LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TANAMAN
ACARA 1
POLA TANAM MONO DAN MULTIPLE CROPPING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN
Nama : Muhammad Azka Fardani
NIM : A1L014153
Rombongan : 14
Pj Asisten : Khaerur Rizal
KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN AGROTEKNOLOGI
LABORATORIUM AGROEKOLOGI PURWOKERTO
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap tahun jumlah penduduk Indonesia semakin meningkat, dengan kata
lain produksi pertanian harus ditingkatkan demi mencegah kelangkaan bahan pangan. Di dalam upaya peningkatan produksi pertanian dihadapkan dengan dua
masalah yang besar yaitu, (1) penurunan kesuburan tanah akibat revolusi hijau dan (2) tingginya angka alih fungsi lahan. Sehingga tidak mengherankan jika produksi pertanian di Indonesia masih sulit untuk dilakukan, karena semakin
sempitnya lahan pertanian (Dinaryanti, 2014).
Kondisi lahan pertanian yang sempit dan terpencar-pencar sangat sulit untuk
dilakukan mekanisasi pertanian. Efektifitas dan efisiensi dalam penggunaan lahan harus ditingkatkan. Untuk mengefisienkan waktu dan lahan yang sesempit mungkin maka perlu dilakukanya usaha lain selain intensifikasi dan ekstensifikasi.
Usaha lain yang terkenal dapat mengefisienkan waktu, lahan sempit, dan hasil yang banyak yaitu dengan menerapkan sistem pertanaman ganda.
Sistem pertanaman ganda adalah suatu stategi produksi tanaman terdiri atas berbagai kegiatan meningkatkan hasil tanaman per satuan luas lahan per satuan waktu melalui penanaman beberapa jenis tanaman secara bersamaan
(intercropping), berurutan (squential cropping), atau kombinasi antara tanaman tunggal dan tanaman campuran secara berurutan pada petak lahan sama selama
agronomi adaptif. Sistem ini diperkirakan dapat memperkecil berbagai masalah
berkaitan dengan kenaikan jumlah penduduk didaerah tropik. Salah sistem pertanaman ganda yang akan diujicobakan pada praktikum ini adalah sistem
tanam tumpangsari (intercropping).
Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan
tanaman (Grossman dan Quarles, 1993). Beberapa keuntungan dari sistem tumpangsari antara lain pemanfaatan lahan kosong disela-sela tanaman pokok,
peningkatan produksi total persatuan luas karena lebih efektif dalam penggunaan cahaya, air serta unsur hara, disamping dapat mengurangi resiko kegagalan panen dan menekan pertumbuhan gulma Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam
beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan
pada dua atau lebih jenis tanaman yang relative seumur. Misalnya jagung dan kacang tanah atau bisa juga pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbeda-beda (Sembiring, 2015).
Produksi yang lebih tinggi pada tanaman tumpang sari dapat diperoleh dengan diusahakan menanam tanaman yang habitusnya berbeda, sehingga 2 jenis
tanaman
yang ditumpang sarikan akan memanfaatkan faktor-faktor pertumbuhan dengan lebih baik jika tanaman yang ditumpang sarikan mempunyai kanopi, struktur dan
memanfaatkan ruang dan waktu seefisien mungkin serta menekan pengaruh
kompetisi sekecil-kecilnya.
Pola tanam tumpangsari perlu memperhatikan interaksi antara tanaman yang
ditanam secara bersama-sama dalam satu lahan. Di dalam menentukan jenis tanaman dalam sistem tumpang sari harus diperhatikan adalah sifat dan ciri pertumbuhannya (Beet, 1982 dalam Herlina, 2011). Menurut Gomes dan Gomes
(1983), tanaman yang dipilih hendaknya yang berbeda famili, bukan tanaman yang mempunyai problem dalam satu jenis hara, kebutuhan unsur hara utama
berbeda jenis atau macam dan waktunya, tipe (bentuk dan ukuran) perakaran berbeda dan saling melengkapi secara fisiologi.
Keuntungan agronomis dari pelaksanaan sistem tumpangsari dapat
dievaluasi dengan cara menghitung nisbah kesetaraan lahan. Nisbah kesetaraan lahan > 1 berarti menguntungkan (Beets, 1982 dalam Herlina, 2011).
Produktivitas lahan pada sistem tumpangsari dihitung berdasarkan nisbah kesetaraan lahan (NKL). Tanaman yang saling menguntungkan maka nilai NKL didapat lebih dari satu. Apabila salah satu spesies tanaman tertekan (tidak saling
menguntungkan) maka nilai NKL kurang dari satu (Herlina, 2011).
Sistem tanam tumpang sari merupakan teknologi budidaya yang dinilai tepat
untuk diaplikasikan pada lahan pertanian di Indonesia. Namun, teknologi ini masih perlu dikaji dan diuji kembali supaya diperoleh kombinasi pertanaman yang sesuai dengan nilai kesetaraan lahan yang tinggi. Oleh sebab itu, penting untuk
dianalisis efektivitas dan efisiensi dari input teknologi terhadap peningkatan
produksi pertanian.
B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan produksi
II. METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat
Bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini antara lain benih kedelai dan
jagung manis, pupuk Urea, pupuk KCl, Pupuk SP-36 dan 1 buah bambu. Alat yang diperlukan antara lain cangkul, kored, light intensity meter,
termohygrometer, oven, mistar, timbangan, selang air dan ember.
B. Prosedur Kerja Persiapan
1. Lahan dipersiapkan untuk penanaman dengan luasan tertentu.
2. Dibuatan petak-petak percobaan sesuai dengan jumlah perlakuan yaitu 9
kombinasi diulang 3 kali ada 27 petak, dibuat 3 unit percobaan total ada 81 petak percobaan dengan ukuran 2x3 m.
Pelaksanaan
1. Penanaman dilakukan di lahan dengan jarak tanam 25 x 655 cm untuk jagung dan 25 cm memanjang pada lorong antar jagung. Per lubang tanam
diisi 2-3 benih jagung dan kacang tanah.
2. Setelah satu minggu umur tanam kemudian dibiarkan 2 tanaman dan diambil 1 tanaman yang pertumbuhannya kurang baik.
Faktor 1 adalah sistem tanam
I1 = mono cropping jagung manis
I2 = mono cropping kedelai.
I2 = intercrop jagung manis – kedelai.
Faktor 2 adalah Dosis Pupuk
P1 = tanpa pemupukan
P2 = 50 % dosis pupuk rekomendasi (N dan P) P3 = 100 % dosis pupuk rekomendasi (N dan P)
5. Pemeliharaan dilakukan sesuai kebutuhan antara lain pengendalian OPT, kebutuhan air dan penyiangan gulma.
6. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi tanaman antara lain
tinggi tanaman, bobot kering tajuk dan akar, dan luas daun.
7. Pengamatan lain dapat dilakukan dengan mengamati intensitas cahaya,
suhu dan kelembaban.
8. Pengamatan hasil dilakukan pada saat panen antara lain, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman dan bobot biji per ha untuk kacang tanah dan untuk
jagung jumlah biji per tongkol, diameter tongkol dan berat tongkol. 9. Perhitungan LER dilakukan berdasarkan hasil panen dengan menggunakan
rumus:
10. Semua hasil pengamatan morfologi dan hasil dianalisis dengan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil praktikum Acara I Pola Tanam Mono dan Multiple Cropping Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman terlampir.
B. Pembahasan
Peningkatan produksi pertanian secara intensifikasi dapat dilakukan salah
satunya dengan penerapan sistem tanam yang sesuai untuk komoditas tanaman yang diusahakan. Di dalam sistem tanam dikenal istilah monocropping dan intercropping. Monokultur (monocropping) adalah penanaman satu jenis tanaman
pada sebidang tanah selama periode tanam satu tahun. Ciri monokultur adalah budidaya secara intensif satu jenis tanaman dengan penggunaan bahan agrokimia
dan organik dalam dosis tinggi (Prahasta, 2009). Menurut Warsana (2009), sistem tanam (intercropping) atau tumpangsari adalah salah satu usaha sistem tanam dimana terdapat dua atau lebih jenis tanaman yang berbeda ditanam secara bersamaan dalam waktu relatif sama atau berbeda dengan penanaman berselang‐
seling dan jarak tanam teratur pada sebidang tanah yang sama. Tumpangsari
adalah suatu usaha untuk meningkatkan keragaman hasil panen yang diperoleh
dari sebidang lahan. Budidaya tanaman dengan sistem tumpangsari dapat dikatakan berhasil apabila nilai kesetaraan lahan (LER) lebih dari 1.
Nilai kesetaraan lahan atau Land Equivalent Ratio (LER), adalah
tunggal dengan penanaman secara tumpangsari untuk mendapatkan hasil yang
sama pada tingkat pengelolaan yang sama (Mead and Willey,1980). LER digunakan untuk menguji seberapa efektif teknik budidaya yang dilakukan untuk
meningkatkan produksi tanaman. Menurut Mayadewi (2007), pertumbuhan dan produksi tanaman dipengaruhi oleh faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik meliputi suhu, cahaya, kelembaban, curah hujan, dan unsur hara. Faktor biotik
meliputi benih yang digunakan serta interaksi antar tanaman pada suatu lahan. Di dalam budidaya dengan pola tanam tumpangsari perlu diperhatikan faktor
abiotik dan biotik, antara lain (Jumin, 2008): 1. Faktor abiotik proses fotosintesis yang kemudian menghasilkan asimilat. Asimilat
inilah yang nantinya digunakan sebagai tenaga dan bahan penyusun tubuh tanaman. Pertumbuhan dan hasil tanaman sagat ditentukan oleh seberapa banyak asimilat yang dihasilkan.
Kelembaban udara akan berpengaruh terhadap laju penguapan
atau transpirasi. Kelembaban yang dibutuhkan tanaman berbeda-beda tergantung pada jenisnya.
Pupuk (unsur hara)
Tanaman akan tumbuh optimal pada kondisi tanah yang subur.
Pemupukan dilakukan untuk memperbaiki kesuburan tanah suatu lahan. Pupuk harus diberikan dengan dosis yang tepat sesuai dengan
fase pertumbuhannya. 2. Faktor biotik
Interaksi antara tanaman dalam suatu lahan merupakan faktorbiotik
yang harus diperhatikan. Pengaturan sistem tanam, jarak tanam dan jenis tanaman yang diusahakan harus diatur sedemikian rupa untuk menekan
persaingan antar tanaman dalam mendapatkan cahaya, unsur hara, air dan ruang tumbuh yang optimal.
Menurut Ohorella (2011), sistem tanam yang digunakan
berpengaruh terhadap interaksi atau kompetisi antar tanaman dalam mendapatkan cahaya, air dan unsur hara. Sistem tanam monocropping,
tingkat persaingan antar tanaman lebih rendah dibandingkan dengan sistem tanam tumpangsari. Hal tersebut dikarenakan, pada sistem tanam tumpangsari populasi tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan
monocropping.
Suminarti (2010) menambahkan, kompetisi antar tanaman dapat
karakter morfologi dan fisiologinya. Hal-hal yang harus diperhatikan
meliputi kedalaman dan distribusi system perkaran, bentuk tajuk, lintasan fotosintesis dan pola serapan unsur hara, sehingga diperoleh
sauatu karakteristik pertumbuhan perkembangan dan hasil tumpangsari yang bersifat sinergis.
Berdasarkan hasil penimbangan yang telah dilakukan total produksi bobot
tongkol tanaman sampel jagung monocropping dan intercropping masing-masing sebesar 146,03 gram dan 114,8 gram. Sehingga diperoleh produktivitas
monocropping sebesar = 146,03 g/6 m2 = 24,3 g/m2 dan intercropping sebesar = 114,8 g/6 m2 = 19,13 g/m2. Sementara total produksi bobot polong tanaman sampel kedelai monocropping dan intercropping masing-masing sebesar 76,43
gram dan 47,8 gram. Sehingga diperoleh produktivitas monocropping sebesar = 76,43 g/6 m2 = 12,73 g/m2 dan intercropping sebesar = 47,8 g/6 m2 = 7,97 g/m2.
Untuk mencari nisbah kesetaraan lahan (NKL) atau Land Equivalent Ratio (LER) digunakan rumus (Rinaldi et al., 2013):
LER = Xi + Yi
Xj Yj
Dimana:
Xi = produktivitas tanaman X yang ditumpangsarikan
Xj = produktivitas tanaman X yang dimonokulturkan Yi = produktivitas tanaman Y yang ditumpangsarikan Yj = produktivitas tanaman Y yang dimonokulturkan
Maka, LER = 19,13 + 7,97
24,3 12,73
= 1,42
Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa NKL atau LER kombinasi antara tanaman jagung dengan kedelai yakni sebesar 1,42, artinya NKL > 1 hal ini
menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi (intercropping) memberikan hasil lebih baik dibandingkan perlakuan monokultur. Nilai ini juga menunjukkan bahwa terdapat keuntungan sebesar 1,42% apabila dilakukan tumpangsari tanaman
jagung dengan kedelai.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Rinaldi et al., (2013),
bahwa apabila NKL > 1 maka perlakukan kombinasi atau intercropping memberikan pengaruh terhadap hasil tanaman yang ditumpangsarikan dan besarnya NKL juga merupakan besarnya pengaruh perlakukan kombinasi atau
intercropping.
Data analisis yang diperoleh tanaman jagung dan kedelai hasil analisis
masing-masing variabel untuk tanaman jagung tidak berbeda nyata baik pengaruh perlakuan dosis pupuk, sistem tanam, maupun interaksi perlakuan dosis pupuk dengan sistem tanam. Sementara untuk tanaman kedelai, hanya variabel tinggi
tanaman yang berbeda nyata pada pengaruh perlakuan dosis pupuk. Namun setelah dilakukan uji lanjut, hasil perbandingannya tidak signifikan. Hal tersebut
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan perhitungan yang dilakukan Nilai Kesetaraan Lahan kombinasi antara tanaman jagung dengan kedelai sebesar 1,42 yang berarti
bahwa perlakuan kombinasi (intercropping) memberikan hasil lebih baik dibandingkan perlakuan monokultur. Nilai ini juga menunjukkan bahwa terdapat
keuntungan sebesar 1,42% apabila dilakukan tumpangsari tanaman jagung dengan kedelai.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Dinaryanti, Novita. 2014. Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Pertanian Di Daerah Sepanjang Irigasi Bendung Colo Kabupaten Sukoharjo. Skripsi. Program Sarjana Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Universitas Diponegoro, Semarang.
Gomes, A. A. And K. A. Gomez. 1983. Multiple Cropping System in The Humid Tropic of Asia. IDRC, Kanada.
Grossman, J, and W. Quarles. 1993. Strip intercropping for biological control. IPM, Practitioner.
Herlina. 2011. Kajian Variasi Jarak dan Waktu Tanam Jagung Manis dalam Sistem Tumpang Sari Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt) dan Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L). Artikel. Universitas Andalas, Padang.
Jumin, H. B., 2008. Dasar-Dasar Agronomi. Edisi Revisi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Mayadewi, Ni Nyoman Ari. 2007. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan Gulma dan Hasil Jagung Manis. Jurnal Agritrop. 26 (4).
Mead, R. and R. W. Willey. 1980. The Concept of a ‘Land Equivalent Ratio’ and Advantages in Yields from Intercropping. Cambridge University Press, Britania Raya.
Ohorella, Zainuddin. 2011. Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kedelai dengan Jagung Pada Sistem Tanam Yang Berbeda. J. Agronomika. Vol 1 No.2.
Prahasta, A., 2009. Agribisnis Jagung. CV Pustaka Grafika, Bandung.
Prajitno, D. 1992. Pengoptimalan Sistem Pertanaman di Daerah Aliran Sungai Progo. Disertasi. Program Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.
Sembiring, A. S., jonis, G. dan Ferry E S. 2015 Pengaruh Populasi Kacang Tanah (Arachis hypogeae L.) dan Jagung (Zea mays L.) terhadap Pertumbuhan dan Produksi Pada Sistem Pola Tumpang Sari. Jurnal Online Aroteknologi, Vol. 3 No. 1.
Tohari. 2002. Sistem Pertanaman Ganda : Suatu Strategi Agronomi Adaptif Daerah Tropik Basah. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.