• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN BERBASIS MULTIKULTURALISME dalam SE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENDIDIKAN BERBASIS MULTIKULTURALISME dalam SE"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN BERBASIS MULTIKULTURALISME SEBAGAI UPAYA MEMBANGUN KESADARAN

SIKAP PLURAL KEBANGSAAN

1.1 Pendahuluan

1.1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan ranah pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang hampir dapat dikatakan maju, walaupun belum sepenuhnya memenuhi target dari tujuan sebagaimana dimanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Berangkat dari penekanan tenatang pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang hadir di tengah-tengah masyarakat, dimana memiliki banyak fungsi yang tidak hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga berfungsi sebagai pencerdasan diri, sosial, negara bangsa, bahkan dunia. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Surakhmad & Sularto (2009) bahwa semangat filosofi pendidikan yang terkait dengan amanah mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai metode berpikir reflektif memiliki esensi kebenaran dalam kehidupan dan dengan merumuskan tujuan memberdayakan manusia menghadapi tantangan kehidupan berdasarkan strategis dan praktis pendidikan yang memanusiakan manusia sepanjang manusia.

Fenomena yang kemudian mengemuka akan amanah pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut, salah satunya adalah realitas transaksi pengetahuan dan pengalaman yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk menginterpretasikan pandangan dunia mereka yang berbeda-beda untuk menuju ke arah kebaruan budaya dalam konteks pendidikan madani. Hal ini, yang kemudian dikenal dengan konsep multikulturalisme (Saefulloh, 2009; Machfud, 2005; Widisuseno, 2012; Daulay, 2011; Suparlan, 2002; Kasdi, 2012; dan Wasino, 2011). Multikulturalisme disebut-sebut sebagai keanekaragaman yang amat kompleks dari ras dan suku yang beragam dan tersebar dalam beribu-ribu pulau yang ada, agama yang beragam, baik itu agama global (Islam,

(2)

Kristen, Katholik, Budha, Hindu) hingga agama-agama lokal, semisal Kejawen di Jawa. Bahasa, lingkungan, adat, kebiasaan, hingga makanan yang sangat bervariasi dalam wilayah Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah salah bila Indonesia disebut sebagai negara multi-budaya, multi-etnis, dan multi-agama.

Namun demikian, permasalahan yang menggejala atas multikulturalisme tersebut adalah dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat yang kompleks memunculkan konflik, yang sendirinya akan mengguncang tatanan multikulturalisme. Di samping itu, apabila konflik itu melebar menjadi perebutan hegemoni kekuasaan politik, ekonomi, wilayah, harga diri yang berbasis pada suku, ras, agama, maka multikulturalisme akan dipandang sebagai kearifan yang sia-sia, yang tidak bertanggungjawab dan cermin dari lemahnya solidaritas (Daulay, 2011; Suparlan, 2002).

Untuk itu, pendidikan sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan, nilai dan sikap, khususnya sikap ilmiah, penguasaan IPTEK, etos kerja, sikap demokratis, berkepribadian mantap, bermoral dan memiliki rasa tanggungjawab dan paham toleransi serta solidaritas kebangsaan, perlu diselenggarakan untuk membangun kebudayaan Indonesia yang maju berdasarkan proses pendidikan multikulturalisme. Hal ini sebagaimana diamanatkan dalam ketetapan MPR RI tahun 1999 jo. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Senada dengan hal tersebut, Machfud (2005); Widisuseno (2012) dan Daulay (2011) menekankan pendidikan multikulturalisme yang memiliki konsep yang sangat relevan dengan adopsi dan modifikasi ke dalam konsep dasar pendidikan yang beragam dalam ranah pendidikan Indonesia saat ini.

(3)

dapat dipersepsikan dalam dua paradigma, yakni: secara sempit, pendidikan berfungsi untuk membantu secara sadar perkembangan jasmani dan rohani para peserta didik. Sementara itu, secara luas, pendidikan berfungsi sebagai pengembangan pribadi, pengembangan warga negara, pengembangan kebudayaan dan pengembangan bangsa (Wasino, 2011). Dalam pemaparan diatas maka jelas pendidikan sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur serta inklusif bagi semua lapisan masyarakat Indonesia.

Konteks pendidikan multikultural merupakan pendekatan progresif, pendekatan ini sejalan dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan yang termaktub dalam UU dan sistem pendidikan (SISDIKNAS) tahun 2003 pasal 4 ayat 1, bahwa:

“Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskrinminatif dengan menjunjung tinggi hak asai manusia (HAM), nilai agama, nilai kultur, dan kemajemukan bangsa”.

Dari paparan kutipan di atas, jelas bahwa pentingnya pendidikan multikulturalisme berperan meningkatkan mutu bangsa agar dapat duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan negara-negara lain, pendidikan juga berperan memberi perekat berbagai perpedaan diantara komunitas kultural atau kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda agar lebih meningkat komitmennya dalam berbangsa dan bernegara. Hal ini, sebagaimana dikemukakan oleh Machfud (2005) bahwa pendidikan dan masyarakat multikultural memiliki hubungan timbal balik (reciprocalrelayionship). Artinya, bila pada satu sisi pendidikan memiliki peran signifikan guna membangun masyarakat multikultural, disisi lain masyarakat multikultural dengan segala karakternya memiliki potensi signifikan untuk mensukseskan fungsi dan peran pendidikan, itu berarti penguatan disatu sisi, langsung atau tidak langsung, akan memberi penguatan pada sisi lain.

(4)

plural. Sikap plural ini dibangun diantara komunitas kultural atau kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda agar lebih meningkat komitmennya dalam berbangsa dan bernegara (Tilaar, 2005). Sikap plural menjadi bagian dari strategi pendidikan multikulturalisme dengan langkah berupa pembangunan karakter dan semangat kebangsaan (Suparlan, 2002). Pengembangan karakter dimaksudkan sebagai pengembangan jati diri bangsa Indonesia yang pernah dikenal sebagai bangsa yang ramah, sopan, toleran, dan sebagainya. Sedangakan semangat kebangsaan adalah keinginan yang amat mendasar dari setiap komponen masyarakat untuk berbangsa. Karakter dan semangat seperti itu akan berkembang, baik secara natural maupun kultural, menuju tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa (Hanum, 2011).

Berdasarkan pemaparan uraian di muka, perlu dipahami bagaimana upaya untuk melakukan kajian multikulturalisme dan masyarakat mulitikultural yang telah dilakukan untuk dapat menstimuli dan melibatkan untuk secara bersama-sama, dalam mengembangkan dan memantapkan serta menciptakan model-model penerapan multikutlralisme melalui sikap pluralis dalam masyarakat Indonesia.

1.1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah di muka, maka rumusan masalah yang hendak dikaji dalam penulisan karya tulis ilmiah ini dapat diajukan dalam question research sebagai berikut:

1. Bagaimana paradigma pentingnya pendidikan berbasis multikulturalisme dalam membangun kesadaran sikap plural berbangsa?

(5)

1.1.3 Tujuan Penulisan

Sebagaimana pemaparan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka secara jelas dan tereksplisit, tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan karya tulis ilmiah ini diantaranya adalah:

1. Mengetahui dan memahami pentingnya pendidikan berbasis multikulturalisme dalam membangun kesadaran sikap plural berbangsa.

2. Mengetahui dan memahami pendidikan berbasis multikulturalisme dapat dijadikan upaya membangun kesadaran sikap plural yang inklusif dalam kehidupan berbangsa.

1.1.4 Manfaat Penulisan

Secara spesifik penulisan karya tulis ilmiah ini memuat beberapa manfaat yang hendak diharapkan, diantaranya meliputi:

1. Manfaat praktis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumbangan informasi mengenai pentingnya pendidikan multikultural dan upaya apa yang dapat dilakukan bagi para pemegang kebijakan pendidikan maupun praktisi penidikan dalam menyampaikan pentingnya sikap plural berbangsa.

2. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan menambah wacana dan perbendaharaan keilmuan, khususnya mengenai pendidikan multikultural dalam mengajarkan kehidupan sikap plural (sosial) kemasyarakatan.

2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pendidikan

(6)

akhiran “an”, maka kata pendidikan secara tersirat memiliki arti sebagai “proses cara” atau “perbuatan mendidik” (Prayitno, 2011). Sementara itu, dalam bahasa Yunani disebutkan bahwa pendidikan berasal dari kata padegogik yaitu ilmu menuntun anak, yakni melihat pendidikan sebagai educare atau sebagai mengeluarkan dan menuntun, serta tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa waktu dilahirkan di dunia. Dalam bahasa Jerman pendidikan dilihat sebagai Erziehung yang setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan atau potensi anak. Di sisi lain, dalam bahasa Jawa, pendidikan diartikan sebagai panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak (Koesoema, 2007). Tidak jauh berbeda, secara kebahasaan dalam kamus Oxford (Baldick, 2008) kata pendidikan dapat diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, dimana:

1. Pendidikan sebagai suatu proses pelatihan dan pengajaran, terutama bagi anak-anak dan remaja di sekolah, perguruan tinggi maupun di lingkungan sekitar yang dirancsang untuk memberikan pengetahuan dan mengembangkan ketrampilan

2. Pendidikan sebagai bidang studi yang berhubungan dengan cara mengajar

3. Pendidikan sebagai proses mengajar seseorang tentang sesuatu atau bagaimana melakukan sesuatu.

(7)

“Pendidikan ialah aktivitas perkembangan dan penyuburan pemikiran serta kuasa-kuasa semula jadi melalui pembelajaran yang sudah dirancang, meliputi pendidikan formal dan pendidikan bukan formal”

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah:

“Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran secara aktif dalam mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat”.

Dengan kata lain, pendidikan memiliki esensi sebagai masalah yang menentukan berhasil tidaknya bangsa tersebut dalam pertumbuhan dan perkembangannya. menegaskan bahwa bidang pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat fundamental dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan, di samping juga merupakan faktor penentu bagi perkembangan sosial dan ekonomi, pendidikan juga dipandang sebagai sarana paling strategis untuk mengangkat harkat dan martabat suatu bangsa (Shukri, Nain, & Yusoff, 2003).

(8)

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan dibutuhkan dan diperlukan sebagai bentuk:

“Untuk membentuk karakter seseorang, dimana pendidikan akan timbul dalam diri seseorang untuk berlomba-lomba dan memotivasi diri untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu syarat untuk lebih memajukan peradaban guna membentuk pribadi-pribadi yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

2.1.2 Multikuturalisme

Secara etimologis istilah multikulturalisme (multiculturalism) berasal dari kata multi (banyak) kultur (budaya) dan isme (pandangan/paham) atau paham budaya plural dan sebagai lawannya adalah monokulturalisme atau paham budaya tunggal. Secara hakiki dari istilah tersebut mengandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing. Dimana, setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggungjawab untuk hidup bersama komunitasnya. Dengan kata lain, multikulturalisme merupakan pemaknaan dari ideologi atau paham tentang multi budaya atau keragaman kebudayaan (Wasino, 2011).

(9)

Dari konsepsi akan kebudayaan dan masyarakat di atas, secara implikatif pada dasarnya dipandang sebagai suatu sistem yang saling berkorelasi (Sachari, 2007). Masing-maing memiliki jangkauan pengertian sendiri-sendiri. Kebudayaan mengacu pada hal-hal yang bersifat abstrak berupa sistem nilai, gagasan, kepercayaan, simbol-simbol, ideologi yang dibayangkan oleh suatu komunitas atau masyarakat tertentu. Sementara, masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang hidup menetap pada klan-klan kecil hingga sebuah kumpulan besar manusia yang hidup dalam wilayah yang lebih luas yang disebut suku bangsa atau bangsa. Hal ini, sebagaimana dikemukakan oleh Kuper (2000) bahwa kebudayaan juga merupakan sistem pengetahuan dan kepercayaan yang digunakan sebagai pedoman dalam mengatur pengalaman dan persepsi mereka, menentukan tindakan, dan memilih alternatif yang ada.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa multikulturalisme merupakan:

“Kebudayaan dan masyarakat yang memiliki pengakuan atas konsepsi dan tampilan kebudayaan yang berbeda-beda berdasarkan ras, agama, suku, jenis kelamin, tingkatan sosial, kekayaan, dan tingkat pendidikan. Pengakuan tersebut merupakan kebutuhan untuk diakui (politics of recognition).

(10)

2.1.3 Pendidikan Berbasis Multikulturalisme

Pendidikan multikulturalisme dianggap sebagai salah satu sarana startegis dalam upaya membangun jati diri bangsa adalah sebuah langkah yang bagus, relatif tepat, dan menjanjikan pendidikan yang layak dan kelihatannya tepat dan kompatibel untuk membangun bangsa berasaskan model pendidikan sikap plural. Berkaitan dengan hal ini, maka pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada person seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur dan ras.

Relevansi pendidikan berwawasan multikultural teradopsi dan termodifikasi ke dalam konsep dasar pendidikan sebagamaimana amanat dalam UU. No. 20 Tahun 2003 dan Pancasila serta Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan jaman. Hal ini, dimaksudkan untuk merespon dampak perkembangan globalisasi, dan fenomena konflik etnis, sosial budaya, yang sering muncul di kalangan masyarakat Indonesia yang berwajah multikultural. Kerawanan konflik ini sewaktu – waktu bisa timbul akibat iklim politik, agama, sosio budaya yang memanas. Penyebab konflik sangat kompleks namun sering disebabkan karena perbedaan etnis, agama, ras (SARA).

(11)

kerangka konsep yang hendak dilakukan dalam pelaksanaan pendidikan multikultural ini yakni:

1. Tujuanya membentuk “manusia budaya” dan menciptakan “masyarakat berbudaya (berperadaban)”.

2. Materinya mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusian, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis (kultural).

3. Metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalis).

4. Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi persepsi, apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya (Tilaar, 2005).

Dari keempat paparan konsep pendidikan multikultural tersebut, dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah:

“Untuk menanamkan sikap simpati, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda. Hal ini sebagaiman dikemukakan bahwa yang terpenting dari strategi pendidikan multikultural ini tidak hanya bertujuan agar supaya personal mudah memahami pelajaran yang dipelajarinya, akan tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berprilaku humanis, pluralis, dan demokrasi.”

2.1.4 Sikap Plural

(12)

“(1) Sikap sebagai sesuatu yang dipelajari, (2) Sikap menentukan pandangan awal seseorang terhadap berbagai aspek di lingkungannya, (3) Sikap membangun dasar emosional berhubungan interpersonal seseorang dan identifikasi dengan orang lain, dan (4) Sikap diorganisasikan dan dekat dengan inti kepribadian”.

Dari keempat esensi sikap tersebut, sikap merupakan bagian instrinsik dari kepribadian seseorang, dimana beberapa sikap bersifat konsisten dan bertahan dalam waktu yang lama. Namun demikian, sikap dapat berubah apabila psikologis menjadi dominan untuk “mencari kesesuaian anatara keyakinan dan perasaan mereka terhadap objek” serta menyatakan bahwa modifikasi sikap dapat dilakukan dengan mengubah sisi perasaan atau keyakinan. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Saifudin (2005) bahwa, sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang, yakni: (1) Kognitif (apa yang diketahui person mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya, (2) Afektif (perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap) dan (3) Konatif (perilaku yang menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya).

(13)

multikulturalisme, maka nilai-nilai multikultural adalah menjadi pendukung terhadap sikap pluralis.

3.1 Pembahasan

3.1.1 Pentingnya Pendidikan Berbasis Multikulturalisme dalam Membangun Kesadaran Sikap Plural Berbangsa

Pendidikan multikulturalisme yang mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya (the pride in one home nation) diidentifikasikan berdasarkan perkembangan sikap pluralis dalam kaitan dengan kebudayaan-kebudayaan lain dalam masyarakat lokal sampai dengan masyarakat global. Tilaar (2005) mengemukakan beberapa tipologi pendidikan multikulturalisme yang mencerminkan sikap pluralis seseorang terhadap identitas etnik atau cultural identity, yaitu:

1. Content Integration, yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep dasar, generalisasi, dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu.

2. The knowledge construction process, yaitu membawa pelajar untuk memahami implikasi budaya kedalam sebuah mata pelajaran. 3. An equity paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengajaran

dengan cara belajar dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik yang beragam baik dari segi ras, budaya, ataupun sosial.

4. Prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka. Kemudian, melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, berinteraksi dengan seluruh staff dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya akademik yang toleran dan inklusif.

(14)

rakyat kebanyakan, dan mediasinya adalah toleransi, sikap saling menghargai, sikap percaya, interdependensi/saling membutuhkan dan apresiasi pluralitas budaya (Munawar, Rachman, & Shofan, 2010). Untuk mengatasi konsekuensi perubahan paradigma pendidikan multikulturalisme di atas, Hanum (2011) menawarkan konsepsi keluaran dari sikap pluralitas multikultural paling tidak menyangkut tiga hal, yaitu:

1. Ide dan kesadaran akan nilai penting keragaman budaya

Dalam hal ini, kesadaran yang perlu ditingkatkan adalah kesadaran akan karakteristik memiliki kesempatan yang sama karena usia, agama, gender, kelas sosial, etnis, ras, atau karakteristik budaya tertentu yang melekat pada diri masing-masing.

2. Gerakan pembaharuan pendidikan

Dalam hal ini, pendidikan multikultural bukan sekedar merupakan praktik aktual atau bidang studi atau program pendidikan semata, namun mencakup seluruh aspek-aspek pendidikan.

3. Proses.

Dalam hal ini, pendidikan multikultural menjadi proses menjadi, proses yang berlangsung terus-menerus dan bukan sebagai sesuatu yang langsung tercapai. Tujuan pendidikan multikultural adalah untuk memperbaiki prestasi secara untuh bukan sekedar meningkatkan skor. Proses pendidikan multikultural dapat dimulai dari persiapan pengajar, partisipasi sekolah dalam dalam segala bentuknya, serta pendidikan berpusat pada pelajar secara personal dengan meperhatikan aspirasi dan pengalaman.

(15)

berorientasi global beralih ke orientasi kepentingan nasional dan regional. Sedangkan masalah kurikulum adalah bagaimana menyusun institusional kurikulum di semua jenjang pendidikan dapat mengadopsi nilai-nilai pluralitas kedaerahan, dengan prinsip menjunjung tinggi khasanah budaya nasional dan kearifan lokal.

3.1.2 Upaya Membangun Kesadaran Sikap Plural Berbangsa yang Inklusif Melalui Pendidikan Berbasis Multikulturalisme

Upaya untuk membangun kesadara sikap plural, pada dasarnya dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan-pendekatan yang mengintegrasikan materi pendidikan multikultural ke dalam manajemen dan kurikulum pendidikan yang bila dicermati relevan untuk diimplementasikan di Indonesia, yakni:

1. Pendekatan kontribusi (the contributions approach), yakni pendekatan yang paling sering dilakukan dan paling luas dipakai dalam fase pertama dari gerakan kebangkitan etnis. Cirinya adalah dengan memasukkan pahlawan/pahlawan dari suku bangsa/etnis dan benda-benda budaya ke dalam pelajaran yang sesuai.

2. Pendekatan aditif (aditif approach), yakni pendekatan yang dilakukan penambahan materi, konsep, tema, perspektif terhadap kurikulum tanpa mengubah struktur, tujuan dan karakteristik dasarnya. Pendekatan aditif ini sering dilengkapi dengan buku, modul, atau bidang bahasan terhadap kurikulum tanpa mengubah secara substansif.

3. Pendekatan transformasi (the transformation approach). Pendekatan transformasi berbeda secara mendasar dengan pendekatan kontribusi dan aditif. Pendekatan transformasi mengubah asumsi dasar kurikulum dan menumbuhkan kompetensi dasar dalam melihat konsep, isu, tema, dan problem dari beberapa perspektif dan sudut pandang etnis.

(16)

komponen yang mempersyaratkan membuat aksi yang berkaitan dengan konsep, isu, atau masalah yang dipelajari dalam unit. Tujuan uama dari pembelajaran dan pendekatan ini adalah mendidik melakukan kritik sosial dan mengajarkan keterampilan membuat keputusan untuk memperkuat dan membantu memperoleh pendidikan politis, sekolah membantu menjadi kritikus sosial yang reflektif dan partisipan yang terlatih dalam perubahan sosial.

Berdasarkan keempat implikasi pendekatan pendidikan multikulturalisme tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa upaya dalam membangun kesadaran sikap pural diantaranya dapat berupa: (1) mencegah terjadinya diskriminasi; (2) melakukan riset kebijakan mengenai pengelolaan masyarakat yang multibudaya dan multietnik; (3) melakukan pertemuan, pertukaran dan sirkulasi informasi sehingga tidak terjadi miskomunikasi; (4) menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengembangan masyarakat multikultur; (5) melakukan pendidikan mengenai hak-hak azasi manusia dan mendorong saling pemahaman antarbudaya; (6) memperkuat kapasitas masyarakat lokal (endogenous people) sehingga mampu mandiri dan sejajar dengan yang lainnya.

4.1 Penutup

4.1.1 Kesimpulan

(17)

menghargai, membangun saling percaya, interdependen (sikap saling membutuhkan/saling ketergantungan) serta apresiasi terhadap pluralitas budaya. Di mana, konsekensi utama pendidikan adalah bertumpu pada konsep sikap pluralis berdasarkan tiga hal, yaitu: (a) ide dan kesadaran akan nilai penting keragaman budaya, (b) gerakan pembaharuan pendidikan, dan (c) proses.

2. Upaya untuk membangun sikap pluralis melalui pendidikan berbasis multikulturalisme dapat dimulai dari pencegahan diskriminasi, riset kebijakan pengelolaan masyarakat yang multibudaya dan multietnik, melakukan pertemuan, pertukaran dan sirkulasi informasi sehingga tidak terjadi miskomunikasi; menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengembangan masyarakat multikultur; melakukan pendidikan mengenai hak-hak azasi manusia dan mendorong saling pemahaman antarbudaya; serta memperkuat kapasitas masyarakat lokal (endogenous people) sehingga mampu mandiri dan sejajar dengan yang lainnya.

4.1.2 Saran

1. Diperlukan paradigma manajemen dan kurikulum pendidikan multikulturalisme yang relevan bagi khalayak dalam hal pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan multikultural. 2. Diperlukan dukungan antar secara bersama-sama, tetapi

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Baldick, C. (2008). The Oxford Dictionary of Literary Terms. New York, USA: Oxford University Press.

Daulay, P. (2011). Membangun Masyarakat Harmonis Berbasis Kearifan Lokal: Dari Keseragaman Menuju Keberagaman. Temu Ilmiah Nasional Guru (TING) IV, Jakarta, 25 November 2011 (p. 231). Surabya: Universitas Terbuka Surabaya Press.

Hall, C. S., & Lindzey, G. (2012). Psikologi Kepribadian 3: Teori-Teori Sifat dan Behavioristik, Cet. Ke-17. Yogyakarta: Kanisius.

Hanum, P. D. (2011). Pendidikan Multikultural dalam Pluralisme Bangsa. Jurnal Humanika.

Ivancevich, J. M., Konopaske, R., & Matteson, M. T. (2006). Perilaku dan Manajemen Organisai Ed. 7, (1). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kasdi, A. (2012). PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI PESANTREN: Membangun Kesadaran Keberagamaan yang Inklusif. Jurnal Ad-Din, Vol. 4, No. 2, Juli-Desember 2012.

Koentjaraningrat. (2000). Kebudayaan, mentalitas dan pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Koesoema, D. (2007). Pendidikan karakter. Jakarta: Grasindo.

Kuper, A. (2000). Culture: The Anthropologists' Account. USA: Havard University Press.

Machfud, C. (2005). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Munawar, B., Rachman, & Shofan, M. (2010). Sekularisme, liberalisme,

dan pluralisme. Jakarta: Grasindo.

Sachari, A. (2007). Budaya Visual Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga. Saefulloh, A. (2009). Membaca “Paradigma” Pendidikan dalam Bingkai

Multikulturalisme. Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan (INSANIA), Vol. 14|No. 3|Sep-Des 2009|547-559.

Saifudin, A. (2005). Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Shukri, A., Nain, M., & Yusoff, R. (2003). Konsep, Teori, Dimensi dan Isu Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

(19)

Suparlan, P. (2002). Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural. Simposium Internasional Jurnal ANTROPOLOGI INDONESIA ke-3. Surakhmad, W., & Sularto, S. (2009). Pendidikan nasional, strategi, dan

tragedi . Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Sutarno. (2007). Pendidikan Multikultural. Jakarta: Ditjen Dikti.

Tilaar, H. (2005). Manifesto Pendidikan Nasional tinjauan dari perspektif postmodernisme dan studi kultural. Jakarta: Kompas Gramedia. Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP – UPI. (2011). Ilmu & Aplikasi

Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

Referensi

Dokumen terkait

Pada ranah hard skill integrasi multikulturalisme dalam pendidikan tinggi ilmu komunikasi di PTM bisa dimasukan dalam kurikulum dengan mata kuliah yang berisi

Mengetahui hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis multikulturalisme dalam pengembangan nilai toleransi di SMA Negeri 3 Palu... Mengetahui solusi dalam menghadapi

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) penanaman nilai-nilai Pancasila melalui Pendidikan Kewarganegaraan sebagai upaya membangun sikap toleransi pada

Berdasarkan analisis data yang diperoleh berkenaan dengan pendidikan agama Islam berbasis Multikultural dalam buku Pluralisme dan Multikulturalisme: Paradigma baru

Berdasarkan permasalahan yang sangat kompleks seperti yang telah diuraikan diatas, selain kami melakukan penelitian terhadap implementasi pendidikan multikulturalisme baik yang

Nilai Multikulturalisme Dalam Tradisi Rambu Solo’ Di Toraja Salah satu sumber dalam menanamkan nilai-nilai multikultural adalah dari kebudayaan lokal, yang dekat

PENANAMAN KARAKTER BERBASIS MULTIKULTURALISME DENGAN PENDEKATAN LIVING VALUES EDUCATION DALAM MATA PELAJARAN PAI DI SMA NEGERI 1 KEJOBONG SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah

Tidak hanya berkutat pada usaha mengembangkan ilmu pengetahuan, implikasi dari polaritas sistem pendidikan Islam adalah munculnya sikap menghargai perbedaan tata