Tanaman Jambu Biji
Tanaman jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan tanaman asli Amerika tropis. Di Jawa umumnya ditanam pada ketinggian kurang dari 1 200 meter di atas permukaan laut (Heyne 1987). Bunga terdapat di ujung cabang (aksilar), daunnya oval sampai dengan elips dengan pinggiran rata melingkar dan ujung meruncing, serta daging buah berwarna putih kekuningan atau merah terang (Backer dan Van den Brink 1963).
Buah jambu biji yang besar dengan daging buah berwarna putih mula-mula diperkenalkan dan dijual ke masyarakat oleh seorang pekebun dari Florida dengan nama P. guinense atau P. guianense, sementara buah jambu biji dengan daging buah berwarna merah diintroduksi ke California dengan nama P.
aromaticum. Kedua varietas itu kini dimasukkan ke dalam satu golongan spesies
yaitu P. guajava (Popenoe 1974).
Produksi buah jambu biji dapat dipicu melalui perlakuan pemangkasan, pengguguran daun menggunakan bahan kimia, maupun pemupukan. Pertumbuhan vegetatif, ditandai munculnya daun-daun baru setelah perlakuan pengguguran daun menggunakan urea, ethepon, dan detergen, berawal pada 3-4 minggu setelah perlakuan. Pertumbuhan generatif, ditandai dengan fase pembungaan, terjadi pada 9-12 minggu setelah perlakuan diikuti pembentukan buah pada 12-16 minggu setelah perlakuan dan pematangan buah pada 16-24 minggu setelah perlakuan (Nakasone dan Paull 1999).
Pemangkasan
Pemangkasan dapat didefinisikan sebagai pemotongan pertumbuhan yang tidak dikehendaki untuk merangsang pertumbuhan tertentu. Definisi ini mencakup dua pengertian yaitu penghilangan suatu bagian dan mendatangkan respon tertentu (Verheij dan Coronel, 1992). Menurut Harjadi (1989) pemangkasan merupakan upaya untuk menghilangkan dominasi pucuk berupa penghambatan oleh titik tumbuh pada pertumbuhan tunas di bawahnya dan merupakan fungsi dari distribusi auksin. Auksin dibentuk di ujung batang dan akar kemudian bergerak ke
bagian lain di tanaman. Coombs et al. (1994) mengemukakan bahwa pucuk menggunakan suatu kontrol yang sangat mempengaruhi tunas dan menekan pertumbuhan cabang lateral. Penghilangan pucuk akan memecah dominasi dan salah satu tunas di bawah pucuk akan tumbuh dan membuat dominasi baru.
Pemangkasan bertujuan meningkatkan jumlah tunas, mengatur bentuk tanaman, meningkatkan jumlah bunga dan mengatur waktu pembungaan (Weaver, 1972). Pertumbuhan vegetatif tanaman dengan cepat akan berlangsung setelah dilakukan pemangkasan. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan keseimbangan rasio akar dan tajuk. Aliran distribusi air, nutrisi, dan cadangan makanan berlangsung dari sistem perakaran yang tidak terganggu menuju area tajuk yang mengalami pemangkasan (Janick 1972). Rasio akar dan tajuk dapat mempengaruhi pertumbuhan, pembungaan, dan pembuahan pada tanaman. Setelah pemangkasan, maka menyebabkan jumlah daun berkurang dan menyebabkan berkurangnya proses fotosintesis. Cadangan makanan berupa karbohidrat akan dialihkan untuk pertumbuhan tunas baru (Denisen 1979). Setelah tanaman dipangkas, maka bagian tanaman yang tersisa harus cepat membentuk daun baru agar fotosintesis dan proses metabolisme lainnya dapat berjalan lancar.
Distribusi fotosintat dalam tanaman menunjukkan hubungan antara produksi fotosintat oleh daun sebagai source dan kebutuhan asimilat oleh sink karena itu karakteristik tumbuh tanaman, tahapan pertumbuhan daun, dan perkembangan tanaman dapat mempengaruhi distribusi hasil metabolisme (Geiger 1987). Kemampuan sink untuk mengimpor hasil asimilat berkaitan dengan ukuran sink, tingkat pertumbuhan, aktivitas metabolik dan tingkat respirasi. Daun pada saat flush memiliki ukuran sink yang besar sehingga hasil fotosintesis dialirkan ke daun flush. Kebanyakan penelitian mengenai perubahan
source dan sink melibatkan manipulasi tanaman seperti pengguguran buah,
pengguguran daun, dan perlakuan naungan (Dickson et al. 2000).
Pertumbuhan vegetatif biasanya meningkat cepat setelah pemangkasan pucuk secara intensif. Pemangkasan berat akan mengubah secara radikal keseimbangan antara akar dan pucuk. Pertumbuhan yang terjadi disebabkan karena pengalihan air, zat hara, dan cadangan pangan dari sistem perakaran
tanaman yang terganggu ke arah tunas yang lebih kecil pengurangan sedikit dalam jumlah pangan cadangan bersamaan dengan pengurangan area fotosintesis dapat diabaikan karena saat dorman cadangan pangan (gula dan karbohidrat) berada dalam akar dan bagian-bagian pucuk yang lebih tua (Harjadi, 1989).
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan teh antara lain penentuan kriteria tinggi pangkas, daur pangkas dan waktu pemangkasan yang tepat berdasarkan ketinggian tempat serta kondisi suatu daerah. Secara agronomi pemangkasan harus dilakukan pada saat tanaman sehat yaitu saat tanaman cukup mengandung cadangan makanan atau hara dan kelembaban tanah serta suhu optimum untuk tumbuh kembali (Sukasman, 1988). Menurut Valkemburg dan Hortsen (2001) pemangkasan teratur pada jati Belanda dapat meningkatkan hasil pemangkasan empat kali setahun dapat menghasilkan 10 kg bahan kering per tanaman.
Pada tanaman teh pemangkasan dan pemetikan secara berkala bertujuan untuk mempertahankan tanaman agar tetap dalam fase vegetatif, merangsang pertumbuhan tunas atau pucuk baru, membentuk bidang petik, mempertahankan tinggi petik sehingga memudahkan para pemetik melaksanakan tugasnya (Iskandar, 1988; Sukasman, 1988).
Pada tanaman buah-buahan yang termasuk tanaman bercabang diperlukan keseimbangan antara pertumbuhan vegetatif dan generatif. Pemangkasan yang tepat dapat dipergunakan untuk mengatur keseimbangan pertumbuhan vegetatif dan generatif (Bleasdale, 1973). Pemangkasan yang diperlukan dalam jambu biji adalah untuk memperoleh bentuk tajuk tanaman yang baik, sehat dan produktif. Pemangkasan 80 % cabang-cabang tua pada jambu biji dapat yang telah berumur tiga tahun dapat memacu pertumbuhan tunas baru yang sehat dan kuat (Nanthanchai, 1983).
Pupuk Nitrogen
Nitrogen merupakan bagian pokok bagi tanaman. Nitrogen hadir sebagai satuan fundamental dalam protein, asam nukleik, klorofil dan senyawa organik lain. Protein merupakan penyusun utama protoplasma. Fungsi nitrogen sebagai bahan vital berbagai enzim menunjukkan fungsi utamanya sebagai pusat dalam
seluruh proses metabolis dalam tanaman (Mas’ud, 1992). Dilaporkan juga bahwa kekahatan nitrogen menyebabkan pembelahan sel terhambat dan akhirnya memperlambat pertumbuhan. Nitrogen dalam jumlah yang cukup akan meningkatkan luas daun sehingga area fotosintesis meningkat. Pasokan nitrogen dalam jumlah tinggi akan mempercepat perubahan karbohidrat menjadi protein.
Menurut Mas’ ud, (1992) fungsi nitrogen bagi pertumbuhan tanaman adalah 1) menjadikan tanaman berwarna hijau, 2) meningkatkan pertumbuhan daun dan batang, 3) menjadikan tanaman menjadi sukulen, 4) menahan pertumbuhan akar, 5) memperlambat pematangan tanaman dengan membantu pertumbuhan vegetatif yang tetap hijau walaupun saat masak sudah maksimum, 6) meningkatkan kandungan protein, 7) mengurangi pengaruh buruk udara dingin.
Nitrogen diikat tanaman dalam bentuk nitrat atau amonium dan nitrogen merupakan unsur yang mudah larut dan menguap, sehingga untuk mengatasi kekahatan nitrogen bagi tanaman dapat dilakukan melalui empat cara yaitu sisa tanaman, pupuk kandang, legum, dan pupuk buatan. Pada beberapa tanaman pertanian kebutuhan nitrogen dipenuhi melalui pupuk buatan (Mas’ud, 1992).
Dari pemberian tiga unsur (NPK) sebagai pupuk, nitrogen memberikan pengaruh yang paling nyata, terutama dalam merangsang pertumbuhan di atas permukaan tanah. Hampir pada seluruh tanaman nitrogen merupakan pengatur dari penggunaan kalium, fosfor dan penyusun lainnya (Soepardi, 1983).
Kandungan Senyawa pada Daun Jambu Biji
Senyawa kelompok sesquiterpen hidrokarbon terdapat pada daun jambu biji seperti β-karyofilena, β-bisabolena, aromadendrena, β-selinena, nerolidiol, karyofilena oksida, longisiklena, dan sel-11-en-4α-ol (Smith dan Siwatibau 1975). Kuersetin yang termasuk golongan flavonoid dapat berfungsi sebagai anti diare (Lutterodt et al. 1999). Analisis fitokimia dari daun jambu biji memperlihatkan adanya tanin, fenol, triterpen, minyak atsiri, saponin, lektin, karotenoid, asam askorbat, asam lemak, dan kuersetin (Garcia 2003).
Anti oksidan terkuat yang ditemukan pada daun jambu biji adalah asam askorbat. Ditemukan pula di dalamnya kandungan total fenolik sebesar 575.3+15.5 dan 511.6+6.2 mg setara asam galat/ g berat kering daun. Kandungan
fenolik dalam jumlah besar tersebut dapat menghambat reaksi peroksidasi pada tubuh sehingga dapat mencegah penyakit kronis seperti diabetes, kanker, dan serangan jantung (Qian dan Nihorimbere, 2004).
Senyawa Flavonoid
Senyawa flavonoid merupakan golongan senyawa fenol yang dihasilkan dari metabolisme sekunder pada tanaman. Flavonoid telah ada di alam selama lebih dari jutaan tahun (Swain, 1975). Pada tanaman, flavonoid disintesis dari asam amino aromatik, yaitu tirosin dan fenilalanin, bersama-sama dengan unit asetat melalui lintasan asetat dan sikimat (Bravo 1998; Middleton et al., 2000). Dengan bantuan enzim tirosin amonia lyase dan fenilalanin amonia lyase, tirosin dan fenilalanin terkonversi menjadi sinamat yang kemudian berkondensasi dengan asetat membentuk struktur flavonoid (Middleton et al. 2000). Struktur flavonoid dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Struktur Molekul Flavonoid
Flavonoid dibedakan berdasarkan ikatan molekulnya menjadi lima golongan yaitu flavanol, antosianidin, flavon, flavanon, dan chalcon. Struktur dasar flavonoid terdiri atas dua cincin benzene (A dan B) yang terhubung oleh cincin piran atau pirone heterosiklik dengan ikatan rangkap di tengahnya (C). Pembagian golongan tersebut berdasarkan ada atau tidak adanya ikatan rangkap pada posisi 4, ikatan rangkap antara atom karbon pada posisi 2 dan 3 pada cincin C, dan gugus hidroksil pada cincin B. Pada struktur flavonoid, gugus fenil biasanya berikatan pada posisi 2 cincin B, sementara isoflavonoid pada posisi 3. Nucleus (Bilyk dan Sapers 1985; Middleton et al., 2000).
Golongan flavonol terdiri dari kuersetin, kaempferol, galangin dan myrcetin, (Vickery and Vickery, 1981). Kuersetin kebanyakan terdapat pada sayuran dan buah-buahan.
Flavonoid memiliki banyak kegunaan, beberapa di antaranya masih belum dapat dimengerti. Sebagai contoh, flavonoid berpengaruh dalam pertumbuhan pada in vitro tetapi tidak demikian halnya pada percobaan in vivo. Flavonoid juga berfungsi sebagai enzim inhibitor, memberi warna pada tanaman, atraktan bagi polinator, dan sebagai antibiotik terhadap serangan virus (Vickery and Vickery 1981). Pada manusia flavonoid memiliki kegunaan sebagai anti oksidan, anti kanker, anti alergi, dan anti virus (Hertog et al., 1992; Middleton et al., 2000). Flavonoid juga sangat efektif dalam mengikat radikal bebas dari hidroksil dan peroksil sehingga dapat mencegah penyakit kanker dan jantung (Manach et al., 1996). Konsumsi buah-buahan dan sayuran yang mengandung flavonoid juga penting bagi keseimbangan diet yang sehat (Lugasi et al., 2003).