• Tidak ada hasil yang ditemukan

9 91 Faizal A, Diana Fitri, Anggunan OK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "9 91 Faizal A, Diana Fitri, Anggunan OK"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN KEMUNING (Muraya

paniculata(L)Jack) TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) WISTAR JANTAN

Faizal Akbar F.M.E1, Diana Fitri2, Anggunan,3

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh pemberian infusa daun kemuning terhadap penurunan kadar kolesterol darah tikus putih wistar jantan. Penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan pre-test dan post-test with controlled group design.

Sampel berupa 24 tikus wistar jantan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian diadaptasi selama 7 hari, lalu hari ke 8 hingga 14 seluruh sample diberikan diit tinggi kolesterol lalu dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol darah (Pre-test) dan dibagi secara simple random sampling menjadi satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan.

K merupakan kelompok kontrol tanpa diberi infusa daun kemuning. P1 diberi infusa daun kemuning peroral 2,5 cc, P2 diberi infusa daun kemuning peroral 5 cc, dan P3 diberi infsua daun kemuning peroral 7,6 cc. Setelah 14 hari dilakukan perlakuan sesuai dosis yang ditentukan semua sampel diperiksa kadar kolesterol darahnya (Post-test) lalu data hasil Pre-test dan Post-test dianalisis menggunakan piranti lunak SPSS 16.0. Rerata penurunan kadar kolesterol pada kelompok K=14,1,mg/dl; P1=22,6 mg/dl; P2=32,8 mg/dl; P3=42,1 mg/dl. Penurunan kadar kolesterol darah tertinggi pada kelompok P3. Skor yang dinilai meliputi penurunan kadar kolesterol dan selisih penurunannya.

Kata kunci : Infusa daun kemuning, kadar kolesterol darah tikus putih jantan galur wistar

Pendahuluan

Latar Belakang

Hiperkolesterolemia adalah salah satu gangguan kadar lemak dalam darah

yang mana kadar kolesterol dalam darah melebihi batas normal yaitu 240 mg/dL.

Hiperkolesterolemia dapat terjadi karena adanya faktor primer dan sekunder.

Pada umumnya, faktor primer disebabkan karena adanya faktor genetik, sedangkan

faktor sekunder disebabkan karena kualitas pola makan yang buruk.

(2)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 Berdasarkan Badan Penelitan dan Pengembangan Departemen Kesehatan

Republik Indonesia menyebutkan bahwa prevalensi hiperkolesterolemia pada

masyarakat Indonesia mencapai 200 – 248 mg/dL atau mencapai 10,9 persen dari

total populasi pada tahun 2004. Penderita hiperkolesterolemia pada generasi muda

yang berkisar antara 25 – 34 tahun telah mencapai 9,3% sedangkan usia 55 – 64

tahun berkisar 15,5%. Dengan melihat presentase yang ada, wanita menjelang

lansia yaitu sebesar 14,5% menjadi kelompok paling dominan yang mengalami

kasus tersebut, kejadian ini disebabkan adanya pengaruh hormon estrogen setelah

menopause yang mampu mempertahan kan kadar kolesterol tetap tinggi dan

apabila disertai dengan pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat kadar

kolesterol dalam tubuh akan semakin meningkat.

Kolesterol merupakan komponen essensial membran sel dan merupakan

komponen utama dari sel otak dan saraf. Kolesterol terdapat dalam konsentrasi

yang tinggi dalam jaringan hepar dan hepar berperan sebagai tempat kolesterol

disintesis dan disimpan. Kolesterol dalam jumlah normal sangat penting untuk

menjalankan fungsinya , diantaranya membangun membran sel dan membuat

asam empedu untuk mengemulsi lemak.

Sebaliknya peningkatan kadar kolesterol dalam darah dengan jumlah

berlebihan akan menyebabkan penumpukan kolesterol di pembuluh darah yang

semakin lama akan menyebabkan penyumbatan di beberapa pembuluh darah. Dari

sekian banyak tanaman yang berkhasiat sebagai penurun kolesterol, tumbuhan

kemuning merupakan salah satu tumbuhan yang juga berkhasiat sebagai penurun

kolesterol. Selain itu tumbuhan kemuning juga berkhasiat sebagai pemati rasa (

anestesia ), penenang ( sedatif ), antirematik, anti hiper tiroid, penghilang

bengkak, pelangsing tubuh, pelancar peredaran darah, dan penghalus kulit. Secara

tradisional pemanfaatan daun kemuning sebagai penurun kolesterol ialah dengan

cara cuci 20gr daun kemuning segar hingga bersih, lalu rebus dalam 3 gelas air.

Minum ramuan ini 3 kali sehari.6

Daun kemuning mengandung cadinena, metil – antranilat, bisabolena, β –

kariopilena, geraniol, carane – 3, eugenol, metil – salisilat, s – guaiazulena, osthol,

(3)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 Indonesia, daun kemuning mengandung minyak atsiri, damar, tanin, glikosida

murrayin.8

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh aquadest pada kelompok kontrol terhadap

kadar kolesterol darah tikus putih. Untuk mengetahui pengaruh infusa daun

kemuning sebanyak 2,5cc terhadap kadar kolesterol darah tikus putih.

Untuk mengetahui pengatuh infusa daun kemuning sebanyak 5cc terhadap kadar

kolesterol darah tikus putih. Untuk mengetahhui pengaruh infusa daun kemuning

sebanyak 7,5cc terhadap kadar kolesterol darah tikus putih. Untuk mengetahui

dosis infusa daun kemuning yang paling signifikan terhadap kadar kolesterol darah

tikus putih.

Manfaat Penelitian

Menambah informasi bagi ilmu kedokteran khususnya ilmu farmakologi

tentang manfaat infusa daun kemuning terhadap kadar kolesterol darah tikus putih

wistar jantan. Infusa daun kemuning dapat dimanfaatkan secaara luas sebagai anti

hiperkolesterolemia alami

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup pada penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan

Pretest dan posttest dengan grup kontrol, dan penelitian ini berbasis pada cabang

ilmu kedokteran yaitu farmakologi.12

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian

eksperimen, yaitu suatu penelitian dengan melakukan kegiatan percobaan

(eksperimen) yang bertujuan untuk mengetahui gejala atau pengaruh yang timbul

sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu atau eksperimen tersebut.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember tahun 2012 sampai dengan

selesai. Dengan tempat di Laboratorium Rumah Sakit BIntang Amin Husada.

(4)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 badan 200 gram dan berjenis kelamin jantan.. Untuk pengambilan sampel

digunakan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara

insidential. Dimana jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Federer, yaitu:

(t-1) (r-1) ≥ 15

Keterangan:

t = adalah jumlah perlakuan

r = adalah jumlah hewan coba tiap kelompok perlakuan

Penelitian dengan 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol sehingga

diketahui: t = 4

( 4-1 ) ( r-1 ) ≥ 15

3r – 3 ≥ 15

3r ≥ 18 = r ≥ 6

Jumlah tikus yang digunakan sebanyak 6 untuk masing-masing kelompok (3

kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol) sehingga jumlah sampel keseluruhan

yang digunakan dalam penelitian ini adalah 24 ekor.

Kriteria Inklusi:

Tikus Putih Wistar :

1. Umur 2 sampai 3 bulan

2. Berat badan 200 sampai 250gr

3. Jenis kelamin jantan

4. Sehat dan lincah ditandai dengan gerakan-gerakan tikus seperti makan,

minum, tidak terdapat luka atau cacat tubuh

Kriteria Eksklusi:

1. Tikus mati

2. Perubahan perilaku ( tidak nafsu makan, lemas, tidak lincah ) selama

penelitian

3. Terjadi penurunan berat badan lebih dari 10% masa adaptasi di laboratorium

4. tidak terjadi peningkatan kolesterol

(5)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 Variabel Tergantung

Kadar kolesterol darah tikus putih setelah pemberian infusa daun keuning

Variabel Bebas

Infusa Daun Kemuning

Definisi Operasional

1. Kadar Kolesterol Pretest dan Postest

Kadar kolesterol setelah dan sebelum pemberian infusa daun kemuning.

2. Infusa Daun Kemuning

Daun kemuning yang telah dilarutkan pada pelarut air pada temperature 960C

selama 15 menit.

Prosedur Penelitian

Tikus dikelompokkan menjadi 4 kelompok dan masing-masing kelompok

terdiri dari 6 ekor. Setiap kelompok dipisahkan dalam kandang yang berbeda.

Sebelum penelitian dilakukan, tikus diaklimatisasi selama 7 hari untuk

membiasakan pada lingkungan percobaan dan diberi makan biasa. Hewan dianggap

sehat apabila tidak ada perubahan berat badan tidak lebih dari 10% serta

memperlihatkan perilaku normal. Cadangan untuk masing-masing kelompok adalah

3 ekor tikus.

Daun kemuning (Murraya panniculata ) di larutkan kedalam aquadest

kemudian dipanaskan sampai mendidih (±90ºC), setelah mencapai suhu ruangan

hasil infusa dipisahkan dengan cara disaring. Penyiapan bahan uji ini dilakukan

setiap hari.

Pelaksanaan percobaan

a. Langkah 1: Pada percobaan ini digunakan 24 ekor tikus yang telah diaklimatisasi

selama 1 minggu, dibagi secara acak menjadi 4 kelompok, yang masing-masing

kelompok terdiri dari 6 ekor tikus.

b. Langkah 2: Pada hari ke-7 semua tikus diambil darah dari pleksus retroorbital

(6)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 c. Langkah 3: Esoknya tikus diberi pakan tinggi kolesterol yaitu kuning telur 7

gram setiap hari selama 1 minggu (hari 8 sampai hari 14). Pada hari

ke-14 seluruh tikus diperiksa kadar kolesterolnya (pre-test).

d. Langkah 4: Mulai hari ke-15 sampai hari ke-28, bahan uji diberikan secara

peroral.

Kelompok I yang merupakan kontrol diberi aquades 5ml.

Kelompok II infusa daun kemuning ( Murraya paniculata (L) jack ) 2,5 cc.

Kelompok III infusa daun kemuning ( Murraya paniculata (L) jack ) 5cc.

Kelompok IV infusa daun kemuning ( Murraya paniculata (L) jack ) 7,6 cc.

e. Langkah 5 : setelah dua minggu perlakuan, tikus diperiksa kadar

kolesterolnya ( Post – test ).

Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini terdiri dari analisis univariat, analisis

bivariat.30 Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan terhadap tiap variabel

dari hasil penelitian. Dan dimaksudkan untuk menggambarkan masing-masing

variabel dependent dan variabel independent yang meliputi :

Pengaruh air suling (Kontrol) terhadap penurunan kadar kolesterol total

darah tikus putih. Pengaruh infusa daun kemuning ( Murraya paniculata ( L ) jack )

terhadap penurunan kadar kolesterol darah tikus putih jantan galur wistar ( Rattus

novergicus ).

Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan terhadap 2 variabel atau lebih

yang diduga berhubungan/berkorelasi.22

Analisa bivariat pada penelitian ini adalah:

Perbandingan efektifitas antara air suling (Kontrol) dengan Infusa daun Kemuning (

Murraya paniculata (L) jack ) terhadap penurunan kadar kolesterol total darah tikus

putih.

perbandingan efektifitas antara setiap dosis pemberian infusa daun kemuning

( 2,5cc, 5cc, dan 7,5 cc ) dengan penurunan kadar kolesterol darah tikus putih

(7)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 Kemudian untuk melihat adanya perbedaan hasil antara pre-test dengan

post–test dilakukan uji statistik one way Annova pada α = 5%.

Keputusan uji statistik dengan Confidence Interval (CI) 95% adalah :

a. Bila P-value ≤ 0,05 maka dinyatakan adanya pengaruh infusa daun kemuning (

Murraya paniculata ( L ) jack ) terhadap penurunan kadar kolesterol darah tikus

putih galur wistar ( Rattus novergicus ) .

b. Bila P-value ≥ 0,05 maka dinyatakan tidak adanya pengaruh infusa daun

kemuning ( Murraya paniculata ( L ) jack ) terhadap penurunan kadar kolesterol

darah tikus putih galur wistar ( Rattus novergicus ) .

Hasil Penelitian

Dari analisis post hoc didapatkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan

bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok P1 (p=0,931), sedangkan

terdapat perbedaan yang bermakna antara K dengan P2 (p=0,005), K dengan

P3(p=0,000), P1 dengan P2 (p=0,005, P1 dengan P3 (p=0,000), P2 dengan P3

(p=0,009).

serta dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Kelompo

k

kelomp

ok

Sig.

(p)

LSD K P1 0,931

P2 0,005

P3 0,000

P1 P2 0,004

P3 0,000

P2 P3 0,009

Pembahasan

Berdasarkan rerata penurunan kadar kolesterol kelompok kontrol memiliki

penurunan kadar kolesterol paling rendah yaitu 14,1 mg/dl. Hal ini disebabkan

(8)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 penurunan kadar kolesterol selama 2 minggu walaupun tidak diberikan infusa daun

kemuning.21

P1 yang diberikan infusa kemuning sebanyak 2,5 cc memiliki rerata

penurunan kadar kolesterol sebanyak 22,6 mg/dl, P1 memiliki penurunan kadar

kolesterol paling sedikit dari kelompok lainnya, hal ini dikarenakan dosis dari daun

kemuning yang diberikan jumlahnya hanya sedikit, bahkan dibawah dosis konversi

yang diberikan sehari hari pada manusia.6

P2 yang diberikan infusa daun kemuning sebanyak 5 cc memiliki rerata

penurunan kadar kolesterol sebanyak 32,8 mg/dl, hasil tersebut menunjukan

adanya penurunan kadar kolesterol yang lebih tinggi dibandingkan K dan P1, hal

tersebut disebabkan oleh dosis dari infusa daun kemuning yang lebih besar diantara

kedua kelompok tersebut, juga dosis yang diberikan mendekati dosis konversi

infusa daun kemuning yang diberikan sehari hari kepada manusia.6

Pada P3 dengan pemberian daun infusa sebanyak 7,5 cc memiliki rerata

penurunan kadar kolesterol sebanyak 42,1 mg/dl, pada kelompok perlakuan ini

didapatkan penurunan kadar kolesterol yang paling besar diantara semua kelompok

perlakuan, dosis infusa daun kemuning yang diberikan pada P3 menyebabkan

penurunan yang paling signifikan, hal tersebut bisa disebabkan oleh dosis yang

diapatkan diatas dosis konversi sehari hari pada manusia.6

Dari hasil yang diperoleh terlihat bahwa pemberian infusa daun kemuning

dapat menurunkan kadar kolesterol. Isovlafon yang terkandung dalam daun

kemuning terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol dengan cara meningkatkan

katabolisme sel lemak untuk pembentukan energi, sehingga menurunnya kadar

kolesterol sebagai pembentuk lemak14. Sedangkan kandungan tanin pada daun

kemuning dapat bereaksi dengan mukosa dan epitel usus sehingga menghambat

penyerapan lemak yang mengakibatkan menurunnya kadar kolesterol.15

Hal ini sesuai dengan pernyataan dalam tinjauan pustaka bahwa kemuning dapat

menurunkan kadar kolesterol diakibatkan kandungan tanin dan flavonoid dalam

bentuk isoflavon, dengan dua mekanisme yaitu dengan penghambatan penyerapan

kolesterol, dan peningkatan katabolisme sel lemak yang mengakibatkan

(9)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa :

Tidak terdapat pengaruh pemberian aquadest terhadap kadar kolesterol tikus putih

dengan nilai signifikansi (0,144).

Terdapat pengaruh pemberian infusa daun kemuning signifikan pada

pemberian infusa daun kemuning sebanyak 2,5 cc dengan nilai signifikansi (0,000),

dan memiliki nilai P = 0,931 terhadap kelompok kontrol yang berarti penurunannya

tidak terlalu berbeda dengan kelompok kontrol.

Terdapat pengaruh pemberian infusa daun kemuning yang signifikan

terhadap kadar kolesterol darah tikus pada dosis infusa daun kemuning 5cc dengan

nilai signifikansi (0,000), dan memiliki perbedaan yang nyata pada kelompok

kontrol dan juga pada kelompok 2 dan 3

Terdapat pengaruh pemberian infusa daun kemuning yang signifikan terhadap

kadar kolesterol darah tikus pada dosis infusa daun kemuning 7,5cc dengan nilai

signifikansi (0.000) dan memiiliki perbedaan paling nyata dengan kelompok

lainnya. Dosis infusa daun kemuning paling dengan perbedaaan paling nyata yang

berarti memiliki pengaruh terbesar pada kadar kolesterol tikus putih adalah

kelompok 3 dengan dosis 7,5 cc memiliki nilai P=0,000 terhadap semua kelompok.

Daftar Pustaka

1. Grundy : Oksidasi lemak salah satu penyebab jantung koroner , Fakultas

Pertanian UGM, Yogyakarta, 2002. Halaman 13 – 14.

2. Sun : Cholesterol of Journal Agricultural and Food ChemistrY, 2006.

Halaman 5 – 6.

3. Guyton, Arthur C & Hall, John E : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11,

EGC. Jakarta, 2007.

4. Aurora : Memahami Kolesterol, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2006.

5. Agromedia, 273 Ramuan Tradisional Untuk Mengatasi Aneka Penyakit,

Agromedia Pustaka. Jakarta, 2008. Halaman 1 - 13

6. Harmanto, Ning : Mengusir Kolesterol Bersama Mahkota Dewa. Penerbit

(10)

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Volume 1 Nomor 1, Januari 2014 7. Iskandar, D. Kemuning Jati Belanda : Budidaya dan Pemanfaatan Untuk

Obat. Cetakan Pertama . Penerbit Swadaya, Jakarta 2005. Halaman 10 – 19.

8. Ditjen POM ( 1995 ) : Materia Medika Indonesia Jilid VI, Departemen

Kesehatan RI, jakarta 2000 Halaman 321 – 325.

9. Tjay, T.H., Rahardja, K. Obat – obat Penting : Khasiat, Penggunaan dan Efek

– efek Sampingnya. Edisi VI, Elex Media Komputindo, Jakarta 2008. Halaman

540 – 541.

10. Murray, R.K, Biokimia Harper. Edisi 27, EGC, Jakarta Halaman 270. 2008

11. Garnadi, Y : Kolesterol Tinggi Serta Penilaian Risiko Penyakit Jantung

Koroner, Familial Medika, Jakarta, 2008. Halaman 56 – 57

12. Wiryowidagdo, Tanaman Obat untuk Penyakit Jantung, Darah Tinggi dan

Kolesterol, Agromedia Pustaka, Jakarta, 2008.

13. Dalimartha, S. : Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Trubus Agriwidya,

Jakarta. Halaman 73 – 74, 76.

14. Pawiroharsono, S : Tempe Sebagai Anti kanker, Jurnal Kedokteran dan

Farmasi Medika, No.12 tahun ke XXIV, Jakarta. 1998.

15. Dorland : Kamus Kedokteran, Edisi 24, EGC, Jakarta. 2002

16. Ditjen POM : Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.

Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 2000. Halaman 3 – 5, 10 – 11.

17. Barnett, : The Rat : Study in Behaviour, Transaction Publisher, 2007.

18. Smith J. N,: Pemeliharaan Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di

Daerah Tropis, UI Press, Jakarta. 2008.

19. Notoatmodjo, S, Metode Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, 2010.

20. Sastroasmoro, Dasar – dasar Metodologi Penelitian Klinis, Bagian ilmu

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,