• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan untuk Mendukung Ketahanan Pangan dalam Menghadapi MEA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan untuk Mendukung Ketahanan Pangan dalam Menghadapi MEA"

Copied!
287
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

(2)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

PROSIDING

Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan

Universitas Nusa Cendana

Kupang, 14 Oktober 2017

Undana Press

2017

(3)

untuk Mendukung Ketahanan Pangan dalam Menghadapi MEA

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan Ke – IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana

Kupang, 14 Oktober 2017

Pengarah : Dr. Ir. Marcelien Dj. Ratoe Oedjoe, M.SI Dr. Ir. Agnette Tjendanawangi, M.Si Dr. Ir. Sunadji, MP

Dr. Lady Cindy Soewarlan, S.Pi.,M.Pi Redaksi

Pelaksana

: Dr. Yuliana Salosso, S.Pi.,MP Dr. Priyo Santoso, S.Pi.,MP Aludin AL Ayubi, S.Pi.,M.Si

Ike Margareth Irawati Langke, A.Md Reviewer : Dr. Ir. Marcelien Dj. Ratoe Oedjoe, M.SI

Dr. Ir. Agnette Tjendanawangi, M.Si Dr. Ir. Sunadji, MP

Dr. Lady Cindy Soewarlan, S.Pi.,M.Pi Dr. Yuliana Salosso, S.Pi.,MP

Dr. Priyo Santoso, S.Pi.,MP Dr. Ir, Fonny J. L. Risamasu, M.Si Dr. Ir. Yahyah, M.Si

Dr. Ismawan Tallo, S.Pi.,M.Si Ir. Felix Rebhung, M.Agr.,Ph.D Dr. Ir. Nicodemus Dahiklory, M.Si Dr. Pryo Santoso, S.Pi.,MP

Dr. Ir. Yulianus Linggi, M.Si Dr. Chaterina Paulus, S.Pi.,M.Si Dr. Alexander L. Kangkan, S.Pi.,MP Dr. Ade Y. H. Lukas, S.Pi.,M.Si Ir. Ridwan Tobuku, M.Si Kiik Gretty Sine, S.Pi.,M.Si

Lumban Nauli Lumban Toruan, S.Pi.,M.Si Crisca B. Eoh, S.Pi.,M.Si

Aludin Al Ayubi, S.Pi.,M.Si

ISBN : 978-602-6906-39-7

Penerbit : Undana Press

Lt. 3 Kantor Rektorat

Jl. Adisucipto Undana Penfui Kupang-NTT

PO BOX 104 (0380) 881580-881586. Fax 881674-881586

Email : [email protected]

Website : www.undana.ac.id

HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

(4)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

Hal

DAFTAR ISI

i

PENGANTAR

ii

v

KELOMPOK BUDIDAYA PERAIRAN

Nomor Urut

Artikel Judul Artikel Hal

1

Tingkat Kelangsungan Hidup Bibit Rumput Laut (Kappaphycus

alvarezii) dengan Pengangkutan Sistem Tertutup di Kabupaten

Kupang

Marcelien Dj. Ratoe Oedjoe, Felix Rebhungdan Sunadji

1

2

Uji Kepadatan Bakteri Probiotik dengan Masa Simpan dan Jumlah Sarter Yang Berbeda

Suseno, Masirah dan Himawan

6

3

Potensi Ekstrak Gracilaria sp. Sebagai Imunostimulan pada Budidaya Litopenaeus Vannamei (Kajian Putaka)

Yudiana Jasmanindar, Sukenda, Muhammad Zairin Jr, Alimuddin dan Nur Bambang Priyo Utomo

18

4

Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias sp.) Pada Sistem Aquaponik dengan Penambahan Probiotik dalam Pakan dan Penggunaan Kijing (Pilsbryoconcha exilis) dalam Komponen Biofilter

Priyo Santoso dan Sunadji

27

5

Jumlah Atraktan Cumi yang Berbeda dalam Pakan Terhadap

Pertumbuhan, Kecernaan dan Efisiensi Nutrien Pada Ikan Sidat (Anguilla sp.)

Arning Wilujeng Ekawati, Mohamad Fadjar, Dian Eva Turrizqi, Dian Isna Selviyati dan Adam Prabani Muhammad

32

6

Peran Salinitas dan Kalsium pada Pendederan Glass Eel

Anguilla bicolor bicolor Terhadap Aktivitas Osmoregulasi dan

Pertumbuhan Ade Y. H Lukas

43

7

Efikasi Rute Vaksin Aeromonas hydrophila ASB-01 pada Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus)

Olga dan Fatmawati

51

8

Masalah Produksi Tambak Ikan Bandeng yang Rendah di Desa Bipolo

Agenette Tjendanawangi dan Nikodemus Dahoklory

59

(5)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

9

Komposisi Nutrisi Makroalga Hijau yang Ditemukan di Perairan Teluk Kupang

Yuliana Salosso

63

10

Peranan Bioteknologi Berbasis Probiotik dalam Perikanan Budidaya

Ridwan Tobuku

68

11

Tingkat Kelulushidupan, Kecepatan Moulting dan Pertambahan Bobot Kepiting Bakau (Scylla Serrata) dengan Metode Mutilasi dan Injeksi Ekstrak Bayam di Tambak Oesapa

Lasmi, Yahyah dan Cresca. B. Eoh

72

12

Sebaran Morfologi Tiram (Crassostrea cucullata) di Perairan Intertidal Desa Tanah Merah Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang

Yohana Charolina Lily, Evi Husain dan Sunadji

87

13

Potensi Ekstrak Daun dan Batang Tumbuhan Mangrove

Rhizophora stylosa dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Aeromonas hydrophila

Heri Maryanto, Yunitasari dan Dini Siswani Mulia

98

14

Ekstraksi Etanol Buah Pedada (Sonneratia alba) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Vibrio harveyii Secara In

Vitro

Gloria Ika Satriani, Jimmy Cahyadi, Ery Gusman dan Eka Nur Juliana

105

15

Gambaran Histologi Insang dan Hati Ikan Kerapu Tikus pada Uji Toksisitas

Jane L. Dangeubun dan Diana S. Syahailatua

112

KELOMPOK MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Nomor Urut

Artikel Judul Artikel Hal

16

Kondisi Padang Lamun Pulau-Pulau Kecil di Timur Perairan Pulau Bintan Kabupaten Bintan Kepulauan Riau

Indarto Happy Supriyadi

119

17

Coastal Communities Institution for Creative and Productive Enterprises in Nemberala Village Using Interpretative Structural Modeling

Chaterina A. Paulus, Yohanis Umbu L. Sobang dan Marthen R. Pellokila

130

18

Studi Bioekologi untuk Pengembangan Budidaya Perikanan Model IMTA (Integrated Multi Tropich Aquaculture) di Kabupaten Kupang

Yusuf Kamlasi, Alexander S. Tanody dan Mikson M.D Nalle

135

(6)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

19

Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem di Kabupaten Alor

Donny M. Bessie, Ida A. L. Dewi, Saraswati Adityarini dan Dwi Ariyogagautama

140

20

Pengelolaan Sumberdaya Ikan Layang Deles Teluk Prigi, Kabupaten Trenggalek

Mochammad Fattah, Pudji Purwanti dan Edi Susilo

147

21

Analisis Penentuan Prioritas Pengembangan Kawasan Teluk Kupang Berbasis Sektor Unggulan

Alexander Leonidas Kangkan,, Marsoedi, Bambang Semedi, Gatut Bintoro

155

22

Identifikasi Jenis Lamun dan Jenis Biota Yang Hidup di Dalamnya di Perairan Pesisir Tesabela Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang

Sitti Halija dan Aludin Al Ayubi

162

23

Shannon-Wiener Diversity Index On Benthic Foraminifers is Less Effective to Approximating Coral Reef Ecosystem Quality in Kupang Bay

Lumban Nauli Lumban Toruan, Fonny J.L. Risamasu, Chaterina Agusta Paulus

167

24

Analisis Komposisi dan Kepadatan Sampah Domestik yang Terpapar pada Ekosistem Pesisir Oesapa Kota Kupang

Fonny J. L. Risamasu, Ricky Gimin, P. Sutejo, W. I. I. Mella dan Yahyah

174

25

Analisis Kandungan Proksimat Asam Amino dan Asam Lemak Algae Hijau Halimeda opuntia Asal Perairan Ujung Genteng Jawa Barat

Abdullah Rasyid

188

26

Identification of Halogenated Monoterpenes plocamenone From Aotearoa Marine Red Algae Specimen Plocamium angustum Wem Turupadang

196

KELOMPOK

TEKNOLOGI

PENANGKAPAN,

TEKNOLOGI

PENGOLAHAN HASIL PENANGKAPAN, SOSIAL EKONOMI DAN

KEBIJAKAN PERIKANAN

Nomor Urut

Artikel Judul Artikel Hal

27

Pengaruh Perbedaan Teknik Pengoperasian Alat Bantu Blabar dengan Menggunakan Alat Tangkap Seser pada Penangkapan Nener di Perairan Atapupu Kabupaten Belu

Kumala Sari, Sriawan dan Samuel Ulu

204

28

Prospek Pengembangan Fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan Oeba Kupang dalam Menunjang Aktivitas Perikanan Tangkap Susy Herwaty

211

(7)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

29

Analisa Bauran Pemasaran dalam Strategi Penetrasi Pasar Terhadap Positioning Produk Stik Tulang Ikan pada UKM Ijtihad di Kota Kupang

Chairul Pua Tingga dan Cahyaningtias

226

30

Kajian Mutu Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) Asap Akibat Penggunaan Bahan Baku Lokal Sebagai Pengawet Alami

Naema Bora dan Rikka W. Sir

231

31

Optimalisasi Potensi Desa Pitay Melalui Budidaya Rumput Laut dan Kerang Darah untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat M.M. Dwi Wahyuni, Rut Rosina Riwu, Intje Picauly

239

32

Pola Kemitraan pada Usaha Perikanan Pole And Line Ditinjau dari Fungsi Ekonomi di Kota Kupang

Naharuddin Sri, Alexander S. Tanody dan Joi A. Surbakti

246

33 Analisis Kemiskinan Rumah Tangga Nelayan di Kota Kupang

Yahyah dan Hadjrah Arifin 257

34

Politik dan Kebijakan Pembangunan Perikanan Masa

Reformasi: Fenomenal dan Paradoksal

Edi Susilo, Pudji Purwanti, Erlinda Indrayani, dan Candra Adi Intyas

272

(8)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

PENGANTAR

Peningkatan jumlah penduduk dunia dan efek pemanasan global telah berdampak pada menurunnya produksi bahan pangan diberbagai Negara. Hal ini merupakan salah satu ancaman bagi ketahanan pangan dunia tidak terkecuali Indonesia yang merupakan salah satu Negara yang memiliki kekayaan hayati laut terbesar di dunia. Berdasarkan hal tersebut, laut dan perairan tawar diharapkan dapat menopang ketersediaan sumber pangan nabati dan hewani bagi penduduknya.

Berbagai penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya laut dan perairan tawar (penangkapan, budidaya) telah banyak dilakukan, tetapi belum banyak diaplikasikan oleh pengambil kebijakan maupun stakeholder. Menyadari hal tersebut maka Fakultas Kelautan dan Perikanan berencana mengadakan seminar Nasional Perikanan dan Kelautan yang merupakan media yang bisa mempertemukan berbagai kalangan baik dari akademisi, peneliti, pengambil kebijakan, stakeholder, maupun masyarakat yang mempunyai kepedulian pada bidang perikanan dan kelautan untuk mensinergikan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan agar bisa diaplikasikan untuk peningkatan ketersediaan pangan dalam menghadapi MEA.

Pada kesempatan ini panitia mengucapkan terimakasih kepada Rektor Universitas Nusa Cendana beserta staf, Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan beserta staf, semua panitia, serta semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan seminar nasional tersebut. Selain itu, panitia juga memohon maaf kepada semua pihak, apabila pelaksanaan seminar nasional sampai penyusunan prosiding ini kurang berkenan, serta panitia mengharap kritik dan koreksi demi perbaikan isi dari prosiding ini.

Akhir kata semoga prosiding ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Kupang, Oktober 2017

Panitia

(9)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

(10)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP BIBIT RUMPUT LAUT

(Kappaphycus alvarezii) DENGAN PENGANGKUTAN SISTEM TERTUTUP

DI KABUPATEN KUPANG

Marcelien Dj Ratoe Oedjoe1, Felix Rebhung2 dan Sunadji3

1,2,3Staf Pengajar Fakultas Kelautan dan Perikanan, Univeristas Nusa Cendana

Email:[email protected]

ABSTRAK

Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya yang dapat menjadi unggulan ekspor daerah maupun nasional sekaligus dapat diupayakan untuk meningkatkan kemandirian dan mewujudkan kedaulatan bangsa. Keberhasilan dalam proses budidaya rumput laut sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pemilihan bibit unggul. Bibit rumput laut Kappaphycus alvarezii yang digunakan

dapat berasal dari bibit alam ataupun yang berasal dari hasil budidaya (murni). Dengan demikian untuk penyediaan bibit awal sebaiknya bibit diambil dari luar daerah

dan untuk pengembangan selanjutnya, bibit-bibit tersebut dapat diadakan melalui perkembang biakan/pembibitan secara vegetatif maupun generative. Kondisi normal bibit

rumput laut memiliki daya tahan di darat antara 6 – 20 jam. Maka pada daerah yang waktu tempuh lebih dari 20 jam, pengiriman bibit rumput laut dilakukan dengan

pengangkutan sistem tertutup. Tujuannya untuk memperpanjang daya tahan rumput laut sampai di lokasi budidaya serta membantu program pemerintah dalam

mendistribusikan bibit rumput laut ke daerah-daerah baru lokasi budidaya rumput laut. Teknik pengangkutan rumput laut dengan pengangkutan sistem tertutup adalah cara mengangkut dalam keadaan hidup dimana suhu media (komoditi) tersebut dipeking tidak berhubungan langsung dengan udara luar. Untuk komoditi rumput laut pengangkutan

sistem ini tidak menggunakan air (kering). Bibit rumput laut yang telah disiapkan disusun secara teratur dalam kotak sterefoam ukuran 40 x 60 cm sebanyak 6 buah.

Dalam satu kotak ukuran tersebut dapat menampung bibit rumput laut sekitar 14 – 16 kg. Setelah itu bagian atas rumput ditutup dengan kertas koran yang berfungsi meresap tetesan air dari rumput lautuntuk mengurangi genangan air di dasar kotak. Tahapan berikutnya adalah kotak yang telah berisi bibit rumput tersebut ditutup rapat dan dilakban.

Setelah 5 jam dua kotak dibuka untuk mengetahui kondisi rumput laut hingga jam ke 30 jam. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa antara 5-35 jam waktu yang ditempuh, tingkat kelangsungan hidup Kappaphycus alvarezii mencapai

90-100%

Kata kunci : Daya tahan, tingkat kelulushidupan, Suhu media, Waktu tempuh,

Kappaphycus alvarezii

ABSTRACT

Seaweed is one of aquaculture fisheries products of which can be export seed region and aimed to national efforts should be made to increase independence and realize the nation sovereignty .Success in the process of seaweed aquaculture is strongly influenced by several factors, one of these is the election superior seeds .The seaweed seed (Kappaphycus alvarezii) used can be derived from the seeds of nature or derived from the results of the aquaculture. Thus to the provision of seeds should early seeds taken from

(11)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

outside the region and for subsequent development, in the seedlings it can be held through reproduction a nursery in vegetative and generative .The normal condition of the seaweed seed has endurance on land between 6-20 hours .Then in the area which travel time over 20 hours of , delivery sea grass seed should be conducted by the transport of a closed system. The aim is to extend durability seaweed location until in cultivation and help the government program in distribute seaweed seed to areas new location seaweed cultivation .The transportation technique seaweed with transporting a closed system is the way transport in a living state where temperature media (commodity ) package do not deal directly with outside air. To seaweed commodities transportation system of these are using it to water (dry). Seeds seaweed prepared regularly arranged in a sterefoam box size 40x60 cm as many as six box .In a box size can accommodate seeds seaweed about 14-16 kg. After that part the grass covered with newspaper that serves percolate drops of seaweed to reduce the puddle at the base box. Next phase is a box from which it saves seaweed seed was shut meetings and wrappin. After five hours two boxes opened to know the state of seaweed until hours to 35 hours. Our observations showed that between 5-30 hours time traveled, Survival rate Kappaphycus alvarezii reached 90-100 %.

Key words: endurance, survival rate, temperature, travel time, Kappaphycus alvarezii

1.1 PENDAHULUAN

Bibit rumput laut dapat berasal dari stok alam atau dari hasil budidaya. Keuntungan bila bibit berasal dari stok

alam adalah di samping mudah

pengadaannya, juga cocok dengan

persyaratan pertumbuhan secara alami. Sedangkan kerugiannya adalah bibit sering tercampur dengan jenis rumput laut lain. Bibit yang berasal dari hasil budidaya lebih murni karena hanya terdiri dari satu jenis rumput laut, tetapi bermasalah dalam hal mendatangkannya. Bila di daerah sekitar lokasi budidaya tidak terdapat

sumber bibit, maka kita harus

mendatangkannya dari daerah lain. Untuk menjaga agar kondisi rumput laut tetap segar diperlukan perlakuan-perlakuan tertentu. Pengangkutan bibit dari lokasi

sumber ke lokasi budidaya dapat

dilakukan dengan cara pengepakan. Bibit rumput laut disusun dalam kantong plastik secara berselang-seling dengan spons, atau kain, atau kapas yang telah dibasahi air laut. Agar bibit tidak rusak, penyusunan ini jangan dipadatkan. Ikat bagian atas plastik bila sudah penuh, dan buat lubang pada bagian ini dengan cara menusuk-nusukkan jarum. Masukkan plastik ke dalam kotak. Akhirnya bibit siap diangkut lewat darat atau udara. Sedangkan pengangkutan rumput laut dengan perahu

atau sampan cukup disimpan di dasar perahu, dan ditutup. Perlakuan seperti itu

dimaksudkan agar selama dalam

perjalanan bibit tetap lembap atau basah, terhindar dari panas matahari langsung dan panas mesin, tidak terkena air tawar dan air hujan, bibit selalu mendapat sirkulasi udara, serta bibit tidak terkena minyak atau kotoran-kotoran lain. Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu jenis rumput laut yang banyak berkembang di kalangan masyarakat pesisir. Jenis ini banyak dibudidayakan karena teknologi budidayanya mudah, murah serta prospek pasar yang cukup baik.

Melihat kondisi tersebut pemerintah

mencanangkan program menciptakan

lapangan kerja bagi masyarakat pesisir dengan memanfaatkan potensi perairan pantai yang belum dimafaatkan sebagai tempat membudidayakan rumput laut. Program tersebut mulai berjalan tetapi mengalami kendala dimana tidak semua perairan pantai memiliki bibit rumput laut

yang dimaksud. Menurut Atmadja,

W.S.,dkk (1996) ,apabila di lokasi budidaya tidak terdapat bibit maka dapat didatangkan dari daerah lain dengan lama pengangkutan maksimal 24 jam dalam

kondisi kering. Sehingga untuk

membudidayakan rumput laut di suatu kawasan baru perlu mendatangkan bibit dari daerah lain. Proses pengadaan bibit

(12)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

rumput laut dari daerah sumber ke daerah kawasan baru budidaya rumput laut selalu mengalami kendala dimana waktu yang

ditempu cukup lama dan teknik

pengangkutan yang tidak tepat sehingga banyak tanaman yang mati.

Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu diciptakan teknik pengangkutan bibit

rumput laut yang tepat untuk

menanggulami masalah tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian bibit rumput

laut menunjukan bahwa proses

pengiriman untuk daerah-daerah yang waktu tempunya kurang dari 10 jam dapat menggunakan perahu atau bak terbuka untuk pengiriman bibit. Sedangkan untuk daerah-daerah yang ditempuh lebih dari 10 jam pengiriman bibit rumput laut harus

menggunakan pengangkutan sistem

tertutup, seperti menggunakan sterefoam dan lain-lain.

Runtuboy (2008), menjelaskan jika di lokasi baru tidak terdapat bibit yang akan dibudidayakan maka dapat didatangkan

dari daerah lain dengan tetap

memperhatikan lama pangangkutan serta pengangkutan sebaiknya dilakukan pada malam hari. Pengangkutan sistem tertutup dilakukan dengan prinsip jika suhu dalam media pengangkutan diturunkan maka daya tahan dari rumput laut akan lebih lama dan akan mencapai lokasi jarak tempuhnya lebih jauh, sehingga tujuan

dari penelitian ini adalah untuk

memperpanjang daya tahan rumput laut agar pengiriman rumput laut sampai di lokasi budidaya serta membantu program pemerintah dalam mendistribusikan bibit rumput laut ke daerah-daerah baru lokasi budidaya rumput laut.

II. METODE PENELITIAN

2.1 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah:

rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii, kertas Koran. Es batu. Alat berupa: sterefoam 40x60 cm sebanyak 6 kotak, thermometer, lakban, gunting. Sedangkan wadah pengangkutan yang digunakan adalah sterefoam. Sterefoam dipilih karana memiliki beberapa kaistimewaan antara lain : 1) dapat diperoleh di pasaran dalam jumlah yang banyak dengan ukuran

yang seragam, 2) kedap terhadap air sehingga tidak terjadi rembesan, 3) dapat menahan pengaruh dari luar sehungga es didalamnya tidak cepat mencair. Dalam 1 sterefoam menggunakan 3 bongkaan es batu masing-masing berukuran 600 ml. Sebelum es tersebut dimasukan terlebih dahulu dibungkus koran yang berfungsi memperlambat proses penairan es, dan dapat juga meresap air akibat es yang

mencair guna menghindari terjadi

genangan air di dasar kotak. Pada dasar kotak disusun kertas koran sebanyak tiga lapis, sedangkan pada dinding dan atas kotak cukup dengan satu lapisan koran. Fungsi dari penggunaan kertas koran adalah agar dapat meresap tetesan air baik dari atas, dinding maupun dasar kotak.

2.2 Metode

Metode pengangkutan system tertutup (kering). Teknik pengepakannya adalah menyiapkan kotak sterefoam ukuran 40 x 60 cm sebanyak 6 kotak. Pada dasar setiap sterefoam diberi alas kertas koran tiga rangkap yang berfungsi menyerap tetesan air dari bibit agar tidak terjadi genangan air pada dasar kotak. Siapkan 3 buah es batu dalam plastik ukuran 600 ml. Ke tiga es batu tersebut dibungkus kertas koran lalu dimasukan ke dalam kotak sterefoam.

Bibit yang digunakan umumnya

tanaman muda hasil budidaya, umur tanaman berkisar antara 25 – 30 hari, selama pengangkutan dan persiapan pengepakan tidak boleh terkenah sinar matahari dan air tawar, bercabang banyak dan rimbun, warna spesifik, tidak terdapar bercak/ sehat. Pada saat bibit rumput laut

akan dimasukan dalam media

pengangkutan harus disusun merata (tanpa ditekan) agar bibit tersebut tidak rusak.

Bibit rumput laut yang telah disiapkan disusun secara teratur (jangan ditekan) dalam kotak tersebut. Dalam satu kotak ukuran tersebut dapat menampung bibit rumput laut sekitar 14 – 16 kg. Setelah itu bagian atas rumput ditutup dengan kertas koran yang berfungsi meresap tetesan air dari rumput laut untuk mengurangi genangan air di dasar kotak. Tahapan

(13)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

berikutnya adalah kotak yang telah berisi

bibit rumput tersebut ditutup rapat dan dilakban, kemudian ke 12 kotak

tersebut disusun dalam satu ruangan. Memasuki 5 jam pertama dua kotak

dibuka untuk mengetahui kondisi bibit demikian setiap 5 jam dua kotak dibuka hingga jam ke 30. Seperti Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Perlakuan dan Pengamatan Pengangkutan bibit rumput laut (Kappaphycus

alvarezii ) sistim tertutup.

No Jumlah box

Dibuka jam ke

Kondisi bibit 2 hari setelah Penanaman 5 10 15 20 25 30 1 2 box Xx 2 2 box Xx 3 2 box Xx 4 2 box Xx 5 2 box xx 6 2 box Xx

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tahapan kegiatan pengamatan yang dilakukan untuk mengamati kondisdi bibit

rumput laut yang dipengepakang

dilakukan sebagai berikut :

- Memasuki 5 jam pertama dua kotak dibuka, bibitnya diikat dan ditanam pada lokasi budidaya.

- Lima (5) jam berikutnya dua kotak berikutnya dibuka, bibitnya diikat lalu ditanam pada lokasi budidaya.

- Demikian setiap 5 jam dua kotak dibuka dan bibitnya diikat lalu ditanam

di lokasi budidaya hingga jam ke 30 dimana semua kotak telah terbuka. - Setalah semua kotak dibuka dan

tanamannya ditanam di lokasi

budidaya, dilakukan pengamatan

tentang perkembangan tanaman pada 2 hari pertama.

Data hasil pengamatan metode

pengangkutan rumput laut Kappaphycus

alvarezii dengan sistem tertutup di

Kabupaten Rote Ndao seperti Tabel 1.2 berikut :

Tabel 1.2. Data hasil pengamatan tingkat kelangsungan hidup bibit rumput laut

Kappaphycus alvarezii dengan pengangkutan sistem tertutup

No Jumlah box

Dibuka jam ke

Kondisi bibit 2 hari setelah Penanaman 5 10 15 20 25 30

1 2 box Xx Segar Hidup

2 2 box Xx Segar Hidup

3 2 box Xx Segar Hidup

4 2 box Xx Segar Hidup

5 2 box xx Kurang segar Sebagian mati 6 2 box Xx Tidak segar Sebagian mati

Berdasarkan data pada Tabel 1.2 di atas terlihat bahwa antara 5 sampai 20 jam pengangkutan bibit rumput laut sistem tertutup ini semua bibit (tanaman) terlihat segar. Hal ini terjadi karena prinsip dasar pengepakan dan pengangkutan rumput laut sistem tertutup yaitu menurunkan suhu media hidup komoditi tersebut selama proses pengangkutan. Karena

dengan suhu yang rendah akan

mengurangi proses metabolisme pada komoditi yang diangkut. Sehingga energi yang dimiliki tidak banyak yang terkuras

dan akan digunakan untuk

mempertahankan kelangsungan hidup

komoditi tersebut lebih lama.

Berbeda dengan 4 kotak yang dibuka setelah 25 dan 30 jam, tampak bahwa

(14)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

tanaman sudah tidak segar lagi dan terlihat bahwa 50 % - 80 % dari tanaman menunjukan kelayuan dan banyak yang mati. Hal ini terjadi karena pada saat ke empat kotak terahkir dibuka tanpak bahwa seluruh es dalam box telah mencair dan suhu dalam kotak tersebut terasa sedikit lebih hangat. Selain pengamatan secara

visual, juga dilakukan pengamatan

terhadap tanaman setelah dua hari penanaman. Tanpak bahwa kotak yang

dibuka antara 5 sampai 20 jam

tanamannya tetap hidup dan menunjukan perkembangan. Sedangkan kotak yang dibuka pada jam ke 25 - 30 semua tanamannya mati. Pengamatan dilakukan pada 2 hari pertama, tanaman ditanam dilokasi baru dan dapat bertahan setelah dua hari maka tanaman tersebut dapat bertumbuh dan berkembang. Sebaliknya apabila tanaman tersebut tidak sehat maka pada dua hari pertama telah tanpak bahwa tanaman tersebut akan mati.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan dan hasil pengamatan maka dapat diambil beberapa kesimpulan dan saran antara lain :

1. Sebelum melakukan pengiriman

rumput laut tersebut perlu

memperhitungkan lama waktu yang akan ditempuh.

2. Waktu tempuh yang harus dihitung adalah sesaat setelah bibit dipeking hingga saat bibit tersebut sampai di lokasi budidaya.

3. Lama waktu tempuh antara daerah sumber bibit ke lokasi budidaya akan

mempengaruhi mutu bibit yang

digunakan. Apabila waktu yang akan ditempuh lebih dari 15 jam dan kurang dari 35 jam maka pengepakan

dan pengangkutan sebaiknya

menggunakan sistim tertutup.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini terlaksana atas biaya

Direktorat Riset dan Pengabdian

Masyarakat , Direktorat Jenderal

Penguatan Riset dan Pengembangan,

Kementerian Riset, Teknologi dan

Pendidikan Tinggi dengan skim Penelitian

Unggulan Strategis Nasional sesuai

dengan Kontrak Penelitian No:

204/UN15.19/LT/2017, dengan judul

Tingkat Kelangsungan Hidup bibit Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) dengan

Pengangkutan Sistem Tertutup di

kabupaten Kupang.

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, W.S., A. Kadi; Sulistijo dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan

Jenis-jenis Rumput Laut Indonesia.

Puslitbang Oseanologi-LIPI. Jakarta. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

2004. Petunjuk Teknis Budidaya Laut

Rumput Laut Eucheuma spp.

Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2005. Profil Rumput Laut Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Perindag NTT., 2014. Identifikasi dan

Inventarisasi Komoditas Unggul

di 11 Kabupaten Provinsi NTT,

Laporan Hasil Penelitian (Tidak dipublikasi)

Perindag NTT., 2015.Roap Map Industri

Rumput Laut di Provinsi Nusa

Tenggara Timur

Perindag NTT., 2016. Pengembangan

Industri Makanan dan Minuman

Program Penumbuhan dan

Pengembangan Industri Berbasis

Agro Nusa Tenggara Timur. Laporan Hasil Penelitian di 5 Kabupaten Zulkarnain; Lamusa, A.; dan Tangkesalu,

D. 2013. “Analisis nilai tambah kopi jahe pada industri Sal-Han di kota Palu”. e-Journal Agrotekbis. Vol.

1 (5), pp: 493-499.

Ya’Ia Zakirah Raihani., 2008. Prospek Pengembangan Rumput Laut Di Kabupaten Morowali. J.Agroland 15 (2): 144-148

Runtuboy, N . 2008. Teknologi Budidaya

Rumput Laut Eucheuma cottonii

(Kappaphycus alvarezii). Balai Besar

Pengembangan Budidaya Laut

Lampung.

(15)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

UJI KEPADATAN BAKTERI PROBIOTIK DENGAN MASA SIMPAN

DAN JUMLAH SARTER YANG BERBEDA

TEST THE DENSITY OF PROBIOTIC BACTERIA WITH SHELF LIFE

AND NUMBER OF DIFFERENT STARTER

Suseno1, Masirah2 dan Himawan3

1,2,3)Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang

ABSTRAK

Komposisi probiotik dengan inokulan yang mudah diperoleh di pasaran yaitu bakteri

Lactobacillus casei pada produk “Yakult” dan jamur Saccharomyces cerevisiae pada

produk “Fermipan”. banyak beredar di masyarakat. Hasil penelitian tahap 1 menunjukkan bahwa jumlah starter (yakult) tidak berpengaruh secara nyata terhadap jumlah total mikroba probiotik, sedangkan perbedaan lama waktu inkubasi dalam satuan hari berpengaruh secara nyata terhadap jumlah total mikroba probiotik. Perkembangan bakteri terjadi puncaknya bukan pada hari setelah hari ke-5 tetapi pada hari ke-3. Hasil identifikasi mikroba yang dominan pada sampel probiotik adalah jenis Bacillus sp. atau lebih tepatnya adalah Lactobacillus casei. Hasil penelitian tahap 2 menyatakan bahwa waktu inkubasi (masa simpan) berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah total mikroba probiotik. Jumlah maksimum total mikroba (nilai TPC) sampel probiotik terjadi pada pengamatan jam ke-36 dengan nilai sebesar 6,0 x 1011 CFU/ml.

Kata Kunci : probiotik, mikroba, inkubasi, starter ABSTRACT

Probiotic compositions with easy-to-obtain inoculants in the Lactobacillus casei bacteria on "Yakult" products and Saccharomyces cerevisiae mushrooms on "Fermipan" products. many circulating in the community. The results of the first phase showed that the number of starter (yakult) did not significantly affect the total number of probiotic microbes, whereas the difference of incubation time in units of day significantly affected the total number of probiotic microbes. Bacterial development occurs peak not on the day after day 5 but on the 3rd day. The dominant microbial identification result on probiotic sample is

Bacillus sp. or rather Lactobacillus casei. The results of the second phase of the study

showed that the incubation time (shelf life) significantly affected the total number of probiotic microbes. The maximum number of microbial total (TPC value) of the probiotic sample occurred at 36 hour observation with a value of 6.0 x 1011 CFU/ml.

Keywords: probiotics, microbes, incubation, starter

I. PENDAHULUAN

Usaha budidaya ikan dan udang

semakin berkembang, namun

permasalahan yang sering timbul adalah mahalnya harga pakan buatan

pabrik dan adanya penyakit yang

disebabkan oleh bakteri dan virus. Mahalnya harga pakan ikan terutama pakan yang berasal dari pabrik sulit dikendalikan. Hal ini disebabkan bahan baku pakan harganya mahal, sementara

kurs rupiah terhadap dolar naik terus. Salah satu solusi yang bisa dilakukan

adalah mengoptimalkan pemanfaatan

pakan buatan (pellet) dengan

meningkatkan daya cerna pakan melalui upaya mencampurkan pakan dengan probiotik. Pencampuran probiotik dengan pellet selain untuk memacu pertumbuhan ikan sendiri sekaligus juga bisa memberi kekebalan ikan dari kemungkinan terkena

penyakit atau stres. Pakan pellet ini juga mengandung bakteri-bakteri

(16)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

menguntungkan yang berasal dari

probiotik. Selain digunakan untuk

mempercepat pembesaran ikan, probiotik juga bisa digunakan pada pembenihan

dan pembesaran ikan. Pemberian

probiotik menjadikan pertumbuhan serta daya tahan ikan menjadi jauh lebih baik dan menekan tingkat kematian.

Teknologi probiotik saat ini

berkembang pesat, bahan – bahan yang dapat dibuat probiotik sangat banyak jenisnya dan terkadang merupakan bahan limbah yang murah harganya, misal : tetes tebu, air kelapa, kepala udang, air cucian beras, air cucian ikan dan sebagainya. Prinsip bahan penyusun probiotik adalah bahan – bahan sumber C (Carbon) dan N

(Nitrogen) dalam bentuk senyawa

sederhana (mudah diuraikan). Bakteri starter yang digunakan adalah bakteri spesifik yang mempunyai kemampuan

dapat menguraikan bahan – bahan

probiotik tersebut dengan cepat sehingga dapat mencapai kepadatan yang tinggi.

Jenis jamur tertentu juga sering

ditambahkan untuk membantu

menguraikan sakarida yang rantainya masih tergolong panjang. Bakteri dengan media kultur berkomposisi C, N rasio

seimbang atau mendekati 50%,

pertumbuhannya akan logaritmik sehingga kepadatannya dapat mencapai 1012 sel/ml. Komposisi probiotik banyak beredar di masyarakat, tetapi komposisi yang mudah diusahakan (dibuat) dan kapan probiotik

tersebut sebaiknya mulai dapat

diaplikasikan biasanya belum diketahuinya pembuatnya. Penelitian ini bermaksud membuat komposisi probiotik dari bahan

yang mudah diperoleh, termasuk

starternya dan perlu diketahui juga

bagaimana kepadatan bakteri yang

optimal sehingga probiotik tersebut sudah mulai dapat digunakan.

Tujuan umum dari pelaksanaan

penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara jumlah starter dan lama

inkubasi yang berbeda terhadap

kepadatan bakteri dalam media probiotik. Tujuan khusus dari penelitian adalah untuk mengetahui jumlah starter dan lama inkubasi terbaik atau pada jumlah starter tertentu akan diketahui kapan probiotik sebaiknya mulai dapat digunakan.

II. METODE PENELITIAN

2.1

Bahan Penelitian

Bahan- bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan media probiotik yaitu : Air Kelapa, Tetes Tebu, Susu Skim, Ragi Roti Saccharomyces cerevisiae (Fermipan), Essen Stroberi dan bahan bakteri probiotik sebagai Stater yaitu

Lactobacillus casei dalam kemasan (Merk)

“Yakult” dan EM-4. Bahan Uji Bakteri

Lactobacillus casei secara Total Plate Count dan bahan uji isolasi dan identifikasi

bakteri pada sampel probiotik. 2.2 Peralatan Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam pembuatan probiotik adalah kompor gas, panci, pengaduk, baskom, timbangan analitik merk ‘OHAUS’, gelas piala 250 ml, gelas ukur 600 ml, pisau, galon plastik dan corong plastik. Peralatan yang digunakan untuk analisa kepadatan bakteri meliputi : cawan petri, pipet, gelas ukur, beaker

glass, erlenmeyer, hot plate stirrer,

pengaduk, timbangan digital, oven kering, autoclave dan inkubator.

2.3 Metode

Penelitian dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap 1 untuk mengetahui pengaruh jumlah starter dan masa simpan dan tahap 2 untuk mengetahui pengaruh masa simpan (inkubasi) terhadap jumlah total

mikroba. Pada tahap 1 dilakukan

eksperimen pada pembuatan probiotik dengan bahan media yang sama per unit perlakuan dan penambahan bakteri starter Yakult yang berbeda beda (mulai 1 hingga 4 botol), serta masa simpan mulai dari 1, 5, 10, dan 15 hari. Pada tahap, pembuatan probiotik dengan bahan media dan jumlah starter yang sama dengan perlakuan per 0, 12, 18, 24, 36, 48 dan 60 jam pengamatan.

2.4 Perlakuan

Perlakuan yang digunakan pada penelitian tahap 1 adalah penambahan Yakult yang terdiri dari 4 level dengan masa inkubasi 4 level. Perlakuan yang

(17)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

diberikan ditunjukkan pada Tabel 2.1. Selanjutnya Formulasi bahan probiotik dan jumlah starter yang ditambahkan pada

waktu penelitian tahap 1 ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Adapun perlakuan yang digunakan pada penelitian tahap 2 adalah perbedaan lama masa simpan (inkubasi) dalam

satuan jam yang terdiri dari 7 level jam pengamatan dengan ulangan sebanyak 4 kali. Perlakuan yang diberikan ditunjukkan pada Tabel 2.3. Formulasi bahan probiotik dan jumlah starter yang ditambahkan pada waktu penelitian tahap 2 ditunjukkan pada Tabel 2.4.

Tabel 2.1. Kode Perlakuan Penelitian Tahap 1 Perlakuan

Penambahan Yakult

Blok Pengamatan Kepadatan Bakteri (sel/ml) pada Masa Inkubasi Hari Ke :

1 5 10 15

1 botol (A) A1 A2 A3 A4

2 botol (B) B1 B2 B3 B4

3 botol (C) C1 C2 C3 C4

4 botol (D) D1 D2 D3 D4

Tabel 2.2. Formulasi Bahan Kultur Probiotik Penelitian Tahap 1 Bahan Media

Probiotik

Perlakuan Penambahan Starter

A B C D

1 botol 2 botol 3 botol 4 botol

Air Kelapa 10 ltr 10 ltr 10 ltr 10 ltr

Tetes Tebu (Molasses) 1 ltr 1 ltr 1 ltr 1 ltr

Terasi 1 ons 1 ons 1 ons 1 ons

Fermipan 2 sachet 2 sachet 2 sachet 2 sachet

Susu Skim 1 sdm 1 sdm 1 sdm 1 sdm

Essen 1 btl 1 btl 1 btl 1 btl

Tabel 2.3. Kode Perlakuan Penelitian Tahap 2

Ulangan

Pengamatan Kepadatan Bakteri (sel/ml) pada Masa Inkubasi Jam Ke :

0 12 18 24 36 48 60

1 A1 B1 C1 D1 E1 F1 G1

2 A2 B2 C2 D2 E2 F2 G2

3 A3 B3 C3 D3 E3 F3 G3

4 A4 B4 C4 D4 E4 F4 G4

Tabel 2.4. Formulasi Bahan Kultur Probiotik Penelitian Tahap 2

Bahan MediaProbiotik Volume

Air Kelapa 10 ltr

Tetes Tebu (Molasses) 1 ltr

Terasi 1 ons

Fermipan 2 saset

Susu Skim 1 sdm

Essen 1 botol

Starter Yakult 4 botol

(18)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

2.5 Rancangan Percobaan

Penelitian tahap 1 dirancang

menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Penggunaan RAK didasarkan pada materi percobaan dan faktor lingkungan yang relatif homogen, jumlah perlakuan

dan Blok (Kelompok) relatif sedikit

dan materi percobaannya terbatas

(Yitnosumarto, 1989).

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (uji F dengan  = 5%). Apabila hasil uji F menunjukkan adanya perbedaan nyata maka dilakukan uji BNT pada tingkat kepercayaan 5%. Analisa data dilakukan dengan menggunakan program Excel 2010. Penelitian tahap 2 dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap

tunggal dengan 4 kali ulangan.

Perlakuannya adalah perbedaan jam (masa inkubasi) meliputi 7 level yaitu 0, 12, 18, 24, 36, 48 dan 60 jam.

2.6 Prosedur Penelitian

Prosedur pembuatan probiotik diawali dengan perebusan (pencampuran) air kelapa, molasses dan terasi. Perebusan hingga air mendidih selama 5 menit (bakteri mati), kemudian didinginkan. Setelah dingin ditambahkan bahan lain yaitu : fermipan, susu skim dan essence. Selanjutnya ditambahkan starter (Yakult) mulai 1 botol hingga 4 botol sehingga ada

4 galon kultur bakteri (Probiotik) skala massal. Secara umum skema

proses pembuatannya seperti pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Alur Proses Pembuatan Probiotik dan Pengujiannya 2.7 Parameter Uji

Parameter uji untuk probiotik adalah

dengan cara menghitung kepadatan

bakterinya, yaitu dengan Total Plate

Count (TPC) atau Angka Lempeng Total

(ALT).

2.8 Prosedur Analisis Parameter Uji Prosedur analisis parameter uji dalam penelitian ini, dapat dilakukan melalui

beberapa tahapan tertentu, diantaranya adalah :

1) Analisa TPC/ALT

Metode penentuan angka lempeng total atau TPC (Total Plate Count) yaitu digunakan untuk menentukan jumlah total mikroorganisme aerob dan anaerob yang terdapat pada produk. Pengukuran ini menggunakan metode TPC (Total Plate

Count) yang dilakukan dengan cara

menghitung jumlah bakteri yang

Perebusan Air Kelapa, Molasses

dan Terasi

Pendinginan

Penambahan

Fermipan, Susu Skim dan Essence Penambahan

Starter Yakult (1-4 botol) Inkubasi dan Pengujian

Pada Hari Ke :1-5-10-15

(19)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

ditumbuhkan pada suatu media

pertumbuhan (media agar) dan diinkubasi selama 48 jam pada suhu 350 C. Metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitif untuk menentukan jumlah jasad renik. Penentuan angka lempeng total yang dilakukan berdasarkan SNI 01-2332-3-2006.

2) Isolasi Mikroba

Sampel yang telah dihaluskan, kemudian dilakukan seri pengenceran. Metode seri pengenceran yang dilakukan dengan mengambil sebanyak 1 g sampel, dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml akuades sehingga didapat pengenceran 10-1, untuk mendapatkan

pengenceran 10-2 dilakukan dengan

mengambil 1 ml dari pengenceran 10-1 dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml akuades, demikian seterusnya dilakukan seri pengenceran hingga 10-5. Pengenceran 10-4 dan 10-5 diambil 1 ml kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri yang telah berisi media TSA dan diratakan, lalu diinkubasi dengan posisi cawan terbalik selama 24-48 jam pada temperatur 30ºC (Darmayasa, 2008) 3) Identifikasi Mikroba

Setelah inkubasi selama 48 jam, dilakukan isolasi bakteri dengan metode goresan kuadran beberapa tahap hingga diperoleh 1 isolat yang murni. Isolat-isolat yang diperoleh kemudian diidentifikasi

dengan berpedoman pada buku

Mikrobiologi Dasar dalam Praktek Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium

(Hadioetomo, 1993), Bergey’s Manual of

Determinative Bacteriology (Holt et al.,

1994) dan menggunakan MICROBACTTM 24E Gram-Negative Identification System (OXOID) (Oxoid, 2005). Pengamatan morfologi sel yang meliputi uji pewarnaan Gram, bentuk sel dan uji motilitas, serta uji sifat fisiologis yaitu uji katalase, uji indol, uji MR-VP, uji Simmons Citrate, dan uji TSIA.

4) Morfologi Sel

Prosedur dalam melakukan analisis morfologi sel, dapat dilakukan melalui

bebera tahapan tertentu diantaranya adalah :

a) Pewarnaan Gram

Kaca objek dibersihkan dengan

alkohol dan dilewatkan beberapa kali pada nyala api bunsen, kemudian diambil isolat bakteri dengan jarum ose secara aseptik dan dioleskan pada kaca objek. Isolat bakteri kemudian ditetesi ungu violet dan dibiarkan selama 1 menit, selanjutnya dicuci dengan air mengalir dan dianginkan hingga kering. Isolat bakteri kemudian ditetesi lagi dengan larutan iodine dan dibiarkan selama 1 menit, kemudian dicuci dengan air mengalir dan dianginkan hingga kering. Selanjutnya isolat bakteri ditetesi alkohol 95% selama 30 detik, kemudian dialiri air dan dianginkan hingga kering. Isolat bakteri kemudian ditetesi safranin selama 30 detik dan dicuci dengan air mengalir, dikeringkan dengan kertas penghisap dan dikering anginkan, kemudian dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop. Bakteri gram positif ditandai dengan warna ungu yang menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu mengikat warna kristal violet, sedangkan bakteri gram negatif ditandai

dengan warna merah muda yang

menunjukkan bahwa bakteri tersebut tidak mampu mengikat warna kristal violet dan hanya terwarnai oleh safranin (pewarna tandingan) (Hadioetomo, 1993).

b) Bentuk Sel

Bakteri yang tumbuh kemudian

diamati bentuk selnya secara mikroskopik pada kaca preparat sehingga dapat diketahui bentuknya (kokus, batang atau spiral).

5) Sifat Fisiologi

Prosedur dalam melakukan analisis sifat fisiologi, dapat dilakukan melalui bebera tahapan tertentu diantaranya adalah :

a) Uji Katalase

Dua tetes H2O2 diletakkan pada kaca objek yang bersih. Isolat bakteri diambil

menggunakan jarum ose, kemudian

(20)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

dipindahkan ke atas kaca objek dan dicampurkan. Uji positif ditandai dengan

terbentuknya gelembung-gelembung

oksigen yang menunjukkan bahwa

organisme yang bersangkutan

menghasilkan enzim katalase yang

mengubah hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen (Hadioetomo, 1993).

b) Uji Motilitas

Isolat bakteri ditusukkan kedalam media SIM semi padat pada tabung reaksi menggunakan jarum ose tusuk steril. Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. Uji positif ditandai dengan pertumbuhan bakteri yang menyebar, maka bakteri tersebut bergerak (motil) dan bila pertumbuhan bakteri tidak menyebar hanya berupa satu garis, maka bakteri tersebut tidak bergerak (non motil) (Sudarsono, 2008).

c) Uji Indol

Diambil satu koloni terpisah

denganmenggunakan jarum ose,

kemudian diinokulasi ke dalam media SIM dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. Setelah inkubasi ditambahkan 10-12 tetes reagen Kovac. Uji positif ditandai dengan terbentuknya lapisan berwarna merah di bagian atas biakan (Hadioetomo, 1993).

d) Uji MR

Diambil satu koloni terpisah dengan

menggunakan jarum ose, kemudian

diinokulasi ke dalam media MR-VP dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. Pada uji MR, ditambahkan 3-4 tetes indikator merah metil. Uji positif ditandai

dengan perubahan warna medium

menjadi merah, artinya terbentuk asam (Hadioetomo, 1993).

e) Uji Simmons Citrate

Diambil satu koloni terpisah dengan

menggunakan jarum ose dan

diinokulasikan pada media Simmons

Citrate lalu diinkubasi pada temperatur

37ºC selama 24 jam. Diamati adanya perubahan warna pada medium biakan (Hadioetomo, 1993). Uji positif ditandai

dengan berubahnya warna medium

menjadi biru (Sudarsono, 2008).

f) Uji TSIA

Diambil sebagian kecil koloni bakteri

dengan menggunakan ose dan

diinokulasikan pada media TSIA,

kemudian dilakukan dengan cara

menusuk tegak lurus pada bagian butt (tusuk) dan cara zig zag pada bagian slant (miring). Diinkubasi pada temperatur 37ºC selama 24 jam. Diamati perubahan warna medium yang terjadi. Apabila bagian slant berwarna merah dan butt berwarna kuning maka bakteri mampu memfermentasi glukosa, sedangkan apabila bagian slant dan butt keduanya berwarna kuning maka bakteri mampu memfermentasi sukrosa dan laktosa (Yusuf, 2009).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisa Total Mikroba Pada Sampel Probiotik

Penentuan total mikroba sampel probiotik secara kuantitatif dilakukan dengan metode hitungan cawan (Total

Plate Count). Hasil rata-rata TPC dan nilai

log TPC sampel probiotik dengan

perlakuan perbedaan jumlah starter dan

masa inkubasi yang berbeda

sebagaimana terdapat pada Tabel 2.5, sedangkan Gambar 2,2 menunjukkan hubungan antara rata-rata nilai log TPC pada perlakuan jumlah starter dan masa inkubasi yang berbeda.

(21)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

Tabel 2.5. Hasil Rata-rata TPC dan Nilai Log TPC pada Sampel Probiotik Lama Penyimpanan (hari) Perlakuan Rata-rata TPC (CFU/ml) Rata-rata Nilai Log TPC 1 A 1,2 x 106 6,08 B 1,5 x 106 6,18 C 1,7 x 106 6,23 D 1,8 x 106 6,26 5 A 9,0 x 105 5,95 B 1,0 x 105 5 C 1,2 x 105 5,08 D 7,5 x 105 5,88 10 A 1,6 x 105 5,2 B 8,4 x 103 3,92 C 1,6 x 104 4,2 D 7,7 x 105 5,89 15 A 1,9 x 105 5,28 B 1,9 x 104 4,28 C 1,7 x 104 4,23 D 2,1 x 104 4,32

Gambar 2.2. Grafik Hubungan Rata-rata Nilai Log TPC pada Perlakuan Jumlah Starter dan Masa Inkubasi yang Berbeda

6.08 5.95 5.2 5.28 6.18 5 3.92 4.28 6.23 5.08 4.2 4.23 6.26 5.88 5.89 4.32 0 1 2 3 4 5 6 7 1 5 10 15 Nilai Rat a -r ata L o g T P C

Lama Pengamatan (Hari)

A (yakult 1 botol) B (yakult 2 botol) C (yakult 3 botol) D (yakult 4 botol) 6.08 5.95 5.2 5.28 6.18 5 3.92 4.28 0 1 2 3 4 5 6 7 1 5 10 15 Nilai Rat a -r ata L o g T P C

Lama Pengamatan (Hari)

A (yakult 1 botol) B (yakult 2 botol) C (yakult 3 botol) D (yakult 4 botol)

(22)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) pada rata-rata nilai log total mikroba pada sampel probiotik menunjukkan bahwa pengelompokkan blok ulangan dalam hal ini perbedaan masa inkubasi berpengaruh nyata terhadap jumlah total bakteri. Untuk perlakuan lama penyimpanan (sebagai Blok, hari ke 1, 5, 10 dan 15) menunjukkan adanya perbedaan (F Hit > F Tabel) dan dari diagram terlihat bahwa populasi bakteri naik drastis pada hari ke 1 kemudian turun pada hari ke 5, naik sedikit pada hari ke 10 dan turun lagi pada hari ke 15 atau cenderung datar setelah hari ke 1.

Akan tetapi sebaliknya, perbedaan perlakuan pemberian jumlah starter bakteri yang berasal dari minuman ‘yakult’ tidak berpengaruh nyata terhadap total mikroba pada sampel probiotik, atau untuk

perlakuan penambahan jumlah stater (bakteri Lactobacilus casei dari produk Yakult), mulai dari 1 botol hingga 4 botol tidak menunjukkan adanya perbedaan (F Hit < F Tabel).

Pada penelitian ini juga dilakukan analisa total mikroba pada bahan starter yang digunakan untuk membuat sampel probiotik, meliputi yakult, EM-4 dan terasi instan. Hasil analisal mikroba TPC nantinya akan digunakan sebagai data dukung untuk analisa hasil TPC pada sampel probiotik yang dibuat dengan jumlah starter yang berbeda dan masa inkubasi yang berbeda. Jumlah total mikroba pada bahan starter sampel probiotik pada penelitian ini sebagaimana terdapat pada Tabel 2.6.

Tabel 2.6. Jumlah Total Mikroba pada Bahan Starter Probiotik No Nama bahan yang mengandung

Starter Bakteri Jumlah TPC (CFU/ml)

1 Yakult 8,4 x 104

2 EM-4 7,4 x 104

3 Terasi Instan 6,2 x 103

Hasil analisa pada Tabel 2.6

menunjukkan bahwa : terasi mengandung mikro 6,2 x 103 tetapi tidak berpengaruh pada produk probiotik karena direbus dengan air hingga mendidih. Pada Yakult mengandung 8,4 x 104 per botol 65 ml dicampur dengan media kultur 11 lt, karena volume starter yang terlalu sedikit sehingga pada awalnya kepadatan bakteri tidak terdeteksi dalam pengujian (kecil

sekali). EM-4 merupakan standar

kepadatan mikroba pada probiotik yang terdapat di pasaran.

Perkembangan bakteri starter dari

yang tidak terdeteksi pada saat

pencampuran ternyata berkembang pesat setelah 24 jam (hari ke 1) hingga menjadi rata-rata 106 dan kemudian mendatar pada hari-hari berikutnya, hal ini menunjukkan bahwa berapapun jumlah starter, maka bakteri akan berkembang pesat dalam waktu yang singkat kemudian mendatar. Perkembangan yang singkat ini dilakukan oleh bakteri Lactobacillus casei hingga habisnya oksigen terlarut, bakteri

ini sifatnya aerob (dalam

perkembangannya membutuhkan oksigen (Holt et al., 1994) ). Pada hari-hari berikutnya fermentasi dilanjutkan oleh jamur Saccharomyces cerevisiae yang dapat hidup ada atau meskipun tanpa oksigen (fakultatif).

Perkembangan bakteri yang pesat ini di samping karena tersedia oksigen, juga media tumbuh (prebiotik) yang cocok dengan bakteri Lactobacillus casei, terdiri dari senyawa sumber karbon sederhana (gula/tetes tebu dan air kelapa) dan senyawa sumber nitrogen sederhana (asam amino dari terasi), dimana apabila komposisi unsur C dan N seimbang (50 : 50) maka perkembangan bakteri menjadi logaritmik.

Beda nyata ini terutama pada hari ke 1 atau 24 jam masa inkubasi dengan rata-rata total bakteri 106 kemudian mendatar pada hari ke 5,10 dan 15 dengan total bakteri rata-rata 104. Total bakteri ini sama dengan kandungan bakteri probiotik yang dijual di pasaran yaitu EM-4 yaitu 104, meskipun tertulis pada label > 104,

(23)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

ternyata dari hasil uji laboratorium diketahui =104 (Tabel 2.6).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan bakteri terjadi puncaknya bukan pada hari setelah hari ke-5 tetapi sebelum hari ke-5, sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menjawab tujuan dari penelitian ini. Sebelum hari ke-5 dapat dipertajam lagi di

bawah hari ke-3, karena hasil

pengamatan selama penelitian awal, gas banyak dihasilkan pada hari ke-2 atau sekitar 24 jam, sehingga perlu dilakukan penelitian bukan hari sebagai acuannya tetapi jam, yaitu jam ke 0 (sesaat setelah

starter dicampur ke media), ke 12, 24, 36,

48, 60, 72 dan masing masing diulang 3 kali.

3.2 Isolasi dan Identifikasi Bakteri dengan Metode Konvensional 3.2.1 Uji Fisiologis

Uji fisiologis yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi uji katalase, uji indol, uji MR, uji Simmons Citrate dan uji TSIA. Dimana hasil dari pengujiannya dapat dirincikan melalui tabel berikut.

Tabel 2.7. Hasil Uji Fisiologis Isolat Bakteri pada Sampel Probiotik Sampel

Jenis Uji Uji

Katalase Uji Indol Uji MR

Uji Simmons

Citrate Uji TSIA

Sampel

‘probiotik’ + - - - k/k

Keterangan :

+ : terjadi reaksi

- : tidak terjadi reaksi k/k : slant kuning / butt kuning

Berdasarkan Tabel 2.7, sampel

probiotik menunjukkan katalase yang positif (80%). Artinya pada isolat bakteri pada sampel probiotik menghasilkan enzim katalase. Menurut Lay (1994), uji katalase digunakan untuk mengetahui adanya enzim katalase pada isolat bakteri. Katalase merupakan enzim yang dapat

mengkatalisis penguraian hidrogen

peroksida (H2O2) menjadi air dan O2. Hidrogen peroksida bersifat toksis terhadap sel bakteri karena bahan ini mampu menonaktifkan enzim dalam sel dan sangat berbahaya bagi sel bakteri itu sendiri. Uji ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui sifat dari suatu bakteri terhadap kebutuhan oksigen. Bakteri probiotik menghasilkan enzim katalase sehingga dapat menjamin keamanan produk, misalkan ada senyawa peroksida yang terbentuk akan langsung dirubah menjadi air dan O2, sehingga produk probiotik ini tidak membahayakan bagi

hewan atau manusia yang

mengkonsumsinya.

Hasil uji indol menunjukkan bahwa isolat bakteri pada sampel probiotik memberikan nilai negatif (100%) yang

berarti tidak dapat membentuk indol. Indol merupakan senyawa yang mengandung nitrogen yang terbentuk sebagai hasil

pemecahan amino tryphosphat.

Pentingnya uji indol ini adalah karena hanya beberapa jenis bakteri saja yang dapat membentuk indol dan produk ini dapat diuji sehingga dapat digunakan sebagai identifikasi. Bakteri probiotik ini tidak menghasilkan senyawa indol yaitu senyawa yang dapat menyebabkan bau yang tidak sedap (apek).

Berdasarkan Tabel 2.7, hasil

pengamatan dari uji methyl red (MR) ini menunjukkan bahwa isolat bakteri pada sampel probiotik tidak dapat mengoksidasi glukosa yang berarti menunjukkan hasil

negatif (100%). Menurut Sudarsono

(2008), uji merah metil (methyl red test) bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteri untuk mengoksidasi glukosa

dengan memproduksi asam dengan

konsentrasi tinggi sebagai hasil akhirnya. Jika media MR-VP akan menjadi merah

setelah ditambahkan merah metil

menunjukkan bahwa hasil uji positif, sedangkan jika media tetap berwarna kuning menunjukkan hasil uji negatif. Hal

(24)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

ini menunjukkan tidak adanya oksigen setelah terpakai habis untuk awal fermentasi.

Selanjutnya pada Tabel 2.7 juga dapat dilihat bahwa hanya isolat bakteri pada sampel probiotik menunjukkan hasil yang negatif. Ini berarti sampel bakteri tidak mampu menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon. Menurut Hadioetomo (1993), media sitrat simmons merupakan salah satu medium yang digunakan untuk menguji kemampuan bakteri dalam menggunakan sitrat sebagai

satu-satunya sumber karbon yang

digunakan. Bila bakteri mampu tumbuh dengan menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon maka akan terlihat perubahan warna pada media tumbuh bakteri pada permukaan agar miring akan menjadi warna biru.

Tabel 2.7 juga menunjukkan bahwa isolat bakteri pada sampel probiotik mampu memfermentasikan laktosa dan sukrosa. Menurut Sudarsono (2008), media TSIA mengandung tiga macam gula yaitu glukosa, laktosa, atau sukrosa. Uji TSIA ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari suatu bakteri dalam memfermentasi gula untuk menghasilkan asam atau gas. Warna merah pada agar menunjukkan reaksi basa, sedangkan warna kuning menunjukkan reaksi asam. Warna merah pada permukaan agar dan

kuning di bagian bawah agar

menunjukkan bahwa terjadinya fermentasi glukosa. Warna kuning pada bagian

permukaan dan bawah tabung

menunjukkan terjadinya fermentasi laktosa dan sukrosa.

3.2.2 Identifikasi Isolat Bakteri

Identifikasi genus dari suatu bakteri memerlukan karakter-karakter utama dari bakteri yaitu morfologi sel (bentuk sel dan susunan sel), uji biokimia dan tipe fermentasi (Suryani et al., 2010).

Hasil identifikasi mikroba yang dominan pada sampel adalah jenis

Bacillus sp. atau lebih tepatnya adalah Lactobacillus casei. Bakteri yang mendekati genus ini memilki ciri-ciri morfologi yaitu gram positif, bentuk sel bulat, batang dan motil. Bentuk koloni bundar, tepian koloni berombak, elevasi koloni cembung dan warna koloni kuning atau krem. Katalase positif, indol negatif, uji MR negatif, uji sitrat negatif dan TSIA memiliki warna permukaan dan bawah kuning. Menurut Holt et al. (1994) bakteri

Bacillus sp. gram positif, motil dengan

flagel peritrik. Endospora oval, kadang-kadang bundar atau silinder dan sangat

resisten pada kondisi yang tidak

menguntungkan. Warna koloni putih susu

sampai kekuningan dengan tepian

berombak. Bakteri ini bersifat aerobik. Katalase dan oksidase positif. Indol negatif dan mampu memfermentasi glukosa serta laktosa dan sukrosa. Tersebar luas pada bermacam-macam habitat dan sedikit spesies yang patogen. Suhu tumbuh optimum pada 28ºC-35ºC.

3.2.3 Pengaruh Waktu Inkubasi Pada Jumlah Total Mikroba

Hasil penelitian ini merupakan

penelitian lanjutan untuk melihat

perkembangan pertumbuhan bakteri

dengan waktu inkubasi yang dipertajam lagi di bawah hari ke-3, karena hasil pengamatan selama penelitian awal, gas banyak dihasilkan pada hari ke-2 atau sekitar 24 jam, sehingga perlu dilakukan penelitian bukan hari sebagai acuannya tetapi jam, yaitu jam ke 0 (sesaat setelah starter dicampur ke media), ke 12, 18, 24, 36, 48, dan 60 jam pengamatan dn masing masing diulang minimal 3x. Hasil pengamatan kepadatan bakteri pada media kultur (probiotik) dengan masa inkubasi yang berbeda tersaji pada Tabel 2.8, sedangkan Gambar 2.3 menunjukkan grafik hubungan nilai rata-rata log TPC

sampel probiotik pada setiap jam

pengamatan (masa inkubasi).

(25)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

Tabel 2.8. Rata-rata TPC dan Rata-rata Nilai Log TPC Sampel Probiotik Berdasarkan Perbedaan Masa Inkubasi

Lama Pengamatan (Jam)

Rata-Rata TPC

(CFU/ml) Rata-rata Nilai Log TPC

0 9,8 x 1010 10,99 12 1,4 x 1010 10,15 18 9,5 x 109 9,98 24 3,0 x 1010 10,48 36 6,0 x 1011 11,78 48 1,4 x 1011 11,15 60 1,9 x 1010 10,29

Gambar 2.3. Grafik Hubungan Rata-rata Nilai Log TPC Sampel Probiotik Pada Setiap Masa Inkubasi

Tabel 2.8 menunjukkan bahwa rata-rata TPC pada sampel probiotik dengan masa inkubasi yang berbeda berkisar antara 9,5 x 109 sampai 6,0 x 1011. Jumlah

nilai TPC bakteri pada jam ke-0

pengamatan awalnya naik kemudian turun pada jam ke-12, 18 dan perlahan naik sampai puncaknya pada jam pengamatan ke-36 dan selanjutnya jumlahnya menurun terus sampai pengamatan 60 jam.

Hasil analisa sidik ragam (ANOVA) pada rata-rata nilai log total mikroba pada sampel probiotik tahap 2 menunjukkan

bahwa perbedaan masa inkubasi

berpengaruh nyata terhadap jumlah total

bakteri. Untuk perlakuan lama

pengamatan (jam ke-0, 12, 18, 24, 36, 48

dan ke-60) menunjukkan adanya

perbedaan (F Hit > F Tabel) dan dari diagram terlihat bahwa populasi bakteri 10.15 9.98 10.48 11.775 11.1475 10.29 9 9.5 10 10.5 11 11.5 12 0 12 18 24 36 48 Nilai Rat a -r ata L o g T P C Jam Pengamatan Rata-rata Log TPC 10.9975 10.15 9.98 10.48 11.775 11.1475 10.29 9 9.5 10 10.5 11 11.5 12 0 12 18 24 36 48 60 Nilai Rat a -r ata L o g T P C Jam Pengamatan Rata-rata Log TPC

16

Gambar

Tabel 2.5.  Hasil Rata-rata TPC dan Nilai Log TPC pada Sampel Probiotik  Lama  Penyimpanan  (hari)  Perlakuan  Rata-rata TPC (CFU/ml)  Rata-rata Nilai Log TPC  1  A  1,2 x 10 6 6,08 B 1,5 x 1066,18  C  1,7 x 10 6 6,23  D  1,8 x 10 6 6,26  5  A  9,0 x 10 5
Tabel 2.8.   Rata-rata  TPC  dan  Rata-rata  Nilai  Log  TPC  Sampel  Probiotik  Berdasarkan  Perbedaan Masa Inkubasi
Gambar 4.1. Grafik Laju Pertumbuhan  Ikan Lele Sangkuriang  Hasil  analisis  ragam  menunjukkan
Tabel 6.1. Performa glass eel pada salinitas optimum dengan penambahan kalsium
+7

Referensi

Dokumen terkait