Priyo Santoso1 dan Sunadji2
12)Pusat Unggulan Iptek Lahan Kering Kepulauan, Universitas Nusa Cendana Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik dalam pakan dan penggunaan kijing (Pilsbryoconcha exilis) sebagai komponen tambahan dalam biofilter terhadap laju pertumbuhan ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) dalam sistem aquaponik. Penambahan komponen aquaponik ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penghematan penggunaan air dalam sistem aquaponik, sehingga lebih efektif diterapkan di daerah lahan kering kepulauan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap faktorial, dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah pemberian probiotik dengan konsentrasi 2 ml/kg, 4 ml/kg dan 6 ml/kg dalam pakan untuk meningkatkan efisiensi pakan pada ikan lele sangkuriang sehingga meminimalisir buangan metabolit, dan penggunaan kijing dalam sistem biofilter dengan kepadatan 50 kijing/m2, 100 kijing/m2, dan 200 kijing/m2 untuk meningkatkan efisiensi penyerapan buangan budidaya berupa partikel tersuspensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ikan lele berkisar antara 2,201-3,619 %/hari. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian probiotik dalam pakan ikan dan penggunaan kijing dalam sistem biofilter memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P < 0,05) terhadap laju pertumbuhan ikan lele dalam sistem aquaponik, namun pengaruh interaksi kedua perlakuan tidak berbeda nyata (P > 0,05).
Kata Kunci: Pertumbuhan, ikan lele, aquaponik, probiotik, kijing, biofilter ABSTRACT
The study aims to determine the effect of the addition of probiotics in feed and the use of mussels (Pilsbryoconcha exilis) as an additional component in biofilter to the growth rate of catfish sangkuriang (Clarias sp.) In the aquaponic system. The addition of aquaponic component is expected to increase the effectiveness of water use in the aquaponic system, making it more effective to apply in the archipelago dryland region. This was an experimental study using a factorial completely randomized design, with three replications. The treatments applied were probiotics concentration of 2 ml/kg, 4 ml/kg and 6 ml/kg in feed to increase feed efficiency in sangkuriang catfish to minimize metabolite waste, and use mussel in biofilter system to a density of 50 mussels/m2, 100 mussels/m2, and 200 mussels/m2 to increase the efficiency of cultivated waste absorption in the form of suspended particles. The results showed that the growth rate of catfish ranged from 2.201-3.619 %/day. The result of variance analysis showed that the treatment of probiotic in fish feed and the use of mussels in the biofilter system gave significantly different effect (P < 0.05) to catfish growth rate in aquaponic system, but the interaction effect of the two treatments was not significantly different (P > 0.05).
Keywords: Growth, catfish, aquaponic, probiotic, mussel, biofilter
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
I. PENDAHULUAN
Ikan air tawar terutama ikan lele
saat ini telah berkembang pesat
budidayanya di Nusa Tenggara Timur. Tingginya harga jual ikan lele segar dan
meningkatnya permintaan pasar
merupakan faktor pendorong tumbuhnya usaha budidaya ikan lele di masyarakat. Saat ini harga ikan lele di tingkat pembudidaya mencapai Rp 35.000/kg,
sedangkan harganya di swalayan
mencapai Rp 56.100/kg. Harga ini sangat tinggi karena harga ikan lele di daerah Jawa hanya Rp 18.000/kg, bahkan setara dengan harga fillet ikan tuna kelas ekspor. Tingginya minat konsumen pada produk ikan lele juga dipengaruhi oleh kesadaran akan keamanan pangan. Produk ikan lele segar akan sampai ke tangan konsumen dalam kondisi masih hidup sehingga
dipastikan tidak terkontaminasi
(mengandung) bahan formalin yang
sangat berbahaya bagi kesehatan
konsumen karena bersifat karsinogenik.
Salah satu kendala dalam
pengembangan budidaya ikan air tawar di
Nusa Tenggara Timur adalah
ketersediaan air tawar, terutama di musim kemarau. Hal ini karena daerah ini memiliki iklim semiringkai dengan musim hujan efektif hanya tiga bulan. Selain itu daerah ini terdiri dari banyak pulau-pulau kecil dan tiga pulau besar dengan jumlah
keselurahan 566 pulau, yang
menghasilakan suatu kondisi alam yang khas yang dinamakan lahan kering
kepulauan. Guna mendukung
pengembangan akuakultur tawar di
daerah lahan kering kepulauan.
Diperlukan paket teknologi yang hemat dalam penggunaan air seperti aquaponik. Sistem aquaponik yang telah dikenal saat ini dapat ditingkatkan efektivitasnya melalui perbaikan efisiensi pakan biota budidaya dan peningkatan kapasitas filtrasi dan komponen filter. Upaya
peningkatan efisiensi pakan dapat
dilakukan dengan penambahan probiotik dalam pakan, sedangkan peningkatan kapasitas filtrasi dapat dilakukan dengan
menambahkan komponen biofilter.
Dengan kombinasi ini diharapkan system aquaponik lebih hemat dalam penggunaan
air, bahkan tidak perlu ganti air selama siklus produksi.
Sistem aquaponik merupakan
kombinasi dari sistem akuakultur dan hidroponik, sehingga pemberian namanya merupakan perpaduan dari kedua sistem tersebut yaitu aquaponik. Fokus akuponik adalah memaksimalkan pertumbuhan ikan di dalam tangki atau kolam pemeliharaan, dalam suatu sistem resirkulasi yang komponen biofilternya adalah
tanaman-tanaman hidroponik. Tanaman ini
memanfaatkan nutrien yang dihasilkan dari buangan budidaya seperti sisa metabolit dan sisa pakan (Chalmers, 2004).
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penambahan
probiotik dalam pakan dan penggunaan kijing (bilvavia) sebagai komponen tambahan dalam biofilter terhadap laju pertumbuhan ikan lele sangkuriang dalam sistem aquaponik. Dengan kombinasi ini diharapkan sistem aquaponik lebih hemat dalam penggunaan air, hanya diperlukan penambahan air yang hilang karena penguapan dan evaporasi selama siklus produksi.
II. METODE PENELITIAN
2.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Perikanan, UPT.
Laboratorium Lapang Terpadu/Pusat
Unggulan Iptek Lahan Kering Kepulauan, Universitas Nusa Cendana, dari bulan Agustus sampai Oktober 2017.
2.2 Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimen menggunakan rancangan
acak lengkap faktorial, dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan
adalah pemberian probiotik dengan
konsentrasi 2 ml/kg, 4 ml/kg dan 6 ml/kg dalam pakan untuk meningkatkan efisiensi pakan pada ikan lele sangkuriang (Clarias sp) sehingga meminimalisir buangan
metabolit, dan penggunaan kijing
(Pilsbryoconcha exilis) dalam sistem biofilter dengan kepadatan 50 kijing/m2, 100 kijing/m2 dan 200 kijing/m2 untuk
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
meningkatkan efisiensi penyerapan
buangan budidaya berupa partikel
tersuspensi.
Sistem aquaponik ikan lele-kijing-sayuran terdiri atas, a) Kolam terpal untuk pemeliharaan ikan lele berukuran 3 x 2 x 1 m3; b) Bak pemeliharaan kijing dan sayuran terbuat dari multiplex berlapis
fibreglass. Ukuran masing-masing bak
adalah 1 x 0,5 x 0,2 m3 diisi dengan media kerikil berukuran butiran 5-7 mm yang disebarkan merata menutupi permukaan bak hingga ketebalan 5 cm. Bagian tengah bak yang berisi kerikil untuk media pemeliharaan sayuran, sedangkan pada bagian tepi bak terdapat kemalir untuk pemeliharaan kijing; c) Filter fisik dan biologis, yang ditempatkan dalam ember plastik. Filter fisik menggunakan serabut plastik dengan ketebalan 5 cm. Filter ini berfungsi untuk menyaring bahan-bahan padat dalam air media budidaya. Filter
biologis menggunakan bioball yang
dibungkus dalam waring dan ditempatkan di bagian bawah filter fisik. Bioball berfungsi sebagai media bakteri yang berperan dalam proses penguraian bahan-bahan organic kompleks dalam air media budidaya; d) Pompa dasar (submersible pump). Pompa dasar yang digunakan adalah merk Yamano tipe WP-3700 yang berkapasitas 1.500 L/jam; e) Instalasi pipa yang menghubungkan seluruh komponen sistem terbuat dari PVC ukuran ½ dan ¾ inchi.
Sebelum digunakan, seluruh bak telah
direndam air selama sebulan dan
dilanjutkan dengan pengurasan dan
pengisian dengan air yang baru. Padat penebaran ikan lele pada seluruh unit perlakuan adalah 100 ekor/m2. Ukuran benih lele yang digunakan adalah panjang total/ekor berkisar 5-7 cm dan berat 1,5-2,5 g. Sebelum ditempatkan dalam unit perlakuan, benih ikan lele tersebut telah diaklimatisasi selama sebulan dalam bak beton 5 ton di lokasi penelitian ini. Setelah bak ikan ditebari ikan dan air berubah
warna menjadi kehijauan akibat
pemberian pakan, maka sayur siap ditanam. Biji sayur kangkung langsung dipendam dalam kerikil sampai bersemai. Biji dipendam pada jarak 15 x 15 cm. Selanjutnya, ikan lele dipelihara selama dua bulan dengan pemberian pakan
berupa pakan komersial, dimana pada awal penelitian diberi pakan ikan starter, setelah berumur dua minggu pakan diganti dengan pakan ikan awal, dan dan pakan ikan akhir akan diberikan setelah dua minggu berikutnya dan seterus akan diganti sesuai ukuran ikan sampai pada pemanenan. Tingkat pemberian pakan adalah 5% berat badan per hari. Berat pellet yang diberikan dikoreksi setiap minggu sesuai dengan pertumbuhan ikan. Selama pemeliharaan tidak dilakukan penggantian air, kecuali yang hilang akibat penguapan atau evaporasi.
2.3 Variabel yang Diteliti
Variabel yang diteliti adalah laju
pertumbuhan sesaat (Instantanneous
Growth Rate/IGR) menggunakan rumus
(Hopkins, 1992):
IGR =ln Wt − ln Wo
t X 100 %
Keterangan :
G : Laju pertumbuhan ( g/hari) W0 : Bobot rata-rata individu pada
awal penelitian (g)
Wt : Bobot rata-rata individu pada akhir penelitian penelitian (g) t : Lama pemeliharaan (hari)
2.4 Analisis Data
Data hasil penelitian akan dianalisis dengan menggunakan analisis varian faktorial. Analisis statistik akan dikerjakan
dengan menggunakan piranti lunak SPSS 24.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Laju pertumbuhan ikan lele
sangkuriang berkisar antara 2.194−3.172 %/hari. Rerata laju pertumbuhan tertinggi pada perlakuan kombinasi probiotik 6 ml/kg dan penggunaan kijing dengan
kepadatan 200 kijing/m2. Laju
pertumbuhan ikan lele sangkuriang pada masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 4.1.
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
Gambar 4.1. Grafik Laju Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang Hasil analisis ragam menunjukkan
bahwa perlakuan pemberian probiotik dengan konsentrasi 2 ml/kg, 4 ml/kg dan 6 ml/kg dalam pakan ikan dan penggunaan kijing (Pilsbryoconcha exilis) dalam sistem biofilter dengan kepadatan 50 kijing/m2, 100 kijing/m2, dan 200 kijing/m2 memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P < 0.05) terhadap laju pertumbuhan ikan lele sangkuriang dalam
sistem aquaponik. namun pengaruh
interaksi kedua perlakuan tidak berbeda nyata (P > 0,05).
Penambahan kijing dalam komponen biofilter pada kepadatan 100 kijing/m2 dan 200 kijing/m2 tidak berbeda nyata pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan lele, sehingga penambahan kijing hanya efektif pada kepadatan 100 kijing/m2. Hal ini menunjukkan bahwa suspensi organik yang berasal dari limbah budidaya ikan lele tidak cukup banyak, sehingga kontribusi kijing terhadap produktivitas total sistem aquaponik tidak terlalu besar. Berbeda dengan kontribusi komponen sayuran dalam biofilter yang telah diteliti dalam penelitian sebelumnya (Nggaluama, 2014). Sehingga penggunaan kijing perlu
dipertimbangkan kembali mengingat
penambahan komponen ini juga
menambahkan biaya konstruksi dalam sistem aquaponik.
Probiotik yang dicampurkan dalam
pakan ikan memudahkan proses
penyerapan nutrisi pakan dalam saluran
pencernaan dan lambung ikan, sehingga pakan yang diberikan lebih efisien dalam memacu pertumbuhan ikan lele. Bakteri probiotik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Saccharomyces cerevisiae,
Lactobacillus acidophilus, Bacillus subtillis, Aspergillus oryzae, Rhodopseudomonas, Actinomyces dan Nitrobacter. Bakteri
probiotik seperti Bacillus sp. dapat meningkatkan kecernaan pakan dengan menghasilkan enzim protease dalam saluran pencernaan ikan (Wardika et al., 2014). Selain itu kehadiran bakteri
probiotik berperan juga dalam
meningkatkan kesehatan ikan, karena keberadaan bakteri probiotik dapat menekan populasi bakteri patogen (Cruz et al., 2012).
Sebagian bakteri probiotik seperti
Nitrobacter yang masuk ke media budidaya juga berperan dalam proses perombakan bahan organik. Bakteri ini
berperan sebagai pengurai yang
merombak merombak buangan metabolit dan sisa pakan dalam media budidaya, ke dalam bentuk nitrat (NO3-) yang dapat dimanfaatkan sayuran dalam komponen biofilter. (Tyson et al, 2004). Dengan demikian buangan metabolit dan sisa pakan dapat dimanfaatkan secara efektif
untuk pertumbuhan sayuran dalam
biofilter, sementara aktivitas sayuran sendiri dapat meningkat konsentrasi oksigen terlarut di air. Rakocy (2006)
mengemukakan bahwa sayuran
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
membutuhkan nitrat dan fosfat untuk pertumbuhannya.
Peningkatan efektivitas sistem
aquaponik akan mendukung kualitas air yang digunakan sebagai media budidaya tetap terjaga sesuai dengan kebutuhan
ikan lele yang dibudidayakan.
Penghematan penggunaan air dalam sistem aquaponik ini sangat sesuai dengan kondisi lahan kering kepulauan yang memiliki persediaan air tawar terbatas. Sehingga pengembangan dan peningkatan sistem aquaponik diharapkan
dapat menjadi alternatif dalam
pengembangan budidaya ikan air tawar di daerah lahan kering kepulauan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Pemberian probiotik dalam pakan ikan dan penggunaan kijing (Pilsbryoconcha
exilis) dalam sistem biofilter dapat meningkatkan laju pertumbuhan ikan lele sangkuriang dalam sistem aquaponik, namun interaksi dari kedua perlakuan ini tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan lele sangkuriang.
Kombinasi pemberian probiotik
dengan konsentrasi 6 ml/kg dan
penggunaan kijing dalam sistem biofilter
dengan kepadatan 200 kijing/m2
menghasilkan laju pertumbuhan ikan lele
sangkuriang tertinggi, sehingga
direkomendasikan untuk penerapan
sistem aquaponik. 4.2 Saran
Kajian tentang sistem aquaponik perlu dilanjutkan dengan eksplorasi sistem ini untuk membudidayakan biota-biota budidaya bernilai ekonomis tinggi seperti lobster air tawar, ikan sidat dan spesies-spesies ikan hias air tawar. Penerapan sistem aquaponik direkomendasikan dapat diterapkan untuk pengembangan budidaya
ikan air tawar di daerah lahan kering kepulauan.
DAFTAR PUSTAKA
Chalmers, G. A. 2004. Aquaponics and Food Safety. University of Alberta, Lethbridge, 114 p.
Cruz, P. M., A.L. Ibanez, O.A.M
Hermosillo and H.C.R. Saad. 2012. Use of Probiotic in Aquaculture. ISRN
Microbiology, doi: 10.
5402/2012/1916845
Nggaluama A, 2014. Pertumbuhan dan Produksi Biomassa Ikan Lele (Clarias sp) dan sayur kangkung (Ipomoea
reptans poir) dan Sayur Sawi (Brassica chapa sinensis) Dengan System Aquaponik yang Dilengkapi Dengan dan Tanpa Sedimentasi Berputar. Skripsi. Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana, Kupang. 85p.
Rakocy JE, Master MP, Losordo TM. 2006.
Recirculating Aquaculture Tank
Produktion Systems; Aquaponiks–
Integration fish and Plant culture. SRAC Publication No.454:16 P.
Tyson RV, Simonne EH, White JM, Lamb EM. 2004. Reconciling water quality parameters impacting nitrification in
aquaponics: The pH levels.
Proceeding Florida State Horticulture Society, 117: 79-83.
Wardika, A. S., Suminto, Agung S. 2014. Pengaruh Bakteri Probiotik pada Pakan Ikan Dengan Dosis Berbeda
terhadap Efisiensi Pemanfaatan
Pakan, Pertumbuhan dan Kelulusan
Hidup Lele Dumbo (Clarias
gariepinus). Jurnal of Aquaculture Management and Technology.3; 9-17
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)