• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makanan Adat pada Acara Manyaratuih Hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makanan Adat pada Acara Manyaratuih Hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKANAN ADAT PADA ACARA MANYARATUIH HARI DI NAGARI PAKANDANGAN KECAMATAN ENAM LINGKUNG

Oleh : SITI HAFAZAH NIM. 55697/2010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA JURUSAN KESEJAHTERAAN KELUARGA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI PADANG WisudaPeriode: September 2015

(2)
(3)

1

MAKANAN ADAT PADA ACARA MANYARATUIH HARI DI NAGARI PAKANDANGAN KECAMATAN ENAM LINGKUNG

Siti Hafazah¹, Baidar², Wiwik Gusnita³ Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga

Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang

[email protected]

Abstrak

Tujuan penelitian adalah (1) mendeskripsikan tahap pelaksanaan upacara adat manyaratuih hari, (2) mengidentifikasikan jenis makanan adat, (3) menginventaris peralatan yang digunakan untuk menghidangkan makanan adat, (4) mengetahui cara penyajian dan tata cara makan, (5) mengungkapkan makna dari makanan adat pada acara manyaratuih hari. Jenis penelitiandeskriptif kualitataif, objek penelitian makanan adat pada acara manyaratuih hari. Teknik pengumpulan data: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan upacara manyaratuih hariterdiri dari tahapan persiapan sebelum acara dan rangkaian pelaksanaan acara manyaratuih hari. Makanan yang dihidangkan yaitu makanan parabuang dan makanan bajamba, dan alat untuk menghidangkan makanan adat pada acara manyaratuih hariadalah piring makan, piring kue, gelas, teko, kabasuah, dulang, dulang tinggi, tuduang saji, dalamak, kain pambungkuih. Cara penyajian dan tata cara makan untuk penyajian lauk-pauk disajikan pada piring, disusun dalam bentuk jamba, dan menyuap makanan dengan tangan. Makanan adat pada acara manyaratuih hari memiliki makna menjalin hubungan silaturahmi, memberi kesabaran untuk keluarga yang ditinggalkan.

Kata Kunci: Makanan Adat, Acara Manyaratuih Hari abstract

The purpose study was (1) to describe the implementation of a series of ceremonies manyaratuih hari, (2) identify the types of traditional food, (3) describe the equipment used to carry traditional food, (4) to know procedure of serving and structuring, (5) expresses the meaning of traditional food at ceremony

manyaratuih hari. This research descriptive qualitative, the object is customary food manyaratuih hari ceremony. The technique of collecting data: observation, interview, and documentation. Data analysis tecniques: data reduction, data presentation and conclusion of verification. The results showed that manyaratuih hari ceremony consists form any step preparation before the event and the circuit implementation manyaratuih hari. The food was served, namely food and food parabuang bajamba, and tools to serve food at the event manyaratuih hari

customary day is dinner plates, cake plates, cups, teapots, kabasuah, tray, tray height, tuduang saji, dalamak, fabric pambungkuih. Manner of presentation and arrangement of dining, to serve side dishes served on a plate, arranged in the form of jamba, and the feeding by hand. Traditional food at manyaratuih hari event has meaning in a relationship friendship, give patience to the bereaved family..

Keyword: Traditional food, Manyaratuih Hari 1

Prodi PendidikanKesejahteraanKeluargauntukWisudaperiodeSeptember 2015

2

(4)

A. Pendahuluan

Bangsa Indonesia merupakan negara yang banyaksuku bangsa, kebudayaan dan keanekaragaman yang dikenal sampai kemancanegara. Keanekaragaman yang dimiliki tersebut merupakan asset budaya yang harus dijaga kelestariannya. Upacara tradisional yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta kebiasaan dan keunikan berdasarkan nilai dan aturan yang ada dalam masyarakat tersebut. Menurut Mutia, dkk (2010: 2) mengatakan ³$GDW DGDODK DWXUDQ \DQJ EHUODNX GDODP PDV\DUDNDW

secara turun-temurun dan tingkah laku yang sudah menjadi kebiasaan dalam

KLGXS PDV\DUDNDW´

Menurut Izati, dkk (2011: 57 ³Acara manyaratuih hari adalah upacara yang dilakukan pada hari keseratus dari meninggal seseorang acara ini dilaksanakan dirumah kerabat almarhum, dimana bentuk upacara ini diawali dengan pembacaan doa setelah selesai diadakan maNDQ EHUVDPD´ Acara

manyaratuih hari dilaksanakan setelah mayat seratus hari dikuburkan acara ini diadakan doa selamat, tujuan untuk mendoakan almarhum dari siksaan kubur, dan memperteguh iman keluaraga yang ditinggalkan dan mempererat tali kekerabatan. Pada pelaksanaan acara adat manyaratuih haridiselenggarakan oleh sanak saudara dan masyarakat, yang diundang oleh tuan rumah. Untuk memimpin acara mandoa tuan rumah mengundang ninik mamak, labai dan urang siak.

Pada pelaksanaan acara tersebut biasanya menghidangkan beberapa jenis makanan adat untuk tamu undangan. Makanan adat yang ada pada setiap upacara adat hingga saat ini harus tetap dijaga kelestariannya sebagai upaya

(5)

melestarikan warisan leluhur. Makanan adat akan tetap ada dalam masyarakat yang berbudaya walaupun dalam batasan ruang dan waktu yang akan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Namun makanan adat tersebut harus selalu dihidangkan karena merupakan unsur budaya yang harus dijaga dan dihayati dari masa ke masa.Makanan adat adalah makanan yang menjadi ciri khas suatu daerah, dimana diolah dan dihidangkan pada pelaksanaan upacara adat tertentu serta memiliki berbagai macam variasi atau jenis makanan yang diolah atau dihidangkan.

Menurut Rony (2001:11) ³0DNDQDQ DGDW PHUXSDNDQacara makan bersama yang dihidangkan menurut tradisi dan tata cara adat yang dilakukan sejak

UDWXVDQ WDKXQ ODOX´ 6HGDQJNan menurut Zulkarnaini (2003: 17 ³0DNDQDQ

adat adalah makanan yang telah resmi atau yang telah ditentukan untuk disajikan dalam peristiwa-peristiwa pelaksanaan upacara adat dalam suatu

GDHUDK ´

Makananadat yang disajikan dalam upacarajuga mempunyai fungsi

WHUWHQWX 0HQXUXW 5RQ\ ³Makanan adat yang disajikan dalam

upacara adat hal ini berfungsi untuk melaksanakan ajaran-ajaran tradisi yang

WHODK GLUDVDNDQ PDQIDDWQ\D GDODP NHKLGXSDQ EHUPDV\DUDNDW´ 6HGDQJNDQ

PHQXUXW SHQGDSDW ]XONDUQDLQL ³0DNDQDQ DGDW GDSDW EHUIXQJVL

sebagai pelengkap dari upacara untuk menampilkan makanan daerah yang ada agar dikenal generasi muda dan ibu-LEX PXGD´

Sesuai pernyataan 5RQ\ GNN ³-HQLV PDNDQDQ \DQJ GLVDMLNDQ

(6)

putih, gulai daging, goreng ayam, ikan goreng, touco, gulai nangka, sampadeh daging, asampadeh ikan, lauk-pauk, dan kue-NXH´

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka makanan adat dapat diartikan segala sesuatu yang dapat dimakan sejak dahulu dan merupakan tradisi turun menurun dalam masyarakat.

Berdasarkan hasil pra penelitian kepada orang tua-tua setempat wawancara pada tanggal 17 september 2014, bahwa ditemukan pada saat sekarang ini kurangnya pengetahuan generasi muda mengenai tahap-tahap pelaksanaan acara manyaratuih hari, untuk makanan adat pada acara manyaratuih hari

tuan rumah menghidangkan makanan parabuang karena makanan adat initidak hanya dibuat oleh orang yang punya hajat saja tetapi juga dibawa oleh kelompok lain yang terikat dengan sistem kekerabatan, disamping mengikat hubungan silaturahmi dan juga tidak memberatkan keluarga yang meninggal, untuk itu urang sumando,besan, mintuo untuk membawa jamba

yang dihidangkan untuk urang siak pada saat acara mandoa. Pada zaman sekarang terjadi perubahan untuk makanan adat dan untuk pengolahan makanan adat ini hanya orang tua-tua saja karena orang tua lebih memegang peranan penting dalam pengolahan kue-kue yang akan dihidangkan, sedangkan para remaja dan ibu-ibu muda terlibat pada penyajian makanan saja. Serta kurangnya pengetahuan tentang makna makanan adat pada acara

manyaratuih hari.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan tahap pelaksanaan upacara manyaratuih hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam lingkung, (2) Mendokumentasikan jenis makanan adat yang dihidangkan

(7)

pada pelaksanaan acara manyaratuih hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung, (3) Mengiventaris jenis peralatan yang digunakan untuk menghidang makanan adat pada pelaksanaan acara manyaratuih hari di Nagari Pakandangan Enam Lingkung (4) Mendeskripsikan cara penyajian makanan adat yang dihidangkan pada pelaksanaan acara manyaratuih hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung, (5) Mendeskripsikan makna yang terkandung dalam makanan adat pada pelaksanaan acara

manyaratuih hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung. B. Metodologi Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi dalam penelitian ini yaitu di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September s/d Mei 2015. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Untuk mendapatkan data primer maka penulis langsung datang ke Nagari PakandanganKecamatan Enam lingkung untuk melakukan observasi, wawancara dan pengamatan secara langsung serta mencari data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, sedangkan data-data sekunder penulis dapatkan dari kantor wali Nagari yang berkaitan dengan makanan adat.

Informan dalam penelitian ini adalah niniak mamak, bundo kanduang, ibu-ibu PKK, orang yang dituakan dan mengerti tentang adat. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pemilihan

Snowball Sampling. Teknikpengumpulan data adalahobservasi, wawancara, dandokumentasi. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah

(8)

pedoman observasi untuk teknik observasi dan pedoman wawancara dengan membawa lembaran pertanyaan serta dokumentasi dengan menggunakan kamera dan video. Untuk mendapat data yang valid maka penulis menguji keabsahan data dengan kreabilitas data atas kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dapat dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pemeriksaan sejawat melalui diskusi, analisis kasus negatif. Teknik analisis data kualitatif yang meliputi tiga alur kegiatan antara lain: a. reduction data (data reduksi), b.

data display (penyajian data) dan c. verifikasi (menarik kesimpulan). C. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan dari tahap acara manyaratuih hari, makanan yang dihidangkan, alat yang digunakan untuk menghidangkan makanan adat, cara penyajian dan tata cara makan serta makna makanan adat pada acara manyaratuih hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung.

a. Tahap-tahap Pelaksanaan Acara Adat Manyaratuih Hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung

Tahap-tahap acara manyaratuih hari memiliki dua tahapan persiapan sebelum acara manyaratuih hari dan tahap acara adat

manyaratuih hari.

1) Persiapan sebelum acara adat manyaratuih hari

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, persiapan sebelum acara manyaratuih hari di Nagari Pakandanganyaitu : (a) Mengolah makanan adat, (b) menyajikan makanan yang telah diolah. Persiapan

(9)

makanan dikerjakan semuanya pagi pengolahannya dan penyajian ibu-ibu muda dan menantu, yang berbelanja pihak keluarga terdekat.+DO LQL VHVXDL GHQJDQ SHQGDSDW 5RQ\ ³0DNDQDQ

yang dihidangkan, terlebih dahulu dimasak bersama-sama atau bergotong-royong oleh sanak famili dalam satu persukuan dan untuk menjaga hubungan silaturahmi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar. 1 di bawah ini.

Gambar 1. Tahap Pelaksanaan Acara Manyaratuih hari Sumber: dokumen pribadi

Dari hasil penelitian dan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa persiapan sebelum manyaratuih hari yang berbelanja pada acara ini pihak keluarga terdekat, yang mengolah makanan dikerjakan pagi oleh

ibu-ibu muda, menantu dan semua pihak keluargabersama-sama dilakukan bergotong-royong untuk tetap menjaga hubungan silahturrahmi.

2) Rangkaian pelaksanaan acara manyaratuih hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung

Berdasarkan hasil penelitian, rangkaian acara manyaratuih hari

yaitu: a) Pembukaan acara mandoab)Menghidangkan makanan

(10)

karumah. Pada dasarnya acara adat manyaratuih hari yang dilaksanakan di Nagari Pakandangan ini dilaksanakan dengan mempertahankan tradisi yang sudah ada secara turun temurun dari generasi sebelumnya acara ini dilaksanakan di seratus hari. Berdasarkan hasil penelitian acara manyaratuih haridilaksanakan pada malam hari sekitar jam 20.00 WIB malam. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2. di bawah ini.

Gambar 2. Rangkaian Acara Manyaratuih Hari Sumber: Dokumentasi Pribadi

Acara mandoadipimpin oleh urang siak, labai, ninik mamak dan keluarga terdekat lainnya, pertama merundingkan kepada urang siak yang mana acara manyaratuih hari atau pengajian ini dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal, setelah kata mufakat sudah dapat barulah pihak laki-laki dari tuan rumah menghidangkan makanan parabuangyang telah disediakan oleh tuan rumah.Selanjutnya barulah diadakan acara mandoa

yang mana acara ini dipimpin oleh urang siak, labai, ninikmamak dengan membacakan al-TXU¶DQ 6HWHODK VHOHVDL mandoa pihak saudara laki-laki dari tuan rumah manatiang jamba yang akan dihidangkan untuk urang siak,labai, ninik mamak, dan sanak saudara lainnya, setelah itu labai

(11)

memberikan uang sedekah alakadarnya dan 1 batang lamang, urang siak

berserta rombongan lainnya berpamitan untuk pulang.

Dari hasil penelitian dan kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa tahap acara manyaratuih hari ini bertujuan untuk memperlihatkan kasih sayangnya terhadap keluarga yang ditinggalkan dengan membawa berbagai macam bawaan dan juga mempererat hubungan silahturahmi. b. Jenis Makanan Adat yang dihidangkan Pada Acara Manyaratuih di

Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung

Makanan adat manyaratuih hari adalah makanan yang dihidangkan oleh pihak tuan rumah yaitu makanan parabuangpinyaram kuniang,

lamang ketan,lamang pisang, lapek labu kuniang, goreng pisang, kue gadang, raga-raga tepung dan makanan yang dibawa bako, besan, urang sumando yaitu jambayang terdiri-dari nasiyang dihidangkan dalam dulang tinggi dan untuk lauk-pauknya yang disusun dalam dulang yang terdiri-dari nasi putih, untuk lauk-pauknya ayam gulai, asam padeh ikan, goreng ikan tongkol tabur bihun, telor mata sapi, gulai daging campur kentang, ikan bakar gurame, tumis kacang panjang, pergedel. Tidak sejalan dengan pendapat Zaidan, dkk (1985: 123)

Makanan dalam acara perkawinan adalah nasi, rendang daging, pergedel, gulai daging, pangek padeh, slada, ikan goreng, pindang, kue bolu, pisang, gulai kambing, pangek daun kunyit, tumis toco, goreng bada, goreng telur, nasi lamak, gelamai,anyang,gulai babek, gulai ayam, gulai terung dan

VDQMDL EDGD´

(12)

Pinyaram kuning Lamang lapek labu kuning

Raga-raga tepung Kue gadang Goreng pisang

Nasi putih Goreng terong balado Gulai ayam

(13)

Gulai daging kentang Ikan bakar gurame pergedel kentang Tumis kacang Gambar 3. Makanan Pada Acara Manyaratuih Hari

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Berdasarkan hasil penelitian dan kutipan di atas bahwa semua

makanan adat berbeda jenis dan jumlahnya disetiap daerah, makanan adat ini wajib dibawa dengan jumlah yang telah ditetapkan karena sudah menjadi ketentuan adat dan kesepakatan bersama.

c. Alat yang Digunakan Untuk Menghidangkann Makanan Pada Acara ManyaratuihHari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung.

Dari hasil penelitian yang dilakukan alat yang digunakan untuk menghidangkan makanan adat pada acara manyaratuih hari untuk tamu yang datang adalah, piring makan, piring kue, gelas, teko dan kabasuah, sedangkan alat yang digunakan untuk membawa makanan pada acara

manyaratuih hari adalah dulang, dulang tinggi, tudung saji, dalamak, kain pambungkuih. Berbeda dengan pendapat Riza Mutia (2010 ³$ODW

yang digunakan untuk menyajikan makanan piring, cambuang, katidiang

KLWDP GDQ GXODQJ´

(14)

Piring makan Piring kue Gelas

Teko Kabasuah Dulang

Dulang Dulang tinggi Dalamak Kain pambungkuih Gambar 4. Alat untuk Makanan Adat

Sumber: Dokumentasi pribadi

Dari hasil penelitian dan kutipan di atas maka alat yang digunakan untuk menyajikan makanan adat untuk manyaratuih hari adalah, piring makan, piring kue, gelas, teko dan kabasuah sedangkan alat yang digunakan untuk membawa makanan pada acara manyaratuih hari adalah dulang, dulang

(15)

tinggi, tudung saji, dalamak, kain pambungkuih, sementara katidiang hitam, cambuang tidak digunakan.

d. Cara Menyajikan Makanan Adat dan Tata-Cara Makan Pada Pelaksanaaan Acara Manyaratuih Hari di Nagari Pakandangan Kecamatan Enam Lingkung.

Berdasarkan hasil penelitian penyajian makanan parabuanguntuk

urang siak pada acara manyaratuih hari dengan dialas lantai ditengah rumah dengan tikar dan memakai seprah makan. Kemudian makanan yang sudah disajikan dalam piring kue disusun di atasnya secara rapi oleh labai

dari pihak tuan rumah.Sedangkan untuk jamba dilakukan sesuai dengan masakan, kalau nasi putih dihidangkan pada dulang tinggi yang dialas dengan daun pisang setelah itu nasi dibentuk bulat dengan tinggi 7cm. Untuk lauk-pauknya disajikan dalam piring samba dan disusun di atas dulang secara diselang-selingi. Sejalan dengan pendapat Zaidan dkk

³0DNDQDQ GLVDMLNDQ GLDWDV WLNDU GHQJDQ PHQJJXQDNDQ seprah

makan, makan bersama-sama dengan berhadap-hadapan makan menggunakan tangan tanpa sendok, menjelang makan diadakan upacara

SHUVHPEDKDQ VHFDUD DGDW \DLWX PHPSHUVLODKNDQ KDGLULQ PDNDQ´

Berdasarkan hasil penelitian dan kutipan di atas maka penyajian dan penataan makanan adat pada saat upacara adat manyaratuih hariuntuk makanan parabuang, lantai di alas dengan tikar dan menggunakan seprah makan, makanan parabuang disajikan pada piring kue dan disusun oleh labai dari pihak tuan rumah. Sedangkan untuk nasi

(16)

disajikan pada dulang tinggi dan untuk lauk-pauknya disajikan dalam piring samba dan disusun pada dulang dengan cara diselang-selingi. Setalah itu menghidangkan jamba ditengah-tengah urang siak tata cara makan duduk baselo secara berhadap-hadapan dan menyuap makanan dengan menggunakan tangan.

e. Makna yang Terkandung Dalam Makanan Adat yang dihidangkan Pada Pelaksanaan Acara Manyaratuih Hari

Makna yang terkandung dalam makanan adat yang dihidangkan pada pelaksanaan acara manyaratuih hariuntuk makanan parabuang yaitu lamang melambangakan adat, untuk alamarhum sebagai tongkat di akhirat nantinya, pinyaram kuning dilambangkan untuk almarhum sebagai payung diakhirat nantinya, lapek labu kuning melambangkan dubalang dalam sukunya ia merupakan benteng dalam kaumnya.Raga-raga tepung

melambangkan rasa persatuan dan kesatuan,juga mempunyai makna dalam menjalani hubungan silaturrahmi dan tidak boleh menjalaninya dengan terlalu keras dan juga tidak boleh menjalaninya dengan lunak, kue gadang merupakan sebagai adat dan orang yang bijaksana dalam nagari, goreng pisang merupakan lambing penghulu dalam suku, dan melambangkan berhati sabar untuk orang yang mendapat musibah. Makna untuk makan bajamba yang dibawa oleh pihak bako, sumando dan besan yaitu nasi, melambangkan rasa penghormatan untuk ninik mamak orang yang dituakan dalam Nagari, gulai ayam kuatnya hubungan silaturahmi, asam padeh ikan memiliki bahwa masyarakat minangkabau menjalani

(17)

kehidupan dengan ajaran agama dan adat istiadat, goreng ikan tongkol tabur bihun harus bisa bergaul dengan masyarakat, ikan bakar gurame memperkuat rasa persatuan dan kesatuan dalam masyarakat, pergedel kentang sebuah harapan dan penentuan kata mufakat tumis kacang panjang merupakan apabila melakukan acara di Pakandangan dilaksanakan dengan keikhlasan.

Sejalan dengan pendapat Rony (2001:40)

Semua makanan adat mengandung makna-makna tertentu sesuai dengan adat istiadat yang berlaku pada setiap daerah, seperti: (1) nasi lamak sebagai lambang dari malin yang biasa disebut suluhnagari, menurut adat sesuai dengan fungsi dan tugasnya di dalam kaum yaitu mendidik anak kemanakan dalam hal beragama dan beradat. (2) nasi kunyik sebagai lambang dari dubalang, yang fungsinya di dalam adat adalah benteng bagi masyarakat di dalam kaumnya. (3) wajik sebagai lambang dari manti di dalam suku, manti merupakan penyelamat, bagi seorang manti tidak ada kusut yang tidak selesai dan tidak ada keruh yang tidak jernih. (4) galamai lambang dari penghulu di dalam suku, penghulu adalah orang yang bijaksana dan berhati luas. (5) Piniaram

melambangkan urang gadang dalam nagari.

Dari hasil penelitian dan kutipan di atas makna dari makanan adat setiap Nagari berbeda. Dapat disimpulkan makna makanan adat yang disajikan pada pelaksanaan upacara adat manyaratuih hari terdapat makna mendoakan almarhum, dan melambangkan adat dalam Nagari serta

menjalin hubungan silaturrahmi, memberi kesabaran untuk keluarga yang ditinggalkan.

D. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan

Tahap-tahap acaramanyaratuih hari ini memiliki dua tahapan 1. Persiapan sebelum acara manyaratuih hari yaitu : a) Mengolah makanan adat b)Menyajikan makanan yang telah diolah2. Rangkaian pelaksanaan

(18)

acaramanyaratuih hari yaitu: a) Pembukaan acara mandoa

b)Menghidangkan makanan parabuangc) acara mandoad) Makanan bajambae) Pulang karumah.

Makanan parabuang yang disediakan oleh tuan rumah pinyaram kuniang, lamang, lapek labu kuning, goreng pisang, kue gadang, raga-raga tepung.Untuk jamba yang dibawa oleh pihak bako,besan, urang sumando terdiri-dari: nasi putih, goreng terong balado, gulai ayam, asam padeh ikan, telor mata sapi, goreng ikan tongkol tabur bihun, gulai daging campur kentang, ikan bakar gurame, pergedel kentang, tumis kacang panjang.

Alat yang digunakan untuk menghidangakan makanan pada pelaksanaan upacara adat manyaratuih hari adalah piring makan, piring kue, gelas, teko, kabasuah, sedangkan alat yangdigunakan untuk membawa jamba yaitu dulang, dulang tinggi, tudung saji, dalamak, kain pambungkuih. Sebelum makanan dihidangkan maka lantai di alas dengan tikar dan menggunakan seprah makan, makanan parabuang disajikan pada piring kue dan disusun oleh labai dari pihak tuan rumah. Sedangkan untuk nasi disajikan pada dulang tinggi dan untuk lauk-pauknya disajikan dalam piring samba dan disusun pada dulang dengan cara diselang-selingi. Setalah itu menghidangkan jamba ditengah-tengah urang siak

tata cara makan duduk baselo secara berhadap-hadapan dan menyuap makanan dengan menggunakan tangan. Makna makanan parabuang yang disediakan oleh tuan rumah yaitu lamang melambangakan adat, untuk alamarhum sebagai tongkat di akhirat nantinya, pinyaram kuning

(19)

dilambangkan untuk almarhum sebagai payung diakhirat nantinya, lapek labu kuning, melambangkan dubalang dalam sukunya ia merupakn benteng dalam kaumnya. Raga-raga tepung melambangkan rasa persatuan dan kesatuan, juga mempunyai makna dalam menjalani hubungan silaturrahmi dan tidak boleh menjalaninya dengan terlalu keras dan juga tidak boleh menjalaninya dengan lunak, kue gadang merupakan sebagai adat dan orang yang bijaksana dalam nagari, goreng pisang merupakan lambing penghulu dalam suku, dan melambangkan berhati sabar untuk orang yang mendapat musibah.

Makna untuk jamba yang dibawa oleh pihak bako, besan dan urang sumando yaitu nasi, melambangkan rasa penghormatan untuk

ninik mamak orang yang dituakan dalam Nagari, goreng terong balado melambangkan sebuah kesderhanaan dalam upacara adat, gulai ayam kuatnya hubungan silaturahmi, asam padeh ikan memiliki bahwa masyarakat minangkabau menjalani kehidupan dengan ajaran agama dan adat istiadat, telor mata sapi merupakan apabila ada suatu acara masyarakat akan melakukan secara bersama-sama, goreng ikan tongkol, pergedel kentang sebuah harapan dan penentuan kata mufakat tumis kacang panjang merupakan apabila melakukan acara di Pakandangan dilaksanakan dengan keikhlasan. untuk samba dan lauk-pauk dilambangkan sebagai adat,

2. Saran

Sebaiknya diadakan penyuluhan tentang makanan adat oleh niniak mamak di Nagari Pakandangan kepada masyarakat yang tidak

(20)

mengerti dan mengetahui adat di Nagari Pakandanganbaik untuk ibu-ibu maupun generasi muda.Teruslah melestarikan dan selalu berusaha memperkenalkan tradisi kepada generasi muda serta mengajak mereka supaya senantiasa mencintai kebudayaan sendiri. Catatan: artikel ini disusun berdasarkan Skripsi Penulis dengan pembimbing I buk Dra. Baidar, M.Pddan pembimbing II buk Wiwik Gusnita S.Pd, M.Si

Daftar Pustaka

Anas, Zaidan Nur, dkk. (1984/1985). Maknan, Wujud, Variasi dan Fungsinya. Padang: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

Amir, dkk. (1982/1983). Upacara Tradisional Sebagai Kegiatan Sosialisasi Di Daerah Sumatera Barat (Kematian) Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional Proyek Iventarisasi dan Dokuementasi Kebudayaan Daerah. Ramayulis dkk. (2011). Kajian Alat dan Kelengkapan Atribut Adat

Minangkabau. Padang: UPTD Museum Nagari.

Roni, aswil, dkk. (2001). Aneka Ragam Makanan Tradisional Minangkabau. Padang: Museum Adityawarman.

Izati, dkk. (2011). Upacara Kematian Di Minangkabau, Padang: Dinas Pendidikan Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat UPTD Museum Nagari.

Gambar

Gambar 1. Tahap Pelaksanaan Acara Manyaratuih hari  Sumber: dokumen pribadi
Gambar 2. Rangkaian Acara Manyaratuih Hari  Sumber: Dokumentasi Pribadi

Referensi

Dokumen terkait

Jadi dapat ditarik kesimpulan, berdasarkan hasil dari penelitian penulis lakukan bahwa rumah Adat karo di desa tersebut merupakan hal positif, disamping sebagai

Berdasarkan teori dari tahap pelaksanaan, indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan Desa Wisata Adat Ngadas adalah keakifan

Berdasarkan analisis yang digunakan, hasil penelitian menunjukkan Tari Paolle yang dilaksanakan pada upacara adat Akkawaru yang ditarikan oleh kelompok yang terdiri dari

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,