• Tidak ada hasil yang ditemukan

kimia air dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Data tentang kelangsungan hidup (KH), pertumbuhan bobot mutlak (BM), panjang mutlak (PM), rasio RNA/DNA,

gradien osmotik (GO) dan tingkat

konsumsi oksigen pada metabolisme standar (TKO) ditampilkan pada Tabel 6.1, sedangkan parameter fisika kimia air yaitu suhu, pH, oksigen terlarut, NH3, NO2, kesadahan dan alkalinitas ditampilkan pada Tabel 6.2.

Tabel 6.1. Performa glass eel pada salinitas optimum dengan penambahan kalsium

Parameter Perlakuan (mg/L) A3 (20) B3 (40) C3 (60) D3 (80) KH (%) 94,56±0,40a 97,21±1,06b 98,19±0,32b 98,20±0,70b BM (g) 0,12±0,01a 0,25±0,02d 0,20±0,06c 0,15±0,01b PM (cm) 1,92±0,07a 2,71±0,03c 2,16±0,07b 2,01±0,04a KKbobot (%) 30,63±0,33c 14,89±1,46a 17,59±0,88b 31,51±0,59c KKpjg (%) 10,91±0,67b 9,17±0,84a 10,75±0,31ab 10,78±0,67ab

TKO (mgO2/jam/g) 0,030±0,005b 0,008±0,002a 0,013±0,013a 0,024±0,024b

Analisis statistik menunjukkan bahwa kinerja produksi berupa kelangsungan hidup dan respons pertumbuhan berbeda nyata (P<0,05) antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan 40 mg/L CaCO3 dalam air bersalinitas 8 g/L memberikan kondisi paling nyaman bagi glass eel untuk hidup dan bertumbuh sehingga lebih sedikit

penggunaan energi untuk aktivitas

metabolisme. Hal ini ditunjukkan oleh nilai gradien osmotik dan tingkat konsumsi

oksigen yang rendah dibandingkan

dengan perlakuan lainnya. Pola kinerja

pertumbuhan glass eel disajikan pada Gambar 6.1. Zaidy et al (2008) dan

Hadie et al (2009) menyatakan bahwa penambahan berbagai sumber kalsium

seperti Ca(OH)2, CaO dan CaCO3

pada media maupun pakan dapat

meningkatkan pertumbuhan udang galah

Macrobranchium rosenbergii de Man, ikan

patin Pangasius hypopthalmus (Hastuti et

al. 2012) dan ikan sidat Anguilla bicolor

bicolor pada stadia elver (Scabra

et al. 2016).

Gambar 6.1. (a)Laju pertumbuhan harian bobot (LPB), (b) laju pertumbuhan harian panjang (LPP) dan (c) rasio RNA/DNA glass eel pada akhir pemeliharaan 0.98 0.99 1.00 1.01 1.02 1.03 1.04 1.05 20 40 60 80 L P B (% /hari ) Perlakuan (mg/L) 0.965 0.97 0.975 0.98 0.985 0.99 20 40 60 80 L P P ( % /hari ) Perlakuan (mg/L) 0.000 0.500 1.000 1.500 20 40 60 80 Ras io RN A /DNA (µg/m L) Perlakuan (mg/L) (a) (b) (c)

46

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

Gambar 6.1 menunjukkan bahwa laju pertambahan bobot, panjang dan rasio RNA/DNA glass eel selama pemeliharaan

terbaik pada penambahan CaCO3

sebanyak 40 mg/L atau setara dengan 16 mg Ca/L pada media bersalinitas 8 g/L. Hal ini disebabkan karena tersedianya kondisi isoosmotik bagi benih ikan sidat A

bicolor bicolor, optimalnya kondisi salinitas

dan kalsium dalam media budidaya dapat menjaga keseimbangan tekanan osmotik antara tubuh ikan dengan lingkungannya sehingga metabolisme tubuh berjalan dengan baik sehingga meningkatkan pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan O’Neill et al. (2011); Perez-Robles et al. (2012), Cairns et al. (2008) dan Fazio et

al. (2013) yang menyatakan bahwa

salinitas merupakan salah satu faktor penentu pertumbuhan ikan. Peningkatan

rasio RNA/DNA disebabkan karena

adanya penambahan jumlah dan ukuran sel pada stadia glass eel. Sesuai dengan Kawakami et al. (1999) dalam Briand et al. (2005) yang menyatakan bahwa sidat terus bermetamorfosis dan mengalami pigmentasi serta perkembangan otot dan tulang. Selanjutnya dijelaskan bahwa pada stadia glass eel sudah mulai terbentuk beberapa struktur organ seperti usus, kulit,

insang dan ginjal (Hulet et al. 1989 dalam Briand et al. 2005). Semakin kecil penambahan rasio RNA/DNA

menunjukkan semakin lambat terjadi

pigmentasi, pembentukan organ,

perkembangan otot dan tulang. Apabila

pigmentasi dan pembentukan organ telah sempurna maka energi akan digunakan untuk pertumbuhan bobot dan panjang tubuh.

Penggunaan energi berhubungan

dengan pertumbuhan. Semakin besar energi yang digunakan untuk metabolisme

tubuh, maka semakin sedikit energi

yang tersimpan untuk pertumbuhan.

Meningkatnya penggunaan energi

disebabkan oleh kondisi stres terhadap perubahan lingkungan. Oleh karena itu perlu disediakan lingkungan budidaya yang nyaman bagi glass eel untuk hidup dan bertumbuh. Menurut Nordlie, (2009); O’Neill et al. (2011); Perez-Robles et al. (2012) dan Fazio et al. (2013) salinitas merupakan salah satu faktor penentu pertumbuhan ikan. Selanjutnya Cairns et

al. (2009) menyatakan bahwa sidat

Anguilla pada daerah beriklim sedang yang dibesarkan di air tawar memiliki

pertumbuhan yang lambat. Sutrisno

(2008) menyatakan bahwa salinitas 5 mg/L merupakan salinitas terbaik bagi benih Anguilla bicolor, Kearney et al. (2008) menyatakan bahwa salinitas 17,5 ppt memberikan kelangsungan hidup tertinggi pada glass eel A. australis dan A.

dieffenbachia, sedangkan Affandi et al.

(1995) menyatakan bahwa kisaran

salinitas 0-7 ppt yang baik bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih sidat (glass eel dan elver).

Gambar 6.2 Kadar glukosa darah glass eel selama 30 hari pemeliharaan 0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00 20 40 60 80 G luko sa ( mg /dL ) Perlakuan (mg/L)

hari ke-0 hari ke-30

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

Gambar 6.2 menunjukkan bahwa selama pemeliharaan terjadi penurunan stres pada perlakuan B3 dan C3 (Tabel

6.1). Hal ini menunjukkan bahwa

penambahan 40 dan 60 mg/L CaCO3

dalam media bersalinitas 8 merupakan

kondisi yang nyaman bagi glass eel sehingga dapat mengurangi respons stres. Parameter fisika kimia air berupa suhu, pH, DO, alkalinitas, NH3 dan (NO2) disajikan pada Tabel 6.2.

Tabel 6.2. Parameter fisika kimia air selama pemeliharaan

Parameter Perlakuan Kelayakan

A3 (20) B3 (40) C3 (60) D3 (80) Suhu (ºC) 28,17-31,63 28,10-31,47 28,17-31,77 28,10-31,70 23-32 (Ritonga,2014) pH 6,56-7,56 6,71-7,66 6,79-7,75 7,06-7,91 >3 (Heriati,2005) DO (mg/L) 5,87-6,67 6,10-6,67 5,93-6,57 6,03-6,57 6-8 (Ritonga,2014) Alkalinitas (mg/L CaCO3) 34,35-45,80 45,80-57,25 57,25-68,70 68,70-80,15 50-300 (Heriati,2005) NH3 (mg/) 0,001-0,002 0,001-0,005 0,002-0,010 0,002-0,010 <0,01 (Wahyudi el al. 2015) NO2 (mg/L) 0,162-0,240 0,088-0,315 0,273-0,322 0,184-0,451 <0,5 (Knosche 1994)

Parameter fisika kimia air selama penelitian masih berada dalam batas toleransi bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan glass eel A bicolor bicolor. Walaupun demikian, terjadi peningkatan

nilai pH dan alkalinitas dengan

meningkatnya penambahan kadar CaCO3 ke dalam media budidaya.

IV. SIMPULAN

1. Salinitas optimal bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan glass eel A

bicolor bicolor yaitu pada media

bersalinitas 8,3 g/L.

2. Kisaran kadar kalsium optimum untuk pendederan glass eel A.bicolor bicolor adalah 46,6 – 60,0 mg/L CaCO3 setara dengan 18,64 – 24,00 mg Ca2+/L. 3. Kondisi salinitas dan kalsium optimum

bagi peningkatan kinerja produksi pada pendederan glass eel A bicolor

bicolor adalah pada salinitas 8 g/L dan

kalsium 16 mg/L setara 40 mg/L CaCO3.

UCAPAN TERIMAKASIH

DRPM Ditjen Penguatan Risbang atas bantuan dana penelitian berupa hibah disertasi doktor tahun 2017.

DAFTAR PUSTAKA

Acou A, Lefebre F, Contournet P, Poizat G, Panfili J,Crivelli AJ. 2003. Silvering of Female Eels (Anguilla anguilla) in two sub-populations of the Rhoˆne delta. Bulletin France Peˆche Piscic.

368: 55–68.

Affandi R, Riani. 1995. Pengaruh salinitas terhadap derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan sidat (elver), Anguilla. bicolor bicolor. Jurnal

Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan. 3:

39-48.

Aida K, Katsumi T, Kohei Y (eds.). 2003.

Eel Biology. Springer. Tokyo. 497p.

Briand C, Fatin D, Ciccotti E, Lambers P.2005. A Stage-structured Model to Predict the Effect of Temperature and Salinity on Glass Eel Anguilla Anguilla Pigmentation Development. Journal of

Fish Biology. 67: 993-1009.

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

Cairns D, Tremblay V, Caron F,

Casselman J, Verreault G, Jessop B, de Lafontaine Y, Bradford R, Verdon R, Dumont P, Mailhot Y, Zhu J, Mathers A, Oliveira K, Benhalima K, Dietrich J, Hallett J, Lagace M. 2008. American eel abundance indicators in Canada. Canadian Data Report of Fisheries and Aquatic Sciences No. 1207. 78.

Cheng WC, Liu H, Kuo CM. 2003. Effect of dissolved oxygen on hemolymph parameters of freshwater giant prawn Marcobrachium rosenbergii de Man.

Journal Aquaculture. 220: 843- 856

Chow S, Kurogi, Katayama H. 2010. Japanese eel Anguilla japonica do not assimilate nutrition during the oceanic spawning migration: evidence from stable isotope analysis. Marine Ecology Progress Series 402: 233– 238.

Clevestam PD, Ogonowski M, Sjcoberg NB, Wickstrcom H. 2011. Too short to spawn? Implications of small body size and swimming distance on successful migration and maturation of the European eel Anguilla anguilla. Journal of Fish Biology 78: 1073– 1089.

Durif CMF, Elie P. 2008. Predicting downstream migration of silver eels in a large river catchment based on commercial fishery data. Fisheries Management and Ecology 15: 127– 137.

FAO [Food and Agriculture Organization].

2014. Globefish Research

Programme, Eel Anguilla spp.:

Production and Trade. Rome, Italia: FAO Fishstat Plus.

Fazio F, Marafioti S, Arfuso F, Piccione G, Faggio C. 2013. Influence of different salinity on haematological and biochemical parameters of the widely cultured mullet, Mugil cephalus. Marine and Freshwater Behaviour and Physiology Journal. 46: 211-218.

Fontagné S, Silva N, Bazin D, Ramos A, Aguirre P, Surget A, Abrantes A, Kaushik JS, Power MB. 2009. Effects of dietary phosphorus and calcium

level on growth and skeletal

development in rainbow trout

Oncorhynchus mykiss fry. Journal

Aquaculture. 297: 141–150.

Hadie LE, Hadie W, Prihadi TH. 2009. Efektivitas mineral kalsium terhadap pertumbuhan yuwana udang galah Macrobrachium rosenbergii. Jurnal

Riset Akuakultur. 4: 65-72.

Hastuti YP, Djokosetiyanto D, Permatasari I. 2012. Penambahan Kapur CaO

pada Media Bersalinitas untuk

Pertumbuhan Benih Ikan Patin

Pangasius hypothalmus. Jurnal Akuakultur Indonesia. 11: 168-178.

Herianti I. 2005. Rekayasa lingkungan

untuk memacu perkembangan

ovarium ikan sidat AnguillA. bicolor

bicolor. Jurnal Oseanologi dan Limnologi Indonesia. 37: 25‒41. Kearney M, Jeffs A, Lee P. 2008. Effects

of Salinity and Temperature on the Growth and Survival of New Zealand Shortfin, Anguilla australis, and Longfin A. dieffenbachia, Glass Eel.

Aquaculture Research.

39(16):1769-1777.

KKP [Kementerian Kelautan dan

Perikanan]. 2011. Panduan Budidaya Ikan Sidat. Jakarta, Indonesia: Pusat penyuluhan kelautan dan perikanan, KKP RI.

Knosche R. 1994. An Effentive Biofilter Type for eel Culture in Recirculating Systems. Aquaculture Engineering, 13:71-82.

Liao IC. Eel. 2000. Encyclopedia of Food

Science and Technology (Francis, F.

J.Ed.). 2nd edition. New York: John Wiley and Sons. 1: 584–592.

Nordlie FG. 2009. Environmental

influences on regulation of blood plasma serum components in teleost fish: a review. Review in Fish Biology

and Fisheries. 19: 481-564.

Okamoto T, Kurokawa T, Gen K, Murashita K, Nomura K, Kim SK, Matsubara H, Ohta H, Tanaka H. 2009. Influence of salinity on morphological deformities in cultured larvae of Japanese eel, Anguilla

japonica at completion of yolk resorption. Aquaculture 293: 113–118. Okamura A, Yamada Y, Horita T, Horie N, Mikawa N, Utoh T, Tanaka S, Tsukamoto K. 2009a. Rearing eel

leptocephali Anguilla japonica

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

Temminck & Schlegel in a

planktonreisel. Aquaculture 40: 509– 512.

O’Neill B, De Raedemaecker F, McGranth D, Brophy D. 2011. An experimental investigation of salinity effects on growth, development and condition in the European flounder (Platichthys

flesus. L.). Journal of experimental Marine Biology and Ecology. 410:

39-44.

Perez-Robles J, Re AD, Giffard-Mena I, Diaz F. 2012. Interactive effects of salinity on oxygen consumption ammonium excretion, osmoregulation and Na+/K+-ATPase expression in the

bullseye puffer (Sphoeroides

annulatus, Jenyns 1842).

JournalAquaculture Research. 43: 1372-1383.

Ritonga T. 2014. The response of eel fish seed Anguilla bicolor bicolor to the degree of acidity (pH) [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Scabra AR, Budiardi T, Djokosetiyanto D. 2016. Production performance of Indonesian eel Anguilla bicolor bicolor with the addition of calcium carbonate (CaCO3) in to the culture media. Jurnal Akuakultur Indonesia 15: 1–7.

Sutrisno. 2008. Determination of water salinity and proper type of natural feed in the maintenance of eel seeds

Anguilla bicolor. Jurnal Akuakultur

Indonesia 7: 71–77.

Traffic report. 2015. Tries to pin down

slippery eel trade.

http:traffic.org/home/2015/7/13/traffic- report-tries-to-pin-down-slippery-eel-trade.html

Wahyudi H, Affandi R, Hariyadi S. 2015. Response of eel seedAnguilla bicolor

bicolor to ammonia (NH3) on the maintenance media [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Walsh CT, Pease BC, Booth DJ. 2004. Variation in the sexratio, size and age of longfinned eels within and among coastal catchmentsof south eastern Australia. Journal Fisheries Biology. 64: 1297–1312.

Zaidy AB, Affandi R, Kiranadi B, Praptokardiyo K, Manalu W. 2008.

Pendayagunaan kalsium media

perairan dalam proses ganti kulit dan konsekuensinya bagi pertumbuhan

udang galah Macrobrachium

rosenbergii de Man. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. 15:

117–125.

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

EFIKASI RUTE VAKSIN Aeromonas hydrophila ASB-01