PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PENEMUAN HUKUM
OLEH HAKIM DI PENGADILAN NEGERI MAKASSAR (STUDI KASUS CITIZEN LAW SUIT)
Muhammad Ridwan, S.HI, M.HI.
Dosen Fakultas Agama Unismuh Makassar
Direktur Pusat Studi Konstitusi & Peradilan (PSP) Makassar (email – [email protected])
Abstrak
Jurnal ini berjudul Perspektif Hukum Islam Terhadap Penemuan Hukum Oleh Hakim di Pengadilan Negeri Makassar (Studi Kasus Citizen Law Suit). Adapun tujuan penelitian ini adalah menjelaskan mengenai diskursus mengenai sistem hukum yang diberlakukan oleh Indonesia telah berdampak pada praktik peradilan bahkan telah mempengaruhi metodologi penetapan hukum hakim dalam memutus suatu perkara. Praktik hukum oleh warga negara melalui mekanisme “citizen law suit” merupakan mekanisme gugatan yang belum populer di kenal oleh masyarakat bahkan dalam konteks penerapan hukum acara perdatanya juga belum diundangkan sebab mekanisme gugatan tersebut hanya dikenal dalam tradisi hukum yang dianut oleh Anglo Saxon dalam hukum
common law. Sedangkan Indonesia menganut tradisi hukum Eropa Kontinental dalam hukum civil law. Untuk menjawab berbagai masalah pada penerapan mekanisme tersebut, maka pokok permasalahan pada penelitian adalah “Bagaimanakah perspektif hukum Islam terhadap penemuan hukum oleh hakim di pengadilan negeri makassar dengan gugatan mekanisme citizen law suit”? Penelitian ini dibagi dalam tiga sub masalah, yaitu: 1. Bagaimanakah penemuan hukum oleh hakim di Pengadilan Negeri Makassar pada gugatan mekanisme citizen law suit? 2. Bagaimanakah perspektif hukum Islam terhadap penemuan hukum oleh hakim di Pengadilan Negeri Makassar pada gugatan mekanisme citizen law suit?
demi mengungkapkan data-data yang memiliki relevansi dengan permasalahan yang dikorelasikan dengan perspektif hukum Islam untuk mendapatkan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pertimbangan-pertimbangan oleh hakim dalam memutus perkara gugatan mekanisme
citizen law suit di Pengadilan Negeri Makassar dengan mempertimbangkan yaitu: 1. Pertimbangan yuridis-formal, yaitu peraturan perundang-undangan tentang UU RI No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 10 ayat (1), UU RI No. 2 Pasal 50 tahun 1986 tentang Peradilan Umum, pasal 2 UU RI No. 39 tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 29 ayat (I) PP No. 6 tahun 2006 dll. 2. Pembangunan ekonomi daerah, yaitu mewujudkan rencana dan strategi meningkatkan pembangunan dan peningkatan pendapatan asli daerah (peningkatan ekonomi) demi kesejahteraan warga Kota Makassar. Maka terhadap kedua pertimbangan tersebut hukum Islam menguatkan dalam penerapan penelitian ini menunjuk pada upaya meminimalisir disparitas penerapan hukum antara tradisi hukum common law dengan civil law dalam penegakan hukum dalam sistem peradilan di Indonesia, sesuai pengakuan dalam konstitusi yang tercantum dalam pasal 28 No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Kata Kunci: Hukum Islam, penemuan gukum, treaeisi gukum common law ean civil law, Citizen law suit
A. PENDAHULUAN
Islam memandang bahwa segala peristiwa yang terjadi di dunia merupakan rekayasa hukum Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat. Tuhanlah yang telah menciptakan, mengatur, dan memutuskan sampai melahirkan keadilan kepada manusia.1Maka peristiwa diarahkan agar dapat menjadi spirit dan instrumen hukum kepada manusia untuk dapat berpikir dengan ijtihad akalnya.2
1Neveen Abdul Khalik Musthafa,Oposisi Islam (Cet. I; Yogyakarta:
Peristiwa tersebut ada yang dapat dijangkau oleh pemikiran manusia dan ada pula yang tidak dapat dijangkau pemikiran manusia. Peristiwa yang tidak dapat dijangkau oleh nalar manusia menjadi tanggungjawab Tuhan untuk menyelesaikan maksud hukumnya, sementara peristiwa yang dapat dijangkau oleh nalar manusia merupakan instrumen pembelajaran oleh manusia mengenai maksud hukum Tuhan. Selain itu, setiap peristiwa memiliki dua alur dinamika koordinat yang mendorong kejadiannya, yakni: Peretama, alur koordinat vertikal; Keeua, alur koordinat horizontal. Manusia sebagai subjek pendorong oleh interaksi dan kepentingan antara sesama manusia. Ketika alur vertikal tersebut terpenuhi maka manusia menganggap bahwa kebutuhannya kepada Tuhan telah selesai, sementara alur horizontal memiliki ragam kepentingan untuk memenuhinya. Titik awal terjadinya kesenjangan untuk terpenuhinya hak,3 ketika manusia tampil sebagai subjek serakah terhadap kepentingannya demi mencapai kekuasaan hingga manusia rela mengorbankan manusia lainnya.
Alur koordinat vertikal mengindikasikan bahwa ada kepentingan manusia kepada Tuhan, pada saat manusia senantiasa berdoa kepada Tuhan atas cita-cita yang hendak dicapainya. Sementara alur koordinat horizontal mengarahkan bahwa ada
2Quraish Shihab, Rasionalitas Al-Qure’an: Stuei Kreitis Atas Tafsire Al-Manare
(Cet. II; Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2007), h. 30-33.
3Bagi Machiavelli, melihat bahwa kekuasaan sebagai tujuan itu sendiri, ia
membantah asumsi bahwa kekuasaan adalah alat untuk mempertahankan nilai-nilai moralitas etika atau agama. Machiavelli memiliki obsesi terhadap negara
kekuasaan (maacgtstaat) di mana kedaulatan tertinggi terletak pada kekuasaan
dan bukan rakyat dan prinsip-prinsip hukum, obsesi tersebut bertentangan dengan prinsip hukum yang dianut oleh Indonesia yakni prinsip negara hukum (reectgstaat) yang menjunjug nilai-nilai hukum dan demokrasi. Lihat Ahmad
Suhelmi, Pemikirean Politik Bareat: Kajian Sejareag Perekembangan Pemikirean
kebutuhan dan kepentingan yang bersifat simbiosis mutualis antara manusia dengan manusia bahkan tehadap alam jagat raya. Faktor kebutuhan dan kepentingan tersebut dapat melahirkan ragam peristiwa dan bermuara pada tuntutan pelaksanaan hak dan kewajiban secara konkrit.
Perspektif sosiologis, bahwa interaksi menganalisis perilaku-perilaku manusia yang subjektif dan interpretatif. Menurut pandangan interaksionis simbolis manusia bukan dilihat sebagai produk yang ditentukan struktur, tetapi merupakan aktor-aktor yang bebas.4Artinya bahwa manusia merupakan subjek perubahan memiliki hak kebebasan dalam masyarakat tempat mereka berinteraksi bersama manusia lainnya.
Manusia sebagai makhluk cerdas memiliki kepentingan terhadap cita-cita, maka manusia aktif sebagai aktor dan interaksinya dengan lingkungan tempat manusia berada. Perkembangan lebih lanjut, interaksi manusia menimbulkan gejala-gejala sosial yang mengakibatkan konfik kepentingan antara kelompok dengan kelompok dan antara kelompok dengan struktur kekuasaan.
Interaksi itu melahirkan perubahan-perubahan dalam ruang-ruang masyarakat di mana manusia menjadi subjek perubahan sebagaimana manusia memiliki karakter dasar sebagai makhluk sosial. Manusia merupakan representasi dirinya sebagai khalifah Tuhan dalam alam dengan diberikan modal yang atasnya memiliki kemampuan akal untuk berpikir.5
4Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporeere (Cet. IV; Jakarta: PT Raja
Grafndo Persada, 2000), h. 256.
5Allah menggambarkan tentang perdebatan antara Tuhan dengan Jin
Peristiwa hukum merupakan kenyataan faktual hukum
(eas sein) yang tidak lagi membutuhkan keraguan terhadap akurasi
kejadian tersebut, sebab telah memenuhi unsur-unsur kebenaran. Menurut teori kebenaran pada kajian flsafat ilmu, bahwa membutuhkan tiga argumentasi, yakni: proposisi, teori dan fakta.6 Peristiwa hukum dapat didukung oleh keterangan yang membutuhkan basis pada idealitas teori hukum (eas sollen) terhadap objek kajian hukum yang merupakan tindakan yang mengakibatkan fakta hukum.
Peristiwa hukum dapat dikategorikaan sebagai mazhab empirisme yang berarti perbuatan, tindakan, perilaku yang oleh Donalk Black menyebutnya sebagai tge begaviore of law.7Mazhab empirisisme meyakini bahwa pengalaman atau fakta hukum dapat dibuktikan, sehingga fakta hukum tersebut dapat menjadi bagian dari pertimbangan hukum tanpa statis mempertahankan fakta hukum dengan melihat peraturan atau hukum secara formal. Manusia diarahkan oleh Tuhan untuk mengetahui tujuan hukum (maqa>s}ie al-syarei’ag) setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Perwujudan kepedulian Tuhan tersebut dapat dibuktikan dengan kebaikan Tuhan memberikan akal kepada manusia.
Sebuah metode dalam praktiknya, masing-masing memiliki derajat akurasi, sehingga dapat diseleksi metode mana yang
Jin memberikan persyaratan kepada Tuhan atas kebolehan penciptakan manusia dengan memberikan keunggulan yang lebih dari Jin yakni pengetahuan. Sekalipun a#tas pengetahuan tersebut hanya Malaikat yang mengakui keunggulan manusia sebagai makhluk berilmu. Lihat, Firman Allah swt. dalam
al-Qur’an, QS al-Baqarah/2:30-33 dalam Departemen Agama RI, Al-Qure’an ean
Terejemagnya (Jakarta: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), h. 6.
6Jujun S. Suriasumantri, Ilmu ealam Perespektif (Cet. XV; Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 2001), h. 4-5.
7Saefullah, Refeksi Sosiologi Hukum (Cet. I; Bandung: PT. Refka
kompatibel digunakan pada setiap peristiwa. Setiap metode itu dapat membuktikan konsepnya pada konteks masyarakat dan zamannya. Namun metode yang baik adalah metode yang dapat menyelesaikan dan memberikan kepastian hukum terhadap suatu kasus.
Menurut hukum Islam, penemuan hukum diartikan sebagai kegiatan menetapkan, meneliti dan memahami hukum-hukum, nas hukum dari sumbernya oleh pelaksana peradilan atau para hakim. Penemuan hukum berpijak pada sumber utama yakni al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. Dalam wujud syariah untuk diinterpretasikan lalu diaplikasikan dalam kehidupan manusia baik menyangkut individu maupun interaksi masyarakat.8
Pengetahuan yang membahas tentang dalil-dalil hukum secara garis besar mengenai metodologi pemanfaatan hukum serta keadaan orang yang memanfaatkan hukum tersebut, yakni ijtihad mujtahid melalui pemikiran dalam memahami dalil-dalil nas sampai dapat melahirkan hukum. Penjelasan Syaltut mengartikan syariah sebagai hukum-hukum Allah yang diikuti dan hal yang berhubungan kepada Allah dengan manusia.9
Al-Qur’an memuat syariah (hukum) untuk mengatur secara mendasar segala hajat hidup manusia baik yang berkaitan pada relasi vertikal manusia kepada Tuhannya (al-ta’abbuei) demikian juga relasi horizontal manusia dengan manusia serta relasi manusia dengan alam (al-ta’amuly). Pengaturan itu diharapkan akan melahirkan kesempatan terhadap lahirnya harmonisasi kehidupan
8Duski Ibrahim, Metoee Penetapan Hukum Islam: Membongkare Konsep
al-Istiqrea’ al-Ma’nawi Asy-Sya>t}ibi (Cet. I; Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), h. 79-80.
9Amir Syamsuddin, Usg}ul Fikig Jilie II (Cet. I; Jakarta: PT. Logos Wacana
manusia alam dunia, dengan adanya pembagian hajat hidup secara adil.
Sementara sunah merupakan sumber hukum kedua dalam Islam yang didasarkan pada fakta, ucapan, tindakan dan keputusan Nabi saw. Sunah berfungsi sebagai penjelasan hukum terhadap al-Qur’an secara operasional sebagaimana al-al-Qur’an berfungsi sebagai dalil yang dapat dipahami dalam konteks normativitas dan historisitas,10masih perlu ditafsirkan dalam konteks pendekatan yuridis, sosiologis dan psikologis. Artinya Sunah menjelaskan tentang contoh praktik Nabi saw. mengenai metode penemuan hukum terhadap maksud hukum Allah dalam kitabnya.
Pada dasarnya nas al-Qur’an memuat tentang syariah dan telah diinterpretasi oleh para ulama fkih ke dalam berbagai produk pemikiran yang dikenal dengan jurisprudensi hukum Islam dalam mazhab. Warisan produk pemikiran ulama berupa fkih telah mempengaruhi metode (mangaj) berijtihad para ulama masa kini dan menjadi dalil argumentasi dalam praktik ibadah umat Islam, yang tentu tetap memahami secara kritis teks dan konteks sejarah fkih tersebut dilahirkan.
Pemikir fkih tersebut yakni; Imam Hanaf, Imam Malik, Imam Syaf’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka telah berhasil meletakkan dasar-dasar manhaj pemikiran tentang bagaimana pengambilan hukum oleh fukaha dan hakim dalam suatu masyarakat sesuai konteks perubahan zaman dan tempat.11Mereka dipersiapkan untuk menjawab problem yang ada pada generasi dan untuk zamannya. Artinya bahwa pemikiran fkih mereka ternyata
10Amin Abdullah, Stuei Agama: Noremativitas atau Historeitas (Cet. V;
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 247-249.
11Muhammad Shuhuf, Fatwa ean Dinamika Hukum Islam ei Ineonesia
bisa memberikan jawaban terhadap peristiwa hukum yang muncul pada saat dibutuhkan untuk menjadi solusi, sebagaimana hukum dituntut agar senantiasa feksibel dan dinamis sesuai kondisi zaman. Sebagaimana kaidah fkih menyebutkan bahwa:
ةنكاملاو ناامازلا ريغتب ماكاحلا ريغت
12 Artinya:
Perubahan hukum dapat terjadi berdasarkan perubahan zaman dan tempat.
Kaidah tersebut, bila dicermati menunjukkan bahwa suatu realitas hukum dapat tercipta pada saat kondisi dan tempat menuntutnya. Logika sederhana dapat dipahami bahwa tidak ada ruang kosong dari hukum, sebab tidak ada ruang pula yang kosong dari kemungkinan munculnya perilaku-perilaku manusia yang berdampak pada hukum.
Melanjutkan pemikiran hukum Islam yang telah melewati batas ruang dan waktu hanya akan memprovokasi generasi untuk kembali pada abad kegelapan fkih di mana fkih diduga bahwa telah terjadi kevakuman (kekosongan) pemikiran hukum dalam Islam selama satu abad yang menyebabkan umat ini permisif dalam berpikir (taqlie) melakukan ijtihad.13
12Jalaluddin Abd al-Rahman al-Suyuthi, Al-Asyba>g wa al-Naz}a>irefi
Qawa>ie wa Fureu>’ Fikig al-Syafi’i (Cet. I; Beirut Libanon: Dar> al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2010), h. 141-156. Terdapat perbedaan redaksi kalimat ريغتي ركني ل ناممامازلا ريممغتب ماممكاحلا artinya: Tidak diingkari perubahan dapat dipengaruhi oleh
perubahan zaman”, Lihat Abd al- Aziz Muhammad Ibn al-‘Azzam, Al-Qawa>ie
al-Fikigiyag (Kahiro: Dar> el-Hadith, 2005), h.198. Sementara kaidah utama dari kaidah-kaidah diatas yaitu:متاممينااو لاوححاحاا ةنكاملاو ةنامازلا ريغت بسحب اهافلتخاو ىوتتلاا ريغت دئاتعااو Artinya: Suatu fatwa bisa berubah karena perubahan zaman, tempat lingkungan, niat dan adat kebiasaan manusia. Kaidah ini dipopulerkan oleh Ibn
Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muwaqi’in ‘an Rab al-‘Alamin, Juz III (Beirut: Dar>
al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1991), h. 11.
13Lihat Jamaluddin Muhammad bin Maharram, Lisan al-Areab, Juz III, kata
ijtihad diderivasikan dari kata al-jage dan al-juge. Secara etimonologi berarti
Seorang kritikus Joseph Schacht, ahli hukum Islam dalam tradisi kajian kritis Barat menganalisis mengenai mazhab klasik dari Ibrahim bagi ulama Irak dan tujuh fuqaha Madinah bagi ulama Hijazi dalam riset sejarahnya, menemukan bahwa hukum Islam lahir pada akhir abad ke-1 H atau awal abad ke-8 M. Hal ini berarti menurut Schacht, pada masa abad ke-1 H atau abad ke-7 M, hukum Islam belum lahir. Sebaliknya, Schacht menegaskan bahwa pemikiran hukum Islam bermula dari akhir pemerintahan Dinasti Umayyah dan “bukti tentang tradisi hukum Islam hanya dapat ditemukan kembali pada tahun 100 H”. Artinya selama seratus tahun ke belakang sampai dengan hijrah Nabi saw, menurut Schacht tidak dapat dipastikan hukum Islam ada.14
Schacht menganggap peran pembesar Dinasti Umayyah dan para gubernurnya bertanggungjawab terhadap pengembangan (eevelopment) secara esensial tentang ibadah dan praktik ritual keagamaan menurut Islam. Dengan analisis tersebut, Schacht sampai pada kesimpulan bahwa idealitas nilai-nilai Islam dan epistemologi hukum belum ditemukan. Pada periode selanjutnya kehadiran pemerintahan Dinasti Umayyah adalah bersama membangun sebuah kerangka dasar yang baru bagi masyarakat Islam Arab.
Anggapan Schaht bahwa hukum Islam tidak ada selama 100 tahun pasti ditolak oleh umat Islam dan ulamanya, sebab isu
penumpahan segala kesempatan dan tenaga. Berdasarkan arti dari kata ijtihad ini mengambarkan bahwa aktivitas ijtihad mengandung 4 makna, yakni: 1. Kesehatan jasmani bagi seorang mujtahid 2. Kemampuan nalar logika 3. Membutuhkan waktu “tempat dan momentum yang tepat” 4. Membutuhkan kekuasaan politik untuk mendorong lahirnya pemikir-pemikir Islam ( Mesir: Da>r al-Misriyah al-Ta’lif Wa al-Tarjamah, t.th.), h. 107-109
14Qadri Azizy, Eklektisime Hukum Nasional: Kompetisi Antarea Hukum
umat Islam pernah mengalami masa “kegelapan” hukum yang ditandai dengan masa taklid masih debatebel. Artinya bahwa hukum Islam selalu ada dan berjalan dalam porosnya. Kalaupun dikatakan pernah terjadi kevakuman sebagai makna dengan tidak produktifnya karya-karya pemikir fukaha, sehingga geliat dan wacana pemikiran hukum Islam tidak kelihatan dalam berkompetisi dalam menjawab dinamika perkembangan masyarakat pada saat itu.
Perbedaan pendapat di antara ulama mengenai wacana kevakuman tersebut, ulama memahami bahwa kekosongan mujtahid yang dimaksud adalah mujtahid mutlak dengan kualifkasi persyaratan yang harus dimilikinya, yakni sekaliber Abu Hanifah dan Al-Syaf’i, sebaliknya mujtahid yang tidak sekaliber keduanya harus ada terus menerus oleh karena upaya berijtihad dalam itu hukumnya faree}u kifa>yag.15
Sementara pandangan yang lebih lanjut seorang penulis Barat juga menolak tesis Schacht. Dialah Noel J. Coulson dengan menyebutkan bahwa “tge notion of sucg a vacuum fore a centurey is
eifficult to acceptc (anggapan adanya kevakuman hukum selama
satu abad adalah sulit untuk diterima).16Coulson menolak anggapan tersebut dengan argumentasi bahwa tidak logis kiranya suatu generasi masyarakat tidak memproduk hukum pada masyarakat yang mengalami kondisi dinamis untuk menjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam masyarakat.
Wacana kevakuman pemikiran hukum di atas, menimbulkan pertanyaan, bagaimanakah dasar argumentasi
15Amir Syamsuddin, Usgul Fikig Jilie II (Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
1999), h. 278.
16Qadri Azizy, Eklektisime Hukum Nasional: Kompetisi Antarea Hukum
praktik keberagamaan pada masa Nabi saw, lalu bagaimanakah proses beristinbath hukum untuk penyelesaian kasus-kasus yang terjadi di antara umat Islam pada saat itu? Argumen kuat dapat menjelaskan bahwa praktik hukum Islam pada masa Nabi memang perlu diakui pemisahan antara hukum Islam dengan hukum masyarakat yang belum dikembangkan.
Ketika Nabi saw. berkata dan menpraktikkan hukum, maka hukum yang dimaksudkan adalah hukum Islam yang didasarkan terhadap al-Qur’an dan al-Sunah Nabi. Sebagaimana Allah berfrman dalam al-Qur’an, QS al-Nisaa’/4:58.17Allah senantiasa menganjurkan agar setiap hakim (uli al-amrei) dalam mengambil keputusan tetap berpedoman dan dituntut tetap dalam kehati-hatian agar dapat membuat keputusan yang adil.
Sementara proses penyelesaian perkara tetap melalui Nabi saw. Sebagai pengadilan pertama dan bersifat fnal. Artinya pada periode tersebut, masyarakat belum mengenal istilah tingkatan-tingkatan peradilan. Pada tahap pelaksanaan putusan-putusan perkara tersebut telah ada putusan, sekalipun dalam kondisi dan tempat tertentu Nabi tetap memberikan peluang para sahabat untuk berijtihad.
Fakta tersebut pernah dipraktikkan oleh Ali bin Abi Thalib, ketika memutus suatu perkara, tetapi ditolak oleh orang yang berperkara, sehingga Ali mengizinkan orang itu menghadap Nabi saw. Setelah mereka menghadap dan menyampaikan keputusan Ali kepada Nabi kemudian Nabi membenarkan keputusan Ali Tampaknya pada saat itu Nabi sedang berposisi dan bertindak sebagai hakim tinggi.
17Departemen Agama RI, Al-Qure’an ean Terejemagnya (Jakarta PT. Sygma
Proses peradilan tentu diberikan kewenangan pada lembaga peradilan di mana hakim melakukan praktik peradilan dalam menerima, memeriksa dan memutus perkara secara adil. Keputusan yang berkeadilan merupakan amanah yang harus disampaikan kepada pihak pemohon dan termohon serta dapat diketahui oleh masyarakat umum (citizen), dengan keputusan yang adil diharapkan pihak-pihak yang berperkara dapat menjunjung dan menaati hukum atas keputusan hakim. Hal tersebut dijelaskan oleh Allah dalam frmannya QS al-Nisaa’/4: 59.18
Metode tersebut menjadi referensi hukum bagi para mujtahid dan hakim bahwa suatu putusan yang baik adalah putusan yang jauh dari dasar dan dorongan hawa nafsu sekalipun ada tawaran kolusi (materi dan imateri) yang menggiurkan. Secara umum janji-janji para mafa peradilan termasuk kategori kolusi dari pihak berperkara kepada penegak hukum dan perilaku itulah yang telah mencederai penegakan hukum pada belahan negara di dunia termasuk Indonesia.
Memutuskan perkara dengan dasar hawa nafsu merupakan penyesatan peradilan dan hanya akan menghasilkan kebencian dan ketidakadilan terhadap satu pihak dan mungkin kedua belah pihak. Allah berfrman dalam QS Maryam/19: 59.
18Departemen Agama RI, al-Qure’an ean Terejemagnya, h. 87. Tahapan
pengambilan hukum (istinba>tg) oleh hakim yakni; mempertimbangkan argumen
dasar pada yuridis teologis Al-Qur’an, Sunah Nabi ketika tidak mendapati pada kedua sumber tersebut lalu hakim (uli al-amrei) dapat berijtihad. Uli al-amrei
diderivasikan pada makna hakim sekalipun dalam sejarah peradilan Islam, praktik
Nabi saw memperlihatkan fungsi ganda terhadap makna uli al-amrei yaitu kepala
19Terjemahnya:
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”
Argumentasi teologis tersebut mengindikasikan tentang prediksi masa depan di mana peradaban menuntut manusia untuk beragama dengan demikian manusia akan terjaga dalam interaksinya serta dapat mengedepankan nilai agama secara cerdas dalam menyelesaikan kepentingan dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin. Tentu dalam menyelesaikan sebuah kepentingan membutuhkan pengetahuan mengenai kepentingan dan dibantu sebuah metodologi sampai memperoleh keputusan rasional dan adil yang dapat diterima oleh semua pihak.
Manusia beragama (reeligius) mampu mengontrol emosi dan nafsu untuk berbuat kejahatan, sehingga ruang akal berpikir lebih banyak menghasilkan interaksi-interaksi bermanfaat. Akal merupakan modal utama manusia untuk menjadi pemimpin, dan ini merupakan argumentasi meyakinkan dari Tuhan untuk menciptakan manusia. Kekuatan akal dapat melahirkan keadilan atas keputusan manusia ketika ia menyelesaikan perkara dalam kehidupannya.
Modal utama ijtihad hakim (jureits capital breain) ia manusia lahir dari basis akal kecerdasan sehingga hasil keputusan hakim dapat diterima oleh pencari keadilan. Hakim merupakan pintu terakhir penemuan hukum terhadap perkara manusia yang membutuhkan kepastian hukum demi tegaknya keadilan (QS
Nisaa’/4: 58).20 Suatu amanah tercampur dengan motivasi pribadi terhadap pemikul amanah itu memiliki kecenderungan terhadap pengaruh hawa nafsu yang mengarah pada tertutupnya kekuatan nalar untuk ijtihad, akhirnya berdampak pada sulitnya mewujudkan tercapainya keadilan.
Sejarah telah mencatat, bahwa Nabi saw. suatu ketika hendak mengangkat Muadz ibn Jabal menjadi pejabat gubernur di Yaman.21Lalu Nabi saw. Mengadakan proses fit ane preopere test (uji kepatutan dan kelayakan) kepada Muadz sebagai calon gubernur, sedangkan Nabi saw. tampil sebagai seorang selektor hakim untuk menguji kompetensi terhadap calon hakim Muadz.22
Konteks hadis tersebut menjadi pedoman yang dapat memberikan keyakinan kepada para hakim dan penguasa23agar
20Tafsiran terhadap argumen teologis tersebut bahwa Allah menjelaskan
unsur-unsur dalam peradilan dan persyaratan dalam penyelesaian perkara. Unsur-unsur peradilan, peretama; kitab pedoman (al-Qur’an dan Sunah) keeua,
Amanah. ketiga, mengadili (menerima, memeriksa dan memutus) keempat,
keadilan dibagi menjadi dua adil kualitatif makna psikologis dan distributif makna tidak merugikan kedua belah pihak. Suatu keputusan dapat menghasilkan rasa keadilan bila memenuhi syarat rasional, faktual dengan pertimbangan aspek yuridis (teologis dan formal) sosiologis (اهلها) dan psikologis لدحححعلا)). Lihat,
Departemen Agama RI, Al-Qurean ean Terejemagnya, h. 87.
21Muhammad Shuhuf, Fatwa ean Dinamika Hukum Islam ei Ineonesia, h.
45.
22Nasrun Rusli, Konsep Ijtigae Al-Syaukani; Relevansinya bagi Pambareuan
Hukum Islam ei Ineonesia (Cet. I; Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 5. Lihat pula, Abu Daud, Sunan Abi Dawue, Juz II (Kairo: Mushthafa Ba>bi Al-H}alabi, 1952), h. 272, Al-Tirmidz|i, Sunan al-Tiremiez|i, Juz I (Beirut: Da>r Al-Fikr, 1967), h. 157.
23Jabatan seorang penguasa dimasa periode awal pembentukan hukum
Islam dalam kaitannya Nabi saw berfungsi ganda seorang hakim. Bukti tersebut dapat ditelusuri pada konteks sejarah pengangkatan Muadz Bin Jabal sebagai gubernur di Yaman. Muadz diangkat sebagai gubernur untuk mengatur keamanan masyarakat di samping itu ia juga diberikan wewenang berijtihad untuk mengistinbatkan hukum dalam menyelesaikan perkara yang mungkin saja timbul pada rakyatnya. Oleh sebab itu, Muadz memiliki fungsi ganda yakni
pejabat gubernur dan juga sebagai hakim. Lihat juga, Abu daud, Sunan Abu Daue,
dalam memeriksa, memutus dan menyelesaikan suatu perkara hendaknya mempertimbangkan referensi itu yang merupakan standar metode penemuan hukum tentang metode yang dipraktikkan oleh Muadz bin Jabal untuk menetapkan hukum.
Metode penemuan hukum tersebut mendapat pengakuan oleh Nabi sebagai suatu praktik yang dapat menjadi referensi (jurisprudensi) metode istinba>t}g hukum Islam. Metode dan praktik tersebut mengandung sebuah pendidikan nilai kepada hakim untuk dapat menjauhkan diri dari syahwat pribadi dan intervensi kekuasaan sebab berakar pada ijtihad berbasis pemahaman pada al-Qur’an, Sunah dan ditunjang oleh argumentasi nalar sangat kuat.
Ijtihad adalah suatu upaya proses kerja logika oleh seorang mujtahid untuk menghasilkan sebuah produk hukum.24Terminologi Islam disebut mantiq, yaitu kata Arab yang diambil dari kata kerja
nataqa yang berarti berkata, berucap atau berbicara.
Semantara itu, al-mantiqiyu disebut juga al-kalam
ucapan,25Thaib Thahir mengatakan mantiq sebagai ilmu untuk menggerakan pikiran kepada jalan yang lurus dalam memperoleh kebenaran.26Relasi berpikir dengan berkata merupakan dua aktivitas saling menguatkan, bahwa seorang dianggap berpikir bila
24Loren Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000),
h. 519.
25Ahmad Warson Munawir, al-Munawire Kamus Areab Ineonesia, bagian
huruf Nun (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1984), h. 1531.
26Secara istilah Thaib menuliskan ada 5 pengertian mantik yaitu: ilmu
tentang aturan berpikir, ilmu untuk mencari dalil, ilmu untuk menggerakan pikiran, ilmu yang membahas aturan umum dalam berpikir serta ilmu sebagai alat dalam memelihara hubungan hati nurani dari pikiran yang salah, artinya bahwa antara hati dan pikiran senantiasa beriringan, argumentasi ini menguatkan tentang keyakinan hakim memutus perkara secara adil demi
menghadirkan rasa kebahagiaan dalam hati. Lihat: Thaib Thahir Abd. Mu’in, Ilmu
ditandai dengan pembicaraan, sebaliknya pembicaraan tanpa berpikir maka pembicaraan sulit dipahami, begitupula hasil ijtihad menjadi sulit diterima oleh masyarakat tanpa pemikiran di sertai penyampaian yang kuat.
Suatu perkara diajukan oleh perorangan atau kelompok masyarakat semua berujung pada suatu keputusan oleh Nabi. Dalam konteks ini, akan dibahas bahwa bila ada kasus muncul di masyarakat atau penegakan hukum dalam suatu negara yang mungkin tidak berujung pada peneyelesaian atau bahkan sebaliknya. Argumen yuridis-formal pada penyelesaian sengketa perkara di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 5 (1) menegaskan bahwa:
“Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”27
Kata “menggali”biasanya diartikan bahwa hukumnya sudah ada, dalam peraturan perundang-undangan tetapi masih samar-samar, sulit untuk diterapkan dalam perkara konkrit, sehingga untuk menemukan hukumnya perlu ada upaya mencarinya dengan menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.
Dalam setiap sistem hukum terdapat tiga unsur, yaitu: struktur, substansi dan kultur hukum. 28Struktur hukum adalah keseluruhan institusi hukum termasuk pengadilan dengan
27Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia R.I, Tambagan Lembarean
Negarea Republik Ineonesia Nomore 5074 (Jakarta: 2009), h. 4.
28Achmd Ali, Menguak Realitas Hukum: Rampai Kolom ean Aretikel Piligan
hakimnya, substansi adalah keseluruhan aturan hukum baik tertulis maupun tidak tertulis termasuk putusan pengadilan. Sedangkan kultur hukum dapat diartikan sebagai ide-ide sikap-sikap dan kepercayaan-kepercayaan, harapan-harapan serta opini-opini tentang hukum.
Menurut Achmad Ali, bahwa yang paling penting untuk untuk direaktulisasikan adalah kultur hukum yang pernah hidup
(tge living legal culturee) dan mengandung unsur-unsur positif dan
masih relevan dengan kebutuhan hukum dan kebutuhan masyarakat saat ini, terutama yang dapat menyelesaikan berbagai masalah serius dalam hukum dan penegakan hukum di Indonesia.29
Bila dicermati argumen Achmad Ali, maka yang dimaksud
dengan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat adalah
praktik hukum masyarakat yang mengandung nilai positif dan
masih relevan dengan kebutuhan hukum dalam masyarakat serta
dapat menjadi kontribusi penyelesaikan terhadap masalah-masalah
hukum dalam masyarakat di Indonesia.
Menggali hukum merupakan asosiasi makna perintah berijtihad kepada hakim untuk menemukan hukum dalam upaya mewujudkan keadilan dalam setiap keputusan perkara yang diajukan oleh pihak-pihak yang berperkara di pengadilan, artinya bahwa ada titik persamaan metode penemuan hukum nasional dengan metode penemuan hukum dalam Islam. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 10 ayat (1) menegaskan:
29Achmd Ali, Menguak Realitas Hukum: Rampai Kolom ean Aretikel Piligan
“Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalil hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya” 30
Ketentuan pasal tersebut, memberikan makna bahwa hakim sebagai organ utama peradilan dan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman yang mandiri serta wajib hukumnya baginya untuk menemukan hukum terhadap perkara meskipun ketentuan hukumnya tidak ada atau kurang jelas menurut undang-undang.
Ketentuan pasal tersebut memberi makna bahwa hakim sebagai organ utama pengadilan dan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman wajib hukumnya bagi hakim untuk menemukan hukumnya dalam suatu perkara meskipun ketentuan hukumnya tidak ada atau kurang jelas sebagaimana dijelaskan pada pada pasal 10 ayat I Undang-Undang Republik Indonesia No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.31
Upaya hukum mekanisme gugatan actio populareis atau
citizen law suit berarti gugatan warga negara kepada
penyelenggara negara melalui pengadilan, secara yuridis formal tidak dikenal dalam sistem hukum civil law sebagaimana sistem hukum yang dipratikkan di Indonesia. Sistem hukum civil law
sebagai sistem hukum yang dipraktikkan dalam sistem peradilan di Indonesia memiliki doktrin bahwa keputusan hakim hanya berlaku bagi mereka yang berperkara saja, artinya keputusan hakim tidak berarti juriprudensi hukum yang dapat menjadi pedoman atau
30Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I, Tambagan Lembarean
Negarea Republik Ineonesia Nomore 5074 (Jakarta: 2009), h.5.
31Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R. I, Tambagan Lembarean
rujukan bagi hakim untuk menutus perkara pada peristiwa hukum lain yang memiliki kesamaan hukum.
Pemilihan upaya hukum mekanisme gugatan citizen law
suit diterapkan oleh negara yang menganut sistem hukum
common law dimana putusan hakim dalam arti jurisprudensi
menjadi rujukan hakim dalam mengadili perkara pada perkara memiliki kesamaan hukum pada peristiwa hukum yang lain.32Perbedaan semangat kelahiran kedua sistem tersebut sangat mempengaruhi pada konteks penerapannya, di mana sistem hukum
civil law, dianut oleh negara dengan konsepsi reecgsstaat yang dikonstruksi dari semangat perjuangan menentang absolutisme kekuasaan sehingga mengesankan jiwa revolusioner, sedangkan sistem hukum common law dianut oleh negara dengan konsepsi
reule of law dan berkembang dengan semangat evolusioner.
Perbedaan kedua semangat itu, tidak menjadi permasalahkan dewasa ini, sebab kedua konsepsi itu mengarah pada sasaran yang sama, yaitu membatasi kekuasaan penguasa pada intervensi peradilan demi upaya mewujudkan tercapai pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak azasi manusia,33sesuai dengan cita-cita dan semangat terhadap pilihan sistem demokrasi yang mengakui tentang supremasi hukum dan perlindungan terhadap hak azasi manusia.
Namun demikian, fakta putusan pengadilan menunjukkan bahwa terdapat kasus citizen law suit dimenangkan pemerintah oleh pengadilan dan terdapat pula kasus citizen law suit
32Saefullah, Refeksi Sosiologi Hukum, h. 81.
33Hotma P. Sibuea, Asas Negarea Hukum, Pereaturean Kebijakan ean
dimenangkan warga oleh pengadilan.34Artinya, bahwa dengan kewenangan yang dimiliki oleh hakim dalam menggunakan menganalisis dan menafsirkan suatu kasus yang ditanganinya telah menetapkan hukum dengan pertimbangan atas penggalian nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat dan itu termasuk kategori hakim telah berijtihad.
Perdebatan mengenai penerapan sistem hukum baik sistem civil law dan common law berdampak pada aspek perdebatan dalam menerapkan antara hukum formil tetapi hampa nurani hukum berartipula proses dan keputusan tidak melahirkan keadilan. Keadaan demikian menjadi masalah dalam masyarakat termasuk pada institusi peradilan yang membutuhkan penjelasan dalam bentuk peraturan Mahkamah Agung.
Sementara menerapkan sistem hukum common law secara substantif terdapat kontroversi serta masih debatebel. Sebab dalam konteks pemahaman terhadap negara hukum masih dipersepsikan bahwa hukum hanya dapat diterapkan apabila ada secara formil atau tertulis, sementara terdapat hukum materil dan substansial seringkali oleh hakim tidak mampu menggali secara mendalam suatu kasus, akhirnya hukumpun menjadi abstrak pula di pengadilan.
Menurut Arief Sidharta,35Scheltema, merumuskan pandangannya tentang unsur-unsur dan asas-asas negara hukum itu secara baru, pengakuan, penghormatan, dan perlindungan hak
34Kasus-kasus yang dimenangkan oleh warga melalui gugatan warga
negara, selanjutnya lihat, Ashwin Pulungan, Gunakan citizen law suit (gugatan
warga negara) Kompasiana, Artikel Hukum, Opini |(28 Oktober 2013).
35Arief Sidharta, merumuskan pandangannya tentang unsur-unsur dan
asas-asas negara hokum dalam 5 bagian. Selanjutnya lihat, Kajian Kefilsafatan
asasi manusia yang berakar dalam penghormatan atas martabat manusia (guman eignity) yakni berlakunya asas kepastian hukum.
Negara hukum bertujuan menjamin bahwa kepastian hukum terwujud dalam masyarakat. Hukum bertujuan untuk mewujudkan kepastian hukum dengan prediktabilitas yang tinggi, sehingga dinamika kehidupan bersama dalam masyarakat bersifat dapat diprediksikan (preeeictable).
Hukum dapat menjaga kewajiban asasi manusia demi memberikan kepastian hukum atas terlaksananya hak-hak manusia. Kewajiban warga merupakan keharusan pada suatu negara hukum dalam melaksakan hukum, hak warga mendapatkan keadilan sebagai wujud kepastian hukum.
Mekanisme bagi warga negara untuk menggugat tanggungjawab penyelenggara negara atas kelalaian dalam memenuhi hak-hak warga negara. Kelalaian tersebut didalilkan sebagai perbuatan melawan hukum, sehingga actio populareis
diajukan pada lingkup peradilan umum dalam perkara perdata.36Gugatan actio populareis (pada sistem common law dikenal dengan istilah citizen lawsuit), hak mengajukan gugatan bagi warga negara atas nama kepentingan umum adalah tanpa syarat, sehingga orang yang mengambil inisiatif mengajukan gugatan tidak harus orang yang mengalami sendiri kerugian. Secara langsung, dan juga tidak memerlukan surat kuasa khusus dari anggota masyarakat yang diwakilinya.37
Defnisi citizen law suit, terdiri tiga suku kata yakni; citizen, law dan suit. Citizen berarti warga negara, law berarti hukum, dan
36Arko Kanadianto, Konsep Gugatan Citizen Law Suit ei Ineonesia (Jurnal
Hukum Transportasi), http://jurnaltransportasi.blogspot.com, (22-03-2008), h. 1.
peraturan. Sementara suit berarti tuntutan. Jadi, citizen law suit
adalah tuntutan hukum yang dilakukan oleh warga negara kepada negara. Citizen law suit suatu mekanisme gugatan yang mengatasnamakan kepentingan umum untuk menggugat kebijakan negara yang dianggap telah merugikan masyarakat umum.
Upaya hukum model citizen law suit merupakan model gugatan tanpa membutuhkan persetujuan atas yang diwakilinya, selama warga negara itu memiliki pengetahuan atas tindakan kerugian, maka setiap warga negara tanpa kecuali, mempunyai hak membela kepentingan umum. Dengan demikian setiap warga negara atas nama kepentingan umum dapat menggugat negara atau pemerintah, atau siapapun yang melakukan perbuatan melawan hukum yang secara nyata merugikan kepentingan publik dan kesejahteraan luas.38
Pengajuan gugatan oleh suatu kelompok masyarakat terhadap negara melalui lembaga peradilan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman baik dalam posisi korban atau kelompok masyarakat memiliki pengetahuan hukum atas kerugian masyarakat yang disebabkan oleh kebijakan institusi negara. Adapun faktor penyebab gugatan tersebut ketika negara melalui pemerintah pusat telah memberikan kewenangan otonomi kepada perintah daerah untuk mengelola potensi daerahnya masing-masing.
Daerah Otonom mengandung arti bahwa kepada daerah diberikan kewenangan untuk mengurus sendiri rumah tangganya dalam mengembangkan daerah masing-masing. Salah satunya kewenangan dalam bidang keuangan daerah yang meliputi
38Komisi Hukum Nasional, Menggagas Bentuk Gugatan Actio
pemungutan sumber-sumber pendapatan daerah, menyelenggarakan pengurusan, pertanggungjawaban serta pengawasan keuangan daerah, mengadakan anggaran pendapatan dan belanja daerah serta perhitungannya.
Pengelolaan tanah sebagai aset daerah didasarkan pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria yang lebih dikenal sebagai Undang-Undang Pokok Agraria (selanjutnya disingkat UUPA). UUPA ini lahir dari Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi yaitu:
”Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnyauntuk kemakmuran rakyat”.39
Fatal ketika pemerintah daerah hanya berpikir pendapatan tetapi mengabaikan aspek sosiologis bahkan ekologis yang dapat berdampak pada konfik dan kemungkinan terjadinya bencana yang bermuara pada korban jiwa serta kerugian ekonomi dialami oleh masyarakat. Dengan demikian bukan pendapatan yang akan diperoleh Pemerintah Daerah (PEMDA) tetapi justru kerugian materiil dan inmateriil.
Indonesia sebagai negara hukum, dalam kehidupan bernegara memegang prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa diwujudkan dalam paham kedaulatan rakyat (eemocreacy) dan sekaligus dalam paham kedaulatan hukum (nomocreacy), keduanya diwujudkan dalam pelembagaan sistem demokrasi yang berdasar
39Muh. Ilham Arisaputra, Analisis Hukum Buile, Opereate, Ane Treansfere
atas hukum (constitutional eemocreacy) dan prinsip negara hukum yang demokrasi (eemocreatiscge reecgtsstaat).40
Prinsip-prinsip tersebut menposisikan bahwa warga negara dapat menggunakan dan memperjuangkan hak konstitusinya bersamaan dengan warga lainnya di mata hukum (peradilan) terhadap persamaan dan kedudukan yang sama dalam memperoleh hak dan menjalankan kewajiban dalam hukum dan kedaulatan.
Prinsip negara hukum yang demokrasi (eemocreatiscge
reecgtsstaat) menjadi antitesa terhadap negara kekuasaan
(macgtsstaat) yang mungkin saja dapat menggugurkan kedaulatan
hukum rakyat dalam konteks penegakan hukum (tge law of
supreemacy), Hobbes menjuluki negara kekuasaan sebagai leviatgan
(sejenis monster raksasa cerita dalam perjanjian lama).41Hukum tidak menjadi panglima dalam penyelenggaraan negara dalam peradilan, Prinsip tge reule of law menjadi kabur atas man of law
(kekuasaan penguasa). Penguasa dapat saja menjastifkasi perilaku
man of law-nya.
Dalam konteks kasus citizen law suit, pertimbangan hakim merupakan wujud dari penemuan hukum. Maka penemuan hukum atau reecgtsvineing adalah menemukan aturan hukum yang sesuai untuk suatu peristiwa tertentu, dengan penyelidikan (menelaah, mengkaji dan mengartikan lebih luas atau secara sempit dengan sistematis.42
40Jimly Asshidiqie, Konstitusi ean Konstitusionalime Ineonesia (Cet. I;
Jakarta: PT. Sinar Grafndo, 2010), h. 55. 57.
41Ahmad Suhelmi, Pemikirean Politik Bareat: Kajian Sejareag Perekembangan
Pemikirean Negarea, Masyareakat ean Kekuasaan, 2001), h. 156.
42Marwan Efendy, Diskreesi, Penemuan Hukum, Koreporeasi & Tax Amnesty
Upaya penyelidikan suatu kasus, dalam konteks pengadilan oleh hakim dapat menggunakan pendekatan dan metodologi dan analisis dengan mempertimbangkan dalil sampai dapat memperoleh suatu putusan di pengadilan. Dalam sebuah keputusan peluang mengandung unsur kepentingan dari kekuasaan eksekutif diduga dapat terjadi atau sebaliknya dapat mengandung unsur pemahaman hukum oleh hakim dengan menggali substansi hukum dibalik kasus yang sedang diadilinya sehingga penegakan keadilan hukum sebagai wujud dari semangat negara hukum dapat dicapai.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka menjadi pokok masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana perspektif hukum Islam terhadap penemuan hukum oleh hakim di Pengadilan Negeri Makassar atas gugatan mekanisme citizen law suit? yang dituangkan dalam beberapa submasalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah penemuan hukum oleh hakim di Pengadilan Negeri Makassar pada kasus Revitalisasi Lapangan Karebosi dengan gugatan mekanisme citizen law suit?
2. Bagaimanakah perspektif hukum Islam terhadap penemuan hukum oleh hakim di Pengadilan Negeri Makassar dengan gugatan mekanisme citizen law suit?
A. TINJAUAN TEORETIS TENTANG PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM
1. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Sistem Common Law
mulai sejak dulu sampai saat ini. Negara hukum adalah wajah hukum “reecgtfacec suatu negara yang bertolak dari jiwa luhur suatu bangsa. Perwajahan hukum merupakan karateristik dari nilai dan norma suatu bangsa dalam membentuk identitas pada diri bangsa tersebut. Dengan demikian hukum senantiansa menjadi dinamis dalam perubahan dinamika masyarakat serta tak lekangs oleh zaman.
Sejarah telah mencatat bahwa konsep negara hukum telah diinisiasi oleh flosof Plato dan muridnya Aristoteles. Seorang Plato mengemukakan bahwa konsep negara dengan istilah nomoi, dianggap sebagai cikal bakal lahirnya pemikiran negara hukum. Sementara Aristoteles mengemukan gagasan negara hukum dengan istilah polis.43
Makna istilah nomoi menunjukkan pada penyelenggaraan negara yang baik yang didasarkan pada sebuah peraturan hukum yang ditaati oleh seluruh komponen masyarakat dalam suatu negara. Sedangkan makna istilah konsep polis menghendaki adanya pemerintahan yang didasarkan pada suatu pemikiran yang adil serta hadirnya kesusilaan yang menentukan baik buruknya suatu hukum, artinya konsep negara polis mendorong hadirnya pengadilan yang dihuni oleh hakim44yang memiliki karakter moralitas yang tinggi dalam memutus perkara secara adil. Negara berbasis pada nomoi ean polis, bila dipadukan kedua gagasan tersebut maka akan melahirkan sebuah negara yang memiliki sistem hukum yang menjunjung formalitas undang undang dalam
43Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Pengantare Hukum Tata Negarea
Ineonesia (Jakarta: Penerbit Pusat Studi HTN UI dan Sinar Bakti, 1980), h. 142.
44Abu Daud Busroh dan Abu Bakar Busroh, Asas-Asas Hukum Tata
bingkai penengakan hukum demi tercapainya kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh warga negara.
Konsep negara hukum di negara-negara Anglo Saxon
disebut dengan istilah reule of law. Konsep tersebut terlihat pada pemikiran Jhon Lock yang membagi kekuasaan negara dalam dua bagian yaitu; diantaranya, kekuasaan membuat undang-undang dan kekuasaan melaksanakan undang-undang. Konsep tersebut dipraktikkan pada negara Inggris dengan memberikan kewenangan kepada hakim untuk menegakkan peraturan (reule of law).
Albert Van Dicey,45 seorang pemikir Inggris menulis buku dengan judul “intreoeuction to stuey to tge law of tge constitutionc ia menegaskan bahwa ada tiga unsur utama dalam konsep reule of law, yaitu:
a.)Supreemacy of law; yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam suatu negara dalah hukum (kedaulatan hukum). Dalam konteks peradilan, peran para hakim merupakan corong penegakan hukum. Hakim berupaya menemukan dan menciptakan hukum yang menghadirkan kemanfaatan dan kepastian hukum.
b.)Equality beforee tge law; adanya kesamaan kedudukan
di depan hukum, baik selaku pribadi maupun sebagai pejabat negara. Pelaksanaan hukum dituntut pada bagaiamana terciptanya keadilan dalam sebuah negara. Maka peran hakim dalam memutuskan perkara senantiasa dalam bingkai keadilan dan dapat dinikmati oleh warga negara (penguasa, hakim dan rakyat).
45Albert Van Dicey, merupakan tokoh penganut mazhab sosio-yuridis, di
mana hukum dapat dipahami ketika realitas sosial dapat dipertimbangkan dalam pengambilan putusan di pengadilan. Teori tersebut menghangat pada awal abad 20, dan telah mendapat pengaruh kuat ilmu sosial terhadap analisa
perkembangan hukum. Selanjutnya lihat, Saifullah, Refeksi Sosiologi Hukum, h.
c.)Constitution basee on ineivieual reiggt; bahwa konstitusi bukan merupakan sumber dari Hak Azasi Manusia (HAM) dan jika HAM diletakkan dalam konstitusi maka itu hanya penegasan bahwa hak manusia harus dilindungi.46 Penegasan terhadap perlindungan HAM didasarkan pada sebuah konstitusi yang harus ditegakkan oleh hakim. Hakimlah dianggap memiliki kewenangan menafsirkan konstitusi yang menegaskan pada hadirnya keadilan substansial sebuah putusan hukum.
Roberto Mangabeira menulis tentang “law in moeeren
societyc, Reberto menyebutkan bahwa dewasa ini kepentingan
manusia semakin kompleks oleh karenanya kepentingan umum perlu dilindungi. Dalam teori kekuasaan, masyarakat bawah sangat rentang menjadi objek penderita dari kekuasaan negara. Artinya ketika hukum harus hadir ditegakkan di tengah masyarakat, maka gagasan konsep negara reule of law mengedepankan pada penegakan HAM dan substansial keadilan.47
Philips M. Hadjon, mengatakan bahwa konsep negara hukum ”reecgtsstaatc bertumpu atas dasar hukum Eropa Kontinental atau civil law ean memiliki karakter aspek administratif. Karakter administrasi berarti bahwa sebuah hukum dapat ditegakkan ketika hukum itu hadir dalam bentuk tertulis, artinya negara hukum model
“reecgtsstaatc mengedepankan aspek formalitas sebuah perkara.
Pada dasarnya sistem hukum di dunia dapat dibedakan ke dalam dua kelompok besar yaitu sistem hukum Eropa Kontinental dengan sistem civil law48 dan sistem hukum Anglo Saxon dengan
46Dahlan Thaib, Keeaulatan Rakyat, Negarea Hukum ean Konstitusi (Cet.
I; Yogyakarta: PenerbitLiberty, 1999), h. 24.
47Tahir. Azhary, Negarea Hukum Ineonesia, Analisis Yureieis Norematif
sistem common law, disamping terdapat sistem hukum Islam dan sosialis.
Sistem hukum Eropa Kontinental mengutamakan hukum tertulis yaitu peraturan perundang-undangan sebagai sendi utama sistem hukumnya. Sementara sistem hukum Anglo Saxon
mengutamakan sendi hukum pada yurisprudensi. Sistem tersebut berkembang dari kasus-kasus konkrit yang dari kasus tersebut melahirkan berbagai kaidah dan asas hukum.
Dalam perkembangannya, yurisprudensi dalam sistem hukum kontinental semakin menghadirkan fenomena baru bahwa yurisprudensi menjadi penting peranannya pada putusan hakim sebagai subsistem hukum. Artinya bahwa putusan hakim memiliki makna lebih besar karena menegakkan hukum faktual in concreeto
dalam sebuah perkara.
Konsep reule of law bertumpu atas dasar hukum common law dengan karakternya mengedepankan pada argumentasi
jueicial.49Argumentasi yudisial berarti hakim dituntut
memperhatikan suatu perkara wajib mempertimbangkan putusan terdahulu pada peristiwa dan kasus yang sejenis untuk memutus perkara yang sedang diadili tentu konteks kasus yang memiliki perkara, sekalipun hakim akan mengalami kesulitan dalam menentukan pada kasus yang memiliki kesamaan.
48Klaim tersebut hanya terbatas pada wilayah peradilan sehingga tidak
dapat juga dibenarkan secara keseluruhan sebab sistem hukum di Indonesia mendapat saduran dari tiga sistem hukum Islam, Adat dan Eropa. Selanjutnya,
Rene David, Majore Legal Sistem in tge Wole to Day (London: 1985), h. 26. Dalam
Bagir Manan, Dasare-Dasare Pereuneang-Uneangan Ineonesia (Cet. I; Jakarta: PT.
Ind-Hill-Co, 1992), h. 5-6.
Baik Inggris dan Amerika Serikat sebagai negara penganut sistem common law tetapi dalam perkembangannya, Amerika Serikat mampu melakukan terobosan-terobosan hukum, kemudian Amerika Serikat memberlakukan tradisi hukum itu pada negaranya.50Hal tersebut memperlihatkan perbedaan wajah dalam sistem hukum sekalipun Amerika Serikat merupakan negara yang pernah dibawah bayang-bayang kekuasaan Inggris.
Salah satu pengaruh sistem hukum common law dalam sistem hukum di Indonesia adalah penegakan hukum dalam konteks peradilan (yudisial). Karakter tersebut telah menjadi sebuah institusi yang cukup menjamur dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, sebut saja misalanya, Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan kehakiman yang bersifat fnal dan mengikat semua pihak.51Salah satu kewenangan MK adalah mengadili sengketa antara lembaga negara.
Sistem peradilan atau sistem yudisial merupakan lembaga negara yang diberikan kewenangan untuk mengadili dalam menegakkan hukum sebagaimana karakter negara hukum. Hakim dalam melaksanakan kewenangan mengadili perkara berpedoman pada putusan pengadilan terdahulu. Artinya bahwa putusan hakim dalam konteks negara yang menganut hukum sistem common law
termasuk kategori jurisprudensi karenanya hakim dapat mencontoh
50Ada titik persinggungan hukum di Inggris dengan Amerika Serikat,
bahwa Amerika tidak secara mentah-mentah mengadopsi hukum asing kedalam sistem hukumnya untuk diberlakukan kepada warganya. Salah satu dari kemajuan sistem hukum Amerika Serikat adalah lahirnya hukum-hukum tertulis untuk mengatur kepentingan negara dan warganya.
51Dasar hukum berdirinya Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu,
Undang-Undang Nomor 24 tahun 2003 Tentang Magkamag Konstitusi. Kewenangan MK
putusan (preseden) tersebut untuk memutus perkara yang sedang diadilinya. Karenanya, setiap putusan mengandung tiga fungsi oleh hakim dalam memutus suatu perkara menurut hukum yakni: 1. Menerapkan hukum (reecgtstoepassing), 2. Menemukan hukum
(reecgtsvineing), dan 3. Menciptakan hukum (reecgtsscgepping- juege
maee law).52
Hakim dalam menerapkan hukum terlebih dahulu menkualifkasi kasus dalam mencermati konten gugatan lalu menentukan bagian peraturan mana yang diduga dilanggar oleh tergugat. Hal itu penting sebab hakim wajib memastikan ketepatan dalam penegakan hukum baik aspek hukum formal maupun materiilnya, selanjutnya hasil kualifkasi tersebut dirangkai menuju proses analisis kasus untuk menemukan hukumnya. Pada tahap analisis kemungkinan terdapat kekosongan hukum sehingga hakim dapat menafsirkan hukum demi menciptakan hukum.
2. Praktik Penemuan Hukum dalam Sistem Common Law
Perkembangan praktik hukum, berkenaan dengan kewajiban penguasa sebagai penyelenggara pemerintahan. Pemerintah sebagai wujud negara dapat dituntut secara pidana dan perdata, dalam gugatan ini berlaku asas point e’intereet, point e’action (asas kepentingan bertindak) tidak diperlukan lagi bagi penggugat, asas kepentingan hukum yang cukup mulai bergeser menjadi asas demi kepentingan umum sebagai kewajiban warga negara berhadapan dengan kewajiban hukum pelaku. Pergeseran ini merupakan konsekuensi dari kewajiban hakim memiliki kewajiban melakukan penemuan hukum (reecgtsvineing).
52Marwan Efendy, Diskresi, Penemuan Hukum, Koreporeasi ean Tax
Penemuan hukum dimaksudkan dapat memberikan kontribusi terhadap pembaharuan hukum, di mana upaya tersebut lahir dari proses peradilan, maka hakim senantiasa menjadi subjek pemabaharu tersebut. Semangat pembaharuan hukum itu digagas oleh Prof. Muchtar Kusumaatmaja dan Ruscou Pound. Salah satu gagasan konsep Pound tidak terlepas dari prinsip juege maee law
sebagai sumber utama kaidah hukum Amerika yang menganut sistem cammon law. Karena itu, makna law dalam ‘law as a tool of
social engineereing’ adalah hukum yang dibuat oleh hakim (juege
maee law).53
Dalam konsep Pound, hakim berperan sebagai pembaharu hukum masyarakat. Sedangkan dalam konsep hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat, sumber utama kaidah hukum adalah undang-undang atau peraturan perundang-undangan. Gagasan Pound dikuatkan oleh pendapat Bagir Manan,54 mantan Ketua Mahkamah Agung, Bagir mengatakan bahwa putusan hakim atau yurisprudensi berperan sangat penting dalam kebijakan atau politik hukum yang selalu memasukkan pengadilan sebagai salah satu obyek pembangunan hukum. Artinya bahwa kepentingan ekesekutif bersama legislatif perlu mempertimbangkan putusan-putusan yudisial untuk pembahasan sebuah Rancangan Undang-undang (RUU) bidang pidana dan perdata, sebab putusan itu akan berubah menjadi ilmu hukum (legal yireuspreueensi) pada peristiwa hukum yang lain.
Dalam hal praktik CLS dalam tradisi hukum Anglo Saxon
perkara persengkataan, hakim mengadili perkara berdasarkan
53Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum ealam Pembangunan
(Bandung: Penerbit Alumni, 2002), h. 13-15.
54Bagir Manan, Hakim Sebagai Pembagareu Hukum, Jurnal Varia Peradilan
yurisprudensi atau jugee man law hakim dituntut mencipatkan hukum dalam keadaan peraturan tidak jelas maksudnya, sehingga secara sederhana keadaan peradilan dalam sistem hukum Anglo Saxon sebagaimanan skema sebagai berikut; yaitu:
Skema Piramida
Tuntutan warga pada tradisi hukum Anglo Saxon
Ket: Warga memahami hak-haknya
Warga yang tidak memahami hak-haknya
Pada konteks yang berbeda, pengadilan selain berfungsi sebagai institusi hukum juga berfungsi sebagai institusi untuk menproses gugatan-gugatan warga negara kepada pemerintah melalui pengadilan baik kasus perdata maupun kasus pidana, artinya bahwa pengadilan merupakan instrumen bagi hakim untuk melakukan penemuan dan menciptakan hukum pada suatu kasu hukum.
Urgensi penemuan hukum membuat posisi hakim semakin dituntut menjadi pengadil yang memiliki semangat kemandirian untuk melakukan pembaharuan hukum di tengah masyarakat. Urgensi tersebut telah membawa pada semangat ke arah lahirnya gagasan pembaharuan hukum. Pada wacana itu, menurut Satjipto Rahardjo, pembaharuan hukum digunakan empat (4) istilah yaitu; pembangunan hukum, perubahan hukum, pembinaan hukum, atau
Gugatan Perkara
In concreto Mayoritas warga
menggugat hak
haknya Minoritas warga
modernisasi hukum. Bahkan ada pula yang menggunakan istilah reformasi hukum sebagai terjemahan dari legal reeforem.55
Menurut Soetandyo Wignjosoebroto ia membedakan pembaharuan hukum dalam arti legal reeforem dengan pembaharuan hukum dalam arti law reeforem. Makna pembaharuan hukum dalam arti legal reeforem dimaksudkan bagi masyarakat, Soetandyo memahami bahwa hukum hanya sebagai subsistem dan berfungsi sebagai tool of social engineereing semata. Dengan demikian hukum hanya menjadi bagian dari proses politik yang mungkin juga progresif dan reformatif. Pembaharuan hukum hanya berarti sebagai pembaharuan undang-undang. Sedangkan pembaharuan hukum dalam arti law reeforem, hukum bukan hanya urusan para hakim dan penegak hukum saja, melainkan juga urusan publik secara umum.56
Pemahaman pembaharuan hukum oleh Soetandyo Wignjosoebroto tentang law reeforem tersebut termasuk rasional sampai korelasikan dengan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Pasal tersebut memberi amanat kepada para hakim untuk menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Sedangkan makna frasa menggali, mengikuti, ean memagami memberi arti bahwa nilai-nilai hukum dimaksud belum tampak di permukaan. Pada posisi itulah hakim diharapkan dapat menemukan dan menciptakan hukum dari proses penggalian fakta hukum yang diadilinya.
55Satjipto Rahardjo, Membangun ean Mereombak Hukum Ineonesia
(Yogyakarta: Genta Publishing, 2009), h.15.
56Soetandyo Wignjosoebroto, Pembagareuan Hukum Masyareakat
Menurut Sudikno Mertokusumo penemuan hukum seorang hakim membutuhkan tiga tahapan dalam pemeriksaan perkara yaitu:
1.) Mengkonstatir fakta-fakta, yang diartikan sebagai menyimpulkan fakta-fakta atau bukti-bukti untuk menilai benar atau tidaknya terdapat peristiwa konkrit.
2.) Mengkualifsir peristiwa yang berarti mengelompokkan/menggolongkan peristiwa konkrit yang telah dilakukan pada tahap pertama, termasuk atau digolongkan pada peristiwa hukum apa. Jika digolongkan pada hukum pidana apakah sebagai kejahatan/pelanggaran dan jika digolongkan pada hukum perdata apakah pada peristiwa hukum yang bersumberkan pada undang-undang atau perjanjian.
3.) Mengkonstitusikan peristiwa hukum adalah tindakan hakim untuk menentukan haknya, memberikan keadilan atas suatu hubungan hukum antara peristiwa hukum dan subjek hukum.57
Konsep keadilan substantif memberikan gambaran apa dan bagaimana politik hukum dan kesadaran hukum masyarakat. Berkaitan dengan prosedur pemeriksaan perkara dalam hal belum ada undang-undang atau hukum yang mengaturnya, Van Oven berpendapat bahwa jalan terbaik dari kepastian hukum adalah tidak terikatnya hakim pada bunyi undang-undang tetapi justru pada kebebasan hakim. Bila dianalisis kedua pendapat tersebut mengindikasikan bahwa dalam upaya penemuan hukum, hakim dituntut memperhatikan fakta-fakta perkara serta diberikan
57Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuag Pengantare
kebebasan memutus perkara tanpa terikat pada formalitas undang-undang. 58
Pada sisi hakim dapat menggali hukum yang tidak tercantum secara tegas dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dan nilai-nilai keadilan yang lahir dari kehidupan masyarakat. Hakim mengikuti norma dan kaidah hukum tidak tertulis yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sekaligus memperhatikan nila-nilai dan norma keadilan.
Meskipun Indonesia merupakan negara yang menganut sistem hukum civil law, sebagai konsekuensi warisan Belanda, namun nampaknya Indonesia juga menganut sistem hukum
common law. Dengan demikian, pilihan memberlakukan sistem
hukum ganda tersebut, Indonesia tidak langsung menganut sistem
preeseeent.59Sementara itu, asas peradilan di Indonesia, hakim tidak
otomatis menjadi terikat pada putusan hakim terdahulu mengenai perkara yang sejenis. Jika perkembangan selanjutnya, hakim memutus perkara dengan merujuk pada putusan hakim yang lebih tinggi, hal itu tidak otomatis telah merubah asas menjadi tge bineing forece of preeceeent60seperti yang dianut negara-negara anglo saxon, sebaliknya putusan tersebut menganut asas tge
58Herlien Budiono, Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perejanjian ei
Ineonesia, Hukum Perejanjian Berelaneaskan Asas-Asas Wigati Ineonesia (Bandung: Penerbit Citra Aditya Bakti, 2006), h. 267.
59Preeceeent merupakan putusan yang dikenal istilah yurisprudensi
yudisial dapat menjadi pertimbangan bagi hakim untuk memutus peristiwa hukum yang memiliki kesamaan pada perkara yang datang kemudian. Yudisial
merupakan karakter utama hukum dalam tradisi hukum Anglo Saxon. Sedangkan
administrasi atau hukum tertulis merupakan karakter utama tradisi hukum Kontinental dalam sistem yudisial, walaupun dalam perkembangannya hampir
tidak ada perbedaan dalam praktik peradilan. Lihat, Bagir Manan, Dasare-Dasare
Pereuneang-Uneangan Ineonesia, h. 5-7. Lihat juga Rahmat Trijono, Dasare-Dasare Ilmu Pengetaguan Pereuneang-Uneangan, h.21-31.
60Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantare (Yogyakarta:
peresuasive forece of preeceeent, yaitu; putusan tersebut berarti diikuti karena meyakinkan hakim untuk mengikutinya.
Citizen law suit atau hak gugat warga negara dengan kepentingan umum/masyarakat luas. Citizen law suit juga dikenal dengan sebutan actio populareis yang hukum materiilnya belum diatur dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, sebelum dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) nomor 1 tahun 2002. Kelalaian tersebut didalilkan sebagai Perbuatan Melawan Hukum, sehingga citizen law suit diajukan pada lingkup peradilan umum dalam hal ini termasuk bagian dari perkara hukum Perdata dalam wilayah kewenangan pengadilan negeri.61
Pada dasarnya citizen law suit merupakan suatu hak gugat warga negara yang dimaksudkan untuk melindungi warga negara dari kemungkinan terjadinya kerugian sebagai akibat dari tindakan atau pembiaran dari negara atau otoritas negara. Hak gugat dapat dilakukan ketika warga dapat memahami bahwa di sekitarnya telah terjadi peristiwa yang merugikan hak-haknya.
Urgensi terhadap advokasi "kepentingan hukum yang cukup" dalam praktik peradilan perdata, membuat penggugat sebagai pihak yang mengajukan tuntutan hak harus dapat membuktikan hak yang dituntutnya melalui alat bukti sebagai pendukung hak, melalui ketentuan pasal 197 BRV dengan asas
"actorey in cumbit preobatio" yang bermakna, “pembuktian dapat dilakukan dengan cara apapun, kecuali undang-undang menentukan lain, adapun penilaian terhadap bukti yang diajukan menjadi kebijaksanaan hakim kecuali undang-undang menentukan