• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Temper Tantrum Masalah Perkembanga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teori Temper Tantrum Masalah Perkembanga"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

TEMPER TANTRUM

Seorang anak berusia 3 ½ tahun, di preschool dia menunjukkan perilaku yang baik, begitu pula dengan perilakunya terhadap babysitter-nya. Namun, ketika ibunya mengatakan “tidak ” untuk permen maupun ingin memakaikannya baju ia kemudian berubah. Ia marah, melemparkan mainan ke wajah ibunya, berteriak dengan keras, menangis terus menerus, bahkan berusaha memukulkan kepalanya di tembok. Tingkah laku inilah yang pada umumnya disebut temper tantrum.

Temper tantrum merupakan salah satu bentuk masalah agresifitas dan menjadi manifestasi dari kemarahan yang berlangsung pada empat tahun awal sejak kelahiran (Bakwin & Bakwin, 1972). Temper tantrum berkembang dari tangisan dan rajukan menjadi teriakan, tendangan, memukul dan menahan nafas. Umumnya ditemukan pada anak yang berusia 1-3 tahun. Beberapa anak dapat mengalami tantrum yang biasa, sedangkan untuk anak yang lain, tantrum jarang ditunjukkan oleh mereka.

Rutherford (2001) menyatakan bahwa temperamen anak sangatlah dramatis, anak berada di dunianya sendiri dengan temperamen yang mereka atur sendiri, dan beberapa sangat rapuh terhadap tantrum dibandingkan dengan yang lainnya.

(2)

namun dia menunjukkan agresinya dengan jalan menyakiti dirinya sendiri dan bukan kepada ibunya. Dengan kata lain, sebenarnya si anak mengekspresikan rasa sayangnya terhadap si ibu (Herbert, 1975).

Perasaan benci anak sering diiringi dengan perasaan sayangnya terhadap orang tuanya. Anak membenci ibunya, bukan karena dia benar-benar membencinya, namun karena ia menyayangi ibunya sehingga ia menginginkan agar ibunya mengerti kemauannya. Ketika seseorang tidak mengerti kemauannya inilah, maka ia akan mulai merajuk dan bahkan menunjukkan temper tantrum.

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi yang berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap “sulit”, dengan ciri sebagai berikut (Sarwono, 2003):

1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar yang tidak teratur.

2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru. 3. lambat beradaptasi terhadap perubahan.

4. Mood-nya lebih sering negatif.

5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah atau kesal. 6. Sulit dialihkan perhatiannya.

 Etiologi

(3)

A. Anak yang menemukan bahwa luapan kemarahan yang berlebihan merupakan cara yang efektif dalam mencapai tujuannya akan mengalami temper tantrum dua kali lebih banyak dari frekuensi anak yang menemukan bahwa perilaku tersebut tidak berlaku untuknya. Anak yang terus sakit-sakitan, pada umumnya ketika masih di preschool, secara berkelanjutan akan memperlihatkan marah, biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan untuk memenuhi keinginannya sendiri serta keluarga yang mendukung perilakunya ketika ia sakit, sehingga ia tidak mampu untuk membentuk toleransi terhadap frustasi.

B. Anak yang menjadi subjek ketidakkonsistenan metode disiplin akan menunjukkan marah lebih sering dibandingkan dengan anak lain, ditambah lagi, ia akan lebih menolak terhadap berbagai hal yang disuruhkan kepadanya. Kemarahan ini dapat pula timbul di dalam keluarga yang terdiri atas beberapa orang dewasa, disebabkan oleh konflik standar dan metode dari tugas yang diberikan. Faktor lain yang cenderung meningkatkan kemarahan adalah kritik dan kecemasan yang berlebihan, omelan serta perhatian yang berlebih dari orang tua.

(4)

D. Luapan kemarahan seringkali diimitasi oleh anak. Sebagian besar anak yang memiliki temperamen yang tidak terkontrol juga memiliki orang tua yang sama dengannya. Pengaruh somatik seperti penyakit, kelelahan dan rasa lapar juga dapat meningkatkan keadaan yang lekas marah. E. Luapan kemarahan yang eksplosif, tanpa adanya penyebab

yang jelas atau tidak ditemukan stimulus penyebabnya, pada umumnya dialami oleh anak yang memiliki gangguan atau kerusakan pada otak. Hal ini terjadi apabila ditemukan masalah pada hypothalamus yang erat hubungannya dengan kontrol kortikal.

F. Anak dengan perkembangan bicara yang lambat atau defektif seringkali menjadi marah ketika tidak ada orang yang dapat memahami apa yang ingin disampaikannya. G. Temper tantrum tanpa adanya masalah atau penyebab

yang muncul atau hanya tampak provokasi yang sedikit, sering ditemukan pada anak yang mengalami schizophrenia. Reaksi kemarahan mereka dapat muncul sebagai pelepas rasa cemas.

Menurut Sarwono (2003) temper tantrum dapat disebabkan oleh:

1. Terhalangnya keinginan anak untuk mendapatkan sesuatu. 2. Ketidakmampuan anak untuk mengungkapkan diri karena

keterbatasan bahasa yang mereka miliki.

3. Tidak terpenuhinya kebutuhan anak, terutama bagi anak yang aktif, karena kebutuhan akan ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak sangat krusial bagi mereka. 4. Pola asuh orang tua yang seringkali berlebihan di mata

(5)

5. Anak merasa lelah, lapar atau dalam keadaan sakit. 6. Anak sedang stress maupun tidak merasa aman.

 Perilaku Anak yang Mengalami temper Tantrum

Manifestasi perilaku anak yang mengalami temper tantrum menurut Sarwono (2003) adalah:

1. Di bawah usia 3 tahun:

a. Menangis, memekik-mekik dan menjerit dengan keras b. Menggigit

c. Memukul dan menendang d. Melengkungkan punggung

e. Melempar barang maupun badan ke lantai

f. Membenturkan kepala dan memukul-mukulkan tangan g. Menahan nafas

2. Usia 3 – 4 tahun:

a. Menunjukkan perilaku yang sama dengan di bawah usia 3 tahun

b. Merengek-rengek dan berteriak c. Mengkritik

d. Meninju dan membanting pintu 3. Usia 5 tahun ke atas:

a. Menunjukkan perilaku yang sama dengan di bawah usia 4 tahun

b. Memaki dan menyumpah

c. Memukul saudara maupun teman d. Memcahkan barang dengan sengaja e. Mengkritik diri sendiri

(6)

 Management of Temper Tantrum

Cara terbaik dalam menghadapi temper tantrum adalah dengan cara mencoba untuk menghindarinya kapanpun hal tersebut bisa dilakukan, atau dengan kata lain lakukan tindakan pencegahan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara (Rutherford, 2001) yaitu:

A. Cari tahu terlebih dahulu bahwa anak merajuk disebabkan oleh apa.

B. Berusaha untuk menetapkan kebiasaan di mana anak senang melakukannya, karena dengan begitu anak akan merasa diberi penghargaan yang positif.

C. Memberi kontrol terhadap hal-hal kecil kepada anak, cara ini dapat memenuhi kebutuhan anak untuk mandiri dan dapat pula menunda munculnya tantrum. Berikan pilihan kecil, misalnya minum jus jeruk atau jus apel? Dengan begini anak akan lebih menunjukkan kemandirian pilihannya dibandingkan dengan menjawab tidak.

D.Berikan pengajaran kepada anak agar berusaha melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri, ini dapat dimulai dengan mengajarkan anak menggunakan tangan sendiri ketika makan.

E. Ambil keuntungan terhadap pengalihan perhatian anak, dengan begitu anak bisa dialihkan perhatiannya dari objek yang membuatnya frustasi atau objek yang dilarang. Atau ubah lingkungannya, seperti mengajak anak ke suatu tempat.

(7)

Ketika anak mulai melakukan temper tantrum, tetaplah tenang. Karena anak yang sedang meningkat emosinya, akan lebih emosi lagi apabila orang di sekitarnya menjadi frustasi atau kebingungan untuk melakukan sesuatu. Tariklah nafas yang panjang, dan berpikirlah dengan jelas. Jangan memberikan pukulan kepada anak ketika ia sedang marah, karena hal tersebut tidak akan membantu. Amankan situasi sambil mencoba mencari tahu sumber kemarahan anak. Ketika anak melakukan temper tantrum disebabkan oleh hal kecil, abaikan dia, namun tetaplah perhatikan gerak-geriknya tanpa sepengetahuan anak. Ini bertujuan agar anak dapat belajar bahwa apa yang dilakukannya tidak akan menghasilkan apa-apa. Apabila anak mulai menyakiti dirinya sendiri, bawalah ia ke tempat terpencil atau yang tenang, atau peganglah dia selama beberapa saat, sambil berusaha menenangkannya. Jika anak yang melakukan temper tantrum sudah mencapai usia sekolah, perintahkan kepada anak untuk masuk ke kamarnya. Katakan padanya agar dia harus terus berada di kamar sampai dia sudah tenang kembali (McDaniel, 2000).

(8)

atau rasa hormat yang sesuai terhadap hak dan opini orang lain (Herbert, 1975).

Ketika anak telah melakukan tantrum, jangan berikan reward dalam bentuk apapun kepadanya. Karena hanya akan menunjukkan bahwa perilakunya efektif. Selain itu, jangan memberikan hukuman, tapi berikanlah kata-kata yang dapat membantunya dalam mengontrol dirinya kembali. Berikan pelukan dan tunjukkan kepadanya bahwa dia selalu disayangi (Rutherford, 2001).

 Menangani Temper Tantrum

Belajar untuk menangani luapan perilaku dan tantrum merupakan peran besar orang tua. Berbagai masalah perilaku dan kebingungan dapat ditangani oleh anak apabila anak telah diajarkan terlebih dahulu mengenai kontrol diri.

A. Apakah kontrol diri itu?

Kontrol diri merupakan kemampuan untuk membuat pilihan mengenai bagaimana seseorang berperilaku dan bertindak dibandingkan dengan hanya percaya kepada impuls yang datang (Connely, 2001). Dengan melatih kontrol diri, anak akan belajar untuk membuat keputusan yang paling tepat dan memilih perilaku yang lebih dapat memberikan hasil yang positif.

B. Mengapa kontrol diri sangat penting?

(9)

konsekuensi yang berbahaya atau negatif (McDaniel, 2000). Tanpa kontrol diri, anak akan berkata dan bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya. Hal ini tidak hanya akan dapat menempatkan mereka ke dalam situasi yang frustasi, yang akan membuat anak lebih susah lagi dalam mengontrol dirinya sendiri, namun, juga dapat menempatkan mereka ke dalam situasi yang berbahaya. Mengajarkan anak mengenai kontrol diri akan membantunya dalam berhubungan dengan kawan sebaya dan keluarga, serta akan membuatnya merasa aman.

C. Bagaimana membantu anak dalam membangun kontrol dirinya?

Terdapat beberapa saran untuk membantu anak dalam belajar mengontrol perilakunya sesuai dengan tingkatan umur yang dimilikinya (Rutherford, 2001) yaitu:

1. Usia lahir – 2 tahun; bayi dan balita sering mengalami frustasi karena terdapat perbedaan yang besar antara yang ingin mereka lakukan dengan tingkat keterampilan mereka yang sebenarnya. Karena itu mulailah memberikan contoh yang sederhana, selain itu anak pada usia ini sangat mudah untuk dialihkan perhatiannya, sehingga dapat memberikan kesempatan untuk merubah objek yang membuatnya stress. Dan ketika anak mencapai usia 2 tahun, dapat diajarkan bagaimana berhenti sebentar ketika sedang melakukan sesuatu.

(10)

tenang selama beberapa waktu ketika anak mulai kesal terhadap sesuatu.

3. Usia 6 – 9 tahun; ajari anak mengenai beberapa strategi sederhana untuk menyelesaikan masalahnya. Selain itu, bantulah anak untuk melepaskan stress dengan mengajarkannya menarik nafas yang panjang selama beberapa detik, atau dengan membantunya mencari aktivitas lain yang lebih seru buatnya.

4. Usia 10 – 17 tahun; ajari anak untuk memikirkan konsekuensi apa yang akan diterimanya apabila melakukan sesuatu, berikan petunjuk yang sesuai dengan kebutuhan anak mengenai hal-hal yang menjadi masalahnya, namun, biarkan anak sendiri yang menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Ajarkan kedisiplinan kepada anak terhadap hal-hal yang sangat krusial, misalnya disiplin dalam mematuhi waktu. Tunjukkan contoh yang baik kepada anak.

 Kebutuhan Terhadap Dokter atau Psikolog Anak

Anak harus dikonsultasikan kepada dokter atau psikolog apabila:

1. Terdapat pertanyaan menganai apa yang harus dilakukan oleh orang tua atau apa yang sedang dilakukan oleh si anak. 2. Tantrum muncul lebih sering atau lebih lama bila

dibandingkan dengan tindakan antisipasinya.

3. Orang tua tidak merasa nyaman dengan respon dari anak. 4. Tantrum mulai menghasilkan perasaan yang tidak enak pada

(11)

5. Tantrum mulai bertambah intensitasnya, frekuensinya, maupun durasinya.

Dokter sangat dibutuhkan untuk memeriksa adanya masalah fisik yang dapat memberikan kontribusi kepada tantrum, walaupun hal tersebut jarang terjadi, misalnya gangguan bicara, penyakit kronis, maupun ketidakmampuan belajar.

Pada anak usia sekolah, tanda yang mengindikasikan bahwa anak lebih baik mengunjungi psikolog anak adalah: 1. Jarang beristirahat

2. Impulsif

3. Senang menantang

4. Sangat sulit untuk berkonsentrasi

5. Rendahnya kepercayaan dan penilaian terhadap diri

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Bakwin, H., Bakwin, R. M. 1972. Behavior Disorder in Children. Philadelphia: WB Saunders Company.

Connely, K.P. 2001. The Truth About Temper Tantrum, Temper Tantrum (Three-and One-Half-Year-Old), (online), (www.kiddiekorp.com, diakses tanggal 5 Juni 2004).

Herbert, M. 1975. Problems of Childhood, A Complete guide for All Concerned. London: Panbooks Ltd.

McDaniel, S.S. 2000. Temper Tantrum Question, (online), (www.sandymcdaniel.com, diakses tanggal 5 Juni 2004).

Rutherford, K. 2001. Temper Tantrum, (online), (www.kidshealth.org, diakses tanggal 5 Juni 2004).

(13)

Referensi

Dokumen terkait

Muhammad Sayyid Thanthāwi adalah seorang pemikir islam dan juga mufasir kontemporer yang akrab dengan kitab tafsirnya al-Was īṭ. Dalam salah satu karyanya yakni

Melihat pertimbangan diatas, kota Semarang berpotensi untuk memiliki fasilitas hiburan berupa gedung bioskop yang ditunjang dengan beberapa jenis fasilistas lainnya

Eric Hotma: Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Hak Paten Menurut UU Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten, 2007... Eric Hotma: Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Hak Paten Menurut

Mengapa dalam reaksi inti dan reaksi nuklir dalam pemanfatannya sebagai energi sering dihindarkan, mohon keterbatsan dari penggunaan reaksi inti tersebut dalam pengadaan energi

Produk pengembangan buku modul pelatihan pembuatan gerabah sebagai panduan untuk masyarakat dalam pembuatan gerabah secara praktis dalam kaitannya dengan aktivitas

Penelitian ini berdasarkan pada kenyataan bahwa semakin berkembangnya kebutuhan basis data yang mendukung penyediakan laporan yang berisi data pembelian dan

Untuk zaman ini, bahkan di masa-masa mendatang, agama Islam bersama agama atau paham lain harus bisa menjalin bahkan menyatu dalam memperkaya mozaik warisan kultural dunia,

Adsorben adalah bahan yang sangat berpori dan adsorbsi berlangsung terutama pada dinding-dinding pori atau pada letak-letak tertentu di dalam partikel.. Pemisahan terjadi