• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN KARAKTER BANGSA PADA MATA P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBELAJARAN KARAKTER BANGSA PADA MATA P"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN KARAKTER BANGSA PADA

MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

DI MADRASAH IBTIDAIYYAH

Makhrus Fauzi

Alumni FITK UIN Sunan Kalijaga [email protected]

abstract

Moral degradation that has swept Indonesia, among others, is due to the lack of character that many of its citizens have. Character education learning is believed to became one of the solutions to the moral degrade occurred in this current. Character education learning is then integrated into subjects at all levels of education including the level of basic education of which is Islamic Elementary School (MI). By using the subjects of History of Islamic Culture (SKI) as a reference, the practice of this character education learning is more to be modeling. To this end, main figures in history is then tranformed and actualized in the real current circumtances as a role model of the character. Accordingly, cultivation of character in teaching the nation's character can run in maximum.

Keywords: Learning character, character, Islamic Elementary School (MI), subjects, History of Islamic Culture (SKI)

A. Pendahuluan

Kondisi menurunnya karakter bangsa di Indonesia mengakibatkan banyaknya fenomena degradasi moral, seperti yang terjadi di masyakarat. Fenomena ini merupakan suatu hal yang sangat ironi yang terjadi di Negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan. Hal semacam ini disebabkan oleh kurangnya masyarakat dalam memaknai nilai-nilai kebangsaan itu sendiri. Nilai kebangsaan yang tercantum dalam simbol bangsa Indonesia yaitu “Pancasila” seolah hanya menjadi selogan dan kurangnnya mengenal serta mengaplikasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan serta saling menjaga keutuhan bangsa merupakan suatu kekuatuatan bagai bangsa itu sendiri. Oleh karena itu suatu bangsa harus mampu mengamalkan dasar-dasar kebangsaan. Tidak hanya menjadikannya sebagai sombol belaka namun, harus menjadi karakter bagi warga Negara Indonesia.

(2)

undang-undang terseut disebutkan salah satu tujuan pendidikan pendidikan yaitu menjadikan warga negara yang demoktatis serta bertanggung jawab (berkarakter). Dari tujuan tersebut, pendidikan haruslah dapat mengembangkan karakter bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Selain itu, pendidikan harus dapat menanamkan karakter bangsa pada peserta didik sebagai objek dari pendidikan. Oleh karena itu penanaman karakter bangsa menjadi salah satu hal yang perlu dilaksanakan sebagai salah satu cara mengembangkan karakter warga Negara Indonesia.

Pendidikan di MI tidak terlepas dari pendidikan karakter bangsa. Di MI yang berlatar belakang pendidikan agama Islam juga membutuhkan pendidikan karakter bangsa. Meskipun di MI sudah diajarkan dengan pendidikan akhlaq namun pendidikan karakter bangsa juga diperlukan agar supaya output dari MI menjadi seorang muslim yang taat dan menjadi warga Negara yang baik.

B. Pendidikan karakter bangsa di Indonesia 1. Pendidikan Karakter

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.2 Seseorang yang berkarakter yaitu seseorang yang berkeperibadian,

berprilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak tertentu, dan watak, tabiat, prilaku serta keperibadian tersebuat yang membedakan dirinya dengan orang lain.

Secara terminologis Lickona mendefinisikan karakter sebagai watak batin yang dapat diandalkan untuk menanggapi situasi dengan cara yang baik secara moral. Karakter terdiri dari nilai operatif, nilai dalam tindakan. Dengan demikian karakter mempunyai tiga bagian yang saling berhubungan pengetahuan tentang kebaikan (moral knowing); komitmen dalam kebaikan (moral feeling); dan melakukan kebaikan (moral behavior).3Ketiga komponen tersebut saling berhubungan satu dengan

yang lain. Pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral tidak berfungsi sebagai bagian yang terpisah namun, saling melakukan penetrasi dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam cara apapun. a. Nilai-nilai karakter

Pendidikan karakter di Indoneisia menurut versi Kemendiknas yang tertuang dalam buku pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa terdapat 18 nilai karakter yang dikembangkan. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini:

(3)

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2) Pancasila

Negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

3) Budaya

Budaya sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

4) Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan Pendidikan Nasional sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. 4

Berdasarkan keempat sumber nilai di atas, kemendiknas mengidentifikasi sejumlah nilai untuk karakter bangsa yang berjumlah 18 point yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingian tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.5

(4)

Sekolah merupakan lembaga terdepan dalam mengembangkan pendidikan karakter. Melalui sekolah proses pembentukan dan pengembangan karakter siswa mudah dipantau dan diarahkan. Karakter dibangun secara konseptual dan pembiasaan dengan menggunakan pilar moral dan kaidah-kaidah tertentu. Anis Matta menyebutkan baberapa kaidah dalam membentuk karakter sebagai berikut:

1) Kaidah kebertahapan

Proses pembentukan dan pengembangan karakter harus dilakuakn secara bertahap. Seseorang tidak dapat dituntut untuk berubah secara tiba-tiba namun, ada tahapan-tahapan. Orientasi kegiatan ini terletak pada proses bukan pada hasil. Proses pendidikan adalah lama namun, hasilnya paten.

2) Kaidah kesinambungan

Seberapapun kecilnya porsi latihan yang terpenting adalah kesinambungannya. Proses inilah yang nantinya akan membentuk rasa dan wara berpikir seseorang yang akan menjadi kebiasaan dan seterusnya menjadi karkater.

3) Kaidah momentum

Menggunakan berbagai momentum pristiwa sebagai sarana pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan bulan Ramadhan mengembangankan sifat sabar, kemauan yang kuat, kedewasaan dan sebagainya.

4) Kaidah motivasi instrinsik

Karakter yang kuat akan terbentuk sempurna jika dorongan yang menyertainya benar-benar lahir dari dalam diri sendiri. Pendidikan harus menanamkan motivasi atau kegigihan yang kuat dan tulus serta melibatkan aksi fisik yang nyata.

5) Kaidah pembimbingan

Dalam kaidah ini pembentukan karakter tidak dapat dilakuka tanpa seorang guru atau pembimbing. Kedudukan seorang guru yaitu membantu dan mengevaluasi perkembangan seeorang. Guru juaga berfungsi sebagai unsur perekat, tembat bercerita, dan sarana tukar piker bagi seseorang yang dibimbingnya. 6

(5)

a. Faktor insting (naluri), yaitu aneka corak refleksi sikap, tindakan, dan perbuatan manusia dimotivasi oleh kehendak dari dalam diri seseorang.

b. Adat atau kebiasaan, yaitu setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan.

c. Keturunan, secara tidak langsung atau tidak langsung faktor keturunan mempengaruhi pembentukan karakter atau sikap seseorang.

d. Miliu atau lingkungan, merupakansalah satu faktor yang ilut memberikan kontribusi dalam terbentukanya corak sikap dan tindakan seseorang yaitu faklor lingkungan. Lingkungan di sinni ada dua yaitu lingkungan alam dan lingkungan pergaulan.7

C. Pembelajaran SKI di MI 1. Mata pelajaran SKI

Mata pelajaran SKI merupakan suatu pelajaran yang mempelajari catatan perkembangan perjalanan muslim dari masa ke masa dalam beribadah, bermuamalah dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupan atau menyebarkan ajaran Islam yang dilandasi oleh akidah. 8 Dalam mata pelajaran ini banyak hal-hal yang dipelajari.

Secara substansial, mata pelajaran SKI memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati sejarah kebudayaan Islam, yang mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak, dan kepribadian peserta didik. Tujuan pembelelajaran SKI antara lain:

a. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.

b. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan.

c. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.

d. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa lampau.

(6)

politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.9

Ruang lingkup Sejarah Kebudayan Islam di Madrasah Ibtidaiyah meliputi:

a. Sejarah masyarakat Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.

b. Dakwah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, yang meliputi kegigihan dan ketabahannya dalam berdakwah, kepribadian Nabi Muhammad SAW, hijrah Nabi Muhammad SAW ke Thaif, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

c. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Yatsrib, keperwiraan Nabi Muhammad SAW, peristiwa Fathu Makkah, dan peristiwa akhir hayat Rasulullah SAW.

d. Peristiwa-peristiwa pada masa khulafaurrasyidin. e. Sejarah perjuangan Wali Sanga. 10

Berdasarkan ruang lingkup yang telah dipaparkan di atas, didapatkan bahwa mata peajaran SKI di MI lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran karakter bangsa. Hal ini dikarenakan dalam mata pelajaran SKI di MI berfokus pada figure Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabatnya serta tokoh-tokoh yang dapat dijadikan sebagai teladan dalam pembelajaran karakter bangsa.

1. Pembelajaran SKI di MI

2. Proses pembelajaran SKI meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajarn dan evaluasi pembelajaran. Pada tahap perencanaan pembelajaran guru memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan mencantumkan beberapa karkater ke dalam RPP untuk diterapkan dalam pembelajaran. Metode yang dipilih oleh guru ketika melakukan proses pembelajaran harus dapat memudahkan guru dalam penyampean materi dan penanaman karakter dalam pembelajaran yang beruatan karakter.

(7)

Menggunakan metode cramah, Tanya jawab dan diskusi untuk mengeksplorasi pengetahuan dan kemampuan yang dimilki oleh anak, serta menggunakan pendekatkata saintific sehingga dalam proses pembelajaran lebih menekankan pada keaktifan siswa sehingga mudah dalam pembentukan karakter siswa.

4. Pada proses evaluasi guru menggunakan penilaian yang mencakup semua aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam penilaian karkater bangsa terlihat

D. Pembelajaran Karakter Bangsa di MI dengan Referensi Mata pelajaran SKI

Proses pembelajaran karakter bangsa merupakan suatu proses penyampaian pengetahuan tentang karakter bangsa dan juga proses penanaman karakter pada diri peserta didik. Pada proses ini, peserta didik yang dihadapi yaitu pendidikan anak ibtidaiyah (setingkat sekolah dasar) yang sangat tergantung pada sosok yang dapat dijadikan sebagai model atau teladan. Pembelajaran karakter bangsa di MI berbeda dengan pembelajaran karakter bangsa di SD. Pada satuan pendidikan madrasah, pendidikan karakter bangsa langsung atau tidak langsung sudah diintegrasikan dengan mata pelajaran agama yang khas di Madrasah, seperti aqidah akhlaq, al-Quran Hadis, dan SKI. Oleh karena itu, pendidikan di Madrasah dapat dibilang lebih mudah dalam proses pembentukan karakter bangsa.

SKI merupakan salah satu mata pelajaran khas Madrasah khususnya di MI. Mata pelajaran SKI MI mencakup sejarah peradaban Arab pra-Islam, sejarah kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Selan itu , mencakup tentang sakwah Nabi Muhammad SAW dan para Sahabatnya yang meliputi kegigihan dan ketabahannya dalam berdakwah, kepribadian Nabi Muhammad SAW, hijrah Nabi Muhammad SAW ke Thaif, peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Yatsrib, keperwiraan Nabi Muhammad SAW, peristiwa Fathu Makkah, dan peristiwa akhir hayat Rasulullah SAW, peristiwa-peristiwa pada masa khulafaurrasyidin serta sejarah perjuangan Wali Sanga. Dari cakupan materi yang ada di SKI MI hal ini sangat mudah melakukan pembelajaran karakter bangsa.

(8)

wali songo. Selain itu modeling juga dapat dilakukan oleh guru saat menjelaskan pembelajaran karakter.

Dalam pembelajaran karakter bangsa melalui mata pelajaran SKI peserta didik diajak untuk untuk mengetahui bagaiman karakter-karakter baik dengan cara disuguhkan dengan kisah-kisah kepahlawanan dan figure yang dijadikan sebagai teladan serta dicontoh dalam kehidupan sehari hari. Setelah peserta didik mengeetahui karakter-karakter yang telah mereka dapat dari materi SKI, peserta didik terus diajrakan bagaiman menerapkan karakter tersebut dalam kehidupan sehari hari muali dari hal-hal sederhana yang dilakukan di lingkungan sekolah sebagai basis penanaman karakter di sekolah.

Catatan Akhir

1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

2 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), edisi ketiga, hlm. 529.

3 Thomas Lickona, Education For Character: How Our School Can Teach Respect And Responsibility, Penerjemah Juma Abdul Wamoungo (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hlm 81-82

4 Said hamid Hasan, Dkk, Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa (Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional, 2010) hlm 7-8

5 Suyadi, Strategi Pembelajaran Karakter…, hlm. 8-9

6 Sri Narwanti, Pendidikan Karakter Pengintegrasian 18 Nilai Pembentuk Karakter Dalam Mata Pelajaran, (Yogyakarta: Familia, 2011) hlm. 6-7.

7 Zubaidi, Desain Pendidikan Karakter Konsepsi dan Aplikasi dalam Lembaga Pendidikan, (Jkarta: Kencana, 2011) hlm. 177-183.

8 Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 000912 Tahun 2013 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab

9Ibid. 10Ibid.

11 Proses pembelajaran SKI di MI Ma’arif Giriloyo 1 kelas IV

Daftar Pustaka

Abdurrahman Dudung. Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2003.

Baswedan Anies. Merajut Tenun Kebangsaan. 2014. Diakses pada tanggal 02 Desember 2014 dari http://dikdas.kemdikbud.go.id/index.php/ merajut-tenun-kebangsaan/.

Daradjat Zakiah. Membina Nilai-nilai Moral Di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

Fokus Indosiar diakses pada tanggal 17 Juni 2015 dari http://www.indosiar.com/fokus/empat-orang-tewas-enam-warga-diperiksa_69669.html

(9)

Kompas. Diakses pada tanggal 17 Juni 2015 dari http://regional.kompas.com/read/2012/08/26/17193393/Bentrok. di.Sampang..Satu.Tewas.dan.Lima.Luka.

Lickona Thomas. Character Matter penerjemah Juma Abdu Wamaungo dan jean Antunes Rudolf Zein. Jakarta. Bumi Aksara, 2012..

_______________. Education For Character: How Our School Can

Teach Respect And Responsibility, Penerjemah Juma Abdul

Wamoungo. Jakarta: Bumi Aksara.

Mattew Milles B. dan Huberman A, Michael. Analisa Data Kualitatif: terjemah Rohindi. Jakarta: UI Press, 1992.

Mulyasa. Manajemen Pendidikan karakter. Jakarta: Bumi aksara, 2013. Narwanti Sri. Pendidikan Karakter Pengintegrasian 18 Nilai Pembentuk

Karakter Dalam Mata Pelajaran. Yogyakarta: Familia, 2011.

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 000912 Tahun 2013 Tentang Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Bahasa Arab.

Samani Muchlas dan Haryanto. Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.

Sanjaya Wina. Penelitian Pendidiakan. Jakarta: Kencana, 2013.

Saputro Soenarto. dkk. Buku Pedoman Penulisan Skripsi. Yogyakarta: PGMI, 2012.

Setyawan Davit, Kasus Kekerasan Siswa SD di Bukittinggi Diduga Efek

Game dan Film kekerasan. Diakses dari

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-kasus-kekerasan-siswa-sd-di-bukittinggi-diduga-efek-game-dan-film-kekerasan/ pada tanggal 16 Juni 2015.

Soehadha, Moh. Metodelogi Penelitian Sosial Kualitatif Untuk Study Agama, Yogyakarta: Suka Press, 2012..

Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2011.

Suyadi. Strategi Pembelajaran Karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013.

Suyitno Imam. Wawasan Kebangsaan: Nilai-Nilai Persahabatan Dan Hidup Harmonis (Pendidikan Karakter Sebagai Wahana Pembentukan Identitas Bangsa Di Tengah Arus Globalisasi).

dikses pada tanggal 20 Januari 2015 dari

(10)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Widianto Djoko, Ign. Gatut Saksono. Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila Negara Pancasila: Agama atau sekuler; Sosialis atau Kapitalis. Yogyakarta: Ampera Utama, 2012.

Yunus Hadi Sabari. Metodelogi Penelitian Wilayah Kontemporer.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.

Referensi

Dokumen terkait

Seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi maka penulis ingin mengembangkan model transaksi pembelian pakaian secara online dengan membuat website toko butik izatlya

Praktik Pengalaman Lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh dalam

Adalah sebuah media komunikasi publik berupa media publikasi yang akan disosialisasikan ke masyarakat Kota Depok khususnya masyarakat Kelurahan Curug (dimana lokasi

Epidemiology, risk factors and natural history dalam Standard for the Diagnosis and Management of Patients with COPD. American Thoracic Society and European

Absorpsi REM oleh partikel (atom/ion/molekul) dapat terjadi, hanya bila energi foton besarnya tepat sama dengan perbedaan energi antara keadaan dasar dengan keadaan energi yang

Additional Key Words and Phrases: Clustering, partitioning, data mining, unsupervised learning, descriptive learning, exploratory data analysis, hierarchical

Dalam suatu sistem informasi unit kegiatan mahasiswa, tidak cukup dengan hanya melakukan latihan secara baik, tetapi juga dari hal tentang bagaimana cara

The current liability regime, both under the Montreal and the Warsaw Conventions, as amended by the Guadalajara Convention, facilitates this business model by defining the