(59130002) Yose Emeraldo
(01120004) I Nyoman Yosafat A. S
(01120012) Mega Rosita M
(01120020) Rally Hamanganggu R
(01120026) Sipra Mariana G
(01120033) Onesiforus
(01120039) Moria Adhitya Y. W
(01120046) Gresy Windy K
Latihan Metode Historis Kritis – Injil-injil Sinoptik
Orang Samaria Yang Murah Hati (Lukas 10:25-37)
Sebelum membahas lebih dalam mengenai perikop Orang Samaria Yang Baik Hati ini baiklah kita memahami dahulu secara sekilas mengenai kitab dimana kisah ini dimuat, yaitu dalam Injil Lukas. Injil Lukas sebagai bagian dari Injil-injil Sinoptik tampaknya merupakan injil yang paling muda, kira-kira sekitar tahun 90an Masehi1. Dalam penulisannya, Injil Lukas
mengambil bahan dari Injil Markus, sumber Q (quelle – sumber perkataan-perkataan2), dan
sumber khususnya sendiri3. Injil Lukas ini tampaknya ditulis oleh penulis non-Yahudi dan
juga ditujukan kepada orang non-Yahudi (Teofilus yang mulia)4.
Kitab Lukas memiliki ciri khusus yaitu penitikberatan pada perhatian dan kasih Yesus kepada orang-orang yang berdosa, miskin, ‘hilang’ dan tersisihkan5. Injil Lukas juga
memberikan peranan yang lebih besar kepada perempuan6. Apabila kita mengamati bahwa
kitab Lukas merupakan satu kesatuan dengan kitab Kisah Para Rasul, maka kita dapat menangkap pesan bahwa keselamatan juga ditujukan kepada bangsa-bangsa non Yahudi7.
Disini Injil Lukas menunjukkan corak khusus universalis. Kabar sukacita memang dimulai dari orang Yahudi namun dari orang Yahudi kemudian kabar tersebut disebarkan untuk seluruh dunia.8
Perikop mengenai Orang Samaria Yang Baik Hati ini dapat diduga berasal dari sumber khusus Lukas. Kesimpulan ini dapat diambil karena perikop ini tidak memiliki paralelnya di injil-injil lain. Apakah dengan demikian berarti perikop ini juga menunjang dan
1 Lihat Marxsen, W. Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya, (Jakarta:
Gunung Mulia, 2012), h.173,184, dan 194 untuk dugaan penulisan masing-masing Injil Sinoptik.
2ibid. h.137 3ibid. h.187
4 Boland, B.J. & Naipospos, P.S., Tafsiran Alkitab: Kitab Injil Lukas, (Jakarta: Gunung Mulia, 1996), h.4 & 10 5 Duyverman, M.E., Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, (Jakarta: Gunung Mulia, 2012), h.59
6 Boland, B.J. & Naipospos, P.S., Op.cit., h.11 7 Duyverman, M.E., Op.cit., h.59
mendukung corak dan tujuan unik dari kitab Lukas? Kita akan melihatnya bersama-sama nanti.
Kisah Orang Samaria yang Baik Hati ini dimulai dengan seorang ahli Taurat yang berdiri untuk mencobai Yesus, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ayat 25). Ada penafsir membayangkan berdiri ini berarti bangkit dari tempat duduknya sehingga dibayangkan bahwa ini terjadi di sebuah rumah ibadah (sinagoge)9
mungkin setelah mendengarkan Yesus berkotbah disana. Namun sebagaimana kita tahu, terdapat beberapa kejadian dimana Yesus mengajar dan berbicara ditengah banyak orang saat tidak berada di sinagoge (Lukas 5:1-11, 6:17-19, 9:10-17). Sehingga bisa saja kejadian ini tidak bertempat di dalam sinagoge, sehingga kata ‘berdiri’ dapat diartikan maju ke depan atau tampil dimuka10.
Siapakah ahli Taurat? Ahli Taurat adalah orang yang menghabiskan banyak waktunya untuk belajar mengenai metode penafsiran dan pengenalan pengetahuan mengenai hukum dan tradisi Yahudi. Dapat dikatakan bahwa ahli Taurat adalah orang-orang yang sangat terpelajar dibidang Hukum Taurat. Ahli-ahli Taurat ini dilatih untuk mampu mengambil keputusan tentang soal-soal agama dan hukum.11 Anehnya sebagai seorang yang dilatih
demikian, sang ahli ini bertanya kepada Yesus mengenai cara memperoleh hidup yang kekal, suatu topik yang pastinya menjadi salah satu topik utama dalam agama Yahudi. Hal yang aneh berikutnya adalah karena seorang ahli Taurat setidak-tidaknya harus berusia 40 tahun12
sehingga bertanya kepada Yesus yang usianya jauh lebih muda (Yesus memulai pelayanannya pada usia 30 tahun dan meninggal kira-kira pada usia 33 tahun13). Bahkan ahli Taurat ini
memanggil Yesus dengan sebutan guru – rabi. Pada masa Yesus, sebutan Rabi bukanlah sebutan resmi untuk suatu jabatan (guru), melainkan panggilan keakraban namun dengan juga disertai rasa hormat yang besar14. Kata ini dapat diartikan “yang hebat” atau “tuanku” dan
digunakan untuk memanggil beragam macam orang yang dihormati15. Bisa jadi ahli Taurat ini
hanya mengikuti kesopanan umum masa itu atau ketika dia menyebut Yesus, “Guru” sebenarnya ini semacam mengejek. Apapun itu penulis perikop ini menyatakan bahwa ahli Taurat ini bertanya dengan maksud mencobai Yesus.
9 Ibid., h.268 10 Loc.cit., h.268
11 Wahono, S. W., Di Sini Kutemukan : Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, (Jakarta: Gunung
Mulia, 2011), h.327
12 Ibid., h.327
13 How old was Jesus when He was crucified? dalam
http://carm.org/questions/about-jesus/how-old-was-jesus-when-he-was-crucified diakses 25 April 2014
14 Wahono, S. W., Op.cit., h.330
Sebagaimana dikatakan di atas, ahli Taurat merujuk kepada orang-orang yang cakap mengenai hukum Taurat. Mereka bukanlah sebuah golongan khusus tersendiri seperti golongan Farisi atau golongan Saduki. Sebaliknya mereka masuk ke dalam golongan Farisi dan golongan Saduki juga, sehingga masing-masing golongan ini memiliki ahli Tauratnya sendiri-sendiri16. Dari pertanyaan ini (ayat 25) kita cukup kesulitan untuk menentukan apakah
ahli Taurat ini adalah bagian dari golongan Farisi atau golongan Saduki. Jika kita melihat bahwa golongan Saduki tidak percaya akan adanya kebangkitan orang mati17 – berarti tidak
ada kehidupan setelah kematian maka bisa diduga bahwa ahli Taurat ini merupakan golongan Farisi, atau setidaknya dia bukanlah golongan Saduki.
Dalam ayat 26, Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat ini dengan balik bertanya
“Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”. Tampaknya
Yesus mengetahui bahwa orang yang bertanya ini adalah seorang ahli Taurat dan (mungkin) mengetahui bahwa orang tersebut hendak mencobainya sehingga Yesus merespon demikian.
Selanjutnya pada ayat 27, ahli Taurat tersebut menjawab dengan rumusan yang dikenal sebagai Hukum Yang Terutama. Umumnya orang merasa bahwa rumusan ini merupakan sebuah rumusan original dari Yesus. Dalam Markus 12:28-34 dan Matius 22:35-40, Yesuslah yang mengucapkan rumusan ini, tetapi di injil Lukas, ahli Taurat inilah yang mengungkapkan rumusan tersebut. Kemungkinan injil Lukas ingin menunjukkan bahwa rumusan tersebut merupakan rumusan yang bisa diketahui ahli Taurat juga dengan membaca Taurat (bahkan Hukum Terutama yang pertama adalah Shema18 orang Yahudi yang biasa
disimpan dalam phylacteries19 dan tentu dikenal luas oleh orang Yahudi). Tetapi sepertinya
perhatian utama dalam perikop ini tidak terletak pada siapa yang merumuskan Hukum Yang Terutama tetapi pada pemahaman mengenai Hukum Yang Terutama, secara spesifik hukum yang kedua sebagaimana kita lihat dalam ayat berikutnya.
Dalam ayat 28, Yesus menyetujui jawaban ahli Taurat (ayat 27) tersebut. Namun tampaknya ahli Taurat ini belum puas. Dia kemudian menanyakan “siapakah sesamaku manusia?”. Kita bisa menduga bahwa pertanyaan ini muncul karena ahli Taurat ini memiliki definisi atau batasan-batasan mengenai siapakah sesamanya manusia. Berarti ada manusia yang bagi ahli Taurat ini bukanlah manusia! Pertanyaan si ahli Taurat ini kemudian dijawab Yesus dengan sebuah perumpamaan yang dikenal sebagai Orang Samaria Yang Baik Hati.
16 Wahono, S. W., Op.cit., h.327
17 E. Ferguson, Backgrounds of Early Christianity, (Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003), h.520 18 Semacam kredo yang diucapkan setiap hari oleh orang Yahudi. Lihat E. Ferguson, Ibid., h.561
19 Bahasa Ibrani, Tefillin, wadah kecil berisi teks Taurat yang ditulis di perkamen. Lihat E. Ferguson, Ibid.,
Dalam perumpamaan tersebut ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho (ayat 30) yang kemudian dirampok dan dipukuli sampai hampir mati oleh para penyamun. Orang ini kemudia ditinggalkan di jalan tersebut. Jika kita melihat setting geografisnya, Yerikho adalah sebuah kota yang terletak 15 mil sebelah timur laut dari Yerusalem. Jalur ini merupakan jalur yang ramai karena banyak perjalanan dilakukan antara Yerikho dan Yerusalem. Kondisi geografis jalur perjalanan ini adalah bergunung-gunung, berbatu, dan juga melewati gurun.20 Kondisi ini cocok untuk para penyamun bersembunyi dan mencari
mangsa. Jalur ini disebut jalur berdarah (bloody way) karena banyak terjadi pembunuhan dan perampokan disana21. Kota Yerusalem terletak di tempat yang tinggi dengan ketinggian 762
meter di atas permukaan laut sementara kota Yerikho terletak di lembah dengan ketinggian 234 meter di atas permukaan laut22 sehingga orang dalam kisah ini dikatakan turun dari
Yerusalem.
Selanjutnya dalam ayat 31 – 34, muncul tiga orang tokoh secara bergantian yang melewati jalan tersebut. Yang pertama adalah seorang imam, yang kedua adalah orang Lewi dan yang ketiga adalah orang Samaria. Pemilihan ketiga tokoh ini tentu memiliki makna yang signifikan bagi kisah ini. Kita akan membahasnya satu-persatu.
Imam adalah orang-orang yang bertugas menjalankan ritual keagamaan di Bait Suci. Para imam ini dibagi menjadi 24 kelompok yang setiap kelompok bertugas selama 1 minggu per waktu sebanyak 2 kali dalam satu tahun. Meskipun begitu dalam hari-hari raya besar mereka semua diminta untuk bertugas.23 Orang Lewi juga merupakan petugas dalam Bait
Suci. Tugas mereka ialah bernyanyi dan memainkan musik untuk ibadah-ibadah yang berlangsung, membantu pekerjaan para imam dan menjadi penjaga24. Mengingat bahwa
kehidupan bangsa Yahudi berpusat kepada Bait Suci maka tentulah orang-orang yang bertugas dan melayani disana memiliki status sosial dan kebanggaan tersendiri.
Mengapakah orang-orang ini berjalan melalui jalur Yerusalem-Yerikho ini? Tampaknya sebagian besar imam dan orang Lewi yang bertugas di Bait Suci tidak tinggal di Yerusalem tetapi ditempat lain25. Yerikho merupakan salah satu tempat tersebut. Diduga ada
kurang lebih 12 ribu imam dan orang Lewi tinggal disana26 (jumlah total imam Bait Allah
adalah sekitar 7200 orang dengan jumlah orang Lewi yang lebih banyak lagi27). Berdasarkan
20 Albert Barnes' Notes on the Bible, Lukas 10:30
21 John Wesley's Explanatory Notes on the Whole Bible, Lukas 10:30 22 John Gill's Exposition of the Entire Bible, Lukas 10:30
23 E. Ferguson, Op.cit., h.565 24 Wahono, S. W., Op.cit., h.324
fakta ini maka adalah wajar jika Imam dan orang Lewi melakukan perjalanan melalui jalur tersebut.
Orang Samaria pada masa Perjanjian Baru dipandang oleh orang Yahudi sebagai orang asing. Mereka tinggal di wilayah Palestina utara, wilayah lama kerajaan Israel Utara28.
Mereka sesungguhnya memiliki banyak kesamaan dengan orang Yahudi terkait dengan agama dan kepercayaan mereka. Meskipun demikian komunitas religius Samaria memiliki perbedaan yang penting dengan Yudaisme masa itu terkait dengan pusat peribadatannya. Kalau orang Yahudi berpusat di Yerusalem, orang Samaria berpusat di Gunung Gerizim. Orang Samaria juga memiliki imamatnya sendiri dan menolak keimaman Yerusalem.29
Pada abad pertama, relasi antara orang Samaria dan orang Yahudi berada dalam posisi yang buruk. Orang Yahudi yang tinggal di daerah Galilea dan perlu ke Yerusalem melalui daerah Samaria tidak mendapat keamanan. Mereka diancam akan diserang oleh orang-orang Samaria sehingga mereka harus mengambil jalan memutar. Sikap bermusuhan ini tidaklah sepihak saja namun juga ditunjukkan oleh orang-orang Yahudi, semisal ketika Yohanes Hirkanus menghancurkan Bait Suci Gerizim.30
Dalam ayat 31-32 dikatakan dalam teks ada seorang imam dan lewi yang melewati daerah tersebut dan menemukan orang yang sedang tergeletak di jalan tersebut yang baru saja di rampok dan dipukuli sampai setengah mati. Namun, imam tersebut hanya melewatinya saja dan tidak menolongnya. Ia tidak menolong dikarenakan ia teringat akan ketentuan bahwa barangsiapa yang menyentuh orang mati maka ia menjadi najis selam tujuh hari (Bil 19:11). Imam ini ragu-ragu apakah ia masih hidup atau sudah mati, oleh karena itu ia tidak mau menolongnya. Selain ia menjadi najis dan tidak dapat melakukan kegiatan di Bait Allah, untuk menjadi tahir seorang imam tersebut harus melakukan ritual yang rumit dan juga membutuhkan biaya yang mahal untuk melakukan pentahiran tersebut (Bil 19:1-10). Sehingga kemungkinan dengan alasan tersebut imam ini tidak menolong orang ini dan lebih mementingkan kehidupan pribadinya daripada menolong sesama.31 Kemudian di ayat 32 juga
dikatakan bahwa orang Lewi juga melihat orang yang tergeletak tersebut, namun dia juga tidak menolongnya. Biasanya para bandit mempunyai strategi untuk menarik mangsanya. Bisa saja orang yang sedang terbaring itu adalah salah seorang anggota mereka sendiri yang bertindak sebagai korban. Kalau orang Lewi itu berhenti disitu maka dengan tiba-tiba para perampok juga akan menyergap dia dan merampok harta bendanya. Orang Lewi terkenal dengan semboyan “pertama-tama adalah keamanan diri”, jadi ia tidak mau mengambil resiko
28 Ibid., h.338
29 E. Ferguson, Op.cit., h.534-535 30 Wahono, S. W., Op.cit., h.338-339
dengan menolong orang tersebut.32 Selain takut jika korban itu adalah stategi yang digunakan
oleh perampok, kemungkinan orang Lewi juga takut menjadi najis mengingat ia mempunyai tugas di dalam Bait Allah seperti yang telah dijelaskan di atas.
Ayat 33-35, datanglah seorang Samaria, dimana kita ketahui bahwa orang Samaria dan orang Yahudi memiliki relasi yang buruk dan seringkali bermusuhan. Namun, justru dalam ayat ini dikatakan bahwa orang Samaria inilah yang mau menolong orang yang tergeletak ini dan juga mau membawanya ke penginapan dan merawatnya. Orang Samaria ini pergi menolong dan membalut luka-luka yang diderita oleh korban perampokan tersebut. Tidak cukup sampai disitu ia menunjukkan belas kasihannya dengan menyiramkankan minyak dan anggur yang seharusnya disiapkan olehnya untuk kebutuhannya selama perjalanan, tetapi ia justru menggunakan itu untuk orang yang baru saja dikenalnya. Memang orang pada zaman tersebut kerap membawa minyak dan anggur sebagai bekal dalam perjalanan yang jauh untuk merawat luka (bdk Yes 1:6)33 Dalam kisah perumpamaan Orang
Samaria yang Baik Hati ini kami berpikir tentang beberapa hal yaitu mengenai anggur yang dibawa oleh orang Samaria untuk membasuh korban perampokan tersebut (Lukas 10:34). Jika kami melihat dari Perjanjian Lama maka kita dapat melihat bahwa anggur ini dimiliki oleh orang-orang kaya (masyarakat lapisan tinggi) karena merekalah yang mempunyai tanah dan dapat ditanami anggur sehingga kemungkinan bahwa orang samaria itu yang bekerja disitu atau mungkin saja dia adalah orang yang membeli anggur tersebut dari penjual atau mungkin saja dia adalah orang yang kaya yang mampu untuk membeli anggur. Dalam bagian ini kelompok masih bingung untuk menentukan apakah orang Samaria tersebut adalah orang yang berada di golongan tertinggi/lapisan tertinggi (pedagang-pedangan) atau digolongan rendah (buruh) ataukah malah berada di golongan menengah. Namun kami berpikir lagi jika melihat dari 2 dinar yang diberikan orang Samaria tersebut kepada sang pemilik penginapan (Lukas 10:35), kami berpikir pada masa itu dinar digunakan sebagai alat pembayaran dan 1 dinar sama dengan gaji satu hari pekerja disana, jadi kami berpikir bahwa orang samaria ini adalah seorang yang bekerja dikebun anggur orang kaya.34
Dalam ayat 36, Yesus bertanya kepada ahli Taurat siapakah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun tersebut. Kemudian di ayat 37, Ahli Taurat ini menjawab Yesus dengan cara yang mungkin tidak lazim. Bukannya menjawab secara langsung tokoh yang menjadi sesama tetapi justru ahli Taurat menjawab “dia yang telah menunjukan belas kasihan”. Mungkin ini disebabkan rasa bermusuhan ahli Taurat yang
32Ibid., h. 199-201
Yahudi dengan orang Samaria sehingga dia enggan bahkan untuk menyebut orang Samaria itu sebagai orang yang menolong. Seandainya ahli Taurat itu mempunyai suatu defenisi tentang “siapakah sesama”, mungkin saja orang yang terluka berat atau orang Samaria itu tidak akan masuk daftar “sesamanya” namun medan gerak “belas kasihan” tidak boleh dibatasi; harus terbuka selalu.35 Apapun itu Yesus menganggap jawaban ahli Taurat itu
memuaskan dan memerintahkannya untuk mempraktekkannya.
Perumpamaan yang dibuat oleh Yesus bukanlah sebuah perumpamaan yang jauh dari kenyataan sehari-hari namun sebaliknya. Perumpamaan-perumpamaan Yesus didasarkan pada kejadian dan peristiwa-peristiwa yang lazim dan diketahui orang pada masa itu. Hal ini membantu para pendengarnya untuk dapat menempatkan dirinya dalam diri tokoh-tokoh perumpamaan tersebut dan memperoleh pemahaman dari perumpamaan tersebut.
Sorotan Yesus pada ayat 36 sama sekali berbeda dengan pertanyaan ahli Taurat, tentang“siapakah sesamaku manusia?”. Yang menjadi perhatian Yesus bukanlah apakah si imam atau si Lewi atau malah si Samaria itu memandang orang yang dirampok itu sebagai sesama, melainkan siapa dari antara mereka berlaku sebagai sesama terhadap orang yang terluka itu. Biarpun ketiganya berpendapat sama, kesamaan pendapat tidak menciptakan kasih apalagi belas kasihan! Sesungguhnya kasih tidak pernah sibuk dengan defenisi. Maka kasihlah yang membawa manusia kepada Allah, kepada keselamatan. Orang Yahudi (ahli Taurat itu) mungkin membatasi bahwa keselamatan hanyalah dimiliki oleh orang Yahudi semata. Tetapi melalui teks ini, Lukas melalui Yesus hendak menegaskan pada universalisme keselamatan. Bahwa orang Samaria pun dapat menghidupi kehidupan kekal.36
Selanjutnya jika kita melihat resiko yang bisa dialami oleh para tokoh untuk menolong korban perampokan itu (terjebak perampokan atau menjadi najis), perumpamaan ini hendak menunjukkan bahwa dalam mengasihi, seringkali kita diperhadapkan kepada resiko terluka, repot dan kesusahan dimana kita ‘dituntut’ mengalaminya dan berkorban untuk dapat mengasihi. Pertanyaannya adalah apakah kita rela dan siap berkorban? Siapkah kita mengambil resiko seperti yang dilakukan oleh Orang Samaria yang Baik Hati itu?
Dalam kisah Orang Samaria yang Baik Hati ini, Kristus melukiskan sifat agama yang benar. Ia ingin menunjukkan bahwa agama yang benar itu bukanlah bergantung pada peraturan, kepercayaan, atau upacara agama, melainkan dalam melakukan perbuatan kasih, dan kebaikkan sejati.37 Dari perumpamaan ini ada suatu ironi yang secara implisit hendak
disampaikan bahwa orang-orang paling saleh dan religius justru mereka yang enggan
35Ibid., h. 300-302
36 Leks, S., Op.cit., h. 300-302
menunjukkan kasih, dan justru orang yang dianggap kafir dan rendah yang menunjukkan kasih kepada sesama bahkan musuhnya. Kami menjadi teringat dengan kritik nabi Amos dalam Amos 5:21-24. Kesalehan agama perlu diiringi dengan praktik nyata di dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Barclay, W., Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Lukas, Jakarta: BPK Gunung Mulia,2011) Boland, B.J. & Naipospos, P.S., Tafsiran Alkitab: Kitab Injil Lukas, Jakarta: Gunung Mulia,
1996
Duyverman, M.E., Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2012 E. Ferguson, Backgrounds of Early Christianity, Michigan: Eerdmans Publishing Co., 2003 e-Sword, Albert Barnes' Notes on the Bible, Lukas 10:30
e-Sword, John Wesley's Explanatory Notes on the Whole Bible, Lukas 10:30 e-Sword, John Gill's Exposition of the Entire Bible, Lukas 10:30
Leks, S., Tafsir Injil Lukas, Yogyakarta: Kanisisus, 2003
Marxsen, W. Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-Masalahnya, Jakarta: Gunung Mulia, 2012
Tjandra, L., Latar Belakang Perjanjian Baru 2
Wahono, S. W., Di Sini Kutemukan : Petunjuk Mempelajari dan Mengajarkan Alkitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2011
White, E. G., Kerinduan Segala Zaman, Bandung: Indonesia Publishing House, 1999
Sumber Internet
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/458479/phylactery http://followtherabbi.com/guide/detail/rabbi-and-talmidim