STATISTIKA
LEKTION DREIZEHN(#13) PENGUJIAN HIPOTESIS
Verfasser bei Usmania Institute
PENDAHULUAN
Hipotesis: dugaan sementara mengenai karakteristik populasi
Jenis Hipotesis:
Hipotesis nol (H0)
Hipotesis Tandingan atau Alternatif (H1
atau Ha)
Hipotesis (nol) ditolak jika:
Hasil empirik sangat berbeda dengan harapan teoritis
Harga statistik jauh berbeda dibandingkan parameter populasi.
|statistik hitung| > statistik tabel
p-value < .
Yang dilakukan pada saat uji hipotesis:
MEMBANDINGKAN Hasil emiprik/observasi
VS
Harapan teoritis populasi (hipotesis nol) Harga statistik hasil
pengujian sampel
Parameter populasi
Titik ekstrem (statistik hitung)
Titik kritis (statistik tabel)
Taraf signifikan observasi (p-value)
Taraf signifikan
Contoh:
Hipotesis (nol): “Uang koin setimbang”
→ Tidak ada perbedaan antara frekuensi muncul M dan B. → = 1,5
Hasil pengujian: 𝑋 = 5/4
Hasil membandingkan (harga statistik sampel vs parameter populasi):
1. Sama → Hipotesis (nol) diterima 2. Berbeda:
a) Perbedaan tidak terlalu besar → tidak signifikan/hanya karena faktor kebetulan →
Hipotesis (nol) diterima.
b) Perbedaan sangat besar → berbeda signifikan → Hipotesis (nol) ditolak.
Melempar uang koin sebanyak 1000 kali, hasil:
M : B = 500 : 500 → setimbang?
M : B = 997 : 3 → setimbang?
M : B = 496 : 504 → setimbang?
M : B = 465 : 535 → setimbang?
Apa kriteria berbeda terlalalu besar (signifikan) dan berbeda tidak terlalu besar (tidak
signifikan)?
3 tahap menetapkan jenis perbedaan:
1. Menetapkan seberapa besar toleransi kita terhadap terjadinya faktor kebetulan.
Besarnya toleransi ini dinyatakan sebagai Tingkat Kepercayaan (1 - ).
Tingkat kepercayaan 95% → = 5% 2. Hitung probabilitas terjadinya hasil-hasil
ekstrem, yaitu: taraf signifikan observasi / p-value.
3. Bandingkan: p-value vs .
Jika p-value < → perbedaan yang terjadi
dinyatakan terlalu besar (signifikan), dan hipotesis (nol) ditolak.
HASIL-HASIL EKSTREM &
P-VALUE
p-value merupakan probabilitas
diperolehnya hasil-hasil ekstrem dengan syarat diketahui bahwa H0 benar. Probabilitas
ini merupakan probabilitas kumulatif atau fraktil.
p-value = P(X ≤ X0 atau X ≥ X0 | H0 benar) X0 : statistik sampel (titik ekstrem)
Hasil-hasil ekstrem adalah harga-harga statistik yang nilainya jauh dari parameter populasi atau nilai harapan, dimulai dari harga statistik sampel (titik ekstrem) hingga ke ujung distribusi.
Contoh:
Percobaan melempar uang koin sebanyak 10 kali (n = 10).
H0: “uang koin setimbang”
Parameter populasi: muncul muka sebanyak 5 kali ( = 5).
Hasil ekstrem: muncul sisi muka sebanyak jauh dari hasil 5 (mendekati 0 atau mendekati 10).
Misalkan hasil percobaan muncul muka sebanyak 2 kali (x = 2).
Hasil-hasil ekstrem: muncul muka sebanyak x
≤ 2 (yaitu: 0, 1, atau 2 kali) atau muncul muka sebanyak x ≥ n – 2 (yaitu: 8, 9, atau 10 kali).
TARAF SIGNIFIKAN , KESALAHAN
JENIS I & II
= probabilitas terjadinya harga-harga kritis. Harga-harga-kritis: harga-harga statistik yang
nilainya dianggap terlalu jauh dari harga teoritis populasi (nilai harapan), dimulai dari titik kritis (statistik tabel) hingga ke ujung distribusi. Pada distribusi probabilitas, merupakan luas
daerah kritis (daerah yang diarsir di bawah kurva) yang terletak di salah satu atau kedua ujung distribusi.
Uji 1 ekor: daerah kritis di salah satu ujung distribusi
Uji 2 ekor: daerah kritis di kedua ujung distribusi
Jika hasil pengujian sampel (empirik) memberikan harga statistik (titik ekstrem) yang jatuh di daerah kritis, maka hipotesis nol ditolak.
Harga-harga mana saja yang termasuk harga kritis? → seberapa luas daerah kritis?
Kita dapat secara bebas menetapkan harga-harga yang termasuk kritis, tetapi tidak bebas mutlak. Apakah dalam percobaan melempar uang koin setimbang 𝑋 = 1,5 dapat dikategorikan sebagai harga kritis? Mengapa?
Pada penelitian ilmu-ilmu sosial, luas daerah kritis () biasa ditetapkan sebesar 5% atau 1 %. = 5% berarti: daerah di bawah kurva distribusi
probabilitas yang luasnya 1 (100%), 5%nya yang terletak di salah satu atau kedua ujung distribusi (ekor) ditetapkan sebagai daerah kritis.
Selain merupakan taraf signifikansi pengujian, juga diartikan sebagai probabilitas melakukan
Kesalahan jenis I: menolak H0 yang benar. = 5% berarti: dari 100 kali menolak hipotesis
nol, 5 di antara yang kita tolak adalah benar.
Jadi, semakin besar , maka semakin besar kemungkinan kita melakukan kesalahan, meskipun semakin besar semakin besar pula tingkat ketelitian.
juga disarankan untuk tidak terlalu kecil, karena akan memperbesar peluang melakukan kesalahan jenis II.
Kesalahan jenis II: menerima H0 yang salah. Probabilitas melakukan kesalahan jenis II: .
1 - : Tingkat kepercayaan 1 - : Kuasa uji
Jadi, tidak boleh terlalu kecil dan juga tidak boleh terlalu besar.
Dalam hal penelitian yang dilakukan mempunyai konsekuensi yang berat (bidang nuklir, kesehatan, kimia), maka kita harus berhati-hati dalam
menetapkan .
Dalam hal menerima H0 yang salah mempunyai konsekuensi yang lebih berat dibandingkan menolak H0 yang benar, maka tetapkanlah yang cukup besar.
Dalam hal menolak H0 yang benar mempunyai konsekuensi yang lebih berat dibandingkan menerima H0 yang salah, maka tetapkanlah yang cukup kecil.
Contoh:
H0 : “Metode terapi X baik diterapkan untuk
balita” → tetapkan sebesar-besarnya, agar kita lebih sering menolak hipotesis tersebut meskipun itu benar.
H0 : “Metode terapi X sangat berbahaya bagi anak-anak” → tetapkan sekecil-kecilnya, agar kita lebih sering menerima hipotesis tersebut meskipun itu salah (kenyataannya tidak berbahaya).
Melepaskan 1000 orang yang bersalah tentu lebih baik daripada menahan 1 orang yang tidak bersalah.
JENIS HIPOTESIS
H0 H1
Hipotesis Nol Hipotesis Tandingan/
Alternatif (Ha)
Hipotesis Teoritis Hipotesis Penelitian
Diuji secara langsung Diuji secara tidak langsung Diformulasikan untuk
ditolak
Diformulasikan untuk diterima Berupa hipotesis tunggal /
sederhana
Pada umumnya berupa hipotesis majemuk Formulasi umum: tidak
ada perbedaan, tidak ada hubungan, tidak ada pengaruh
Hipotesis teoritis: hipotesis yang
mencerminkan keadaan teoritis populasi, misalnya “keadaan koin setimbang”.
Hipotesis penelitian: hipotesis yang diajukan oleh si peneliti untuk diuji.
Pada saat melakukan pengujian hipotesis, sebenarnya yang diuji sepasaang hipotesis sekaligus, yaitu: H0 dan H1.
H0 diuji secara langsung, sedangkan H1 hanya menerima akibatnya. Jika H0 ditolak, maka H1
diterima, demikian sebaliknya.
Jika rumusan hipotesis nol: H0 : p = ½
Maka rumusan H1 yang mungkin:
H1 : p ½
H1 : p > ½
H1 : p < ½
H1 : p = x, di mana 0 ≤ x ≤ 1, dan x ½
Yang mana yang menjadi hipotesis tandingan? Tergantung pada rancangan penelitiannya.
Jika peneliti sekedar menduga bahwa kemungkinan muncul unsur 1 (M) sekedar berbeda dari kemungkinan muncul 2 (B), maka hipotesis tandingannya: H1 : p ½
Jika dari pengaamatan awal si peneliti menduga uang koin tersebut bengkok sehingga akan lebih banyak muncul sisi muka (unsur 1), maka hipotesis
tandingannya: H1 : p > ½.
Jika peneliti menduga bahwa kemungkinan muncul sisi muka (unsur 1) sebesar ¼, maka hipotesis tandingannya: H1 : p = ¼.
Rumusan hipotesis p = ½, maupun p = ¼ (menggunakan tanda “=“) disebut sebagai
hipotesis sederhana atau hipotesis tunggal.
Hipotesis tunggal: hipotesis dengan nilai parameter populasi yang tunggal
Rumusan hipotesis p ½, p > ½, maupun p < ¼ (menggunakan tanda selain “=“) disebut sebagai
hipotesis majemuk.
Hipotesis majemuk: hipotesis dengan nilai parameter populasi yang tidak tunggal
(p > ½ → p = ¾, atau p = 2/3, atau p = 4/5, dll.)
Konsekuensi:
Hipotesis tunggal: memungkinkan dibentuk distribusi probabilitas penarikan sampel → memunkinkan hipotesis untuk diuji.
Hipotesis majemuk: distribusi probabilitas penarikan sampel tidak bisa ditentukan → hipotesis tidak bisa diuji. Mengapa?
Dalam kasus kedua hipotesis merupakan hipotesis sederhana, maka hipotesis yang bertindak sebagai H0 tergantung pada desain penelitiannya. Yang jelas, baik H0 maupaun H1 keduanya dapat diuji secara langsung. Soal. Bagaimana pendapat Anda tentang:
1. Peneliti yang menguji H1 secara langsung
2. Rumusan pasangan hipotesis sebagai berikut: H0 : p ≤ ½
H1 : p > ½
3. Rumusan pasangan hipotesis sebagai berikut: H0 : b = 0
H1 : b > 0
LANGKAH PENGUJIAN HIPOTESIS
1. Rumuskan H0 dan H1. (sesuai masalah penelitian dan teknik analisis yang digunakan)
2. Tetapkan besarnya taraf signifikan .
3. Tetapkan distribusi probabilitas penarikan sampel sesuai dengan hipotesis yang akan diuji.
4. Kumpulkan data penelitian (eksperimen, observasi, survey).
5. Hitung harga statistik sampel untuk menetapkan besarnya taraf signifikan observasi (p-value). 6. Bandingka p-value dengan .
7. Tarik kesimpulan. Jika p-value < , maka H0 ditolak.
UJI 1 EKOR & UJI 2 EKOR
Uji 1 ekor: pengujian dengan daerah kritis di salah satu ujung distribusi.
Uji 1 ekor digunakan jika rumusan hipotesis tandingannya menggunakan tanda “>” atau “<“. Contoh: H1 : p > ½
Daerah kritis sebesar :
Uji 2 ekor: pengujian dengan daerah kritis di kedua ujung distribusi.
Uji 2 ekor digunakan jika rumusan hipotesis tandingannya menggunakan tanda “”. Contoh: H1 : p ½
SOAL
Diketahui distribusi probabilitas penarikan sampel mean untuk kasus IPK sampel 2 orang mahasiswa yang ditarik secara acak sederhana dari 5 orang mahasiswa sebagai berikut:
𝑋 : 2,40 2,45 2,50 2,55 2,60 2,65 2,70 2,80
Frek.: 1 2 5 4 6 2 4 1 Total = 25
P(𝑋 ) : 1/25 2/15 5/25 4/25 6/25 2/25 4/25 1/25
1. Dengan = 40% dan rumusan hipotesis: H0 : = 2,58 dan H1 : 2,58
a) Tentukan harga-harga kritisnya.
b) Jika mean sampel 𝑋 = 2,70, apakah H0 ditolak? Jelaskan.
2. Dengan = 20% dan rumusan hipotesis:
H0 : = 2,58 dan H1 : < 2,58 a) Tentukan harga-harga kritisnya.
b) Jika mean sampel 𝑋 = 2,50, apakah H0
ditolak? Jelaskan.
3. Dengan = 10% dan rumusan hipotesis:
H0 : = 2,58 dan H1 : > 2,58 a) Tentukan harga-harga kritisnya.
b) Jika mean sampel 𝑋 = 2,80, apakah H0
ditolak? Jelaskan.