• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBUN BENIH KLONAL (CLONAL SEED ORCHARD)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEBUN BENIH KLONAL (CLONAL SEED ORCHARD)"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

MENGENAL SUMBER BENIH JATI :

KEBUN BENIH KLONAL

(CLONAL SEED ORCHARD)

CORRYANTI

dan

(2)

MENGENAL SUMBER BENIH JATI :

KEBUN BENIH KLONAL

(CLONAL SEED ORCHARD)

CORRYANTI

dan

TRISWAHYUDI

PUSLITBANG PERUM PERHUTANI - CEPU

2015

(3)

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (Clonal Seed Orchard)

Penulis :

Corryanti dan Triswahyudi

ISBN : 978-602-0853-00-0

Desain Sampul dan Tata letak : Corryanti dan Edi Purwanto

Penerbit :

Puslitbang Perum Perhutani Cepu

Redaksi :

Jl. Wonosari Batokan Tromol Pos 6 Cepu 58302 Jawa Tengah

Telp : 0296 - 421233

Fax : 0296 - 422439

Web : www.puslitbangperhutani.com

Email : [email protected] puslitbang.dokinfo@ gmail.com

Cetakan Kedua : April 2015

Cetakan Pertama : Desember 2014

(4)

PENGANTAR KAPUSLITBANG

K

ebun Benih Klon Jati dibangun sejak tahun 1983, dan produksi benihnya hingga hari ini masih

digunakan sebagai materi bibit dalam membangun hutan tanaman jati di wilayah Perhutani.

Pemahaman tentang seluk beluk dalam mengelola sumber benih semacam Kebun Benih Klon Jati amat diperlukan guna menyediakan informasi tentang kondisi sumber benih jati di Perhutani dan langkah-langkah yang dimungkinkan untuk mengembangkannya di kemudian hari.

Buku 'Mengenal Sumber Benih Jati: Kebun Benih Klon (Clonal Seed Orchard)' diterbitkan untuk

memberikan informasi yang berguna, tidak saja kepada para peneliti, mahasiswa, tetapi juga manajemen dan pihak pemerhati sumber benih.

Semoga bermanfaat.

Cepu, April 2015

SUWARNO

(5)

PENGANTAR PENYUSUN

B

anyak hal menarik yang bisa disampaikan, ketika kami menjalani pekerjaan sebagai

pengelola di Kebun Benih Klon Jati. Mulai dari keinginan mempelajari karakter individu tanaman jati dalam membentuk bunga dan buah, hingga harapan kemungkinan mengembangkan individu pohon per pohon, agar pohon jati di Kebun Benih Klon berbuah produktif.

Sebagai sumber benih, KBK dituntut menghasilkan buah jati yang kontinyu. Karakter pohon per pohon sengaja kami amati dalam tahun-tahun terakhir ini.

Data dan informasi kami bagikan kepada pembaca, berharap dapat menjadi acuan pengelolaan sumber benih jati – KBK lebih baik di masa yang akan datang.

Dalam cetakan kedua ini kami sempurnakan isi buku untuk menambah lengkap informasi tentang Kebun Benih Klon Jati dari cetakan sebelumnya.

Salam

(6)

DAFTAR ISI

PENGANTAR KAPUSLITBANG ... i

PENGANTAR PENYUSUN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR... iv

DAFTAR TABEL... ... v

01. PENGERTIAN SUMBER BENIH ... 1

02. MENGELOLA SUMBER BENIH JATI ... 3

03. MENCERMATI POTENSI BUNGA DAN BUAH JATI DI KBK ... ...10

04. MEMPROSES UNDUHAN BUAH JATI KBK ...14

05. ANCAMAN TANAMAN JATI DI KBK ...18

06. BIAYA PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN KBK JATI...20

07. ARAH PENGELOLAAN SUMBER BENIH KBK JATI DI MASA YANG AKAN DATANG...22

DAFTAR BACAAN...24 DAFTAR LAMPIRAN :

- LAMPIRAN 01. BLOK TANAM KBK PADANGAN - LAMPIRAN 02. BLOK TANAM KBK CEPU

- LAMPIRAN 03. BLOK TANAM KBK RANDUBLATUNG

Halaman

(7)

Halaman

DAFTAR GAMBAR

Gambar 01. Contoh Sumber Benih ... 2

Gambar 02. Mengokulasi jati ... 3

Gambar 03. Salah satu blok pertanaman di KBK Jati Padangan, umur 20 tahun ... 3

Gambar 04. Tanaman jati di KBK di musim kering dan musim penghujan... 4

Gambar 05. Tata letak blok pertanaman di masing-masing KBK : 05a. KBK Padangan ... 5

05b. KBK Cepu ... 5

05c. KBK Randublatung ... 6

Gambar 06. Beberapa kegiatan di dalam KBK Jati ... 8

Gambar 07. Susunan organisasi pengelola Kebun Benih Klonal ... 9

Gambar 08. Variasi curah hujan lima tahun terakhir (2009-2013)... 11

Gambar 09. Tampakan tajuk pohon jati berbunga ... 12

Gambar 10. Klon penghasil buah dalam 6 tahun pengamatan... 13

Gambar 11. Kegiatan memproses benih unduhan ... 15

Gambar 12. Produksi buah Jati KBK ... 16

Gambar 13. Tingkat serangan benalu... 18

(8)

Halaman

v

DAFTAR TABEL

Tabel 01. Pertanaman jati di Masing-masing KBK ... 6

Tabel 04. Peringkat 10 klon terbesar produksi benih di masing-masing KBK setiap tahun ... 12

Tabel 02. Tata waktu kegiatan pengelolaan di KBK jati ... 8

Tabel 03. Masa berbunga pohon jati di 3 (Tiga) KBK ... 10

Tabel 05. Kisaran taksasi dan realisasi produksi benih jati KBK ... 14

Tabel 06. Rendemen buah jati KBK menjadi benih ... 17

Tabel 07. Kehilangan pohon jati KBK Tahun 2012 - 2014 ... 18

Tabel 08. Pohon jati di KBK yang terserang benalu ... 19

(9)

Pengertian sumber benih

01. PENGERTIAN SUMBER BENIH

Sumber benih dalam pengertian umum adalah tegakan (kumpulan tanaman) yang sengaja dibangun di dalam maupun di luar kawasan hutan, dikelola sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk menghasilkan benih.

Sumber benih dapat diklasifikasikan dari yang paling rendah sampai dengan yang paling tinggi tingkatannya, berturut-turut sebagai berikut:

a. Tegakan Benih Teridentifikasi (TBT), tegakan alam atau kumpulan tanaman yang teridentifikasi

lokasinya, dan produksi kualitas benih yang memadai, digunakan untuk menghasilkan benih.

b. Tegakan Benih Terseleksi (TBI), tegakan alam atau kumpulan tanaman yang memiliki

pohon-pohon dengan fenotipe bagus, seperti batang lurus, percabangan ringan, tidak cacat, digunakan untuk menghasilkan benih.

c. Areal Produksi Benih (APB), areal tegakan yang telah terseleksi dan dilakukan

perawatan untuk meningkatkan kualitas tanaman, dimanfaatkan untuk menghasilkan benih.

d. Tegakan Benih Provenansi (TBP), tegakan berupa tanaman pohon-pohon yang provenansi

(asal-usul) nya diketahui dan teruji keunggulannya.

e. Kebun Benih semai (KBS), sebuah areal tegakan sumber benih yang dibangun penanamannya

dari materi benih asal indukan yang dinyatakan sebagai pohon plus.

f. Kebun Benih Klon (KBK), sebuah areal tegakan, yang penanamannya dibangun dari materi

asal perbanyakan vegetatif, seperti setek ranting/ cabang/batang, setek tunas/ pucuk,

sambungan/ bud graft/ okulasi, dan sebagainya).

g. Kebun Pangkas (KP), sebuah areal pertanaman yang sengaja dibangun dari materi tanaman

yang telah ditentukan, dirawat dengan intensif untuk menghasilkan pucuk-pucuk sebagai materi setek.

Dewasa ini sumber benih di Perhutani, untuk empat tingkatan pertama, sudah mulai berangsur-angsur ditiadakan, karena alasan faktor kualitas. Sementara tiga lainnya, masih menjadi andalan sumber benih dan bibit tanaman operasional. Pada tanaman jati di Perhutani, hingga saat ini sumber benih dan bibit jati berasal dari dua sumber benih, yaitu dari Kebun Benih Klon (KBK) dan Kebun Pangkas (KP).

(10)

Pengertian sumber benih

Gambar 01. Contoh sumber benih

Dari atas ke bawah : Sumber benih - Areal Produksi Benih (a) ; sumber benih-Kebun Benih Klonal (b) ; dan Sumber benih - Kebun Pangkas (c)

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

)

2

(a)

(b)

(11)

Mengelola sumber benih jati

02. MENGELOLA SUMBER BENIH JATI

Mengenalkan sumber benih jati berklasifikasi kebun benih klon, penyusun menyiapkan kronologi sejarah membangun KBK ini.

KBK dibangun pada tahun 1983, yaitu inisiasi kerjasama Perhutani dengan Universitas Gajah Mada (UGM). Secara bertahap, tanaman KBK jati diselesaikan sampai tahun 1996. Dalam realisasi pekerjaannya, dibangun lebih lanjut KBK jati terseleksi kurun waktu tahun 2003 sampai 2005. KBK terseleksi dibangun dari klon-klon pilihan yang mengacu pada hasil evaluasi tanaman uji keturunan. Tercatat terdapat 25 klon yang dinyatakan unggul dari hasil tanaman uji keturunan sebelumnya.

Materi pembangun tanaman KBK adalah hasil perbanyakan vegetatif dengan cara okulasi/ sambungan/

bud graft. Materi bagian atas disebut scion, berasal dari indukan pohon-pohon plus, sementara bagian

bawah, disebut root stock, disiapkan dari sembarangan jati sebagai penumbuhan akar bud grafting

kemudian.

Karena fungsinya sebagai sumber benih, penanaman pohon-pohon di KBK diatur dengan acak (random) antar klon, dengan jarak tanam 10m x 10m, dan diulang dalam blok tanaman.

(a)

(b) (c) (d)

Gambar 02.

Mengokulasi jati, scion pada bagian atas (a) dan root stock (b) pada bagian bawahnya, bila scion dan rootstock sudah bersatu, sekitar 3-4 minggu (c), muncul tunas baru disebut bud grafting ( d)

Gambar 03.

(12)

Mengelola sumber benih jati

Kebun Benih Klon Jati dibangun di tiga lokasi, yaitu di wilayah KPH Padangan, KPH Cepu, dan KPH Randublatung.

Kebun Benih Klon berlokasi di Padangan, masuk wilayah RPH Tinggang, BKPH Tegaron, KPH Padangan.

KBK Padangan berbatasan dengan wilayah hutan atau perdesaan, dengan penjelasan berikut: Sebelah utara berbatasan dengan Desa Ngeper dan Desa Purworejo, Kecamatan Padangan.

Sebelah barat berbatasan dengan Desa Prangi dan Desa Tebon, Kecamatan Padangan, dan Desa Payaman, Kecamatan Ngraho.

Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bancer dan Desa Klempun, Kecamatan Ngraho serta Desa Pengkol, Kecamatan Tambakrejo.

Sebelah timur berbatasan dengan wilayah hutan RPH Tinggang, BKPH Tegaron, KPH Padangan. Perbatasan dengan banyak desa tersebut di atas, berupa tegalan atau ladang milik masyarakat.

KBK Padangan berluasan 650,3 ha, berisi 14 tahun penanaman (1983 sampai 1996). KBK ini dibagi atas 8 petak, 132 blok dengan berisi sebanyak 144 klon. Inventarisasi hingga pertengahan tahun 2014 masih terdapat pohon hidup sebanyak 59.944 pohon.

Gambar 04.

Tanaman jati di KBK di musim kering (kiri) dan di musim penghujan (kanan)

4 Penanaman secara random dilakukan untuk menyiapkan tanaman yang ditanam berdekatan tidak

mengalami perkawinan inbreeding, atau perkawinan kerabat. Perkawinan antar kerabat dekat

menghasilkan generasi yang memunculkan sifat-sifat negatif (kelemahan), sebaliknya perkawinan antar kerabat yang jauh diharapkan akan menghasilkan generasi yang lebih baik dari tetuanya.

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

(13)

Mengelola sumber benih jati

Kebun Benih Klon berlokasi di Randublatung masuk wilayah RPH Jati Kusumo, BKPH Kedung Jambu, KPH Randublatung.

KBK Randublatung berbatasan dengan wilayah hutan atau perdesaan, dengan penjelasan berikut: Sebelah utara berbatasan dengan Dukuh Loji ijo Desa Kalisari, Kecamatan Randublatung.

Sebelah barat berbatasan dengan sawah masyarakat Dukuh Taman Etan, Desa Wulung. Sebelah selatan berbatasan dengan jalan raya Randublatung – Blora.

Sebelah timur berbatasan dengan Dukuh Pilang Bangau Desa Wulung.

KBK Randublatung berluasan 172 ha, berisi 5 tahun penanaman (1991 sampai 1995). KBK ini dibagi atas 21 anak petak, 39 blok dengan berisi sebanyak 124 klon. Inventarisasi hingga pertengahan tahun 2014 masih terdapat pohon hidup sebanyak 15.386 pohon.

Gambar 05b.

Tata letak blok pertanaman di masing-masing KBK Jati Cepu Gambar 05a.

(14)

Tabel 01.

Pertanaman jati di masing-masing KBK

Mengelola sumber benih jati

Gambar 05c.

Tata letak blok pertanaman di masing-masing KBK Jati Randublatung

Sumber : Data inventarisasi KBK Padangan, Cepu dan Randublatung

Kebun Benih Klon berlokasi di Cepu, masuk wilayah RPH Kasiman dan RPH Sekaran, BKPH Sekaran, KPH Cepu.

KBK Cepu ini berbatasan dengan wilayah hutan atau perdesaan, dengan penjelasan berikut:

Sebelah utara dan barat berbatasan langsung dengan petak-petak yang dikelola BKPH Sekaran KPH Cepu.

Sebelah selatan berbatasan dengan jalan raya Cepu – Malo.

Sebelah timur berbatasan dengan sawah dan tegalan/ladang milik masyarakat Desa Tambak Merak, Dukuh Klepo dan Desa Mundu, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro.

KBK Cepu berluasan 600,6 ha, berisi 12 tahun penanaman (1983 sampai 1991 dan 2003 sampai 2005). KBK ini dibagi atas 16 petak, 95 blok dengan berisi sebanyak 122 klon. Inventarisasi hingga pertengahan tahun 2014 masih terdapat pohon hidup sebanyak 51.621 pohon.

No Lokasi KBK dan luas (ha) Seri tahuntanaman Jumlah Petak Jumlah Blok Jumlah Klon Jumlah Pohon

Padangan 1983-1996 8 132 144 59.944 Klon yang

ditanam tidak mesti sama di masing-masing KBK Cepu : - KBK Non-Seleksi(480,7 Ha) - KBK Seleksi(119,9 Ha) Randublatung (172 Ha) 1983-1991 1991-2005 1991-1995 13 3 21 45 95 39 266 -122 25 124 -42.923 8.698 15.386 126.951 Jumlah 6

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

(15)

Dalam setahun, terdapat kegiatan rutin yang dilakukan di KBK jati, yaitu:

a.Sensus pohon berbunga dan berbuah, kegiatan menginventarisasi dan mengidentifikasi individu

pohon di dalam KBK jati, yang berbunga dan berbuah. Biasa dilaksanakan dalam bulan Januari-Maret mengetahui pohon berbunga, dilanjutkan sensus pohon berbuah sepanjang bulan Juni-Juli.

b.Taksasi produksi buah, kegiatan memprediksi produksi buah jati KBK dengan membuat plot contoh atau sampling plot pada masing-masing blok, mengacu pada pohon berbuah (hasil sensus). Kegiatan taksasi

dilaksanakan bulan Juli hingga Agustus.

c. Babat jalur tumbuhan bawah, kegiatan membersihkan semak belukar/ tumbuhan bawah di sepanjang

jalur tanaman indukan KBK, bertujuan untuk memberi ruang tumbuh yang cukup pada pohon. Biasa dikerjakan dalam kurun triwulan II-III.

d. Pembuatan ilaran api, yaitu jalur ilaran api pada lokasi-lokasi yang terdapat banyak seresah dan dapat

memicu terjadinya kebakaran. Biasa dikerjakan dalam bulan-bulan kering, Juni-Juli.

e. Babat tumbuhan bawah pohon berbuah, membabat dan membersihkan tumbuhan bawah serta semak

belukar yang berada di bawah pohon yang sedang berbuah. Dengan pekerjaan babat ini, kemudian akan memudahkan pengunduhan benih saat memungut buah masak. Biasa dikerjakan dalam bulan Juli hingga Agustus.

f. Pengunduhan, yaitu kegiatan memanen buah KBK jati, dikerjakan lajimnya dalam kurun waktu, Agustus

hingga Oktober, atau menyesuaikan saat buah masak.

g. Pendangiran. Kegiatan ini berupa upaya menggemburkan tanah di bawah pohon indukan, agar aerasi

tanah menjadi lebih baik, dan penyerapan hara pada akar-akar pohon berlangsung dengan normal. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, biasanya dalam bulan November-Desember. h. Pemupukan adalah memupuk pohon-pohon di KBK, biasa digunakan pupuk kandang dengan dosis

tertentu sesuai umur tanaman, yaitu pada tanaman berumur 4 - 9 tahun. Dosis pupuk kandang yang diberikan 12 kg per pohon, sedang pada tanaman berumur di atas10 tahun diberikan 24 kg/ per pohon. Kegiatan pemupukan dilaksanakan pada awal musim penghujan, November hingga Desember.

i. Pembaruan batas blok, yaitu membuat tanda gelangan dengan mengecat bagian batang pohon

selebar 10 cm. Biasa diberi cat berwarna biru pada ketinggian 150 cm dari muka tanah. Cat batas blok dikerjakan pada pohon-pohon pinggir yang berada di bagian paling luar tanaman. Batas blok lajim diperbarui setiap 2 tahun kemudian.

j. Pembaruan nomor pohon, yaitu memperbarui identitas pohon dengan menuliskan nomor pohon pada

batang pohon, berisi nomor klon dan nomor pohon atau acir. Pembaruan ini diulangi atau diperbarui dalam dua tahun.

k. Pengamanan tegakan. Kegiatan pengamanan KBK dilakukan melalui patrol (pengawasan) rutin

sepanjang hari. Kegiatan pegamanan ini berkoordinasi dengan jajaran unit kerja terkait, yaitu KPH, kepolisian setempat, perangkat desa terkait, serta pembinaan masyarakat sekitar wilayah KBK.

l. Perlindungan hama dan penyakit, yaitu segala bentuk kegiatan yang dilakukan manajemen untuk

(16)

Gambar 06.

Beberapa kegiatan di dalam Kebun Benih Klonal Jati

Mengelola sumber benih jati

8 Tabel 02.

Tata waktu kegiatan pengelolaan di KBK jati

8 Feb

Babat tumbuhan bawah pohon

thp Hama & Penyakit

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

(17)

Mengelola sumber benih jati

Sampai dengan saat ini, dalam mengelola KBK Jati, kegiatan praktis di lapangan, dikoordinasikan oleh petugas lapangan, setara Kepala Regu yang memimpin mandor-mandor kerja di lapangan dan berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait di dalam dan ke luar. Dengan tiga KBK Jati yang ada, maka para Kepala Regu itu bertanggungjawab kepada seorang petugas, disebut Petugas pelaksana Kelola Kebun Jati setara Kepala Sub Seksi Petugas Sub Seksi Kelola Kebun ini bertanggungjawab kepada Kepala Biro Kelola SDH.

Gambar 07.

Susunan organisasi pengelola Kebun Benih Klon Jati Kepala Biro

Kelola SDH Kapuslitbang

Petugas Pelaksana Kelola kebun Jati

Mandor KBK Padangan Mandor KBK Cepu Mandor KBK Randublatung Petugas Pelaksana

Kelola kebun Jati Padangan

Petugas Pelaksana Kelola kebun Jati

Cepu

Petugas Pelaksana Kelola kebun Jati

(18)

Mencermati potensi bunga dan buah jati di KBK

03. MENCERMATI POTENSI BUNGA DAN BUAH JATI DI KBK

Memahami saat masa berbunga dan masa berbuah pohon jati di sumber benih seperti KBK Jati adalah kegiatan yang penting, karena menyangkut kesiapan KBK dalam menyediakan benih dengan mengetahui potensinya dalam berproduksi bunga dan menghasilkan buah.

Jati dapat dipungut buahnya sekali dalam setahun. Dari tiga lokasi KBK Jati, pengamatan menunjukkan, masa berbunga pohon jati adalah dalam bulan Januari sampai dengan Maret, dilanjutkan dengan masa berbuah dalam waktu bulan Maret hingga Mei. Bulan selanjutnya adalah masa pemasakan buah, yaitu bulan Juni hingga September.

Masa berbunga pohon jati tidak serempak, antar satu pohon dengan lainnya. Oleh karena itu, mengamati pohon berbunga seyogyanya dilakukan dua kali dalam satu tahun, dan mengamati pohon berbuah cukup sekali dalam setahun, yaitu saat pohon sudah dipastikan menghasilkan buah. Pengalaman petugas di lapangan, pengamatan terbaik untuk pohon berbunga dilakukan dalam bulan Februari Maret, dan pengamatan pohon berbuah dapat dilakukan dalam bulan Juni.

Hasil pengamatan pohon berbuah ini selanjutnya dapat dijadikan acuan untuk menaksasi (taksasi) produksi buah dalam tahun berjalan. Kegiatan taksasi buah dalam tahun berjalan biasa dikerjakan dalam bulan Juni-Juli.

Tabel 03.

Masa berbunga pohon jati di 3 (Tiga) KBK

Petak Petak Petak

10

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

)

(19)

Dalam beberapa literatur, telah banyak dikemukakan pohon-pohon jati sumber benih semacam KBK menunjukkan pohon berbunga dan berbuah hanya mencapai 30 per sen.

Pada kenyataannya, kemampuan berbunga dan berbuah tanaman jati di KBK dipengaruhi oleh faktor-faktor luar yang memicu berkembang tumbuhnya bunga dan berhasil-tidaknya bunga menjadi buah. Curah hujan yang tinggi sering memicu terjadinya kegagalan bunga menjadi buah. Dari pengamatan curah hujan tahun ke tahun, tercatat curah hujan bervariasi antar tahun dan antar lokasi, yaitu rata-rata 2.408 mm per tahun, atau secara terinci berturut-turut 2.262,9 mm/tahun (wilayah KBK Padangan), 2.636,1 mm/tahun (wilayah KBK Cepu), dan 2.326,0 mm/ tahun (wilayah KBK Randublatung).

Di samping itu produktivitas bunga dan buah jati ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan lainnya, seperti angin, hewan penyerbuk, ancaman kesehatan tanaman, serta tata kelola yang dipraktikkan.

Masa berbunga suatu pohon diikuti dengan masa bunga menjadi buah pada waktunya, karena dipengaruhi oleh besar-kecilnya curah hujan pada waktu itu. Bila waktu berbunga disertai curah hujan yang tinggi dan angin yang kencang, kemungkinan besar kegagalan bunga menjadi buah akan terjadi.

Pertanaman jati dalam KBK yang dibangun dari beragam klon, menunjukkan tidak semua klon memiliki masa berbunga dan berbuah yang serempak, di sisi lain individu pohon dalam klon yang sama pun menunjukkan potensi berbunga dan berbuah yang bervariasi. Setiap tahun, terdapat peringkat klon yang terbanyak buahnya, yang tidak sama dibanding tahun lainnya. Dengan demikian, setiap masa pengunduhan, individu pohon per pohon memiliki ragam produktivitas dari tahun ke tahun (inkonsistensi berbuah).

Mencermati potensi bunga dan buah jati di KBK

Gambar 08.

Variasi curah hujan lima tahun terakhir (2009-2013)

Sumber: Data Curah Hujan di masing-masing KBK Padangan, Cepu dan Randublatung

Curah hujan (mm/thn)

(20)

Mencermati potensi bunga dan buah jati di KBK

13 Tabel 04.

Peringkat 10 klon terbesar produksi benih di masing-masing KBK setiap tahun

Gambar 09. Dari kiri ke kanan :

Tampakan tajuk pohon jati berbunga rendah dengan jumlah malai kurang dari 10 per pohon;

berbunga sedang dengan jumlah malai 10-25 per pohon ; berbunga lebat dengan jumlah malai lebih dari 25 per pohon

Sumber : Data Produksi Buah KBK Padangan Tahun 2003, 2004, 2005, 2007, 2009,dan 2011 Keterangan: Produksi buah rata-rata 500 butir atau 0,5 kg per pohon

12

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

) Peringkat 2003 2004 2005 2007 2009 2011 Klon Prod (kg) Prod (kg) Prod (kg) Prod (kg) Prod (kg) Klon Prod (kg) KBK PADANGAN 1 51 540,79 51 265,93 51 349,75 51 182,00 12 181,60 17 123,70 2 43 472,06 9 169,03 52 198,95 9 180,15 9 178,50 38 115,40 3 15 389,03 52 143,17 31 149,65 1 176,85 51 173,70 14 114,40 4 1 279,73 19 117,74 9 146,40 43 135,10 15 165,70 51 112,30 5 12 270,82 12 115,17 104 145,11 15 131,45 1 150,10 22 98,00 6 33 262,88 1 104,85 1 144,30 8 125,50 8 146,20 15 93,50 7 21 244,20 45 95,91 15 135,00 28 109,25 52 141,20 31 71,90 8 19 242,14 104 94,73 33 129,68 102 105,60 4 132,90 52 71,70 9 18 238,69 101 93,61 102 117,91 59 105,50 17 131,70 26 59,60 10 9 228,42 4 91,86 12 116,10 2 102,25 22 113,40 43 56,30 KBK CEPU 1 17 176,90 17 173,30 17 117,30 11 542,60 17 249,30 17 436,10 2 15 167,30 11 128,80 12 112,60 1 434,60 21 241,30 11 413,00 3 21 142,67 9 108,15 72 96,30 10 396,00 11 230,70 18 390,90 4 43 141,20 41 103,60 11 93,70 9 361,70 15 187,40 1 375,80 5 47 139,50 10 100,30 51 91,70 12 355,90 26 172,40 22 355,70 6 1 133,23 5 100,10 15 89,40 24 315,20 1 172,00 21 339,80 7 11 132,31 64 99,65 4 88,60 19 308,90 12 166,60 15 331,90 8 51 132,17 4 97,75 48 86,90 7 299,20 22 157,30 14 330,80 9 59 130,90 31 92,55 1 86,60 54 284,20 7 155,60 3 327,40 10 28 130,58 19 92,30 64 86,40 20 276,80 10 153,50 2 320,50 KBK RANDUBLATUNG 1 102 47,20 102 53,24 100 73,19 73 64,70 86 17,04 86 47,02 2 86 43,06 100 52,86 102 57,99 93 50,78 75 16,75 76 40,90 3 84 36,70 86 52,73 67 56,81 100 47,65 77 14,30 102 40,02 4 123 33,04 75 49,61 101 44,63 94 47,55 72 13,51 83 39,56 5 85 31,89 123 44,68 4 41,58 86 47,08 73 12,69 78 39,37 6 100 30,63 73 41,91 75 39,54 102 46,83 81 12,37 72 38,57 7 89 29,27 99 41,37 76 39,18 74 45,35 80 11,76 80 34,64 8 76 28,85 84 40,07 80 37,83 96 44,10 88 11,42 81 33,93 9 92 28,74 78 37,40 93 34,32 72 40,03 67 10,88 94 33,82 10 77 28,23 79 36,69 77 33,11 82 39,19 102 10,80 77 33,24 No KlonNo Klon No KlonNo KlonNo

(21)

Hasil pengamatan pohon berbuah bervariasi dari tahun ke tahun, menunjukkan terdapat klon-klon tertentu di suatu lokasi KBK yang selalu menghasilkan buah setiap tahun (pengamatan), tetapi terdapat klon yang tidak selalu berbuah setiap tahun (pengamatan), berbuah tetapi tidak banyak, atau sesekali berbuah dalam kurun jangka tahun (pengamatan). Sebuah pengamatan produksi buah yang kami lakukan selama enam tahun berturut-turut, menunjukkan terdapat klon-klon yang selalu berbuah selama enam kali panen, atau enam tahun pengamatan, dan ada yang hanya satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali atau lima kali dalam enam tahun pengamatan.

Mencermati potensi bunga dan buah jati di KBK

Gambar 10.

Klon penghasil buah dalam 6 tahun pengamatan

Keterangan : Pengamatan dilakukan selama 2003-2011

0 5 10 15 20 6 thn 5 thn 4 thn 3 thn 2 thn 1 thn KBK Padangan KBK Cepu KBK Randublatung 51, 52, 01 17, 104, 19, 22, 33, 18, 24 43, 31, 08, 102, 04, 59, 11, 73 11, 01 88, 75, 102 12, 09, 15 17, 04, 12 73, 76, 94, 80, 77 15, 21, 07, 51, 14, 10 83, 78, 100, 84, 92, 67 18, 72, 25, 05, 09, 19, 24 93, 81, 79, 72 14, 28, 101, 94, 32, 115, 107, 56, 47, 60, 23 28, 26, 64, 59, 02, 03, 53, 45, 23, 42, 50, 52, 44, 08, 22, 31 123, 87, 90,85, 31, 82, 99, 97, 24, 04, 101, 88 38, 21, 45, 26, 02, 75, 58, 37, 49, 44, 48, 61, 117 43, 47, 48, 54, 20, 49, 63, 70, 58, 68, 41, 37, 57, 56, 30, 29 32, 03, 89, 74, 96, 91, 103, 15, 21, 14, 05, 65, 98, 59, 17, 29 No klon berbuah dalam pengamatan

(22)

04. MEMPROSES UNDUHAN BUAH JATI KBK

a. Pengunduhan buah, sekali pun kegiatan pengunduhan benih dan menghasilkan benih di KBK

telah biasa dilakukan dari tahun ke tahun, namun kegiatan taksasi produksi buah jati di KBK perlu dilakukan sebelum kegiatan pengunduhan buah dilaksanakan.

b. Memprediksi Produksi benih, taksasi produksi adalah kegiatan menduga atau memprediksi

produksi benih pada sebelum masa pengunduhan, yang didasari pada pengamatan pohon berbunga dan pendugaan keberhasilan pohon berbuah. Nilai prediksi biasa dinyatakan dalam jumlah buah atau berat (kg/pohon) dan kemudian dijumlahkan untuk keseluruhan pohon.

Kegiatan taksasi biasa dikerjakan oleh petugas di lapangan yang telah bekerja menggeluti pengelolaan kebun benih bertahun-tahun, sehingga ketepatan taksasi terhadap realisasi dapat mencapai 90-100 per sen. Pernyataan ini terbukti, ketika melakukan taksasi di tahun 2014, capaian realisasi melewati taksasi hingga 109,4%.

Setelah benih diunduh atau dipanen, sebelum benih siap dimanfaatkan, benih unduhan menjalani

tahapan proses benih, dikenal dengan istilah seed processing, atau dalam bahasa lapangan disebut

prosesing.

Ada beberapa tahapan proses benih, diurutkan sebagai berikut:

a. Pengeringan dan pembersihan, yaitu kegiatan menjemur benih di atas lantai jemur dengan alas

plastik jemur (terpal). Benih dijemur, dan dikelompokkan sesuai nomor klon dan tahun tanam. Penjemuran dikerjakan sampai kulit buah tampak mengering dengan kadar air sekitar 10-12 per sen.

b. Seleksi benih, yaitu kegiatan menyeleksi benih di atas meja seleksi. Benih diseleksi secara okuler,

mengelompokkan benih-benih yang baik, sehat (biasa ditunjukkan dengan bentuknya yang bulat dan berwarna coklat), dan menyisihkan benih yang cacat atau rusak.

c. Sortasi benih, yaitu mengayak benih benih yang sudah dipilih tadi melalui meja sortasi,

bertujuan memisahkan benih berdasarkan ukuran diameternya. Diameter benih jati biasa dibedakan atas tiga ukuran diameter, yaitu berturut-turut 10-12 mm; 12-14 mm,dan ukuran diatas 14 mm.

Memproses unduhan buah jati KBK

15 Tabel 05.

Kisaran taksasi danrealisasi produksi benih jati KBK

No KBK Taksasi Produksi Realisasi Produksi

1. Padangan 3.125,55 3.177,30

2. Cepu 7.466,94 8.778,70 3. Randublatung 1.050,15 787,71

Jumlah 11.642,64 12.739,71

Sumber : Data taksasi dan realisasi produksi buah jati KBK tahun 2014

14

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

(23)

d. Pengemasan benih, dilakukan dengan menggunakan kantong plastik yang dirancang sedemikian rupa,

sehingga tidak terjadi kerusakan. Dalam kemasan benih berisi paling tidak sekitar 6 kg, dan dipisahkan antara benih besar, sedang, dan kecil. Etiket keterangan produksi benih dicantumkan pada plastik kemasan bagian depan dan label di dalamnya, yang memuat keterangan asal benih, ukuran benih, tanggal panen, tanggal pengolahan, tanggal penyimpanan, kemurnian benih, kadar air, daya kecambah dan berat benih.

Memproses unduhan buah jati KBK

Gambar 11.

a. Penerimaan buah dari KBK jati b. Memisahkan buah berdasarkan nomor klon

c. Teknik melepaskan kulit buah d. Menjemur buah

e. Pembersihan buah dari kotoran f. Seleksi buah untuk kategori benih

(24)

Umumnya benih jati asal KBK yang diproduksi, hingga saat ini masih mengutamakan peruntukan benih pertanaman di wilayah Perum Perhutani, walau dalam jumlah tertentu benih jati KBK diperjualkan kepada pihak luar Perhutani.

Pengamatan catatan produksi sepanjang KBK Jati dibangun, menunjukkan produksi buah KBK berfluktuasi antar tahun ke tahun. Terjadi produksi terbesar sepanjang KBK dibangun, pada tahun 2008, sebanyak 55.504,47 kg. Dari pengamatan produksi, menunjukkan produksi buah KBK tahunan adalah 25 ton per tahun, atau secara wilayah berturut-turut 8 ton/ tahun (KBK Padangan), 14 ton/tahun (KBK Cepu), dan 2 ton/ tahun (Randublatung). Perbedaan produksi antar lokasi ini dapat disebabkan karena luasan, jumlah klon yang ditanam, serta kesuburan tanah di lokasi KBK.

Memproses unduhan buah jati KBK

17 Gambar 12.

Produksi buah jati KBK

Sumber : Data produksi KBK tahun 1998-2013

16

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

) 0 5 10 15 20 25 30 35 40 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Padangan 7,97 9,23 17,33 6,92 15,46 7,43 2,13 3,30 - 0,113 Cepu 10,04 12,84 31,71 22,04 35,29 10,86 9,19 18,44 - 1,02 Randublatung 2,80 2,52 4,44 3,07 4,75 0,66 0,68 2,17 - 1,20 2013 0,113 1,02 1,20 thn Prod buah ( x1.000 kg )

(25)

Dari perhitungan rendemen proses benih jati, menunjukkan masing-masing KBK memiliki rendemen yang bervariasi, yaitu berbeda antar tahun panen dalam satu lokasi, dan berbeda rendemen antar lokasi. Pada Tabel 06 terlihat berturut-turut rendemen benih rata-rata adalah 77,23 per sen (Padangan), 75,89 per sen (Cepu), dan 76,65 per sen (Randublatung), sehingga tampak pula bahwa rendemen benih jati di KBK berada pada nilai kisaran 75 per sen.

Penyimpanan benih jati dalam kurun waktu yang relatif lama (selama ini disimpan paling lama 2-3 tahun) menunjukkan tidak menurunkan kualitas kemampuan berkecambah. Pengamatan daya kecambah pada benih yang disimpan masih dalam jangka waktu 2-3 tahun masih dalam batas toleransi prosentasi susut, yaitu 18 – 28,93 per sen (surat dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa dan Madura no : S258/BPTH.JM-3/2014 perihal toleransi prosentasi susut benih jati KBK).

Memproses unduhan buah jati KBK

Tabel 06.

Rendemen buah jati KBK menjadi benih

Sumber : Data produksi buah jati KBK tahun 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, dan 2014

Padangan Cepu Randublatung

Produksi Produksi Produksi Produksi Produksi Produksi

No Thn Sebelum Setelah Sebelum Setelah Sebelum Setelah

Prosesing Prosesing Prosesing Prosesing Prosesing Prosesing (Kg) (Kg) (%) (Kg) (Kg) (%) (Kg) (Kg) (%) 1 2 5 4 5 6 7 8 9 10 11 1 2004 7.977,20 6.498,84 81,47 10.042,43 7.599,94 75,68 2.805,51 2.309,86 82,33 2 2005 9.231,95 7.597,60 82,30 12.848,90 10.062,05 78,31 2.521,97 1.955,11 77,52 3 2006 17.328,08 12.491,26 72,09 31.710,52 25.501,00 80,42 4.441,01 3.340,10 75,21 4 2007 6.924,10 5.557,05 80,26 22.043,45 17.512,20 79,44 3.071,40 2.536,31 82,58 5 2008 15.458,76 12.147,80 78,58 35.291,16 26.599,85 75,37 4.754,55 3.755,30 78,98 6 2009 7.430,10 5.917,70 79,64 10.865,70 8.423,30 77,52 661,20 454,30 68,71 7 2010 2.129,50 1.535,50 72,11 9.190,60 6.572,10 71,51 679,00 497,50 73,27 8 2011 3.296,00 2.546,63 77,26 18.442,20 13.722,84 74,41 2.172,05 1.773,68 81,66 2013 113,50 94,90 83,61 1.017,70 817,69 80,35 1.202,00 1.014,49 84,40 2014 3.173,30 2.538,75 80,00 8.778,70 6.759,70 77,00 787,71 606,55 77,00 JUMLAH 73.062,49 56.926,03 160.231,36 123.570,67 23.096,40 18.243,20 RERATA 4.566,41 3.557,88 10.014,46 7.723,17 1.443,53 1.140,20

Rendemen Rendemen Rendemen

9 10

(26)

Ancaman tanaman jati KBK

05. ANCAMAN TANAMAN JATI DI KBK

Jati tetap menjadi perhatian bagi masyarakat sekitar, sehingga keberadaan tanaman jati KBK tetap rawan terhadap pencurian. Pencurian kayu tanaman jati KBK tetap menjadi perhatian yang penting, karena menyangkut materi genetik sebagai pohon sumber penghasil benih.

Pengamatan tiga tahun terakhir, tercatat ancaman pencurian kayu jati terjadi di semua KBK, Padangan, Cepu, maupun Randublatung. Dalam tiga tahun terakhir saja, sudah tercatat sebanyak lebih dari 556 pohon tercuri. Koordinasi dengan semua pihak terkait untuk masalah ini merupakan upaya yang terus menerus harus dilakukan petugas.

Ancaman terhadap tanaman jati KBK juga disebabkan oleh serangan hama dan penyakit. Serangan benalu, dewasa ini merupakan ancaman yang tidak hanya terjadi di KBK, tetapi juga tanaman masal di wilayah pertanaman di KPH. Ancaman benalu pada tanaman jati hampir terjadi di semua petak dengan tingkat serangan yang beragam. Serangan benalu pada pohon jati berdampak pada produktivitas pohon, termasuk produksi benih. Pada pengamatan serangan benalu di tahun 2013, tercatat sekitar 23 per sen dari total pohon , dengan tingkat serangan yang beragam.

19 Gambar 13.

Dari kiri ke kanan : Kategori tingkat serangan benalu sebesar 75% ; 50% ; dan dibawah 50%

18

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

)

7.

Jumlah 171 340 45

(27)

Saat ini, upaya yang dilakukan adalah tindakan pemberantasan, yaitu dengan cara mekanik, memotongi atau memangkasi bagian pohon yang terserang benalu secara total.

Kejadian kebakaran merupakan ancaman lain yang tidak kalah penting, dan kerap terjadi pada masa-masa rawan, seperti musim kemarau dan akibat gangguan sosial lainnya. Catatan petugas di lapangan, kejadian kebakaran dalam tahun ini (2014) terjadi 2 kali, di KBK Padangan. Hal ini kerap terjadi karena lokasi KBK dekat dengan jalan besar yang ramai lalu lintasnya.

Upaya yang yang dilakukan dalam mencegah kebakaran adalah dengan membangun ilaran api, sehingga memudahkan pemadaman api saat terjadi kebakaran. Upaya mengendalikan api saat terjadi kebakaran adalah dengan pemadaman konvensional, memanfaatkan daun-daun ilaran api, seperti ploso, kesambi, sono (sonokeling dan sonobrit). Tanaman ini ditanam pada batas blok dan sebagai tanaman tepi.

Ancaman tanaman jati KBK

Gambar 14.

Upaya mekanik memberantas benalu pada tanaman jati di KBK

Dari kiri ke kanan, petugas sedang memotongi cabang dan ranting yang diserang benalu; Ranting yang sudah dipotong dibuang ke bawah;

Bagian potongan benalu dibiarkan kering dan mati; biasa pemberantasan ini dilakukan pada musim kemarau akan sangat efektif.

Tabel 08.

Jumlah 126.951 30.554 23,92%

Sumber : Hasil sensus pohon KBK yang terserang benalu tahun

(28)

Biaya penyelenggaraan pengelolaan KBK Jati

06.BIAYA PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN KBK JATI

Pembiayaan untuk mendukung pengelolaan kebun benih KBK Jati menjadi andalan, agar produksi benih sesuai dengan harapan. Pemeliharaan dan penyediaan sarana dan prasarana serta menjaga keamanannya menjadi fokus dalam mengelola KBK.

Biaya yang dikeluarkan untuk mengelola KBK Jati dapat dibagi atas klasifikasi biaya pemeliharaan; biaya penyediaan sarana; dan biaya pengamanan materi genetik (pohon).

21 Tabel 09.

Pembiayaan mengelola KBK jati

Sumber : Data jumlah pohon dari tarip upah KBK jati tahun 2014

Catatan : * Berat = Tumbuhan bawah berupa semak berkayu, berduri atau alang-alang dengan kerapatan ≥ 60% * Ringan = tumbuhan bawah, berupa alang-alang dengan kerapatan < 60%

20

No Jenis Kegiatan Sat Tarif /satuan

(Rp) Keterangan 1 Babat jalur tumbuhan bawah *Berat Hm 29.050

Dilakukan 1 kali dalam setahun *Ringan Hm 21.330

2 Pendangiran Phn 5.600 Dilakukan 1 kali dalam setahun 3 Pemupukan Phn 815 Dilakukan 1 kali dalam setahun 4 Babat tumb. bawah phn berbuah *Berat Phn 5.400

Dilakukan 1 kali dalam setahun

*Ringan Phn 4.070

5 Pengunduhan buah Kg 6.930 Dilakukan 1 kali dalam setahun 6 Pembaharuan batas blok Phn 610 Dilakukan 2 tahun sekali 7 Pembaharuan nomor pohon Phn 310 Dilakukan 2 tahun sekali 8 Pembuatan ilaran api Hm 54.130 Dilakukan 1 kali dalam setahun 9 Pemberantasan benalu *Berat Phn 5.500

Dilakukan 1 kali dalam setahun *Ringan Phn 4.000

10 Langsir pupuk ke lokasi Kg 47 Dilakukan 1 kali dalam setahun 11 Pengadaan pupuk kandang Kg 200

12 Alat dan bahan untuk pengunduhan buah Pkt PM Kantong plastik, karung, label, alat tulis, spidol, tali rafia 13 Alat dan bahan untuk pengamanan Pkt PM Cat, terpentin, kuas, senter, batu

baterai, jas hujan, sepatu boot

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

(29)

Bila memperhatikan biaya per satuan sesuai dengan tarif di Perhutani, maka seyogyanya pengelolaan KBK Jati, tinggal menghitung sesuai luas KBK dan jumlah pohon. Bila dihitung berdasarkan luasan total dan jumlah pohon yang dikelola pada sumber benih-KBK saat ini, maka biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 2.375.000.000 per tahun. Biaya tersebut belum termasuk biaya operasional pengamanan dan biaya karyawan. Pada luasan 1.422,9 Ha, paling tidak dibutuhkan petugas lapangan sebanyak 24 orang termasuk 3 orang petugas setara Kepala Regu. Biaya pengamanan dan biaya karyawan untuk 3 KBK jati dibutuhkan sekitar Rp 500.000.000,- per tahun.

Biaya yang besar ini tentu memiliki perhatian dan konsekuensi dari manajemen sepanjang KBK masih menjadi sumber benih, diperlukan perhitungan yang matang dan keseriusan dalam mengelola KBK.

(30)

Arah Pengelolaan Sumber Benih KBK di Masa Yang Akan Datang

07. ARAH PENGELOLAAN SUMBER BENIH KBK DI MASA YANG AKAN DATANG

Pengelolaan sumber benih di KBK selama 30 tahun masih bersifat konvensional dan mengandalkan sepenuhnya pada kemampuan sumberdaya tanaman, belum menyentuh pada upaya perbaikan meningkatkan produksi.

Pada kenyataannya, setelah dilakukan pencermatan yang baik antar pohon, petak, blok dan antar lokasi KBK, terdapat variasi dalam hal masa berbunga, masa berbuah, jumlah buah antar individu dan antar klon. Hal ini tentu menjadi modal penting bagi pengelola kebun benih di masa yang akan datang untuk pengelolaan yang lebih baik.

Ketika KBK masih diandalkan benihnya sebagai materi tanaman di lapangan, sudah seyogyanya pengelola melakukan pantauan dan evaluasi tentang produksi benih dan pengelolaan selama ini. Beberapa permasalahan yang perlu menjadi perhatian adalah sebagai berikut:

a. pembungaan dan pembuahan jati di KBK masih sangat rendah, ada kecenderungan bila mengandalkan pola pengelolaan yang ada saat ini produksi benih akan semakin menurun (rendah) dari tahun ke tahun.

b. produksi benih tahunan tidak dapat konsisten, sehingga setiap tahun harus dilakukan taksasi untuk mendapatkan angka yang mendekati realisasi.

c perbedaan produksi antar klon membuktikan ada klon-klon yang produktif menghasilkan benih, di sisi lain ada klon yang kurang produktif.

Bila asumsi satu pohon mampu menghasilkan paling tidak 0,5 kg benih, maka sebutlah dengan 126.000 pohon yang ada di KBK, seharusnya menghasilkan benih hasil proses 63.000 Kg (63 ton) setiap tahunnya, dengan catatan semua pohon berbunga dan berbuah.

Produksi yang tidak konsisten dan dewasa ini terdapat banyak ancaman keberadaan KBK, menyiratkan masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh pengelola kebun benih, sebelum merencanakannya untuk menghasilkan sumber benih dengan kualitas yang lebih baik. Beberapa pengamatan utama yang perlu dilakukan dan dapat dikembangkan lanjut adalah sebagai berikut:

a. Verifikasi ketepatan klon

b. Pengamatan viabilitas masing-masing klon produktif, moderat, dan kurang produktif.

c. Pengamatan kemungkinan mengayakan jenis tanaman 'pencampur antara' untuk meningkatkan keanekaragaman jenis tumbuhan, untuk mendatangkan polinator.

Bila informasi ini diperoleh, langkah berikutnya adalah melakukan manajemen yang lebih efektif dan efisien. Tidak semua pohon di dalam KBK harus dikelola secara intensif, dipelihara dan dipungut benihnya, tetapi manajemen harus berfokus pada pohon-pohon yang memang menghasilkan benih berkualitas dan produktif hasilnya.

22

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

(31)

Arah Pengelolaan Sumber Benih KBK di Masa Yang Akan Datang

Pemberantasan benalu merupakan bagian dari pemeliharaan tanaman sumber benih, oleh karena itu peniadaan benalu harus diagendakan secara rutin sebagai bagian dari pengelolaan. Penanaman tanaman pengayaan menjadi alternatif solusi agar benalu tidak merusak tanaman jati.

Tanaman jati sangat peka terhadap kebecekan, oleh karenanya menjaga keberadaan saluran air harus menjadi perhatian penting, terutama di saat musim penghujan. Di sisi lain, jalur ilaran api merupakan kegiatan yang tidak boleh diabaikan. Penanaman tanaman yang selalu hijau pada jalur pagar harus dihidupkan kembali, yaitu menanam secang sepanjang batas KBK dengan jalan raya, untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Pelibatan masyarakat sekitar menjadi bagian dari pengelola sumber benih adalah salah satu cara mendekatkan masyarakat dan memberi penyadaran pentingnya sumber benih. Kemananan hutan jati tetap menjadi prioritas, sehingga kerjasama lintas pihak terkait tetap harus dijaga dengan pendekatan-pendekatan yang membumi bagi kepentingan bersama.

Semoga sumber benih jati kita, KBK ini, menjadi bayangan (ikon) yang baik bagi perusahaan dan pihak luar yang memiliki lokasi sumber benih.

(32)

DAFTAR BACAAN

Anonimous, 2009. Laporan Pengelolaan Kebun Benih Klonal. Pusat Penelitian dan Pengembangan

Perum Perhutani. Cepu.

Anonimous, 2010. Laporan Pengelolaan Kebun Benih Klonal. Pusat Penelitian dan Pengembangan

Perum Perhutani. Cepu.

Anonimous, 2011. Laporan Pengelolaan Kebun Benih Klonal. Pusat Penelitian dan Pengembangan

Perum Perhutani. Cepu.

Anonimous, 2012. Laporan Pengelolaan Kebun Benih Klonal. Pusat Penelitian dan Pengembangan

Perum Perhutani. Cepu.

Anonimous, 2013. Laporan Pengelolaan Kebun Benih Klonal. Pusat Penelitian dan Pengembangan

Perum Perhutani. Cepu.

Anonimous, 2013. Kumpulan Peraturan Perundangan Perbenihan Tanaman Hutan. Balai

Perbenihan Tanaman Hutan. Kementrian Kehutanan. Jakarta

24

Mengenal Sumber Benih Jati : Kebun Benih Klonal (

Clonal Seed Orchard

(33)

DAFTAR LAMPIRAN

(34)

LAMPIRAN 02. BLOK TANAM KBK CEPU

PETA LOKASI

KEBUN BENIH KLONAL CEPU

TAHUN TANAM 1983-1991

(35)

LAMPIRAN 03. BLOK TANAM KBK RANDUBLATUNG

PETA LOKASI

KEBUN BENIH KLONAL RANDUBLATUNG

TAHUN TANAM 1991-1995

(36)

SEKILAS TENTANG PENYUSUN

CORRYANTI

Waktuku adalah karyaku..!', itulah salah satu moto Corry, panggilan akrabnya, dalam setiap hari-hari kerjanya. Mendokumentasikan sebuah perjalanan kerja adalah satu obsesi dari banyak impiannya, agar setiiap perjalanan meninggalkan jejak yang bisa diteruskan penggantinya kemudian. Di tahun-tahun terakhir mengabdi di Perhutani, bersama rekan petugas di lapangan KBK ia bertekad meninggalkan manajemen terbaik tentang kebun benih klon jati.

TRISWAHYUDI

Lahir 42 tahun yang lalu, pada 5 Juni 1972, di Bojonegoro.

Sejak awal bekerja di Perhutani, yaitu tahun 1995, ia sudah akrab dengan kegiatan pengelolaan benih dan bibit. Karirnya dimulai dari mandor di kebun benih jati, berlanjut meningkat 6 tahun setelahnya (2011), menjadi Kepala Regu di Kebun Pangkas Jati. Kemudian bergeser menjadi Kepala Regu di Kebun Benih Klon di Padangan selama 3 tahun.

Kini ia menjabat mengoordinasi pelaksana di lapangan ketiga KBK di Perhutani, yaitu di Padangan, Cepu, dan Randublatung. Laki-laki yang berpenampilan tenang ini selalu punya moto dalam kerjanya, 'terus belajar dan memperbaiki diri'.

(37)

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

PERUM PERHUTANI

Jl. Wonosari Batokan Tromol Pos 6 Cepu 58302 Jawa Tengah

i

Referensi

Dokumen terkait