LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TANAMAN
ACARA I
AGROEKOSISTEM DAN JARING PANGAN WILAYAH SEKITAR PANTAI PANGANDARAN
Oleh :
Afdhala Chairullah Anzal A1L012163
Rombongan : D Kelompok ; 3
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO
I. PENDAHULUAN
A. TUJUAN
Untuk menganalisis distribusi dan jenis tanaman yang dibudidayakan berdasarkan tingkat ketinggian tempat yang berbeda serta pengamatan terhadap faktor-faktor lingkungannya
Mengetahui keragaman dan distribusi agroekosistem pada wilayah yang berbedaa antara pantai dan pegunungan dengan berbagai keunikan sistem budidaya pertanian.
B. LANDASAN TEORI
Indonesia merupakan salah satu Negara Maritim terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 17.500 pulau dan memiliki garis panjang pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (18.000 km2) sehingga luas wilayah Indonesia 2/3 merupakan wilayah lautan. Dengan potensi wilayah tersebut Indonesia memiliki potensi ekonomi di sektor sumber daya alam khusunya daratan dan kelautan baik berupa hutan bersistem agroforestry maupun perikanan budidaya yang merupakan suatu potensi yang dapat dimanfaatkan untuk menuju Indonesia yang maju dan makmur (Solikhin,dkk, 2005).
Keanekaragaman tanaman budidaya yang ada di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar. Terdapat beberapa tanaman yang hanya dapat tumbuh pada daerah tertentu atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah tanaman spesifik lingkungan. Akan tetapi ada pula beberapa jenis tanaman yang mampu tumbuh diberbagai lokasi berbeda meskipun dengan keadaan atau kondisi lingkungan yang berbeda pula (Kartasapoetra, 1993).
tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut (Kimmins, 1987).
Teknik Penelusuran Lokasi (Transek) adalah teknik PRA untuk melakukan pengamatan langsung lingkungan dan sumber daya masyarakat, dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati. Hasil pengamatan dan lintasan tersebut, kemudian dituangkan ke dalam bagan atau gambar irisan muka bumi untuk didiskusikan lebih lanjut. Dimana, Transek ini dilakukan untuk mengenal dan mengamati secara lebih tajam mengenai potensi sumberdaya alam serta permasalahan-permasalahannya, terutama sumber daya pertanian. Seringkali, lokasi kebun dan lahan pertanian lainnya milik masyarakat berada di batas dan luar desa, sehingga transek sumber daya alam ini bisa sampai keluar desa (KMP P2KP, 2001).
Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari / diselidiki yang bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungannya atau untuk mengetahui jenis vegetasi yang ada di suatu lahan secara cepat (Kimmins, 1987).
tenaga peneliti yang banyak, survei membutuhkan waktu yang lama, dituntut keahlian peneliti dalam identifikasi, minimal life form dan sebaliknya genus atau spesies (Somarwoto, 2001).
Ekosistem disusun oleh dua komponen, yaitu lingkungan fisik atau tidak hidup (komponen abiotik) dan berbagai jenis makhluk hidup (komponen biotik). Berbagai jenis makhluk hidup tersebut dapat dikelompokkan menjadi satuan-satuan makhluk hidup dan ekosistem :
1. Komponen Abiotik
Komponen abiotik merupakan komponen penyusun ekosistem yang terdiri dari benda-benda tak hidup. Secara terperinci, komponen abiotik merupakan keadaan fisik dan kimia di sekitar organisme yang menjadi medium dan substrat untuk menunjang berlangsungnya kehidupan organisme tersebut. Komponen abiotik meliputi :
a.Air
fotosintesis, penyangga tekanan di dalam sel yang penting dalam aktivitas sel tersebut, mengabsorbsi temperatur dengan baik/mengatur temperatur di dalam tanaman, menciptakan situasi temperatur yang konstan. Air merupakan substrat fotosintesis, tetapi hanya 0,1% dari jumlah air total digunakan oleh tumbuhan untuk fotosintesis. Transpirasi meliputi 99% dari seluruh air yang digunakan oleh tumbuhan, kira-kira 1% digunakan untuk embasahi tubuh, mempertahankan tekanan turgor dan memungkinkan terjadinya pertumbuhan (Suwasono Heddy, 2001).
b. Suhu
Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan tanaman akan baik pada suhu antara 15oC sampai 40oC. Suhu akan
mengaktifkan proses fisik dan kimia pada tanaman. Energi panas akan menggiatkan reaksi biokimia pada tanaman atau reaksi fisiologis dikontrol oleh selang suhu tertentu (Hasan Basri Jumin, 2001).
transpirasi, laju penyerapan air dan nutrisi, fotosintesis, dan respirasi. Suhu dapat mempengaruhi tiga fungsi fisiologi tanaman yaitu pertumbuhan dan perkembangan, asimilasi dan pernafasan. Suhu minimum adalah suhu terendah yang dibawahnya pertumbuhan, asimilasi dan pernafasan menjadi lambat bahkan terhenti. Suhu yang rendah akan mengakibatkan absorpsi air dan unsur hara terganggu karena transpirasi meningkat. Suhu minimum, optimum dan maksimum dapat diketahui dalam ruang yang tak terkendali sehingga dapat mempermudah dalam penyesuaian terhadap keadaan iklim disuatu tempat (Imran S, 2009).
c. Cahaya Matahari
pigmen spesifik Faktor kelembaban/kelembapan udara yaitu kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan (anonim, 2007).
d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme yang terbentuk dari proses pelapukan. Tanah menyediakan unsur-unsur hara yang diperlukan tumbuhan untuk pertumbuhan. Tanah akan memberikan tanggapan yang baik pada tanaman apabila pengolahan tanah baik disertai dengan pemberian pupuk yang cukup. Pengolahan tanah adalah memanipulasi mekanik tanah terhadap tanah untuk menciptakan keadaan tanah yang cukup baik untuk pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah membuat aerasi dalam tanah menjadi lebih baik sehingga pertukaran CO2 dan O2 pada daerah perakaran dapat lancar (Thomas et all, 2004).
e. Hara Mikro
Hara mikro dibutuhkan dalam jumlah sedikit oleh tanaman tetapi karena sifatnya yang esensial dan banyak berperan dalam proses enzimatik maka keberadaannya sangat berpengaruh pada proses metabolisme. Pada pembentukan metabolit sekunder antara lain alkaloid, unsur hara mikro berperan besar pada proses enzimatik yaitu sebagai aktivator atau gugus redox seperti Fe, Zn, Mn, dan Cu . Pemupukan yang berlebihan juga dapat menyebabkan penyerapan unsur-unsur lain terhambat sehingga dapat mengakibatkan kekahatan antara lain kahat unsur mikro (Sharma et al,2000).
Komponen biotik meliputi semua jenis makhluk hidup yang ada pada suatu ekosistem. Menurut peranannya dalam ekosistem, komponen biotik dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu produsen, konsumen, dan pengurai. Organisme yang berperan sebagai produsen adalah semua organisme yang dapat membuat makanan sendiri. Organisme ini disebut organisme autotrof, contohnya adalah tumbuhan hijau. Sedangkan organisme yang tidak mampu membuat makanan sendiri (heterotrof ) berperan sebagai konsumen ( Sowarno, 2009 ). Selain mampu mencukupi kebutuhannya akan energi, produsen juga berperan sebagai sumber energi bagi organisme lain. Energi yang dihasilkan produsen akan dimanfaatkan oleh organisme lain melalui proses makan dan dimakan. Hewan pemakan tumbuhan memperoleh energi dari tumbuhan yang dimakannya. Sedangkan hewan pemakan tumbuhan tersebut juga bisa dijadikan sumber energi bagi hewan lain yang memakannya. Organisme yang memperoleh makanan dengan cara demikian disebut konsumen. Jadi, organisme yang berperan sebagai konsumen adalah organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri atau disebut organisme heterotrof ( Subardi, 2009 ).
mengonsumsi makan yang beragam dan pada gilirannya, menyediakan makan untuk berbagai makhluk lain yang memangsanya. Jadi energy yang terdapat dari hasil bersih dari produsen itu berlalu kedalam jaring-jaring makanan. Jaring-jaring makanan adalah kumpulan berberapa rantai makanan yang membentuk skema (Kimball, 1983).
II. METODE PRAKTIKUM
A. Analisis Vegetasi 1. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain : EC meter, lux meter, termohigrometer, pH meter, soil tester, spidol, penggaris, pulpen, pensil warna atau krayon, pulpen, buku catatan, dan kamera.
2. Prosedur Kerja
a. Tahap Persiapan
Anggota kelompok yang akan mengikuti transek dipersiapkan.
Semua peralatan yang dibutuhkan untuk mengambil data – data dipersiapkan. Lokasi yang akan dilakukan transek ditentukan.
Pembahasan mengenai tujuan pelaksanaan transek tersebut dipahami secara detail sehingga pada saat di lapang dapat meminimalisir kesalahan.
b. Tahap Pelaksanaan
Lokasi awal pengamatan ditentukan.
Pengamatan terhadap tanaman yang dibudidayakan dilakukan. Tanaman yang dibudidayakan didaerah tersebut diamati.
Data mengenai ketinggian tempat, kelembaban udara dan tanah, suhu, kemiringan lahan, dan intensitas cahaya diamati dan dicatat.
B. Jaring Pangan 1. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada Foodweb ini ialah alat tulis, kamera, krayon, kertas plano. Bahan- Bahan yang digunakan antara lain ekosistem di desa wonoharjo.
Anggota kelompok yang akan mengikuti foodweb dipersiapkan.
Semua peralatan yang dibutuhkan untuk mengambil data – data dipersiapkan.
Lokasi yang akan dilakukan foodweb ditentukan. b. Tahap Pelaksanaan
Lokasi awal pengamatan ditentukan.
Amati semua organisme yang berada di ekosistem yang telah ditentukan Kemudian tuangkan pada sebuah grafik
C. Wawancara dengan Petani 1. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan yang digunakan pada wawancara dengan petani ialah alat tulis, kamera. Bahan-bahan yang digunakan ialah Petani setempat.
2. Prosedur Kerja
Siapkan alat-alat yang digunakan untuk wawancara
Kegiatan pengamatan agroekosistem dan wawancara dilakukan di tiga titik yang memiliki jarak berbeda dari pinggir pantai.
Pengamatan dilakukan dengan tanaman yang ada diidentifikasi baik tanaman semusim maupun tahunan serta sistem budidaya yang dilakukan ( monocropping atau multicropping)
mendapat informasi penting sebagai gambaran agroekosistem di wilayah tersebut.
Hasil wawancara ditulis pada lembar pengamatan.. III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Terlampir
B. Pembahasan
Analisa vegetasi adalah salah satu cara untuk mempelajari tentang susunan (komposisi) jenis dan bentuk struktur vegetasi (masyarakat tumbuhan). Analisa vegetasi dibagi atas tiga metode yaitu : (1) mnimal area, (2) metode kuadrat dan (3) metode jalur atau transek. (Soerianegara, 1988)
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan antara komponen komponen tersebut terjadi pengambilan dan perpindahan energi, daur materi, dan produktivitas (Sativani, 2010).
Komponen biotik meliputi semua jenis makhluk hidup yang ada pada suatu ekosistem. Contoh komponen biotik adalah manusia,hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme. Menurut peranannya dalam ekosistem, komponen biotik dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu produsen, konsumen, dan pengurai. Organisme yang berperan sebagai produsen adalah semua organisme yang dapat membuat makanan sendiri. Organisme ini disebut organisme autotrof, contohnya adalah tumbuhan hijau. Sedangkan organisme yang tidak mampu membuat makanan sendiri (heterotrof ) berperan sebagai konsumen ( Sowarno, 2009 ).
Teknik Penelusuran Lokasi (Transek) adalah teknik PRA untuk melakukan pengamatan langsung lingkungan dan sumber daya masyarakat, dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati. Transek ini dilakukan untuk mengenal dan mengamati secara lebih tajam mengenai potensi sumberdaya alam serta permasalahan-permasalahannya, terutama sumber daya pertanian (KMP P2KP, 2001).
Menurut Oosting (1956), menyatakan bahwa transek merupakan garis sampling yang ditarik menyilang pada sebuah bentukkan atau beberapa bentukan. Transek juga dapat dipakai dalam studialtituide dan mengetahui perubahan komunitas yang ada.
monokultur, jarak tanam 1 meter. Pada tanaman kelapa ketinggian tempat 0-5 mdpl, suhu dan kelembaban 32 derajat C / 70%, intensitas cahaya 466 lux, warna tanah coklat terang, tipe tanaman tahunan, distribusi tanaman 17, sistem irigasi tadah hujan, sistem tanam tumpangsari, jarak tanam 1m. Pada tanaman ubi jalar ketinggian tempat 0-5 mdpl, suhu dan kelembaban 32 derajat C, intensitas cahaya 466 lux, warna tanah coklat kehitaman, tipe tanaman semusim, distribusi tanaman 32*21 m, sistem irigasi tadah hujan, sistem tanam monokultur, jarak tanam 30 cm.Pada tanaman kacang tanah ketinggian tempat 0-5 mdpl, suhu dan kelembaban 32 derajat C/70 %, intensitas cahaya 466 lux, warna tanah coklat kehitaman, tipe tanaman semusim, distribusi tanaman 18 * 22 m, sistem irigasi tadah hujan, sistem tanam monokultur, jarak tanam 15*15 cm. Pada tanaman ubi kayu ( singkong ) ketinggian tempat 0-5 mdpl, suhu dan kelembaban 32 º C / 70%, intensitas cahaya 492 lux, warna tanah hitam kecoklatan, tipe tanaman semusim, distribusi tanaman 17 , sistem irigasi non teknis , sistem tanam monokultur, jarak tanam 90*60 cm.
Hasil suatu jenis tanaman bergantung pada interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan seperti jenis tanah, topografi, pola iklim dan teknologi. Dari faktor lingkungan, maka faktor tanah merupakan modal utama. Keadaan tanah sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim, yaitu intensitas cahaya matahari, suhu dan kelembaban.
1. Intensitas Cahaya Matahari
Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa adanya cahaya matahari kehidupan tidak akan ada. Bagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh cahaya selain ditentukan oleh kualitasnya ternyata ditentukan intensitasnya. Intensitas cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan per satuan waktu (kal/cm2/hari). Dengan demikian pengertian intensitas yang dimaksud sudah termasuk lama penyinaran, yaitu lama matahari bersinar dalam satu hari. Pada dasarnya intensitas cahaya matahari akan berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi tanaman. Hal ini dikarenakan intensitas cahaya matahari dibutuhkan untuk berlangsungnya penyatuan CO2 dan air untuk membentuk karbohidrat.
mempengaruhi pertumbuhan tanaman, yaitu faktor makro dan faktor mikro. Yang termasuk dalam faktor makro adalah: cahaya matahari, suhu, kelembaban, awan, angin, serta pencemaran udara. Sedangkan faktor mikro meliputi media tumbuh dan kandungan O2 dan CO2 yang ada di udara.
Menurut Salisbury dan Ross (1992) intensitas cahaya matahari mempunyai peranan besar dalam proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis, respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, menutup dan membukanya stomata, dan perkecambahan tanaman, metabolisme tanaman hijau, sehingga ketersediaan cahaya matahari menentukan tingkat produksi tanaman. Tanaman hijau memanfaatkan cahaya matahari melalui proses fotosintesis. Chozin (1998) melaporkan bahwa intensitas cahaya di bawah tegakan karet umur dua dan tiga tahun setara dengan intensitas cahaya di bawah paranet 25% dan 50%, sedangkan pada tegakan karet berumur empat tahun sudah melebihi intensitas cahaya dalam paranet 75%.
2. Suhu (Temperatur)
rendah dan dapat bertahan dalam suhu beku selama periode musim dingin (Kartasapoetra, 1993).
Ditinjau dari klimatologi pertanian, suhu udara di Indonesia dapat berperan sebagai kendali pada usaha pengembangan tanaman padi di daerah-daerah yang mempunyai dataran tinggi. Sebagian besar padi unggul dapat berproduksi dengan baik sampai pada ketinggian 700 dpl, demikian juga tanaman kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau.
Suhu udara rata-rata yang tinggi baik untuk tanaman seperti kacang tanah dan kapas. Sedangkan gandum, kentang dan tomat dapat ditanam di dataran tinggi dengan suhu yang lebih rendah. Jenis tanaman yang tahan kekeringan diantaranya ubi kayu, wijen, kacang tanah, kacang hijau dan semangka.
3. Kelembapan Udara
4. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat merupakan salah satu faktor pengendali iklim yang berpengaruh kuat terhadap suhu udara. Suhu udara berpengaruh terhadap kecepatan metabolisme terutama fotosintesis dan respirasi tanaman. Pada suhu lingkungan lebih rendah daripada suhu dasar maka pertumbuhan tanaman berhenti (dorman), sedangkan apabila suhu lingkungan lebih tinggi dari pada suhu maksimum maka tanaman akan mati (letal). Dari aspek hubungan iklim-tanaman dikenal suhu kardinal meliputi kisaran kesesuaian suhu minimum, optimum dan maksimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kisaran toleransi terhadap suhu yang berbeda tiap kultivar menyebabkan kisaran toleransi terhadap ketinggian tempat yang berbeda-beda pula untuk tiap jenis kultivar (Nasir, 2003).
pertumbuhan vegetatif mencapai maksimum dan aktif menghasilkan pucuk. Ketinggian tempat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman teh. Hal ini disebabkan ketinggian tempat berkaitan dengan suhu. Semakin tinggi tempat maka suhu semakin rendah dan metabolisme akan berjalan semakin lambat.
5. Derajat Keasaman/pH
Derajat keasaman atau pH tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Contohnya tanah yang bersifat asam terhadap tanah padsolik merah kuning (PMK), agar tanaman dapat tumbuh dengan baik maka jenis tanah ini ditambahkan keasaman dengan pengapuran.
Tempat tumbuh atau tapak adalah suatu tempat yang dipandang dari segi faktor-faktor ekologinya (dalam hubungan kemampuannya untuk menghasilkan hutan atau vegetasi lainnya). Dengan kata lain, tempat tumbuh adalah gabungan kondisi biotik, iklim, dan tanah dari sebuah tempat (Departemen Kehutanan Republik Indonesia 1992).
Faktor-faktor tempat tumbuh dapat dibagi menjadi faktor-faktor yang berpengaruh secara langsung dan faktor-faktor yang berpengaruh secara tidak langsung. Faktor-faktor yang berpengaruh secara langsung misalnya radiasi matahari, kelembaban, dan air tanah. Faktor-faktoryang berpengaruh secara tidak langsung misalnya lereng dan flora serta fauna yang mempengaruhi vegetasi hutan, terutama efeknya terhadap faktor-faktor yang berpengaruh secara langsung. Faktor-faktor tempat tumbuh dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu faktor klimatis, faktor fisiografis, faktor edafis, dan faktor biotis (Soekotjo 1976).
Ketinggian tempat sangat mempengaruhi iklim, terutama curah hujan dan suhu udara. Curah hujan berkorelasi positif dengan ketinggian, sedangkan suhu udara berkorelasi negatif. Wilayah pegunungan, dimana curah hujan lebih tinggi dengan suhu lebih rendah, kecepatan penguraian bahan organik dan pelapukan mineral berjalan lambat. Sebaliknya di dataran rendah penguraian bahan organik dan pelapukan mineral berlangsung cepat. Karena itu di daerah pegunungan keadaan tanahnya relatif lebih subur, kaya bahan organik dan unsur hara jika dibandingkan dengan tanah di dataran rendah (Djayadiningrat 1990).
kompleks dan bervariasi tergantung pada tanggap tanaman terhadap fotoperiode yang berbeda. Suhu malam yang tinggi mencegah atau memperlambat pembungaan dalam beberapa tanaman. Di daerah beriklim sedang perbedaan suhu lebih ditentukan oleh derajat lintang (latitude), Di tropika perbedaan ini lebih ditentukan oleh tinggi tempat (altitude). Ditinjau dari sudut pertumbuhan tanaman, menurut Junghuhn (1853) dalam Semangun (1990), membagi daerah pertanaman di pulau Jawa menjadi 4 zone, yaitu : a. Wilayah berudara panas (0 – 600 m dpal)
Suhu wilayah ini antara 23,3 ºC – 22 ºC, tanaman yang cocok ditanam di wilayah ini adalah tebu, kelapa, karet, padi, lada, dan buah-buahan.
b. Wilayah berudara sedang (600 – 1.500 m dpal)
Suhu wilayah ini antara 22 ºC – 17,1 ºC, tanaman yang cocok ditanam pada wilayah ini adalah kapas, kopi, coklat, kina, teh, dan macam-macam sayuran, seperti kentang, tomat, dan kol.
c. Wilayah berudara sejuk (1.500 – 2.500 m dpal)
Suhu wilayah ini antara 17,1 ºC – 11,1 ºC, tanaman yang cocok ditanam pada wilayah ini antara lain sayuran, kopi, teh, dan aneka jenis hutan tanaman industri.
d. Wilayah berudara dingin (lebih 2.500 m dpal)
Wilayah ini dijumpai tanaman yang berjenis pendek, contoh: edelweis.
ketinggiannya 0-5 m dpl. Daerah ini memiliki suhu wilayah ini antara 23,3 ºC – 22 ºC, tanaman yang cocok ditanam di wilayah ini adalah tebu, kelapa, karet, padi, lada, dan buah-buahan. Pada hasil yang diperoleh daerah Desa Wonoharjo melmilki suhu rata-rata ± 30-34 ºC atau 70 % , sedangkan intensitas cahaya berkisar dari 466 lux sampai 690 lux, pH tanah pada daerah ini berkisar 6,2 – 6,6. Daerah ini merupakan jenis ekosistem pantai, kokmoditas yang ada pada daerah ini juga hampir sama dengan literature, seperti jagung , kelapa, ubi jalar, kacang tanah, kacang panjang, padi, dan tanaman buah-buahan seperti nanas, papaya. Tanah pada daerah ini berwarna coklat kehitaman serta berpasir.
Tumbuhan merupakan organisme autotrof karena dapat membuat makanan sendiri melalui fotosintesis. Dalam proses ini, bahan anorganik diubah menjadi senyawa organik dengan bantuan sinar matahari. Melalui proses fotosintesis, gas hasil buangan organisme lain diubah oleh tumbuhan menjadi zat gula, oksigen, dan energy ( Sowarno, 2009).
organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri atau disebut organisme heterotrof ( Subardi, 2009 ).
Berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsinya, konsumen dibedakan menjadi tiga macam yaitu ( Subardi, 2009):
1. Herbivora adalah organisme pemakan tumbuhan. Contoh dari hewan pemakan tumbuhan yang didapatkan pada pengamatan di pangandaran yaitu ulat, penggerek batang, kambing, belalang.
2. Karnivora adalah organisme pemakan hewan (daging). Contoh yang dapat ditemukan melipuli ular, elang, dan katak
3. Omnivora adalah organisme pemakan segala jenis makanan, baik tumbuhan maupun hewan. Contoh omnivora adalah ayam.
makanan adalah kumpulan berberapa rantai makanan yang membentuk skema (Kimball, 1983).
Pada praktikum ini food web yang di dapatkan bahwa adanya produsen yaitu tanaman jagung karena pada ekosistem yang kami dapat tanaman jagung merupakan tanaman yang paling dominan. Dari data yang kami peroleh didapat bahwa diketahui konsumen tingkat 1 yaitu belalang, semut, ulat, kupu-kupu, lebah, jangkrik. Pada konsumen tingkat 2 diketahui ladybug atau kumbang macan dan katak, karena ladybug ini memakan semut serta kodok memakan belalang, jangkrink dan hewan-hewan lain pada konsumen tignkat 1. Pada konsumen tingkat 3 dihuni oleh katak karena katak memakan semua baik konsumen tingkat 1 maupun tingkat 2.
Pada Foodweb gabungan dilihat bahwa produsen ialah tanaman jagung, kacang tanah, sorgum dan kelapa. Konsumen tingkat pertama dari foodweb ini adalah bekicot, belalang, ulat, lebah, kupu-kupu, ladybug, tikus, jangkrik. Konsumen tingkat kedua pada Foodweb ini ialah katak , laba-laba, burung , sedangkan pada konsumen tingkat tiga deiketahui ialah ular.
aliran energi pada rantai makanan jumlahnya semakin berkurang. Pergerakan energi di dalam ekosistem hanya satu jalur, berupa aliran energy.
IV. KESIMPULAN
1. Desa Wonoharjo merupakan daerah berudara panas denga kisaran suhu ±30- 34 ºC, dengan rata-rata ph ±6,2,6,6 memiliki tanah berwarna coklat
kehitaman .
2. Pada Desa Wonoharjo didapatkan beberapa komoditas jagung, kacang tanah, kacang panjang, ubi jalar, kelapa, karet dsb.
3. Transek merupakan metode penggambaran identifikasi suau ekosistem dengan teknik penelusuran yang kemudian dituangkan pada sebuah media dengan bentuk grafik.
5. Foodweb merupakan suatu bentuk dari rantai pangan pada suatu ekosistem yang dituangkan pada suatu media grafik. Pada hasil yang didapat ialah organisme seperti belalang, ladybug, kupu-kupu, lebah , katak dan jangkrik. 6. Wawancara pada petani adalah suatu metode guna mengetahui suatu keadaan
ekosistem disuatu tempat yang di bina oleh petani.
DAFTAR PUSTAKA
Baharsyah,J.S, Suwardi,D dan Irsal Las. 1985. Hubungan Iklim dengan Pertumbuhan Kedelai. Badan penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Pusat penelitian dan pengembangan tanaman pangan. Bogor.
Chozin MA. 1998. Sustainable farming system practices in Indonesia. Paper prenseted on seminar on development of sustainable farming system, Kandy, June 5 -10 1995. Asian Productivity Organizatioan (APO)-Menistry of Agriculture, Land and Forestry, and Department of Agriculture, Srilanka.
Djajadiningrat, S.T. 1990. Kualitas Lingkungan Hidup di Indonesia. Kantor Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1985. Klasifikasi Tanah dan Lahan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Heddy, Suwasono.2011.Analisis Vegetasi Tumbuhan. http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 06 April 2011, puku l 20.00 WITA.
Karamoy, L.T. 2009. Hubungan Iklim dengan Pertumbuhan Kedelai (Glycine max
(L.) Merril). Soil Environment 7(1):65-68.
Kartasapoetra. 1993. Klimatologi Pengaruh Iklim terhadap Tanah dan Tanaman.
Bumi Aksara. Jakarta.
Kartasapoetra, W. A.G., 1989. Kerusakan Tanah Pertanian. Bina Aksara, Jakarta. Kimball, J. W., 1983, Biologi Jilid 3, Erlangga, Jakarta.
Kimmins, J.P. 1987. Forest Ecology. Macmillan Publishing Co. New York.
KMP P2KP. 2001. Bahan Latihan Pendamping. Yayasan Bina Masyarakat Sejahtera (BMS). Jakarta.
Lukitasari, M. 2010. Ekologi Tumbuhan. Diktat Kuliah. IKIP PGRI Press. Madiun.
Purwowidodo. 1998. Mengenal Tanah Hutan (Penampang Tanah). Laboratorium Pengaruh Hutan Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Salisbury,F.B. dan Ross,C.W. 1992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing. Company Belmont, California.
Semangun, H. 1990. Ekologi Patogen Tropika dan Pemanfaatannya Dalam Pengendalian Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Soekotjo, W. 1976. Silvika. Proyek Peningkatan atau Pengembangan Perguruan Tinggi. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Solikhin, dkk. 2005. Rencana Induk Pengembangan Pelabuhan Perikanan. IPB. Bogor.
Sulistyono. 1995. Pengaruh Tinggi Tempat terhadap (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) di KPH Probolinggo Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Skripsi Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Suryowinoto, M. 1988. Mengenal Anggrek Alam Indonesia. Penebar Swadaya, Jakarta.