• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN TERHADAP KEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN TERHADAP KEN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BERKALA ILMIAHNARASI ARSITEKTUR

Volume 1

Nomor 1

Mei 2013

1

PENGARUH ORIENTASI BANGUNAN TERHADAP KENYAMANAN TERMAL

PADA PERUMAHAN DI BANDUNG

OBJEK STUDI : RUMAH SUDUT, TIPE CAMRY, BLOK E DAN BLOK D, GRAND SHARON RESIDENCE

Oleh Kiki Putri Amelia NPM : 2009420040

Mahasiswi S1 Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan

Abstract

Housing is a human basic needs. As an architect, it is required a skill to design the building structure in order to achieve thermal convenience from certain standards. Sun radiation rate is a natural factor that can not be avoided to enter into a building.

The object of this research is corner houses at Block D and Block E Grand Sharon Residence, located in East Bandung. The developer, generally, build the house typically similar without noticing the building orientation. It becomes questionsable to condut the research due to the radiation intensity level that has differences in orientation and influences from sun movement in a year.

The research is a decriptive evaluative using evaluation method through quantitative and qualitative approaches. The research was conducted when the house still empty and unhabited. Qualitative approach includes data collection through observation and measurement by WBGT and Anemometer and was calculated with CET/ET, Nomogram, then compared with the literature studies. To strengthen the research, a simulation was done used Ecotech Analysis from Autodesk, to find out sun movement distribution during a year. Meanwhile, the quantitative approach was done through literature studies from Lencher, Olgyay, Lippsmeier, etc.

The result of the research shows that the thermal convenience in each analyzed unit isn’t optimal as

well. While the comparison result shows that units where have north-west orientation has the most incovenience thermal rate in accordance to other units. Months with highest temperature are September and March, where the sun is located in the middle of equator line.

Keywords : orientation, thermal convenience, sun radiation

Abstrak

Rumah merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar. Dan sebagai perancang diperlukan pengetahuan untuk merancang bangunan untuk mencapai kenyamanan termal dari standar yang ditentukan. Tingkat intensitas radiasi matahari merupakan faktor alam yang tidak dapat dihindari untuk masuk ke dalam sebuah bangunan.

(2)

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif evaluatif dengan metode evaluasi, melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilakukan pada saat rumah tersebut kosong dan tidak berpenghuni. Pendekatan kuantitatif mencakup pengumpulan data melalui observasi dan pengukuran lapangan menggunakan WBGT dan Anemometer, hasil pengukuran kemudian diolah dengan CET/ET Nomogram dan dibandingkan dengan standar yang didapat dari hasil studi pustaka. Untuk memperkuat hasil penelitian, dilakukan simulasi dengan penggunaan program Ecotech Analysis dari Autodesk, untuk mengetahui distribusi pergerakan matahari sepanjang tahun. Sementara pendekatan kualitatif dilakukan melalui studi literatur pada buku Lencher, Olgyay, Lippsmeier, dan sebagainya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa kesimpulan bahwa kenyamanan termal, pada masing-masing unit yang dianalisis masih belum optimal. Dan hasil perbandingan diperoleh bahwa unit yang memiliki orientasi utara-barat merupakan unit yang tingkat ketidaknyamananya paling tinggi dibandingkan dengan yang lain. Dan bulan terpanas pada orientasi ini adalah bulan September dan Maret, dimana matahari terletak di tengah garis khatulistiwa.

Kata-kata kunci : orientasi, kenyamanan termal, rumah tipikal

1.

Pendahuluan

Manusia membutuhkan tempat untuk berteduh dan beristirahat dari kegiatan sehari-hari yang

dilakukan. Manusia membutuhkan ruang privasi dimana hanya dirinya bisa melakukan apa pun

tanpa takut akan merasa tidak nyaman. Ruang privasi tersebut umumnya dilengkapi oleh

kebutuhan-kebutuhan dasar manusia untuk menjalani kehidupannya sehari-hari.

Misalnya dengan pengaruh orientasi pada bangunan terhadap radiasi matahari sehingga

mengakibatkan perbedaan temperatur udara dalam bangunan, yang tentunya akan berpengaruh

terhadap kenyamanan termal.

Matahari bergerak sepanjang tahun. Hal ini berpengaruh terhadap perletakan masa terhadap

elemen bukaan. Sebaiknya pada iklim tropis, masa bangunan dirancang sebaiknya memanjang ke

arah barat dan timur untuk menghindari cahaya matahari langsung. Bukaan dominan terdapat pada

arah utara dan selatan sehingga dapat menghindari intensitas radiasi matahari pada barat dan timur

yang lebih dominan.

Perumahan real estate atau perumahan tipikal adalah perumahan yang memiliki tipe yang

sejenis dalam berupa blok. Rumah-rumah tersebut disusun berderet menyesuaikan dengan

masterplan yang ada dengan penkanan pada jumlah kuantitas unit. Umumnya pengembang tidak

memperhatikan orientasi dari masing-masing unit rumahnya, pada tipe yang sama. Faktor orientasi

yang berpengaruh terhadap kenyamanan termal tidak dijadikan pertimbangan utama dalam

merancang. Sedangkan kenyamanan dalam sebuah rumah penting adanya, mengingat rumah

merupakan wadah bagi manusia untuk tinggal dan yang terpenting merupakan tempat privasi yang

tidak terbatas waktu penggunaannya.

Pengaruh orientasi ini sangat mempengaruhi kualitas kenyamanan termal yang ada pada

(3)

BERKALA ILMIAHNARASI ARSITEKTUR

Volume 1

Nomor 1

Mei 2013

3

langsung. Penyikapan khusus pada masing-masing unit orientasi yang berbeda akan dapat dicapai

kondisi ruang yang dapat mencapai zona nyaman.

Berdasarkan latar belakang diatas didapat pertanyaan penelitian sebagai berikut:

Orientasi bangunan secara umum, ditujukan untuk menempatkan posisi bagunan sesuai

dengan potensi-potensi dan menghindari sisi negatif yang ada pada kondisi iklim dan lingkungan

tersebut, untuk daerah tropis lembap orientasi bangunan diutamakan untuk mengantisipasi

pengaruh sinar matahari yang berlebihan.

Padahal dengan orientasi yang berbeda tingkat intensitas radiasi matahari yang masuk akan

berbeda-beda, mempengaruhi kenyamanan termal pada ruang masing-masing unit. Selain

intensitas sinar matahari yang masuk, akibat perbedaan orientasi juga membedakan arah

bangunan yang ideal dan tidak ideal terhadap arah angin.

Dari rumusan permasalah di atas, maka pertanyaan dalam penelitian ini adalah:

• Sejauh manakah pengaruh orientasi terhadap kenyamanan termal pada rumah sudut perumahan tipikal?

• Upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan termal yang ada?

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

 Mengetahui perbedaan kenyamanan termal pada ruang yang 2 sisi luar terpapar radisi

matahari langsung di 4 rumah sudut yang berbeda orientasinya.

 Memberikan solusi desain untuk meningkatkan kenyamanan termal pada setiap ruang pada

tiap unit dengan kondisi serupa

Adapun manfaat dari penelitian, diantaranya adalah sebagai berikut :

 Menambah wawasan dan pengetahuan sebagai fungsi dalam proses belajar.

 Bagi pihak developer untuk mengetahui tindakan atau solusi sesuai untuk mendukung

kenyamanan pada ruang yang memiliki orientasi berbeda, tetapi memiliki tipe yang sama.

Objek Studi yang dipilih adalah rumah sudut yang

merupakan bagian dari perumahan Grand Sharon

Residence, yang terletak pada Blok D dan E,

objek studi merupakan 4 rumah yang berbeda,

tetapi tipe sama dan memiliki orientasi yang

berbeda satu sama lain. Objek dipilih karena

mewakili permasalahan yang ada, diantaranya:  Secara desain ke 4 rumah ini merupakan

tipe yang sama, tetapi memiliki orientasi

yang berbeda-beda, sehingga menarik untuk diteliti tingkat kenyamanan termal ruang yang

terletak di sudut, memiliki 2 sisi yang terpapar radiasi matahari langsung. Figur 1

(4)

Lingkup batasan studi dari penelitian ini adalah tingkat kenyamanan ruang tidur yang memiliki 2 sisi

yang terpapar radiasi matahari langsung pada rumah sudut, tipe Camry, Blok E dan Blok D Grand

Sharon Residence.

2.

Studi Literatur

Tiga faktor utama sangat menentukan bagi perletakan bangunan yang tepat (Georg. Lippsmeier,

Bangunan Tropis, 1994), yakni:

1. Radiasi matahari dan tindakan perlindungan

2. Arah dan kekuatan angin

3. Topografi

Orientasi bangunan harus sesuai dengan faktor-faktor lain, agar memperoleh keuntungan yang

sebanyak-banyaknya dari rancangan pemanasan dan penyejukan alami (James C. Synder, Antony J.

Catanese, Introduction to Architecture, alih bahasa Pengantar Arsitektur Ir. Hendro Sangkoyo, 1995).

Dikenal juga arsitektur “Bio Climate”, yang memiliki arti arsitektur yang mempertimbangkan masalah iklim dengan asitektur. Arsitektur “Bio Climate” merupakan arsitektur yang mengeksplorasi potensi alam khususnya iklim tropis setempat sesuai dengan karakter bangunan. Pendekatan rancangan

mengacu pada iklim setempat yang melalui pertimbangan-pertimbangan dan tentunya tidak terlepas

dari tujuan akhir.

Menurut Maxwell dan Jane (Fry and Drew,1956), iklim dapat

mempengaruhi manusia dan bangunan. Indonesia yang berada pada

daerah iklim tropis lembap memiliki karakteristik yakni:  Tingginya kelembapan pada tapak

 Tanah yang basah dan muka air yang tinggi

 Gerakan udara yang lambat dan curah hujan yang tinggi  Resiko korosi yang tinggi pada bahan logam (wilayah

pantai)

 Beriklim muson  Kelembapan tinggi

Dapat disimpulkan, bahwa bangunan di daerah tropis lembap

harus tidak menyerap air, tahan terhadap korosi, dan semaksimal

mungkin memanfaakan ventilasi silang untuk menurunkan kadar

kelebapan. Dan penggunaan material khusus yang menunjang iklim

tropis hangat lembap.

Menurut Lippsmeier,1994 salah satu bangunan yang

memiliki fungsi penting adalah dinding. Dinding bangunan

memiliki fungsi sebagai stabilitas bangunan, perlindungan terhadap Figur 2

(5)

BERKALA ILMIAHNARASI ARSITEKTUR

Volume 1

Nomor 1

Mei 2013

5

hujan, angin dan debu, perlindungan terhadap dingin, perlindungan terhadap kebisingan, dan juga

perlindungan terhadap gangguan manusia (pencurian) dan hewan.

Heinz Frick berpendapat, “Bentuk dan gaya arsitektur selalu berhubungan erat dengan cara

konstruksi dan bahan bangunan yang laku pada zaman itu”, dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk bangunan selalu berhubungan erat dengan material yang digunakan, dengan demikian bahan bangunan

juga mempengaruhi kenyamanan termal pada bangunan.

Bentuk bangunan juga dipengaruhi oleh orientasi bangunan terhadap lingkungan sekitar dan

faktor-faktor tertentu. Pengaruh orientasi ini sedikit banyak mempengaruhi tampilan bangunan dan

kemampuan bangunan mengantisipasi masalah termal yang ada. Menurut Menurut Setyo Soetiadji,

1986, orientasi adalah suatu posisi relatif suatu bentuk terhadap dasar, arah mata angin, atau terhadap

pandangan seseorang yang melihatnya... dengan berorientasi dan kemudian mengantisipasi kondisi

setempat, bangunan kita akan benar-benar menjadi milik lingkungan...”

Jalan radiasi ditempuh apabila energi kalori (panas) benda berubah menjadi energi sinar (radiasi)

dan menyinari pada benda lain yang dingin. Segera sudah menjadi energi menyentuh benda dingin

tersebut ia berubah kembali menjadi energi panas. Sinar matahari sampai di bumi melalu hampa udara.

Jadi jelas tidak ada konduksi atau konveksi, tetapi dengan radiasi, penyinaran langsung

(Mangunwijaya 1981: 116).

Radiasi matahari adalah penyebab semua ciri umum iklim dan

radiasi matahari sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia.

Kekuatan efektifnya ditentukan oleh energi radiasi (insolasi) matahari,

pemantulan pada permukaan bumi, berkurangnya radiasi oleh penguapan,

dan arus radiasi di atmosfer. (Lippsmeier 1997 : 19)

Sudut jatuh radiasi matahari dipengaruhi oleh musim, lama

penyinaran dalam sehari, dan ketinggian dari lokasi bangunan. Meskipun

sudut jatuh radiasi yang berbeda, kebutuhan radiasi sinar matahari juga

sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Kebutuhan efektifnya

ditentukan oleh:

1. Energi radiasi (insolasi) matahari

2. Pantulan oleh permukaan bumi

3. Berkurangnya radiasi karena penguapan

Pengaruh radiasi, ditentukan terutama oleh “durasi, intensitas dan sudut jatuh ” Ketiga faktor tersebut perlu mendapat perhatian dalam merancang sebuah bangunan.1

Saat energi panas jatuh pada permukaan dinding, partikel-partikel pada lapisan pertama akan

menyerap sejumlah panas yang diteruskan kepada lapisan berikutnya. Ini akan menyebabkan efek

penundaan, sehingga temperatur puncak dari lingkungan baru dirasakan di dalam ruang dalam

1

Saputra, Handoko. 2004. Pengaruh Orientasi Bangunan Terhadap Penurunan Panas Pada Rumah Tinggal di Perumahan Wonorejo Surakarta. Tesis tidak diterbitkan. Semarang:Universitas Diponegoro

(6)

beberapa waktu kemudian. Menurut Egan, material bangunan dengan massa yang masif dan berat

mempuyai timelag besar. Sebagai akibat akan tercipta kondisi yang lebih stabil. Berikut ketebalan

material bangunan dan timelag yang dihasilkan:

Radiasi Matahari Langsung dan Tidak Langsung

Terdapat beberapa pembagi radiant heat transfer yang membedakan efek radiasi matahari

terhadap bangunan, diantaranya adalah2:

Direct short-wave radiation from the sun

Radiasi langsung dari matahari terhadap objek tanpa perantara apapun. Radiasi direct akan

menghasilkan gelombang pendek.

Diffuse short-wave radiation from the sky vault

Radiasi yang dihasilkan dari pemantulan yang terjadi di atmosfer. Sehingga menghasilkan

geombang panjang yang meradiasi objek disekitarnya.

Short-wave radiation reflected radiation from the surrounding terrain

Radiasi dari hasil pemantulan material dari permukaan lingkungan sekitar yang menghasilkan

gelombang pendek. Lihat tabel 2.2 Tabel Nilai Penyerapan dan Pemantulan Bahan dalam %

(Frick, Heinz & Setiawan, Pujo L, 2002).

Long-wave radiation from the heated ground and nearby objects

Radiasi dari hasil pemantulan benda di sekitar objek yang menghasilkan gelombang panjang.  Outgoing long-wave radiation exchange from building to sky

2

Olgyay, Victor. (1992). Design With Climate. New York.

(7)

BERKALA ILMIAHNARASI ARSITEKTUR

Volume 1

Nomor 1

Mei 2013

7

Gelombang panjang yang dihasilkan dari pemantulan area permukaan yang kembali menuju

ke langit.

3.

Metodologi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif-evaluatif, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

Artinya, pada penelitian ini akan dijabarkan mengenai topik yang diangkat beserta landasan teori yang

mendukung dan data-data tentang objek studi terkait. Kemudian hasil pemaparan data tersebut akan

dianalisis dan dievaluasi dengan cara membandingkan hasil studi lapangan dengan studi literatur.

Hasil perbandingan tersebut akan dibahas hingga dapat ditarik kesimpulan yang menjawab pertanyaan

penelitian yang diajukan di awal penelitian

Tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan teori mengenai bahasan terkait

Setelah objek dan topik bahasan ditetapkan, sebelum turun ke lapangan sebaiknya

mengetahui teori-teori yang ada mengenai topik bahasan, yaitu radiasi matahari. Sehingga

pada saat kita dilakukan observasi ke lapangan sudah mengetahui apa yang menjadi titik

penekanan pada penelitian ini.

2. Melakukan survei lapangan

Observasi dilakukan dengan datang langsung ke tempat dimana objek berada,

mengumpulkan data penelitian yang dilakukan secara sistematis dalam mengamati,

mengukur, mengambil dokumentasi dan mencatat informasi yang penunjang penelitian.

3. Melakukan pengamatan dan pengambilan foto-foto

Melakukan pengamatan kawasan Grand Sharon Residence, baik blok D dan E

serta blok disekitarnya dan mendokumentasikan bagian-bagian yang dibutuhkan.

4. Mengumpulkan data lapangan

Gambar kerja

Gambar kerja perlukan untuk mengetahui luasan dan tata letak, dimensi masing-masing

unit, sehingga memudahkan dalam tahap analisis.

Data pengukuran

 Alat ukur dan tata cara pengukuran

Pengukuran digunakan menggunakan

Wet Bulb Globe Temperature, yaitu alat

untuk mengukur dry bulb temperature

(DBT/TA), globe temperature (TG),

kelembapan udara (RH), wet bulb

temperature (WBT), wet bulb globe

Figur 4

Alat Ukur WBGT-2010SD

(8)

Keterangan : Blok D :Blok E

temperature (WBGT), kecepatan angin (AV).

Alat ukur menggunakan WBGT-2010SD 3 untuk mengukur suhu udara yang sudah

dipengaruhi radiasi maupun yang tidak terpengaruh, dan mengukur kecepatan pergerakan udara yang

lebih detail, digunakan pula anemometer Airflow LCA 600024.

Kedua alat tersebut digunakan disetiap kegiatan pengukuran sesuai dengan waktu dan tempat

yang ditentukan.

4.

Pengaruh Orientasi Terhadap Radiasi Pada Rumahan Tipikal

Ke 4 unit objek penelitian tersebut terletak di Grand Sharon yang masih dalam tahap

pengembangan sehingga iklim mikro cenderung berubah seiring dari

pengembangan-pengembangan yang dilakukan.

Pada waktu penelitian dilapangan diperoleh foto keadaan lingkungan. Sehingga analisis

dilakukan berdasarkan kondisi eksisting yang ada pada waktu tersebut.

Pada gambar diatas terdapat 4 blok dari Grand Sharon Residence, yang menunjukan

area terbangun dan area belum terbangun. Terlihat dengan jelas posisi objek penelitian

terhadap kawasan setempat, yang akan sangat berpengaruh terhadap kondisi temperatur pada

masing-masing unit yang memiliki orientasi yang berbeda.

Untuk keadaan lingkungan objek penelitian yang lebih detail, diperjelas dengan foto

berikut dengan fokus terhadap 2 blok yang terdapat unit yang diteliti. Objek penelitian

3

HEAT INDEX WBGT METER. (2013). Dikutip 1 April 2013 dari

http://www.phelectronica.com.ar/imgs/pdf/WBGT-2010SD.pdf

4

AIRFLOW Technical Products Inc. (2013). Dikutip a April 2013, dari http://www.spectroscopic.com/Airflow/LCA6000va_airflow.pdf

Figur 6

(9)

BERKALA ILMIAHNARASI ARSITEKTUR

Volume 1

Nomor 1

Mei 2013

9

merupakan bagian dari 2 blok yang berbeda, tetapi memiliki pola rancangan yang sama.

Seperti gambar dibawah ini:

Gambar diatas merupakaan simulasi 3 dimensi yang menunjukan kondisi terbangun

kawasan disekitar objek pada saat penelitian dilakukan. Pada simulasi di atas menunjukan

wilayah terbangun dan tidak terbangun pada kawasan Blok D dan Blok E. Dari kawasan yang

tidak terbangun tersebut dibiarkan kosong sehingga tumbuh area hijau. Dari teori yang

diperoleh, pengaruh material pada lingkungan sekitar objek penelitian sangat berpengaruh

terhadap temperatur di dalam ruangnya,

temperatur udara maupun temperatur

yang dipengaruhi radiasi matahari.

Berikut merupakan perbandingan

kondisi pada lapangan di masing-masing

objek dan letak masing-masing objek

secara blok. Secara blok di perumahan

Grand Sharon ini, keempat objek terletak

pada 2 blok yang berbeda. Meskipun dari

tampilan foto terlihat perbedaan fisik

masing-masing objek, meskipun

merupakan tipe yang sama tetapi pada Figur 8

Kondisi Lapangan di Masing-Masing objek

Figur 7

(10)

unit Selatan Timur, memiliki keunikannya tersendiri. Yaitu letak carport mobil yang terletak berbeda

dengan ketiga unit lainnya. Meskipun demikian keempat unit ini pada saat dilakukan penelitian masih

merupakan unit kosong yang belum berpenghuni, sehingga tidak berpengaruh terhadap metode

pengukuran dan pengambilan data. Data yang diperoleh

sesuai dengan data yang diambil di lapanngan dengan

keadaan yang sebenarnya.

Dalam sebuah rumah terdapat ruang yang

menunjang aktivitas dan privasi dari penghuni rumah,

tingkat intensitas waktu penggunaannya pun berbeda.

Kamar tidur, sebagai ruang untuk beristirahat penghuni

yang dominan dipergunakan pada malam hari, dan ruang

keluarga yang dipergunakan pada siang hari. Meskipun

demikian, penggunaan ruang, tergantung dari pola

aktivitas penghuni, sehingga dalam merancang sebaiknya

ruang-ruang tersebut dalam kondisi nyaman.

Pembahasan pada objek penelitian difokuskan

terhadap ruang pada setiap unit yang lebih dominan

terkena matahari langsung adalah ruangan-ruangan yang

terletak di tepi bangunan, dalam kasus ini dominan kamar tidur. Terlihat pada gambar disamping, arah

orientasi objek penelitian yang disederhanakan,

sehingga dapat dengan mudah dibandingkan.

Berdasarkan tengat waktu yang diberikan,

untuk mengoptimalkan penelitian diambil sampel unit

kamar tidur yang mendapat cahaya matahari langsung

2 arah, yaitu Utara-Barat, Selatan-Barat, Utara -

Timur dan Selatan – Timur. Dan mengasumsikan

kondisi terburuk disepanjang tahun, dengan analisa

awal sebelumnya, didapat kondisi paling tidak

nyaman terdapat di bulan September. Pada penelitian

ini difokuskan pada bulan terburuk di unit yang

memiliki ruang kamar tidur yang terletak di sudut

yang menerima 2 arah orientasi yang berbeda.

Sebagai sampel ruang yang dianalisis untuk

mengetahui tingkat kenyamanan termal yang paling

minimal antara orientasi yang berbeda-beda. Salah

satu ruang kamar tidur dalam 1 rumah yang dijadikan observasi awal. Untuk kemudian dianalisis

seluruh ruangan dalam orientasi tersebut. Figur 10

Lokasi Ruang Pada Tiap Unit Yang Dijadikan Fokus Penelitian

Figur 9

(11)

BERKALA ILMIAHNARASI ARSITEKTUR

Volume 1

Nomor 1

Mei 2013

11

Tabel 2

Data Hasil Pengukuran Lapangan Pada Bulan April

Dalam pengukuran di lapangan yang dilakukan sebanyak 3kali pada tanggal 3 April, 9 April,

dan 10 April (hasil pengukuran lihat Lampiran 5). Dengan kondisi cuaca yang cenderung stabil cerah

berawan, diperoleh rata-rata sebagai berikut

Figur 11

(12)

Kesimpulan dari hasil perhitungan dan analisis lapangan yang dilakukan adalah unit yang

tingkat kenyamanannya paling rendah adalah unit Utara Barat, tertinggi pada jam 12.00-13.00,

15.00-16.00, 17.00-18.00, dan 20.00-21.00. Sehingga untuk analisis selanjutnya simulasi dilakukan untuk

unit yang memiliki orientasi Utara-Barat. Dengan menganalisa tingkat radiasi yang menerpa unit

tersebut di bulan dan tanggal tertentu dimana matahari berada di titik balik utara, dan selatan.

Sehingga dapat mengetahui perbandingan tingkat radiasi pada bulan-bulan tertentu dan mendapatkan

tingkat radiasi yang paling tinggi untuk berikutnya diberikan saran dan solusi.

Kesimpulan hasil pengukuran:

Indonesia merupakan iklim tropis yang terletak tepat di khatulistiwa, sedangkan objek

penelitian ini terletak di bawah garis khatulistiwa. Dalam perbandingan orientasi, selain barat lebih

panas dibandingkan dengan timur, Utara lebih panas dibandingkan dengan wilayah Selatan, untuk

objek penelitian ini.

Dari hasil penelitian ditemukan

pada jam 09.00 unit Selatan-Timur lebih

kurang nyaman dibandingkan dengan unit

Utara-Timur, sedangkan teori yang ada

seharusnya Utara-Timur lebih panas secara

radiasi matahari yang diterima.

Hasil analisis lebih lanjut

ditemukan perbedaan kondisi pada

lapangan yang mengakibatkan unit

Selatan-Timur lebih tinggi temperatur ruangnya,

yaitu;

Perbedaan material pada eksisting

bangunan yang mengkibatkan tingginya

tingkat reflektifitas pada material yang

digunakan. Secara tidak langsung akan

mempengaruhi temperatur dari ruang dalam

titik ukur tersebut. Unit Selatan-Timur

memiliki layout ruang yang berbeda

dibandingkan ke3 unit lainnya sehingga

berpengaruh terhadap hasil analisis yang

dilakukan.

Figur 12

Posisi Matahari Pada Bulan April

Figur 13

Perbedaan Kondisi Lapangan Unit Utara-Timur dan Selatan-Timur

(13)

BERKALA ILMIAHNARASI ARSITEKTUR

Volume 1

Nomor 1

Mei 2013

13

Berdasarkan analisis CET Nomogram yang dilakukan pada penegukuran lapangan, diperoleh

kesimpulan bahwa unit Utara Barat memiliki tingkat ketidak nyamanan yang tinggi, dan untuk

membuat lebih spesifik, diambil jam terburuk, yaitu pada pk 15.00 Berikut hasil analisis dari simulasi

“Solar Radiation”;

Pergerakan matahari sepanjang tahunnya

mempengaruhi intensitas radiasi matahari yang

menerpa masing-masing unit. Pada bulan Maret

dan Desember misanya, matahari berada tepat

di tengah khatulistiwa, sehingga intensitas

radiasi cenderung merata. Terlihat pada atap

warna cenderung kuning yang dominan pada ke

2 sisi atap, bagian depan maupun belakang.

Tetapi pada bulan desember, matahari berada di

bagian selatan garis edar, sehingga bagian

belakang atap, mendapatkan intensitas radiasi

yang lebih besar dibandingkan bagian depan,

sebaliknya pada bulan juni. Untuk itu tahapan

selanjutnya mengetahui MRT pada setiap

tanggal tertentu untuk mengetahui bulan

terburuk, untuk memberikan solusi secara

arsitektural yang efektif dan efisien Figur 14

Solar Radiation Bulan Juni

Figur 15

Solar Radiation Bulan September

Figur 16

(14)

Pada bulan September dengan menggunakan simulasi diperoleh simulasi MRT sebagai

berikut, yang menunjukan bahwa memiliki tingkat radiasi yang tinggi dibandingkan dengan bulan

lainnya, terutama pada bagian bukaan pintu kaca yang menghadap ke barat. Suhu tertinggi pada pk

15.00.

4. Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang dilakukan, kesimpulan secara umum yang dapat diambil dari pengaruh

orientasi bangunan terhadap kenyamanan termal pada perumahan di Bandung, adalah:

1. Unit dengan orientasi Utara-Barat, memiliki tingkat ketidaknyamanan yang paling

tinggi dibandingkan dengan ke 3 unit lainnya.

2. Dalam setahun, kondisi terburuk dari ke 4 objek penelitian ini jatuh pada bulan

September, yang secara tidak langsung juga Bulan Maret.

3. Kondisi eksisting tapak mempengaruhi tingkat radiasi pada masing-masing unit.

4. Kondisi iklim tapak dapat lebih diolah, dengan pengolahan yang berbeda pada

masing-masing unit dengan orientasi yang berebeda dan dimanfaatkan untuk

pembayangan sehingga dapat menurunkan tingkat radiasi pada waktu tertentu.

5. Perbandingan perbedaan radiasi pada unit dan ruang yang telah terhuni tidak bisa

diperbandingkan karena akan dipengaruhi oleh jumlah penghuni, banyak dan jenis

perabot.

6. Perbandingan perbedaan radiasi matahari terhadap unit yang sama tetapi memiliki

orientasi yang berbeda dipengaruhi oleh keberadaan matahari sepanjang tahun.

09.00 12.00

15.00 18.00

Figur 17

Pergerakan Matahari Selama 1 Tahun yang Memperngaruhi Tingkat Radiasi Panas Pada Unit Utara-Barat

Figur 18

(15)

BERKALA ILMIAHNARASI ARSITEKTUR

Volume 1

Nomor 1

Mei 2013

15

5. Penutup

Berdasarkan kajian hasil penelitian serta kesimpulan yang telah dikemukakan, maka diberikan

beberapa saran untuk meningkatkan kenyamanan termal pada unit yang memiliki orientasi berbeda.

1. Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan mengenai radiasi yang berpengaruh terhadap

perbedaan temperatur serta mengacu pada kesimpulan yang ditarik, maka diberikan

beberapa rekomendasi untuk mengoptimalisasikan kondisi kenyamanan termal pada tiap

unit yang memiliki orientasi berbeda, khususnya Utara-Barat sebagai berikut:

2. Bagi pihak developer, meskipun dengan arah orientasi yang berbeda pada unit rumah

Camry di Grand Sharon Residence harus diperhatikan pola pembayangannya agar

penurunan temperatur dapat dikendalikan

3. Perbaikan kondisi bukaan yang berbeda pada setiap unit

4. Pengaruh orientasi bangunan terhadap elemen material pada lingkungan sekitar, dapat

dijadikan bahan penelitian selanjutnya.

5. Pengaruh pembayangan oleh elemen lain di sekitar bangunan terhadap penurunan

temperatur, contohnya vegetasi pada tapak, dapat dijadikan bahan penelitian selanjutnya.

6. Pengaruh orientasi bangunan terhadap arah angin pada tapak dapat dijadikan bahan

penelitian selanjutnya.

7. Secara arsitektural, warna cat dinding dan olahan fasad sebaiknya diperhatikan

u-valuenya. Untuk mengurangi tingkat peresapan panas yang masuk kedalam ruang.

8. Penggunaan elemen vegetasi pada bangunan

9. Untuk memperoleh data yang lebih valid, dalam pengukuran data objek yang ada. Dengan

konteks membandingkan haruslah di waktu yang bersamaan pada masing-masing titik

ukur oleh karena itu sebaiknya dalam penelitian selanjutnya dipergunakan 4 alat yang

dipergunakan oleh 4 orang yang berbeda pada 4 titik ukur yang sama di unit yang

berbeda. Sehingga perbandingan dapat dikatakan lebih valid dan akurat. Dan tidak dapat

perubahan cuaca pada masing-masing titik pembanding.

Acuan

Boutet, S Terry. (1987). Controlling Air Movement, Mc Graw-Hill Book Company Egan, M. David. (1975). Concepts in Thermal Comfort. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Evans, Martin. (1980). Housing, Climate, and Comfort. New York: Halsted Press.

Frick, Heinz &Suskiyatno, FX Bambang. (2006). Dasar – Dasar Arsitektur Ekologis. Konsep Pembangunan Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan. Semarang: Kanisius

Hollo, Nick. (1995) Warm House Cool House. Marrickville: Griffin Press.

Koenigsberger, O.H., et al. (1973). Manual of Tropical Housing and Building, Part I: Climatic Design. Madras: Orient Longman, Ltd.

Lechner, Norbert. (1991). Heating, Cooling, Lighting: Design Methods for Architect. Washington DC: Braun-Brumfield, Inc

(16)

Mimie Purnama. (2012). Materi Perkuliahan Arsitektur Tropis. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan

Neufert, Ernest. (1979). Data Arsitek. Jakarta: Erlangga Olgyay, Victor. (1992). Design With Climate. New York.

Rapoport, Amos. (1996). House Form and Culture. London: Prentice Hall Inc

Sneider, C James, Anthony J Catanese. (1985). Pengantar Arsitektur, Terjemahan Hendro Sangkoyo, Jakarta: Erlangga.

Sutanto, E. B. H., et al. (2010). Fisika Bangunan. Bandung: Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan

Tobing, Rumiati Rosaline. (2008). Tata Bentuk Rumah yang Seimbang dan Harmonis. Malang: Bayumedia Publishing

Sumber Skripsi:

Ancella Christy. (2012). Pengaruh Pola Pergerakan Udara Terhadap Kenyamanan Termal Gereja Santo Barnabas, Pondok Cabe. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan.

Dionisius. (2010). Optimalisasi Penghawaan Alami Pada Bangunan Ruko. Objek Studi: Ruko Kota Baru Parahyangan, Padalarang. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan

Erik Jonatan. (2007). Pengaruh Orientasi Bangunan Pada Penggunaan Sirip Penangkal Siar Matahari di Bandung. Objek Studi: Gedung 5 Unpar, JL. Cimbuleuit, Bandung. Tani Sugih, JL. Dr. Djunjunan, Bandung. Gedung Kerta Mukti, Jl. Braga, Bandung. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan.

Ismail Zain. (2002). Penerapan Metode Bioklimatik Pada Perancangan Kampus Fak. Psikologi Unprok 45 Yogyakarata. Skripsi tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Shella Muchtar. (2010). Pengaruh Tatanan Massa dan Desain Selubung Bangunan Terhadap

Kenyamanan Termal di Kompleks Hunian The Edge Superblock. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan

Sumber Tesis:

Handoko Ony Saputra. (2004). Pengaruh Orientasi Bangunan Terhadap Penurunan Panas Pada Rumah Tinggal di Perumahan Wonorejo Surakarta. Tesis tidak diterbitkan. Semarang: Universitas Diponegoro

Gambar

 Tabel 1 Timelag Berbagai Bahan
Tabel 2 Data Hasil Pengukuran Lapangan Pada Bulan April

Referensi

Dokumen terkait

Dampak positif lainnya adalah sinar matahari yang tadinya langsung mengenai dinding bangunan, maka dengan adanya photovoltaics , kalor yang akan masuk ke dalam... bangunan

Dampak positif lainnya adalah sinar matahari yang tadinya langsung mengenai dinding bangunan, maka dengan adanya sel surya + PCM, kalor yang akan masuk ke dalam

Selanjutnya pada penelitian ini akan dilakukan analisis pengaruh intensitas radiasi matahari dan pengaruh faktor-faktor meteorologi yaitu kelembaban udara, temperatur permukaan,

Rumah tinggal adalah bangunan yang berfungsi untuk melindungi orang yang.. tinggal di dalamnya rumah tinggal yang baik haruslah aman dan

Berdasarkan hasil penelitian pengaruh perubahan arah sudut sel surya menggunakan energi matahari terhadap intensitas cahaya adalah bahwa: Perubahan intensitas

Selain intensitas radiasi matahari, temperatur panel juga sangat mempengaruhi daya konversi energi matahari dari sel surya jenis polycristaline seperti yang telah

Tujuan penelitian yaitu mengetahui perbedaan intensitas cahaya alami pada ruang tamu yang berukuran 15 m 2 (3x5 m) di dalam bangunan rumah dengan elemen dinding dan warna

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh orientasi bangunan terhadap matahari terhadap kondisi termal ruang kelas sekolah dasar.Penelitian ini dilakukan dengan