Yohana Charolina Lily 1 , Evi Husain 2 dan Sunadji 3
2. Indeks Kondisi Tiram
3.3 Sebaran Indeks Kondiai Tiram (Crassostrea cucullata)
menerus. Selain itu, menurut Roy dkk., (2003) dan Fenberg dan Roy (2008),
bahwa sekurang-kurangnya ada tiga
alasan yang membuat mengapa hingga species tiram yang sedang mengalami
eksploitasi cenderung mengalami
penurunan ukuran tubuh. Tiga alasan tersebut diantaranya adalah, pada kondisi
dimana tidak terdapat tindakan
konservasi, maka para penangkap tiram awalnya akan menangkap individu yang berukuran besar terlebih dahulu karena individu semacam ini memiliki kandungan daging yang lebih banyak, serta harga yang lebih mahal jika dijual. Akibatnya, individu-individu yang berukuran besar terus berkurang di dalam populasi dan tertinggal individu-individu yang lebih kecil (Roy dkk., 2003).
Berdasarkan penjelasan di atas dan jika dihubungkan dengan lama riwayat eksploitasi sumberdaya tiram (Crassostrea
cucullata) di Desa Tanah Merah, yang
sudah berlangsung dari tahun 90an hingga saat ini dan ditambah lagi dengan tidak adanya upaya konservasi dari instansi terkait terhadap sumberdaya ini, maka sedikitnya ukuran individu tiram yang bercangkang besar di Desa Tanah Merah merupakan indikasi dari kedua faktor ini. Pernyataan ini juga diperkuat oleh fakta-fakta yang menemukan bahwa ukuran minimum tiram (26-28 mm) yang diperoleh untuk diperjualbelikan di pasar sepanjang Jalan Timor Raya masih lebih besar daripada ukuran minimum tiram (Crassostrea cucullata) yang dapat ditemukan selama pengambilan sampel. Hal ini memperlihatkan bahwa para pengumpul cenderung tidak memasukkan tiram yang berukuran terlalu kecil (< 25 mm) untuk diperjualbelikan. Meskipun demikian, tidak ada data tentang apakah para pengumpul sungguh tidak mengambil
tiram yang berukuran kecil untuk
keperluan konsumsi keluarga. Jika ternyata para pengumpul mengambil tiram
dari ukuran apa saja, maka dapat
dikatakan bahwa tiram di lokasi
mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan lokasi dimana pencari tiram meninggalkan individu yang tidak diterima oleh pasar.
Selanjutnya, Fenberg dan Roy (2008) juga mengemukakan alasan lainnya terkait semakin sedikitnya jumlah ukuran panjang cangkang yang besar di suatu lokasi tertentu, yaitu alasan genetis, yang menyebabkan penurunan ukuran tubuh
akibat penangkapan selektif yang
menyasar hanya individu berukuran besar. Menurut mereka, ada kemungkinan ketika para penangkap menyasar individu yang berukuran besar (cangkang lebih panjang
dan daging lebih banyak atau indeks kondisi lebih tinggi), secara tidak
langsung para eksploiter tersebut sedang menarget individu-Individu yang fenotifnya berukuran besar dan mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan anggota populasi lainnya. Ketika individu-individu yang lebih
unggul tersebut ditangkapi secara selektif, maka di dalam populasi akan
tertinggal individu-individu yang secara genetis pertumbuhannya lambat dan
ukurannya kecil. Dengan semakin
sedikitnya populasi individu yang unggul,
maka rekruitmen populasi akan
dikendalikan oleh individu-individu yang inferior. Akibatnya, populasi tiram saat ini akan didominasi oleh individu yang kecil
sehingga terjadi penurunan ukuran
panjang cangkang. Sejauh mana
pengaruh penangkapan selektif tersebut terhadap terjadinya penurunan ukuran panjang cangkang tiram (Crassotrea
cucullata) di Desa Tanah Merah ini
membutuhkan penelitian atau pengamatan filogenetis lebih lanjut.
3.3 Sebaran Indeks Kondiai Tiram (Crassostrea cucullata)
Sebaran ukuran indeks kondisi tiram (Crassostrea cucullata) yang berasal dari daerah intertidal Desa Tanah Merah
berdasarkan hasil pengukuran dan
pengamatan dari berbagai kelas tertentu dapat dirincikan melalui tabel berikut.
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
Tabel 12.3. Sebaran indeks kondisi tiram (Crassostrea cucullata) No Kelas Indeks Kondisi
(g/ml) Frekuensi (Ind) Persentase (%) 1 3 - 5 4 3.20 2 6 - 8 5 4.00 3 9 - 11 21 16.80 4 12 - 14 53 42.40 5 15 - 17 29 23.20 6 18 - 20 6 4.80 7 21 - 23 3 2.40 8 24 - 26 2 1.60 9 27 - 29 1 0.80 10 > 29 1 0.80 Jumlah 125 100
Sebaran panjang cangkang tiram (Crassostrea cucullata) berdasarkan rincian table di atas, jika dilihat dari ukuran
panjang cangkang minim sampai
maksimum adalah sebesar 3-> 29 g/ml. Selain itu, jika dilihat dari ukuran kelas indeks kondisi tertentu menunjukkan
bahwa untuk kelas kelas indeks kondisi 3-5 g/ml adalah sebanyak 4 individu
dengan persentase sebesar 3,20 %, kelas 6-8 g/ml adalah sebanyak 5 individu, dengan persentase sebesar 4,00 %, kelas 9-11 g/ml sebanyak 21 individu, dengan persentase sebesar 16,80 %, kelas 12-14 g/ml sebanyak 53 individu, dengan persentase sebesar 42,40 %, kelas 38-40
mm sebanyak 18 individu, dengan
persentase sebesar 14,40 %, kelas 15-17 g/ml sebanyak 29 individu, dengan
persentase sebesar 23,20 %, kelas 18-20
g/ml sebanyak 6 individu, dengan
persentase sebesar 4,80 %, kelas 21-23 sebanyak 3 individu, dengan persentase sebesar 2,40 %, kelas 24-26 g/ml sebanyak 1 individu, dengan persentase sebesar 0,80 % dan kelas > 29 sebanyak 1 individu, dengan persentase sebesar 0,80 %.
Nilai-nilai sebaran indeks kondisi tiram (Crassostrea cucullata) tersebut di atas, menunjukkan adanya variasi tinggi dan rendah jumlah individu dari masing-masing kelas indeks kondisi, dimana variasi dari tinggi dan rendah jumlah individu dari masing kelas indeks kondisi tiram (Crassotrea cucullata) tersebut, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 12.3. Sebaran Indeks Kondisi Tiram (Crassotrea
cucullata) di Perairan Intertidal Desa Tanah Merah
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
Grafik di atas menjelaskan bahwa sebaran indeks kondisi tiram tertinggi sampai terendah secara berurutan adalah kelas indeks kondisi (> 29 dan 27-29 g/ml) < (24-26 g/ml) < (21-23 g/ml) < (3-5 g/ml) < (6-8 g/ml) < (18-20 g/ml) < (9-11 g/ml) < (15-17 g/ml) < (12-14 g/ml). Dengan melihat jumlah sebaran-sebaran ukuran indeks kondisi dari individu tiram (Crassostrea cucullata) ini, maka dapat diketahui bahwa jumlah sebaran indeks kondisi tiram tertinggi dari individu-individu tiram di Desa Tanah Merah adalah terdapat pada kelas indeks kondisi 12-15 g/ml dan terendah terdapat pada kelas panjang 17-29 dan >29 g/ml.
Gimin (2005), menjelaskan bahwa indeks kondisi merupakan suatu ukuran yang penting dalam menaksir status nutrisi pada kekerangan (bivalvia) tiran dalam
arti berapa banyak makanan yang
tersedia dan bagaimana bivalvia
memanfaatkannya. Indeks ini dapat digunakan untuk memantau dan mengikuti
perubahan cadangan energi yang
merupakan refleksi dari kondisi yang dialami bivalvia termasuk tiram di lingkungannya.
Ada berbagai faktor yang
mempengaruhi nilai indeks kondisi yaitu ketersediaan makanan di alam, faktor kualitas air, stress, terjadinya penyakit, masa reproduksi, jenis kelamin, dan sebagainya. Ketersediaan makanan dan reproduksi akan mempengaruhi indeks kondisi pada berbagai species bivalvia termasuk tiram. Sebagai organisme sessile yang tergantung sepenuhnya pada pakan yang terbawa air, jika tersedia cukup makanan di alam, yang erat kaitannya dengan kondisi perairan, bivalvia akan memperoleh cukup energi
untuk melakukan berbagai proses
metabolisme dan pertumbuhan dan masih ada energi untuk dicadangkan. Keadaan ini membuat nilai kondisi meningkat. Sebaliknya, jika makanan berkurang karena suatu hal, misalnya perubahan cuaca atau kualitas air, maka bivalvia seperti tiram mungkin tidak memperoleh cukup energi dari luar sehingga harus memanfaatkan cadangan energi yang tersimpan di berbagai jaringan tubuh. Akibatnya, nilai kondisi akan menurun. Faktor lain adalah merebaknya penyakit
atau yang membuat bivalvia tidak efisien dalam mengatur budget energinya dan mengalami defisit yang berimbas pada penurunan indeks kondisi. Demikian pula, stress yang berkaitan dengan perubahan kualitas air yang ekstrim atau terjadinya polusi, seringkali membuat
bivalvia mengurangi aktivitas pengambilan
makanannya sehingga menurunkan
kondisi tubuhnya, meskipun makanan tersedia melimpah di alam (Gimin, 2005). Penjelasan-penjalasan di atas jika dikaitkan dengan kondisi lingkungan perairan yang menjadi habitat tiram (Crassostrea cucullata) dalam hal ini di Desa Tanah Merah, dimana menurut pengakuan masyarakat setempat bahwa daerah ini selain dijadikan sebagai daerah untuk mencari tiram, namun juga dapat dijadikan sebagai daerah untuk mencari biota-biota lain seperti kepiting, udang dan juga kerang darah. Selain itu, menurut
masyarakat setempat juga bahwa
masyarakat dalam memeproleh kayu bakar, membangun rumah dan juga
melabuhkan kapal-kapal di sekitar
areal ini, seringkali melakukan
penenbangan terhadap sebagain pohon-pohon mangrove yang ada sehingga mengakibatkan banyak areal-areal hutan mangrove yang kosong. Hal yang lain juga disampaikan oleh masyarakat setempat bahwa ada berbagai kalangan masyarakat tertentu yang dalam melakukan proses penangkapan udang di areal mangrove
sebagai habitat tiram, seringkali
menggunakan racun berupa potas dan ada juga yang menggunakan solar oil yang dibuang ke perairan sehingga membuat udang stress dan kemudian
udang-udang tersebut mudah untuk
ditangkap. Kondisi ini sama halnya juga dengan adanya areal yang dijadikan oleh para nelayan setempat sebagai areal labuh kapal nelayan, sehingga member kontribusi negative pada terjadinya penumpahan minyak ke perairan intertidal tersebut.
Adanya pernyataan-pernyataan dari masyarakat tersebut di atas seperti penebangan mangrove untuk keperluan kayu bakar dan juga kebutuhan tiang rumah serta membuka areal labuh kapal nelayan, maka dapat memberi efek pada stresnya tiram-tiram yang ada dilokasi
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
tersebut akibat kepanasan karna tiram merupakan salah satu organisme yang tidak tahan terhadap kondisi lingkungan yang sangat panas, sehingga member akibat pada tiram-tiram untuk mengurangi aktivitas pengambilan makanannya yang kemudian memeberi efek negatif pada lambatnya pertumbuhan dan kemudian berimbas pada rendahnya indeks kondisi tiram tersebut. Sealnjutnya pernyataan masyarakat terkait aktivitas labuh kapal nelayan yang memberikan kontribusi pada penumpahan minyak ke perairan dan juga
proses penangkapan udang dengan
mnggunakan potassium dan solar oil yang
dibuang ke perairan, maka akan
mengakibatkan terjadinya penurunan
kualitas lingkungan perairan. Dimana, dengan masuknya cairan minyak dan bahan potassium tersebut ke dalam air,
maka melalui aktivitas arus dan
gelombang, cairan-cairan minyak dan potassium tersebut akan terakumulasi ke dalam substrat sehingga mengakibatkan kandungan nutrient pada substrat dan juga perairan yang dijadikan sebagai
unsur hara bagi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup fitoplankton sebagai bahan makanan tiram semakin berkurang yang kemudian mengakibatkan terjadinya
kekurangan makanan bagi tiram. Dengan adanya kekurangan makanan
tersebut, maka tiram-tiram yang ada
akan mengalami stress dan juga
pertumbuhannya terhambat dan berimbas pada rendahnya ukuran indeks kondisi tiram yang ada sebagaimana yang ditemukan dalam kajian ini. Akan tetapi, informasi-informasi terkait penggunaan potassium dan juga pembuangan solar oil ke dalam perairan ini, hanya berdasarkan pernyataan masyarakat, sehingga untuk mengetahui lebih jelas terkait kualitas lingkungan perairan dan juga ketersedian makanan bagi tiram di lokasi ini, perlu adanya penelitian lebih lanjut.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari hasil dan
pembahasan di atas maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Sebaran morfologi tiram (Crassostrea
cucullata) yang dilihat dari ukuran
panjang dan indeks kondisi
menunjukkan adanya variasi tinggi dan rendah.
2. Sebaran ukuran panjang dan indeks kondisi tiram tersebut tidak dapat diandalkan untuk dijadikan sebagai induk dalam menunjang rekruitmen induk baru, karena ukuran panjang dan indeks kondisi tiram di daerah ini lebih banyak di dominasi oleh
ukuran-ukuran yang kecil dibandingkan
dengan ukuran yang besar.
3. Rendahnya ukuran panjang dan
indeks kondisi tiram ini diakibatkan
oleh lamanya riwayat eksploitasi dan juga adanya aktivitas-aktivitas
masyarakat yang memberi efek negatif pada terjadinya degradasi lingkungan sebagai habitat tiram di lokasi ini. 4.2 Saran
Sumbangan saran yang diberikan
hasil yang dicapai dalam tulisan ini adalah :
1. Perlu adanya pembatasan ukuran dan jumlah tangkapan tiram (Crassotrea
cucullata) dan juga perlu adanya
perlindungan terhadap tiram yang berukuran besar yang masih tersisa di Desa Tanah Merah saat ini, karena mempunyai potensi sebagai induk
dalam menghasilkan rekruitmen
individu baru demi menunjang
keberlanjutan sumberdaya tiram
kedepannya.
2. Perlu adanya upaya pengelolaan yang jelas dari pihak pemerintah atau instansi terkait dengan melakukan berbagai kegiatan tertentu seperti
sosialisasi akan pentingnnya
sumberdaya tiram dan juga ekosistem
mangrove sebagai penyedia
sumberdaya pesisir. Selain itu juga perlu adanya penanaman mangrove kembali dan perlu juga diterapkan aturan atau efek jerah seperti pendendaan bagi para pelaku yang
melakukan penebangan mangrove
untuk keperluan tertentu, mengingat kondisi hutan mangrove yang ada di lokasi tersebut sekarang ini sebagian
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
besarnya telah mengalami degradasi tertentu.
3. Perlu diterapkan upaya restocking melalui teknologi budidaya dengan memanfaatkan induk-induk tiram yang masih tersisa saat ini guna menunjang keberlanjutan sumberdaya tiram di masa yang akan datang dan juga untuk menggantikan populasi-populasi tiram yang telah tereksploitasi.
DAFTAR PUSTAKA
Al Ayubi, A. 2013. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan
dan Kelulushidupan Tiram
(Crassotrea cucullata) dengan
Menggunakan Metode Longline di Perairan Intertidal Desa Tanah Merah
Kecamatan Kupang Tengah
Kabupaten Kupang. Prosiding
Seminar Nasional Kelautan dan
Perikanan. Fakultas Kelautan dan Perikanan. Undana. Kupang.
Bardach JE, Ryther JH, Ryther, WO McLarney, 1972. Aquaculture: The
Farming and Husbandri of Freshwater and Marine Organisms. Willey Interscience, New York. 674-742p.
[FAO] Fisheries and Aquaculture
Organization. 2009. Potensi
Kekerangan di Indonesia. [terhubung
berkala]. http://www.fao.org. Diaskes pada Tanggal 21 April 2016. Pukul 20.00.
Fenberg, Roy. 2008. Ecological and Evolutionary Consequences Of Size Selective Harvesting: How much do we know?. Molecular Ecology, 17: 209-220p.
Gimin, R. 2005. Reproduction and
Conditioning of the Marine Clam Polimesoda (geloina) erosa (Bivalvia : colicolidae) (Solande, 1786). Ph.D Thesis School Of Science And Primary Industries, Faculty Of Education, Health and Science, Charles Darwin Univercity, 213 P. . 2006. Parameter Reproduksi : Condition index dan gonad index pada kerang darah Anadara granosa. Petunjuk praktek program Study
Budidaya Perairan, Jurusan
Perikanan UNV. Nusa Cendana 12 p.
Idris, I. B. 2006. Pengaruh faktor - faktor
Persekitaran terhadap Pertumbuhan dan Kemandirian Tiram Komersil, Crassostrea iredalei (Faustino) di Kawasan Peternakan Tiram di KG Telaga Nenas, Perak. Penerbit Buku
Ilmiah Populer. 296p.
Jones AB, Preston NP. 1999. Sydney Rock Oyster, saccostre commercialis (Iredale & Roughly), Filtration Of Shrimp Farm Effluent: The effects on Water Quality. Aquaculture Research
Journal. 30 : 51-57p.
Kastoro WW. 1992. Beberapa Aspek Biologi dan Ekologi Dari Jenis-Jenis
Moluska Laut Komersial Yang
Diperlukan untuk Menunjang Usaha Budidayanya. Prosiding Temu Karya
Ilmiah Potensi Sumbedaya
Kekerangan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai Maros. 68-79p.
Manu, K. P. 2012. Perangsangna
Pemijahan Tiram (Crassotrea
cucullata) dengan menggunakan Teknik Kejut Salinitas Pada Wadah Terkontrol. Skripsi. Jurusan Perikanan dan Kelautan. Fakultas Pertanian. Undana. Kupang.
Mimak, F. 2013. Pengaruh Taraf Inundasi
Terhadap Pertumbuhan dan
Kelulushidupan Tiram (Crassostrea
cucullata) yang Dibudidayakan Menggunakan Metode Lepas Dasar Di Perairan Pantai Desa Oebelo
Kecamatan Kupang Tengah
Kabupaten Kupang. Skripsi. Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana. Kupang.
Pombo, O. A., Escofet, A. 1996. Effects of exploitation on limpet Lottia gigantea: A field study in Baja California (Mexico) and California (U.S.A).
Pacific Science Journal. 50(4):
393-403p.
Quayle, D. B., Newkirk, G. F. 1989.
Farming bivalve Moluska. Methods for study and Development. Canada.
World Aquaculture Society and
International Development Research center,.109-121p.
Rangka, N. A., Ratnawati, E. 1992. Pola Produksi dan Pemasaran Tiram Di Sulawesi Selatan. Balai Penelitian
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)
Perikanan Budidaya Pantai Maros. Prosiding Temu Karya Ilmiah Potensi Sumberdaya Kekerangan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. 109-121p.
Roy, K., Collin, A. G., Becker, B. J., Begovic, E., Engle, J. M. 2003. Anthropogenic Impacts and Historical Decline in Body Size of Rocky Intertidal Gastropods in Southern California. Ecology Letters. 6: 205-211p.
Santoso P. 2004. Studi Bebrapa Aspek Ekologi Tiram (Crassostrea sp) di Perairan Pantai Oebelo Kabupaten Kupang, NTT. Jurnal Penelitian Perikanan Vol. 7 No.1 edisi Juni
2004.ISSN NO. 0854-3658. Fakultas Perikanan Universitas Braawijaya. 24-29p.
Suharyoto. 1992. Rangkuman hasil
Penelitian Tiram Crassostrea sp. Di Sulawesi Selatan. Prosiding Temu Karya Ilmiah Potensi Sumberdaya
Kekerangan Sulawesi Tenggara.
Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai Maros. 89-93p.
Suharyanto, Hanafi A. 1996. “Pendugaan Musim Benih Tiram, Crassostrea Sp.
di Teluk Mallasoro, Kabupaten
Jeneoponto, Sulawesi Selatan. Jurnal
Penelitian Budidaya Pantai. 8 (1):
1-12p.
Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV
Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)