Indonesia Sebagai Ancaman bagi Australia

12 

Teks penuh

(1)

INDONESIA SEBAGAI ANCAMAN AUSTRALIA Oleh: Taufiq Yasin Rosyadi

Introduction

Tahun 2013 lalu, gencar isu tersebar bahwa Badan mata-mata Australia telah berusaha menyadap telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ani Yudhoyono istrinya, dan sejumlah menteri dalam kabinet SBY. Laporan tersebut muncul saat hubungan bilateral Indonesia dan Australia tegang terkait tuduhan mata-mata sebelumnya dan terkait bagaimana menangani masalah imigran ilegal yang bertujuan ke Australia melalui Indonesia.

Spionase yang dilakukan Australia kepada Indonesia menjadi perhatian khusus oleh media dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. bagi sebagian lapisan masyarakat, aksi yang dilakukan Australia menuai keresahan. Namun, bagi sebagian akademisi dan politisi, apa yang dilakukan Australia kepada Indonesia mereka anggap wajar. hal itu sudah lumrah terjadi di berbagai negara dan antar negara. Bahkan, aksi yang telah dilakukan ini merupakan Indikasi bahwa Australia menganggap Indonesia sebagai sebuah ancaman bagi mereka secara internal. Dan secara eksternal, Australia merupakan aliansi Amerika Serikat untuk mendukung dan mengawasi kepentingan nasionalnya di Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara.

Secara definisi, penyadapan yang dilakukan badan intelijen Australia kepada Pemerintahan Indonesia bisa disebut dengan Spionase. Spionase adalah suatu praktik untuk mengumpulkan informasi mengenai sebuah organisasi atau lembaga yang dianggap rahasia tanpa mendapatkan izin dari pemilik yang sah dari informasi tersebut1.

Spionase biasanya dianggap sebagai bagian dari upaya institusional. misalnya pemerintahan atau badan intelijen. Istilah spionase pada mulanya dianggap sebagai suatu keadaan memata-matai musuh potensial atau aktual, terutama untuk tujuan militer, tetapi kini telah berkembang untuk memata-matai perusahaan, yang dikenal secara spesifik sebagai spionase industrial. Banyak

1 The Free Dictionary (2014). Espionage. http://www.thefreedictionary.com/espionage. Diakses pada tanggal

(2)

negara secara rutin memata-matai baik musuh maupun aliansi mereka, walaupun mereka memiliki kebijakan untuk tidak berkomentar akan hal ini. Selain mempekerjakan agen-agen pemerintah sendiri, banyak yang juga menyewa perusahaan swasta untuk mengumpulkan informasi seperti SCG International Risk dan banyak lainnya2. Upaya ini mengambarkan bagaimana negara dalam sistem

internasional yang anarki berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk melindungi keamanan nasionalnya dengan berbagai cara, salah satunya dengan spionase.

Diberitakan bahwa Badan mata-mata Australia telah berusaha menyadap telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ani Yudhoyono istrinya, dan sejumlah menteri dalam kabinet SBY. Dokumen-dokumen yang ada menunjukkan bahwa badan intelijen elektronik Australia, Defence Signals Directorate, melacak kegiatan SBY melalui telepon genggamnya selama 15 hari pada Agustus 2009, saat Kevin Rudd dari Partai Buruh menjadi Perdana Menteri Australia. Daftar target penyadapan juga mencakup Wakil Presiden Boediono, yang pekan lalu berada di Australia, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, juru bicara Presiden untuk urusan luar negeri, Menteri pertahanan, dan Menteri komunikasi dan informatika3.

Aksi spionase yang dilakukan Australia jelas mengganggu keamanan nasional Indonesia. Keamanan nasional dapat dimaknai baik sebagai kondisi maupun sebagai fungsi. Sebagai fungsi, keamanan nasional akan memproduksi dan menciptakan rasa aman dalam pengertian luas, yang di dalamnnya tercaup rasa nyaman, damai, tenteram, dan tertib. Kondisi keamanan semacam ini merupakan kebutuhan dasar umat manusia di samping kesejahteraan. Pemahaman terhadap makna substansi yang terkandung di dalamnya akan bervariasi tergantung kepada tata nilai, persepsi dan kepentingan . Idealisme tentang 2Wikipedia (2014) “Spionase”, diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Spionase, pada tanggal 17 Juni 2014 3 Gidius Patnistik, Kompas (2014) “Australia Sadap Telepon SBY dan Sejumlah Menteri Indonesia”,

diakses dari

(3)

keamanan nasional di Indonesia telah diamanatkan melalui pembukaan UUD 1945 yang mencakup perlindungan terhadap warga negara yang dalam pengertian universal merupakan human security dan hak asasi manusia, perlindungan terhadap masyarakat, dan perlindungan terhadap negara. strategi untuk menghadapi ancaman globalisasi harus disusun dengan mempertimbangkan konteks eskalasi ancaman baik bagi keamanan tradisional dan non tradisional4.

Dalam tulisan ini, penulis akan menulis analisa teoritis atas isu yang dibahas dan berargumen tentang mengapa Australia dengan badan Intelijennya melakukan spionase kepada beberapa pejabat pemerintahan Indonesia, mengapa Indonesia menjadi Ancaman bagi Australia, dan bagaimana upaya untuk mencegah mengantisipasi, mencegah dan atau mengatasi dampak negatif terhadap keamanan di Indonesia. semua argumen berdasarkan landasan teori yang penulis dapatkan dari proses akademik di universitas, khususnya pada mata kuliah Studi Keamanan Internasional

Tulisan ini akan terbatas pada alasan mengapa Australia menganggap Indonesia sebagai ancaman yang di Indkasikan dengan aksi-aksi intelijennya kepada petinggi pemerintah Indonesia dari beberapa teori tentang keamanan dalam studi ilmu hubungan Internasional untuk menjelaskan Indonesia sebagai ancaman bagi Australia dan mengapa demikian.

Method

Dalam paper ini penulis akan menjelaskan apakah Indonesia merupakan ancaman bagi Australia dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi Indonesia sebagai ancaman bagi Australia dengan mengumpulkan beberapa fakta tentang aksi spionase yang dilakukan Australia kepada Indonesia yang dikutip dari beberapa media pemberitaan elektronik.

Teori-teori sumber-sumber ancaman bagi suatu negara oleh Stephen M Walt yaitu Kedekatan Geografis dan Kekuatan Agregat membantu penulis untuk menganalisa faktor-faktor yang membuat Indonesia sebagai ancaman. Dalam hal 4 Damono, Bambang dkk (2010). “Sebuah Konsep dan Strategi Keamanan bagi bangsa Indonesia”, diakses

(4)

Kekuatan Agregat, akan dijelaskan dalam data yang dikutip dari bebagai sumber, dan sumber-sumber kekuatan nasional oleh Hans Morgenthau turut membantu dalam menjelaskan lebih dalam tentang kekuatan Agregat

Discussion

Tindakan penyadapan yang dilakukan terhadap pejabat tinggi Indonesia melalui Kedutaan Besar Australia yang ada di Jakarta merupakan pelanggaran serius ketentuan hukum diplomatik (Konvensi Vienna 1961) mengingat Australia ataupun Indonesia Sudah menjadi negara pihak konvensi tersebut. Australia semestinya menyadari bahwa setiap negara pihak wajib menaati kewajiban dalam konvensi. Tindakan Australia ini dapat dikategorikan sebagai campur tangan urusan dalam negeri Indonesia dan pengingkaran prinsip kesederajatan (perfect equality, of states) yang sangat dijunjung tinggi dalam hubungan internasional secara normatif5. Namun seperti aspek hukum internasional lainnya, Konvensi

Vienna juga merupakan serangkainan perjanjian antar negara-negara yang telah disepakati dan menjadi norma kehidupan dalam sistem internasional. Dalam prakteknya jika ada pelanggaran, tidak ada pemberlakuan hukuman yang pasti terhadap pelaku.

Spionase sejak lama sudah menjadi metode yang sering dijalankan suatu institusi negara untuk mengetahui gerak-gerik objek yang difokuskan. Sudah banyak negara yang melakukan spionase terhadap rivalnya bahkan sekutunya, seperti yang dilakukan Amerika Serikat kepada beberapa negara lainnya.

Dalam konteks spionase non tradiosional, sekarang spionase dilakukan dengan bantuan teknologi. Tidak seperti dulu, dimana intel harus datang langsung ke tempat target berada. Sekarang spionase bisa dilakukan melalui jaringan komputer dan seluler dengan cara meretasnya. Peretasan dilakukan oleh para ahli yang biasanya bekerjasama denga intelijen. Seperti yang dilakukan intelijen Australia kepada petinggi Indonesia, ini adalah model spionase modern dengan

5 Sri Nurhartanto, Gregorius, “Penyadapan Dan Pasang Surut Ri-Australia” diakses dari http://fh.uajy.ac.id/

(5)

menjalankan praktek penyadapan yang tentunya dibutuhkan teknologi canggih untuk melakukannya.

Tapi fakta yang tak bisa dihindari adalah bahwa spionase dalam politik internasional sebenarnya adalah hal yang lumrah dan wajar karena menyangkut pemenuhan kepentingan nasional dan kepentingan keamanan suatu negara. Yang menjadi masalah adalah ketika pelaku spionase gerak-geriknya tercium oleh target, ini justru menciptakan ketegangan antara pelaku dan target spionase.

Indonesia Sebagai Ancaman

Penyadapan Australia kepada Indonesia jelas memiliki alasan yang kuat. Terbongkarnya aksi penyadapan yang dilakukan oleh agen mata-mata Australia terhadap para pejabat tingkat tinggi Indonesia juga membuat presiden SBY gerah. aksi ini tentu memang sesuatu yang sangat serius sehingga harus disikapi secara serius pula oleh pemerintah RI. Bisa diartikan bahwa penyadapan tersebut adalah bentuk pelecehan yang dilakukan pemerintah Australia terhadap kedaulatan RI. Di akun twitternya, SBY sempat memposting beberapa komentar tegas yang berhubungan dengan aksi penyadapan itu6.

Australia jelas menganggap Indonesia sebagai tetangga yang berpotensi menimbukan ancaman bagi negaranya. Menurut Stephen M. Walt ada beberapa faktor yang bisa menimbulkan suatu negara bisa menjadi ancaman potensial bagi negara lainnya. Faktor yang dapat membuat suatu negara berpotensi sebagai ancaman antara lain adalah kedekatan geografis, kekuatan agregat, kemampuan ofensif, dan niat ofensif7.

Dalam kasus Penyadapan antara Australia kepada Indonesia. hal yang membuat Australia merasa terancam kepada Indonesia hingga membuat Australia harus melakukan penyadapan disebabkan karena Indonesia berpotensi menjadi sebuah ancaman bagi Australia karena Australia dan Indonesia secara geografis 6Esvandi Dodi (2013), “Akhirnya SBY Berkicau di Twitter Mengenai Kasus Penyadapan oleh Australia”,

diakses dari http://www.tribunnews.com/nasional/2013/11/19/akhirnya-sby-berkicau-di-twitter-mengenai-kasus-penyadapan-oleh-australia, pada tanggal 17 Juni 2014

(6)

berdekatan dan sumber daya alam Indonesia yang melimpah membuat Indonesia diperhitungkan dimata Australia. dua sebab diatas membuktikan teori Stephen M. Walt tentang sumber ancaman yang bersumber dari kekuatan agregat dan kedekatan geografis.

Jauh sebelum Stephen M. Walt. Morgenthau dalam tulisannya berpendapat bahwa ada 9 unsur-unsur kekuatan nasional di dalam suatu negara. Dimana disini bisa menjelaskan konsep kekuatan agregat yang digagas oleh Walt. Unsur-unsur itu yaitu geografi, sumber daya alam yaitu pangan bahan mentah dan kekuatan minyak; kemampuan industri; kesiagaan militer, yaitu teknologi, kepemimpinan serta kuantitas dan kualitas angkatan bersenjata; penduduk, berkaitan dengan penyebaran penduduk dan kecenderungan-kecenderungannya; karakter nasional, berkaitannya dengan eksistensinya dan kaitannya dengan kekuatan nasional; moral nasional, berkaitan dengan stabiilitas dan kualitas masyarakat dan pemerintah; kualitas diplomasi; dan kualitas pemerintah, yang berkaitan dengan perimbangan antara sumber daya dan politik, perimbangan diantara berbagai sumber daya, dukungan rakyat, dan politik luar negeri suatu negara8.

Kedekatan Indonesia dan Australia secara geografis membuat kedua negara rentan dan mudah untuk memberikan ancaman satu sama lain. Negara-negara yang saling berdekatan lebih bisa berpotensi mengancam daripada Negara-negara yang saling berjauhan satu sama lain9. Sebagai contoh, dahulu Inggris lebih fokus

(7)

depan keamanan nasionalnya sangat berpengaruh dengan bagaimana Indonesia kedepannya. Penyadapan kepada para petinggi dimaksudkan untuk mengetahui dan mengumpulkan informasi sebagai acuan untuk melihat berbagai aspek pergerakan dan rencana-rencana petinggi yang berpengaruh dalam pembuatan keputusan dalam suatu kebijakan.

Yang membuat Australia merasa terancam juga dapat dianalisa atas kekuatan agregat Indonesia yang melampaui Australia sendiri. Kekuatan agregat adalah kekuatan yang terlihat dan dapat dihitung seperti populasi, jumlah peralatan militer, jumlah pasukan militer, dan sumber daya. semakin besar kekuatan agregat suatu negara, semakin besar juga ancaman potensial yang sewaktu-waktu bisa terjadi kepada negara lain10. Sebagai contoh, saat ini sebagai

negara superpower yang memilik banyak populasi dan peralatan perang, Amerika Serikat sangat diwaspadai oleh sebagian besar negara-negara lain di dunia karena kekuatan agregat Amerika Serikat yang tinggi. Pola yang sama terjadi antara Indonesia dan Australia dalam lingkup populasi dan kekuatan militer dan sumber daya ala,. Untuk lebih jelasnya akan dijabarkan dalam tabel dibawah ini.

1.1

(8)

Portable AT weapons 11,000 500

Logistical Vehicles 11,100 12,500

1.3

Air Power Indonesia Australia

Total Aircraft 444 377

Helicopters 187 106

1.4

Naval Power Indonesia Australia

Total Strength 150 54

Aircraft Carriers 0 0

Frigates 6 12

Destroyers 0 0

Corvettes 23 0

Submarines 2 6

Coastal Craft 70 14

Mine Warfare 12 6

Amphibious Assault 26 8

1.5

Resources Indonesia Australia

Oil production 1,115,000 bbl/day 482,500 bbl/day Oil consumption 1,115,000 bbl/day 960,800 bbl/day Proven oil reserves 3,885,000,000 bbl/day 1,426,000,000 bbl/day Sumber: http://www.globalfirepower.com/

Data Tahun 2013

Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa Indonesia lebih dominan jika dibandingkan secara head to head dan memang Australia kalah di aspek kekuatan agregat jika dibandingkan dengan Indonesia dalam perbandingan manpower (kekuatan orang-orang siap untuk melayani negara), naval power (kekuatan angkatan laut), land system (kekuatan angkatan darat), air power (kekuatan angkatan udara) dan resources (sumber daya).

(9)

berpotensi menjadi ancaman menurut Stephen M. Walt yaitu, karena faktor kekuatan agregat, dan kedekatan geografis. Dan menurut penulis, dua faktor lain, kemampuan ofensif, dan niat ofensif sengaja tidak dibahas karena dalam faktor potensi ancaman itu tidak dapat diukur dan dilihat secara jelas apa Indikatornya karena kemampuan ofensif tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor penunjang materil, namun juga skill, skill sulit untuk diukur. kemudian niat ofensif jelas sulit untuk diukur karena bersifat laten.

III. Conclusion

Yang membuat Australia merasa terancam disebabkan atas kekuatan agregat Indonesia yang melampaui Australia sendiri. kedekatan geografis juga mempengaruhi. Karena bagi Australia, Indonesia adalah negara tetangga dan berpotensi menjadi ancaman. Mengingat, dalam sebagian kerjasama yang dilakukan, Australia bisa dianggap sangat bergantung kepada Indonesia. salah satunya dalam hal pencegahan imigran gelap.

Melihat situasi ketegangan yang terjadi antara Indonesia dan Australia akhir-akhir ini. kedua negara sudah melakukan diplomasi satu sama lain. diplomasi adalah salah satu cara menyelesaikan ketegangan yang efektif. Tidak perlu ada respon yang berlebihan dari petinggi Indonesia. ditakutkan, jika ada respon yang berlebihan malah akan menjadi “boomerang” bagi Indonesia. mengingat, spionase sebenarnya juga bisa dibuat sebagai alat Indonesia memenuhi kepentingan nasionalnya terhadap negara-negara lain. Karena dalam keadaan dunia seperti sekarang. Spionase sudah lumrah, spionase bukan tentang bagaimana cara menghentikannya, tapi lebih tentang bagaimana mempertahankan diri dari usaha itu.

(10)
(11)

IV. Reference(s)

1. Morgenthau, Hans J (2010), “Politik Antarbangsa”. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

2. Stephen M. Waltz (1985), “Alliance Formation and the Balance of World Power”, The MIT Press.

3. Esvandi Dodi (2013), Akhirnya SBY Berkicau di Twitter Mengenai Kasus Penyadapan oleh Australia, diakses pada tanggal 17 Juni 2014,

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/11/19/akhirnya-sby-berkicau-di-twitter-mengenai-kasus-penyadapan-oleh-australia.

4. Sri Nurhartanto, Gregorius (2013), Penyadapan Dan Pasang Surut Ri-Australia” diakses pada tanggal 17 Juni 2014. http://fh.uajy.ac.id/2013/11/22/penyadapan-dan-pasang-surut-ri-australia/. 5. Damono, Bambang dkk (2010). Sebuah Konsep dan Strategi Keamanan bagi bangsa Indonesia , diakses pada tanggal 17 Juni 2014. http://www.dkn.go.id/wantannas/images/stories/Buku%20Kamnas

%20wantannas.pdf .

6. Wikipedia (2013). Spionase, diakses pada tanggal 17 Juni 2014. http://id.wikipedia.org/wiki/Spionase.

7. Gidius Patnistik, Kompas (2013) “Australia Sadap Telepon SBY dan Sejumlah Menteri Indonesia”, diakses pada tanggal 17 Juni 2014.

http://internasional.kompas.com/read/2013/11/18/0950451/ Australia.Sadap.Telepon.SBY.dan.Sejumlah.Menteri.Indonesia.

(12)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...