• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MIKROORGANISME LOKAL TEMPE NASI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH MIKROORGANISME LOKAL TEMPE NASI (1)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MIKROORGANISME LOKAL TEMPE, NASI BASI DAN AIR CUCIAN BERAS TERHADAP PERTUMBUHAN KACANG TANAH (Arachis hypogea)

Laeli Fauziyah1, Nadya Listyanti Hasan2

Jurusan Tadris IPA-Biologi A Semester V Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon

ABSTRAK

Tumbuhan merupakan makhluk hidup yang berperan penting bagi keseimbangan bumi. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan sebuah nutrisi yang dapat membuat tumbuhan tersebut dapat tumbuh dengan baik. Berangkat dari hal ini, tentunya dibutuhkan nutrisi yang mengandung unsur-unsur zat hara atau bahkan mikroba, baik yang berfungsi dapat menyuburkan tanah sehingga petumbuhan tumbuhan tersebut menjadi sangat baik. Dalam hal ini, penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pupuk hasil fermentasi tempe dan nasi basi yang dbandingkan dengan pengaruh air cucian beras dan air biasa terhadap pertumbuhan kacang tanah (Arachis hypogeal). Selain itu, penelitian ini pun dilakukan bertujuan untuk mengetahui mikroba pada hasil fermentasi tempe dan nasi basi tersebut sehinga meghasilkan mikroorganisme lokal (MOL) yang baik bagi tanaman. Hasil yang ditunjukan dari ke 4 perbandigan pemberian MOL tempe, MOL nasi basi, air cucian beras dan air biasa adalah MOL nasi basi yang paling efektif dalam menumbuhkan kacang tanah (Arachis hypogea).

Kata Kunci : Mikroorganisme Lokal (MOL), Saccharomyces cereviciae, E.coli, Lactobacillus sp, Rhizopus oryzae

PENDAHULUAN

Mikroorgansme Lokal (MOL)

MOL (mikroorganisme lokal) merupakan kumpulan mikroorganisme yang bisa diternakkan, yang berfungsi sebagai starter dalam pembuatan bokasi atau kompos. Menurut Direktorat Pengelolaan Lahan, MOL adalah larutan yang terbentuk dari campuran bahan-bahan alami yang disukai tanaman sebagai media hidup dan berkembangnya mikroorganisme. MOL bermanfaat untuk mempercepat proses penghancuran bahan-bahan organik (Juanda, 2011).

Perbanyakan MOL sangat memerlukan air dan bahan yang mengandung glukosa seperti gula pasir, gula merah, air kelapa atau batang tebu. Selanjutnya diperlukan bahan yang mengandung karbohidrat seperti air cucian beras, limbah nasi, singkong, dan jagung. Bahan lain yang digunakan adalah bahan yang mengandung mikroba pengurainya sudah tinggi seperti buah-buahan busuk, nasi basi, batang pisang bahkan bahan organik yang belum busuk pun bisa dimanfaatkan seperti rebung, sabut kelapa atau bahan organik lainnya (Mulyono, 2014).

Larutan MOL mengandung unsur hara makro, mikro, dan mengandung mikroorganisme yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dan agen pengendali hama dan

penyakit tanaman sehingga baik digunakan sebagai dekomposer, pupuk hayati, dan pestisida organik.

Faktor-faktor yang menentukan kualitas larutan MOL antara lain media fermentasi, kadar bahan baku atau substrat, bentuk dan sifat mikroorganisme yang aktif di dalam proses fermentasi, pH, temperatur, lama fermentasi, dan rasio C/N larutan MOL (Mulyono, 2014).

Kacang Tanah (Arachis hypogea)

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) adalah tanaman polong-polongan atau legum anggota suku Fabaceae.Tanaman ini tumbuh secara perdu setinggi 30 hingga 50 cm dengan daun-daun kecil tersusun majemuk bersirip genap,teridiri dari empat anakan daun berbentuk bulat,oval, agak lancip dan berbulu. Kacang tanah memilki akar tunggang dengan akar cabang yang tumbuh diakar tunggang tersebut. Bunganya berbentuk seperti kupu-kupu, berwarna kekunngan mempunyai tangkai yang panjang dan tumbuh dari ketiak daun. Polong kacang tanah memilki cangkang yang keras dan berwarna putih kecoklatan setiap polongnya mempunyai 1-4 biji (Anonim,2015).

TUJUAN PENELITIAN

(2)

air cucian beras terhadap pertumbuhan kacang tanah (Arachis hypogeal), sera untuk mengtahui mikroorganisme yangterdapat pada MOL tersebut.

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Muncangela-Kuningan. Adapun waktu penelitian ialah pada tanggal 10 sampai 19 Desember 2016.

Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit kacang tanah, tanah, botol bekas, air, tempe, gula merah, gula pasir, air cucian beras, nasi basi, dan metilen blue. Sedangkan alat yang digunakan diantaranya lidi, sendok, gunting, pisau, talenan, cover glass, objek glass, pipet tetes, dan mikroskop.

Prosedur Penelitian

Proses Penanaman Kacang Tanah

Biji kacang tanah yang akan ditanam sebelumnya telah direndam selama satu malam. Adapun tempat yang akan digunakannya berupa botol bekas yang telah digunting dan bagian bawahnya diberi lubang. Tanah yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam botol. Tanah tersebut kemudian ditusuk-tusuk menggunakan lidi, sehingga membentuk lubang untuk ditempatkannya biji dalam tanah.

Proses Pembuatan Pupuk dari Tempe Pupuk ini terbuat dari 50 gram tempe, 100 gram gula merah, dan 1 liter air. Tempe dan gula merah diiris kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi 1 liter air. Campuran tersebut di kocok sampai tercampur seluruhnya. Botol yang berisi pupuk disimpan di tempat yang teduh dengan tanpa diberi penutup. Pupuk didiamkan

selama 2 hari atau sampai menghasilkan gas yang menandakan bakteri dalam campuran tadi telah aktif.

Proses Pembuatan Pupuk dari Nasi Basi Proses pembuatan pupuk dari nasi basi diawali dengan memasukkan nasi basi ke dalam botol hingga mencapai setengah botol. Kemudian dimasukkan gula pasir sebanyak 6 sendok makan dan 600 ml air. Botol ditutup dan dikocok hingga semuanya tercampur. Campuran didiamkan semalaman hingga keluar bau asam seperti bau tape.

Proses Pembuatan Pupuk dari Air Cucian Beras

Pembuatan pupuk dari air cucian beras menggunakan air cucian beras yang pertama, kemudian air tersebut dimasukkan ke dalam botol. Botol yang telah ditutup disimpan di tempat yang teduh, dan diarkan sampai menghasilkan uap air dan gas.

Pengamatan Pengaruh Pupuk Organik Cair Pada Tanaman Kacang Tanah

Bibit kacang tanah yang telah ditanam diberi pupuk cair organik yang berasal dari nasi basi, tempe, dan air cucian beras. Sebagai pembanding digunakan pula air. Pupuk diberikan sebanyak 1 sendok makan setiap hari pada jam 16.00 WIB. Kemudian diamati pertumbuhan dari tanaman kacang tersebut selama 10 hari.

Pengambilan Sampel MOL

Pengambilan sampel untuk analisis mikroorganisme dilakukan pada hari ke-3 setelah fermentasi dengan mengaduk larutan MOL terlebih dahulu. Kemudian, sampel diteteskan pada objek glass. Sampel di tetesi metilen blue, berfungsi untuk memperjelas bentuk bakteri pada sampel. Ditutup dengan cover glass, kemudian preparat diamati di bawah mikroskop.

HASIL PENELITIAN

Sampel pH Spesies Mikroba/Jamur Gambar di bawah Mikroskop

(3)

Fermentasi nasi basi 4 Saccharomyces cereviciae

Fermentasi tempe 4 Rhizopus oryzae bakteri EM4

Air cucian beras 5 Khamir Lactobacillus sp

Tabel 1. Pengamatan pH dan Mikroskopis Bentuk Bakteri dan Kapang Pada Pupuk Cair Organik

Gambar 1. Proses pengamatan kacang tanah (Arachis hypogea) selama 10 hari yang diberikan MOL tempe, nasi basi, air tajin dan air biasa, serta mol yang digunakan.

Hari ke-

Pupuk yang digunakan

Air Air cucian Beras Fermentasi Tempe Fermentasi Nasi Basi Tinggi

(cm)

Jumlah daun

Tinggi (cm)

Jumlah daun

Tinggi (cm) Jumlah daun

Tinggi (cm) Jumlah daun

1 - - - -

2 - - - -

3 - - - -

4 - - - -

5 1 - 1 4 1,8 7 1,3 8

6 3,5 8 5,2 8 7 8 5.5 8

7 8,5 8 8,9 12 9,9 8 10,5 8

8 11,5 12 11,3 12 12 12 12,5 12

9 13 12 12 12 12,2 12 14 12

10 15 16 13,2 16 13,2 12 15,5 12

Tabel 2. Pengamatan pertumbuhan Kacang Tanah (Arachis hyopogea) selama 10 hari

PEMBAHASAN Mikroorganisme Air Escherichia coli

Kingdom : Bacteria

Phylum : Proteobacteria Order : Enterobacteriales Family : Enterobacteriaceae

Mol nasi basi Mol tempe

Hari ke-10 Hari ke-9

Hari ke-8 Hari ke-7

(4)

Genus : Eschericha Spesies : Escherichia coli

E.coli berasal dari family Enterobacteriaceae yang berukuran 2,0 – 6,0

μm dan lebar 1,1 – 1,5 μm. Bentuk sel

menyerupai bulat hingga membentuk sepanjang ukuran filamentous. Adapun E.coli yang ditemukan berupa coccus yang diperkirakan jumlahnya banyak. Tidak ditemukan spora. E. coli merupakan jenis bakteri Gram negatif. Bersifat aerobik dan dapat juga aerobik fakultatif. E.coli merupakan penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi (Anonim, 2011). Selain itu, E.coli pun dapat ditemukan hidup didalam air , akan tetapi tidak terdapat pengaruh apapun pada tanaman, karena sifat air ber-pH netral yaitu 7.

MOL Nasi Basi

Saccharomyces cereviciae Kingdom : Fungi Phylum : Ascomycota Class : Saccharomycetes Order : Saccharomycetales Family : Saccharomycetaceae Genus : Saccharomyces

Spesies :Saccharomycescereviceae Saccharomycescereviceae merupakan fungi mikroskopis bersel tunggal dan tidak memiliki badan buah, sering disebut sebagai ragi ataupun khamir. Reproduksinya dengan membentuk budding atau tunas (Agus, 2011). Adapun dari hasil yang ditemukan bahwasannya bentuk dari khamir ialah beraneka ragam diantaranya basil, coccus dan tidak beraturan. Khamir Saccharomyces cereviceae merupakan jenis bakteri Gram positif yang berfungsi sebagai khamir atau ragi yang membantu proses pembuatan roti. Pemakaian ragi dalam adonan sangat berguna untuk mengembangkan adonan karena terjadi proses peragian terhadap gula. Selain itu, Saccharomyces cereviceae ditemukan pada Nasi basi, yang berfungsi sebagai penghasil pupuk cair organik atau mikrororganisme local yang dapat digunakan sebagai nutrisi untuk tanah dan tanaman (Royaeni, et,all,

Spesies : Rhizopus oryzae

Hasil pengamatan menunjukkan adanya kapang berupa Rhizopus oryzae yang berbentuk filamen menumpuk. Rhizopus ini merupakan mikroba heterofermentatif. Adanya Rhizopus menyebabkan timbulnya bau pada saat proses fermentasi sehingga pH-nya menurun menjadi 4. Selain itu, terdapat bakteri berbentuk monobasil dan diplobasil yang merupakan bakteri EM4 yang berfungsi sebagai pembenah tanah maupun sumber nutrisi bagi tanaman. Bakteri tersebut dapat menguraikan senyawa dalam tempe menjadi C-organik, sehingga dapat dimanfaatkan oleh bakteri asam laktat sebagai sumber energi dan bila diberikan pada tanah maka akan menjadi tambahan zat organik tanah yang nantinya akan dimanfaatkan oleh mikroflora tanah dan memberi dampak positif bagi pertumbuhan tanaman tersebut (Adiprakoso, 2012).

MOL Air cucian beras Lactobacillus sp

Kingdom : Bacteria Divisi : Firmicutes Class : Bacilli

Ordo : Lactobacillales Family : Lactobacillaceae Genus : Lactobacillus Spesies : Lactobacillus sp

Hasil pengamatan pada air cucian beras yang telah difermentasi menunjukkan adanya bau asam yang disebabkan oleh khamir pada proses fermentasinya, sehingga menurunkan pH hingga 4. Khamir tersebut memiliki kemampuan untuk membentuk zat-zat anti bakteri dan bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman yang berasal dari asam-asam amino dan gula yang dikeluarkan oleh bakteri. Zat-zat bioaktif seperti hormon dan enzim yang dihasilkan oleh khamir meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan akar (Anonim, 1996). Selain itu, ditemukan pula adanya bakteri berbentuk bacil yang membentuk rantai panjang berwarna ungu. Bakteri tersebut merupakan Lactobacillus sp.

(5)

mikroaerofilik. Dalam bidang pertanian, Lactobacillus sp berikatan dengan Pseudomonas fluorescens yang berperan dalam pengendalian petogen penyebab penyakit karat dan memicu pertumbuhan tanaman. P. fluorescens sangat berperan dalam pengendalian patogen penyebab penyakit karat dan pemicu pertumbuhan tanaman (Anonim, 2011).

Pengaruh masing-masing MOL terhadap pertumbuhan Kacang Tanah (Arachis hypogeal)

MOL (mikroorganisme lokal) merupakan kumpulan mikroorganisme yang bisa diternakkan. Perbanyakan MOL memerlukan air dan bahan yang mengandung glukosa seperti gula pasir, gula merah. Dan tentunya diperlukan bahan yang mengandung karbohidrat seperti air cucian beras, limbah nasi, ubi dan bahan yang mengandung kandungan mikroba pengurainya tinggi (Mulyono, 2014). Adapun yang digunakan dalam penelitian ini adalah tempe, nasi basi dan air cucian beras. Dan terdapat pula air sebagi pembanding diantara ke-3nya.

Secara lebih lengkap MOL hasil fermentasi pada dasarnya dapat digunakan sebagai kebutuhan yang lain, yaitu seperti pupuk cair, stater dalam pembuatan kompos, campuran pakan ternak, penghilang bau pada kotoran ternak, dan zat perangsang tumbuh. Dalam hal MOL yang digunakan difungsikan sebagai pupuk cair yang dapat merangsang percepatan tumbuh dan kembang dari Kacang Tanah (Arachis hypogeal).

Hasil yang diperoleh selama pengamatan 10 hari menunjukan bahwasanya dari ke-4 kacang tanah tersebut , pertumbuhan pada kacang tanah paling efektif pada Mol Nasi basi dengan mencapai ketinggian akhir yaitu 15, 5 cm dan perkembangan kacang tanah yang paling dominan pada Mol air cucian beras dengan jumlah daun pada akhir pengamatan yaitu 16 helai.

SIMPULAN

Mikroorganisme lokal (MOL) yang digunakan dalam penelitian ini difungsikan sebagai pupuk cair organik bagi tanaman kacang tanah. Yang mana MOL yang digunakan berupa tempe yang dialamnya terdapat mikroorganisme berupa Rhizopus

oryzae dan bakteri EM4, nasi basi terdapat Saccharomyces cereviciae, dan air cucian beras terdapat khamir dan Lactobacillus sp Hasil dari aplikasi MOL tersebut menunjukan pertumbuhan dan perkembangan yang efektif bagi kacang tanah selama 10 hari penelitian. Referensi

Adiprakoso, David. 2012. Pembuatan Pupuk Organik Cair Dan Tepung Pakan Ayam Dari Limbah Tempe Menggunakan Bioaktivator EM4. Depok: UI.

Agus, 2011. Peranan jamur ragi Saccharomyces ceeviciae [Online] https://aguskrisnoblog.wordpress.com/ 2011/12/27/peranan-jamur-ragi- saccharomyces-cerevisiae-sebagai-fermentasi-roti/ (20 desember 2016). Juanda, Irfan, dan Nurdiana,2011.Pengaruh

Metode Dan Lama Fermentasi Terhadap Mutu Mol (Mikroorganisme Lokal).Jurnal Floratek. 6,140 – 143. Mulyono. 2014. Membuat Mol dan Kompos dari Sampah Rumah Tangga-cetakan 1. Jakarta : Agromedia Pustaka.

Royanie, et,all, 2014. Pengaruh Penggunaan Bioaktivator Mol Nasi dan Mol Tapai Terhadap Lama Waktu Pengomposan Sampah Organik pada Tingkat Rumah Tangga. Issn : 1412-3746 vol.13, No.1 Anonim, 2011. Karakteristik E.coli. [Online] http://tibylovablue.blogspot.co.id/201 1/04/karakteristik-ecoli-escherichia-coli.html (20 Desember 2016).

Anonim, 2015. Klasifikasi dan Morfologi kacang tanah. [Online] www. Materipertanian.com/klasifikasi-dan-ciri-ciri-morfologi-kacang-tanah. (20 Desember 2016)

Anonim. 1996. Penggunaan EM Bagi Negara-Negara Asia Pasific Agriculture Network (APNAN). Jakarta: Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian. Anonym. (2011). Kandungan Air Cucian

Beras [Online]:

Gambar

Tabel 1. Pengamatan pH dan Mikroskopis Bentuk Bakteri dan Kapang Pada Pupuk Cair Organik

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh lama fermentasi terhadap kadar air, abu, protein, lemak dan daya terima tempe kedelai dengan substitusi

Salma Hayati : Pengaruh Waktu Fermentasi Terhadap Kualitas Tempe Dari Biji Nangka (Artocarpus Heterophyllus) Dan Penentuan Kadar Zat Gizinya, 2009.. PENGARUH WAKTU FERMENTASI

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh penambahan gliserol dan kitosan terhadap kemudahan biodegradasi selulosa dari limbah air cucian beras, pengaruh

dibandingkan jenis pupuk agroprobiotik air cucian beras yang lain; (2) waktu pemberian pupuk agroprobiotik pada pagi hari (07.00-08.00) memberikan pengaruh lebih baik

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis seberapa besar pengaruh faktor produk, harga, dan pelayanan terhadap tingkat kepuasan konsumen Warung nasi Kedai Kita

Tabel 9 menunjukkan bahwa secara interaksi perlakuan air cucian beras putih dan pupuk NPK Phonska memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah buah sisa tanaman terung

Waktu fermentasi optimum pupuk organik cair dari limbah air cucian beras, limbah sayur-sayuran dan kulit buah-buahan untuk kandungan nitrogen diperoleh pada hari ke-10 dengan volume EM4

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh umur fermentasi tempe dan proporsi dekstrin untuk mendapatkan susu tempe bubuk dengan nilai terbaik dari segi