• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN PANTANG MAKANAN DENGAN PENYEMBU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN PANTANG MAKANAN DENGAN PENYEMBU"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PANTANG MAKANAN DENGAN PENYEMBUHAN

LUKA JAHITAN PERINEUM PADA IBU NIFAS DI WILAYAH

KERJA PUSKESMAS ADAN-ADAN KECAMATAN GURAH

KABUPATEN KEDIRI

Tiara Putri Hardika *), Dwi Ertiana **)

*) STIKES Karya Husada Kediri, Jl Soekarno Hatta No 7, Kediri, 64225

**) STIKES Karya Husada Kediri, Jl Soekarno Hatta No 7, Kediri, 64225

Korespondensi:

[email protected]

ABSTRACT

Labor often results in a tear in the birth canal, a tear that occurs almost in all first-time labor and is not uncommon in subsequent labor. Postpartum women with perineal wound are very susceptible to infection by not doing abstinence food very influential to the long healing of perineal wound. The purpose of this research is to know the relationship of food runs with healing the perineum search watch on the nifas mother in the area work puskesmas adult of adan-adan puskesmas gurah district kediri regency.

This research uses observational research type and analytic research design. The approach used is cross sectional that is studying correlation dynamics by way of observation approach at Puskesmas Adan-Adan District Gurah Kediri Regency on July 26 until August 2, 2017. Independent variable in this research abstinence and dependent variable of wound healing of perineal suture on postpartum, With a population of 42 postpartum women using Purposive Sampling technique obtained a sample of 38 respondents postpartum mother. Instrument used questionnaire sheet and checklist sheet. This study uses Chi-Square statistical test with a significance level of 0.05.

Results showed the results (71.1%) of respondents have no food abstinence criteria as much as 27 respondents. While on wound healing of perineal suture obtained most of the respondents (68,4%) good as much as 26 respondents. Analysis of the results of this study shows that there is a relationship of abstinence with healing of perineal stitches on the puerperal mother, the value (p value = 0,000 < α = 5% = 0.05), with a moderate relationship level of 0.537 between abstinence and healing of perineal stitches wound stitches are sought to support maximum healing process.

Perinium stitching wound is sought to heal optimally with mothers not abstinence and dieting berimang, as with balanced diits, enough carbohydrates, proteins, fats, vitamins and minerals. Nutritional factors, especially protein will greatly affect the healing process of the perineal wound because the replacement of tissue is in need of protein.

Keywords: food abstinence, perinium suture wound healing, and post partum

ABSTRAK

Persalinan sering kali mengakibatkan robekan jalan lahir, robekan tersebut terjadi hampir pada semua persalinan pertama kali dan tidak jarang pada persalinan berikutnya.Ibu nifas yang mengalami luka perineum sangat rentan terhadap terjadinya infeksidengan tidak melakukan pantang makanan sangat berpengaruh terhadap lama kesembuhan luka perineum.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.

(2)

nifas.Instrument yang digunakan lembar kuesioner dan lembar checklist.Penelitian ini menggunakan uji statistikChi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan hasil (71,1%) responden memiliki kriteria tidakpantang makanan yaitu sebanyak 27 responden. Sedangkan pada penyembuhan luka jahitan perineum didapatkan sebagian besar responden (68,4%) baik sebanyak 26 responden. Analisis hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas, nilai (ρ value = 0,000 < α = 0,05), dengan tingkat hubungan sedang 0,537 antara pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum

Luka jahitan perinium diupayakan sembuh secara maksimal dengan ibu tidak pantang makanan dan melakukan diet seimbang, sebagimana dengan diit berimbang, cukup karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Faktor gizi terutama protein akan sangat berdampak pada proses penyembuhan luka perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein. Kata kunci : pantang makanan, penyembuhan luka jahitan perineum dan post partum

PENDAHULUAN Latar Belakang

Persalinan sering kali mengakibatkan robekan jalan lahir, robekan tersebut terjadi hampir pada semua persalinan pertama kali dan tidak jarang pada persalinan berikutnya (Sarwono, 2008). Ibu nifas yang mengalami luka perineum sangat rentan terhadap terjadinya infeksi, karena luka perineum yang tidak dijaga dengan baik dan daerah perineum yang tidak terjaga kebersihannyaakan sangat berpengaruh terhadap lama kesembuhan luka perineum (Sarwono, 2011).

Luka perineum adalah jaringan yang terletak disebelah distal diafrgma pelvis.Perinium mengandung sejumlah otot superfisial, saat persalinan, otot ini sering mengalami kerusakan ketika janin dilahirkan (Rohani dkk, 2011).

Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim sampai enam minggu berikutnya disertai dengan pulihnya kembali organ–organ yang berkaitan dengan kandungan yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya (Suherni, 2009). Ibu nifas dianjurkan untuk makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka perineum karena penggantian jaringan sangat membutuhkan protein (Rukiyah, 2010).

Pantang makanan tidak boleh dilakukan oleh ibu post partum karena dapat memperlambat proses penyembuhan

luka jahitan perineum sedangkan dalam proses penyembuhan luka sangat membutuhkan protein, maka ibu nifas di anjurkan untuk makan dalam pola yang benar sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya (Iskandar, 2010).Namun pada kenyataannya, masyarakat masih banyak yang tidak memperhatikan hal tersebut. Masyarakat masih mem-percayai adanya pantang makanan, mereka menerima dan menolak jenis makanan tertentu.Hasil penelitian Oktavia (2012) menunjukan bahwa ibu nifas yang tidak berpantang makanan penyembuhan luka jahitan perineum baik sebesar 95,7%, sedangkan ibu yang berpantangmakanan penyembuhan luka kurang baik sebesar 72,7%.Di Jawa timur tahun 2000 angka kejadian ibu nifas 39,6% yang tarak (Pantang) terhadap makanan (Depkes RI, 2008).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 17 Mei 2017 di wilayah kerja Puskesmas Adan- Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri didapatkan dari 10 ibu nifas yang yang didapati hanya 6 ibu nifas pantang makanan dan 4 ibu nifas yang tidak melakukan pantang makanan. Sebagian besar ibu tidak sepenuhnya melakukan pantang makanan. Hal ini dikarenakan faktor mitos yang masih berlaku dilingkungan masyarakat sekitar.

(3)

memilih dan menyajikan makanan (Marin, 2009). Selain itu, fenomena tersebut juga disebabkan karena adanya kepercayaan terhadap larangan-larangan orang tua zaman dahulu. Orang tua zaman dahulu mengatakan bahwa ibu dalam masa nifas dilarang memakan ikan karena makanan tersebut hanya akan menyebabkan darah nifas berbau busuk, tidak cepat kering dan melemahkan daya tahan tubuh baik fisik maupun mental serta menyebabkan gatal pada kulit. Selain itu, ibu nifas dilarang makan sayur karena makanan tersebut dianggap dapat mengakibatkan lemah sendi (Alex, 2008).

Dampak dari perilaku pantang makanan pada ibu nifas adalah kekurangan zat gizi, yang berdampak ASI tidak lancar, lambat kembalinya kondisi tubuh paska nifas, dan lamanya proses penyembuhan luka akan lebih lama sembuh bahkan bisa timbul infeksi dan masalah nifas yang lain. Kebutuhan gizi yang tercukupi akan membantu ibu nifas untuk mengembalikan tubuh pada masa nifas dan kelancaran pada proses menyusui. Banyak masalah pada masa nifas dikarenakan asupan nutrisi yang dikonsumsi ibu nifas tidak memenuhi syarat gizi, adanya budaya pantang makanan sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan ibu dan bayi pada masa nifas (Ardita, 2013).Namun pada kenyataanya, masyarakat masih banyak yang tidak memperhatikan hal tersebut.Masyarakat masih mempercayai adanya pantang makanan, mereka menerima dan menolak jenis makanan tertentu (Iskandar, 2010).

Untuk mengatasi permasalahan pantang makanan pada ibu nifas perlu melakukan beberapa hal agar kesembuhan luka jahitan berlangsung dengan normal. Upaya yang diberikan adalah konseling atau penyuluhan tentang masa nifas dan pantang terhadap makanan serta pengaruhnya terhadap penyembuhan luka perineum maupun yang lainnya sehingga diharapkan pengetahuan ibu dapat

ditingkatkan terutama oleh petugas kesehatan dalam memberikan motivasi yang positif terhadap ibu. Dengan meningkatnya pengetahuan ibu, diharapkan pantang makanan tidak lagi dilakukan oleh ibu nifas. Karena dengan pantang terhadap makanan ibu nifas tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi sehingga berdampak pada penyembuhan luka jahitan perineum yang lebih lama dan dapat menimbulkan infeksi (Marin, 2009).

Upaya lain yang harus dilakukan agar ibu hamil tidak menerapkan perilaku pantang makanan yaitu dengan penyampaian informasi pada waktu kehamilan khususnya tentang dampak dari pantang makanan pada masa nifas untuk dapat merubah perilaku masyarakat terutama pada ibu nifas. Pelatihan bagi tenaga kesehatan dan kader masyarakat tentang konseling dampak melakukan pantang makanan melalui kegiatan di posyandu arisan dan pertemuan di desa dengan menyebarkan leaflet dan mengikutsertakan suami dan keluarga sangat diperlukan untuk menunjang peningkatan pengetahuan ibu nifas tentang dampak pantang makanan sehingga ibu tidak melakukan pantang makanan (Asiandi, 2009).

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.

Tujuan Khusus

(4)

kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. 2. Mengidentifikasi karakteristik

penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.

3. Menganalisis hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.

JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN

Desainpenelitianadalahmerupakanca railmiahuntukmendapatkan data dantujuansertakegunaantertentu,

carailmiahberartikegiatanpenelitianini di dasarkan padaciri-cirikeilmuan, yaitu: rasional, empirisdansistematis (Sugiyono,2011).

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional dan desain penelitian analitik. Pendekatan yang digunakan adalah cross sectional yaitu mempelajari dinamika korelasi dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat, yang artinya tiap subyek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subyek pada saat pemeriksaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pantang

HASIL PENELITIAN DATA UMUM

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Berdasarkan diagram 4.1 diketahui bahwa dari38responden didapat sebagian besar responden (57,9%) umur 20-35 tahun yaitu sebanyak 22 responden

Karakteristik Responden Berdasarkan Penolong Pesalinan

Berdasarkan diagram 4.2 diketahui bahwa dari38responden didapat sebagian besar responden (55,3%) penolong persalinan bidan yaitu sebanyak 21 responden

Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas (Nursalam, 2011).

8 (21,1%)

10 (26,3%)

20

Dasar (SD, MI, SMP, MTs)(52,6%) Menengah (SMA, MA)

(5)

Berdasarkan diagram 4.3 diketahui bahwa dari 38 responden didapat sebagian besar responden (52,6%) pendikan

Karakteristik Responden Berdasarkan Tinggal Bersama

menengah (SMA, MA) yaitu sebanyak 20 responden.

Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

9 (23,7%)

18 (47,4%)

11 (28,9%)

11

(28,9%) (31,6%) 12

Suami dan anak Orang tua Nenek dan kakek

3 (7,9%)

3 (7,9%) 9

(23,7%)

Berdasarkan diagram 4.6 diketahui bahwa dari 38 responden didapat hampir setengah dari responden (47,4%) tinggal

IRT Swasta Wiraswasta PNS Lain-lain

Berdasarkan diagram 4.4 diketahui bahwa dari 38 responden didapat hampir setengah dari responden (31,6%) pekerjaan IRT yaitu sebanyak 12 responden

Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Anak

bersama orang tua yaitu sebanyak 18 responden

DATA KHUSUS

Distribusi Frekuensi Pantangan Makanan ibu Nifas

Kriteria Pantang Makanan Frek Persen

Tidak Pantang Makanan 27 71,1 Pantang Makanan 7 18,4 Pantang Makanan

10 Tertentu

4 10,5

(26,3%)

Total 38 100

9 (23,7%)

19 (50%)

Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada tabel diatas menunjukkan sebagian besar responden (71,1%) memiliki kriteria tidak pantang makanan

1 anak 2 anak >2 anak

Berdasarkan diagram 4.5 diketahui bahwa dari38responden didapat setengah dari responden (50%) jumlah anak 1 yaitu sebanyak 19 responden.

yaitu sebanyak 27 responden

Distribusi Frekuensi Penyembuhan Luka Jahitan Perineum

Kriteria Penyembuhan Frek %

Sedang 11 28,9 Baik 27 71,1

(6)

Pantang Makanan 3 7,9 1 2,6 4 10,5 Pantang makanan tidak boleh Tertentu

dilakukan oleh ibu post partum karena

Hubungan Pantang Makanan dengan Penyembuhan Luka Jahitan Perineum Pada Ibu Nifas di Wilayah Kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri

Kriteria Penyembuhan

PEMBAHASAN

Identifikasi Pantangan Makanan ibu Nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan- Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada bulan Agustus 2017 yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kriteria Pantang

Makanan

Luka Jahitan Perineum

Total Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri berdasarkan pantang makanan yang Sedang Baik

F % F % F %

dilakukan responden diketahui bahwa total 38 sampel didapatkan sebagian besar Tidak Pantang

Makanan

4 10,5 23 60,5 27 71,1 responden (71,1%) memiliki kriteria tidak pantang makanan yaitu sebanyak 27 Pantang Makanan 4 10,5 3 7,9 7 18,4 responden.

Jumlah 11 28,9 27 71,1 38 100

ρValue = 0,009 α = 0,05

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan pantang makanan responden dari 38 responden didapat sebagian besar responden kriteria tidak pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum baik sebanyak 23 responden (60,5%) dan sebagian kecil dari responden kriteria pantang makanan tertentu dengan penyembuhan luka jahitan perineum baik sebanyak 1 responden (2,6%).

Hasil analisis penelitian hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri, yaitu dari hasil uji statistik menggunakan chi- kuadrat didapatkan nilai ρ value = 0,009 < α 0,05 hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak H1 diterima, artinya ada hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Besar nilai coeffecient correlation didapat sebesar 0,446 masuk dalam kategori hubungan sedang arah hubungan positif sebab masuk dalam rentang nilai korelasi 0,40-0,599.

dapat memperlambat proses penyembuhan luka jahitan perineum sedangkan dalam proses penyembuhan luka sangat membutuhkan protein, maka ibu nifas di anjurkan untuk makan dalam pola yang benar sesuai dengan kualitas dan kuantitasnya (Iskandar, 2010).

Dampak dari perilaku pantang makanan pada ibu nifas adalah kekurangan zat gizi, yang berdampak ASI tidak lancar, lambat kembalinya kondisi tubuh paska nifas, dan lamanya proses penyembuhan luka akan lebih lama sembuh bahkan bisa timbul infeksi dan masalah nifas yang lain. Kebutuhan gizi yang tercukupi akan membantu ibu nifas untuk mengembalikan tubuh pada masa nifas dan kelancaran pada proses menyusui. Banyak masalah pada masa nifas dikarenakan asupan nutrisi yang dikonsumsi ibu nifas tidak memenuhi syarat gizi, adanya budaya pantang makanan sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan ibu dan bayi pada masa nifas (Ardita, 2013).

(7)

berpengaruh terhadap kesehatan ibu, pemulihan tenaga, penyembuhan luka perineum. Selain itu dengan ibu tidak pantang makanan dapat menepis adanya budaya pantang makanan sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan ibu dan bayi pada masa nifas, ibu nifas yang tidak berpantang makanan ibu lebih sehat dan penyembuhan luka jahitan perineum lebih cepat sembuh.

Berdasarkan penelitian Diana (2012) bahwa didapatkan hasil penelitian ada hubungan pengetahuan tentang gizi seimbang pada ibu nifas dengan penyembuhan luka jahitan perineum, hal ini karena pengetahuan responden yang baik tentang gizi seimbang akan melakukan konsumsi makanan yang mengandung zat gizi dan tidak melakukan pantang makanan sehingga luka jahitan pernium lebih cepat sembuh.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa dari 38 responden didapat sebagian besar responden (57,9%) umur 20-35 tahun yaitu sebanyak 22 responden. Memori atau daya ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur seseorang, dapat berpengaruh pada bertambahnya pengetahuan yang diperoleh, akan tetapi pada umur atau menjelang Umur lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan berkurang (Notoatmodjo, 2012). pembelajaran untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri pada umumnya semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin baik pula pengetahuan. Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan

orang yang berpendidikan

rendah(Notoatmodjo, 2012).

Terdapatnya kriteria tidak pantang makanan pada tingkat pendidikan SMA yang dimiliki responden yaitu sebagian besar berpendidikanpendikan menengah (SMA, MA) dalam penelitian ini tergolong dalam pendidikan tinggi dibanding pendidikan SD maupun SMP, hal ini menunjukkan memang benar bahwa faktor pendidikan seseorang berdampak pada pengetahuan dan sikap maupun perilaku yang ditampilkan seseorang, hal tersebut terbukti pada hasil penelitian ini yang sebagian besar responden mau melakukan tidak pantang makanan. Selain itu menurut pendapat peneliti faktor pendidikan dapat berdampak pada segala informasi yang didapat maupun tidak dapatkanya, termasuk didalamnya mempunyai informasi tentang kebaikan makanan yang dibutuhkan oleh ibu nifas selama masa penyembuhan, individu yang berpendidikan tinggi pengetahuannya akan lebih luas dan mereka cenderung memiliki perilaku yang positif seperti mendukung adanya proses penyembuhan masa nifas dengan menerapkan tidak menolak segala makanan yang mengandung gizi yang memang sangat dibutuhkan oleh ibu nifas.

Identifikasi Penyembuhan Luka Jahitan Perineum di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada bulan Agustus 2017 yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri berdasarkan penyembuhan luka jahitan perineum diketahui bahwa total 38 sampel didapatkan sebagian besar responden (71,1%) kriteria penyembuhan luka jahitan perineum baik sebanyak 27 responden.

(8)

lahir yang mengalami jahitan.Protein ini dibutuhkan sebagai zat pembangun yang membentuk jaringan otot tubuh dan mempercepat pulihnya kembali luka. Tanpa protein sebagai zat pembangun yang cukup, maka ibu nifas akan mengalami keterlambatan penyembuhan bahkan berpotensi infeksi bila daya tahan tubuh kurang akibat pantang makanan bergizi. Protein juga diperlukan untuk pembentukan ASI.

Kesembuhan luka jahitan berlangsung dengan normal diperlukan oleh ibu nifas dengan memberikan pemahaman pada ibu, perlunya konseling atau penyuluhan tentang masa nifas dan pantang terhadap makanan serta pengaruhnya terhadap penyembuhan luka perineum maupun yang lainnya sehingga diharapkan pengetahuan ibu dapat ditingkatkan terutama oleh petugas kesehatan dalam memberikan motivasi yang positif terhadap ibu. Dengan meningkatnya pengetahuan ibu, diharapkan pantang makanan tidak lagi dilakukan oleh ibu nifas. Karena dengan pantang terhadap makanan ibu nifas tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi sehingga berdampak pada penyembuhan luka jahitan perineum yang lebih lama dan dapat menimbulkan infeksi (Marin, 2009).

Menurut pendapat peneliti, antara teori dengan fakta dalam penelitian bahwa

sebagian besar responden

kriteriapenyembuhan luka jahitan perineum baik. Hal ini disebabkan ibu tidak lagi mempercayai mitos larangan adanya pantangan makanan tertentu yang tidak boleh dikonsumsi saat masa penyembuhan nifas termasuk adanya luka jahitan perenium, dan justu ibu melakukan tidak pantangan makanan sehingga luka jahitan cepat sembuh dan menjadi baik. Pemenuhan kebutuhan protein semakin meningkat untuk membantu penyembuhan luka baik pada dinding rahim maupun pada luka jalan lahir yang mengalami jahitan.

Berdasarkam hasil penelitianpada diagram 4.4 diketahui bahwa dari 38 responden didapat hampir setengah dari responden (31,6%) pekerjaan IRT yaitu sebanyak 12 responden.

Menurut Smeltzer (2009) Faktor- faktor eksternal yang mempengaruhi

penyembuhan luka perineum adalah : (1) Lingkungan, (2) Tradisi, (3) Pengetahuan,. (3) Sosial ekonomi (4) Penanganan petugas, (5) Kondisi ibu, (6) Gizi, Selain itu faktor internal yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum salah satunya adalah faktor Usia, Penyembuhan luka lebih cepat terjadi pada usia muda dari pada orang tua. Orang yang sudah lanjut usianya tidak dapat mentolerir stress seperti trauma jaringan atau infeksi.

Menurut pendapat peneliti adanya penyembuhan luka jahitan penerenium dipengaruhi secara tidak langsung oleh faktor pekerjaan yang dimiliki responden, sebagaimana pekerjaan erat kaitannya dengan pengaruh kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyebuhan perineum yaitu keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktifitas sehari-hari pasca persalinan.

Berdasarkam hasil penelitian diketahui bahwa bahwa dari 38 responden didapat hampir setengah dari responden (47,4%) tinggal bersama orang tua yaitu sebanyak 18 responden. Menurut Helmi (2011) Komponen dalam lingkup terkecil sebagai makhluk sosial yaitu keluarga, didalam keluarga ada orang tua, merupakan orang yang bertanggung jawab kepada istri dan anak anaknya serta mencari nafkah dalam sebuah keluarga untuk kmelindungi anggota, mencukupi kebutuhan keluarga dan juga memenuhi kebutuhan makanan sehat dan bergizi.

(9)

Berdasarkan diagram 4.2 diketahui bahwa dari 38 responden didapat sebagian besar responden (55,3%) penolong persalinan bidan yaitu sebanyak 21 responden.

Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum adalah penanganan petugas, Pada saat persalinan, pembersihannya dilakukan oleh petugas kesehatan, dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum (Smeltzer, 2009).

Berdasarakn penolong persalinan dalam penelitian ini yang sebagian besar dilakukan oleh bidan, Menutut pendapat peneliti sudah sesuai fakta bahwa hasil penyembuhan luka jahitan perineum baik sebagaimana penanganan yang dilakukan bidan pada saat persalinan dimungkinan pembersihannya dilakukan dengan baik sehingga menentukan lama penyembuhan luka perineum, hal ini sesuai dengan pendapat Smeltzer (2009), bahwa Penanganan petugas, Pada saat persalinan, pembersihannya dilakukan oleh petugas kesehatan, dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum.

Berdasarkan diagram 4.5 diketahui bahwa dari 38 responden didapat setengah dari responden (50%) jumlah anak 1 yaitu sebanyak 19 responden. Menurut pendapat pendelitia adanya jumlah anak yang dimiliki ibu secara tidak langsung berdampak pada penyembuhan jahitan luka perineum. Hal ini disebabkan karena dengan jumlah anak yang sedikit tidak terlalu repot mengurus dan memikirkan kondisi anak-anaknya yang lain sehingga ibu lebih dapat focus pada penyembuhan luka jahitan perenium ketimbang melakukan pekerjaan mengurus anak- anaknya, dengan jumlah anak yang sedikit ibu tidak kerepotan mengurusnya hal ini sebagai pendukung bagi ibu dalam penyembuhan perineum sehingga dapat diartikan bila jumlah anak sedikit dapat

menunjang penyembuhannya, begitu pula sebaliknya.

Hubungan Pantang Makanan dengan Penyembuhan Luka Jahitan Perineum Pada Ibu Nifas di Wilayah Kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri.

Hasil analisis penelitian meng- gunakan uji statistik chi-kuadrat didapatkan nilai ρ value = 0,009, < α 0,05 hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak, artinya ada hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri. Besar nilai coeffecient correlation didapat sebesar 0,446 masuk dalam kategori hubungan sedang arah hubungan positif.

Sedangkan berdarkan distribusi pada tabel silang menunjukkan sebagian besar responden kriteria tidak pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum baik sebanyak 23 responden (60,5%) dan sebagian kecil dari responden kriteria pantang makanan sebagian dengan penyembuhan luka jahitan perineum baik sebanyak 1 responden (2,6%).

Sesuai hasil penelitian ρ value = 0,009 < α = 0,05 yaitu ada hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri, nilai coeffecient correlation sebesar 0,446 masuk dalam kategori hubungan sedang arah hubungan positif hal ini disebabkan karena responden tidak pantang makanan benar-benar berdampak pada penyembuhan luka jahitan perineum, sebagaimana dapat dijelaskan bahwa semakin responden tidak pantang makanan maka semakin baik penyembuhan luka jahitan perineum.

(10)

dengan pemulihan luka jahitan perineum dalam kategori hubungan kuat, artinya semakin ibu memenuhi kebutuhan gizi maka semakin baik penyembuhan luka jahitan perenium.

Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum adalah : (1) Lingkungan, Dukungan dari lingkungan keluarga, dimana ibu akan selalu merasa mendapatkan perlindungan serta nasihat. (2) Tradisi, ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan pasca persalinan masih banyak digunakan, masyarakat tradisional menggunakan daun sirih yang direbus kemudian dipakai untuk cebok. (3) Pengetahuan, Pengetahuan dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum. Apabila pengetahuan ibu kurang terlebih masalah kebersihan maka penyembuhan lukapun akan berlangsung lama. (3) Sosial ekonomi, Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyebuhan perineum adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktifitas sehari-hari pasca persalinan. (4) Penanganan petugas, Pada saat persalinan, pembersihannya dilakukan oleh petugas kesehatan, dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum. (5) Kondisi ibu, Kondisi dapat menyebabkan lama penyembuhan. Jika kondisi ibu sehat, maka ibu dapat merawat diri dengan baik. (6) Gizi, Makanan yang bergizi dan sesuai porsi akan menyebabkan ibu dalam keadaan sehat dan segar. Dan akan mempercepat masa penyembuhan luka perineum (Smeltzer, 2009).

Proses penyembuhan luka perineum yang dialami ibu nifas selain dengan dilakukan perawatan rutin dapat pula ditunjang dengan pemenuhan gizi misalnya dengan mempersiapkan makanan kesehariannya sehingga luka perineum dapat cepat sembuh selain itu menurut peneliti, tidak melakukan pantang dan selalu makan makanan yang bergizi dan sesuai porsi akan menyebabkan ibu dalam keadaan sehat dan segar. Dan akan mempercepat masa penyembuhan luka perineum sehingga kondisi kesehatan ibu baik secara fisik maupun mental dapat berlangsung dengan baik, hal ini

disebabkan responden tidak melakukan pantang makanan sebagai penunjang kesembuhannya. Dapat disimpulkan bahwa tidak melakukan pantang makanan dapat berpengaruh pada penyembuhan luka perineum ibu nifas, semakin pantang maka semakin lama sembuhya begitu pula sebaliknya semakin tidak pantang maka semakin cepat sembuh luka pereniumnya.

KESIMPULAN

1. Sebagian besar responden (71,1%)

memiliki kriteria tidak pantang makanan yaitu sebanyak 27 responden.

2. Sebagian besar responden (71,1%)

yang penyembuhan luka jahitan perineum baik sebanyak 27 responden.

3. Didapat nilai

ρ value = 0,000<0,05

maka H0 di tolak dan H1 diterima artinya ada hubungan pantang makanan dengan penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas di Wilayah Kerja Puskesmas Adan-Adan Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri, dengan nilai correlation coefficient 0,446 tingkat hubungan sedang.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul A. A. H. (2007).Metode Penelitian Keperawatan dan Analisis Data.Jakarta : Salemba Medika

Ambarwati E. (2010). Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Arisanty. (2014). Manajemen perawatan luka: konsep dasar. EGC : Jakarta.

Bahiyatun.(2009). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal.Jakarta: EGC.

Dewi, V. N. Lia dan Tri S. (2011).Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Jakarta: Salemba Medika.

Dewi, Vivian Nanny Lia & Sunarsih, Tri. (2011). Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.Jakarta : Salemba medika

Dinas Kesehatan Jawa Timur. (2008). Profil Kesehatan Propinsi Jawa Timur

(11)

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2010). Metode . (2011). Asuhan Kebidanan III Penelitian Keperawatan dan

Analisis Data.Jakarta : Salemba Medika

(2011).Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.

Iskandar.(2010). Mitos Keliru Seputar Makanan.http://www.healt.kompas.c omDiakses tanggal 11 Maret 2017.

Jannah.N. (2013).Buku Ajar Kebidanan :Kehamilan Yogyakarta: CV Andi OF SET

Manuaba, I.B.G. (2008). Gawat Darurat Obsteri Ginekologi dan Obstetri Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan.Jakarta : EGC

Maryunani, Anik. (2009). Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas (Postpartum). Jakarta: TIM.

Notoadmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta : Rineka Cipta.

Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan .Jakarta: Salemba Medika

Nurhikmah.(2009). Hubungan Perilaku Ibu Berpantang Makanan Selama Nifas Dengan Status Gizi Ibu Dan Bayinya Di Kecamatan Banjarmasin Utara Di Kota Banjarmasin.Universitas Gajah Mada. Tesis.

Prawirohardjo, S. (2011).Ilmu Kebidanan.Jakarta : PT. Bina Pustaka.

. (2011). Maternal dan Neonatal.Jakarta : PT. Bina Pustaka.

Rohani, dkk.(2011). Asuhan Pada Masa Persalinan.Jakarta : Salemba Medika.

Rury N, Sari. (2014). Perbedaan Lama Penyembuhan Luka Perineum Ibu Nifas Dengan Dan Tanpa Lidokain 1% Di RSUD Kota Madiun Dan Bpm Maranatha Kabupaten Madiun.Naskah publikasi Akbid Muhamadiyah.Madiun : Publising.

Rukiyah, A.I, Yulianti, L. (2010). Asuhan Kebidanan III (Nifas). Jakarta : Trans Info Media.

(Nifas).Jakarta : Trans Info Media.

Rusjiyanto.(2009). Pengaruh Pemberian Suplemen Seng (Zn) Dan Vitamin C Terhadap Kecepatan Penyembuhan Luka Pasca Bedah Di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sukoharjo.Universitas Sebelas Maret. Tesis.

Saryono.2011. Metodologi Penelitian

Kualitatif dalam

Kesehatan.Yogyakarta : Nuha Medika.

Sjamsuhidayat R, dan Jong W.D. (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah.EGC : Jakarta.

Sugiyono.(2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif.Bandung: Alfabeta.

Sujiyatini, dkk.(2010). Asuhan Ibu Nifas Askeb III.Yogyakarta : Cyrillus Publisher

Sulistyawati, Ari. (2010). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta: ANDI

Suprabowo E. (2006). Praktik Budaya Dalam Kehamilan, Persalinan, Dan Nifas Pada Suku Dayak Sanggau. Dalam :Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Volume 1 No. 3.H : 112-121.

Waryana.(2010). Gizi Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Rihama

Wiknjosastro, H. (2010). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Yulistara.(2012). Macam Pantang Makan yang dianjurkan Pada Ibu Nifas. http://yulistara.pantang makan.com.

Referensi

Dokumen terkait

penelitian dengan judul “ PERSEPSI PEGAWAI TERHADAP FUNGSI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI PADA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI PERWAKILAN

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa melindungi, menyertai dan membimbing penulis dalam penyusunan naskah skripsi yang

“Ya sing wiwitan yasinan dhisik lajeng tahlil lan pungkasan donga” (Saerozi, 13 Maret 2017)” Adhedhasar katrangan kang diandharake ing dhuwur iku, adicara tahlilan iki

Sebelum perbaikan pasar modal dan pengenalan reformasi akuntansi tahun 1980an dan awal 1990an, dalam praktik banya ditemui perusahaan yang memiliki tiga jenis pembukuan, satu

Disetiap lembaga pendidikan, seorang guru sangatlah penting karena tugas guru salah satunya adalah menjalankan proses belajar mengajar. Setiap hari guru dan siswa

2.4 Tinjauan Aspek Keekonomian Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Mengingat pengembangan potensi panas bumi memerlukan initial investment yang cukup besar, serta

Tesis berjudul Analisis Leverage Determinant pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang ditulis dan diajukan oleh Budiwanto Cipto /

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dalam penentuan area kunci, terdapat satu tahap yaitu pengujian peraturan perundang- undangan yang signifikan yang belum