• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Tentang Rajungan tata sb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Tentang Rajungan tata sb"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

PRAKTIKUM

Aplikasi

Komputer

Makalah Tentang Ikan

Disusun Oleh:

Novita Sahara Sinaga

J3H214059

TEKNOLOGI PRODUKSI DAN MANAJEMEN PERIKANAN

BUDIDAYA

DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

DAFTAR IS

Tabel 2 Hasil analisa kimia daging kepiting dan rajungan...13

DAFTAR GAMBA Gambar 1 Rajungan jantan...5

(3)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Negara Indonesia dikenal sebagai negara bahari dimana wilayah lautnya mencakup tiga perempat luas Indonesia atau 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang

81.000 km, sedangkan luas daratannya hanya mencapai 1,9 juta km2. Wilayah laut yang

sangat luas tersebut mengandung sumber daya alam perikanan yang sangat berlimpah (Bahar 2004), salah satunya adalah kepiting. Kepiting yang ada di Perairan Indo Pasifik lebih dari 234 jenis dan sebagian besar yaitu 124 jenis ada di Perairan Indonesia. Jenis kepiting yang populer sebagai bahan makanan dan mempunyai harga yang cukup mahal adalah Scylla serrata, dan jenis lain yang tidak kalah penting di pasaran adalah

Portunus pelagicus yang biasa disebut rajungan (Bahar 2004).

Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan kepiting laut yang banyak terdapat di Perairan Indonesia yang biasa ditangkap di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali), Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan (pantai utara Jawa Timur), daerah Lampung, daerah Medan, dan daerah Kalimantan Barat. Rajungan telah lama diminati oleh masyarakat baik di dalam negeri maupun luar negeri, oleh karena itu harganya relatif mahal. Manfaat rajungan sebagai bahan pangan berupa daging rajungan kaleng yang berkualitas tinggi dan memiliki protein cukup tinggi (Suwignyo 1989). P. pelagicus dikenal dengan blue swimming crab atau kepiting pasir dan merupakan hasil samping dari tambak tradisional pasang-surut di Asia. Sejak tahun 1973 di negara tetangga, rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil laut yang penting dalam sektor perikanan.

(4)

ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi populasi di alam.Alternatif yang sangat bijaksana untuk menghindari kepunahan jenis kepiting ini melalui pengembangan budi daya.

Beberapa spesies rajungan yang memiliki nilai ekonomis adalah Portunus trituberculatus, P. gladiator, P. sanguinus, P. hastatoides dan P. pelagicus, sementara yang banyak diteliti saat ini adalah P. pelagicus dan P.trituberculatus.

Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah agar mengetahui tentang rajungan agar kedepannya bisa lebih memahami seluk beluk tentang rajungan.

Manfaat

(5)

PEMBAHASAN

Habitat

Habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 65 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria.

Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa. Perkawinan rajungan terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang. Sebagaimana halnya dengan kerabatnya, yaitu kepiting bakau, di alam makanan rajungan juga berupa ikan kecil, udang-udang kecil, binatang invertebrata, detritus dan merupakan binatang karnivora. Rajungan juga cukup tanggap terhadap pembeian pakan furmula/pellet. Sewaktu masih stadia larva, hewan ini merupakan pemakan plankton, baik phyto maupun zooplakton.

Disebutkan pula bahwa rajungan hidup pada kedalaman air laut sampai 40 m pada daerah pasir, lumpur atau pantai berlumpur. Rajungan merupakan binatang karnivora makanan rajungan berupa ikan dan binatang invertebrata. Kepiting pada fase megalopa bersifat karnivora dan memakan zooplankton. Pada fase muda memakan larva-larva ikan dan sejenisnya, setelah dewasa bersifat omnivorous scavenger (pemakan segala dan bangkai), tetapi sebagai makanan kibiasaannya adalah bangkai binatang dan bahan organik lainnya. Kepiting juga sering memakan mollusca dan jenis crustacea lainnya terutama udang-udang kecil.

Morfologi

(6)

dasar biru ditaburi bintik-bintik putih yang beraneka ragam bentuknya. Sedangkan yang betina berwarna dasar hijau kotor dengan bintik-bintik seperti jantan (Soim, 1994)

Menurut Afrianto dan Liviawaty (1992) pada bagian perut (dada) kepiting jantan umumnya organ kelamin berbentuk segitiga yang sempit dan agak meruncing dibagian depan, sedangkan organ kelamin kepiting betina berbentuk segitiga yang relatif lebar dan dibagian depannya agak tumpul (lonjong).

(7)

Gambar 2 Rajungan Betina

Klasifikasi Rajungan

Kingdom : Animalia Sub Kingdom : Eumetazoa Grade : Bilateria

(8)

Kelas : Crustacea

Sub Kelas : Malacostraca Ordo : Decapoda

Sub Ordo : Reptantia Seksi : Brachyura

Sub Seksi : Branchyrhyncha Famili : Portunidae

Sub Famili : Portunninae Genus : Portunus

Spesies : Portunus pelagic

Jenis – jenis rajungan

Jenis – jenis rajungan yang terdapat di Indonesia yaitu : A. Nama daerah : Rajungan angina (Jakarta)

Nama ilmiah : Podophthalmus vigil

Jenis ini ditemukan di laut terbuka sampai kedalaman 70 meter, mereka juga tertarik oleh sinar lampu. P. vigil dapat mencapai ukuran 14,2 cm lebar karapas, mempunyai tangkai mata yang mudah dikenal karena panjang dan hanya ada satu duri diujung kiri dan kanan punggungnya.

B. Nama daerah : Rajungan karang (Jakarta)

Nama ilmiah : Charybdis feriatus atau Charybdis cruciata

Rajungan ini di dasar perairan pantai, jumlah duri di kiri dan kanan matanya masing – masing enam buah. Rajungan ini punggungnya terdapat lukisan tanda salib di bagian depan. Karapas berwarna coklat kemerahan dan ukurannya mencapai 15 cm.

C. Nama daerah : Rajungan (jawa), kepiting bulan terang (Ambon)

(9)

Jenis rajungan ini hidup di perairan pantai berpasir lumpur dan di perairan depan hutan mangrove. Jumlah duri di kiri dan kanan matanya sembilan buah, warna jantan adalah dasar biru dengan bercak – bercak putih terang sedangkan jenis betina dasar hijau kotor dengan bercak – bercak putih kotor.

D. Nama daerah : Rajungan hijau (Jakarta), kepiting batu (Pulau Seribu)

Nama ilmiah : Thalamita crenata

Hidup di pantai yang dangkal dan payau bakau, warna hijau kemerahan, bagian luar capitnya licin, lima buah duri terdapat di kiri dan kanan matanya, semakin ke arah belakang semakin kecil ukurannya yaitu mencapai lebar 8 cm.

E. Nama daerah : Rajungan Batik (Jakarta)

Nama ilmiah : Charibdis natator

Punggung rajungan jenis ini bergaris – garis putus melintang, jumlah duri kiri dan kanan matanya masing – masing enam buah, capitnya banyak duri dan bintil.

F. Nama daerah : Rajungan hijau (Jakarta), kepiting batu (Pulau Seribu) Nama ilmiah : Thalamita danae

Warnanya hijau hampir menyerupai rajungan hijau tetapi bagian luar capitnya tidak licin, melainkan berusuk membujur.

G. Nama daerah : Kepiting (jawa)

Nama ilmiah : Scylla serrata

(10)

H. Nama daerah : Rajungan bintang (Jakarta) Nama ilmiah : Portunus sanguinolentus

Terdapat di perairan dekat pantai, terdapat sembilan duri di kiri dan kanan mata tetapi warnanya berlainan. Warna dasar punggung hijau kotor, terdapat tiga bulatan merah coklat yang berjajar melintang pada bagian belakang punggung, dan ukurannya lebih kecil dari P. pelagicus.

Ciri-ciri Rajungan

Warna rajungan jantan adalah dasar biru dengan bercak putih, sedangkan rajungan betina berwarna dasar hijau kotor dengan bercak putih kotor. Induk rajungan mempunyai capit yang lebih panjang dari kepiting bakau, dan karapasnya memiliki duri sebanyak 9 buah yang terdapat pada sebelah kanan kiri mata. Bobot rajungan dapat mencapai 400 g, dengan ukuran karapas sekitar 300 mm (12 inchi). Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat (Cowan, 1992).

Rajungan (P. pelagicus) memiliki karapas berbentuk bulat pipih, sebelah kiri-kanan mata terdapat duri sembilan buah, di mana duri yang terakhir berukuran lebih panjang. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan, dan 1 pasang kaki berfungsi sebagai dayung untuk berenang. Nontji (1986) menyatakan rajungan mempunyai 5 pasang kaki jalan, di mana kaki jalan pertama ukurannya besar, memiliki capit dan kaki jalan terakhir mengalami modifikasi sebagai alat berenang. Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit, propodos, karpus, dan merus. Sedangkan pada kaki kelimayang mengalami modifikasi pada daktilus menyerupai dayung untuk berenang dan berbentuk pipih.

Reproduksi Rajungan

(11)

lazim dilakukan oleh makhluk hidup lainnya untuk menarik pasangannya dengan memberi sinyal-sinyal yang dipahami oleh lawan jenis. Demikian pula yang terjadi pada spesies yang pintar menari ini. Ketika spesies jantan mengalami matang maka akan mencoba menarik perhatian spesies betina yang mengarah pada kematangan gonad. Ritual yang biasa dan unik adalah ketika spesies jantan berdiri tinggi dengan menggunakan kaki jalan sebagai tumpuan, sesekali menggali substrat pasir, meregangkan capit mengarah ke luar tubuh atau melipatnya ke arah dalam dan pada saat ini feromon dilepaskan ke air yang berperan sebagai komunikasi untuk menarik spesies betina. Pelepasan senyawa kimia yang terkandung dalam urin ini ditujukan ke arah betina melalui pergerakan arus air dibantu oleh kaki renang menuju betina, hal ini dilakukan berulang kali hingga spesies betina tertarik. Ketertarikan betina ditandai dengan adanya respon meregangkan capit dan melipat seolah melambai-lambai, namun spesies betina tetap tidak bergerak mendekati jantan. Yang aktif bergerak mendekat adalah spesies jantan, namun betina telah bersedia pada posisinya dan mencoba tenang hingga Jantan berada di bagian atasnya, pada keadaan ini disebut sebagai prakopulasi atau berpasangan. Pada tahap ini, spesies betina tetap berada dalam buaian spesies jantan dan diperkirakan sekitar 2-7 hari hingga menjelang waktu ekdisis (molting). Terdapat beberapa keistimewaan bagi spesies betina, yakni mendapatkan jaminan keamanan dari spesies jantan oleh pemangsaan predator apalagi pada kondisi lunak sesaat setelah molting. Periode kritis ini berlangsung hingga karapas kembali menjadi keras sekitar 48 jam. Pada tahap selanjutnya, terjadi kopulasi dengan bagian abdomen saling bersentuhan dan membuka. Spesies betina berada di bawah jantan dengan posisi abdomen membuka dan akan memfasilitasi masuknya gonopods, yakni pleopod yang merupakan organ intromittent panjang yang bukan penis namun berfungsi menyalurkan sperma (spermatophore) ke dalam gonopores betina. Kopulasi akan berlangsung sekitar 5-12 jam.

Populasi Rajungan

(12)

Kanada, dan beberapa negara Eropa. Permintaan pasar terhadap rajungan yang sangat tinggi harus segera diatasi dengan melakukan budidaya/akuakultur terhadap spesies yang dimaksud. Prospek akuakultur rajungan cukup besar namun kendala-kendala teknis hingga saat ini masih menghambat kesuksesan dalam akuakultur. Secara umum permasalahan dalam budidaya rajungan ini adalah merupakan usaha yang relatif baru, masih adanya ketidakpastian dalam model bisnis, terdapat kompetisi penggunaan ruang dengan budidaya udang, cost production tidak menentu, penanganan yang dirasakan lebih sulit sehingga membutuhkan tenaga kerja yang tinggi, ketersediaan benih di alam yang tidak pasti (untuk pembesaran), ketersediaan pakan pembesaran yang murah dan kelangsungan hidup yang rendah akibat kanibalisme. Mungkin masih terdapat banyak permasalahan namun upaya untuk mengatasi terus dikembangkan. Riset dan pengembangan spesies ini di masa depan akan sangat berguna bagi kesempurnaan teknik pembenihan dan pembesaran sehingga bisa diaplikasikan oleh masyarakat luas.

Ekspor Rajungan

Rajungan di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke negara Amerika, yaitu mencapai 60% dari total hasil tangkapan rajungan. Rajungan juga diekspor ke berbagai negara dalam bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan yang dalam bentuk olahan (dalam kaleng) diekspor ke Belanda. Komoditas ini merupakan komoditas ekspor urutan ketiga dalam arti jumlah setelah udang dan ikan (Anonim, 1988). Sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi populasi di alam (Supriyatna, 1999). Alternatif yang sangat bijaksana untuk menghindari kepunahan jenis kepiting ini melalui pengembangan budi daya (Juwana, 2002).

Manfaat Rajungan

1. Rajungan Ternyata Mempunyai Kadar Lemak Rendah

(13)

Rajungan merupakan kepiting yang memiliki habitat alami hanya di laut. Rajungan juga memiliki beberapa keunggulan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Rajungan dalam dunia perdagangan termasuk dalam kelompok “crab” (kepiting). Rajungan disebut juga “swimming crab” (kepiting berenang) dan kepiting disebut “mud crab” (kepiting bakau atau kepiting lumpur).

. Daging rajungan mempunyai nilai gizi tinggi. Rata-rata per 100 gram daging rajungan mengandung karbohidrat sebesar 14,1 gram, kalsium 210 mg, fosfor 1,1 mg, zat besi 200 SI, dan vitamin A dan B1 sebesar 0,05 mg/ 100 g. Keunggulan nilai gizi rajungan adalah kandungan proteinnya yang cukup besar, yaitu sekitar 16-17 g/ 100 g daging rajungan. Angka tersebut membuktikan bahwa rajungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein yang cukup baik dan sangat potensial. Keunggulan lain adalah kandungan lemak rajungan yang sangat rendah. Hal ini sangat baik bagi seseorang yang memang membatasi konsumsi pangan berlemak tinggi. Kandungan lemak rendah dapat berarti kandungan lemak jenuh yang rendah pula, demikian halnya dengan kandungan kolestrol.

2. Untuk nilai proksimat rajungan dapat dilihat di bawah..

Tabel 1 Nilai Proksimat Rajungan

Jenis Komoditi Protein (%) Lemak (%) Air (%) Abu (%)

Rajungan jantan 16,85 0,10 78,78 2,04 Rajungan betina 16,17 0,35 81,27 1,82

3. Penilaian Mutu

Penilaian mutu rajungan dapat dilakukan secara subjektif dan objektif. Penilaian subjektif yang umum disebut juga sebagai penilaian organoleptik, menggunakan panca indra pengamat untuk menilai faktor-faktor mutu yang umumnya dikelompokkan atas penampakkan, aroma, cita rasa, dan tekstur. Sifat organoleptik sangat erat kaitannya dengan sifat fisik rajungan, terutama dalam menentukan kesegarannya.

(14)

pucat, terbuka dan merenggang, daging pun mengering, dan tak terdapat lagi cairan clalam kulit, warna daging berubah kehitam-hitaman dan berbau busuk.

Rajungan yang kopong atau memiliki badan yang tidak berisi dapat diketahui dari menekan bagian dada rajungan. Bila lunak berarti daging rajungan tersebut memang tidak padat. Rajungan yang berkulit lunak memiliki ciri khas, yaitu seluruh tubuhnya lunak. Kesegaran rajungan dapat dilihat dari bagian dada, warna daging di antara ruas-ruas kaki dan capit, membuka karapas dan melihat kondisi telur, insang dan lemi(lemak dari rajungan). Bila rajungan tidak segar, bagian dada dan insang berwarna hitam, sedangkan telur dan lemi terlihat mencair dan berlendir.

4. Aneka Manfaat Dari Rajungan

Air rebusan dan kandungan kitin, diperkirakan bisa mencapai 24.000 liter per bulan. Air bekas rebusan rajungan ini cukup potensial untuk dijadikan bahan dasar untuk pembuatan kerupuk kepiting. Kitosan dapat pula dimanfaatkan sebagai penyerap yang efektif terhadap zat-zat yang tidak diinginkan, seperti tanin pada kopi.

Selain itu, kitin dan kitosan juga berfungsi sebagai bahan fungsional untuk proses penjernihan air. Seperti lensa kontak, baik hard lens maupun soft lens, dapat dibuat dari polimer kitin yang memiliki permeabilitas yang tinggi terhadap oksigen. Kitin dan kitosan banyak dipergunakan sebagai bahan pembungkus kapsul, karena mampu terdegradasi secara berangsur dan melepaskan obat dengan dosis yang terkontrol.

Beberapa turunan kitosan juga telah ditemukan memiliki sifat antibakteri dan antikoagulan darah. Kemampuan lain dari kitin adalah dalam hal penggunaan sel-sel leukemia, sehingga dapat berfungsi sebagai antitumor. Kitosan juga mulai diusulkan sebagai bahan pembuat ginjal buatan. Kitin juga ditemukan memiliki sifat antikolestrol.

Penggolonggan Daging Rajungan

Daging rajungan dapat digolongkan menjadi lima jenis daging ( Philips Seafood cit Mirzads, 2009) yaitu:

a) Jumbo lump atau kolosal (daging putih) yang merupakan jaringan terbesar yang berhubungan dengan kaki renang.

(15)

c) Special (daging putih) yang merupakan daging yang berada disekitar badan yang berupa serpihan-serpihan.

d) Clawmeat (daging merah) yang merupakan daging dari bagian kaki sampai capit dari rajungan.

e) Claw Finger (daging merah) yang merupakan bagian dari capit rajungan bersama dengan bagian shell yang dapat digerakkan.

Komposisi Kimia Rajungan

Muchtadi dan Sugiyono (1992) menyatakan bahwa kandungan karbohidrat, kalsium, besi, phosphor, vitamin A dan vitamin B dari rata-rata kepiting dan rajungan berturut-turut adalah 14,1 %, 210 mg/100 g, 1,1 mg/100 g, 200 SI, dan 0,05 mg/100 g.

Daging kepiting dan rajungan mempunyai nilai gizi yang tinggi. Hasil analisa proksimat daging kepiting dan rajungan antara jantan dan betina (BBPMHP 1995) dapat dilihat pada Tabel 1.

Hasil analisa kimia daging kepiting dan rajungan

Tabel 2 Hasil analisa kimia daging kepiting dan rajungan

Jenis Komoditi Protein (%) Lemak (%) Air (%) Abu (%)

Kepiting

Betina 11.45 0.04 80.68 2.45

Jantan 11.90 0.28 82.85 1.08

Rajungan

Betina 16.85 0.10 78.78 2.04

Jantan 16.17 0.35 81.27 1.85

(16)

Kesimpulan

Rajungan (Portunus pelagicus) di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke negara Amerika, yaitu mencapai 60% dari total hasil tangkapan rajungan. Rajungan juga diekspor ke berbagai negara dalam bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan yang dalam bentuk olahan (dalam kaleng) diekspor ke Belanda. Komoditas ini merupakan komoditas ekspor urutan ketiga dalam arti jumlah setelah udang dan ikan. Sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi populasi di alam.Alternatif yang sangat bijaksana untuk menghindari kepunahan jenis kepiting ini melalui pengembangan budi daya.

Saran

Penulis merasa dalam penyajian makalah ini masih sangat banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, kiranya teman-teman memberikan kritikan dan saran yang nantinya akan berguna untuk memperbaiki hasil makalah yang akan datang serta dapat bermanfaat bagi kita semua dikemudian hari.

(17)

Cholik, F., A.G. Jagatraya., R.P. Poernomo. dan A, Jauzi. 2005. Akuakultur: Tumpuan Harapan Masa Depan Bangsa. Penerbit Masyarakat Perikanan Nusantara dengan Taman Akuarium Air Tawar Taman Mini ”Indonesia Indah”. Jakarta. 415 h Ikan Mania. 2007. Pengamatan Aspek Biologi Rajungan dalam Menunjang Teknik Perbenihannya. http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/31/ pengamatan- aspek-biologi- rajungan-dalam-menunjang-teknik perbenihannya.

Mirzads. 2009. Pengemasan Daging Rajungan Pasteurisasi dalam Kaleng.

http://mirzads.wordpress.com/2009/02/12/pengemasan-daging-rajungan-pasteurisasi-dalam-kaleng/.

Pulau Seribu.net. 2008. kepiting dan Kerabatnya. http://www.pulauseribu.net/ modules/ news/article.php?storyid=1154.

Roffi. 2006. Budidaya Rajungan. http://akuakultur.wordpress.com/2006/12/23/ budidaya-rajungan-2/.

Susanto, N. 2010. Perbedaan antara Rajungan dan Kepiting. http://blog.unila. ac.id/gnugroho/category/bahan-ajar/karsinologi/.

Tabloid Info. 2007. Jalan pintas pembenihan rajungan. http://tabloid_info.sumenep.go.i d/index.php?option=com_content&task=view&id=233&Itemid=28.

Sumber : Nakamura (1990), Soim(1996), Supriyatna (1999), Juwana & Romimohtarto (2000)

Sumber : Warta Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 10 Nomor 1, 2004.

Tahya,A.M. 2012. Reproduksi Rajungan (Portunus pelagicus). [online].

www.akbarmarzukitahya-smart.blogspot.com.

http://darwisrumbaru.blogspot.com/2012/12/ranjungan_5.html

http://zaldibiaksambas.wordpress.com/2010/06/21/klasifikasi-rajungan/

Gambar

Tabel 1 Nilai Proksimat Rajungan..................................................................................11Tabel 2 Hasil analisa kimia daging kepiting dan rajungan..............................................13
Gambar 1 Rajungan jantan
Gambar 2 Rajungan Betina
Tabel 1 Nilai Proksimat Rajungan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Motivasi meningkatkan Kinerja Karyawan sebesar 0,282 dengan asumsi variabel lainnya konstan, dimana jika Gaya Kepemimpinan meningkat satu satuan, maka Kinerja Karyawan

Pada tahun ketiga program IbPE, UKM Lestari Jaya memiliki jumlah tenaga kerja sebanyak 25 orang, hal ini menunjukkan peningkatan yang signifikan sebesar 150 persen dibandingkan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada metode relatif dengan menggunakan perangkap yellow sticky trap pada area anorganik individu serangga yang diperoleh adalah

bagi masyarakat yang kemudian dalam pengembaliannya bank diperkenankan memperoleh bunga atau pembagian hasil keuntungan dan begitupun sebaliknya. Usaha perbankan ternyata

Pengembangan media pembelajaran dalam penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui kelayakan media pembelajaran interaktif berbasis website pada mata pelajaran pemrograman

penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen; menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung

Kabupaten Purworejo (Bhs. Jawa: Purwareja ), merupakan sebuah wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang di sebelah utara, dan di sebelah

Kegiatan ini melibatkan 68 mahasiswa dari berbagai program studi dan dibimbing oleh tiga dosen pembimbing lapangan (DPL). Kegiatan dimulai pada bulan Agustus hingga Desember