bervariasi

dan dapat dilihat dikehidupan sehari-hari.

Grafik 3. Tanggapan siswa tentang pembelajaran kontekstual

0 10 20 30 40 50 60 70

Sangat setuju

Setuju tidak setuju

(15)

c. Terjadi peningkatan daya serap kognitif, nilai rata-rata post test 77.82 pada siklus 1 menjadi 79,64 pada siklus 2 dan meningkat menjadi 82,36 pada siklus 3. Hal ini menunjukan bahwa hal utama dalam proses pembelajaran harus dapat meningkatkan prestasi belajar. Pembelajaran PAKEM selain mendesain pembelajaran yang menyenangkan juga berorientasi pada peningkatan prestasi belajar siswa seperti tergambar pada grafik 4.

Grafik 4. Nilai rata-rata post test 75

76 77 78 79 80 81 82 83

Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3

(16)

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Simpulan dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pembelajaran Pakem mampu meningkatkan minat membaca siswa dari 15,58% menjadi 29.87%, yang sering membaca meningkat dari 29,87% menjadi 61,04%d, dan yang kadang-kadang membaca menurun dari 51,95% menjadi 22,08%.

2. Tanggapan siswa dalam mempelajari IPA merasa senang belajar IPA meningkat dari 38,98% mejadi 58,44%, merasa lebih mudah belajar IPA meningkat dari 76,53% menjadi 77,02%, siswa memahami konsep ekosistem meningkat dari 49,53% menjadi 80,52%.

3. Siswa lebih menyukai pembelajaran secara kontekstual, yaitu pembelajaran yang berkaitan dengan dunia nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna, dimana siswa yang menyatakan sangat setuju meningkat dari 44,16% menjadi 61,04%.

4. Terjadi peningkatan daya serap kognitif, nilai rata-rata post test 77.82 pada siklus 1 menjadi 79,64 pada siklus 2 dan meningkat menjadi 82,36 pada siklus 3.

5. Penggunaaan LKS secara terstruktur mampu meningkatkan minat baca dan tingkat pemahaman siswa terhadap konsep IPA.

B. Saran.

1. Desain pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikan dan mencerdaskan pada semua konsep dan materi pembelajaran dapat dilaksanakan pada setiap proses pembelajaran dengan tetap memperhatikan karakteristik setiap materi.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 1999. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta

Diknas, 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Actions Research). Jakarta. Proyek Peningkatan Mutu SMU-ADB LOAN.

Diknas, 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Biologi SMU.Jakarta. Litbang Diknas.

NcNiff, J. 1992. Actions Research for Education Change: Principle and Practice. London: Routledge.

Puspitowati dan Astuti. 2004. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan

Menyenangkan (PAKEM) dan Tematik, Bimbingan Teknis Guru SD/MI Mata Pelajaran IPA Tingkat Propinsi Jawa Tengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi jateng. Semarang. 8-13 Agustus 2004.

Sarwono, W., Sarlito. 2002. Psikologi lingkungan. Psikologi UI Program Pasca Sarjana. Jakarta: PT. Gramedia.

Sopyan, A. 2002. Desain dan Model Pengembangan Pembelajaran. Makalah disampaikan dalam pelatihan Penyusunan Desain Pembelajaran. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan propinsi Jawa tengah. Semarang: 8-21 September 2002.

Suparman, A. 1995. Desain Instruksional. Jakarta: PAU untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional. Ditjen Dikti. Depdikbud.

Tillar, H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 2001. Indonesia Tera. Magelang.

Gambar

Grafik 1. Perbandingan minat baca siswa pada pembelajaran PAKEM
Grafik 3. Tanggapan siswa tentang pembelajaran kontekstual
Grafik 4. Nilai rata-rata post test

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Peraturan Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Nomor DJ.I/212/2011 tentang Persyaratan dan Prosedur Pembukaan Program Studi Perguruan Tinggi Agama Islam,

227, Bila bentuk ini terletak pd salah satu bidang sadkonanya, tampak atas berupa dwidasakona.. Bila terletak pd salahsatu bidang astakona, tampak atas berupa astakona dg

Berdasarkan analisis data dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan penggunaan Metode Bermain Peran Terhadap Kemampuan Berbicara

[r]

Za zmanjševanje in prepre ˇcevanje neenakosti bo gotovo treba narediti še veliko. Vsekakor pa šola pri tem potrebuje tudi podporo širše družbene skupnosti. Zato smo vsi, ki skrbimo

Hasil Penelitian : Responden yang berpengetahuan rendah sebanyak 21 (35.5%), tidak memberikan ASI ekslusif sebanyak 21 (33,9%), tidak melakukan sterilisasi pada

Selain itu Obat Asli Indonesia (OAI) belum sepenuhnya dikembangkan dengan baik meskipun potensi yang dimiliki sangat besar. Pengawasan terhadap keamanan dan mutu obat

Sedikit berbeda dengan halaman produksi kayu Halaman penggunaan kayu menampilkan informasi jenis kayu apa saja yang digunakan dalam kebun tersebut dan turunan