• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Fiqh Muamalah Kontemporer tentan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Fiqh Muamalah Kontemporer tentan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“KONSEP ZAKAT BADAN HUKUM DALAM PERSPEKTIF FIQH” Disusun untuk memenuhi salah satu matakuliah Fiqih Mu’amalah

Kontemporer

Dosen Pengampu : Imam Mustofa, SHI, MSI

Di Susun Oleh

Raisul Aziz Romadhon 14124699

JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM PRODI HUKUM EKONOMI SYARI’AH (S1) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

(2)

Konsep Zakat Badan Hukum Dalam Perspektif Fiqh

A. Pendahuluan

Zakat merupakan bagian dari kedermawanan (filantropi) dalam konteks masyarakat Islam. Zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu serta menjadi unsur dari Rukun Islam. Zakat diwajibkan pada tahun ke-9 Hijriah, akan tetapi ahli hadist memandang zakat telah diwajibkan setelah hijrah dan dalam kurun waktu lima tahun setelahnya. Sebelum diwajibkanya zakat, zakat bersifat sukarela dan belum ada peraturan-peraturan khusus atau ketentuan-ketentuan umum. Peraturan mengenai pengeluaran zakat di atas muncul pada tahun ke-9 Hijrah ketika dasar Islam telah kokoh, wilayah Negara berekspansi dengan cepat dan orang berbondong-bondong masuk Islam. Peraturan yang disusun meliputi sistem pengumpulan zakat, barang-barang yang dikenai zakat, batas-batas zakat dan tingkat persentase zakat untuk barang yang berbeda-beda. Para pengumpul zakat bukanlah pekerjaan yang memerlukan waktu dan para pegawainya tidak diberikan gaji resmi, tetapi mereka mendapatkan bayaran dari dana zakat. Sampai akhirnya pada jaman Rasulullah, zakat menjadi pendapatan utama bagi Negara.

Di Indonesia sendiri telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan zakat dan di Undang-Undang ini mengatur tentang Organisasi Pengelola zakat (OPZ) yang boleh beroperasi di Indonesia.OPZ yang disebutkan dalam UU tersebut adalah Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). BAZ merupakan lembaga pengumpul dan pendayagunaan dana zakat yang dibentuk oleh pemerintah dari tingkat pusat sampai dengan tingat daerah, sedangkan LAZ merupakan OPZ yang dibentuk atas swadya masyarakat.1

1 Rifqi Muhammad, Akuntansi Keuangan Syariah, P3EI Press, Yogyakarta, 2008, hlm

(3)

B. Pengertian Zakat Badan Hukum

Zakat menurut lughah (bahasa), berarti nama’ = kesuburan, thaharah = kesucian, barakah = keberkatan dan berarti juga tazkiyah tathier = mensucikan. Syara’ memakai kalimat tersebut dengan kedua -dua pengertian ini. Pertama, dinamakan pengeluaran harta ini dengan zakat, adalah karena zakat itu merupakan suatu sebab yang diharap akan mendapatkan kesuburan atau menyuburkan pahala. Karena nya dinamakan “harta yang dikeluarkan.”

Dengan zakat.Kedua dinamakan harta yang dikeluarkan itu dengan zakat adalah karena zakat itu merupakan suatu kenyataan dan kesucian jiwa dari kekikiran dan kedosaan.

Al Imam Nawawi mengatakan, bahwa dinamakan pengeluaran ini dengan zakat adalah karena terdapat padanya makna yang dimaksudkan oleh bahasa (kesuburan).2

Sedangkan menurut para imam. Menurut Imam Maliki dalam mendefinisikan zakat bahwa zakat adalah mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula yang telah mencapai nishab(batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan catatan kepemilikan itu penuh dan mencapai haul, bukan barang tambang dan bukan pertanian.

Menurut madzhab Syafii zakat adalah sebuah ungkapan untuk keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan cara khusus, sedangkanmadzhab Hambali mengatakan Zakat adalah hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus pula.3

Zakat secara etimologi berarti berkembang dan bertambah. Zakat juga mempunyai arti suci, sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Al-Syams ayat 9 yang berbunyi :











2 Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Zakat, N.V. Bulan Bintan, Jakarta,

1981, hlm 24.

3 Wahbah Al Zuhayly, Al Fiqh Al IslamiAdillatuh, (Damaskus: Dar Al Fikr, 1995), hlm

(4)

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”,

maksudnya adalah bersuci dari kotoran. Dan di dalam ayat 14 surat Al-A’la juga menyebutkan :











Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)”. Zakat juga berarti pujian. Hal ini bisa sebagiamana disebutkan

dalam surat al-Najmayat 32 yang berbunyi :







Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci.” Maksdunya janganlah engkau memuji dirimu sendiri. Jadi makna zakat pada dasarnya adalah suci, berkembang, berkah dan terpuji.4

Secara etimologi zakat adalah sebutan untuk suatu yang dikeluarkan untuk mensucikan harta atau diri manusia dengan cara tertentu. Al-Sawi dalam kitabnya Hasyiyah al-saw ala al-Syrah al-Shagir

menyatakan :

Mengeluarkan suatu harta tertentu dari bagian harta tertentu yang telah mencapai suatu nisab, apabila harta tersebut menjadi milik sepenuhnya bagi seseorang dan telah mencapai setahun selain pertanian dan barang tambang”.

Menurut al-Qaradawi zakat secara syara’ adalah bagian tertentu dari harta yang Allah wajibkan untuk diberikan kepada para mustahiq. Zakat secara syara’ dinamakan zakat karena dengan zakat dapat berkembang dengan berkah dan membersihkan diri seseorang dengan ampunan.

Undang-Undang N0. 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan Zakat pasal 1 ayat (2) menyebutkan bahwa : “Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang

4Imam Mustofa, Ijtihad Kontemporer menuju Fiqh Kontekstual, PT Raja Grafindo

(5)

berhak menerimanya.” Sedangkan dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan zakat pada pasal 1 ayat (2) disebutkan bahwa

“Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usahan untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.” Sementara Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) tahun 2008 mendefinisikan zakat pada pasal 675 ayat (1) “Zakat

adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau lembaga yang dimiliki oleh muslim untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.”5

Berdasarkan pemaparan dan definisi zakat di atas, jelas bahwa definisi zakat menurut undang-undang dab KHES lebih komprehensif, karena tidak hanya berkaitan dengan zakat perorangan, akan tetapi juga terkait dengan badan hukum. Artinya muzakki tidak hanya terbatas pada seseorang, akan tetapi juga badan hukum, karena badan hukum juga termasuk subjek hukum. Dengan de-mikian, maka zakat badan hukum adalah zakat yang wajib dikeleuarkan oleh suatu badan hukum dalam hal ini adalah Lembaga Keuangan Syariah karena bergerak dalam bidang usaha profitable.

C. Konsep Badan Hukum

Istilah badan hukum (syahkshiah I’tibariyah hukumiyah) tidak disebutkan secara khusus dalam pandangan fiqh. Badan hukum dikatakan sebagai subjek hukum karena terdiri dari kumpulan orang-orang yang melakukan perbuatan hukum. Konsep badan hukum merupakan hasil analogi dari keberadaan manusia dalam subjek hukum. Ketentuan menjadikan badan hukum sebagai subjek hukum, tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip akad yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Keberadaan badan hukum terkait dengan adanya penerapan wakalah pembagian tugas. (Job description) dari suatu manajemen perusahaan. Dalam hal ini manusia bertindak sebagai wakil

(6)

dari organ lembaga atau perusahaan tersebut. Meskipun atas nama badan hukum seseorang menjalankan amanah perusahaan, namun sebagai pertanggung jawaban vertical tetap dikembalikan kepada amalan individu masing-masing.

Badan hukum adalah suatu perkumpulam orang-orang yang mengadakan kerja sama atas dasar ini merupakan suatu kesatuan yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh hukum. Badan hukum merupakan pendukung hak yang tidak berjiwa (bukan manusia) dan merupakan gejala sosial yaitu gejala yang riil, sesuatu yang dapat dicatat dalam pergaulan hukum, biarpun tidak terwujud manusia atau benda yang dibuat dari besi, batu dan sebagainya, tetapi yang terpenting bagi pergaulan hukum adalah karena badan hukum itu mempunyai kekayaan yang sama sekali terpisah dari kekayaan.6

Berikut ini adalah beberapa pengertian tentang badan hukum yang dikemukakan oleh para ahli:7

a. Menurut E. Utrecht, badan hukum (rechtpersoon), yaitu badan yang menurut hukum berkuasa (berwenang) menjadi pendukung hak, selanjutnya dijelaskan bahwa badan hukum adalah setiap pendukung hak yang tidak berjiwa atau yang lebih tepat bukan manusia.

b. Menurut R. Subekti, badan hukum pada pokoknya adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia, serta memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat atau menggugat di depan hakim. c. R. Rochmat Soemitro mengemukakan, badan hukum

(rechtpersoon) ialah suatu badan yang dapat mempunyai harta, hak serta kewajiban seperti orang pribadi.

Menurut hukum suatu badan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu badan hukum publik dan badan hukum perdata.8

6 Ibid, hlm 39.

(7)

a. Badan hukum publik, yaitu suatu badan hukum yang didirikan dan diatur menurut hukum publik. Contohnya desa, kotamadya, provinsi, dan Negara.

b. Badan hukum perdata (privat)9, yaitu badan hukum yang didirikan dan diatur menurut hukum perdata. Contohnya Perseroan Terbatas, koperasi, yayasan.

Dilihat dari bentuknya badan hukum dapat berbentuk:10

a. Korporasi (corporation), yaitu gabungan (kumpulan orang-orang) yang dalam pergaulan hukum bertindak bersama-sama sebagai subyek tersendiri. Karena itu, korporasi ini merupakan badan hukum yang beranggota, tetapi mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban sendiri yang terpisah dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban para anggotanya.11 Misalnya: Perseroan Terbatas (PT), koperasi, dan lain sebagainya.

b. Yayasan (foundation), yaitu kekayaan yang bukan milik seseorang atau suatu badan hukum, yang diberi tujuan tertentu. Yayasan tidak memiliki anggota, yang ada hanyalah pengurus yayasan.12

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa badan hukum merupakan subjek hukum yang perwujudannya tidak tampak seperti manusia biasa, namun mempunyai hak dan kewajiban serta dapat melakukan perbuatan hukum seperti orang pribadi (natural person).

D. Dasar Hukum Zakat Badan Hukum

Zakat adalah salah satu rukun diantara rukun-rukun Islam. Zakat hukumnya wajib berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma’ atau kesepakatan umat Islam. Di dalam Al-Qur’an, zakat disebut sebut secara langsung sesudah shalat dalam delapan puluh dua ayat. Ini menunjukan

8 Dudu Duswara Machmudin, Pengantar Ilmu Hukum: Sebuah Sketsa, (Bandung: PT.

Refika Aditama, 2003), Cet. 2, hlm 35.

9 Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), Cet. 5,

hlm 124

10 Dudu Duswara Machmudin, Op Cit., hlm 36.

11 Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, (Bandung: PT.

(8)

betapa pentingnya zakat, sebagaimana shalat. Di dalam rukun Islam, zakat menempaati peringkat ketiga,yakni setelah membaca dua kalimat syahadat dan shalat. Ayat-ayat seperti itu jumlahnya cukup banyak. Demikian pula dengan hadist. Berikut adalah sebagian contohnya :

Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat”. (AL-Muzzammil: 20)











✓







☺











☺



“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus13, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat;

dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah: 5)

Seluruh umat Islam sepakat bahwa zakat itu hukumnya wajib. Dan kewajiban zakat sudah diketahui dari agama secara pasti bagi orang-orang yang hidup di tengah-tengah kamu muslimin, dan di masyarakat yang Islami. Barang siapa yang mengingkarinya, ia adalah kafir dan dianggap sebagai orang yang murtad atau keluar dari Islam.14

Setidaknya ada beberapa dasar hukum yang menjadi landasan kewajiban zakat badan hukum. Ada dasar hukum dari Quran, al-Sunnah, undang-un-dang dan Peraturan Mahkamah Agung No. 2 tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum ekonomi Syariah.

a. Dasar hukum dari Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah ayat 267 :

13 Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

(9)



sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

b. Dasar hukum dari As-Sunnah yaitu Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Anas Bin Malik yang berbunyi :

“Pada dasarnya hadis-hadis di atas berkaitan tentang zakat perkongsian (syirkah) pada kepemilikan binatang ternak, namun hal ini dapat diterapkan pada zakat perkongsian kepemilikan harta kekayaan lainnya, termasuk saham badan hukum atau perusahaan. Kepemilikan harta yang profitable atau bertujuan untuk mengembangkan harta dan mencari keuntungan dari modal, wajib dizakati sebagaimana kepemilikan binatang ternak.”

c. Dasar hukum dari Undang-Undang :

(10)

oleh orang mus-lim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.” Dan pasal 11 ayat (2) yang menyatakan: “Harta yang dikenai zakat adalah: a) emas, perak dan uang; b) perda-gangan dan perusahaan; c) hasil pertanian, hasil perkebunan dan hasil perikanan; d) hasil pertambangan; e) hasil peternakan; f) hasil pendapatan dan jasa; g) rikaz;”

2. Undang-undang No. 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat pada pasal 1 ayat (2) disebutkan bahwa “Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan ke-pada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.“ Pasal 4 ayat (2) menyatakan: “Zakat mal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a) emas, perak, dan logam mulia lainnya; b) uang dan surat berharga lainnya; c) pernia-gaan; d) pertanian, perkebunan, dan kehutanan; e) peternakan dan peri-kanan: f) pertambangan; g) perindustrian; h) pendapatan dan jasa; dan i) rikaz.”

d. Dasar hukum KHES

Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) tahun 2008 mendefinisikan zakat pada pasal 675 ayat (1) “Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau lembaga yang dimiliki oleh muslim untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.”Pasal 680 menyatakan: “Zakat diwajibkan terhadap barang-barang hasil produksi apabila telah memenuhi syarat.” Pasal 681 menyatakan: “Zakat dikenakan juga pada produk lembaga keuangan syari’ah, baik bank maupun non-bank, yang ketentuannya disesuaikan menurut akad masing-masing produk.” Pasal 685 menyatakan: “Yang berkewajiban zakat adalah orang atau badan hukum.”15

15 Imam Mustofa, ZAKAT LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH SEBAGAI BADAN

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Al Zuhayly, Wahbah. 1995.

Al Fiqh Al IslamiAdillatuh

. Damaskus: Dar Al Fikr.

Ali, Chidir. 1999.

Badan Hukum

.Bandung: PT. Alumni Bandung.

Arrasjid, Chainur. 2008.

Dasar-Dasar Ilmu Hukum

. Jakarta: Sinar Grafika

Hasan Ayyub, Syaikh. 2004

. Fikih Ibadah

. Jakarta: Pustaka Al-kautsar.

Machmudin, Dudu Duswara. 2003.

Pengantar Ilmu Hukum

. Bandung: PT. Refika

Aditama.

Muhammad, Rifqi. 2008.

Akuntansi Keuangan Syariah

. Yogyakarta: P3EI Press.

Mustofa, Imam. 2013.

Ijtihad Kontemporer menuju Fiqh Kontekstual

. Jakarta: PT

Raja Grafindo Persada.

Mustofa, Imam.

ZAKAT LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH SEBAGAI BADAN

HUKUM

. Millah Vol. XIV, No. 1, Agustus 2014, 186

Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy. 1981.

Pedoman Zakat

. Jakarta: N.V. Bulan

Bintang.

Referensi

Dokumen terkait

38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang

Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang

Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada

Pada Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang zakat Pasal 1 yaitu menerangkan bahwa zakat adalah harta yang wajib disisihkan seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang

Pada UU No.38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, menerangkan bahwa zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan hukum yang dimiliki oleh orang

Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak

Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang

Pada UU No.38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, menerangkan bahwa zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan hukum yang dimiliki oleh orang