Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020
--
UJI BAKTERIOLOGIS TERHADAP MINUMAN AIR TEBU YENG BEREDAR DI PINGGIR JALAN KOTA KENDARI DENGAN METODE KULTUR DAN
POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) Sugireng1, Tasman 2 , Sri Umiarti Pratiwi 3.
[email protected] 1 ,[email protected] 2, [email protected]
STIKES Mandala Waluya Kendari
ABSTRAK
Sari tebu merupakan salah satu minuman yang disukai oleh masyarakat untuk dikonsumsi sebagai menghilang dahaga. Sari tebu memiliki khasiat yaitu untuk mengobati berbagai penyakit. Sari tebu mengandung zat - zat yang diperlukan oleh tubuh antara lain sukrosa, protein, kalsium,lemak,vitamin B1,vitamin B2, vitamin B6, vitamin C, dan asam amino. Berdasarkan hal tersebut nutrisi yang terkandung dalam sari tebu dapat menjadi tempat tumbuh bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri pada air tebu dengan menggunakan metode kultur dan metode Polimerase chain reaction (PCR) yang beredar dipinggir jalan kelurahan Kota Kendari.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penjual air tebu di kota Kendari dengan jumlah sampel sebanyak 8 pedagang sari tebu. Analisis deskriptif data penelitian dilakukan dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Hasil pemeriksaan dari 8 sampel pedagang sari tebu diperiksa menggunakan metode kultur dan PCR (Polymerase chain reaction) terhadap deteksi bakteri Eschericia coli didapatkan hasil negatif (100%), dan telah di uji konfirmasi melalui uji penegasan (pewarnaan gram) dan uji MR-VP bahwa sampel sari tebu yang beredar dipinggir jalan Kota Kendari tidak terkontaminasi dengan bakteri Escherichia coli atau negatif.
Kata Kunci : Air tebu, kultur, PCR, Eschericia coli, pita DNA, Metode : Kultur Kota Kendari
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 PENDAHULUAN
Sari tebu merupakan salah satu minuman yang disukai oleh masyarakat untuk dikonsumsi sebagai penghilang dahaga. Selain manis dan lezat, ternyata sari tebu memiliki khasiat yaitu untuk mengobati sakit panas, meredakan batuk,mengobati kanker,dan juga membantu ginjal untuk melakukan fungsinya dengan baik. Sari tebu mengandung zat - zat yang diperlukan oleh tubuh antara lain sukrosa, protein, kalsium, lemak,vitamIn B1,vitamin B2, vitamin B6, vitamin C,dan asam amino. Bakteri juga membutuhkan nutrisi menjaga kelangsungan hidupnya. Nutrisi yang diperlukan oleh bakteri juga sama dengan nutrisi yang dibutuhkan oleh mahluk hidup lain antara lain karbohidrat, vitamin, kalsium, dan protein. Berdasarkan hal tersebut nutrisi yang terkandung dalam sari tebu dapat menjadi tempat tumbuh bakteri (Djasmi dkk., 2015).
Sari tebu dapat menjadi tidak layak dikonsumsi karena beberapa hal, antara lain: kualitas bahan, yaitu: batang tebu yang sudah lama disimpan, cara mencuci batang tebu yang tidak menggunakan air mengalir serta cara pemerasan dan penyajian yang kurang memperhatikan kebersihan. Hal tersebut dapat mengakibatkan kontaminasi pada minuman sari tebu sehingga menjadi media yang baik bagi suatu penyakit. Penyakit yang ditimbulkan oleh minuman yang terkontaminasi disebut penyakit bawaan makanan (food-borned diseases) yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan
kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan dengan gejalan mual/muntah, pusing, dan diare (Sukawaty dkk., 2016).
Dari hasil observasi dengan beberapa penjual tebu dengan berbagai merek dagang yang berbeda, penjualan minuman tebu ini tidak mendaftrakan diri ke dalam Dinas perdagangan atau Dinas kesehatan. Para penjualan hanya mendaftarkan diri ke Dinas perhubungan terkait dengan lokasi jalanan yang mereka sewa kepada pemerintah. Penggunaan bahan baku, berupa tebu dan es yang digunakan berasal dari sumber yang berbeda.
Berdasarkan peraturan Menkes Kesehatan Republik Indonesia No.492 /MENKES/PER/2010,gpersyaratan kualitas air meliputi syarat fisika, syarat kimia, dan syarat mikrobiologi. Secara bakteriologi untuk mengetahui bakteri apa yang terdapat minuman air tebu menggunakan metode kultur dan metode Polimerase chain reaction (PCR). Pada metode ini, bakteri enteropatogen yang identifikasi adalah Eschericia coli yang berperan Coli tinja atau fecal coliform,karena bakteri ini merupakan flora normal usus yang dapat meragi laktosa dan berada bersama tinja yang mengontaminasi makanan dan minuman (Depkes RI. 2010).
Bakteri Eschericia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif fakultas anaerobic yang mempunyai alat gerak berupa flagel dan tersusun dari sub
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 ukuran diameter 12-18 nm dan dengan pangan
12 nm, kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein,dapat berfungsi sebagai jalan pemindahan DNA saat konjugasi. Selain itu, mempunyai kapsul atau lapisan lendir yang merupakan polisakarida tebal dan air yang melapisi permukaan luar sel (Ikmalia, 2010).
Diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus dan parasit. Penyebab diare terbanyak kedua setelah rotavirus adalah infeksi karena bakteri Eschericia coli (Monem et al.,2014). Eschericia coli merupakan bakteri komensal, patogen intestinal dan patogen ekstraintestinal yang dapat menyebabkan infeksi traktus urinarius, meningitis, dan septicemia. Sebagian besar dari bakteri Eschericia coli berada dalam saluran pencernaan hewan maupun manusia dan merupakan flora normal, namun ada yang bersifat patogen yang dapat menyebabkan diare pada manusia (Bettelhein, 2009).
Infeksi bakteri Eschericia coli pada manusia ditandai dengan manifestasi klinis yang luas mulai dari tanpa menunjukkan gejala klinis atau asimtomatis sampai terlihat adanya diare berdarah atau tanpa berdarah. Manusia yang terpapar oleh kuman Eschericia coli disebabkan oleh kontak langsung dengan hewan infektif atau akibat mengkonsumsi makanan seperti daging, buah, sayur, air yang telah terkontaminasi serta susu yang belum dipasteurisasi (Sartika dkk., 2011).
Berdasarkan uraian diatas maka penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian mengenai uji bakteriologis terhadap minuman
air tebu dengan menggunakan metode kultur dan Polimerase chain reaction (PCR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri pada air tebu yang beredar dipinggir jalan Kota Kendari.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif mengacu pada makna, definisi konsep, karakteristik, metafora, simbol (Saryono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penjual air tebu di kota Kendari dengan jumlah populasi sebanyak 10 sampel air tebu. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 8 sampel air tebu HASIL
1. Karangteristik Responden
Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan, jumlah responden berdasarkan lama beroperasi ditunjukkan pada tabel 5.
Tabel 1. Distribusi sampel berdasarkan lama beroperasi
Lama beroperasi Jumlah Persentase (%) 8 1 12,5% 6 2 25% 4 1 12,5% 3 4 50%
Sumber : data terolah 2020 2. Analisis Univariat
Hasil deteksi Escherichia coli pada sampel air tebu yang beredar dipinggir jalan kota
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 kendari dengan metode kultur dan metode
polymerase chain reaction. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa hasil pertumbuhan Escherichia coli adalah sebagai berikut.
a. Metode Kultur
Tabel 2. Hasil deteksi Escherichia coli pada air tebu yang beredar dipinggir jalan kota
kendari dengan metode kultur tahun 2020. Variabel Jumlah Samp el Persentese (%) Hasil Kultur Media EMBA Positif 0 0% Negatif 8 100% Jumlah 8 100%
Sumber data : Data primer (2020)
Berdasarkan Tabel 5 didapatkan hasil dari 8 sampel yang dideteksi menggunakan metode kultur pada media EMBA 8 sampel sari tebu (100%) hasil negatif ditandai dengan tidak tumbuhnya koloni berwarna hijau metalik.
Gambar 1. Pertumbuhan negatif koloni Escherichia coli pada media EMBA (Suardana et al 2007)
b. Metode Polymerase chain reaction (PCR) Tabel 3. Hasil deteksi Escherichia coli menggunakan metode PCR pada air tebu yang beredar dipinggir jalan kota kendari tahun 2020. Variabel Jumlah Sampel Persentese (%) Hasil PCR Positif 0 0% Negatif 8 100% Jumlah 8 100%
Sumber : data terolah 2020
Gambar 2. Hasil deteksi bakteri
Escherichia coli dengan
metode PCR menggunakan primer 16E1 dan 16E2 pada sampel sari tebu yang beredar dipinggir jalan kota Kendari diperoleh hasil 8 sampel negatif tidak terbentuk pita DNA dengan ukuran 584 bp pada gel elektroforesis (Data primer: 2020).
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 c. Hasil Uji Penegasan (Pewarnaan Gram)
Tabel 4. Hasil uji penegasan (Pewarnaan gram)
N o
Kode
Sampel Pewarnaan gram 1. P1 bulat (coccus), gram
negatif 2. P2 bulat (coccus), gram
negatif 3. P3 bulat (coccus), gram
negatif 4. P4 bulat (coccus), gram
negatif 5. P5 bulat (coccus), gram
negatif 6. P6 bulat (coccus), gram
negative 7. P7 bulat (coccus), gram
negative 8. P8 bulat (coccus), gram
negative Sumber : data terolah 2020
Berdasarkan Tabel 4 didapatkan hasil dari 8 sampel yang dideteksi menggunakan pewarnaan gram koloni warna hijau metalik pada media EMBA didapatkan hasil gram negatif berbentuk coccus (bulat) berwarna kemerahan.
Gambar 3. Hasil uji penegasan (pewarnaan gram) (Fitrinaldi (2011)
d. Uji MR-VP (Methyl red-Voges proskauer)
Tabel 4. Hasil deteksi Escherichia coli menggunakan Uji MR-VP (Methyl red-Voges proskauer)
Variabel Jumlah Sampe l Persentese (%) Hasil Uji MR-VP Positif 0 0% Negatif 8 100% Jumlah 8 100%
Sumber : data terolah 2020
Gambar 4. Hasil deteksi Escherichia coli menggunakan Uji MR-VP (Methyl red-Voges proskauer) diperoleh hasil negatif yang ditandai dengan perubahan warna menjadi kuning (Acharya, 2014)
PEMBAHASAN 1. Metode Kultur
a. Hasil Uji Penduga (Media Lactosa Broth)
Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan pada 8 pedagang sari tebu di Kota Kendari ditemukan 8 tabung terlihat
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 timbulnya gas dan kekeruhan pada media
Lacose Broth, maka sampel sari tebu yang diuji positif terdapat bakteri golongan coliform.
Uji penduga pada penelitian ini untuk mengetahui secara kualitatif ada atau tidaknya bakteri golongan coliform yang terkandung dalam sampel air tebu. Uji ini dilakukan dengan uji gas dan asam (kekeruhan) pada media Lactose Broth. Media yang digunakan dalam pengujian ini yaitu Lactose Broth, karena media ini yang umum digunakan pada uji bakteri golongan coliform.
Faktor yang menyebabkan hasil positif dari uji penduga (Lactose Broth) adalah terjadinya kontaminasi sari tebu karena media LB sebagai kaldu pemerkaya (pre-enrichment
broth) untuk bakteri coliform dalam
pembelajaran fermentasi laktosa oleh bakteri pada umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk metabolisme bakteri (Radji, 2008).
Kendala dalam penelitian ini adalah masih sedikitnya pedagang sari tebu di Kota Kendari. Dan pada saat musim hujan atau saat hujan tiba pedagang sari tebu tidak menjual. b. Hasil Isolasi Bakteri pada Media Eosin
Methylene Blue Agar (EMBA).
Penelitian ini telah dilakukan selama periode Juli – September 2020, dengan 8 pedagang sari tebu yang beredar dipinggir jalan Kota Kendari dan telah dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi bakteri Eschericia coli pada sampel sari tebu dan semua sampel dikerjakan secara kultur dan molekuler.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada ke 8 sampel sari tebu didapatkan hasil coloni berwarna pink muda dan keunguan yang berarti negatif bakteri Eschericia coli, biakkan bakteri Eschericia coli jika positif pada media EMBA berwarna hijau metalik dengan ciri-ciri permukaan koloni, cembung dengan pinggiran rata yang khas. Hal ini sesuai dengan pendapat Cheeptham dkk.,(2012) bahwa EMBA merupakan media selektif dan media diferensial. Media ini mengandung eosin metilen biru, yang menghambat pertumbuhan bakteri gram positif, maka media ini dipilih untuk bakteri gram negatif. Perubahan warna hijau metalik pada media EMBA karena Eschericia coli dapat memfermentasikan laktosa yang mengakibatkan peningkatan kadar asam dalam media.
2. Metode PCR (Polymerase Chain Reaction)
Berdasarkan hasil PCR yang telah dilakukan pada 8 pedagang sari tebu tidak ditemukan adanya pita (band) DNA pada ukuran 584 bp dengan menggunakan primer Eschericia coli yaitu 16E1: GGG AGT AAA GTT AAT ACC TTT GCT C dan primer 16E2: TTC CCG AAG GCA CAT. 16E1 merupakan nukleotida ke 452-476 dari daerah V3, sedangkan 16E2 merupakan
nukleutida ke 1018-1035 dari daerah V6.
Penyiapan template DNA sampel yang digunakan untuk diamplifikasi dengan PCR,
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 ekstraksinya dilakukan dengan cara boiling
method. Escherichia coli termasuk bakteri Gram negatif yang memiliki dinding sel yang tidak terlalu tebal sehingga mudah dilisiskan dengan pemanasan. Pada dasarnya, metode boiling dengan pemanasan 1000C selama 10 menit,ini mempercepat lisis dinding sel bakteri sehingga DNA dapat diekstraksi sekaligus mempermudah proses denaturasi rantai DNA ketika dilakukan amplifikasi dengan cara PCR.
Selanjutnya dilakukan uji penegasan (pewarnaan gram) dan uji MR-VP untuk mengkonfirmasi seberapa efektifnya metode PCR mendeteksi bakteri Escherichia coli.
3. Hasil Uji Penegasan (Pewarnaan Gram) Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pewarnaan gram, di dapatkan hasil berbentuk
coccus (bulat) berwarna kemerahan. Uji
pewarnaan gram yang digunakan menunjukkan bahwa bakteri yang didapatkan merupakan bakteri gram negatif karena hasil pengecatan berwarna merah dengan demikian 8 pedagang sari tebu tersebut mengandung bakteri gram negatif dan merupakan golongan bakteri Eschericia coli. Hal ini sejalan dengan Okayanti (2017) dalam penelitiannya mengenai bakteri Eschericia coli, bahwa bakteri Eschericia coli banyak ditemukan pada air.
Pewarnaan gram merupakan pewarnaan yang digunakan untuk mengelompokkan bakteri gram positif dan gram negatif. Prinsip pewarnaan gram didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri, sehingga menyebabkan perbedaan reaksi dengan permeabilitas zat
warna dan penambahan larutan pencucian (Yuliana, 2016).
4. Uji MR-VP
Berdasarkan hasil penelitian uji methyl red menunjukan bahwa media tidak berubah menjadi merah ketika ditetesi reagen sebanyak 4-5 tetes reagen metil merah yang menandakan bahwa hasil uji negatif tidak mengandung bakteri anggota genus Escherichia. Menurut Sudarsono (2008), uji methyl red dilakukan untuk mengetahui kemampuan bakteri mengoksidasi glukosa dengan memproduksi asam dengan konsentrasi tinggi sebagai hasil akhirnya dan hasil asam yang terbentuk berubah menjadi merah dengan ditambahkan reagen metil merah. Selanjutnya tahap kedua pada uji voges proskauer diteteskan 2 tetes reagen barit A dan barit B, didapatkan hasil negatif atau tidak terjadi perubahan apapun pada media. Uji VP merupakan pengujian untuk mendeteksi asetoin dalam kultur bakteri. Pengujian ini dilakukan dengan penambahan alpha-naftol pada media VP yang telah diinokulasikan bakteri
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil uji kultur dan uji PCR tidak terdapat bakteri Escherichia coli yang ditandai dengan tidak terbentuknya pita DNA yang berukuran 584 bp. Hal ini telah terbukti setelah konfirmasi melalui uji penegasan (pewarnaan gram) dan uji MR-VP bahwa sampel sari tebu
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 yang beredar dipinggir jalan Kota Kendari tidak
terkontaminasi dengan bakteri Escherichia coli. SARAN
Perlu penelitian lebih lanjut tentang uji jenis bakteri lain pada minuman yang beredar dipinggir jalan kota kendari.
.
DAFTAR PUSTAKA
Bakri, Zakia, Mohammad Hatta dan Muh. Nasrum Massi. 2015. Deteksi Keberadaan Bakteri Eschericia coli O157:H7 Pada Feses Penderita Diare Dengan Diare Metode Kultur Dan PCR. Jurnal Sains Terapan Kesehatan. ISSN 225-5416. Vol 5. No 2:182:192. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Makassar.
Bettlelheim K.A. (2000). Role of non O157 VTEC. J. Appl. Symp. Microbiol. Suppl. Bourne, D. 2005. Escherichis Coli.Terjemahkan
Dra. Astrid Ratna Tanuwinata. Jakarta: Balai Pustaka
Cahyaningsih, Chairini Tri, 2009. Hubungan Higiene Sanitasi Dan Perilaku Penjamah Makanan Dengan Kualitas Bakteriologis Peralatan Makan Diwarung Makan. Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 25, No. 4(Diakses pada tanggal 21 April 2020).
Danuz, Sonia Zulfa Deshi, 2014. Amplifikasi DNA Leptospira Dengan Menggunakan Metode Insulated Isothermal Polymerase Chain Reaction(Ii-PCR). Skripsi:Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Diakses pada 24 Maret 2020). Depkes RI. 2010. Keputusan menteri kesehatan
RI Nomor 492 tentang persyaratan kualitas air minum. Jakarta.
Ekawati, Evy Ratnasari, Siti Nur Husnul Y. Fakhmi Rooslan Hamidi. 2017. Deteksi
Escherichia Coli Patogen Pada Pangan Menggunakan Metode Konvensional Dan Metode Multiplex PCR. Jurnal Sainhealth. Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Maarif Hasyim Latif Sidoarjo. Vol. 1 No. 2
Monem MA., Mohamed EA., Awad ET., Ramadan AHM., and Mahmoud HA. (2014). Multiplex PCR as emerging
technique for diagnosis of
enterotoxigenic Escherichia coli
isolates from pediatric watery
diarrhes. Journal of American
Science, Vol 10 No (10).
Radji, Maksum, 2010, Anglia Puspaningrum, Atiek Suamiati. Deteksi Cepat Bakteri Escherichia coli dalam Sampel Air dengan
Metode Polymerase Reaction
Menggunakan Primer 16E1 dan 16E2. Makara Sains, Vol. 14, No. 1.
Sartika, Indrawani, dan Sudiarti. (2005). Analisis Mikrobiologi Escherichia coli
O157:H7 Pada Hasil Olahan
Produksinya. Jurnal Makara
Kesehatan, Vol 9 No (1), hal 23-28. Simanjuntak,dkk.2018. Tingkat hygiene dan
kandungan escherichia coli pada air tebu yang di jual sekitar kota medan. Jurnal Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat USU. Vol 9 (2):215.
Stikes MW. 2018. Pedoman panduan skripsi.
Sukawaty,Y.,K.Muhammad dan K. Eko. 2016. “Uji cemaran bakteri coliform pada minuman tebu”. Jurnal Ilmiah Manuntang, 2(2),248-253
Sulistyaningsi, Erna. 2007. Polymerase Chain Reaction (PCR). Era Baru Diagnosis Dan Manajemen Penyakit Infeksi. Biomedis. Vol 1.
Jurnal MediLab Mandala Waluya Kendari Vol.4 No 2, Desember 2020 Tim Biologi Molekuler. 2017. Isolasi DNA,
PCR, dan Elektroforesis. Jurusan Biologi Fakultas MIPA UHO dan Prodi TLM STIKES Mandala Waluya Kendari.