• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESENSI DAN ANALISIS JURNAL INTERNASIONA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RESENSI DAN ANALISIS JURNAL INTERNASIONA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

RESENSI DAN ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL

PLURALITY OF MARRIAGE LAW AND MARRIAGE REGISTRATION

FOR MUSLIMS IN INDONESIA: A PLEA FOR PRAGMATISM “KEDUDUKAN HUKUM PENCATATAN PERKAWINAN DALAM

PLURALISME SISTEM HUKUM DI INDONESIA DAN AKIBAT

HUKUMNYA”

NAMA : SAFIRA HANNY RIZKY WASIAT NIM : 14 / 363032 / HK / 19964

MATA KULIAH : ADAT KELAS : H

UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS HUKUM

(2)

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL

A. PENDAHULUAN ……… 3

B. PERUMUSAN MASALAH ……… 4

C. PEMBAHASAN DAN ANALISIS ……… 4

D. KESIMPULAN ……… 10

(3)

A. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang identik dengan ke-pluralisme sistem

hukumnya. Dilihat dari segi historis, Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa,

agama dan budaya sehingga dalam perkembangannya timbulah hukum adat yang

merupakan ciri kharakteristik dari masing-masing perbedaan tersebut. Selain itu

terdapat dua lagi hukum yang berkembang di Indonesia, antara lain adalah sistem

hukum barat dan hukum islam. Pada kali ini untuk membahas lebih lanjut

mengenai jurnal ini, menimbulkan permasalahan bahwa sistem hukum manakah

yang harus diikuti dalam rangka pencatatan perkawinan.

Permasalahan pencatatan perkawinan maupun perceraian menjadi salah satu

permasalahan yang mengambil perhatian dari berbagai kalangan masyarakat di

Indonesia. Selama ini permasalahan konkretnya adalah banyaknya masyarakat

yang tidak mencatatkan perkawina ataupun perceraian dengan sengaja, namun

kebanyakan dari mereka tahu apa saja konsekuensi dari tidak mencatatkan

perkawinan maupun perceraiannya tersebut. Mereka memiliki alasannya

sendiri-sendiri, lain adalah; khusus untuk wanita miskin, mereka merasa bahwa dengan

mencatatkan perkawinanyanya mereka tidak mendapatkan manfaat langsung dari

hal itu karena dirasa suaminya tidak dapat memberikan kontribusi apapun ke

dalam rumah tangganya, singkatnya apabila mereka ingin menggugat cerai secara

resmi pun, mereka tidak akan mendapatkan keuntungan apapun atas hak-haknya.

Contoh lain adalah khusus pria, mereka tidak mencatatkan perkawinannya karena

terdapat diantara mereka yang sengaja tidak mencatatkan karena perkawinannya

tersebut adalah perkawinan yang kedua dengan kata lain sembunyi-sembunyi dari

isteri yang pertama, sehingga mereka lebih memilih untuk tidak mencatatkan

perkawinannya agar tidak ketahuan.

Hal-hal inilah yang menimbulkan masyarakat enggan untuk mencatatkan

perkawinan maupun perceraiannya di kantor pencatatan sipil maupun kantor

urusan agama (KUA) dan lebih memilih untuk nikah siri berdasarkan hukum

Islam, walaupun mereka tahu bahwa tanpa dengan dicatatkannya perkawinan

mereka maka perkawinan tersebut tidak akan diakui oleh Negara.

Selain itu di Indonesia dikenal suatu proses pengukukuhan perkawinan yang

(4)

tidak memiliki bukti apapun untuk diakui negara dan dengan itu dapat

mengajukan ke Pengadilan Agama untuk dikukuhkan perkawinannya. Isbat nikah

dikenal sebagai suatu jalan bagi mereka yang tidak mendaftarkan perkawinan dan

akan mengajukan perceraian dapat memperoleh hak-haknya usai perceraian

tersebut.

B. PERUMUSAN MASALAH

Adapun perumusan masalah dalam penulisan resensi dan analisis jurnal

internasional “Plurarity of Marriage Law and Marriage Registration for Muslims in Indonesia: A Plea for Pragmatism” dalam mengambil tema “Akibat dan Kedudukan hukum pencatatan perkawinan di Indonesia” antara lain adalah :

1. Bagaimana kedudukan hukum pencatatan perkawinan di Indonesia?

2. Bagaimana akibat hukum pencatatan perkawinan?

C. PEMBAHASAN

Terdapat lima sistem hukum yang berkembang di dunia, antara lain adalah;

sistem common law, sistem civil law, hukum adat yang bergantung pada

masing-masing daerah, hukum islam, dan sistem hukum sosialis atau komunis seperti

yang diberlakukan di Uni Soviet.

Namun dari lima sistem tersebut, tiga diantaranya berkembang di Indonesia

antara lain; sistem civil law atau yang biasa kita sebut dengan sistem hukum barat,

sistem hukum islam dan sistem hukum adat. Ketiganya berjalan bersamaan dan

berkesinambungan dalam pelaksanaannya di Indonesia. Walaupun ketiganya

berbeda, namun ketiganya pula dapat berkembang sampai dengan saat ini di

Indonesia dan dapat diterima oleh masyarakat. Pada pembahasan kali ini, akan

dibahas mengenai kedudukan ketentuan pencatatan perkawinan dari sudut hukum

islam dan dari sudut hukum barat yang kali ini kaitannya adalah Kitab

Undang-undang Hukum Perdata yang merupakan salah satu warisan sistem hukum barat

yang masih diberlakukan di Indonesia, dan bentuk UU lain seperti UU No.1 tahun

1964 tentang Perkawinan yang mengatur lebih rinci maupun lebih jelas dengan

(5)

KUHPerdata.

Pengertian dari pencatatan perkawinan tidak diatur secara jelas dan rinci

dalam UU No. 1 Tahun 1974, namun dalam penjelasan umum diatur bahwa

“Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan

peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam Surat-surat keterangan, suatu akta resmi yang juga dimuat dalam daftar pencatatan.”

Lalu dalam Surat Al-Baqarah ayat 282 berisi perintah untuk melakukan pencatatan dalam persoalan hutang piutang yang merupakan muamalah yaitu

hubungan manusia dengan manusia yang dalam hal ini termasuk dalam ranah

privat atau perdata. Perintah ini, dalam hal hutang piutang jika dihubungkan

dengan perkawinan yaitu berkaitan dengan penertiban administrasi agar

garis-garis tanggungjawab menjadi jelas (dalam hal ini adalah suami dan isteri)

sehingga apabila salah seorang tidak memenuhi tanggungjawabnya, orang yang

lain dapat menuntut pertanggungjawabannya tersebut.

Dan apabila dihubungkan dengan Pasal 2 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974

bahwa “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan

yang berlaku.” . Maka pengertian pencatatan perkawinan ini merujuk pada pengertian kegiatan administratif hukum yang merupakan bagian dari kegiatan

legalisasi perkawinan. 1

Maka Pasal 2 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan secara

langsung menjadi dasar hukum bagi pencatatan perkawinan. Selain UUP, terdapat

pula dasar hukum pencatatan perkawinan oleh PP No. 9 Tahun 1975 pada pasal 2

ayat (1) yang mengatur bahwa “Pencatatan perkawinan dari mereka yang

melangsungkan perkawinannya menurut agama Islam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam UU 32 Tahun 1954 tentang Pencatatan

Nikah, Talak, dan Rujuk.”

1 NM, Wahyu Kuncoro, S.H., Solusi Cerdas Menghadapi Kasus Keluarga, Raih

(6)

UU No. 22 Tahun 1946 juga mengatur bahwa “Nikah yang dilakukan

menurut agama Islam, selanjutnya disebut nikah, diawasi oleh Pegawai Pencatat Nikah yang diangkat oleh Menteri Agama atau pegawai yang ditunjuk olehnya.

Talak dan rujuk yang dilakukan menurut agama Islam selanjutnya disebut talak dan rujuk, diberitahukan kepada Pegawai Pencatat Nikah.”

Beberapa ketentuan undang-undang di atas merupakan beberapa dari dasar

hukum adanya pencatatan bagi setiap terjadinya perkawinan yang ada di

Indonesia. Namun selanjutnya akan dijelaskan mengenai dasar hukum pencatatan

melalui sudut pandang sistem hukum Islam di Indonesia.

Menurut Kompilasi Hukum Islam tentang Ketentuan Pencatatan

Perkawinan pada Pasal 5 Ayat (1) diatur bahwa “agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat”. Pasal ini menyatakan bahwa pencatatan perkawinan merupakan suatu kewajiban agar

ketertiban perkawinan terjamin.

Dengan dijabarkannya mengenai dasar-dasar hukum pencatatan

perkawinan dalam tiap-tiap sistem hukum di Indonesia, semuanya mengatur

kewajiban setiap orang untuk mencatatkan perkawinannya di kantor catatan sipil

maupun Kantor Urusan Agama (KUA) yang selanjutnya akan dijelaskan lebih

lanjut dalam bab kesimpulan.

Kemudian dalam membahas mengenai akibat hukum pencatatan

perkawinan berhubungan erat dengan tujuan-tujuan diadakannya pencatatan

perkawinan, manfaat dan konsekuensi lebih lanjut jika tidak mendaftarkan

perkawinannya tersebut. Maka selanjutnya akan dibahas satu persatu mengenai

hal tersebut.

Suatu negara dalam membuat suatu kebijakan untuk masyarakatnya pasti

terdapat tujuan dibaliknya. Dikaitkan dengan pencatatan perkawinan yang pada

dasarnya berhubungan dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam

setiap kehidupan seseorang, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pencatatan

(7)

seseorang yang mengalami peristiwa hukum tersebut, yakni perkawinan. Dimana

kepastian hukum sangat penting dalam setiap perbuatan hukum. Maka pencatatan

perkawinan adalah hal yang sangat penting karena berkaitan dengan status

perkawinan itu sendiri, perlindungan hak dan kewajiban antara kedua belah pihak,

hak-hak anak, dan juga menyangkut akibat hukum terhadap anak-anaknya.

2

Produk dari hasil pencatatan tersebut adalah akta perkawinan.

Pengertian akta perkawinan adalah dokumen tertulis yang dibuat oleh

pejabat yang berwenang yang d dalamnya menyatakan bahwa kedua orang yang

tertulis dalam dokumen telah menikah secara sah dan membuktikan bahwa

terdapat ikatan lahir dan batin antarkedua orang (laki-laki dan perempuan),

sebagai suami isteri yang telah disahkan menurut agama yang dianutnya.3

Lalu manfaat pencatatan perkawinan menurut Ernaningsih, S.H., M.Hum.

adalah;

1. Memberikan kepastian hukum bagi keabsahan suatu ikatan perkawinan

bagi suami maupun istri;

2. Memberikan kepastian hukum bagi anak-anak yang akan dilahirkan;

3. Mengurus akta kelahiran anak-anaknya;

4. Mengurus tunjangan keluarga bagi PNS, TNI/POLRI, BUMD/BUMN dan

Karyawan Swasta;

5. Dalam hal mengurus warisan.

Melalui penjabaran manfaat diatas dapat pula ditarik kesimpulan bahwa dengan

tidak mencatatkan perkawinannya terdapat konsekuensi sebaliknya yakni; tidak

mendapatkan kepastian hukum bagi keabsahan suatu ikatan perkawinan dan

anak-anak yang dilahirkan, tidak dapat mengurus akta kelahiran anak-anak-anak-anaknya, tidak

dapat megurus tunjangan keluarga bagi PNS, TNI/POLRI, BUMN/BUMD dan

karyawan swasta, serta sulit untuk mengurus warisan yang seharusnya menjadi

hak-haknya.

2 Y. Sri Pudyatmoko, Perizinan Problem dan Upaya Pembenahan, Grasindo,

Yogykarta, 2009, hlm.310.

(8)

Suatu perkawinan yang tercatatkan memiliki arti bahwa perkawinan yang

telah terjadi tersebut adalah sah. Karena kepluralan sistem hukum di Indonesia,

maka mengakibatkan bahwa sebagian masyarakat di Indonesia lebih memilih

untuk sekedar memenuhi syarat-syarat perkawinan yang sah menurut Agama

Islam dan tidak mencatatkan perkawinannya ke KUA maupun Kantor Catatan

Sipil. Sehingga hal ini menyebabkan perkawinan tersebut tidak pernah terjadi atau

dengan kata lain tidak diakui negara. Perkawinan yang sah menurut Agama Islam

ini disebut dengan Nikah Syiri’.

Lalu Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pun mengatur

mengenai akibat perkawinan, antara lain;

1. Suami isri memikul tanggung jawab yang luhur untuk menegakkan rumah

tangga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 30);

2. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan

suami dalam kehidupan rumah tangga dan dalam pergaulan hidup bersama

dalam masyarakat (Pasal 31 ayat (1));

3. Terhadap harta kekayaan, suami istri harus selalu ada persetujuan untuk

melakukan perbuatan hukum terhadap harta bersama (Pasal 35 dan 36);

4. Terhadap kedudukan anak, anak yang dilahirkan dalam perkawinan adalah

anak yang sah;

5. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anaknya sampai

anak tersebut kawin dan dapat berdiri sendiri (Pasal 45)

6. Anak yang dewasa wajib memelihara orang tua dan keluarga dalam garis

keturunan ke atas sesuai kemampuannya, apabila memerlukan bantuan

anaknya (Pasal 46)

7. Dan lain-lain.

Hal-hal di atas yang penulis sebutkan adalah beberapa akibat hukum dari

suatu perkawinan. Dimana dalam hal ini adalah perkawinan yang sah, tertulis dan

diakui negara. Namun yang terjadi apabila perkawinan tidak diakui negara yang

dalam pembahasan ini adalah tidak dicatatkan, maka akibat-akibat hukum diatas

tidak akan timbul, dan suatu tanggungjawab yang dilepaskan oleh suatu pihak

(9)

memberlakukan istrinya tidak setara dengan hak dan kedudukannya, maka hal

tersebut tidak dapat dituntut dipengadilan, karena perkawinanya saja dianggap

tidak pernah terjadi di mata negara.

Untuk itu, terdapat pula cara bagi orang-orang Muslim yang baru

mengalami nikah syiri’ (nikah dibawah tangan) yang belum dicatatkan di KUA

atau Kantor Urusan Sipil untuk memperoleh hak-haknya yang diakui dan

dilindungi negara, yaitu dengan cara Itsbat Nikah.

Istbat nikah adalah permohonan pengesahan nikah yang diajukan ke

pengadilan untu dinyatakan sahnya pernikahan dan memiliki kekuatan hukum.

Dasar hukum adanya itsbat nikah adalah Pasal 7 Ayat (2) Kompilasi Hukum

Islam yang mengatur bahwa “Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akte Nikah, dapat diajukan istbat nikahnya ke Pengadilan Agama.”

Namun terdapat pembatasan apabila seseorang ingin mengukuhkan pernikahannya melalui istbat nikah, menurut Pasal 7 Ayat (3) Kompilasi Hukum

Islam mengatur bahwa;

“Istbat nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan:

a. Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian;

b. Hilangnya akte nikah;

c. Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat

perkawinan;

d. Adanya perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-undang

No. 1 Tahun 1974;

e. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai

halangan perkawinan menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974.”

Sehingga jelas, apabila seseorang telah menikah dibawah tangan dengan

adanya halangan perkawinan menurut Undang-undang No. 1 Tahunn 1974 seperti

adanya hubungan darah tertentu, maka tidak dapat diajukan istbat nikah atasnya.

(10)

perkawinannya, namun perkawinannya tidak dicatatkan di KUA atau Kantor

Urusan Sipil maka dapat pula mengajukan istbat nikah untuk pengukuhan

pernikahannya agar diakui negara apabila pernah terjadi peristiwa tersebut dan

selanjutnya dapat segera diajukan perceraian kepada Pengadilan Agama.

D. KESIMPULAN

Maka berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa walaupun Indonesia memiliki berbagai sistem hukum yang berbeda , namun ketiganya dapat

berjalan bersamaan dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Bentuk

nyatanya adalah adanya kesinambungan mengenai kewajiban setiap warga negara

untuk mendaftarkan setiap perkawinannya ke Kantor Urusan Sipil maupun KUA

bagi warga muslim yang seluruhnya diatur baik dalam hukum negara yakni, Kitab

Undang-undang Hukum Perdata dan Undang-undang Perkawinan serta untuk

sistem hukum islam ini diatur dalam Kompilasi Hukum Islam. Kesinambungan

kedua sistem hukum ini dapat terlihat pada Pasal 7 Ayat (3) huruf e yang

mengatur bahwa “perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai

halangan perkawinan menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1974” yang dikhususkan untuk orang-orang yang ingin mengukuhkan perkawinannya melalui

pengadilan agama untuk mendapatkan hak-haknya. Sehingga jelas bahwa setiap

warga negara yang melakukan perkawinan wajib untuk melakukan pencatatan

perkawinannya, atau dengan kata lain pencatatan perkawinan merupakan

kewajiban hukum bagi seluruh subjek hukum di Indonesia yang melakukan

perkawinan. Sedangkan hak-hak yang telah dijelaskan pada pembahasan diatas,

baik hak untuk seorang suami, isteri ataupun anak-anak yang dilahirkan dalam

sautu perkawinan merupakan akibat hukum dari dilakukannya pencatatan

(11)

REFERENSI

1. Kuncoro, Wahyu Kuncoro. 2010. Solusi Cerdas Menghadapi Kasus Keluarga.

Jakarta: Raih Asa Sukses.

2. Pudyatmoko, Y. Sri. 2009. Perizinan Problem dan Upaya Pembenahan.

Yogyakarta: Grasindo.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) untuk mengetahui apa itu hukuman kebiri, 2) untuk mengetahui alasan diberlakukannya hukuman kebiri bagi pelaku

Untuk mempelajari pengaruh logam antara ion Cu(II) dengan ion Cd(II) terhadap pH larutan, maka proses fotoreduksi dilakukan dalam larutan dengan menggunakan massa fotokatalis sebesar

Kemandirian siswa dapat dilihat saat siswa dapat mengatur semua kegiatan pribadi dalam suatu proses pembelajaran hal ini sejalan dengan Ningsih dan Nurrahmah

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari bakteri simbion rumput laut Kappaphycus alvarezii mengandung berbagai jenis pigmen yang tergolong dalam pigmen karotenoid.. Kata-kata Kunci

Dengan ini saya menyatakan bahwa isi intelektual skripsi saya yang berjudul “ PEMODELAN SINTETIK UNTUK OPTIMASI PARAMETERAKUSTIK MUSHOLLA DENGAN MODEL KUBAH

Sedangkan kategori yang terendah dalam variabel Kepuasan Kerja yang termasuk pada kategori “Cukup Puas” yaitu pada sub-variabel Rekan Kerja dengan skor 3,24 dan Pekerjaan

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi dengan judul: “ “KEMAMPUAN GURU PAI DALAM PENYUSUNAN SILABUS DAN RPP DI SMPN-1 SEBANGAU KUALA KABUPATEN PULANG PISAU ”

Akan tetapi, jika air laut datang dengan ketinggian 1 m maka hanya ada beberapa segmen di bagian tengah dan barat yang mampu meredam air tersebut, sehingga tidak masuk ke