• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lasmi1, Yahyah2dan Cresca. B. Eoh3

1)Alumni Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana

2,3)Staf Pengajar Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana Jl. Adisucipto, Penfui Kupang

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode mutilasi dan injeksi ekstrak bayam terhadap tingkat kelulushidupan, kecepatan moulting, dan pertambahan bobot kepiting bakau dan untuk mengetahui metode yang lebih mampu meningkatkan kelulushidupan, kecepatan moulting, dan pertambahan bobot kepiting bakau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2015. Penelitian ini dilakukan di Unit Pelaksana Teknik Perbenihan Perikanan, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental lapangan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang dipergunakan yaitu A (kepiting yang dipotong kaki jalan dan capit), B (kepiting yang dipotong kaki jalan), C (kepiting yang dipotong sepasang capit), dan D (kepiting yang diinjeksi ekstrak bayam). Hewan uji yang dipergunakan adalah kepiting bakau (Scylla serrata), sebanyak 15 ekor dengan ukuran berat awal 90 g-120 g dan lebar karapas 75 mm-82 mm. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode mutilasi dan injeksi ekstrak bayam terdapat pengaruh nyata terhadap pertumbuhan, baik pertumbuhan bobot, panjang, maupun lebar karapas namun tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kelulushidupan kepiting bakau. Kepiting yang dipotong kaki jalan dan capit memberikan pengaruh pertumbuhan bobot yang lebih tinggi dimana pertumbuhan bobot mutlak yakni, 89,6633 g dan laju pertumbuhan harian spesifik yakni, 2,26 g. Kecepatan moulting terjadi lebih cepat pada perlakuan injeksi ekstrak bayam yaitu kepiting bakau mengalami moulting pada hari ke 12 sebanyak satu individu. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa kepiting bakau lebih banyak mengalami moulting pada sore hari yaitu pada pukul 15.30 sebanyak tiga ekor

Kata Kunci : Kepiting bakau, Mutilasi, Injeksi Ekstrak Bayam ABSTRACT

This research aims to determine the effect of mutilation method and spinach extracts injection to the level of survival, moulting speed, and weight gain mud crab and to find methods that are better able to improve the survival, moulting speed, and weight gain mud crabs. This research was conducted on April to May 2015. The research was conducted at the Technical Implementation Unit Seeding Fisheries, Oesapa West Village, District Kelapa Lima, Kupang, East Nusa Tenggara Province. The method used in this research is an experimental field by using a completely randomized design with 4 treatments and 3 repetitions. The treatment used is A (crab cut road legs and claws), B (crab cut legs road), C (crab cut a pair of tweezers), and D (crab injected extract spinach). Test animals used were mud crab (Scylla serrata), as many as 15 tails with a size of initial weight 90 g-120 g and carapace width of 75 mm-82 mm. The results showed that the method of mutilation and spinach extracts injection are real influence on growth, good growth in weight, length, and width of the carapace, but did not significantly affect survival rate of mud crabs. Cut

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

crab legs and claws way influence weight higher growth where the growth of the absolute weight, 89.6633 g and the specific daily growth rate, of 2.26 g. Moulting occurs faster speed on extracts spinach injection treatment that mud crab moulting experience on day 12 as an individual. The results also showed that the more experienced a mud crab moulting in the afternoon at 15.30 which is as much as three tails.

Keywords: Mud Crab, Mutilation, Extract Spinach Injection PENDAHULUAN

Kepiting merupakan salah satu

komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi. Pada tahun 2000, ekspor kepiting mencapai 12.381 ton dan meningkat menjadi 22.726 ton pada 2007. Namun demikian, kenaikan ekspor ini tidak diimbangi dengan peningkatan populasi kepiting tersebut (Siahainenia, 2008 dalam Harianto, 2012). Kementerian Kelautan

dan Perikanan (KKP) menargetkan

produksi perikanan budidaya pada tahun 2014 sebesar 16,8 juta ton atau meningkat 35% dibandingkan dengan produksi 2009 yaitu sebesar 4,78 juta ton. Guna

meningkatkan produksi perikanan

budidaya pada tahun 2010, KKP

menetapkan sembilan komoditas

unggulan termasuk jenis-jenis kepiting.

Kepiting sendiri masuk ke dalam

komoditas lainnya dalam target produksi KKP dengan target peningkatan sebesar 18% sampai tahun 2014 (KKP, 2010).

Scylla serrata adalah spesies kepiting

bakau yang dominan di Indonesia.

Diperkirakan sekitar 80% dari total pendaratan kepiting bakau adalah dari spesies ini. Perikanan kepiting di Indonesia diharapkan dapat terus tumbuh di masa yang akan datang karena

beberapa alasan, yaitu: adanya

peningkatan permintaan pada komoditas ini yang diindikasikan dengan peningkatan harga di pasar lokal maupun internasional;

sumberdaya perikanan mendukung

spesies ini baik untuk penangkapan dari alam maupun budidaya; pengetahuan dan pengalaman teknik budidaya kepiting semakin berkembang. Kepiting banyak diminati karena daging kepiting tidak saja lezat, tetapi juga menyehatkan. Daging kepiting mengandung nutrisi penting bagi

kesehatan. Meskipun mengandung

kolesterol, makanan ini rendah kandungan lemak jenuh dan merupakan sumber Niacin, Folate, dan Potassium. Selain itu

juga merupakan sumber protein, Vitamin B12, Phosphorous, Zinc, Copper, dan Selenium. Selenium diyakini berperan dalam mencegah kanker dan perusakan kromosom, juga meningkatkan daya tahan terhadap infeksi virus dan bakteri. Fisheries Research and Development Corporation di Australia melaporkan bahwa dalam 100 gram daging kepiting bakau mengandung 22 mg Omega-3 (EPA), 58 mg Omega-3 (DHA), dan 15 mg

Omega-6 (AA) yang penting untuk

pertumbuhan dan kecerdasan anak

(Muskar, 2007 dalam Fujaya, 2008).

Rosmaniar (2008) juga mengatakan

bahwa daging kepiting mengandung

protein 65,72%, lemak 0,83%, abu 7,5%, dan kadar air 9,9%.

Kepiting bakau (Scylla serrata) yang mengalami perkembangan pesat dalam kegiatan penelitian pada dekade terakhir. Salah satu produk ekspor dari kepiting bakau yang telah dikembangkan adalah kepiting cangkang lunak. Keberhasilan pembenihan kepiting dalam beberapa tahun terakhir, diharapkan dapat lebih memacu perkembangan budidaya kepiting cangkang lunak. Saat ini harga kepiting soka di tingkat produsen Rp. 100.000.-/kg, dengan jumlah 10 ekor/kg (Fujaya, 2009), masakan restoran siap saji di Makasar, Sulawesi Selatan menjual Rp. 125.000,-/porsi (sekitar 4-5 ekor), dibandingkan dengan harga kepiting bakau biasa (non

lunak) dengan bobot 100-200g/ekor

dengan harga Rp.30.000-45.000,-/kg

(Rangka dan Suleman, 2010).

Walaupun secara ekonomis budidaya

kepiting cangkang lunak kelihatan

menguntungkan, namun sebagian besar pengusaha kepiting tidak bisa bertahan lama. Periode pemeliharaan yang lama dan waktu ganti kulit yang tidak serentak menjadi masalah utama dalam produksi kepiting lunak. Periode pemeliharaan yang lama menyebabkan biaya pakan dan operasional produksi semakin besar,

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

sedangkan waktu ganti kulit yang tidak

serentak mengharuskan pengawasan

yang ketat selama pemeliharaan sehingga kurang efisien dari segi waktu dan tenaga. Beberapa cara telah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut seperti dengan rangsangan melalui manipulasi

makanan, manipulasi lingkungan,

penggunaan ekstrak bayam dan teknik pemotongan kaki (Rangka dan Sulaeman, 2010).

Salah satu cara peningkatan nilai produksi dari kepiting bakau adalah menjadikan spesies tersebut sebagai hewan yang bercangkang lunak. Scylla

serrata adalah kepiting bakau fase ganti

kulit (moulting) atau kepiting lemburi.

Kepiting dalam fase ini memiliki

keunggulan yaitu mempunyai cangkang yang lunak sehingga dapat dikonsumsi secara utuh. Berkaitan dengan nilai ekonomis kepiting yang menjanjikan dari kepiting bakau tersebut maka perlu diperhatikan kecepatan pertumbuhan dari kepiting bakau jenis Scylla serrata. Kecepatan pertumbuhan berkaitan erat dengan kecepatan ganti kulit dikarenakan setiap pergantian fase juga diikuti dengan pergantian kulit (Kurnia, 2010).

Teknik pemotongan capit dan kaki jalan dan penggunaan ekstrak bayam merupakan cara yang masih digemari oleh

para pembudidaya kepiting bakau

cangkang lunak untuk mempercepat ganti

kulit. Ada beberapa cara dalam

pemotongan capit dan kaki jalan ini, yaitu pemotongan semua organ kaki dan capit, pemotongan bagian kaki jalannya saja, atau lebih dikenal dengan metode mutilasi (Nurdin dan Armando, 2010 dalam Harianto, 2012). Kepiting juga yang

dibudidayakan dengan penggunaan

ekstrak bayam yang dilakukan dengan cara disuntikan langsung ke tubuh kepiting atau mencampurkan ekstrak bayam pada pakan (Fujaya, et al., 2010).

Pemotongan kaki pada kepiting

memberikan pengaruh terhadap

kecepatan moulting, kelangsungan hidup, pertumbuhan dan pertambahan bobot kepiting. Hal ini sesuai dengan pernyataan Habibi, et al., (2013) yang menyatakan bahwa dengan melakukan mutilasi pada kepiting dengan teknik mutilasi dapat

mempercepat proses moulting

dibandingkan dengan proses moulting secara alami yaitu berkisar antara hari ke 17-23. Ekstrak bayam untuk menstimulasi moulting diperkenalkan oleh Fujaya (2008) dengan nama Vitomolt. Ektrak bayam ini mengandung fitoekdisteroid. Ekdisteroid adalah hormon moulting bagi kepiting.

Kepiting bakau yang mendapat

suplementasi vitomolt lebih cepat moulting dibandingkan tanpa suplementasi vitomolt. Namun dari berbagai hasil penelitian (Busri, 2010; Yasir, 2010 dalam Fujaya et

al., 2010), tingkat kecepatan moulting

kepiting bakau yang mendapat

suplementasi vitomolt baik melalui injeksi maupun pakan baru mencapai puncak setelah hari ke 30. Menurut Jamieson (2002), menyatakan bahwa setiap proses

moulting kepiting akan mengalami

peningkatan berat sebesar 15-30% dari

berat awal. Mengingat tingginya

permintaan produksi kepiting bakau dari

konsumen maka untuk memenuhi

permintaan pasar, perlu dilakukan proses

budidaya secara massal dengan

menggunakan metode yang tepat.

Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang Tingkat Kelulushidupan, Kecepatan Moulting dan

Pertambahan Bobot Kepiting Bakau

(Scylla serrata) dengan Metode Mutilasi dan Injeksi Ekstrak Bayam di Tambak Oesapa ”. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penentuan metode budidaya yang tepat pada usaha produksi kepiting bakau cangkang lunak.

II. METODE PENELITIAN

2.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian telah dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2015 yang bertempat di UPT Perbenihan Perikanan, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

2.2 Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam

pembuatan wadah budidaya: bambu, parang, gergaji, tali nilon, paku, kawat, botol plastik kosong dan palu. Alat yang digunakan dalam pemeliharaan adalah :

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

ember, busket keranjang, gunting, sarung tangan, meter, timbangan digital, spoit volume 1 ml, kalkulator, alat tulis menulis, dan kamera digital. Alat yang digunakan untuk mengukur kualitas air adalah termometer (mengukur suhu), pH meter

(mengukur pH air), refraktometer

(mengukur salinitas). Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian antara lain : Kepiting bakau (Scylla serrata), sebanyak 15 individu dengan ukuran berat kepiting 90-120 g dan lebar karapas 75-82 mm, Ekstrak bayam dan Pakan yang digunakan berupa ikan rucah yaitu jenis ikan tembang.

2.3 Prosedur Penelitian 2.3.1 Tahap Persiapan Wadah

Penelitian dilakukan di dalam wadah

karamba yang terbuat dari bambu

berukuran panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 200x100x19 cm3 dan

kotak-kotak plastik dengan ukuran

panjang 25 cm, lebar 19 cm dan tinggi 7 cm yang disekat menjadi 12 kotak. Keramba yang digunakan berjumlah 2 buah yang disusun berdekatan dan ditempatkan di dalam tambak dengan kedalaman air 100 cm. Posisi keramba diletakkan mengapung pada permukaan air. Tahap persiapan wadah dimulai yaitu

dengan membersihkan duri bambu

dengan parang. Bambu kemudian

dipotong menggunakan gergaji sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Bambu kemudian dirakit dengan mengikat ujung bambu yang satu dengan bambu yang lain sehingga membentuk persegi panjang

dengan menggunakan kawat dan

kemudian dipaku. Ambil satu buah bambu dan kembali diikat di bagian tengah wadah yang telah jadi sebelumnya secara horizontal. Ambil lagi bambu yang ukurannya lebih pendek dan diikat pada bagian tengah keramba secara horizontal.

Keramba yang telah jadi, diangkut ke dalam tambak dan disusun sesuai perlakuan. Tiap keramba dipasang

pelampung berupa botol aqua di bagian bawah keramba. Tujuannya agar keramba tidak tenggelam dan kepiting tidak keluar dari wadah budidaya. Setelah penempatan keramba

selesai, baru kemudian dilakukan

penempatan keranjang ke dalam

keramba.

2.3.2 Tahap Persiapan Hewan Uji

Hewan uji yang digunakan adalah

kepiting bakau dengan jumlah 15 individu dengan bobot tubuh 90-120

gr/individu. Hewan uji ini diperoleh dari bakau hasil tangkapan nelayan di perairan Oebelo. Kecamatan Kupang Tengah-Kab Kupaten Kupang. Benih kepiting diaklimati sasi selama 1 hari tanpa diberi makan. Selanjutnya dilakukan penimbangan bobot kepiting dengan menggunakan timbangan digital untuk mendapatkan bobot awall (W0) dan mengukur lebar karapas dengan menggunakan jangka sorong.

Pengukuran pertumbuhan dilakukan sekali dalam seminggu selama proses pemeliharaan. Kepiting yang telah diukur selanjutnya dilakukan mutilasi pada kepiting yaitu: (a) 3 pasang kaki jalan dan sepasang capit kepiting, (b) pemotongan 3 pasang kaki jalan kepiting, dan (c) pemotongan sepasang capit kepiting dan dilakukan injeksi ekstrak bayam pada kepiting dengan dosis 0,1 cc. Ekstrak bayam diinjeksikan pada bagian pangkal kaki renang dengan menggunakan syringe volume 1 ml dengan jarum suntik ukuran 27-gauge dengan ujung jarum suntik berbentuk runcing. Kepiting yang telah dimutilasi dan di injeksi ekstrak bayam selanjutnya disiram dengan air laut tujuannya untuk membersihkan kotoran atau patogen yang masih menempel di tubuh kepiting. Selanjutnya kepiting

ditebar pada wadah yang sudah

disediakan, masing-masing 1

individu/wadah.

2.3.3 Tahap Pembuatan Pakan

Pakan yang digunakan dalam

penelitian ini adalah ikan rucah segar (ikan tembang) yang didapatkan dari nelayan dipasar Oesapa dan Oeba. Pakan ikan kemudian dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil dan selanjutnya disimpan dalam lemari pendingin agar pakan tetap segar saat akan digunakan.

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

2.3.4 Tahap Pembuatan Ekstrak Bayam Proses pembuatan ekstrak diawali

dengan mengeringkan daun bayam

dengan cara diangin-anginkan terlebih dahulu hingga mengering. Setelah daun bayam kering, daun bayam kemudian dihaluskan dengan cara diblender hingga

berbentuk serbuk dan selanjutnya

dilakukan proses maserasi. Maserasi merupakan proses perendaman serbuk daun bayam dengan larutan ethanol 96% dengan perbandingan 1:1 yaitu 1 g bayam:1 ml etanol. Proses maserasi dibiarkan selama 6 hari untuk menarik

hormon ekdisteroid yang akan

dimanfaatkan. Selama proses maserasi harus dilakukan pengadukan sebanyak 2-3 kali sehari agar tercampur merata.

Setelah proses maserasi selesai,

selanjutnya dilakukan pemisahan serbuk daun bayam dengan larutan melalui penyaringan dengan menggunakan kertas saring. Dan untuk mendapatkan ekstrak bayam maka dilakukan lagi proses evaporasi dengan menggunakan alat evaporator. Dimana dalam proses ini, ethanol yang berperan sebagai pelarut akan diuapkan sehingga diperoleh ekstrak bayam yang selanjutnya digunakan sesuai dosis yang ditentukan yaitu 0,1 cc/individu kepiting.

2.3.5 Tahap Pemeliharaan

Selama proses pemeliharaan kepiting bakau diberi pakan berupa ikan rucah dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yakni pada pagi hari pukul 07.00-08.00 dan pada sore hari pukul

16.00-17.00 WITA dengan dosis

pemberian pakan 5% dari bobot tubuh kepiting. Pemberian pakan dilakukan setelah dua hari pemeliharaan. Hal ini disebabkan karena setelah pemotongan kaki dan capit kepiting, masih berada pada tingkat stress yang tinggi sehingga nafsu makan rendah bahkan cenderung tidak

mau makan. Sebelum dilakukan

pemberian pakan dilakukan penimbangan pakan terlebih dahulu untuk mengetahui jumlah dosis pakan. Untuk menjaga kualitas air dilakukan pengukuran kualitas air setiap satu minggu sekali dan pengontrolan yang dilakukan pada waktu

pemberian pakan. Pengukuran kualitas air yang meliputi suhu, derajat keasaman (pH), salinitas dilakukan 1 minggu sekali. Pergantian air dilakukan tiap 1 minggu sekali. Pada saat pergantian air, tidak dilakukan pengurangan volume air namun hanya dilakukan penambahan air yang baru. Penambahan air dilakukan pada saat air laut pasang. Selama proses

pemeliharaan, perlu dilakukan

pembersihan cangkang kepiting dan

wadah budidaya. Tujuannya untuk

menghilangkan kotoran yang menempel. Setelah 10 hari pemeliharan, pengontrolan kepiting lebih sering dilakukan untuk

mencegah terjadinya pengerasan

cangkang pada kepiting yang telah

mengalami moulting. Selanjutnya

dilakukan penimbangan hewan uji yang

telah mengalami moulting untuk

mengetahui bobot akhir kepiting. 2.4 Analisis Data

2.4.1 Pertumbuhan Mutlak

Pertumbuhan panjang mutlak dihitung menggunakan rumus Effendie (1997) sebagai berikut :

W = Wt-W0 Keterangan :

W = Pertumbuhan bobot mutlak (g) Wt = Bobot kepiting pada akhir

pemeliharaan (g)

W0 = Bobot kepiting pada awal

pemeliharaan (g)

2.4.2 Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR) Pertumbuhan yang diukur dalam penelitian ini adalah laju pertumbuhan spesifik atau Spesifik Growth Rate (SGR) kepiting bakau dengan menggunakan rumus Effendi (2002) yaitu :

SGR = 𝐋𝐧𝐖𝐭−𝐋𝐧𝐖𝐨

𝐭 x 100%

Keterangan : SG

R

= pertumbuhan individu harian (g/%/hari)

Wt = Bobot kepiting pada akhir pemeliharaan (g)

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

W0 = Bobot kepiting pada awal

pemeliharaan (g)

2.4.3 Pengukuran Panjang dan Lebar Karapas

Setiap individu kepiting diukur panjang karapasnya mulai dari ujung depan

(anterior) sampai ujung belakang

(posterior). Lebar karapas juga diukur mulai dari ujung kiri sampai ujung kanan duri ke-5 (Alimudin, 2000).

Pertumbuhan panjang dan lebar

karapas dapat dihitung mnggunakan

rumus Sulaeman dan Hanafi (1992), yaitu :

PK = PKt-PK0

LK = LKt-LK0

Keterangan :

PK = Pertumbuhan panjang karapas (cm)

PKt = Panjang rata-rata karapas pada akhir penelitian (cm))

PK 0

= Panjang rata-rata karapas pada awal penelitian (cm)

LK = Pertumbuhan lebar karapas (cm) LKt = Lebar rata-rata karapas pada

akhir penelitian (cm)

LK0 = Lebar rata-rata karapas pada awal penelitian (cm)

2.4.4 Kelulushidupan Kepiting Bakau Kelulushidupan kepiting bakau dapat dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1997) dengan cara yaitu :

SR =

𝐍𝐭

𝐍𝐨

x 100 %

Keterangan :

SR = Kelulushidupan hewan uji (%) Nt = Jumlah hewan hidup pada akhir

penelitian (individu)

N0 = Jumlah hewan hidup pada awal penelitian (individu)

2.4.5 Jumlah Kepiting yang Mengalami Moulting Terhadap Waktu Molting Jumlah kepiting moulting terhadap waktu pemeliharaan dihitung dari jumlah kepiting yang ditebar pada setiap

perlakuan dan dilihat perlakuan yang paling cepat moulting atau ganti kulit (Harianto, 2012).

2.4.6 Waktu Kepiting Moulting

Waktu kepiting moulting dihitung dengan cara melihat dan menghitung jumlah kepiting yang moulting setiap perlakuan terhadap waktu moulting, baik pagi, siang, sore, maupun pada malam hari dan menentukan puncak terjadinya moulting dari waktu yang telah ditentukan (Harianto, 2012).

2.4.7 Rancangan Penelitian

Rancangan dalam Penelitian inii menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yang terdiri dari : 4 perlakuan dan 3 ulangan sehingga total keseluruhan adalah 15 unit percobaan. yang terdiri dari :

Perlakuan A = Kepiting yang dipotong kaki jalan dan capit Perlakuan B = Kepiting yang dipotong

kaki jalan

Perlakuan C = Kepiting yang dipotong sepasang capit

Perlakuan D = Injeksi ekstrak bayam Penentuan letak perlakuan telah dilakukan dan pengacakannya secara lotre sehingga didapatkan denah sebagai berikut :

Tabel 11.1. Penentuan letak perlakuan

A1 B2 D1 A3 D2 C2 A2 B1 C3 D3 B3 C1 Keterangan : A,B,C,D : Perlakuan 1,2,3 : Ulangan

2.5 Analisis Statistik dan Hipotesis Statistik

2.5.1 Analisis Statistik

Untuk mengetahui pengaruh

perlakuan terhadap tingkat pertumbuhan

dan kelulushidupan maka data

pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau yang diperoleh selama masa penelitian akan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Jika hasil

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

yang diperoleh memberikan pengaruh

nyata terhadap pertumbuhan dan

kelulushidupan kepiting bakau maka akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) (Gasperz, 1991).

2.5.2 Hipotesis Statistik

Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah :

H0 = Tidak ada pengaruh metode mutilasi dan injeksi ekstrak

bayam terhadap tingkat

kelulushidupan, kecepatan

moulting, dan pertambahan bobot kepiting bakau (Scylla serrata). H1 = Ada pengaruh mutilasi dan injeksi

ekstrak bayam terhadap

tingkat kelulushidupan,

kecepatan moulting, dan

pertambahan bobot kepiting

bakau (Scylla serrata).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pertumbuhan Mutlak Kepiting

Bakau (Scylla serrata)

Rata-rata pertumbuhan mutlak

kepiting bakau dapat dilihat pada Gambar 11.1 di bawah ini.

Gambar 11.1. Pertumbuhan Mutlak Kepiting Bakau setiap minggu selama penelitian Pada Gambar diatas menunjukkan

adanya peningkatan pertumbuhan untuk setiap perlakuan. Rata-rata Peningkatan pertumbuhan tertinggi kepiting bakau terdapat pada perlakuan A yaitu sebesar 89,66 g diikuti perlakuan B dan D sebesar 62,37 g dan 42,88 g dan kemudian perlakuan C dengan nilai sebesar 37,59 g

menjadi yang terendah. Perbedaan

pertumbuhan mutlak kepiting bakau yang terjadi diduga adanya faktor pengaruh metode mutilasi dan injeksi ekstrak bayam serta adanya faktor dari luar atau dalam. Hal ini juga dikemukakan oleh Effendi

(1978), bahwa pertumbuhan dapat

dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktor dalam diantaranya ialah keturunan,

sex, umur, parasit dan penyakit,

sedangkan faktor luar yang utama adalah makanan dan kualitas perairan.

Penambahan bobot tubuh pada

kepiting terjadi diduga juga karena pengembangan bagian integumen yang tidak mengeras atau terjadi proses penyerapan kadar air, mineral dan ion-ion penting sebagai akibat dari perbedaan tekanan osmotik. Selain itu, pakan yang dimakan dapat dikonversi menjadi energi

untuk molting dan tumbuh secara

sempurna. Hal ini sesuai dengan

pernyataan Fujaya (2004), bahwa

pertumbuhan jaringan atau organ,

pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan, hormon, dan faktor

perangsang pertumbuhan. Menurut

Effendi (1978), pertumbuhan merupakan perubahan atau pertambahan bobot atau ukuran berat badan, yang dipelihara

dalam satuan waktu. Pertumbuhan

kepiting dapat terjadi apabila energi yang disimpan lebih besar dibandingkan energi 89,66 62,37 37,59 42,89 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 b o b o t t u b u h ( gr )

Pertumbuhan Mutlak

Perlakuan

78

Prosiding Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan IV

Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana (Kupang, 14 Oktober 2017)

yang dimanfaatkan untuk aktifitas tubuh. Kepiting bakau memperoleh energi melalui pakan yang dikonsumsi dan digunakan untuk berbagai aktifitas hariannya (Karim, 2005).

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (ANOVA) data pertumbuhan berat mutlak kepiting bakau, F hitung > F tabel pada taraf uji 5%. Hal ini menunjukan bahwa H0 ditolak pada taraf 5%, yang artinya metode mutilasi dan injeksi ekstrak bayam pada kepiting bakau berpengaruh nyata

terhadap pertumbuhan berat mutlak

kepiting bakau. Hasil uji lanjut BNT menunjukan bahwa perlakuan A, B, dan C berbeda nyata dengan perlakuan D.