BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Terminologi Judul
2.1.1. Definisi Rumah Sakit
a. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no. 340/Menkes/Per/III/2010, Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat (Depkes RI, 2010).
b. Menurut Kepmenkes no. 1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan, yang dimaksud dengan Rumah Sakit adalah fasilitas pelayanan perorangan yang menyediakan rawat inap dan rawat jalan yang memberikan pelayanan jangka panjang yang terdiri dari observasi, diagnostik, terapeutik, dan rehabilitatif untuk orang-orang yang menderita sakit, cidera, dan melahirkan (Depkes RI, 2006).
2.1.2. Definisi Ibu
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ibu berarti wanita yang telah melahirkan seseorang.
2.1.3. Definisi Anak
Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002, Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Anak diklasifikasikan dalam 6 kategori menurut kelompok umur, yaitu:
a. Kelompok Umur Perinatal atau Pra-lahir
Adalah bayi yang masih dalam kandungan yang dibagi dalam dua kelompok: 1. Perinatal pertama, yaitu bayi dalam kandungan yang berusia 28 minggu
2. Perinatal Kedua, yaitu bayi dalam kandungan yang berusia 20 minggu sampai dengan bayi yang telah lahir usia 28 hari (20 minggu s/d 28 hari). Perlu dicatat disini kenapa kelompok umur ini tidak termasuk usia dibawah 20 minggu, karena bayi dalam kandungan yang dibawah 20 minggu adalah janin yang notabenenya bila pada saat tersebut lahir maka janin tersebut tidak akan bisa hidup, sehingga penekanannya bukan perhatian pada anak tetapi perhatian pada ibu hamilnya. Sangat jelas tidak termasuk dalam devinisi anak dalam UU Perlindungan anak diatas.
b. Kelompok Umur Neonatus
Adalah bayi yang baru lahir sampai dengan usia dibawah 28 hari (< 28 hari). Arti kata dari neonatus itu sendiri adalah neo = baru dan natus = lahir.
c. Kelompok Umur Infant
Adalah bayi yang dimulai dengan usia 0 bulan sampai 1 tahun (bayi < 1 tahun).
d. Kelompok Umur Batita
Adalah anak yang dikelompokan dalam umur Bawah Tiga Tahun maksudnya anak termasuk bayi yang usianya di bawah tiga tahun (< 3 tahun).
e. Kelompok Umur Balita
Adalah Anak yang dikelompokan dalam umur dari Bawah Lima Tahun maksudnya anak termasuk bayi yang usianya dari 0 bulan sampai dengan usia lima tahun (< 5 tahun). Istilah balita kadang juga ditambahkan dengan kata anak didepannya yaitu anak balita, kalau demikian maka umurnya dimulai dari 1 tahun sampai dengan 5 tahun (1-5 tahun).
f. Kelompok Umur Anak Usia Sekolah
anak yang usianya 5-14 tahun. Dan kelompuk umur kedua yaitu remaja (15 tahun s/d 18 tahun).
Menurut Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Ibu dan Anak tahun 2010, anak adalah seseorang yang berusia <18 tahun.
2.2. Tinjauan Teoritis
2.2.1. Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang RI no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
2.2.2. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009, rumah sakit umum mempunyai fungsi:
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan. d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.
2.2.3. Jenis dan Klasifikasi Rumah Sakit
2.2.3.1. Jenis Rumah Sakit Secara Umum
a. Berdasarkan jenis pelayanan 1. Rumah Sakit Umum
Memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.
2. Rumah Sakit Khusus
Memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.
b. Berdasarkan pengelolaannya
1. Rumah Sakit Publik, dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan badan hukum yang bersifat nirlaba. Rumah Sakit Pemerintah dalam penyelenggaraannya diwajibkan untuk melayani masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Rumah Sakit Privat, dikelola oleh badan hukum dengan tujuan pofit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero.
2.2.3.2. Klasifikasi Rumah Sakit
Menurut Undang-Undang RI no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan fungsi rujukan, Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan Rumah Sakit (Depkes RI, 2009).
a. Klasifikasi Rumah Sakit Umum
1. Rumah Sakit Umum kelas A
Adalah rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspsialistik luas. Rumah Sakit Umum Kelas A harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4(empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar, 5(lima) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, 12(dua belas) Pelayanan Medik Spesialis Lain dan 13(tiga belas) Pelayanan Medik Sub Spesialis.
2. Rumah Sakit Umum kelas B
4(empat) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik, 8(delapan) Pelayanan Medik Spesialis Lainnya, dan 2(dua) Pelayanan Medik Subspesialis Dasar. 3. Rumah Sakit Umum kelas C
Adalah rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4(empat) Pelayanan Medik Spesialis Dasar dan 4(empat) Pelayanan Spesialis Penunjang Medik.
4. Rumah Sakit Umum kelas D
Adalah rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2(dua) Pelayanan Medik Spesialis Dasar.
b. Klasifikasi Rumah Sakit Khusus
1. Rumah Sakit Khusus kelas A 2. Rumah Sakit Khusus kelas B 3. Rumah Sakit Khusus kelas C
2.2.4. Rumah Sakit Pemerintah
Perbedaan pokok dengan rumah sakit swasta terutama sekali menyangkut sumber pendanaan rumah sakit yang bersangkutan, yakni kalau rumah sakit Pemerintah biaya untuk pengelolaan rumah sakit sepenuhnya didanai oleh Pemerintah, yaitu dengan cara menganggarkannya dalam APBN, APBD, dan lain-lainnya. Karena dana pengelolaan rumah sakit ini berasal dari Pemerintah maka segala pendapatan yang diperoleh oleh rumah sakit tersebut juga harus disetorkan ke Kas Negara (Iskandar, 1998).
Dalam penyelenggaraan pelayanannya, rumah sakit Pemerintah di wajibkan melayani masyarakat secara keseluruhan sehingga masyarakat miskin di daerah pelayanan dapat dilayani 100%.
2.2.5. Rumah Sakit Swasta
Namun dengan perkembangan masa dan pemikiran masyarakat, kondisi rumah sakit yang bertujuan sosial tersebut mengalami perubahan, karena sulit bagi pihak pengelola rumah sakit untuk mendapatkan biaya yang berasal dari sumbangan para relawan tersebut.sebab semakin hari biaya yang harus dikeluarkan oleh rumah sakit semakin besar, dan tidak seimbang lagi dengan pemasukan rumah sakit.sehingga untuk kelangsungan rumah sakit, pihak pendiri /pengelola membuat kebijaksanaan untuk menetapkan tarif pelayanan kepada pasien.
Setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 84 tahun 1990, ditegaskan bahwa pelayanan kesehatan swasta dibidang medis boleh diselenggarakan oleh: perorangan, kelompok, yayasan, atau badan hukum lainnya, dan dapat pula dilakukan oleh sebuah perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas yang profit oriented (memperhitungkan potensi keuntungan) (Iskandar, 1998)
2.2.6. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA)
Menurut Lampiran Keputusan Menkes no. RI no. 340/Menkes/Per/Iii/2010, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) adalah Rumah Sakit yang melayani kesehatan ibu dan anak, meliputi ibu pada masalah reproduksi dan anak berumur sampai dengan 18 tahun (Depkes RI, 2010).
Rumah Sakit Ibu dan Anak merupakan Rumah Sakit Khusus yang lingkup pelayanannya meliputi : promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif pada maternal, serta kesehatan reproduksi termasuk Ante Natal Care (ANC), pertolongan persalinan, perawatan nifas, pertolongan bayi baru lahir, perawatan bayi baru lahir, imunisasi, dan pelayanan kesehatan anak, program Keluarga Berencana (KB).
2.2.7. Klasifikasi Rumah Sakit Ibu dan Anak
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI no. 340/Menkes/Per/III/2010, Rumah Sakit Ibu dan Anak (khusus) di klasifikasikan menjadi beberapa kelas , yaitu kelas A, B, dan C. Klasifikasi tersebut ditetapkan berdasarkan :
1. Lingkup Pelayanan; 2. Sumber Daya Manusia; 3. Peralatan;
4. Sarana da Prasarana
2.2.8. Kriteria Klasifikasi Rumah Sakit Ibu Dan Anak
A. Lingkup Pelayanan
Tabel. 2.1. Lingkup Pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak
No. Lingkup Pelayanan Kelas A Kelas B Kelas C
1. Pelayanan spesialistik kebidanan dan kandungan Umum
+ + +
2.
Pelayanan Subspesialistik Kebidanan dan Kendungan:
a. Fetomaternal (perinatologi kebidanan)
+ + -
b. Onkologi Ginekologi + - -
c. Kesehatan reproduksi + - -
d. Obgyn sosial + - -
e. Uro-ginekologi Rekonstruksi + - -
3. Pelayanan Spesialis Anak Umum + + +
4.
Pelayanan Subspesialistik Anak:
a. Perinatologi + + -
b. Neurologi + - -
c. Hematologi-Onkologi + - -
d. Nefrologi + - -
e. Gastrohepatologi + - -
f. Respirologi + - -
g. Alergi imunologi + - -
h. Endokrinologi + - -
i. Nutrisi dan Metabolic + - -
j. Kardiologi + - -
k. Gawat Darurat Anak + + -
l. Infeksi dan penyakit tropis + - -
m. Tumbuh kembang dan Pediatri Sosial
No. Lingkup Pelayanan Kelas A Kelas B Kelas C
5.
Pelayanan Spesialis lainnya:
a. Spesialis Bedah Anak + - -
b. Spesialis Rehabilitasi Medik + + -
c. Spesialis Mata + + -
d. Spesialis THT + - -
e. Spesialis kulit Dan Kelamin + - -
f. Spesialis Bedah Umum + + +
g. Spesialis Penyakit Dalam + + +
h. Spesialis Anastesi + + +
i. Spesialis Radiologi + + +
j. Spesialis Patologi Klinik + + -
k. Spesialis Patologi Anatomi + - -
6. Pelayanan Gigi + + -
7. Pelayanan Psikolog + - -
8. Pelayanan Rawat Inap + + +
9. Pelayanan Rawat Jalan + + +
10. Pelayanan Gawat Darurat + + +
11.
Pelayanan Rawat Intensif (ICU, HCU, PICU, NICU)
+ +
(HCU, NICU)
+ (HCU)
12. Pelayanan Bersalin + + +
13. Pelayanan Operasi + + +
14. Pelayanan Darah + + -
15. Pelayanan Radiologi + + -
16. Pelayanan Laboratorium + + +
17. Pelayanan Farmasi + + +
18. Pelayanan Gizi + + +
19.
Pelayanan Penunjang Non medik:
a. Sterilisasi + + +
No. Lingkup Pelayanan Kelas A Kelas B Kelas C
c. Pemulasan Jenazah + - -
d. IPSRS + + +
e. IPLRS + + +
Permenkes RI no. 340/Menkes/Per/III/2010
B. Sumber Daya Manusia
Tabel. 2.2. Sumber Daya Manusia Pada Rumah Sakit Ibu dan Anak No.
1. Dokter Spesialis Obstetri – Ginekologi
4 2 2 1 1 -
Dokter Subspes. Fetomaternal
1 - - - - -
Dokter Subspes. Obgin Sosial
No.
Dokter Subspes. Nutrisi dan Metabolik
Dokter Subspes. Gawat Darurat
Dokter Subspes. Pencitraan Anak
Dokter Subspes. Infeksi Tropia
3. Dokter Spesialis
Lainnya:
a. Spesialis Bedah
Anak
No.
e. Spesialis Kulit Kelamin
1 - -
f. Spesialis
Bedah
Umum
1 1 1
g. Spesialis Penyakit Dalam
1 1 1
h. Spesialis Anastesi
1 1 1i. Spesialis Radiologi 1 1 1
j. Spesialis Patologi Klinik
1 1 -
k. Spesialis Patologi Anatomi
1 - -
II. Keperawatan dan
Bidan
4. D4 Kebidanan terlatih PONEK
No.
Jenis Ketenagaan
Kelas A Kelas B Kelas C
Total Tenaga Tetap
Total Tenaga Tetap
Total Tenaga Tetap
5. D3 Kebidanan terlatih PONEK
6. D1 Kebidanan terlatih PONEK
III. Kefarmasian
1. Apoteker 1 1 1
2. D3 Farmasi /Asisten Apoteker
1 1 1
IV. Laboratorium
1. S1 Analis Kesehatan 1 1 1
2. S2 Analis Kesehatan 1 1 1
V. Gizi
1. S1 Gizi Klinik /dietisien 1 1 1
2. D4 Gizi Klinik /dietisien 1 1 1
3. D3 Gizi Klinik /dietisien 1 1 1
4. D1 Gizi Klinik /dietisien 1 1 1
VI. Rekam Medis
1. S1 Rekam Medis 1 1 1
2. D3 Rekam Medis 1 1 1
C. Peralatan
Tabel. 2.3. Peralatan Pada Rumah Sakit Ibu dan Anak
No. Nama Peralatan Kelas A Kelas B Kelas C
1. Pelayanan Umum + - -
2. Pelayanan Spesialis Obstetri-Ginekologi
1. Laparoskopi operatif set + + -
b. Laparatorry set + + +
c. Sectio set + + +
d. Histerectomy set + + +
e. Colposcopy + + +
f. Alat kauterisasi + + +
g. Alat punksi + - -
h. Bone Densitometri + - -
i. Peralatan khusus bayi tabung + - -
j. USG + + +
k. Implant Kit + + +
l. IUD Kit + + +
m. Pap smear kit + + +
n. Dilatasi dan Curetase set + + +
o. CTG + + +
3. Pelayanan Spesialis Anak
a. Ventilator + + -
b. Bedside monitor + +
-c. CPAP + +
-d. Incubator + + +
e. ECG + + -
f. Phototerapy + + +
g. Infusion Devices + + +
h. Peritoneal Dialysis + - -
i. Hemodialisis + - -
j. Brain Mapping + - -
No. Nama Peralatan Kelas A Kelas B Kelas C
l. Endoscopy + - -
m. Colonoscopy + - -
n. pH meter + -
o. Echocardiography + - -
p. Orchidometer - - -
q. Ottium pemeriksaan gula + -
r. Spirometri + - -
s. BMP +
-t. Skin Prick Tets + - -
u. Infant Warmer + + +
4. Pelayanan Darah + + +
5. Rekam Medis + + +
6. Pelayanan Spesialis lainnya + + -
7. Pelayanan Spesialis Penunjang lainnya
+ + -
8. Pelayanan Rawat Inap + + +
9. Pelayanan Rawat Darurat + + +
10. Pelayanan Operasi + + +
11. Pelayanan Rawat Intensif + + -
12. Pelayanan Persalinan + + +
13. Pelayanan Radiologi + + +
14. Pelayanan Laboratorium + + +
15. Pelayanan Gizi + + +
16. Pelayanan Farmasi + + +
17. Pelayanan Rehabilitasi Medis + + -
D. Sarana dan Prasarana
Tabel. 2.4. Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Ibu dan Anak
INSTALASI / RUANGAN Kelas A Kelas B Kelas C
A. Instalasi Rawat Jalan
1. Gigi + + -
2. KIA + + +
3. Spesialis + + +
4. Subspesialis + + -
5. Ruang Menyusui + + +
6. Ruang Penyuluhan + + +
7. Ruang Konseling + + +
B. Instalasi Rawat Inap Ibu
Total TT Rawat Inap Ibu dan Anak >100 TT 50-100 TT 25-50 TT
1. Ruang Tindakan + + +
2. Ruang Isolasi + + -
3. Ruang Rawat Gabung + + +
4. Gudang Alat + + +
5. Kamar Mandi + + +
6. Ruang Perawat /Bidan + + +
7. Kamar Cuci Alat + + +
8. Ruang Pekarya + + -
9. Ruang Istirahat (1 toilet) + + -
10. Ruang Tunggu (1 toilet) + + +
11. Pantry + + +
12. Ruang Penyuluhan + + +
13. Ruang Dokter Jaga + + +
C. Ruang Rawat Inap Anak
1. Ruang Rawat + + +
INSTALASI / RUANGAN Kelas A Kelas B Kelas C
3. Ruang Observasi + + -
4. Ruang Isolasi + + -
D. Ruang Pendukung
1. Ruang Menyusui + + +
2. Ruang Tindakan + + +
3. Ruang Observasi (lamp) + + +
4. Ruang Perawat + + +
5. Tempat Penyimpanan ASI + + +
E. Ruang Bersalin
1. Ruang Administrasi + + +
2. Ruang Persiapan Pasien + + +
3. Ruang Bersalin + + +
4. Ruang Observasi + + +
5. Ruang Isolasi + + +
6. Kamar Pemrosesan Alat + + +
7. Ruang Bidan/ Perawat/ Dokter + + +
8. Ruang Pemeriksaan + + +
9. Ruang Alat Pembersih + + +
10. Gudang Perlengkapan Habis Pakai + + + 11. Gudang Perlengkapan Tidak Habis
Pakai
+ + +
12. Kamar Mandi + + +
13. Ruang Tunggu + + +
F. Instalasi Gawat Darurat
1. Ruang Resusitasi + + +
2. Ruang Tindakan + + +
3. Ruang Tunggu + + +
INSTALASI / RUANGAN Kelas A Kelas B Kelas C
G. Instalasi Pusat Sterilisasi + - -
H. Instalasi Laboratorium
1. Ruang Pengambilan Sampel + + +
2. Ruang Pemeriksaan Sampel + + +
3. Gudang Perlengkapan habis pakai + + +
4. Gudang Perlengkapan tidak habis pakai
+ + +
5. Kamar cuci alat + + +
6. Lemari instrumen + + +
7. Toilet + + +
I. High Care Unit (HCU)
1. Ruang pasien dewasa + + -
2. Ruang parinatal + + -
3. Ruang resusitasi & tindakan + + -
4. Ruang isolasi + + -
5. Ruang dapur ASI + + -
6. Ruang dokter jaga + + -
7. Ruang perawat jaga + + -
8. Kamar mandi + + -
9. Gudang perlengkapan habis pakai + + -
10. Gudang perlengkapan tidak habis pakai
+ + -
11. Ruang sterilisasi + lemari instrumen + + -
J. NICU /PICU + + -
K. ICU + + -
L. Ruang Operasi
1. Mesin Anasthesi + + +
INSTALASI / RUANGAN Kelas A Kelas B Kelas C
3. Dc Shock + + +
4. Ventilator + + +
5. Ambubag : Dewasa, Anak, dan Neonatus
+ + +
6. Peralatan SC + Laparotomy + + +
7. Ruang Strerilisasi + lemari instrumen
+ + +
8. Ruang Operasi Utama + + +
9. Kamar Ganti Staf + + +
10. Ruang Ganti Brankar + + +
11. Toilet (jumlah) + + +
12. Tempat antisepsis /cuci tangan operator
+ + +
13. Ruang gas medis + + +
14. Ruang dokter + + +
15. Ruang perawat + + +
16. Ruang pemulihan + + +
17. Kantor + + +
M. Instalasi Radiologi + + -
N. Instalasi Laboratorium + + +
O. Instalasi Patologi Anatomi + + -
P. Instalasi Farmasi + + +
Q. Instalasi Gizi + + +
R. Instalasi Rehabilitasi Medis + - -
S. IPSRS + + +
T. IPLRS + + +
U. Rekam Medis + + +
V. Ruang KDRT + - -
E. Administrasi dan Menejemen
Tabel. 2.5. Administrasi dan Menejemen Rumah Sakit Ibu dan Anak
No. Administrasi dan Menejemen Kelas A Kelas B Kelas C
1. Status Badan Hukum + + +
2. Struktur Organisasi + + +
3. Tatalaksana/ Tata Kerja/ Uraian Tugas
+ + +
4. Peraturan Internal Rumah Sakit + + +
5. Komite Medik + + +
6. Komite Etik & Hukum + + +
7. Saluran Pemeriksaan Internal + + +
8. Surat Izin Praktik Dokter + + +
9. Perjanjian Kerjasama Rumah Sakit & Dokter
+ + +
10. Akreditasi RS + + +
Permenkes RI no. 340/Menkes/Per/III/2010
2.2.9. Spesialisasi dalam Kesehatan dan Pengertiannya
Menurut kamus Saku Kedokteran Dorland, 1995 :
a. Obstetri-Ginekologi (Obgin)
Adalah cabang kedokteran yang menangani kehamilan, kelahiran, dan pueperium (periode atau keadaan setelah melahirkan)
b. Onkologi
Adalah pengetahuan mengenai tumor /kanker.
c. Endokrinologi
Adalah cabang kedokteran yang berhubungan dengan penyakit kelainan hormon.
d. Gastrohepatologi
Adalah cabang kedokteran yang berhubungan dengan peradangan lambung dan hati.
e. Hematologi
f. Patologi
Adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari sifat esensial penyakit, khususnya perubahan pada jaringan dan organ tubuh yang menyebabkan atau disebabkan penyakit.
g. Kardiologi
Adalah cabang kedokteran yang mempelajari tentang kesehata jantung dan fungsinya.
h. Nefrologi
Adalah cabang kedokteran yang berhubungan dengan ginjal
i. Neurologi
Adalah cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan sistem saraf, baik normal maupun sakit.
j. Perinatologi
Adalah cabang ilmu kedokteran (obstektrik dan pediatrik) yang berhubungan dengan janin dan bayi selama masa perinatal (bayi umur 0-28 hari).
k. Respirologi
Adalah cabang kedokteran yang berhubungan dengan pernapasan.
l. Anastesi
Adalah cabang kedokteran yang berhubungan dengan penghilangan kemampuan untuk merasakan sakit, disebabkan karena pemberian obat atau intervensi medis lainnya.
m. Radiologi
Adalah cabang ilmu kesehatan mengenai zat radioaktif dan energi pancarannya yang berhubungan dengan diagnosis dan pengobatan penyakit, baik dengan cara radiasi ionisasi (seperti sinar-X) maupun nonionisasi (seperti ultrasonografi).
n. Farmasi
Adalah cabang ilmu kesehatan yang berkenaan dengan pembuatan, penyaluran, dan penggunaan obat dengan benar.
o. Pediatrik
2.3. Tinjauan Fungsi
2.3.1. Deskripsi Pengguna Kegiatan
Pengguna dan pelaku kegiatan di Rumah Sakit Ibu dan Anak ini terbagi atas: a. Tenaga Medis (Kesehatan)
Menurut Undang-Undang Kesehatan nomor 23 tahun 1992, Tenaga Medis atau tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
b. Tenaga Non Medis Pengelola
Karyawan Service
c. Pengunjung Farmasi d. Pasien Rawat Jalan
Adalah pasien yang hanya memperoleh pelayanan kesehatan tertentu (Iskandar, 1998:57).
e. Pasien Rawat Inap
Adalah pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan dengan cara menginap dan dirawat di rumah sakit (Iskandar, 1998:57).
f. Penunggu Pasien Rawat Inap g. Pengunjung Pasien Rawat Inap h. Pasien Gawat Darurat
2.3.2. Unit Pelayanan Medis dan Pelayanan Tambahan
A. Pelayanan Medik
1. Instalasi Rawat Jalan (Poliklinik)
Unit rawat jalan haruslah ditempatkan berdekatan dengan layanan vitals seperti registrasi dan medical record, penerimaan, UGD dan layanan sosial. Juga harus mudah menjangkau laboratorium, radiologi, farmasi dan terapi fisik karena pasien rawat jalan menggunakan semua fasilitas diagnosa dan terapi selama kunjungannya.
2. Instalasi Rawat Inap
Area pasien terdiri dari ruangan pribadi, semi pribadi, dan bagian bangsal dengan banyak tempat tidur yang dirancang menjadi daerah perawatan dan terapi yang aman, indah, dan kondusif untuk pemulihan dengan cepat.
3. Instalasi Gawat Darurat
Ruang gawat darurat secara tak langsung dapat pula dikatakan merupakan bagian yang penting dari bagian atau unit rawat jalan.
Bagian unit gawat darurat ini haruslah berada di lantai dasar yang mudah dijangkau oleh pasien dan ambulans. Juga harus memiliki pintu
masuk yang terpisah, yang jauh dari pintu masuk rumah sakit utama dan pintu masuk ke pasien rawat jalan. Juga harus diberi tanda dengan jelas menggunakan lampu atau tanda yang sesuai dan harus mudah terlihat dan dapat diakses dari jalan utama. Karena bagian unit gawat darurat ini menjadi pintu utama ke rumah sakit pada malam hari, maka harus berdekatan dengan transportasi umum dan kendaraan umum (Kunders, 2004).
Bagian ini haruslah berdekatan dengan bagian penerimaan, medical record dan juga bagian kasir.
4. Instlasi Rawat Intensif
a. ICU (Intensive Care Unit) b. NICU (Neonatal Care Unit)
B. Pelayanan Penunjang Medik 1. Radiologi
Fungsi utama dari layanan radiologi adalah membantu petugas klinis dalam melakukan diagnosa dan pengobatan penyakit melalui pemakaian radiografi, fluoroscopy, radioisotop dan percepatan volume tinggi.
2. Farmasi 3. Anastesi 4. Laboratorium
Laboratorium ini haruslah berada di lantai dasar untuk dapat melayani pasien rawat jalan, bagian unit gawat darurat dan bagian penerimaan pasien. Juga harus berdekatan atau mudah diakses oleh bagian bedah, unit perawatan intensif, radiologi dan obstetrik.
C. Pelayanan Penunjang Non Medik 1. Bengkel (Workshop) 2. Instalasi Gizi (Dapur) 3. Cuci (Loundry) 4. Gudang Peralatan:
Bahan Bakar Makanan / Minuman
5. Rekam Medis 6. Mushalla
7. Cafetaria (Kantin) 8. Ruang Bermain Anak 9. Mini Market
D. Pelayanan Adminstrasi E. Service
2.3.3. Sistem Sirkulasi Antar Ruang
Menurut Sumber: Pokok-Pokok pedoman Arsitektur Medik Rumah Sakit Umum Kelas C (Depkes RI, 2009), sistem sirkulasi antar ruang-ruang pada masing-masing instalasi adalah sebagai berikut:
2.
2.3
.3.3.1. Ins
3.3.2. Insta
stalasi Raw
lasi Rawat
Gamb Gamb
wat Jalan
Inap
ar 2.6. Siste bar 2.5. Siste
em Sirkulas em Sirkulas
si Instalasi R si Instalasi R
Rawat Inap Rawat Jalan
2.3.3.3. Instalasi Rawat Intensif
2.3.3.4. Instalasi Radiologi
2.3.3.5. Instalasi Laboratorium
Gambar 2.7. Sistem Sirkulasi Instalasi Rawat Intensif
Gambar 2.8. Sistem Sirkulasi Instalasi Radiologi
2.3.3.6. Instalasi Bersalin
2.3.3.7. Instalasi Bedah (Operasi)
2.3.3.8. Instalasi Rehabilitasi Medis
Gambar 2.10. Sistem Sirkulasi Instalasi Bersalin
Gambar 2.11.Sistem Sirkulasi Instalasi Bedah (Operasi)
2.3.3.9. Instalasi Farmasi
2.3.3.10. Instalasi Gizi (Dapur)
2.3.3.11. Loundry (Cuci)
Gambar 2.13. Sistem Sirkulasi Instalasi Farmasi
Gambar 2.14. Sistem Sirkulasi Instalasi Gizi (Dapur)
2.3.4. Persyaratan Bangunan Rumah Sakit
2.3.4.1. Pengertian
2.3.4.2. Persyaratan
Persyaratan meliputi berbagai kelompok sebagai berikut: 1. Ligkungan bangunan
9. Jumlah tempat tidur 10. Sanitasi dan gudang
Berikut uraian persyaratan bangunan rumah sakit menurut SK Menkes no. 1204/MENKES/SK/X/2004.
A. Lingkungan Bangunan Rumah Sakit
1. Lingkungan bangunan rumah sakit harus mempunyai batas yang jelas, dilengkapi dengan pagar yang kuat dan tidak memungkinkan orang atau binatang peliharaan keluar masuk dengan bebas.
2. Luas lahan bangunan dan halaman harus disesuaikan dengan luas lahan keseluruhan sehingga tersedia tempat parkir yang memadai dan dilengkapi dengan rambu parkir.
3. Lingkungan bangunan rumah sakit harus bebas dari banjir. Jika berlokasi di daerah banjir harus menyediakan fasilitas/teknologi untuk mengatasinya. 4. Lingkungan rumah sakit harus merupakan kawasan bebas rokok
5. Lingkungan bangunan rumah sakit harus dilengkapi penerangan dengan intensitas cahaya yang cukup.
6. Lingkungan rumah sakit harus tidak berdebu, tidak becek, atau tidak terdapat genangan air dan dibuat landai menuju ke saluran terbuka atau tertutup, tersedia lubang penerima air masuk dan disesuaikan dengan luas halaman 7. Saluran air limbah domestik dan limbah medis harus tertutup dan terpisah,
masing-masing dihubungkan langsung dengan instalasi pengolahan limbah. 8. Di tempat parkir, halaman, ruang tunggu, dan tempat-tempat tertentu yang
menghasilkan sampah harus disediakan tempat sampah.
9. Lingkungan, ruang, dan bangunan rumah sakit harus selalu dalam keadaan bersih dan tersedia fasilitas sanitasi secara kualitas dan kuantitas yang memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga tidak memungkinkan sebagai tempat bersarang dan berkembang biaknya serangga, binatang pengerat, dan binatang pengganggu lainnya.
B. Konstruksi Bangunan Rumah Sakit 1. Lantai
b. Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah
c. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan
2. Dinding
Permukaan dinding harus kuat, rata, berwarna terang dan menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak menggunakan cat yang mengandung logam berat
3. Ventilasi
a. Ventilasi alamiah harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik.
b. Luas ventilasi alamiah minimum 15 % dari luas lantai
c. Bila ventilasi alamiah tidak dapat menjamin adanya pergantian udara dengan baik, kamar atau ruang harus dilengkapi dengan penghawaan buatan/mekanis.
d. Penggunaan ventilasi buatan/mekanis harus disesuaikan dengan peruntukkan ruangan.
4. Atap
a. Atap harus kuat, tidak bocor, dan tidak menjadi tempat perindukan serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya.
b. Atap yang lebih tinggi dari 10 meter harus dilengkapi penangkal petir. 5. Langit-langit
a. Langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah dibersihkan. b. Langit-langit tingginya minimal 2,70 meter dari lantai.
c. Kerangka langit-langit harus kuat dan bila terbuat dari kayu harus anti rayap.
6. Konstruksi
Balkon, beranda, dan talang harus sedemikian sehingga tidak terjadi genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes.
7. Pintu
Pintu harus kuat, cukup tinggi, cukup lebar, dan dapat mencegah masuknya serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya.
a. Pemasangan jaringan instalasi air minum, air bersih, air limbah, gas, listrik, sistem pengawasan, sarana telekomunikasi, dan lain-lain harus memenuhi persyaratan teknis kesehatan agar aman digunakan untuk tujuan pelayanan kesehatan.
b. Pemasangan pipa air minum tidak boleh bersilangan dengan pipa air limbah dan tidak boleh bertekanan negatif untuk menghindari pencemaran air minum.
9. Lalu Lintas Antar Ruangan
a. Pembagian ruangan dan lalu lintas antar ruangan harus didisain sedemikian rupa dan dilengkapi dengan petunjuk letak ruangan, sehingga memudahkan hubungan dan komunikasi antar ruangan serta menghindari risiko terjadinya kecelakaan dan kontaminasi
b. Penggunaan tangga atau elevator dan lift harus dilengkapi dengan sarana pencegahan kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami oleh pemakainya atau untuk lift 4 (empat) lantai harus dilengkapi Automatic Rexserve Divide (ARD) yaitu alat yang dapat mencari lantai terdekat bila listrik mati.
c. Dilengkapi dengan pintu darurat yang dapat dijangkau dengan mudah bila terjadi kebakaran atau kejadian darurat lainnya dan dilengkapi ram untuk brankar.
10. Fasilitas Pemadam Kebakaran
Bangunan rumah sakit dilengkapi dengan fasilitas pemadam kebakaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku
C. Ruang Bangunan
Penataan ruang bangunan dan penggunaannya harus sesuai dengan fungsi serta memenuhi persyaratan kesehatan yaitu dengan mengelompokkan ruangan berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit sebagai berikut :
1. Zona dengan Risiko Rendah
Zona risiko rendah meliputi : ruang administrasi, ruang komputer, ruang pertemuan, ruang perpustakaan, ruang resepsionis, dan ruang pendidikan/pelatihan.
b. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, mudah dibersihkan, kedap air, berwarna terang, dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus berbentuk konus.
c. Langit-langit harus terbuat dari bahan multipleks atau bahan yang kuat, warna terang, mudah dibersihkan, kerangka harus kuat, dan tinggi minimal 2,70 meter dari lantai.
d. Lebar pintu minimal 1,20 meter dan tinggi minimal 2,10 meter, dan ambang bawah jendela minimal 1,00 meter dari lantai. Ventilasi harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik, bila ventilasi alamiah tidak menjamin adanya pergantian udara dengan baik, harus dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster) .
e. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1,40 meter dari lantai.
2. Zona dengan Risiko Sedang
Zona risiko sedang meliputi : ruang rawat inap bukan penyakit menular, rawat jalan, ruang ganti pakaian, dan ruang tunggu pasien. Persyaratan bangunan pada zona dengan risiko sedang sama dengan persyaratan pada zona risiko rendah.
3. Zona dengan Risiko Tinggi
Zona risiko tinggi meliputi : ruang isolasi, ruang perawatan intensif, laboratorium, ruang penginderaan medis (medical imaging), ruang bedah mayat (autopsy), dan ruang jenazah dengan ketentuan sebagai berikut : a. Dinding permukaan harus rata dan berwarna terang.
• Dinding ruang laboratorium dibuat dari porselin atau keramik setinggi
1,50 meter dari lantai dan sisanya dicat warna terang.
• Dinding ruang penginderaan medis harus berwarna gelap, dengan
ketentuan dinding disesuaikan dengan pancaran sinar yang dihasilkan dari peralatan yang dipasang di ruangan tersebut, tembok pembatas antara ruang Sinar-X dengan kamar gelap dilengkapi dengan transfer cassette.
c. Langit-langit terbuat dari bahan mutipleks atau bahan yang kuat, warna terang, mudah dibersihkan, kerangka harus kuat, dan tinggi minimal 2,70 meter dari lantai.
d. Lebar pintu minimal 1,20 meter dan tinggi minimal 2,10 meter, dan ambang bawah jendela minimal 1,00 meter dari lantai.
e. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1,40 meter dari lantai.
4. Zona dengan Risiko Sangat Tinggi
Zona risiko tinggi meliputi : ruang operasi, ruang bedah mulut, ruang perawatan gigi, ruang gawat darurat, ruang bersalin, dan ruang patologi dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Dinding terbuat dari bahan porslin atau vinyl setinggi langit-langit, atau dicat dengan cat tembok yang tidak luntur dan aman, berwarna terang. b. Langit-langit terbuat dari bahan yang kuat dan aman, dan tinggi minimal
2,70 meter dari lantai.
c. Lebar pintu minimal 1,20 meter dan tinggi minimal 2,10 m, dan semua pintu kamar harus selalu dalam keadaan tertutup.
d. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, mudah dibersihkan dan berwarna terang.
e. Khusus ruang operasi, harus disediakan gelagar (gantungan) lampu bedah dengan profil baja double INP 20 yang dipasang sebelum pemasangan langit-langit
f. Tersedia rak dan lemari untuk menyimpan reagensia siap pakai.
g. Ventilasi atau pengawasan sebaiknya digunakan AC tersendiri yang dilengkapi filter bakteri, untuk setiap ruang operasi yang terpisah dengan ruang lainnya. Pemasangan AC minimal 2 meter dari lantai dan aliran udara bersih yang masuk ke dalam kamar operasi berasal dari atas ke bawah. Khusus untuk ruang bedah ortopedi atau transplantasi organ harus menggunakan pengaturan udara UCA (Ultra Clean Air) System. h. Tidak dibenarkan terdapat hubungan langsung dengan udara luar, untuk
itu harus dibuat ruang antara.
j. Pemasangan gas medis secara sentral diusahakan melalui bawah lantai atau di atas langit-langit.
k. Dilengkapi dengan sarana pengumpulan limbah medis.
D. Kualitas Udara Ruang
1. Tidak berbau (terutana bebas dari H2S dan Amoniak)
2. Kadar debu (particulate matter) berdiameter kurang dari 10 micron dengan rata-rata pengukuran 8 jam atau 24 jam tidak melebihi 150 μg/m3, dan tidak mengandung debu asbes. Indeks angka kuman untuk setiap ruang/unit seperti tabel berikut :
Tabel 2.6. Indeks Angka Kuman Menurut Fungsi Ruang atau Unit
No. Ruang (Unit) Konsenterasi Maksimum
Mikro-organisme /m2 Udara (CFU/m3)
1. Operasi 10
2. Bersalin 200
3. Pemulihan/ perawatan
200-500
4. Observasi Bayi 200
5. Perawatan Bayi 200
6. Perawatan Prematur 200
7. ICU 200
8. Jenazah 200-500
9. Penginderaan Medis 200
10. Laboratorium 200-500
11. Radiologi 200-500
12. Sterilisasi 200
13. Dapur 200-500
14. Gawat Darurat 200
15. Administrasi Pertemuan
200-500
16. Ruang luka bakar 200
Tabel 2.7. Indeks Kadar Gas dan bahan Berbahaya dalam Udara Ruang Rumah Sakit
No. Parameter Kimiawi Rata-Rata Waktu
Pengukuran
Konsentrasi Maksimal
sebagai Standar
1. Karbon monoksida (CO)
8. Total Senyawa Organik yang mudah menguap (T.VOC)
- 1 ppm
Sumber : SK Menkes, no. 1204/MENKES/SK/X/2004
E. Pencahayaan
Pencahayaan, penerangan, dan intensitasnya di ruang umum dan khusus harus sesuai dengan peruntukannya seperti berikut:
Tabel 2.8. Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruangan atau Unit
No. Ruangan (Unit) Intensitas
Cahaya (Lux)
Warna cahaya sedang
2. Ruang Operasi Umum 300-500
3. Meja Operasi 10.000-20.000 Warna cahaya sejuk / sedang tanpa bayangan 4. Anastesi, pemulihan 300-500
5. Endoscopy, lab 75-100
Sumber : SK Menkes, no. 1204/MENKES/SK/X/2004
F. Penghawaan
Persyaratan penghawaan untuk masing-masing ruang atau unit seperti berikut : 1. Ruang-ruang tertentu seperti ruang operasi, perawatan bayi, laboratorium,
perlu mendapat perhatian yang khusus karena sifat pekerjaan yang terjadi di ruang-ruang tersebut.
2. Ventilasi ruang operasi harus dijaga pada tekanan lebih positif sedikit (minimum 0,10 mbar) dibandingkan ruang-ruang lain di rumah sakit.
3. Sistem suhu dan kelembaban hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga dapat menyediakan suhu dan kelembaban seperti dalam tabel berikut :
Tabel 2.9. Standar Suhu, Kelembaban, dan Tekanan Udara Menurut Ruangan (Unit)
No. Ruang (Unit) Suhu (ºC) Kelembaban (%) Tekanan
1. Operasi 19-24 45-60 Positif
2. Bersalin 24-26 45-60 Positif
3. Pemulihan /perawatan
22-24 45-60 Seimbang
4. Observasi Bayi 21-24 45-60 Seimbang No. Ruangan (Unit) Intensitas
Cahaya (Lux)
Keterangan
7. Koridor Min. 100
8. Tangga Min. 100
9. Administrasi /Kantor Min. 100 10. Ruang alat /gudang Min. 200
11. Farmasi Min. 200
12. Dapur Min. 200
13. Ruang Cuci Min. 100
14. Toilet Min. 100
15. Ruang Isolasi khusus Penyakit Tetanus
0,1-0,5 Warna cahaya biru
No. Ruang (Unit) Suhu (ºC) Kelembaban (%) Tekanan
5. Perawatan Bayi 22-26 35-60 Seimbang
6. Perawatan prematur 24-26 35-60 Positif
7. ICU 22-23 35-60 Positif
8. Jenazah /Autopsi 21-24 - Negatif
9. Penginderaaan media 19-24 45-60 Seimbang
10. Laboratorium 22-26 35-60 Negatif
11. Radiologi 22-26 45-60 Seimbang
12. Sterilisasi 22-30 35-60 Negatif
13. Dapur 22-30 35-60 Seimbang
14. Gawat Darurat 12-24 45-60 Positif
15. Administras, Pertemuan
21-26 - Seimbang
16. Ruang luka bakar 24-26 35-60 Positif
Sumber : SK Menkes, no. 1204/MENKES/SK/X/2004
4. Ruangan yang tidak menggunakan AC, sistem sirkulasi udara segar dalam ruangan harus cukup (mengikuti pedoman teknis yang berlaku).
G. Kebisingan
Persyaratan kebisingan untuk masing-masing ruangan atau unit seperti tabel berikut:
Tabel 2.10. Indeks Kebisingan Menurut Ruangan atau Unit
No. Ruangan (Unit) Kebisingan Max (waktu
pemaparan 8 jam dalam satuan
dBA)
1. Ruang pasien : Saat tidak tidur Saat tidur
45 40
2. Ruang Operasi Umum 45
3. Anastesi, pemulihan 45
4. Endoscopy, lab 65
5. Sinar X 40
Sumber : SK Menkes, no. 1204/MENKES/SK/X/2004
H. Fasilitas Sanitasi Rumah Sakit
Perbandingan jumlah tempat tidur pasien dengan jumlah toilet dan jumlah kamar mandi seperti pada tabel berikut:
Tabel 2.11. Indeks Perbandingan Jumlah Tempat Tidur, Toilet, dan Jumlah Kamar Mandi
No. Jumlah Tempat Tidur Jumlah
Toilet
Jumlah Kamar
Mandi
1. s/d 10 1 1
2. s/d 20 2 2
3. s/d 30 3 3
4. s/d 40 4 4
Setiap penambahan 10 tempat tidur harus ditambah 1 toilet &
1 kamar mandi
Sumber : SK Menkes, no. 1204/MENKES/SK/X/2004 No. Ruangan (Unit) Kebisingan Max (waktu
pemaparan 8 jam dalam satuan
dBA)
7. Tangga 45
8. Kantor /Lobby 45
9. Ruang alat /gudang 45
10. Farmasi 45
11. Dapur 78
12. Ruang Cuci 78
13. Ruang Isolasi 40
Tabel 2.12 Indeks Perbandingan Jumlah Karyawan, Jumlah Toilet, dan Jumlah Kamar Mandi
No. Jumlah Tempat Tidur Jumlah
Toilet
Jumlah Kamar
Mandi
1. s/d 20 1 1
2. s/d 40 2 2
3. s/d 60 3 3
4. s/d 80 4 4
5. s/d 100 5 5
Setiap penambahan 20 karyawan harus ditambah 1 toilet & 1
kamar mandi
Sumber : SK Menkes, no. 1204/MENKES/SK/X/2004
I. Jumlah Tempat Tidur
Perbandingan jumlah tempat tidur dengan luas lantai untuk kamar perawatan dan kamar isolasi sebagai berikut:
1. Ruang Bayi
a. Ruang perawatan minimal 2 m2 /TT b. Ruang Isolasi minimal 3,5 2 m2 /TT 5. Ruang Dewasa
a. Ruang perawatan minimal 4,5 m2 /TT b. Ruang Isolasi minimal 6 m2 /TT J. Lantai dan Dinding
Lantai dan dinding harus bersih, dengan tingkat kebersihan sebagai berikut : 1. Ruang Operasi : 0 - 5 CFU/cm2 dan bebas patogen dan gas gangrene 2. Ruang perawatan : 5 – 10 CFU/cm2
3. Ruang isolasi : 0 – 5 CFU/cm2 4. Ruang UGD : 5 – 10 CFU/cm2
2.3.4.3. Pengelolaan
Pengelolaan atau tata laksana meliputi hal-hal sebagai berikut. A. Pemeliharaan Ruang Bangunan
2. Pembersihan lantai di ruang perawatan pasien dilakukan setelah pembenahan/merapi-kan tempat tidur pasien, jam makan,
3. jam kunjungan dokter, kunjungan keluarga, dan sewaktu-waktu bilamana diperlukan.
4. Cara-cara pembersihan yang dapat menebarkan debu harus dihindari.
5. Harus menggunakan cara pembersihan dengan perlengkapan pembersih (pel) yang memenuhi syarat dan bahan antiseptik yang tepat.
6. Pada masing-masing ruang supaya disediakan perlengkapan pel tersendiri. 7. Pembersihan dinding dilakukan secara periodik minimal 2 (dua) kali setahun
dan di cat ulang apabila sudah kotor atau cat sudah pudar.
8. Setiap percikan ludah, darah atau eksudat luka pada dinding harus segera dibersihkan dengan menggunakan antiseptik.
B. Pencahayaan
1. Lingkungan rumah sakit, baik dalam maupun luar ruangan harus mendapat cahaya dengan intensitas yang cukup berdasarkan fungsinya.
2. Semua ruang yang digunakan baik untuk bekerja ataupun untuk menyimpan barang/peralatan perlu diberikan penerangan.
3. Ruang pasien/bangsal harus disediakan penerangan umum dan penerangan untuk malam hari dan disediakan saklar dekat pintu masuk, sekitar individu ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau dan tidak menimbulkan berisik. C. Penghawaan (Ventilasi) dan Pengaturan Udara
1. Penghawaan atau ventilasi di rumah sakit harus mendapat perhatian yang khusus. Bila menggunakan sistem pendingin, hendaknya dipelihara dan dioperasikan sesuai buku petunjuk sehingga dapat menghasilkan suhu, aliran udara, dan kelembaban nyaman bagi pasien dan karyawan. Untuk rumah sakit yang menggunakan pengatur udara (AC) sentral harus diperhatikan cooling tower-nya agar tidak menjadi perindukan bakteri Legionella dan untuk Air Handling Unit Filter (AHU) udara harus dibersihkan dari debu dan bakteri atau jamur.
3. Ruangan dengan volume 100 m3 sekurang-kurangnya 1 (satu) fan dengan diameter 50 cm dengan debit udara 0,5 m3/detik, dan frekuensi pergantian udara per jam adalah 2 (dua) sampai dengan 12 kali.
4. Pengambilan supply udara dari luar, kecuali unit ruang individual, hendaknya diletakkan sejauh mungkin, minimal 7,50 meter dari exhauster atau perlengkapan pembakaran.
5. Tinggi intake minimal 0,9 meter dari atap.
6. Sistem hendaknya dibuat keseimbangan tekanan.
7. Suplai udara untuk daerah sensitif, ruang operasi, perawatan bayi, diambil dekat langit-langit dan exhaust dekat lantai, hendaknya disediakan 2 (dua) buah exhaust fan dan diletakkan minimal 7,50 cm dari lantai.
8. Suplai udara di atas lantai.
9. Suplai udara koridor atau buangan exhaust fan dari tiap ruang hendaknya tidak digunakan sebagai suplai udara kecuali untuk suplai udara ke WC, toilet, gudang.
10. Ventilasi ruang-ruang sensitif hendaknya dilengkapi dengan saringan 2 beds. Saringan I dipasang di bagian penerimaan udara dari luar dengan efisiensi 30 % dan saringan II (filter bakteri) dipasang 90 %. Untuk mempelajari sistem ventilasi sentral dalam gedung hendaknya mempelajari khusus central air conditioning system.
11. Penghawaan alamiah, lubang ventilasi diupayakan sistem silang (cross ventilation) dan dijaga agar aliran udara tidak terhalang.
12. Penghawaan ruang operasi harus dijaga agar tekanannya lebih tinggi dibandingkan ruang-ruang lain dan menggunakan cara mekanis (air conditioner).
13. Penghawaan mekanis dengan menggunakan exhaust fan atau air conditioner dipasang pada ketinggian minimum 2,00 meter di atas lantai atau minimum 0,20 meter dari langit-langit.
15. Pemantauan kualitas udara ruang minimum 2 (dua) kali setahun dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas udara (kuman, debu, dan gas).
D. Kebisingan
1. Pengaturan dan tata letak ruangan harus sedemikian rupa sehingga kamar dan ruangan yang memerlukan suasana tenang terhindar dari kebisingan. 2. Sumber-sumber bising yang berasal dari rumah sakit dan sekitarnya agar
diupayakan untuk dikendalikan antara lain dengan cara :
a. Pada sumber bising di rumah sakit : peredaman. penyekatan, pemindahan, pemeliharaan mesin-mesin yang menjadi sumber bising. b. Pada sumber bising dari luar rumah sakit : penyekatan/penyerapan
bising dengan penanaman pohon (green belt), meninggikan tembok, dan meninggikan tanah (bukit buatan).
E. Fasilitas Sanitasi
1. Penyediaan Air Minum dan Air Bersih
c. Harus tersedia air minum sesuai dengan kebutuhan. d. Tersedia air bersih minimum 500 lt/tempat tidur/hari.
e. Air minum dan air bersih tersedia pada setiap tempat kegiatan yang membutuhkan secara berkesinambungan.
f. Distribusi air minum dan air bersih disetiap ruangan/kamar harus menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir dengan tekanan positif. g. Persyaratan penyehatan air termasuk kualitas air minum dan kualitas air
bersih sebagaimana tercantum dalam Bagian III tentang Penyehatan Air. 2. Fasilitas Toilet dan Kamar Mandi
a. Harus tersedia dan selalu terpelihara serta dalam keadaan bersih.
b. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang, dan mudah dibersihkan.
c. Pada setiap unit ruangan harus tersedia toilet (jamban, peturasan dan tempat cuci tangan) tersendiri. Khususnya untuk unit rawat inap dan kamar karyawan harus tersedia kamar mandi.
d. Pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi dilengkapi dengan penahan bau (water seal).
f. Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar. g. Toilet dan kamar mandi harus terpisah antara pria dan wanit, unit rawat
inap dan karyawan, karyawan dan toilet pengunjung.
h. Toilet pengunjung harus terletak di tempat yang mudah dijangkau dan ada petunjuk arah, dan toilet untuk pengunjung dengan perbandingan 1 (satu) toilet untuk 1 – 20 pengunjung wanita, 1 (satu) toilet untuk 1 – 30 pengunjung pria.
i. Harus dilengkapi dengan slogan atau peringatan untuk memelihara kebersihan.
j. Tidak terdapat tempat penampungan atau genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk.
3. Fasilitas Pembuangan Sampah
Persyaratan pembuangan sampah (padat medis dan domestik), limbah cair dan gas. Limbah padat rumah sakit adalah semua limbah rumah sakit yang berbentuk padat sebagai akibat kegiatan rumah sakit yang terdiri dari limbah medis padat dan non-medis.
a. Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi.
b. Limbah padat non-medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di rumah sakit di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman, dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya.
c. Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan. d. Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari
beriklim tropis, dengan suhu minimum 23oC -24oC dan suhu maksimum 30,6oC – 33,1oC. Kelembaban udara rata-rata 78-72%, kecepatan angin 0,42 m/sec dengan laju penguapan tiap bulannya 100,6 mm.
Berdasarkan data dari Kantor Statistik Kota Medan, pada tahun 2010 jumlah penduduk Kota Medan mencapai 2.097.610 jiwa.
Tabel 2.14. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Di Kota Medan Tahun 2005 – 2010
Tahun Jumlah
Penduduk
Luas Wilayah
(KM²)
Kepadatan Penduduk
(Jiwa/KM²)
[1] [2] [3] [4]
2005 2.036.185 265,10 7.681
2006 2.067.288 265,10 7.798
2007 2.083.156 265,10 7.858
2008 2.102.105 265,10 7.929,5
2009 2.121.053 265,10 8.001
2010 2.097.610 265,10 7,913
Sumber BPS Kota Medan
Tabel 2.15. Jumlah Penduduk Kota Medan Menurut Kelompok Umur Tahun 2010
No. Kelompok
Umur (Tahun)
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Laki – Laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5)
1 0-4 98.437 92.857 191.294
2 5-9 99.961 93.532 193.493
3 10-14 97.514 91.828 189.342
4 15-19 102.566 107.423 209.989
5 20-24 112.860 123.092 235.952
6 25-29 100.935 103.459 204.394
7 30-34 85.609 87.265 172.874
8 35-39 77.344 80.795 158.139
9 40-44 69.238 71.727 140.965
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Medan
2.4.2. Fasilitas Kesehatan di Kota Medan
Pada Profil Kesehatan Kota Medan tahun 2010 (Dinkes Kota Medan, 2011), disebutkan bahwa di Kota Medan terdapat fasilitas kesehatan yang terdiri dari:
Tabel 2.16. Fasilitas Kesehatan di Kota Medan
No. Jenis Fasilitas Jumlah Unit
1. Rumah Sakit Umum (RSU) 58
2. Rumah Sakit Jiwa 6
3. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) 8
4. Rumah Sakit Khusus lainnya 3
5. Rumah Sakit Bersalin 117
6. Puskesmas:
- Pusk. Rawat Inap - Pusk. Non Rawat Inap
39 13 26
7. Puskesmas Pembantu 41
8. Puskesmas Keliling 28
9. Posyandu 1406
10. Balai Pengobatan (Klinik) 359
11. Apotek 503
12. Praktek Dokter Umum 1511
13. Praktek Dokter Spesialis 996
14. Praktek Dokter Gigi 465
No. Kelompok
Umur (Tahun)
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Laki – Laki Perempuan Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5)
11 50-54 48.163 49.244 97.407
12 55-59 34.548 34.282 68.830
13 60-64 20.373 22.555 42.928
14 65-69 14.573 17.556 32.129
15 70-74 9.596 12.384 21.980
16 75 + 7.491 12.688 20.179
15. Laboratorium Kesehatan Pemerintah 42
16. Laboratorium Kesehatan Swasta 39
Sumber: Dinas Kesehatan Kota Medan
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) yang terdapat di Kota Medan hanya berjumlah 8 unit yang semuanya adalah milik swasta. Jumlah tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Medan yang tergolong anak-anak dan wanita produktif. Berikut disajikan penyebaran RSIA yang terdapat di Kota Medan.
Dari peta di atas dapat dilihat bahwa di Kecamatan Medan Johor tidak terdapat Rumah Sakit Ibu dan Anak, sedangkan pembangunan perumahan di Kecamatan
Medan Johor sangat pesat dan jumlah penduduk selalu naik setiap tahun. Jumlah penduduk di Kecamatan Medan Johor pada tahun 2009 adalah sebesar 116.220 jiwa, dan pada tahun 2010 sebesar 123.851 jiwa. Dalam satu tahun saja jumlah penduduk di Kecamatan Medan Johor naik sebanyak 7.631 jiwa.
2.4.3. Kecamatan Medan Johor
Kecamatan Medan Johor merupakan salah satu Kecamatan di Kota Medan. Kecamatan Medan Johor memiliki luas wilayah 14.58 km2. Menurut data dari Kantor Statistik Kota Medan, pada tahun 2010 jumlah penduduk di Kecamatan Medan Johor adalah sebesar 123.851 jiwa.
Tabel 2.17. Jumlah Penduduk di Kecamatan Medan Johor Menurut Kelompok Umur Tahun 2010
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Medan
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa jumlah penduduk berusia produktif berada pada angka yang cukup tinggi. Hal tersebut juga dapat meningkatkan jumlah keluarga dan angka kelahiran bayi di Kecamatan Medan Johor. Berdasarkan data dari Dinkes Kota Medan, jumlah ibu hamil dan bayi lahir hidup di Kecamatan Medan Johor menurut Puskesmas pada tahun 2010 yaitu:
Tabel 2.18. Jumlah Ibu Hamil dan Bayi Lahir Hidup di Kecamatan Medan Johor Menurut Puskesmas Tahun 2010
Jumlah Keluarga
Jumlah Ibu Hamil
Jumlah Bayi Lahir Hidup
Puskesmas Medan Johor 18.396 2.013 1.716
Puskesmas Kedai Durian 16.710 961 822
Total 35.106 2.974 2.538
Tidakadanya RSIA di kawasan Medan Johor menyebabkan ibu-ibu Maternal hanya dapat dilayani oleh Rumah Sakit Umum (RSU), Rumah Bersalin dan Praktek Bidan. Sedangkan anak-anak berusia 0-18 tahun yang sakit hanya dapat ditangani oleh RSU. Atau jika mereka ingin mendapatkan pelayanan yang lebih baik, mereka harus mencari Rumah Sakit Ibu dan Anak yang berada di tengah kota Medan yang letaknya lebih jauh dari tempat tinggal mereka, karena RSU ataupun Rumah Bersalin tidak khusus melayani ibu Maternal ataupun anak-anak, sehingga harus dirujuk ke rumah sakit khusus ibu dan anak.
2.5. Lokasi
2.5.1. Kriteria Pemilihan Lokasi
Terdapat beberapa persyaratan mengenai pemilihan lokasi Rumah Sakit, yaitu:
• Menurut Depkes RI dalam Pokok-Pokok Pedoman Arsitektur Medik
Rumah Sakit Umum Kelas C:
a. Ditinjau dari geografi, rumah sakit harus mempunyai lokasi yang dapat dijangkau oleh masyarakat dengan mudah,
b. Tersedianya infra struktur dan fasilitas dengan mudah, c. Tidak mengakibatkan pencemaran lingkungan di sekitarnya, d. Rumah sakit tidak tercemar oleh lingkungan luar rumah sakit,
e. Tersedianya luas tanah ± 3,5 ha, cukup untuk perkembangan selanjutnya,
f. Memenuhi persyaratan Peraturan Daerah setempat (Tata Kota yang berlaku).
• Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
147/menkes/per/i/2010 tentang Perizinan Rumah Sakit, luas tanah untuk Rumah Sakit dengan bangunan tidak bertingkat, minimal 1½ (satu setengah) kali luas bangunan dan untuk bangunan bertingkat minimal 2 (dua) kali luas bangunan lantai dasar.
2.5.2. Alternatif Lokasi Site
Terdapat 2 alternatif lokasi site, yaitu: 1. Lokasi A
No. Kriteria Lokasi
Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3
3 Pencapaian ke Lokasi
(1) Cukup mudah karena berada di jalan utama (jalan lintas sumatera) sehingga dapat langsung di akses oleh pengguna jalan, baik yang menggunakan kendaraan pribadi maupun angkot (angkot yang melintas jalan ini sangat banyak). Akan tetapi beresiko
kemacetan yang sering terjadi di simpang jalan Karya Wisata.
(3) Mudah karena berada di dalam kawasan
permukiman,
sehinga pengunjung yang tinggal di dalam kawasan tersebut dapat dengan mudah mengaksesnya. Terlebih lagi karena jalan di dalam kawasan ini berupa grid (blok) dan terhindar dari kemacetan yang biasanya terjadi di simpang jalan Karya Wisata.
(3) Mudah karena berada di jalan utama (jalan lintas sumatera)
Keterangan :
3 : Baik sekali 1 : Cukup 2 : Baik 0 : Kurang
2.5.4. Deskripsi Kondisi Eksisting Lokasi
Rumah Sakit Ibu dan Anak ini menargetkan masyarakat medis pada khususnya dan masyarakat umum pada ummnya sebagai user. Sehingga penempatan bangunan ini sebaiknya berada dekat dengan daerah kegiatan dan hunian mereka.
Kasus Proyek : Rumah Sakit Ibu dan Anak Status Proyek : Fiktif
Pemilik Proyek : Swasta
Lokasi tapak : Jl. Jend. A.H. Nasution (Karya Jasa), Kecamatan
Medan Johor, Medan Batas-batas site :
¾ Utara : Jl. Jend. A.H. Nasution (Karya Jasa) ¾ Timur : - Jl. Karya Budi
- Kawasan Komersil dan Perumahan (dalam proses pembangunan)
¾ Selatan : Perumahan Penduduk
¾ Barat : Kantor Dinas Tata Ruang Tata Bangunan
No. Kriteria Lokasi
Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3
6 Fungsi 7 Kontur Relatif Datar Relatif Datar Relatif Datar
utama dalam epos Ramayana dan Mahabharata seperti Dewi Sita, Dewi Kunti, Dewi Supraba, Drupadi, dan Kausalya. RSIA Puri Bunda didukung peralatan kedokteran modern seperti ruang bersalin yang dilengkapi continous and central monitoring CTG (cardiotocografi), ruang bayi dengan infant core unit dan photo therapy, ruang operasi yang dilapisi lapisan steril berstandar internasional, ruang pulih dan intensif care unit (ICU) serta USG 4 dimensi. Untuk kenyamanan pasca-persalinan, tersedia ruang rawat inap dengan peralatan dan perlengkapan standar hotel berbintang. Tersedia juga klinik laktasi yang menyediakan layanan konsultasi menyusui, perawatan, dan pemijatan bayi.
¾ Visi :
Menjadikan Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Bunda sebagai Rumah Sakit unggulan dan terdepan dalam memberikan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak terkemuka yang berstandar Internasional di wilayah Indonesia bagian timur khususnya di Bali.
¾ Misi :
• Menyelenggarakan pelayanan kesehatan reproduksi wanita dan
kesehatan anak yang sesuai dengan standar pelayanan tertinggi, aman, informatif, profesional, manusiawi dan terjangkau.
• Mengupayakan terwujudnya Sumber Daya Manusia yang profesional,
akuntabel dan berorientasi pelanggan.
• Melaksanakan pendidikan dan latihan yang berkesinambungan dalam upaya
menuju pelayanan prima.
• Menjalin kerjasama dengan instansi, perusahaan dan semua pihak yang
peduli terhadap pelayanan kesehatan khususnya kesehatan reproduksi wanita dan kesehatan anak.
• Menyelenggarakan pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang senantiasa
2.6.2. Rumah Sakit Ibu daAnak (RSIA) Bunda, Jakarta
Gambar 2.26. RSIA Bunda
Rumah Sakit Bunda terletak dipojok antara Jalan Sutan Syahrir dan Teuku Cik Ditiro adalah Kompleks, terletak didaerah bergengsi "Menteng" Jakarta Pusat ±1Km ke Timur dari "Bundaran HI / Wisma Nusantara".
Rumah Sakit Bunda Jakarta hari kelahirannya dianggap tanggal 27 Maret 1973 yang dikaitkan dengan kelahiran bayi pertama dirumah bersalin waktu itu ditolong oleh pendiri Rumah Sakit Bunda Jakarta adalah Dr. Rizal Sini SpOG. Rumah Sakit Bunda semula merupakan Rumah Sakit Bersalin yang bernaung dibawa " Yayasan Bunda" (1972) dengan kapasitas 26 tempat tidur dewasa, 1 kamar operasi, 1 kamar bersalin, 1 kamar bayi dan 1 ruang kamar praktek/poliklinik.
Rumah Sakit Bunda Jakarta melihat realita lebih dini mengakui bahwa rumah sakit adalah industri jasa yang serba kompleks. Visi dan misi industri jasa pada umumnya harus tergambar dan menjadi fondasi yang realistis harus mampu memikul beban yang berat menghadapi tantangan masa kekinian yang berkelanjutan. Modal kuat, asset, sistim tatakelola, sumber daya manusia dengan memperhitungkan kondisi sosioekonomi masyarakat yang dilayaninya dan landasan undang undang yang berlaku perlu diperhitungkan.
Rumah Sakit Bunda Jakarta Tahun 1976 telah berbadan hukum "Perseroan Terbatas" sebagai landasan kepemilikan asset dan penanggung fiscal (tax payer). Karena sebelumnya "diwajibkan" selaku pengelola (operator) rumah sakit adalah "Yayasan Bunda" namun kemudian setelah UU tentang Kesehatan (1992) dinyatakan "non aktif" hingga dua badan hukum sudah menjadi satu.
Rumah Sakit Bunda dalam ekspasi kedalam tahun 1995 meresmikan bangunan Blok C, merupakan pengembangan poliklinik dan.Klinik Fertilitas Morula (KFM). Pada tahun yang sama dibuka fasilitas "NICU", Neonatus Intensive Care Unit, yaitu kamar ICU untuk bayi dibawah pengawasan dokter spesialis anak dan tenaga perawat yang terdidik dan terlatih. Tahun 1996 peresmian "CDC", Comprehensive Delivery Care suatu inovasi yang dikembangkan. CDC adalah ruangan persalinan terpadu yang terdiri dari 1 kamar bersalin, 1 ruang untuk pasien dan bayi/rooming in, 1 ruang tidur untuk suami/ruang keluarga dengan fasilitas hotel berbintang. Pada tahun yang sama Rumah Sakit Bunda Jakarta menambah fasilitas pelayanan klinik Gigi dan Klinik kulit. Tahun 1997 peresmian "Wing Balita" ruang Perawatn anak usia sampai dengan 5 tahun. Fasilitas terdiri dari 6 kamar Utama dan 1 kamar kelas 2 dengan 4 tempat tidur.
Tahun 2000 penambahan fasilitas Bone densitometri dan Mamografi kebutuhan masa kini.Tahun 2003 peresmian bangunan Blok D yang terdiri dari 3 lantai, merupakan pengembangan dari klinik anak dan perawatan anak sampai dengan usia 10 tahun. Fasilitas di Blok D adalah 4 buah ruang praktek dokter anak, 1 ruangan terapi anak, 6 kamar perawatan anak kelas perdana dan 2 kamar perawatan anak kelas Utama, serta 1 lantai untuk ruang KIE (komunikasi informasi dan Edukasi) yang penggunaannya banyak diperuntuk bagi penyelenggaraan seminar-seminar dan pertemuan-pertemuan serta rapat-rapat intern managemen.
Dengan diresmikannya Blok D, maka fasilitas pelayanan untuk klinik anak bertambah dengan adanya klinik Tumbuh Kembang dan Klinik Alergi pada anak Balita.
Rumah Sakit Bunda dalam ekspasi keluar diawal millennium 2000, Landasan Kelompok Rumah Sakit Bunda Indonesia, kerjasama tidak formal antara beberapa rumah sakit swasta ditahun 1992 telah membentuk kerjasama berbadan hukum, PT. Bunda Global Pertama, antara rumah sakit di Medan, Padang, Batam, Palembang, Jakarta dan Semarang dengan kegiatan usaha a.l. kordinasi kegiatan rumah sakit "Bunda Indonesia Hospital Alliance", procurement kebutuhan bahan dan peralatan rumah sakit, "sharing" pengalaman dll. Tahun 2002, telah mengakuisisi salah satu rumah sakit di daerah, Rumah Sakit Umum Restu Ibu di Padang. Diawal tahun 2003 telah dimulai pula pembangunan RSU,Bunda Margonda, Depok dengan kekhususan, "Klinik Spesialis dan Rawat Sehari", seperti protype yang telah direncanakan dan sedang dibangun di RSU.Restu Ibu Padang
Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda memiliki beberapa fasilitas umum, pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, dan fasilitas pendukung lainnya, yaitu: a. Fasilitas Umum
Gambar 2.27. Area Parkir Gambar 2.28. Bunda Gift Shop
b. Pelayanan Kesehatan 1. Klinik Kebidanan
Gambar 2.31. Klinik Kebidanan
RSIA Bunda Jakarta memiliki klinik kebidanan yang melayani pemeriksaan kehamilan, penyakit kandungan dan persalinan. Waterbirth adalah salah satu fasilitas persalinan terkini yang memiliki dan masih jarang ditemui di rumah sakit persalinan lainnya.
2. Klinik Anak
RSIA Bunda Jakarta memiliki klinik anak yang memberikan pelayanan konsultasi anak kepada pasien yang memiliki keluhan seputar masalah kesehatan anak. Konsultasi akan dilayani oleh dokter spesialis anak (pediatric) dengan batuan para perawat. Konsultasi dokter spesialis anak dilakukan setiap hari sesuai dengan jam praktek dokter masing-masing.
Beberapa unggulan pelayanan klinik anak di RSIA Bunda Jakarta adalah:
o Tumbuh Kembang anak o Alergi pada anak
o Gangguan pada paru-paru anak o Psikologi anak
3. Klinik Gigi
Gambar 2.32. Klinik Gigi
Perawatan gigi adalah upaya yang dilakukan agar gigi tetap sehat dan dapat menjalankan fungsinya dengan baik. RSIA Bunda Jakarta memiliki fasilitas Klinik Gigi untuk memberikan pelayanan demi pemeliharaan kesehatan gigi. Pelayanan yang tersedia di rumah sakit ini adalah pelayanan gigi dalam bentuk preventif atau pencegahan dan pengobatan.
4. Klinik Dokter Umum
RSIA Bunda Jakarta memiliki klinik dokter umum yang disediakan bagi seluruh pasien yang datang dengan segala keluhan atau masalah kesehatan yang dialaminya. Klinik dokter umum memberikan konsultasi dan pengobatan kepada para pasien yang datang, atau untuk beberapa kasus dengan spesifikasi atau kekhususan tertentu akan dirujuk ke dokter spesailis lainnya dengan pengantar yang jelas dari dokter umum RSIA Bunda Jakarta.
5. Ruang Bersalin
RSIA Bunda memiliki fasilitas kamar bersalin yang nyaman untuk para pasien yang akan melahirkan di Bunda, dengan 3 buah kamar untuk persalinan dimana salah satunya adalah ruangan persalinan untuk waterbirth