• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berkelana Dalam Perenungan Gus Mus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Berkelana Dalam Perenungan Gus Mus"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Berkelana Dalam Perenungan

Gus Mus

Kita tak perlu memeras otak atau mengerutkan kening untuk memahami puisi-puisi A Mustofa Bisri yang termaktub di kumpulan ini. Tidak seperti penyair-penyair yang sering memamerkan kekayaan kosakata sehingga justru menjadi sulit dipahami orang awam, yang pada akhirnya membuat puisi sulit merakyat, Gus Mus (begitu sastrawan asal rembang ini biasa disapa) senantiasa menggunakan kata-kata atau kalimat yang sederhana dan mudah dimengerti khalayak.

Sajak Aku Manusia yang juga dijadikan judul antologi ini terasa sangat pas menjadi pembuka jalan untuk menelusuri pengembaraan Gus Mus dalam perenungan. Dari kalam terakhir yang berbunyi, “Tuhan Memuliakanku”, terdapat makna tersirat yang kuat menuntun kita untuk senantiasa bersyukur. Jika dipikirkan dengan jujur dan seksama, sebagai sesosok makhluk, apalah lagi kenikmatan yang paling besar kecuali dimuliakan oleh Sang Pencipta. Kita seyogyanya tak perlu merasa rendah diri dengan kemampuan matahari, bulan, angin, laut, maupun setan yang dalam beberapa bidang melangkahi kesanggupan manusia, sebab Tuhan sudah memberikan keistimewaan yang luar biasa pada kita.

Secara tak kasat mata, penyair yang di KTP-nya membiarkan kata ‘penulis’ mengisi keterangan kolom pekerjaan ini juga ingin mengatakan, bahwa manusia tak perlu minder dengan kemampuan dan keahlian yang telah diberikan Tuhan pada manusia lain. Kita hanya wajib melakukan apa yang bisa dengan optimal kita lakukan. Kecenderungan kita ingin berbuat apa, itu yang harus kita kembangkan dan tekuni. Pendapat ini terlahir setelah menghubungkan makna yang terungkap dalam Aku Manusia, dengan maksud yang tersurat di bait terakhir Wangsit.

(2)

paling dieksploitasi. Lihatlah puisi Orang-Orang Negeriku menyoroti mayoritas individu bangsa ini yang begitu kesulitan mencari jati diri. Memaksanya selalu mengikuti arus yang sering justru membuat kita kehilangan kepribadian dan prinsip hidup. Ketakutan saat harus berbeda, mengekor pada trend-trend jaman, membuat kita mungkin hanya bisa menjadi diri sendiri ketika jauh dari peradaban yang sedang berlangsung. Sedangkan jauh dari peradaban pun belum tentu membuat kita berani untuk hidup, bisa jadi kita malah memilih mati bunuh diri.

Di tengah gencarnya orang meliberal-liberalkan tatanan nasional, memperjuangkan kesekuleran dengan melepaskan jubah keagamaan yang dinilai bisa mengebiri nilai-nilai obyektifitas, Gus Mus tak ingin kehilangan identitas dirinya sebagai seorang muslim. Dia tak segan mengutip sejumlah ayat Al Qur’an dan istilah-istilah islam sebagai inspirasi dan bahkan ide pokok dalam puisinya.

Mertua dari tokoh Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar-Abdalla ini juga tak sudi menanggalkan kerinduan pada kekasih umat islam sedunia, Muhammad SAW. Begitu pula ia tak ingin melupakan gaya hidup ulama dan sufi yang telah mewarnai dakwah Islam, mereka yang sebenarnya bisa kaya dan bisa kenyang namun memilih miskin dan lapar sebagai jalan hidup untuk mendekatkan diri pada Ilahi, membuat beliau malu jika terbersit sedikit saja perasaan ujub atau bangga hati pada kealiman diri (Bagaimana Aku Menirumu, O Kekasih).

Pengritikan pada tindakan-tindakan yang terkesan lupa pada kehakikian manusia yang tak berhak menyiksa dan melaknat, terlihat jelas dalam sajak Allahuakbar. Bukankah sekalipun kita tak pernah diangkat Tuhan sebagai wakil yang boleh menghakimi orang-orang yang berbeda cara pandang? Dikaitkan dengan sajak Ada Apa Dengan Kalian, memberikan kita sinyal tentang pentingnya memisahkan pengertian kata “memaksa” dan “mengajak” ke jalan kebaikan.

(3)

kaligrafi ini juga ingin mengingatkan bahwa tak ada hasil tafsiran manusia yang layak mendapat predikat kebenaran sejati. Menganggap pemikiran pribadi atau golongan tertentu sebagai hukum mutlak merupakan salah satu contoh nyata tindakan penyekutuan Tuhan dengan diri sendiri. Kita pun tak perlu menyangsikan keabsahan ibadah orang yang berbeda cara ritual, sebab yang berwewenang menilai ibadah seorang hamba hanya Tuhan (Salat).

Pembelaan terhadap hukum rokok yang masih samar (atau dibuat-buat samar) juga sempat tertulis dalam salah satu larik sajak

Ada Apa Dengan Kalian, namun membandingkan dengan hukum

korupsi membuatnya terasa berlebihan. Rokok yang masalah kecil seharusnya dibandingkan dengan masalah yang tak semaha besar korupsi. Sebab dipandang dari mana pun, rokok tetaplah merugikan baik diri sendiri maupun orang lain di sekitar (terlebih yang bukan perokok). Apalagi jika yang merokok termasuk kaum berpendapatan minim, sehingga dalam kasus seperti ini, barang yang menjadikan dua konglomerat pengusahanya berada di deretan orang terkaya di dunia ini boleh dikategorikan barang tak manfaat (atau mudharatnya lebih besar dari manfaatnya), tergolong pemborosan berpredikat sia-sia.

Meskipun di beberapa judul puisi-puisi kawan baik mantan presiden ke-4 RI ini nampak lebih cocok masuk kategori; kalimat bijak, kata mutiara atau bahkan do’a, bunga rampai yang tersusun sangat mengasyikkan untuk dilahap siapa saja. Tak bisa pula dipungkiri, kualitas dari tiap karya di buku ini tak kalah dibanding karangan sastrawan-sastrawan kawakan serupa Taufik Ismail, Sutardzi CB, WS Rendra maupun Emha Ainun Nadjib.

Mengamati sebuah karya dari orang yang lahir di pesantren memang selalu menghadirkan kenikmatan tersendiri. Sejuk kata-kata dan sarat pesan-pesan moral merupakan ciri khas yang akan terus ada. Sebagai kyai, A Mustofa bisri telah mampu menyumbangkan racikan-racikan sastra baik berupa puisi maupun

(4)

cerpen yang berkekuatan mengajak kita memahami kehidupan seraya selalu mengaitkannya dengan prinsip-prinsip sosial yang digariskan Tuhan. Menghargai, menghormati, saling menahan diri, dan tidak mengintimidasi antar sesama. Mengingatkan kita akan kefanaan dunia, kesementaraan segala isi jagat raya, dan ketidaksempurnaan kita yang hanya manusia sehingga tak pantaslah membusungkan dada.—

Buku

Judul : Aku Manusia, kumpulan puisi a. mustofa bisri

Penulis : A. Mustofa Bisri

Penerbit : Mata Air Publhising, Surabaya Cetakan : I, Desember 2006

Tebal : 78 Halaman

Agenda

Setting

Versus

Kekritisan Masyarakat

TEORI Agenda Setting dikembangkan oleh Maxwell C. McCombs, seorang profesor peneliti surat kabar dari Universitas Syracuse USA dan Donald L. Shaw, profesor jurnalistik dari Universitas North Carolina USA. Pada 1968, McCombs dan Shaw mengembangkan pendekatan tersebut. Mereka mengamati pemilihan presiden AS saat Richard Nixon berhasil menyisihkan saingannya Rubert Humprey.

Beberapa kalangan menilai, kemenangan dalam proses politik ini tidak lepas dari kebiasaan Nixon yang dianggap dapat memanfaatkan media massa. Ia selalu tersenyum ramah pada reporter dan wartawan sehingga gambarnya sering menghiasi media massa. Ia jadi lebih populer, diperhatikan, dan

(5)

tergolong tokoh yang “gampang nampang” di media massa. Kemenangan ini memunculkan opini tentang peran penting media massa dalam menonjolkan suatu tokoh atau isu tertentu. Dari sinilah agenda setting mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media massa dengan perhatian yang diberikan oleh khalayak. Dengan kata lain, yang dianggap penting atau disorot oleh media massa akan dianggap penting pula oleh khalayak (halaman 14).

Pendekatan Agenda Setting dimulai dari asumsi bahwa media massa menyaring berita, siaran, artikel, atau tulisan yang akan dipublikasikan. Seleksi ini dilakukan oleh para awak media. Dalam perkembangannya, Agenda Setting media massa menjadi mata rantai mekanisme komunikasi politik dalam beragam pesta demokrasi.

Ini erat kaitannya dengan kepemilikan media massa oleh elite partai politik. Hal itu bisa dilihat saat Pemilu dan Pilpres tahun lalu. Saat sejumlah media massa yang merupakan basis pendukung kutub politik berbeda melakukan perang berita. Bahkan hingga sekarang, beberapa media massa besar masih “bertarung” dalam upaya pembentukan opini publik. Media massa itu memunculkan isu yang sudah terseleksi sebagai hasil Agenda Setting. Tak hanya itu, hasil Agenda Setting ini diolah agar dapat menggiring opini publik ke satu sisi tertentu.

Pada saat itulah kekritisan masyarakat diperlukan. Jangan sampai proses pembentukan opini publik yang bertujuan “membelenggu” kebebasan berpikir terjadi. Kalaupun itu dilakukan, jangan sampai masyarakat masuk dalam jebakan tersebut. Masyarakat harus tetap selektif memilih informasi. Semua kabar atau berita boleh dikonsumsi. Tapi, tidak semua harus dipercaya dan dijadikan patokan dalam melangkah. Khususnya, jika sudah berbicara di ranah politik dan kekuasaan.

(6)

memiliki jam terbang tinggi baik di ranah nasional maupun internasional ini tidak melulu bicara tentang komunikasi politik. Karangan dengan tebal 292 halaman ini juga memuat persoalan seputar hubungan antara media dan masyarakat di segala aspek. Mulai dari kultur sosial atau budaya, gaya hidup, hingga ekonomi.

Tak dapat dipungkiri, keberadaan media massa di Indonesia saat ini berhubungan dengan roda perekonomian. Bos media selalu punya alasan untuk mengkomersilkan ruang berita atau space media massa yang dia miliki. Lagi-lagi, di dalamnya juga terdapat problematika ekonomi politik maupun politik ekonomi level nasional. Kendali politik dan ekonomi (baca: pasar) selalu menjadi faktor signifikan yang berpengaruh terhadap operasi media. Sementara kepentingan politik dan pasar sama-sama dikedepankan, maka rakyatlah (penonton atau konsumen media) menjadi target empuk sekaligus komoditas industri media (halaman 158).

Sejarah Pers

Buku ini juga menguak sejarah pers dan media massa di Indonesia. Momentum yang menarik disimak adalah kemunculan regulasi yang pro pada kepentingan media sebagai imbas perjuangan reformasi. Khususnya, soal kebebasan pers yang kemudian benar-benar dijunjung tinggi. Misalnya, sudah tidak lagi dibutuhkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Lisensi yang di zaman orde baru dianggap sebagai kutukan terhadap kebebasan berekspresi insan media.

Undang-undang (UU) 40 tahun 1999 tentang Pers dan UU 32 tentang penyiaran adalah dua anak emas reformasi. Awak media sanggup bernafas lega karena terlepas dari kungkungan regulasi ketat pemerintah. Sebagai misal, radio dan televisi swasta yang awalnya tidak boleh serampangan membuat berita dan sering diwajibkan merelay informasi dari TVRI dan RRI saja, di masa reformasi menjadi lebih merdeka. Mereka bahkan boleh berkolaborasi dengan media asing seperti BBC dan VOA (halaman

(7)

87).

Pers dalam jenis apapun: media cetak, elektronik, radio, televisi, dan lain sebagainya, mendapat angin segar reformasi. Kebebasan yang selama puluhan tahun dikekang akhirnya bisa dicapai. Mereka yang sudah lama dipaksa “seiya-sekata” pun kini memiliki sayap untuk mencapai tujuannya masing-masing. Termasuk, tujuan politik. (*)

Buku

Judul : Komunikasi Politik, Media, dan Demokrasi

Penulis : Henry Subiakto & Rachmah Ida Cetakan : II, 2014

Tebal : xii + 282 Halaman

Penerbit : Kencana Prenada Media Group Jakarta ISBN : 978-602-7985-75-9

Dari Slilit Sampai Analogi

Pengelolaan Hasil Bumi

Emha Ainun Nadjib adalah budayawan multi talenta. Pria kelahiran Jombang yang akrab disapa Cak Nun ini lihai membuat cerpen, puisi, esai, naskah teater, dan kerap menggubah lirik lagu. Bersama grup musik Kiai Kanjeng, Cak Nun melanglang buana di penjuru dunia. Menyuguhkan musik memikat yang diracik dengan sholawat. Tak hanya itu, diskusi Maiyah yang turut digagasnya sejak lebih dari sedekade silam terus mengalami perkembangan.

(8)

Maiyah adalah sebuah aktifitas sarasehan yang digelar di

sejumlah kota. Kegiatan ini memungkinkan semua hadirin melontarkan pendapat tentang persoalan bangsa. Baik di level mikro maupun makro. Untuk kemudian, dipikirkan bersama solusinya. Atau paling tidak, dirumuskan bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi keadaan negeri yang dengan kondusifitas fluktuatif.

Di Surabaya, Maiyah dikenal dengan sebutan Bang-Bang Wetan. Di Jombang disebut Padhang Mbulan, di Jakarta dikenal dengan

Kenduri Cinta, di Yogyakarta bernama Mocopat Syafaat, di

Malang ada Obor Ilahi, dan ragam sebutan di kota-kota lain berdasar kearifan lokal masing-masing.

Adapun Slilit Sang Kiai adalah salah satu bukti kepiawaian Cak Nun berbahasa tulis. Pada kata pengantar, dituturkan bahwa

Slilit Sang Kiai merupakan kumpulan kolom. Ini bukan karya

yang dimaksudkan menjadi sebuah buku yang utuh. Tak heran, tema yang dibahas beraneka rupa dan terkesan melompat-lompat. Secara umum, topik buku yang pertama kali terbit pada 1991 ini berkutat soal problem yang membelit Indonesia dan alternatif cara mengatasinya. Terdapat banyak retorika dan pengandaian. Tak ayal, dalam beberapa artikel, pembaca mesti melakukan kontemplasi untuk memahaminya.

Artikel pembuka berjudul sama dengan buku ini: Slilit Sang

Kiai. Berkisah tentang kerisauan seorang Kiai. Pemuka agama

itu secara tidak sengaja mencomot potongan kecil kayu di pagar orang.

Kayu kecil seukuran tusuk gigi itu digunakannya untuk membersihkan slilit yang ada di sela-sela gigi seusai memimpin dan makan di acara kenduri salah satu warga.

Aku tak sempat minta maaf kepada yang empunya perihal tindakan mencuri itu. Apakah Allah akan mengampuniku? (hal. 18).

(9)

dalam mimpi para santri. Cerita itu memberi pelajaran dan bahan renungan bagi murid-murid. Mereka membayangkan, betapa tambah sedihnya sang Kiai bila kayu yang dicuri sebesar batang gelondongan di hutan Kalimantan.

Apa yang disampaikan dalam artikel tersebut menyentuh aspek spiritual yang sifatnya ketuhanan. Poin serupa tampak pada banyak tulisan lain. Misalnya, dalam Berniaga dengan dan dalam

Allah (hal. 21), Allah Maha Menepati Janji (hal. 148), Bumi Tuhan (hal. 303), dan lain sebagainya.

Tak hanya soal spiritual ketuhanan yang bisa dibilang berada pada ranah hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah atau Tuhan). Pandangan Cak Nun di ranah hablumminannas (hubungan manusia dengan manusia) juga terlihat dalam sejumlah artikel. Misalnya, yang tertuang di Watak Dialog (hal. 47).

Di artikel tersebut, Cak Nun mengutip garis besar pemikiran buku berjudul Dialog Sunnah Syiah. Lelaki yang lahir pada 27 Mei 1953 tersebut menyampaikan, terdapat makna yang dapat dipetik dari dialog antara ulama Syiah As-Sayyid Syarafuddin Al-Musawi Al-‘Amili dan ulama jumhur Syaikh Bisri Al Maliki. Betapa perbincangan mereka tidak didasari dengan upaya gesekan dan usaha menjatuhkan lawan berbicara.

Sebaliknya, yang ada adalah semangat mencari kebenaran, kesiapan untuk menyaksikan kekeliruan diri, rileksitas untuk menerima perbedaan, serta keikhlasan menginsyafi kekurangan pribadi. Faktor-faktor positif semacam itu seperti menguap dalam fenomena masa kini. Di mana perdebatan hanya menjadi konstelasi saling hujat dan menghina satu sama lain. Perbedaan bukan diposisikan sebagai anugerah, melainkan didaulat sebagai jurang pemisah.

Sementara itu, salah satu dari 69 kolom di buku ini mencerminkan kondisi pengelolaan hasil bumi di Indonesia. Kebetulan, saat ini sedang gonjang-ganjing isu freeport, salah satu perusahaan Amerika Serikat yang aktif mengeruk hasil bumi

(10)

di Papua.

Dalam artikel berjudul Tamu Entah Siapa (hal. 97), Cak Nun membuat fragmen singkat. Dikemukakan, ada seorang tamu yang digdaya, meminta izin pada tuan rumah, untuk menggali tanah di bawah rumahnya.

Di bawah tanah rumahmu ini terdapat barang yang amat berharga. Tetapi, karena kau tak mampu dan tak punya biaya untuk menggalinya sendiri, sebaiknya akulah yang mengerjakannya

(hal. 97).

Dijelaskan, si tuan rumah, sempat diingatkan oleh salah satu anggota keluarganya tentang risiko jangka panjang. Namun, dia mengabaikan saran tersebut. Hingga pada suatu waktu, seseorang menyindirnya:

Engkau tertidur dalam bangunanmu, engkau membangun dunia yang akan menjadi semu dalam kurun waktu (hal. 99).

Apa yang disampaikan dalam artikel itu mengesankan, dalam melakukan pengelolaan hasil bumi di Indonesia, terdapat banyak aspek yang mesti diperhatikan. Termasuk, soal masa depan bangsa dan kondisi multi sektor lain di masa datang yang harus dipertimbangkan.

Buku

Judul: Slilit Sang Kiai Penulis: Emha Ainun Nadjib Penerbit: Mizan Pustaka Tahun: Edisi baru, 2015 Tebal: 312 halaman

(11)

Menghirup Kearifan

Agama-Agama di Dunia

Secara subyektif, tiap pemeluk agama pasti merasa ajaran yang dianutnya paling benar. Ini soal keyakinan. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Sebaliknya, bila secara serampangan seseorang menganggap semua agama benar, agama pun tak ubahnya seperti baju. Sehingga, bisa diganti-ganti sesuka hati. Dalihnya, semua sama benarnya. Tinggal pilih, yang mana yang disuka pagi ini, siang, atau sore nanti. Di titik ini, hilanglah kesakralan agama. Punahlah keintiman makhluk untuk menyembah Tuhan dengan segala ritual yang diklaim sebagai “kepasrahan” tertinggi.

Di sisi lain, mesti diakui pula bahwa ada misi perdamaian yang dibawa oleh semua agama. Bila kemudian dalam ajaran masing-masing ada celah: sebut saja penonjolan aspek “superioritas”, itu hal lain. Yang jelas, tiap agama memiliki kearifan atau kebijaksanaan universal.

Semua agama memfatwakan tentang perlunya manusia saling berbuat baik. Tak hanya pada manusia lain, namun juga pada makhluk hidup yang telah diciptakan. Termasuk, hewan, tumbuhan, dan segala kreasi lain umat manusia. Semua mesti dimanfaatkan untuk kemaslahatan peradaban. Bukan demi kerakusan dan kenikmatan sesaat. Agama mengajarkan bagaimana saling menjaga, bukan saling menghancurkan. Bahkan, terhadap mereka yang berbeda pandangan.

Setidaknya, ungkapan di paragraf-paragraf awal tadi menjadi salah satu butir kesimpulan buku Agama-Agama Manusia yang disusun oleh Huston Smith. Lelaki kelahiran Tiongkok ini meringkas poin-poin luhur tiap agama yang ada dunia. Setidaknya, ada delapan agama yang kena sorot. Yakni, Hindu, Budha, Taoisme, Islam, Konfusianisme, Yahudi, Kristen, dan Agama-Agama Primal (Purba). Bahwa agama ingin membawa

(12)

perubahan yang baik di dunia, merupakan kunci klise benang merah semua agama di dunia.

Walau demikian, tak sedikit pula kemiripan agama satu dengan yang lain. Misalnya, saat Yesus Kristus yang dianggap sebagai Tuhan oleh umat Kristiani, berkata, “Perlakukanlah orang lain sebagaimana kau ingin orang lain memperlakukanmu,”. Sementara Nabi Muhammad SAW pernah berpesan, yang termaktub dalam satu riwayat hadist dan diterjemahkan bebas: tidak sempurna keimanan seseorang sampai dia mencintai sesama selayaknya mencintai dirinya sendiri.

Pada bagian lain, terdapat pula kesamaan karakteristik sosok panutan sejumlah agama. Bodhisatva, contohnya. Dia pernah digambarkan sebagai penggembala yang baik. Tak ubahnya Yesus Kristus. Bertolak dari sini, dapat dimaknai, kesamaan Kristen dan Budhisme sejatinya lebih kompleks dari pada yang kasat mata (Hal. 351).

Belajar Sejarah

Yang tak kalah menarik dari buku ini adalah dipaparkannya sejarah dan seluk beluk agama di dunia. Termasuk, soal Konfusianisme yang berawal dari “pengkultusan” seorang bernama Kung fu-Tzu atau Kung Sang Guru. Masyarakat Tiongkok, yang “mensucikan” orang ini, memuja namanya sebagai Guru Pertama. Bukan berdasar kronologi waktu. Karena sebelumnya, sudah banyak guru-guru yang lain. Melainkan, dari aspek kualitas. Dia adalah manusia biasa yang memiliki ajaran lintas bidang. Khususnya, di ranah kebijaksanaan. Pemerintah Tiongkok saat ini pun sudah dipengaruhi pemikiran Konfisius dengan begitu dalam. Tidak ada tokoh lain yang merasuk dalam perspektif tata kelola pemerintahan lelaki asal provinsi Shantung tersebut (hal. 172). Tak ayal, banyak pemikir yang menobatkannya sebagai salah satu intelektual penting dunia.

Disinggung pula tentang Yahudi yang berkiblat pada sosok Nabi Musa. Selain soal sejarahnya, disampaikan pula keunikan dari

(13)

agama monoteisme ini. Umpamanya, seperti terkutip pada salah satu ayat di kitabnya. Di sana, digambarkan betapa Maha Kasihnya Tuhan. Tuhan yang mereka yakini sangat mencintai ciptaannya. Maka itu, manusia dianggap sebagai “anak-anak” kesayangan (hal. 317).

Aku-lah yang mengajari Efraim berjalan. Aku menggendong mereka dibuaianku; Aku membimbing meeka dengan tali kebaikan manusia, dengan balutan-balutan cinta (Hosea, 11:3)

Tak ketinggalan, dijabarkan tentang ragam dalam agama atau ajaran tertentu. Tak hanya soal Kristen yang memiliki sejumlah macam: Katholik, Orthodok, dan Protestan. Namun juga, soal varian dan metode umat Islam mendekatkan diri pada Tuhan. Di dalamnya, ada paham sufisme.

Idiom sufisme yang mengacu pada perspektif para sufi ini memiliki akar kata “Suf”. Artinya, kain wol dari kulit binatang. Bahan dasar pakaian yang bersahaja atau sederhana. Golongan sufi, konon, memilih pakaian wol sebagai bentuk protes pada para pejabat di masanya yang suka memakai kain sutra dan satin: yang dianggap simbol kemewahan.

Para sufi memilih untuk zuhud: tidak suka bermewah-mewah. Sebab, kemegahan duniawi kerap menipu dan membuat penyukanya mabuk. Dalam banyak kasus, sukses membuat manusia menjadi zalim. (*)

Buku

Judul: Agama-Agama Manusia Penulis: Huston Smith

Penerjemah: FX Dono Sunardi dan Satrio Wahono Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Tahun: Desember 2015 Tebal: 433 Halaman

(14)

Belajar Bijak dari Karya Cak

Nun

UNAIR NEWS – Bila berkunjung ke toko buku, kumpulan esai Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) adalah koleksi yang paling gampang ditemui. Slilit Sang Kiai, Markesot Bertutur, dan Markesot

Bertutur Lagi adalah beberapa di antaranya. Yang menarik,

tulisan-tulisan tersebut adalah karya lama. Kemudian, dicetak ulang, lagi dan lagi. Artinya, terdapat proses “menembus zaman” di sana.

Pada April 2013 lalu, kumpulan esai yang kembali diterbitkan Penerbit Buku Kompas berjudul Indonesia Bagian Dari Desa Saya. Sebelumnya, mushaf tersebut sudah dua kali terbit. Yakni, pada 1983 dan 1993. Di dalamnya, terdapat 27 esai karya suami Novia Kolopaking ini. Rata-rata ditulis pada rentang 1970-an atau saat lelaki kelahiran 1953 ini masih berumur kepala dua.

Alasan Penerbit Buku Kompas menerbitkan buku ini—sama dengan penerbit lain yang mencetak ulang buku budayawan kelahiran Jombang ini— adalah karena tulisan ayah dari Noe Letto tersebut dianggap masih relevan dengan kondisi kekinian.

Mungkin dapat ditambahkan pula alasan lain. Yakni, pasar untuk buku Cak Nun. Jamaah Maiyah, sebutan bagi penyuka pengajian yang turut digelorakannya, tergolong loyal dan makin membesar hingga kini.

Pengajian yang biasa pula disebut Maiyahan ini digelar di sejumlah kota tiap bulan sekali. Antara lain di Jakarta (dengan nama Kenduri Cinta), Surabaya (Bangbang Wetan), Yogyakarta (Mocopat Syafaat), Malang (Obor Ilahi), Jombang (Padhang Mbulan), Semarang (Gambang Syafaat), dan lain sebagainya.

(15)

Mengupas Indonesia Bagian dari Desa Saya

Membaca tulisan demi tulisan di Indonesia Bagian dari Desa

Saya, membuka pengetahuan tentang karakter rural dan urban di

masa lalu. Sejak 1970-an, ketercampuran kultur sudah menjadi perhatian di masyarakat.

Gengsi-gengsian, sok-sokan, narsis, dan anggapan jika yang modern adalah yang paling benar, sudah mulai mengakar pada masa itu. Saat itu, orang desa berbondong-bondong beli televisi padahal belum paham bahasa Indonesia yang digunakan di TV. Mereka jor-joran beli sepeda motor padahal rumahnya masih gedek.

Melalui tulisannya, Cak Nun memprediksi jika kemutakhiran teknologi dan budaya asing yang terus merangsek bakal membuat zaman makin edan. Dalam catatan penulis, dia mengatakan kalau zaman edan di masa lalu membuat kepala orang pusing. Sedangkan zaman edan sekarang ini sukses membuat kepala nyaris pecah (hal: XIII).

Kebersamaan, pengakraban, penyatuan, komitmen, solidaritas dengan sesama, dan kearifan lokal terancam luntur. Sudah tak mungkin mencari pedagang cendol yang tidak berkenan cendolnya diborong Pak Kyai di pagi hari, karena takut mengecewakan calon pembelinya di siang hari (Kebijaksanaan Cendol, hal. 57) Dalam esai Indonesia Bagian Dari Desa Saya (hal: 248), Cak Nun mencuplik fenomena politik uang jelang pemilu yang terjadi di desa lebih dari tiga dekade silam. Ada seorang calon legislatif yang membagi-bagikan uang pada masyarakat seraya berteriak, “Ini saya belum jadi anggota DPR, saudara sudah saya kasih uang cuma-cuma. Bayangkan jika saya sudah menjadi anggota dewan?!”

Coba bandingkan dengan kondisi saat ini. Kabarnya, di sejumlah kota di Jatim, banyak klub senam ibu-ibu PKK yang mendatangi para calon anggota dewan. Mereka berjanji akan memilih anggota dewan tersebut asal dia sudi mengucurkan bantuan dana.

(16)

Ternyata, satu klub senam tidak hanya mendatangi satu calon atau satu partai. Satu klub senam bisa berjanji (atau membual) pada beberapa calon atau partai.

Fenomena ini setidaknya menunjukkan jika masyarakat sudah cerdas dan tidak sudi dikibuli politik uang. Lebih dari itu, mereka malah memperdaya banyak politisi dan partai. Jika dulu, yang main politik uang adalah politisi. Saat ini, elemen masyarakat yang “menguangkan politik”.

Menyentil Religiusitas

Buku ini memiliki bidang bahasan yang berlapis-lapis. Keistimewaan ini tentu tak lepas dari pengetahuan dan pengalaman Cak Nun yang beraneka rupa dari berbagai sisi.

Pria yang kini berdomisili di Kadipiro Yogyakarta ini adalah seorang pengamat negara, budayawan, seniman, dan sering juga ditahbiskan orang sebagai pemuka agama. Maka itu, dia tak hanya sanggup memelototi perkara teknologi modern, ekonomi pasar, politik hingga kultur. Namun juga menyentil soal religiusitas.

Di esai Berkatalah Sufi: “Ia mati, Alhamdulillah” (hal: 234), terdapat pandangan yang satir sekaligus sufistik. Betapa saat ini sebagian orang masih berpikiran bahwa kenyaman hidup yang bersifat materi adalah tujuan utama. Manusia ikhlas bersusah payah untuk mendapatkan hidup yang serba foya-foya di masa datang.

Bahkan, ibadah bukan lagi menjadi suatu yang sakral atau ruang intim antara Tuhan dan hamba. Melainkan sudah menjadi semata-mata alat atau sarana meminta semua yang enak-enak di dunia ini. Agama jadi cermin materialisme yang didekap makhluk. (*)

(17)

Cinta

Surabaya,

Alumnus

Sosiologi Ini Buat Buku

Tentang Kota Pahlawan

Dhahana Adi Pungkas alias Ipung, alumnus Sosiologi FISIP Unair, memiliki kecintaan yang luar biasa pada Surabaya. Maka itu, pada 2013 lalu, dia menerbitkan buku berjudul Surabaya

Punya Cerita Volume 1. Tak sampai di situ, pada November lalu,

lelaki yang betah melek ini meluncurkan “penurus” buku tersebut. Judulnya, Surabaya Punya Cerita Volume 21/2.

Mungkin akan ada pertanyaan, mengapa volume 21/2

? Padahal, buku sebelumnya, volume 1. Ternyata, ini hanya upaya Ipung membuat pembeda dengan buku-buku yang lain. Jadi, setelah volume 1, tidak harus volume 2, kan? Ipung ingin membuat sekuel yang segar dan lain dari yang lain.

Dhahana Adi Pungkas. (Foto: tribunnews.com)

“Sejarah dan cerita tentang kota harus dikemas dengan baik. Tujuannya, jangan sampai orang menjadi jenuh dan malas untuk memahami topik ini,” papar Ipung.

Dua buku Ipung itu bercerita tentang seluk-beluk Surabaya. Dari A sampai Z. Dia berharap, beberapa waktu ke depan, dapat membuat lanjutan dari buku terakhir. Dalam buku Surabaya Punya

Cerita Volume 21/2 , terdapat mini biografi Iqbal Rais. Salah seorang sineas muda asal Surabaya yang telah meninggal dunia. Iqbal, kata Ipung, merupakan sosok yang turut menginspirasi kawan-kawan di UKM Sinematografi Unair saat ini.

Referensi

Dokumen terkait