SUKACITA KELUARGA
1Sukacita keluarga adalah sukacita Allah. Allah yang me-mulai keluarga pertama, memberkati dan memberi tujuan-tujuan Allah bagi keluarga yang dibentuk. Sukacita keluarga dinyatakan melalui sukacita dalam hubungan dengan Allah, dalam hubungan antar pribadi (sesama manusia/anggota luarga), hubungan dengan alam semesta (lingkungan ke-luarga). Dalam mempermudah pemahaman dijelaskan dalam empat bagian sederhana yakni penciptaan, pelanggaran, pe-nebusan dan pemulihan.
A. Penciptaan
Sukacita keluarga pertama kali dinyatakan Adam ke-pada Hawa dalam ungkapan yang agung. "Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." (Kejadian 2:23). Ungkapan ini mempunyai makna sukacita Adam ketika Allah memberikan Hawa bagi dirinya. Apa yang diungkapkan Adam kepada Hawa dapat menjadi sukacita keluarga saat ini, bila makna kebenaran dari ung-kapan tersebut menjadi realita kehidupan keluarga.
Prinsip sukacita keluarga yang dapat diambil dari ung-kapan agung tersebut yakni: kesatuan, kesamaan, kese-jajaran, kesediaan untuk menerima perbedaan dan kasih (sukacita keluarga = 5k).
1. Kesatuan. Kesatuan sebagai prinsip dalam membangun sukacita keluarga memiliki dua aspek yakni kesatuan de-ngan Allah dan kesatuan dede-ngan pasade-ngan.
1.1. Kesatuan dengan Allah. Kesatuan dengan Allah harus menjadi prioritas dalam sukacita dengan keluarga. Sukacita
dalam kesatuan dengan Allah di dalam Alkitab digambarkan dalam beberapa tipologi yakni:
1. Pokok dan ranting pada pohon anggur (Yohanis 15:1-8). Kesatuan ini adalah kesatuan yang hidup yang memberi dampak berbuah lebat.
2. Perjamuan Kudus (Yohanis 6:48-58) kesatuan yang mistik (rohani) yang memberikan jaminan akan kehidu-pan kekal bersama dengan Kristus.
3. Kepala dan anggota tubuh (I Kor. 12). Kesatuan ini punyai makna fungsional. Kesatuan dengan Allah mem-punyai dampak kehidupan yang aktif dalam pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus sesuai dengan karunia masing-masing.
4. Hubungan suami – istri (Efesus 5:31-32 ). Kesatuan ini mempunyai makna hubungan pribadi yang intim. Hanya maut yang memisahkan. Hubungan pribadi ini memberi keyakinan akan kehidupan yang kekal (Yohani 17:32 ;
Yohanis 10:28-293; Roma 8:38-394)
Kesatuan dengan Allah adalah proses menerima Kristus dan terus tetap ada di dalam kesatuan dengan Dia (Kolose 2:6-7). Kesatuan ini perlu terus dijaga dalam sukacita keluarga melalui doa, firman, ibadah, pelayanan dan kesaksian hidup keluarga secara bersama-sama. Gambaran yang jelas mengenai rusak-nya kesatuan dengan Allah memberi dampak yang jelas bagi
2Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
3 10:28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka past tdak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tdak akan merebut mereka dari tangan-Ku. 10:29 Bapa-Ku, yang memberi-kan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tdak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.
rusaknya hubungan sosial dalam masyarakat yang mem-pengaruhi sukacita keluarga (baca Roma 1:18-32).
1.2. Kesatuan dengan pasangan. Kesatuan dengan pasangan bukan terbatas dalam kesatuan secara fisik, tetapi meliputi kesatuan hati, pikiran, perasaan dan kehendak. Ini ber-bicara kesatuan dalam totalitas secara pribadi yang utuh. Untuk membangun kesatuan dengan pasangan. Rasul Paulus memberikan nasehat kepada jemaat di Filipi dapat menjadi prinsip dalam membangun kesatuan antar pa-sangan yakni dalam Filipi 2:1-11. Ada dua sikap yang disampaikan
yakni sikap yang perlu dihindari dan sikap yang perlu di-kembangkan.
1.2.1. Sikap yang perlu dihindari yakni, sikap mementingkan diri sendiri dan mencari puji-pujian yang sia-sia ( ay. 3a bandingkan Yakobus 3:165)
1.2.2. Sikap yang perlu dikembangkan yakni, sikap memen-tingkan kepentingan bersama, sikap kerendahan hati (ay.3-4). Ini juga berhubungan erat dengan keter-bukaan dalam komunikasi dan kepercayaan terhadap pasangan.
2. Kesamaan. Sukacita dalam keluarga dinyatakan pula da-lam sikap kesamaan dada-lam membangun hubungan dada-lam keluarga. Kesamaan lebih bermakna hakekat manusia (La-ki-laki dan perempuan) sebagai gambar dan rupa Allah, ob-jek kasih Allah dan tujuan dari rencana Allah. Rasul Paulus menunjukkan bahwa dalam Kristus tidak lagi ada per-bedaan jenis kelamin, tetapi satu di dalam Kristus (Galatia 3:28-296) Perbedaan jelas lebih kepada fungsi/peran
ma-sing-masing sebagai suami, istri dan anak-anak.
5 Sebab di mana ada iri hat dan mementngkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
6 3:28 Dalam hal ini tdak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tdak ada hamba atau orang merdeka, tdak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
3. Kesejajaran.
Prinsip kesejajaran penting dalam membangun suka-cita keluarga. Pandangan kebudayaan kenyataan dapat merendahkan perempuan. Dalam kenyataan sering kali pri-laku kasar diterima kaum perempuan karena kurangnya pe-mahaman terhadap prinsip ini. Rasul Paulus menunjukkan bahwa dalam keluarga. Kesatuan laki-laki dan perempuan sebagai satu tubuh menyebabkan penghargaan yang tulus dari pihak perempuan dan laki-laki diperlukan dalam mem-bangun sukacita keluarga (Efesus 5:22-33;I Petrus 3:77). 4. Kesediaan untuk menerima perbedaan.
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan unik. Ke-unikan inilah untuk dapat saling melengkapi perbedaan yang ada. Untuk saling melengkapi, sikap yang perlu di-bangun adalah menerima perbedaan yang ada sebagai kekayaan untuk membangun sukacita keluarga. Rasul Paulus menulis prinsip ini juga dalam kehidupan bersama dalam jemaat di Roma. Dengan menulis,Roma 15:5-78 5. Kasih.
Sukacita keluarga, dinyatakan dalam sikap kasih tanpa syarat dalam keluarga. Rasul Paulus menunjuk-kan kebe-naran mengenai kasih dalam I Korintus 13:1-13; Efesus 5:22-33. Kasih juga menjadi inti dari buah Roh Kudus (Ga-latia 5:22-23).
Jadi, Kehidupan Keluarga Kristen adalah suatu su-kacita Allah yang ditandai oleh proses membangun
ke-7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatlah mereka se-bagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
satuan, kesamaan, kesejajaran, kesediaan untuk mene-rima perbedaan dan kasih yang tulus antar anggota ke-luarga.
B. Pelanggaran.
Sukacita keluarga telah dirusak oleh strategi iblis yang dasyat (kejadian 3). Dalam teks I Yohanis 2:15-17, juga meng-gambarkan strategi tersebut yakni:
1. Keinginan daging (buah itu - makan - Galatia 21).
2. Keinginan mata (sedap kelihatannya).
3. Keangkuhan hidup (memberi pengertian - sama dengan Allah). 3 ta (harta, taktha, wanita).
3. Penebusan.
Kristus datang membawa pemulihan hubungan antara Allah dan manusia, manusia dengan manusia serta manusia dengan lingkungan serta dirinya sendiri. Ini memberi dampak pada kehadiran sukacita keluarga (Efesus 2:11-22; I Petrus 1:18-19).
5. Pemulihan
Menjalani kehidupan dalam sukacita keluarga hingga maut yang memisahkan maka perlu diperhatikan:
1. Setiap anggota keluarga/keluarga lahir dari Allah (Yohanis 1:12-13; 3:3 ; I Yohanis 3:9; I Petrus 1:239; Titus 3:4-510)
2. Setiap anggota keluarga/keluarga hidup dipimpin dan dipe-nuhi oleh Roh Kudus (Roma 8:14; Galatia 5:2511 ; Efesus
5:1812).
Sukacita keluarga, berhubungan erat dengan pola hidup keluarga yang dibangun sebagai komitmen keluarga dalam hidup bersama. Pada bagian tulisan dibawah ini adalah kutipan yang dapat memberi masukan positif dalam mem-bangun sukacita keluarga
.
6 Hal penting yang mungkin absen dalam keluarga
Kita mungkin tidak mengalami tinggal serumah dengan anggota keluarga yang belum kristen dan berbeda keyakinan. Seluruh anggota keluarga kita mungkin semuanya adalah kristen. Kita dibesarkan dalam keluarga kristen dan karena itu kita merasa nyaman. Namun, apakah keluarga ini benar-benar adalah keluarga kristen, atau itu hanya identitas saja? Ya, "kenyamanan" berada dalam keluarga kristen ini kadang justru membuat kita lengah, sehingga kita melupakan nilai-ni-lai kristiani yang seharusnya seluruh anggota keluarga junjung sebagai keluarga kristen. Coba periksa, jangan-jangan hal-hal penting ini bawah ini sudah lama terlupakan.
1. Beribadah di gereja bersama-sama
Kapan terakhir kal kita dan seluruh isi rumah kita beribadah di gereja bersama-sama? Jangan-jangan tiap-tiap anggota keluarga sudah punya urusan masing-masing sehingga melu-pakan kebersamaan penting ini. Memang tidak diharuskan untuk beribadah bersama-sa-ma, namun jika memungkinkan,
11 5:25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipim-pin oleh Roh,
kenapa tidak mulai dibudayakan? Sehingga seluruh anggota keluarga bisa bersama-sama bertumbuh dalam iman.
2. Membangun mezbah keluarga
Mezbah keluarga adalah waktu di mana seluruh anggota keluarga berkumpul bersama mendekatkan diri kepada tuhan secara bersama-sama. Entah itu dengan berdoa bersama,
Adakah antusiasme dan energi dalam mendukung hal-hal yang penting bagi setiap anggota keluarga? Adakah reaksi yang menyenangkan ketika mendengar adik/kakak diterima kerja dengan kesejahteraan yang lebih baik, misalnya? Atau justru reaksi kita datar saja dan terkesan tidak tertarik sama sekali? Roma 12:15 berkata: "bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang me-nangis!".
4. Waktu bagi keluarga.
Kapan terakhir kali kita menyediakan quality time bagi anggota keluarga kita? Banya orang melupakan waktu pen-ting ini dan lebih mengutamakan pekerjaan dan teman- teman. Adakah waktu yang kita sisihkan (bukan sisakan) untuk kita lewatkan bersama anggota keluarga lainnya. Sehingga kita mempunyai waktu yang baik untuk berkomunikasi, bertukar pikiran, bertukar perasaan dan lain sebagainya untuk semakin meningkatkan tali kasih dan ikatan batin di antara anggota ke-luarga.
5. Memberi lebih
"ah andaikan aku lupa hari itu, dia pasti bisa memaklumi, dia kan tahu betapa sibuknya aku akhir-akhir ini". Pola pikir seperti ini kemudian menghalangi kita untuk kemudian memberi /melakukan lebih dan bahkan yang terbaik bagi anggota keluarga sendiri. Jika untuk orang lain saja kita diminta untuk memberi lebih (matius 5:41), bukankah terlebih lagi se-harusnya untuk keluarga sendiri?
6. Komunikasi yang hangat
Memang satu rumah, namun sering kali kita hanya ber-bicara saat ada kebutuhan saja. Anak berber-bicara ke-pada orang tua saat hanya meminta uang saku atau ketika pamit ke sekolah. Demikian juga orang tua tidak pernah bertanya apa saja rencana anak dan apa saja yang ia lakukan seharian. Suami berbicara kepada istri hanya saat butuh kopi, dan istri berbicara pada suami hanya saat uang belanja habis.13
UNTUK DIDISKUSIKAN: SUKACITA KELUARGA. Lingkari:
Jenis Kelamin : 1. Laki-laki; 2. Perempuan. Status Keluarga : 1. Nikah; 2. Belum menikah; 3. Duda; 4. Janda
Usia Perkawinan:
1. Apa yang menyebabkan tidak terwujudnya sukacita dalam keluarga?
a. ____________________________________________
b.____________________________________________
c.____________________________________________
d.____________________________________________
e.____________________________________________
2 . Mengapa itu dapat terjadi sehingga tidak terwujud su-kacita dalam keluarga?
a.____________________________________________
b.____________________________________________
c.____________________________________________
d.____________________________________________
e.____________________________________________
3. Bagaimana sukacita keluarga dapat terwujud. Apa yang dapat dilakukan?
a. ____________________________________________
c.____________________________________________
d.____________________________________________